Longsari “Dukungan komprehensif membantu ku sembuh dari TB XDR”

Tag

,

 

Longsari, lelaki 50 tahunan asal Pasaman Sumatera Barat, terlihat bahagia di RSUP persahabatan. Hari ini ( 18 Januari 2012)  beliau diberitahu bahwa  akan  bebas  dari rutinitas minum obat. Setiap hari selama 20 bulan dia meminum Pirazinamide 1500, Levofloxaxin 1000, Etionamide 750, Cycloserin  750 passer 4 gram dan B6 150. Dia telah dinyatakan sembuh dari TB XDR  ( Tubercolosis extra drug resistance / infeksi tuberkolosis  yang kebal sangat banyak obat baik kategori satu maupun dua) oleh Tim Ahli Klinis di RSUP Persahabatan Jakarta Timur. “ Ini perjuangan yang luar biasa.”  ungkap nya. Perjuangan longsari menjadi semangat baru bagi semua pasien TB  XDR dan MDR  di RSUP Persahabatan atau mungkin di Indonesia. Longsari adalah pasien kedua TB XDR yang dinyatakan segera berhenti pengobatan dan sembuh di Indonesia. Bulan lalu seorang Perempuan Ny E, petugas di sebuah rumah sakit swasta terkemuka telah berhasil menjadi orang pertaman sembuh dari TB XDR di Indonesia.

Kisah Longsari dimulai ketika ia mengalami batuk-batuk  dan sesak nafas saat berkunjung ke rumah Putra nya di BSD Tangerang. Dokter yang merawat nya meminta untuk diperiksa MGIT ( pemeriksaan kultur( biakan) dari spesimen dahak) karena mempunyai riwayat pengobatan OAT sebelum nya.  Longsari didiagnosis TB MDR.  Setelah 2 bulan, akhir hasil  pemeriksaan keluar. Dia terbukti  bukan TB MDR, melainkan TB XDR.  Semua nya berubah sejak itu, rencana awal hanya liburan ke jakarta, menjadi berubah. Dia harus menetap di Kota ini minimal dua tahun untuk kebutuhan pengobatan.

“ Keputusan yang sulit sebenar nya, karena saya harus meninggalkan murid, rumah dan mengurus Izin ke sekolah tempat  mengajar.  Tapi demi kesehatan, saya mengambil keputusan untuk pindah  sementara untung  keluarga dan pihak sekolah sangat mendukung saya” jelas Longsari.

Sejak itu rutinitas minum obat tiap hari ke RSUP persahabatan dilakoni nya.  Tiap hari Longsari bolak-balik dari rumah Putra nya di BSD tangerang ke RSUP Persahabatan. Butuh dua jam perjalanan dari rumah ke rumah sakit , itu jika tidak ada kemacetan di jalanan Jakarta. Jika macet , bisa sampai 4 jam.  Perjalanan yang jauh di tambah dengan efek samping yang berat membuat perjalanan itu menjadi momok menakutkan bagi Longsari.

Hampir setiap pagi ketika akan berangkat berobat Longsari merasakan perut nya bergejolak karena mual. Sering muntah setiap mau makan atau minum.  Asam urat yang tinggi pernah membuat nya tidak mampu untuk membuka baju nya sendiri.  Satu kali terpaksa memotong kaos yang digunakan saat akan berganti pakaian. Asam urat membuat semua persendian nya menjadi kaku dan Gilu. Meminum Passer, adalah derita lain yang dialami nya selama 20 bulan pengobatan.

“ Meminum Passer seperti  meminum krikil, terasa sangat menganjal di tengorokan dan membuat perih di perut”  ujar nya

“. Dukungan yang komprehensif dari petugas dan keluarga telah berhasil membuat ku menang dalam bertarungan melawan TB XDR, terimaksih untuk petugas, teman-teman di kelompok pasien dan keluarga yang telah mendukung ku selama ini” Longsari menambahkan.

Longsari  termasuk pasien yang paling aktif berdiskusi dengan petugas konseling dan di kelompok dukungan  bagi pasien TB MDR/XDR di RSUP Persahabatan.

Are U 100 % Heterosexual?

Tag

, , ,

Oleh : Nihayah*

Beberapa tahun lalu saat menyelesaikan program Master di University of Hawaii at Manoa (UHM), saya pernah mengalami kejadian yang kemudian imbasnya terus meninggalkan pertanyaan dalam diri saya. Saat itu saya sedang duduk di Paradise Palm yang letaknya tepat di depan Hamilton Library. Segelas kopi dan beberapa buku menjadi teman saya menghabiskan pagi  itu.

Di tengah-tengah membaca buku saya merasa ada seseorang yang memperhatikan. Setelah menurunkan buku yang saya baca  dan mencoba melihat sekeliling, benar saja ada seorang cewek di deretan bangku di depan sebelah kanan saya yang sedang menatap kearah saya dengan senyum. Karena menganggap itu hanya sekedar benturan mata tidak sengaja, saya pun tersenyum dan kembali menekuni buku. Jarak beberapa menit kemudian, perempuan itu mendatangi meja saya dan meminta ijin untuk duduk di kursi tepat di depan saya. Karena kursi itu kosong, jadi tidak ada alasan bagi saya untuk menolak, terlebih Paradise Palm adalah tempat umum.

