Saat Sahabat Meninggal Pagi Ini

138

Dulu

Ku ingat saat kita bersama menyusuri jalanan Ibu kota

Menikmati setiap pandangan yang mencibir

Kita hanya tertawa, kala sepuluh lelaki mengajak ke Peraduan nya

Kau, aku  dan mereka bergumul dalam keringat

Ada kepuasan di Setiap tetes air mani yang melembabkan bumi kita

Kau dan aku, hanya ingin kita mengungkapkan pada dunia

Bahwa kita manusia dari tanah yang sama

Nafsu yang sama

Surga yang sama

Surga Linga-linga tanpa Yoni

Tak peduli, saat pagi mereka terbangun dan meludahi muka kita

Sahabat, Ku ingat kau pernah bercerita

Tentang orang tua yang mengusirmu dari rumah

Tentang keharusan untuk menikah

Aku hanya bisa memeluk tubuh mu

Menangis bersama

Sahabat

Pagi ini saat pagi merah

Bayu bercerita tentang akhir perjalanan mu di Dunia

Kandida, typus, jantung, tuberculosis dan segala macam penyakit lainnya

Mengalahkanmu dalam satu kata

Mati

*****

Pagi yang emosional, 8 November 2012

Ku dedikasikan untuk semua Sahabat yang sedang berjuang untuk lebih sehat dan lebih baik

Teruslah berjuang….

Aku selalu bersama mu

Puisi tentang Cinta II

Cinta, mengiba, merajuk-rayu, janji, ungkapkan rasa

Kata indah, sanjung, lenakan diri dalam kekang hati

Kisah, mengharu-biru dalam siasat yang hendak pergi

Ku sudah mengenal mu, dalam Jejak seribu pengembara yang pernah menepi di dada

Ku kan hantarkan semua yang terselip di benak mu, janji ku

dalam seribu purnama, sepertinya memang tak kan ada lagi cinta

Jika hanya dua revolusi surya, hati mu sudah tertata

Cinta.

Cinta?

cinta!

Cinta………………………..

Pondok Gede, ujung September 2012

Puisi Galau

IMG_20121030_144903

Saat rindu ini begitu mendendam,

ingin ku nafikan semua rasa yang terlalu menghujam,

hujan dan gerimis jakarta malam ini,

laksana 9 purnama yang tak terhapus siang,

kadang hati ingin meragu,

bukan telah dimulai tahun yang baru,

mengapa tidak mengengam waktu,

merajut kisah yang tercecer saat gerimis di Meong dong,

Aku masih mengingat mu,

mengikat setiap wangi tubuh dalam buhul hati ku,

aku masih memuja mu,

bercerita pada semua musafir

ku pikir akan menyampaikan setiap tetes rindu ku pada mu,

Aku masih menunggu mu,

menanti janji mu untuk bersama menapaki setiap tangga menuju keuzuran kita,

Aku masih di Sini sayang,

karena percaya jodoh ku, kamu.

Pondok gede, saat gerimis mengengam malam di awal weekend

Love In Bangkok ( Part I)

DIGILIFE DIGITAL CAMERA

This slideshow requires JavaScript.

Giant bergegas mengambil beberapa celana dalam berlogo calvin klein dan Hugo boss. Dia sengaja memilih warna dan model yang berbeda. Mengulungnya menjadi sangat kecil di gengaman,  mengumpulkan dalam kantong kain dan meletak kan di sudut bagian atas koper nya. “ apalagi yah?” omongan keluar tanpa tahu bertanya sama siapa. Giant sendiri di kamar nya menjelang pagi. “ oh ya, sikat gigi dan pelembab muka” sambil berteriak dia bergegas ke kamar mandi. Mengambil beberapa peralatan mandi , kemudian  memasukan di kantong sebelah kiri atas koper.

