Gay Positif; Stigma, diskriminasi, seksualitas dan gaya hidup

Menjadi Gay di Indonesia bukanlah pilihan mudah; dijauhi keluarga, dicemooh teman sekantor, dianggap lingkungan sebagai tidak bermoral,  atau di janjikan sebagai penghuni neraka jahanam oleh beberapa kalangan yang merasa yakin surga hanya milik mereka. Seorang sahabat ku berkata “ sejak saya mendeklarasikan diri sebagai gay,  sampai hari ini belum pernah menginjak kan kaki di kampung ku”  Al ( bukan nama sebenar nya) adalah Gay asal sumatera  yang saat ini telah yakin dengan pilihan nya. Gay bagi nya adalah soal pilihan hidup;  pernah menjalin hubungan dengan perempuan,  ikut banyak pengajian keagamaan dan beberapa kali berusaha “bertobat”, tapi di umur nya yang ke -34, dia yakin, gay adalah tujuan penciptaan diri nya oleh Sang Khalik.

Gay tidak hanya persoalan lelaki yang menyukai lelaki, lelaki yang berhubungan seksual dengan lelaki, baginya gay adalah semua tentang dirinya. Ya, jiwa , perasaan,  seksualitas ,  pilihan hidup dan lebih jauh, ia mulai berjuang bersama teman-teman lain nya  agar terwujud lingkungan yang lebih mendukung bagi komunitas yang beragam, tidak terkotak dalam keseragaman mayoritas; tirani mayoritas.

Gay Terinfeksi HIV

Menurut data IBBS 2008: 1 dari 16 Gay terinfeksi HIV ( Human Immuno deficiency Virus)  di DKI Jakarta, dengan tidak mengurangi rasa hormat, saya merasa angka ini belum menunjukan angka yang sebenar nya. Pengalaman ku dalam menmdampingi teman-teman Positif di Positive Rainbow menunjukan angka yang lebih tinggi, jika itu dinisbahkan kepada Gay,  bukan  LSL ( lelaki seks dengan Lelaki lainnya) istilah yang dikembangkan dalam penanggualangan HIV hampir di seluruh dunia untuk menunjukan prilaku seksual lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki. Karena LSL merujuk hanya sekedar prilaku seksual, bukan identitas seksual. LSL pastinya lebih beragam.

Kembali ke judul di atas, gay positif yang dimaksud dalam artikel ini adalah Gay sebagai identitas seksual  dalam artian; orang yang merasa dan mengidentifikasi diri nya sebagai Gay di komunitas ( hotspot, internet dan tempat nongkrong lainnya) walau mungkin di saat bersamaan mereka menikah karena alasan status, keluarga dan lainnya, serta terinfeksi HIV.

“ dunia serasa gelap, seperti dalam taufan maha dasyat, kacau, binggung dan ingin mati saja” Budi ( bukan nama sebenarnya ) seorang anggota Positive rainbow mengambarkan suasana bathin nya saat tahu diri nya HIV positif.

“ kematian, semakin terasing dari keluarga,  komunitas dan lingkungan adalah ketakutan terbesar saya, sangat sulit untuk mendiskusi tentang status HIV,  jangan kan ke keluarga, ke teman-teman komunitas saja seperti nya tidak mungkin. Untung saya di pertemukan dengan manager kasus yang mendekatkan saya ke komunitas positif,  dengan tahu saya tidak sendiri dan banyak teman yang berhasil melewati proses ini saya berusaha tegar, dan teman-teman sekarang menjadi keluarga kedua saya”  Vicki, sahabat positive Rainbow yang lainnya menjelaskan bagaimana proses melewati kegelapan setelah mengetahui  status HIV nya.

Ketakutan di jauhi  lingkungan, keluarga, komunitas menjadi alasan banyak Gay yang terinfeksi HIV menyimpan semua permasalahan nya sendiri. Dalam beberapa kasus ekstrim, tidak mau di dampingi dan menarik diri dari  lingkungan dan komunitas.