Perempuan ini lalu memperkenalkan diri, sebut saja namanya Kathy. Dia adalah mahasiswa Phd Program dari jurusan Political Science di UHM. Setelah basa-basi dengan perkenalan Kathy secara langsung mengutarakan niatnya, “Can I ask your time, just 5 or 10 minutes?� Lalu dia bilang kalau ingin sekali mencium saya. Dalam pandangan dia, saya memiliki kekuatan di bibir dan dia ingin membuktika bahwa dia benar. Permintaan janggal yang otomatis membuat saya mengkerutkan kening. Melihat saya kebingungan dia kemudian menegaskan “I am a Lesbian anyway.� Pernyataan yang jujur dan semakin membuat saya tergagap. Dalam situasi yang kaget, saya masih berusaha mengendalikan diri dan mencoba mengajak dia berbicara. Dari ceritanya saya menjadi tahu kalau dia menjadi lesbian setelah merasa kecewa setiap kali berhubungan dengan laki-laki. “Laki-laki memang egois, mereka hanya mementingkan ejakulasi mereka sendiri, tanpa berpikir bahwa patnernya juga menginginkan hal
yang sama.�

Saya banyak mendapatkan pengetahuan baru yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya. Kathy terus memohon dengan sangat agar saya mengabulkan permintaannya. “Please, just 5 minute� dia terus mengulanginya. Saya sendiri dalam posisi bingung. Di satu sisi saya ingin tahu banyak tentang orang lesbian, di sisi lain ada ketakutan yang luar biasa dalam hati saya, dan yang jelas saya bingung mencari alasan untuk melarikan diri. Di menit yang ke 15 atau 20 dari obrolan kami lewatlah Professor saya yang baru membeli kopi, dia mendatangi meja saya dan bilang, “Excuse me Ninik, can you stop by in my office to take your paper. Sorry I have to give it to you today, because this afternoon I will go to main land.� Yes…. Akhirnya ada yang menyelamatkan saya untuk pergi. Thanks Prof.

Kejadian yang kurang dari setengah jam tersebut menjadi perenungan mendalam dalam diri saya. Bagaimana bisa seseorang bisa merubah orientasi seksualnya dari sebelumnya heteroseksual menuju ke homoseksual? Saya pun mencoba melihat diri saya dengan lebih mendalam lagi dan merasakan setiap perubahan dalam hati untuk mendapatkan jawaban tentang pertanyaan besar yang masih mendekam dalam pikiran. Saya mencoba membandingkan tingkat keterangsangan saya ketika melihat film blue yang heteroseksual dan homoseksual. Hal ini untuk menguji kemungkinan seseorang berubah orientasi seksual. Ketika melihat film homoseksual (Lesbian) saya terangsang juga, namun hal tersebut tidak sebanding dengan besarnya keterangsangan saya ketika melihat film blue heteroseksual. Walaupun begitu keterangsangan saya ketika melihat film lesbian membuat saya khawatir, apakah saya lesbian?.

Semua pertanyaan besar tersebut ternyata saya menemukan jawabannya ketika saya mengikuti pelatihan FSI (Forum Seksualitas Indonesia) pertengahan tahun 2011 lalu. Ketika belajar dari fasilitator tentang Skala Kinsley, saya menyadari bahwa dalam setiap orang ternyata memungkinkan punya potensi heteroseksual dan homoseksual. Yang membedakan seseorang akan menjadi homo atau hetero adalah seberapa besar kecenderungan seseorang pada setiap perilaku tersebut. Bila kecenderungan homoseksualnya yang lebih dominan, dia akan jadi LGBT. Namun perilaku LGBT akan tertutupi bila potensi heteroseksualnya lebih tinggi.

Walaupun Alfred Kinsley hanya memfokuskan diri pada ekspresi seksual semata, namun bila ditelisik lebih dalam, dari segi biologis pun hal tersebut dapat dijelaskan. Fasilitator telah memberikan gambaran ke saya bahwa kromosom dan hormon manusia tidak selalu ‘baik-baik’ saja dalam artian kromosom tidak saja akan full membentuk seseorang menjadi heteroseksual atau homoseksual, namun kromosom betina dan jantan kadang komposisi dalam tiap tubuh manusia berbeda-beda. Dan imbasnya hal ini menjadikan orientasi seksual seseorang tidak selalu linier.

Dengan informasi dari segi biologis ini saya meruntuhkan pemahaman dan kepercayaan yang selama ini saya bangun sendiri. Selama ini saya selalu berpikir bahwa orientasi seksual selalu berjalan lurus, dan tidak ada “persimpangan jalan� dan orientasi seksual 80% dipengaruhi oleh lingkungan. Ternyata yang terjadi lebih komplek dari pada pemahaman saya selama ini.

So, dengan ini saya bisa menyimpulkan bahwa walaupun saya heteroseksual, tapi tetap aja ada kemungkinan sisi homoseksual saya ada, walaupun itu mungkin hanya 1%. Worry dengan kondisi ini? Totally NOT. Bila dalam diri kita sendiri memiliki potensi untuk orientasi LGBTI (Q) walaupun kadarnya sangat rendah, lalu kenapa kita harus menjustis orang lain yang orientasi LGBTI(Q) yang mungkin lebih dominan sebagai “other� atau “berpenyakit�?

Are you hundred percent heterosexual? ? I am not.

*Alumni Pesantren dan Program Master Universitas di Hawai,USA

2011 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Syndey Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 20.000 times in 2011. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 7 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Mengenal Kelompok Dukungan Sebaya

Tag

, , , , , ,

Dukungan sebaya adalah dukungan untuk dan oleh orang dalam situasi yang sama.

• Dukungan sebaya meliputi orang yang menghadapi tantangan yang sama seperti pasien dengan infeksi tertentu, komunitas tertentu, orang-orang dengan permasalahn yang sama misalnya: Dapat juga perempuan dengan  HIV dan atau TB MDR, pasangan Pasien, orang yang baru didiagnosa  HIV dan atau TB MDR dan lain-lain

• Dukungan sebaya bisa diantara seseorang yang menghadapi tantangan untuk pertama kalinya dengan seseorang yang telah mampu mengelolanya. Ini dapat berarti mengkaitkan seseorang yang baru memulai pengobatan dengan seseorang yang sudah mengelola pengobatan dan efek samping dengan baik.

