Manajemen Kasus HIV di Indonesia

Manajemen Kasus

Manjemen kasus (Case mangement) adalah salah satu pendekatan yang dilakukan oleh Pekerja sosial. Lahir lewat rumah-rumah imigran ( settlement houses) di Amerika serikat awal abad ke -18. Selanjutnya pendekatan ini juga dilakukan untuk kelompok-kelompok lainnya dalam masyarakat seperti; Masyarakat miskin, penyandang gangguan kesehatan jiwa, cacat fisik dan manusia usia lanjut. Dan tahun 1990, lewat kasus Ryan White ( Ryan White Care act), seorang anak yang terinfeksi HIV mulai lah pendekatan Manajemen kasus dilakukan untuk memastikan Orang yang terinfeksi HIV ( ODHIV) mendapatkan pelayanan yang terkoordinir dan berkelanjutan. ( Fleishman,1998).

Manajemen Kasus dapat dijabarkan sebagai; penggelolaan secara terkoordinasi semua sistim pemberi jasa perawatan guna memenuhi kebutuhan klien atau kelompok klien tertentu. ( Fleisher dan Hendrickson,2002). Di Tataran pelaksananaan pelayanan masih ada perbedaan paradigma perawatan dan siapa yang bertanggungjawab melakukan tugas ini sehingga sulit untuk menjabarkan yang menyeluruh tentang disiplin ini. Tapi disisi lain ada kesamaan persepsi tentang fungsi nya.

Managemen kasus untuk orang dengan HIV dan AIDS memiliki tantangan yang tidak sedikit. Mulai tantangan Psiko-sosial, keuangan, pengunaan narkoba dan atau alkhohol ( substance), penyakit kronis, kemiskinan, dan Diskriminasi ( Fleisher dan Hendrickson, 2002).

Manajemen Kasus  HIV Di Indonesia

Untuk pekerja sosial di Indonesia sebenarnya istilah managemen kasus bukanlah sesuatu yang asing. Pendekatan ini sudah dilakukan dalam penangganan populasi khusus, seperti anak-anak dengan penglihatan rendah, penyandang cacat dan gangguan kesehatan jiwa.

Secara konsep dan praktek manajemen kasus HIV  dikenalkan di Komunitas kesehatan Indonesia Oktober 2001 oleh seorang Pekerja Sosial profesional yang saat itu bekerja di Family Health international (FHI). Perkenalan ini dilanjutkan dengan diskusi dengan pekerja sosial dari STISIP Widuri. Dengan bantuan Tehknis dari FHI, dibuat lah pilot project  manajemen kasus untuk HIV. Pada awalnya terjadi sedikit tumpang tindih peran antara manager kasus dan konselor VCT ( Volountary counseling and testing / tes HIV yang dilakukan dengan konseling dan sukarela), karena melihat adanya beberapa fungsi yang mirip.

Tahun 2002, Manajer kasus HIV diperkenalkan dan masuk dalam strategi kesehatan Nasional Indonesia untuk Pencegahan, perawatan, dukungan dan pengobatan HIV dan AIDS. Beberapa proyek penting penanggualangan HIV dan AIDS kemudian mulai diterapkan di Komunitas penguna Napsa suntik ( Penasun), komunitas Waria, komunitas gay, biseksual dan lelaki seks dengan lelaki lainnya serta perempuan pekerja seks.

Para manager kasus menjadi salah satu yang penting dalam Tim Pelayanan terpadu untuk perawatan, dukungan dan pengobatan ( Care support and Treatment/ CST) HIV. Tim CST di suatu layanan terdiri dari; Dokter spesialis, dokter umum, perawat, Konselor VCT, dan Manajer kasus. Untuk memperkuat kinerja nya sejak tahun 2004, Departemen Kesehatan Republik Indonesia memfasilitasi beberapa pelatihan CST dalam bentuk kursus secara paralel.

Pelatihan meliputi pelatihan untuk pelatih ( Training of Trainer) dan petugas manajemen kasus yang disebut manager kasus. Pelatihan dilakukan secara periodik dari berbagai wilayah di Indonesia.