“ alhamdulillah selesai”

“ Kriiiing… jkriiiiing” Alarmnya berbunyi saat menunjukan jam 2.00  dini hari . di luar masih sangat gelap. Dia bergegas ke Taksi yang sudah menunggu nya di  jalan kecil depan rumah . Bandara Soekarno Hatta, adalah tujuan yang hendak dicapai . Sepanjang jalan pikiran nya menerawang. Petualangan ini harus memberi kesan . dia berusaha tanamkan tekad sekuat baja di bathin  yang  sedikit goyah. Goyah, ketika Beib membatalkan keberangkatan dengan alasan, proyek pembangunan apartemen  sedang pengecoran tahap akhir. “ Beib , aku ngak bisa ikut, kamu aja yah, seraya memberikan dia  50.000 bath,”

Burd berlari kecil. Badan nya yang kekar terlihat kokoh pagi itu. Jam 2.00 di MRT Silom Line. Kaos V neck, menunjukan dada berbulu yang membusung dan bidang. Rambut halus di tangan meremang, karena terpaan udara pagi. Wajah nya tampak Capek. Setelah show selama 5 jam,  melayani seorang tamu dari belanda membuat  Lelah. Habis semua energi yang dipersiapkan  dari sore. Pagi ini, tujuan nya hanya satu,  ingin pulang ke kos-an di Mo Chit.  Seorang pria memperhatikan  dari atas kaki ke ujung kepala. Lalu pria itu menyapa nya.

“ Hei, kamu nomor 47 kan”

“ Aku pengagum baru mu, bisakah mengobrol sebentar ?”

Burd mundur dua langkah, dia kaget. Dengan terpaksa bibir nya tersenyum.

“ Boleh ku tahu, dari mana kamu memiliki dick sebesar itu? Ada waktu untuk menemaniku sekarang?”

Pria asing itu memberondong  pertanyaan  laksana prajurit yang kalap di depan musuh bebuyutan. Burd Tidak terlalu senang. Dia merasa Dilecehkan.

“ Maaf, saya harus pulang” wajah lelaki nya mengeras.   Dengan Acuh  dia beranjak masuk MRT yang segera membawa  pergi . Pria asing itu terlihat melonggo binggung.

Ini memang bukan yang pertama, sudah sering ia menerima pangilan dengan No. 47 itu. Di tempat kerja nya, dia akan sangat senang jika di awal acara ada orang yang memanggil  nomor tersebut. Itu berarti ia tidak harus melengak lengok, menari di panggung . Itu berarti ia akan pulang mengantongi duit yang banyak. Itu juga berarti ia akan segera melaksanakan tugas nya di tempat lain. Tempat yang kadang sangat mewah dibanding kos-anya di Mo Chit, atau kadang malah  di hostel murah seperti Lisa lodge di Silom . Paling tidak,  ia tidak harus memeragakan tubuh, kejantanan nya  di depan banyak tamu untuk malam itu.

Ia menemukan lelaki yang mirip diri nya sedang terbang dengan sayap putih. Berkali-kali lelaki itu melirik nya. Ia terpesona. Lelaki bertubuh kekar, berkulit sawo matang, memiliki sayap  terbang  tepat di  muka nya. Beberapa kali dia tersenyum. Setiap Burd  ingin  dekati , kedua sayap nya mengepak menjauh. Burn penasaran, mengejar nya. Tangan nya tak pernah sampai mengapai. Terbebas di awang. si lelaki bersayap itu seperti terus mengoda nya…

“ The Next Destination is Siam,” kalimat pemberitahuan tersebut,  membuyarkan mimpi Burd. Dengan mata yang masih berat ia bergegas turun, untuk segera berpindah ke MRT lain, Mo Chit.

2.00 AM, Robert berkali-kali membalikan badan. Matanya engan terpicing. Pikiran tertinggal di Hotmale, Soi 4 Patpong road. Bayangan kejantanan lelaki itu engan membiarkan  terlelap. Warna coklat kesukaan nya terlihat begitu sempurna di atas panggung. Urat-urat yang mengeras tidak hanya di bisep dan trisep tetapi sampai ke penis   yang menjulang kokoh. Ingin sekali ia menjilat nya saat itu, memagut tubuh itu, atau merangkul  dalam dekapan hangat . Berkali-kali tubuh nya kaku, celana dalam basah ketika melihat lelaki penari tersebut beraksi. Goyangan pinggul dan dada nya dan tangan nya seolah mengapai, memelintir, memagut, mengayun seirama musik.

Robert sedang liburan ke Bangkok . hati terikat ke kota ini. ini kali ke empat ia datang ke kota ini, sejak  6 tahun lalu.  ia selalu menyempatkan liburan ke Bangkok, Yokyakarta, bali,  setiap liburan . Bangkok mengikat nya, tidak saja Chao praya yang meliuk seperti Naga membelah Kota bangkok, tetapi juga suasana  Soi 4, Patpong road.   Lelaki asia selalu melenakan semua hasrat nya.