Keuntungan Dukungan Sebaya

Mengurangi isolasi

Meningkatkan dukungan sosial

Mengurangi stigma

Mengurangi sumber intimidasi dari dukungan

Membantu berbagi pengalaman

Membantu orang untuk melihat bahwa hidup dengan HIV dan atau TB MDR dan efek samping adalah mungkin

Mengurangi ketergantungan pada petugas kesehatan

Mengurangi beban kerja petugas kesehatan

Meningkatkan kualitas hidup bagi Pasien HIV dan atau TB MDR

Meskipun pasien belajar banyak dari petugas kesehatan, ada beberapa hal lebih baik dipelajari dari orang yang mengalami permasalahan dan hambatan yang sama. Baik di RS, pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) , dukungan sebaya menjadi bagian penting dari penyediaan perawatan yang didapatkan pasien.

Memperkenalkan Dukungan Sebaya :

dengan membicarakan secara teratur tentang dukungan sebaya pada pasien dukung mereka untuk mengaksesnya.

Menegaskan keuntungan-keuntungan dari dukungan sebaya.

Memahami ketakutan-ketakutan mereka.

Mencari tahu apa saja sumber lokal yang tersedia dan mengetahui dengan rinci tentang kelompok-kelompok dalam wilayah itu.

Membangun KDS untuk:

Pasien Baru baru menerima Diagnosis HIV dan Atau TB MDR, pasien mulai terapi ARV, pasien Konversi, non konversi, pasangan Pasien, orang dalam pengobatan.

Membangun kelompok-kelompok pasca tes.

Menjalankan sesi-sesi kelompok edukasi.

Mengidentifikasi idividu yang disiapkan bertindak sebagai pendukung sebaya Memahami Mengapa orang berhenti menggunakan dukungan sebaya: Takut kerahasiaan terbongkar. Takut bertemu orang baru. Tidak mengetahui keberadaan dukungan sebaya. Terlalu sibuk untuk memperoleh dukungan sebaya. Tidak bisa mengikuti pertemuan dukungan sebaya. Tidak punya uang transportasi. Perlu menjaga anak. Tidak mendapat dukungan dari pasangan untuk hadir. Harus menjelaskan kemana mereka pergi kepada orang lain. Mempunyai komitmen lain.

Cara Menawarkan Dukungan Sebaya:

Dukungan sebaya Individual: Jika seseorang baru saja didiagnosa HIV dan ata TB MDR atau baru memulai pengobatan, akan sangat membantu mengkaitkan mereka kepada seseorang yang sudah menerima keadaannya dan dapat membagi pengalaman serta memberi dorongan.

Kelompok Edukasi : Seringkali Pasien TB MDR merasa sendiri dan diisolasi. Bertemu dengan pasien lain dapat mengurangi isolasi dan mendorong mereka untuk hidup lebih baik. Kelompok ini dapat bergaul atau berfokus pada aktifitas-aktifitas peningkatan penghasilan. Kelompok ini biasanya dijalankan untuk dan oleh PasienHIV dan atau  TB MDR dapat juga diadakan lebih dulu oleh petugas kesehatan

Kelompok Dukungan  : Orang yang akan memulai Pengobatan, baru memulai ART, non konversi, konversi, re konversi, dsb) akan merasa terbantu bertemu satu dengan yang lain untuk saling mendukung. Peran petugas kesehatan adalah membentuk terjadi dan memfasilitasi kelompok sampai mereka bisa menjalankannya sendiri

Contoh Cara untuk menawarkan dukungan sebaya:

Klub Pasca-Tes:

Kelompok ini diperuntukkan bagi semua orang yang telah menerima hasil Diagnosis TB MDR.. Mereka sering berfokus pada pemberian informasi dasar TB MDR, aspek kepatuhan dan bagaimana mengakses layanan jika terjadi masalah selama pengobatan . Petugas perlu mendiskusikan situasi yang kondusif bagi anggota untuk saling bertemu dan mendiskusikan semua isu-isu yang relevan. Kelompok edukasi (5 menit) Sesi kelompok edukasi dapat digambarkan sebagai pengembangan/lanjutan dari kunjungan ke pusat kesehatan dimana tidak hanya kebutuhan fisik dan medis ditemukan, tetapi perhatian pada edukasi, aspek sosial dan psikologis yang disepakati dalam pembentukan kelompok. Sesi kelompok edukasi dapat membantu anda untuk tidak menghabiskan waktu di pusat kesehatan.

Pergunakan pertemuan kelompok untuk :

• Mendidik pasien tentang kondisi mereka.

• Membangun dukungan sebaya dan keahlian.

• Memperkenalkan pengelolaan diri.

• Menjalankan tindak lanjut klinis.

• Memusatkan perhatian pada kesulitan-kesulitan.

Dalam membentuk dukungan sebaya di wilayah kita perlu :

• Temukan sumber lokal yang tersedia agar pelayanan tidak tumpang tindih. • Konsultasi dengan Pasien TB MDR dengan menggunakan system pelayanan kesehatan.

• Mengidentifikasi perbedaan strategi dalam dukungan sebaya: baik dukungan satu persatu, dukungan kelompok atau klub pasca test, dan tentukan strategi mana yang ingin anda kembangkan selanjutnya.

• Identifikasi orang yang tertarik mengembangkan sistem dukungan sebaya (baik petugas kesehatan maupun Pasien  HIV dan atau TB MDR).

• Adakan pertemuan dengan petugas kesehatan dan Pasien TB MDR sehingga anda dapat mendiskusikan rencana anda.

• Ketika membentuk KDS, sangatlah penting untuk pertimbangkan: 1 Acara dan waktu. 2 Biaya dan siapa yang membayar. 3 Untuk siapa kelompok dibentuk. 4 Siapa yang akan memimpin kelompok. 5 Bagaimana kerahasiaan akan dijaga. 6 Bagaimana petugas kesehatan akan mendukung para fasilitator. 7 Peran dari petugas kesehatan. 8 Bagaimana memperkenalkan kelompok pada masyarakat luas.