Miskonsepsi seputar managemen kasus

Informasi masih seputar manajemen kasus  HIV bagi para petugas kesehatan, khususnya pemerintah, pada awalnya diterima dengan reaksi  penolakan dan keraguan. Kesalahpahaman pertama adalah anggapan bahwa manajemen kasus merupakan alat medis dan hanya dokter yang berwenang di bidang tersebut. Padahal kenyataannya manajer kasus bukan menanggani masalah medis. Ia menanggani masalah Psiko sosial dan membantu klien untuk bisa mengakses kebutuhan akan medis  dan membantu pasien untuk paham dan menjalani petunjuk petugas medis.

Kedua, istilah manajer kasus memberi gambar dan kesan “ karyawan manjerial dengan pakaian dasi” atau pengobyekan ODHIV sebagai “sebuah kasus”. Adlaha lebih tepat manajemen kasus HIV dipromosikan sebagai pendekatan sistematis yang memberdayakan ODHIV supaya kesehatan, kebutuhan dapat dicapai dalam proses yang sensitif terhadap kebutuhan individu klien. Dalam artian terjaga kerahasian klien, dilakukan secara profesional dan berkelanjutan dengan ouput akhir kemandirian .

Hingga saat ini telah dilatih lebih dari 1000 orang tenaga kesehatan dan staff Lembaga swadaya Masyarakat dalam manajemen kasus HIV.

Kesinambungan Manajemen kasus HIV

Kesinambungan manajemen Kasus HIV di Indonesia merupakan kekwatiran yang sungguh nyata. Pihak kemetrian Sosial sudah memfasilitasi untuk mengembangkan program pelatihan, diberikan kurikulum pelatihan yang baku (standar) dan menelurkan Manajer kasus HIV yang cakap di Bidangnya. Sekelompok pekerja sosial mendirikan Yayasan Pelayanan Anak dan Keluarha ( Yayasan Layak) dengan tujuan utama memebrikan pelayanan manajemen kasus HIV kepada ODHIV di DKI jakarta . Sampai saat ini mereka telah mendampingi sebanyak 1874 orang yang terinfeksi HIV.

Titik awal ODHIV masuk ke layanan Manajemen kasus adalah lewat jalur perawatan kesehatan formal. Rumah sakit, poliklinik, puskesmas dan lain-lain tergantung pada tenaga manejer kasus yang tersedia dan saat ini masih terbatas hanya didanai oleh lembaga asing. Malah dengan berakhirnya program dari FHI sejak Pebruari 2010, layanan manajemen kasus seperti mati suri. Beberapa manajer kasus masih bekerja dengan prinsip kesukarelawanan dalam membantu ODHIV.  Masalah kesinambungan Manajemen Kasus HIV baru bisa diatasi jika Manager kasus HIV menjadi pegawai fasilitas layanan kesehatan yang juga menerima gaji.

Meningkatnya jumlah anggota rumah tahanan dan lembaga pemasyarakatan yang terinfeksi HIV di Indonesia merupakan masalah yang mengkuatirkan. Manajemen kasus HIV dengan penghuni penjara yang terinfeksi HIV sebelum meraka bebas menjadi sangat penting, dan menyiapkan mereka yang akan kembali ke keluarga dan masyarakat pun menjadi tak kalah penting. Khususnya dalam upaya mengurangi resiko untuk menularkan ke anggota lainnya di Penjara dan keluarga saat mereka pulang. Manajemen kasus untuk penghuni penjara merupakan kelompok yang membutuhkan pengembangan lebih lanjut serta perhatian khusus di Indonesia.

Pembentukan Ikatan Manajer Kasus Indonesia (IMKI) sebagai Wadah dan jaringan bagi Manajer kasus HIV di Indonesia juga sudah di Inisiasi setahun yang lalu, sampai saat ini belum jelas hasilnya. sementara di lapangan semakin banyak manejer kasus yang sudah mulai menyingkir dari panggung kerelawanan. ketika idealisme para manajer kasus berhadapan dengan kebutuhan pokok, makan, tempat tinggal, pemenuhan kebutuhan keluarga dan lainnya. idealisme itu seperti membentur karang terjal. beberapa patah arang dan lari meninggalkan pelayanan terhadap ODHIV.

Sekarang setelah sepuluh tahun pengalaman manajeman kasus HIV di Indonesia, masih banyak yang harus dicapai dalam upaya membantu mereka yang hidup dengan HIV dan AIDS.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s