Giant menghirup udara segar sepanjang perjalanan dari Suvarnabhumi ke Phatumwan, kemacetan tidak seperti jakarta yang sangat semrawut. ia memasuki hotel saat matahari berada di tepat di ubun-ubun.  Setelah meninggal kan resepsionis,  diantar oleh seorang petugas hotel ke kamar 2202. Sebuah kamar yang mewah, bathub yang terbuat dari kaca transparan membuat nya terpesona. Selamat datang di dunia baru. Akan ku telusuri semua yang baru disini, bisik hati  nya.

Jam 21 00, waktu yang tidak berbeda dengan Jakarta, Giant mulai menjejakan kaki di Silom Road. Tidak sulit bagi nya untuk sampai disini, berbekal informasi dari door man di Condrad Hotel. Giant sampai juga di Silom Road, hanya dengan naik bus hotel ke statsiun Chit lam, kemudian naik kereta ke Shukumvit station untuk melakukan interchange ke MRT jurusan Silom, hanya 20 menit dari hotel.

Giant mulai melihat-lihat baju-baju kaki lima-an di Silom road. Walau di jual  di emperan, baju-baju yang di pajang cukup menarik hati nya. Up to date dan elegan, dia selalu menginginkan pakaian seperti itu membungkus tubuh nya. Untuk pakaian yang diinginkan nya, Giant tidak pernah bermasalah dengan harga.  Bagi nya rasa tertarik nya pada sesuatu adalah harga yang pantas ia bayar. Dia tidak pernah pelit terhadap apa yang disukai nya. Selera nya adalah segalanya bagi nya.

Giant meminta izin untuk mencoba Kemeja abu-abu yang dipadu dengan warna hitam di bagian kancing dan lengan. Dada nya yang bidang terlihat berkilauan di bawah lampu jalanan, bergegas dia mencoba baju tersebut, mengaitkan kancing, merapihkan kerah nya kemudian mematok dirinya di depan kaca setinggi tubuhnya yang di letakan di pinggiran baju-baju yang digantung membelakangi jalan.

Robert tak henti menatap tubuh telanjang di depan matanya. Sedikit aneh ia melihat pemuda  yang berani membuka baju nya di tengah jalanan  silom road. Dada bidang berbulu halus, lengan yang kekar, perut sixpack itu membuat mata nya seolah terikat dengan sosok yang menarik di depan nya.  Ia tak henti  menatap sambil berpura-pura melihat baju.

“it’s nice for u” ia mencoba membuka pembicaraan. Lelaki itu mengalihkan pandangan ke arah nya sambil tersenyum, robert menikmati nya.

“thank u” singkat sekali jawaban itu.

Robert terdiam, dia sebenar nya ingin memulai pertanyaan pembuka lainnya, tetapi lelaki itu seperti nya terlalu sibuk mencoba baju-baju yang di sodorkan kepadanya .

Patpong Road Soi 4

Berbekal  peta dan petunjuk lewat telpon dari Beib , Giant sampai juga di Hotmale Bar, Patpong Road Soi 4. Beberapa lelaki Thai mencoba menawarkan nya untuk menonton Seks Show yang menjadi daya tarik utama Silom. Wisata seks menjadi andalan Silom, semua jenis seks show ada disini. Mulai dari gogo dance, striptease yang di jakarta sangat tertutup sampai Seks show dalam arti sebenar nya terdapat di Sini. Tidak hanya hubungan penetrasi antara wanita-pria, pria-pria, pria-waria, Orgy dan lainnya  menjadi legal di sini. Silom Road memang andalan pariwisata Bangkok di Kala malam tiba. Beib tidak pernah melarang Giant selama di bangkok. Dia hanya berpesan  agar Giant hati-hati dan  menikmati liburan nya kali ini. Itu yang di sukai Giant dari Beib, sangat dewasa dan tidak mengekang.

