Tubercolosis Multi drug resistance, ( TB MDR) adalah bakteri tubercolosis yang mengkuatirkan saat ini. Kemunculan TB MDR di sebabkan kurang adekuat nya pengobatan TB, baik kategori satu atau pun dua . Sejak ditemukan kasus resistensi terhadap pengobatan OAT ( rifampisin) di awal tahun 1970 an, kuman TB resisten semakin berkembang setiap tahun nya. Mulai dari negara-negara di semenanjung Balkan ( Estonia, Lithuania), eropa, Amerika sampai sebahagian besar wilayah Asia. Indonesia saat ini tercatat sebagai negara dengan populasi penderita TB MDR ke lima terbanyak di dunia.
Terdapat 2 jenis kasus resistensi obat yaitu kasus baru (primer) dan kasus telah diobati sebelumnya ( Sekunder).
Secara umum resitensi terhadap obat anti tuberkulosis dibagi menjadi :
• Resistensi primer ialah apabila pasien sebelumnya tidak pernah mendapat pengobatan OAT atau telah mendapat pengobatan OAT kurang dari 1 bulan Resistensi ini ialah apabila kita tidak tahu pasti apakah pasien sudah ada riwayat pengobatan OAT sebelumnya atau belum pernah
• Resistensi sekunder ialah apabila pasien telah mempunyai riwayat pengobatan OAT
minimal 1 bulan
Kategori TB-MDR
Terdapat empat jenis kategori resistensi terhadap obat TB :
1. Mono-resistance: kekebalan terhadap salah satu OAT
2. Poly-resistance: kekebalan terhadap lebih dari satu OAT, selain kombinasi isoniazid dan Rifampisin
3. Multidrug-resistance (MDR) : kekebalan terhadap sekurang-kurangnya isoniazid dan Rifampicin
4. Extensive drug-resistance (XDR) : TB- MDR ditambah kekebalan terhadap salah salah satu obat golongan fluorokuinolon, dan sedikitnya salah satu dari OAT injeksi lini kedua (kapreomisin, kanamisin, dan amikasin)
Di Indonesia sendiri , pengobatan untuk TB MDR telah bisa di akses di dua kota yakni, Jakarta yang berpusat di Rumah Sakit Persahabatan dan Di Kota Surabaya yang berpusat di RSU Dr Soetomo. Dalam waktu dekat akan ada pengembangan layanan di Kota Malang, Solo dan Makasar. Pengobatan Pasien TB MDR, dilakukan lewat program yang jalankan oleh KNCV bekerja sama dengan Departemen kesehatan. 
Dukungan Psikososial
Pengobatan untuk TB MDR memakan waktu yang lebih lama; sekitar dua puluh empat bulan, lebih mahal dan lebih banyak efek samping yang dialami pasien. Pasien TB MDR membutuhkan lebih banyak dukungan karena permasalahan tersebut. Dukungan karena kebosanan terhadap waktu pengobatan, dukungan pembiayaan yang lebih memadai agar kontinuitas pengobatan tetap berlangsung, dukungan dari semua pihak untuk membantu pasien melewati berbagai efek samping, mulai Mual, muntah, sakit di pergelangan tangan, gangguan pendengaran sampai pada tahap tuli, gangguan penglihatan bahkan sampai pada gangguan kejiwaan seperti shizoprenia.
Dukungan Psikososial Pada Pasien TB MDR setidak nya bisa dilakukan lewat:
• Konseling ( koseling kepatuhan, disclosure, penerimaan status, efek samping, dll)
• Edukasi
• Pengembangan kelompok diskusi
• Pengembangan kelompok dukungan sebaya
• Pengembangan lingkungan yang mendukung
• Pengembangan jejaring yang adekuat
• Pengembangan pola-pola income generating
Dukungan psikososial yang diberikan pada pasien melewati beberapa tahap kegiatan:
• Assestment
• Pelayanan kepada pasien TB MDR secara Individual
• Pengkoordinasian layanan dukungan
• Monitoring dan evaluasi
• Pendokumentasian
Kegiatan dukungan pada pasien TB MDR, dimulai dari saat pasien di nyatakan suspek TB MDR, selama menjalani pengobatan dan persiapan setelah di nyatakan sembuh.
artikel nya bagus bos… lamkenal sekalian mau titip ini
cari recehan di internet itu tidak sesulit yang kita bayangkan….
cara jitu cari Rp 1000,-/hari.. visit DISINI
tuan rumah matur tangkiu
makasih juga sudah berkunjung
semangat dan terus semangat u semua yg bergabung di rs persahabatan terutama klinik poli tb mdr…..smoga lebih banyak lg keberhasilan yg kita capai.