“ saya dulu mempunyai seorang teman HIV positive, seorang  petugas di klinik tempat tes, membocorkan status nya. Issue itu sangat santer, menjadi bahan gosip murahan dengan diselingi candaan-candaan yang menyindir di tempat nongkrong. Pengalaman teman itu membuat ku jadi takut terbuka sama siapa pun.”  Randy menjelaskan mengapa dia sangat sulit terbuka saat awal tahu status nya. Dia membuka diri setelah 4 tahun VCT ( Voluntary Counseling testing / Tes HIV yang dilakukan secara sukarela), ketika banyak infeksi oppotunistik ( Infeksi penyerta) yang mengharuskan nya dirawat di RSUP Persahabatan. Dengan TB paru berat, berat badan hanya 45 Kg dan diare yang terus-menerus akhirnya memaksa nya untuk  terbuka.   Lewat bantuan Manajer kasus ,  akhir nya terhubung ke kelompok dukungan sebaya.

Lain Lagi yang dialami Adi, saat dia mengobati kesakitan di anus nya di sebuah RSUD di Jakarta, Perawat yang menanggani nya berkomentar  “ Ya, iyalah kena penyakit macam-macam, dubur aja di pakai buat begituan”  Adi, tersinggung dan malu karena semua orang yang ada diruangan dokter memandang nya dengan pandangan aneh. Adi berjanji dalam tidak akan pernah lagi datang ke Rumah sakit tersebut. Saya mencoba mengajak si perawat berdiskusi tentang peran nya di layanan Publik yang harus menghargai semua pasien tanpa pandang bulu. Konsep seksualitas nya yang sempit dan hegemoni norma agama nya, membuat  terjadi perang mulut.

Saya melihat ada masalah yang terjadi di layanan VCT dan IMS ( Infeksi menular seksual)  untuk komunitas Gay di DKI jakarta :

  • Belum adanya pendukung  sistem yang menjamin kerahasian status HIV dan IMS seseorang gay , jika dia tes  VCT atau IMS  kemudian diketahui  positif.  Koefidensial adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar dalam melayani teman-teman gay , mengingat masih belum friendly nya lingungan dan komunitas terhadap Gay.
  • Di Layanan saat ini belum terintegrasi layanan VCT dan IMS  yang “one stop services” antara VCT  dan IMS dengan layanan pendukung setelah VCT/IMS. Kebanyakan yang terjadi layanan terputus ketika sampai di konselor, belum ada sistem yang memastikan bahwa setiap Gay yang menjalani testing HIV dan IMS kemudian  diketahui  positif  mendapatkan semua dukungan Psikososial yang dia butuhkan dan terhubung ke kelompok dukungan sebaya berbasis komunitas. Dukungan yang sadar akan seksualitas dan gender serta berbasis komunitas menjadi sesuatu yang penting, karena ada dua hal yang harus didiskusikan oleh gay positif; terkait seksualitas nya dan HIV. Penolakan terhadap salah satu, akan mengakibatkan kesulitan dalam penerimaan diri dan  Disclosure ( Buka status) .
  • Layanan dan komunitas belum Friendly terhadap gay positif. Layanan kesehatan dan publik lainnya  saat ini belum Friendly dalam melayani gay positif. Masih banyak celoteh dan perkataan yang merendahkan mereka sebagai  manusia, Cap sebagai ; “itu” nya dipakai sembarangan, memang pantas terinfeksi, pembawa sial, pembawa penyakit, terkutuk, pembuat dosa, calon penghuni neraka, kotor dan menjijikan, membuat banyak Gay tidak nyaman ketika mengakses layanan dan bahkan untuk terbuka ke komunitas gay sendiri.

Seksualitas Gay Positif

Diskusi pertama yang sering diutarakan konselor saat tahu klien nya positif adalah wajib memakai kondom saat berhubungan seks.  Penekanan kepada kewajiban memakai kondom, menimbulkan tekanan psikologis bagi orang yang baru tahu status HIV nya.  Kewajiban ini menempat gay positif sebagai pelaku baru dalam infeksi HIV pada hubungan seksual mendatang. Harus disadari Bahwa kondom merupakan salah satu cara pencegahan penularan HIV dan IMS, tetapi  ini bukan kewajiban Gay positif.