Dalam membentuk kelompok edukasi di pusat kesehatan :

• Konsultasi dengan Pokja HIV dan atau tim ahli klinis anda

• Konsultasi dengan Pasien  HIV dan atau TB MDR yang menggunakan system pelayanan kesehatan

• Identifikasi orang yang tertarik mengembangkan system dukungan sebaya (baik petugas kesehatan maupun )

• Undang mereka untuk mendiskusikan rencana

• Ketika membentuk sesi kelompok edukasi, sangatlah penting untuk pertimbangkan: o Acara dan waktu. o Biaya dan siapa yang membayar. o Untuk siapa sesi kelompok edukasi dibentuk. o Bagaimana memilih orang yang terlibat dalam kelompok o Kegiatan apa yang dilakukan dalam sesi-sesi. o Apa peran anggota kelompok. o Apa peran petugas kesehatan. o Bagaimana memperkenalkan kelompok edukasi pada masyarakat luas.

Contoh Kerangka sesi Kelompok Edukasi  :

Ucapan selamat datang dan Perkenalan Setiap peserta memperkenalkan diri 30 menit Sesi Kelompok Edukasi (hanya sesi pertama) Peserta meluangkan sedikit waktu untuk berbicara tentang:

• Kehidupan mereka, pekerjaan dan keluarganya.

• Harapan peserta dari sesi kelompok edukasi (mis; apa yang ingin mereka peroleh)

• Bagaimana mereka dapat memberi kontribusi pada sesi kelompok edukasi (setiap orang dapat mengkontribusikan sesuatu meskipun hanya pelajaran dari pengalaman pribadi)

• Petugas melanjutkan dengan Pertanyaan-pertanyaan dari kelompok.

• Tata cara kelompok edukasi (aturan-aturan sebagai panduan operasional kelompok). 30 menit Topik hari ini, misalnya: Pencegahan dalam konteks perawatan klinis Petugas kesehatan menyediakan informasi yang berkaitan, berinteraksi dengan peserta bila memungkinkan. Beberapa saran untuk membuat sesi interaktif, termasuk bertanya tentang:

• Apa yang anda ketahui tentang pencegahan infeksi di rumah?

• Bagaimana anda mulai mengenal standar pencegahan dalam hidup anda?

• Adakah seseorang disini yang pernah menemui masalah saat memakai masker di tengah masyarakat? Petugas kesehatan sebaiknya menyatukan informasi dengan apa yang telah diajarkan selama pelatihan dan gunakan Kertas plano Edukasi Pasien.

Bagaimanapun, sangat penting menggabungkan hal ini dengan pandangan dan nilai-nilai kelompok.

15 menit Tanya Jawab Petugas Kesehatan sebaiknya menanyakan kelompok jika ada pertanyaan tentang:

• Topik hari ini

• Kesehatan mereka secara umum, masalah mereka belakangan ini atau perjanian-perjanjian yang akan datang 15 menit Perencanaan dan Penutup Tanyakan jika kelompok ingin mendiskusikan sesuatu secara khusus pada sesi selanjutnya, jika tidak topik akan dikomunikasikan lewat agenda. Ucapkan terima kasih untuk kehadiran peserta.

Takdirku, Ramalan mu

Takdir, adalah ketidakmapaman  menghampiri ku/kepak ini patah tertahan/terjerembab dalam pelukan mu, menelusuri setiap jengkal tubuh ku/ menghitung setiap huruf yang membentuk untaian nama ku “herman varella Sabir’/ramalan mu akan cinta ku/ sepertinya diri mu yang akan bertahta /mahluk indah, sekuat naga dan seagung biksu/ aku yakin itu kamu/saat malam di hotel sepulang menjelajah puncak tertinggi kota seoul/ aku, kamu telah satu/kita akan selalu satu/walau kau merintih  ingin kan bahagian ku untuk mencapai langit/aku tak ingin selalu dibawah tubuh mu, rengek mu/biarkan aku mencapai langit dengan cara mu/bukan semua nya harus setara/itu perjuangan ku,rintih mu/ aku dan kamu telah mencapai mega, melampaui jalan panjang/saat tidak terpikir akan kesedirian di kota mu / dan aku meratap sepi disini/ menunggu enam purnama saat takdir  menjemput ku/ pastikan, kata ku/ aku tidak mampu untuk pasti/ semua bisa berubah karena semesta yang berubah/kamu juga harus berubah/ jadi pengusaha adalah keagungan yang ditorehkan lewat garis melengkung di telapak tangan mu/ kamu kan bisa tetap membantu sesama jika takdir mu telah kau temui/tebal kumparan tangan mu, adalah pertanda /kamu akan melampaui hari ini/ aku merenung sambil memandang  celoteh  bibir mu/ bibir tipis  mengucap setiap kata/dua garis merah itu membuat lukisan cinta dihati / kamu takdir ku /gumam ku mengaliri aliran darah di nadi /saat dingin menelusup lewat celah pendingin ruangan dan rintik hujan terlihat lewat kaca hotel/ Kita saling menghangatkan/aku, kamu satu.

Di saat musim hujan telah datang di kota ku/saat kita tak lagi bersama menyusuri tepian sungai  dan berkejaran menuju pemberhentian Guang Buk Dong/saat musim panas negeri ginseng tak berbekas lagi disini/ kamu harus hati-hati dengan air/ takdir mu bisa jatuh jika elemen itu datang/ kesuksesan mu berbarengan dengan rapuh nya tubuh mu/kejatuhan karena air dan kebangkitan karena unsur api /jangan pakai nama terlalu panjang/ kamu tambahkan sendiri atau anugerah dari orang tua mu?/ nama yang panjang akan menyulitkan takdirmu/aku menyangkal mu/aku berhasil melewati banyak persoalan setelah kutambahkan nama lahir ku/kesakitan yang sangat telah lewat kataku/satu masa kamu akan kesulitan karena nama mu, tegas mu/aku ingatkan dengan cinta agar kamu waspada/ramalan ku dalam tujuan itu/aku tergugu/yakinkan aku kalau kamu selalu ada untuk ku/ bahkan saat masa kesulitan itu datang/research ku kan menghalangi ku menemui mu/tak ada masa untuk bersama/setidaknya untuk 2011/selepas januari di valentine days aku usahakan/kamu harus mampu sendiri/ sekarang aku sendiri/ tapi ku tak mau menyendiri/ku takut sepi