Pengalaman  ku dalam mendampingi Gay positif. Hampir semua, ketika tahu dirinya terinfeksi HIV, b menjadi  tidak berkeinginan  melakukan hubungan seksual selama beberapa waktu. 90- persen cenderung tidak melakukan hubungan seksual dalam bulan pertama tahu status nya, dan 50 persen baru melakukan seksual setelah bulan kelima.  Tekanan psikologis membuat mereka menarik diri dari ranah seksual.

“ saya ingin bertobat , ingin kembali ke jalan tuhan sebelum kematian menjemput” Aldi, 22 tahun

“ Saya jadi tidak bernafsu, ketika saya tahu positif”  Nicky menambahkan

“ seperti nya, aku akan jadi aseksual”  Arif, lelaki  25 tahun menegaskan.

Demikian luar biasa nya, tekanan psikologis yang dialami teman-teman positif, di beberapa masa awal akan membuat mereka menarik diri dan bersembunyi , menikmati seksual nya sendiri.

“ aku saat ini, jika horny melakukan Onani di kamar mandi” aldi menambahkan.

Saya melihat tekanan pengunaan kondom menjadi tidak efektif oleh para konselor ketika seorang gay tahu status HIV nya.  Karena ini tidak significan disaat mereka depresi dan tidak berhasrat  secara seksual di jejali  cara dan tehnik memakai kondom di saat bersamaan.

Konseling untuk penerimaan Diri, seksualitas dan HIV nya menurutku adalah sesuatu yang sangat mendesak saat seorang Gay tahu status HIV nya. Konseling berbasis Gender dan seksualitas akan membantu untuk menghilangkan rasa bersalah terhadap diri sendiri, keluarga dan komunitas.  Penekanan pada aspek-aspek ke-human-an  yang beragam dan semua  orang berhak dan bebas menikmati seksualitas yang beragam membangun kesadaran dalam diri gay positif, bahwa infeksi HIV dan lainnya bukanlah sebuah “dosa”, “ Hukuman” . Membuat mereka nyaman dengan seksualitas dan gender nya adalah pilihan yang sangat tepat saat mereka tahu status nya. Kenyamanan terhadap diri dan status HIV akan memberdayakan Gay positif dalam mengembangkan diri ke depan.

Mario ( 30 thn)   mungkin bisa menjadi contoh seorang Gay positif yang mampu berdamai dengan diri dan lingkungan. Mario telah melewati masa-masa sulit, saat tahu diri nya positif. Saat ini dia bekerja sebagai Konsultan Keuangan di Perusahaan yang cukup bonafid di Jakarta.

“ Saya butuh satu tahun untuk bisa berdamai dengan diri saya, untuk menyadari saya gay dan positif”.  Mario bergabung di Positive Rainbow sejak awal terbentuk.

“Saat ini saya menjadi pribadi yang lebih kuat dan yakin dengan Hidup saya, lebih menghargai hidup dan waktu, berusaha menikmati hidup karena saya tahu ini kesempatan kedua yang Tuhan berikan”

Mario mempunyai banyak kesibukan, menghabiskan waktu ikut Gym selama 3 kali seminggu, hang out dengan teman-teman, menikmati seksualitas dengan lebih berkualitas dan  meluangkan waktu untuk ngumpul dan berdiskusi dengan gay lainnya di Positive Rainbow. Terapi ARV yahng dijalani, membuat CD4 terus menaik dan Viral load yang semakin mengecil. Hidup sekarang menjadi idaman banyak orang, bekerja mapan, mempunyai lingkungan sosial yang bagus ( walau dia tak terbuka tentang status HIV nya) dan rumah kedua Positive Rainbow tempat berdiskusi dan saling mengsupport sesama gay positif.