Saat ini ada  takdir baru dalam hidup ku/mahluk indah, sekuat Naga dan seagung Biksu ternyata /takdir telah mempertemukanku dengan  yang lainnya/bukankah di dunia ini ada tujuh sosok yang serupa/ mungkin dia salah satu nya/aku mulai meragui takdir ku untuk mu/sosok dalam ramalan mu  itu menyeruak  hari ku/ memijiti setiap titik kelelahan ku/mengingatkan saat raga ku harus ditransfusi energi baru/dia seperti kamu/indah dan kuat bagai naga/agung laksana biksu

Hari ini, saat rindu membuncah ingin menemui mu/Yakin ku akan ramalan mu atas takdir ku, seyakin  penerimaan ku atas semua kejadian  hari ini…..Takdir ku telah disini ….

Gay Positif; Stigma, diskriminasi, seksualitas dan gaya hidup

Tag

, , , , , , , ,

Menjadi Gay di Indonesia bukanlah pilihan mudah; dijauhi keluarga, dicemooh teman sekantor, dianggap lingkungan sebagai tidak bermoral,  atau di janjikan sebagai penghuni neraka jahanam oleh beberapa kalangan yang merasa yakin surga hanya milik mereka. Seorang sahabat ku berkata “ sejak saya mendeklarasikan diri sebagai gay,  sampai hari ini belum pernah menginjak kan kaki di kampung ku”  Al ( bukan nama sebenar nya) adalah Gay asal sumatera  yang saat ini telah yakin dengan pilihan nya. Gay bagi nya adalah soal pilihan hidup;  pernah menjalin hubungan dengan perempuan,  ikut banyak pengajian keagamaan dan beberapa kali berusaha “bertobat”, tapi di umur nya yang ke -34, dia yakin, gay adalah tujuan penciptaan diri nya oleh Sang Khalik.

Gay tidak hanya persoalan lelaki yang menyukai lelaki, lelaki yang berhubungan seksual dengan lelaki, baginya gay adalah semua tentang dirinya. Ya, jiwa , perasaan,  seksualitas ,  pilihan hidup dan lebih jauh, ia mulai berjuang bersama teman-teman lain nya  agar terwujud lingkungan yang lebih mendukung bagi komunitas yang beragam, tidak terkotak dalam keseragaman mayoritas; tirani mayoritas.

Gay Terinfeksi HIV

Menurut data IBBS 2008: 1 dari 16 Gay terinfeksi HIV ( Human Immuno deficiency Virus)  di DKI Jakarta, dengan tidak mengurangi rasa hormat, saya merasa angka ini belum menunjukan angka yang sebenar nya. Pengalaman ku dalam menmdampingi teman-teman Positif di Positive Rainbow menunjukan angka yang lebih tinggi, jika itu dinisbahkan kepada Gay,  bukan  LSL ( lelaki seks dengan Lelaki lainnya) istilah yang dikembangkan dalam penanggualangan HIV hampir di seluruh dunia untuk menunjukan prilaku seksual lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki. Karena LSL merujuk hanya sekedar prilaku seksual, bukan identitas seksual. LSL pastinya lebih beragam.

Kembali ke judul di atas, gay positif yang dimaksud dalam artikel ini adalah Gay sebagai identitas seksual  dalam artian; orang yang merasa dan mengidentifikasi diri nya sebagai Gay di komunitas ( hotspot, internet dan tempat nongkrong lainnya) walau mungkin di saat bersamaan mereka menikah karena alasan status, keluarga dan lainnya, serta terinfeksi HIV.

“ dunia serasa gelap, seperti dalam taufan maha dasyat, kacau, binggung dan ingin mati saja” Budi ( bukan nama sebenarnya ) seorang anggota Positive rainbow mengambarkan suasana bathin nya saat tahu diri nya HIV positif.

“ kematian, semakin terasing dari keluarga,  komunitas dan lingkungan adalah ketakutan terbesar saya, sangat sulit untuk mendiskusi tentang status HIV,  jangan kan ke keluarga, ke teman-teman komunitas saja seperti nya tidak mungkin. Untung saya di pertemukan dengan manager kasus yang mendekatkan saya ke komunitas positif,  dengan tahu saya tidak sendiri dan banyak teman yang berhasil melewati proses ini saya berusaha tegar, dan teman-teman sekarang menjadi keluarga kedua saya”  Vicki, sahabat positive Rainbow yang lainnya menjelaskan bagaimana proses melewati kegelapan setelah mengetahui  status HIV nya.

Ketakutan di jauhi  lingkungan, keluarga, komunitas menjadi alasan banyak Gay yang terinfeksi HIV menyimpan semua permasalahan nya sendiri. Dalam beberapa kasus ekstrim, tidak mau di dampingi dan menarik diri dari  lingkungan dan komunitas.

“ saya dulu mempunyai seorang teman HIV positive, seorang  petugas di klinik tempat tes, membocorkan status nya. Issue itu sangat santer, menjadi bahan gosip murahan dengan diselingi candaan-candaan yang menyindir di tempat nongkrong. Pengalaman teman itu membuat ku jadi takut terbuka sama siapa pun.”  Randy menjelaskan mengapa dia sangat sulit terbuka saat awal tahu status nya. Dia membuka diri setelah 4 tahun VCT ( Voluntary Counseling testing / Tes HIV yang dilakukan secara sukarela), ketika banyak infeksi oppotunistik ( Infeksi penyerta) yang mengharuskan nya dirawat di RSUP Persahabatan. Dengan TB paru berat, berat badan hanya 45 Kg dan diare yang terus-menerus akhirnya memaksa nya untuk  terbuka.   Lewat bantuan Manajer kasus ,  akhir nya terhubung ke kelompok dukungan sebaya.