Saat ditanya tentang kondom seratus persen , ia tertawa;

“ itu butuh diskusi, saya menikmati setiap sentuhan langsung di tubuh saya, pembatas kadang membuat tidak nyaman. Saya yakin dengan terapi ARV yang saya lakukan akan mengeliminasi penularan pada pasangan…..

11 thoughts on “Gay Positif; Stigma, diskriminasi, seksualitas dan gaya hidup

  1. Kaum Minoritas Yang Termarjinalkan….
    Terus berkarya kawan..jangan anggap dirimu lemah…

  2. hermanvarella says:

    terimakasih telah mampir dan mengsupport kami….

  3. pandita bobi says:

    maju terus positive rainbow, saya punya beberapa dampingan ODHA, siapa tahu kapan kapan bisa silaturahmi kesana….

  4. verto says:

    salut untuk uda herman ini atas dedikasi dan pengabdiannya.

  5. prita says:

    thanks for the info, sekedar share saya wanita bersahabat dengan seorang lelaki yang saya tahu gay. Setelah terpisah 4 thn, kami secara tidak sengaja bertemu, dan karena saya tulus sayang ke dia, dan dia berniat kembali menyukai lawan jenis, kami mulai merencanakan hari esok berdua. Hingga suatu hari dia jujur ke saya dirinya positif HIV. Awalnya karena saya awam ttg ODHA, saya shock, kaget bisa tidak ya kami melanjutkan rencana kami, skrg saya fokus kasih support ke dirinya sambil mencari info2 detil ttg ODHA. Semoga tuhan memberi kemudahan bagi jalan kami, mohon doanya :)

  6. hermanvarella says:

    kenapa di hapus Mba prita?

  7. Belitung of sex says:

    ( PRIA SUKA PRIA INDONESIA )
    ( COWOK CARI COWOK HOMO )

    Tidak susah buat saya menilai karakter seseorang, yg niat? Yg cuma basa-basi? Yg liar sok polos? Semua tergambarkan bagaimana cara anda bicara? Bagaimana anda menanggapi pertanyaan?
    Sangat vital, dari jawaban anda itu tergambar bagaimana pola pikir anda…?
    Semua analis, dilihat kembali ke fakta & realita.
    Pertama” yg saya butuh tentu pemikiran yg sama! Tujuan yg sama! Komunikasi yg nyambung…
    Saya bukan tipe orang yg suka menanggapi hal iseng? Apalagi cuma obrolan basa-basi.
    Dalam dunia gay sangat rentan hal negatif? Ego? Merugikan?
    Makanya saya cuma tertarik anda” yg punya jawaban pasti…
    *
    Kontak saya jika anda merasa pria GAY / BISEX / HOMOSEKSUAL, yg dewasa, jantan, siap ketemuan wlp jauh,
    diutamakan anda yg berusia 30tahun keatas.
    Percayalah… Hati itu lebih awet daripada fisik…
    O85664600785

  8. Belitung of sex says:

    Di cari kenalan GAY / HOMOSEX / BISEX se Indonesia.
    Tuk partner jangka panjang,
    tertutup & rahasia.
    Saya gay 27th saat ini,
    menginginkan bisa menjalin hubungan ;
    gay yg berkarakter dewasa.
    Gay yg serius, yg siap mencari solusi,
    menjalin hubungan dg hati,
    bukan sekedar nafsu!
    Tau yg baik & benar!
    & anda WAJIB MANLY tampil layaknya pria normal, & tidak perlu cakep!
    Ganteng bukan jaminan,
    saya butuh hati, point pertama.
    *
    (anda yg merasa manja lebay & gemulai saya tidak tertarik)
    *
    saya suka pria dewasa, yg sudah menikah tidak jadi masalah, mungkin lebih baik! Lebih privatif.
    Yg terbaik lah diatas pendapat, yg bisa menciptakan suasana yg aman…
    & tidak ada yg merasa egois!
    Menurutku, tidak semua gay niatnya buruk!
    Semua tergantung lingkungan, bagaimana mendidik seseorang & tumbuh…
    Kontak aku jika anda bawa niat baik…
    O856646OO785

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s