Lain Lagi yang dialami Adi, saat dia mengobati kesakitan di anus nya di sebuah RSUD di Jakarta, Perawat yang menanggani nya berkomentar  “ Ya, iyalah kena penyakit macam-macam, dubur aja di pakai buat begituan”  Adi, tersinggung dan malu karena semua orang yang ada diruangan dokter memandang nya dengan pandangan aneh. Adi berjanji dalam tidak akan pernah lagi datang ke Rumah sakit tersebut. Saya mencoba mengajak si perawat berdiskusi tentang peran nya di layanan Publik yang harus menghargai semua pasien tanpa pandang bulu. Konsep seksualitas nya yang sempit dan hegemoni norma agama nya, membuat  terjadi perang mulut.

Saya melihat ada masalah yang terjadi di layanan VCT dan IMS ( Infeksi menular seksual)  untuk komunitas Gay di DKI jakarta :

  • Belum adanya pendukung  sistem yang menjamin kerahasian status HIV dan IMS seseorang gay , jika dia tes  VCT atau IMS  kemudian diketahui  positif.  Koefidensial adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar dalam melayani teman-teman gay , mengingat masih belum friendly nya lingungan dan komunitas terhadap Gay.
  • Di Layanan saat ini belum terintegrasi layanan VCT dan IMS  yang “one stop services” antara VCT  dan IMS dengan layanan pendukung setelah VCT/IMS. Kebanyakan yang terjadi layanan terputus ketika sampai di konselor, belum ada sistem yang memastikan bahwa setiap Gay yang menjalani testing HIV dan IMS kemudian  diketahui  positif  mendapatkan semua dukungan Psikososial yang dia butuhkan dan terhubung ke kelompok dukungan sebaya berbasis komunitas. Dukungan yang sadar akan seksualitas dan gender serta berbasis komunitas menjadi sesuatu yang penting, karena ada dua hal yang harus didiskusikan oleh gay positif; terkait seksualitas nya dan HIV. Penolakan terhadap salah satu, akan mengakibatkan kesulitan dalam penerimaan diri dan  Disclosure ( Buka status) .
  • Layanan dan komunitas belum Friendly terhadap gay positif. Layanan kesehatan dan publik lainnya  saat ini belum Friendly dalam melayani gay positif. Masih banyak celoteh dan perkataan yang merendahkan mereka sebagai  manusia, Cap sebagai ; “itu” nya dipakai sembarangan, memang pantas terinfeksi, pembawa sial, pembawa penyakit, terkutuk, pembuat dosa, calon penghuni neraka, kotor dan menjijikan, membuat banyak Gay tidak nyaman ketika mengakses layanan dan bahkan untuk terbuka ke komunitas gay sendiri.

Seksualitas Gay Positif

Diskusi pertama yang sering diutarakan konselor saat tahu klien nya positif adalah wajib memakai kondom saat berhubungan seks.  Penekanan kepada kewajiban memakai kondom, menimbulkan tekanan psikologis bagi orang yang baru tahu status HIV nya.  Kewajiban ini menempat gay positif sebagai pelaku baru dalam infeksi HIV pada hubungan seksual mendatang. Harus disadari Bahwa kondom merupakan salah satu cara pencegahan penularan HIV dan IMS, tetapi  ini bukan kewajiban Gay positif.

Pengalaman  ku dalam mendampingi Gay positif. Hampir semua, ketika tahu dirinya terinfeksi HIV, b menjadi  tidak berkeinginan  melakukan hubungan seksual selama beberapa waktu. 90- persen cenderung tidak melakukan hubungan seksual dalam bulan pertama tahu status nya, dan 50 persen baru melakukan seksual setelah bulan kelima.  Tekanan psikologis membuat mereka menarik diri dari ranah seksual.

“ saya ingin bertobat , ingin kembali ke jalan tuhan sebelum kematian menjemput” Aldi, 22 tahun

“ Saya jadi tidak bernafsu, ketika saya tahu positif”  Nicky menambahkan

“ seperti nya, aku akan jadi aseksual”  Arif, lelaki  25 tahun menegaskan.

Demikian luar biasa nya, tekanan psikologis yang dialami teman-teman positif, di beberapa masa awal akan membuat mereka menarik diri dan bersembunyi , menikmati seksual nya sendiri.

“ aku saat ini, jika horny melakukan Onani di kamar mandi” aldi menambahkan.

Saya melihat tekanan pengunaan kondom menjadi tidak efektif oleh para konselor ketika seorang gay tahu status HIV nya.  Karena ini tidak significan disaat mereka depresi dan tidak berhasrat  secara seksual di jejali  cara dan tehnik memakai kondom di saat bersamaan.

Konseling untuk penerimaan Diri, seksualitas dan HIV nya menurutku adalah sesuatu yang sangat mendesak saat seorang Gay tahu status HIV nya. Konseling berbasis Gender dan seksualitas akan membantu untuk menghilangkan rasa bersalah terhadap diri sendiri, keluarga dan komunitas.  Penekanan pada aspek-aspek ke-human-an  yang beragam dan semua  orang berhak dan bebas menikmati seksualitas yang beragam membangun kesadaran dalam diri gay positif, bahwa infeksi HIV dan lainnya bukanlah sebuah “dosa”, “ Hukuman” . Membuat mereka nyaman dengan seksualitas dan gender nya adalah pilihan yang sangat tepat saat mereka tahu status nya. Kenyamanan terhadap diri dan status HIV akan memberdayakan Gay positif dalam mengembangkan diri ke depan.

Mario ( 30 thn)   mungkin bisa menjadi contoh seorang Gay positif yang mampu berdamai dengan diri dan lingkungan. Mario telah melewati masa-masa sulit, saat tahu diri nya positif. Saat ini dia bekerja sebagai Konsultan Keuangan di Perusahaan yang cukup bonafid di Jakarta.

“ Saya butuh satu tahun untuk bisa berdamai dengan diri saya, untuk menyadari saya gay dan positif”.  Mario bergabung di Positive Rainbow sejak awal terbentuk.

“Saat ini saya menjadi pribadi yang lebih kuat dan yakin dengan Hidup saya, lebih menghargai hidup dan waktu, berusaha menikmati hidup karena saya tahu ini kesempatan kedua yang Tuhan berikan”

Mario mempunyai banyak kesibukan, menghabiskan waktu ikut Gym selama 3 kali seminggu, hang out dengan teman-teman, menikmati seksualitas dengan lebih berkualitas dan  meluangkan waktu untuk ngumpul dan berdiskusi dengan gay lainnya di Positive Rainbow. Terapi ARV yahng dijalani, membuat CD4 terus menaik dan Viral load yang semakin mengecil. Hidup sekarang menjadi idaman banyak orang, bekerja mapan, mempunyai lingkungan sosial yang bagus ( walau dia tak terbuka tentang status HIV nya) dan rumah kedua Positive Rainbow tempat berdiskusi dan saling mengsupport sesama gay positif.

Saat ditanya tentang kondom seratus persen , ia tertawa;

“ itu butuh diskusi, saya menikmati setiap sentuhan langsung di tubuh saya, pembatas kadang membuat tidak nyaman. Saya yakin dengan terapi ARV yang saya lakukan akan mengeliminasi penularan pada pasangan…..

Terapi HIV Jangka Panjang Dapat Menimbulkan Masalah Oftalmologik

Tag

, , ,

Studi yang dilakukan oleh Tim peneliti dari University of Texas, Southwestern Medical Centre, Dallas, Menunjukan bahwa ART ( Anti Retro Viral Therapy ) jangka panjang untuk HIV-1, dapat menyebabkan timbulnya Oftalmoplegia eksternal.

Dr, Dolores M. Peterson yang memimpin studi ini menyatakan bahwa bukti bukti menunjukan bahwa ptosis ( Mata belok) cenderung bersifat miogenik ( gangguan fungsi otot), dan bukan bersifat involusional.

Studi ini juga menunjukan bahwa ptosis didahului oleh lipodistrofi ( penumpukan lemak yang tidak beraturan ) berat dengan peribahan mitologi tubuh, termasuk lipodistrofi dan akumulasi lemak pada ke-5 pasien tersebut. baik ART nya terdiri dengan analog timidin atau penghambat protease.

Median usia saat gejala timbul adalah 50 tahun, dengan median waktu saat diagnosis HIV adalah 11,5 tahun, dan median ART adalah 7/8 tahun. Median waktu saat timbulnya lipodistrofi adalah 4,7 tahun, dan sejak timbulnya ptosis adalah 0,4 tahun. Median lamanya pemantauan untuk ptosis adalah 1,8 tahun.

Dua pasien menunjukan Oftalmoplagia eksternal di samping ptosis. Neuropati sensorik Ferifer ( gangguan syaraf tepi) juga mendahului ptosis pada 4 kasus, gangguan konduksi kardiak disertai ptosis pada 3 kasus dan 1 kasus dengan ensepalopati ( gangguan pada otak).

Para Peneliti menganjurkan bahwa dokter perlu waspada terhadap potensi efek samping akibat pengobatan HIV, dan siaga terhadap potensi komplikasi akibat ptosis miopatik lain, seperti kelemahan proksimal, disfagia ( susah menelan), tuli, neuropati ( Syaraf), dan gangguan kondisi kardiak ( Gangguan jantung).

Dikatakan dalam Studi ini tidak memungkinkan para peneliti memperkirakan berapa besar prevalensi kedua efek samping tersebut, atau sub kelompok pasien dengan HIV yang mendapat ART jangka panjang mana yang paling sering terkena.

( Clinical   Infectious Diseases, 47;845-852)

Lagu tentang cinta

Tag

, , ,

lagu ini ku titip buat mu

si pengelana cinta, yang terjebak di ombak samudera

kau kah,  menelusuri jejak yang tertanda di hati

mengapa malu tuk mengakui

kau kah,  menawar dengan mawar berbalut belati

mengapa takut untuk mengungkap kenyataan diri

Lagu ini kutulis untuk mu wahai kekasih

kunyanyi kan sambil berdansa di tiang kota new delhi

Ku lah puncak yang tinggi hendak kau daki

ku lah samudera yang dalam belum kau selami

ku lah pelangi yang melingkar perbukitan pagi

Jangan pernah ungkapkan tanya nan berkelindan di hati

puaskan saja reguk kopi pahit untuk tenangkan diri

Karena aku tak ingin kau miliki

Lagu ini ku nyanyikan lewat hati

agar terjawab semua gelisah sebelum ku mati

Ku tak ingin ada yang miliki

Lagu ini untuk mu, kekasih-kekasih

Aku terlalu bahagia sendiri

This slideshow requires JavaScript.

Jakarta, 20 juli 2011

Apa itu Truvada: Obat Pencegah AIDS

Tag

,

Truvada hanya di minum dengan dosis sekali dalam terapi kombinasi

Bagian Truvada.com menyediakan informasi bagi orang-orang yang mengunakan, atau yang akan mengunakan, Truvada ® (emtricitabine dan tenofovir disoproxil fumarat) sebagai bagian dari terapi kombinasi HIV. Truvada (TRU-VAH-dah) disediakan dalam kombinasi dengan obat antiretroviral lain untuk pengobatan infeksi HIV-1 pada orang dewasa. Truvada menggabungkan dua obat anti-HIV, FTC ® (FTC 200 mg) dan tenofovir ® (tenofovir disoproxil fumarat 300 mg), ke dalam satu pil yang diminum sekali sehari dengan atau tanpa makanan.

Truvada adalah obat anti-HIV yang bekerja di nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NRTI atau “nuke”) kelompok  dan selalu diberikan dalam kombinasi dengan obat anti-HIV.

Hal-hal yang yang diperhatikan bagi penguna Truvada:

1.  Tidak menyembuhkan HIV atau AIDS
2.  telah terbukti menurunkan resiko penularan HIV pada orang lain
3.  Hanya harus diambil dalam kombinasi dengan obat lain untuk HIV

PENGGUNAAN Truvada

Truvada adalah jenis obat yang disebut HIV-1 (human immunodeficiency virus) nucleoside reverse transcriptase inhibitor analog dan menggabungkan Emtriva ® (emtricitabine) dan tenofovir ® (tenofovir disoproxil fumarat [DF]) dalam satu pil. Truvada selalu digunakan dengan anti-HIV-1 obat untuk mengobati orang dewasa dengan infeksi HIV-1.

Jangan mengambil Truvada jika Anda sudah mengunakan  Atripla ® (efavirenz 600 mg / emtricitabine 200 mg / tenofovir DF 300 mg), tenofovir, FTC, Duviral ® (lamivudine / zidovudine), Epivir ® atau Epivir-HBV ® (lamivudine), Epzicom ® (abacavir sulfat / lamivudine), atau Trizivir ® (abacavir sulfat / lamivudine / zidovudine) karena obat-obat ini mengandung bahan aktif yang sama atau mirip. Jangan mengambil Truvada dengan Hepsera ® (Adefovir dipivoxil).

INFORMASI PENTING KESELAMATAN

Hubungi penyedia kesehatan Anda segera jika Anda mengalami efek samping atau kondisi berikut saat mengambil Truvada:

Mual, muntah, nyeri otot yang tidak biasa, dan / atau kelemahan. Ini mungkin tanda-tanda penumpukan asam dalam darah (asidosis laktat), yang merupakan kondisi medis yang serius
tinja berwarna cahaya, urin berwarna gelap, dan / atau jika kulit Anda atau putih mata Anda menjadi kuning. Ini mungkin tanda-tanda masalah hati serius (hepatotoksisitas), dengan pembesaran hati (hepatomegali), dan lemak dalam hati (steatosis)
Jika Anda memiliki HIV-1 dan virus hepatitis B (HBV) dan berhenti memakai Truvada, penyakit hati Anda tiba-tiba bertambah buruk. Tenaga kesehatan akan memantau kondisi Anda selama beberapa bulan
Jika Anda memiliki masalah ginjal atau mengambil obat lain yang dapat menyebabkan masalah ginjal, penyedia layanan kesehatan Anda harus melakukan tes darah rutin untuk memeriksa ginjal

Tes laboratorium menunjukkan perubahan dalam tulang pasien yang diobati dengan tenofovir, obat di Truvada. Beberapa pasien HIV yang diobati dengan tenofovir mengembangkan penipisan tulang (osteopenia) yang dapat menyebabkan patah tulang. Jika Anda memiliki masalah tulang di masa lalu, bicara dengan dokter Anda sebelum mengambil Truvada. Juga, tulang nyeri dan pelunakan tulang (yang dapat berkontribusi pada patah tulang) dapat terjadi sebagai akibat dari masalah ginjal
Perubahan lemak tubuh telah terlihat pada beberapa orang yang memakai Truvada dan lainnya anti-HIV-1 obat.
Pada beberapa pasien dengan lanjut infeksi HIV-1 (AIDS), tanda dan gejala peradangan dari infeksi sebelumnya dapat terjadi segera setelah ART dimulai. Jika Anda melihat gejala-gejala infeksi segera setelah anda memulai pengobatan HIV, bicara dengan dokter Anda segera.

Diskusikan semua obat-obatan Anda ambil dengan penyedia layanan kesehatan Anda dan menyadari: penyedia layanan kesehatan Anda mungkin perlu mengikuti Anda lebih dekat atau menyesuaikan terapi Anda jika Anda mengambil Videx ® atau Videx ® EC (ddI), atazanavir ® (atazanavir sulfat), atau Kaletra ® (lopinavir / ritonavir) dengan Truvada.

Efek samping yang paling umum dari obat-obatan di Truvada ketika diambil dengan anti-HIV-1 obat diare, pusing, mual, sakit kepala, kelelahan, mimpi abnormal, masalah tidur, ruam, depresi, dan muntah. Efek samping tambahan masalah ginjal (termasuk penurunan atau kegagalan fungsi ginjal), peradangan pankreas, radang hati, reaksi alergi (termasuk pembengkakan wajah, bibir, lidah, atau tenggorokan), sesak napas, nyeri, lemak hati, sakit perut, kelemahan, gangguan pencernaan, dan gas usus. Volume tinggi urin dan haus, nyeri otot dan kelemahan otot karena masalah ginjal telah dilaporkan. Perubahan warna kulit (bintik-bintik dan bintik-bintik) juga dapat terjadi dengan Truvada.
Memperoleh pemahaman yang lebih baik terapi HIV silahkan cari sumber  informasi HIV, termasuk alat untuk menemukan seorang spesialis HIV atau AIDS Organisasi pemberi layanan pendampingan ( yayasasan atau kelompok dukungan sebaya  di dekat Anda serta gali atau Pelajari cara mendapatkan bantuan membeli untuk Truvada

Pasien harus membaca Informasi Pasien, termasuk “Apakah informasi yang paling penting yang saya harus tahu tentang Truvada?”. Adalah penting bahwa Anda membicarakan perawatan Anda pilihan dan setiap pertanyaan yang mungkin Anda miliki dengan penyedia layanan kesehatan Anda.

Silahkan baca Informasi Peresepan Full Truvada, FTC, dan tenofovir, termasuk PERINGATAN kemas.

Sumber: WWW.Truvada.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.