Memasuki Hotmale bar, Giant sedikit Risih. Beberapa lelaki telanjang terlihat bergoyang di panggung utama yang di kelilingi oleh kursi penonton. Empat penari lainnya meliuk-liukan tubuh nya di panggung kecil selebar satu meter yang terdapat di empat sudut ruangan . Giant duduk di kursi tengah sebelah kanan panggung.  Beberapa kursi di bahagian pinggir yang remang sudah di penuhi oleh pengunjung. Beberapa tamu bermata sipit dan berkulit putih terlihat di sebelah utara. Beberapa lelaki memakai celana pendek dan perempuan-perempuan terlihat asyik menikmati pertunjukan. Giant meletak kan pantat nya. Hanya dia yang datang sendiri sepertinya

Seorang pelayan, lelaki muda bertelanjang dada menghampiri nya,

“ยินดีต้อนรับ “

“ English please”

“ Where are u come from?”

“ Jakarta” Giant mengeser duduk nya, si pelayan duduk di samping nya sambil menyediakan daftar Menu

“ wajah  mu terlihat seperti orang Thai”

“ oh yah, mungkin  karena kita  bangsa bertetangga” Giant menjawab sambil mengambil daftar menu dan memperhatikan satu persatu menu yang di tulis dalam bahasa Thai dan  inggris.

Giant memesan segelas long island. pelayan pergi ke Meja bar, tidak lebih 10 menit kembali di saat  lelaki-lelaki di panggung mulai membuka G string yang menjadi penutup akhir tubuh nya. Dada Giant berdebar keras, ada sesuatu yang bergerak di celana nya.

Burd sedang berganti baju di kamar ganti. sejak tadi pagi ada sesuatu yang menganggu pikiran nya.  lelaki bersayap dalam mimpi nya seolah terikat erat di pikiran . membekas di alam bawah sadar . Dia mengambil sebuah botol berwarna putih dari dalam kemudian membuka tutup nya  . dua butir pil keemasan dari dalam botol  langsung melesak ke mulut, dengan bantuan air mineral yang telah disiapkan sebelum nya pil itu mengalir lewat tenggorokan dan memasuki lambung nya. Burd terduduk di kursi Pojok. Ini Bagian yang tidak disukai nya. rutinitas meminum Pil emas ini membuat nya jenuh, bosan dan muak. tetapi jika bukan karena ini, maka kejantanan nya tidak akan sempurna sepanjang pertunjukan. Tidak  akan mampu membuat tamu terpana. yah, mau tidak mau, ritual ini harus tetap di lakukan sepanjang ia mau tetap bekerja demi dua putri nya di rumah.

Burd Sekarang tinggal bersama Putri nya, Chattiya sang istri meninggal kan nya. Chattiya tidak sangup hidup sebagai Istri Burd yang awal nya bekerja sebagai Waiters di KFC Silom. gaji nya sebesar 1200 Bath per bulan tidak pernah cukup buat berempat. Chattiya akhir nya pergi. tinggalah Burd bersama kedua putri nya.  Burd Keluar dari KFC dan akhir nya memilih bekerja sebagai Penari di Hotmale Bar.

Robert memasuki Hotmale dengan langkah santai. Mata nya berkeliling melihat ruang kosong. hampir semua kursi terisi. kemudian mata nya menangkap sosok yang terlihat berganti baju di Silom Road.

‘ oh, ini kesempatan” bisik hati nya.

Dia mengayunkan langkah ke kursi  kosong di sebelah kanan lelaki  yang sedang mengobrol dengan waiters .

“ boleh saya duduk?”

“ Silahkan” mata biru robert melihat senyum manis di bibir merah.

“ Saya Robert dari Jerman, boleh saya tahu nama anda? “ Robert menjulurkan tangan nya

“Giant dari jakarta”

“ jakarta, kota yang sangat macet hah?”

“ Yup, sekarang masih macet parah” Giant berpikir jika bule yang didepan nya cukup ramah dan terlihat sangat menarik di bawah lampu temaram bar.

Burd berdiri di belakang panggung. lima menit lagi waktu nya untuk tampil membius penonton.  Tubuh tegap dibaluri lotion yang membuat kulit gelap nya mengkilap. otot-otot terlihat mengelembung, perut sicpack nya terlihat menawan ditutupi rambut-rambut halus yang terhubung dari pusat sampai ke batas g string berwarna hitam yang dikenakan.

Burd mulai melakukan relaksasi, kaki nya beberapa kali di regangkan di lantai membentuk garis lurus kedua tangan nya berusaha menjangkau ke dua ibu jari kaki secara bergantian.

“ Burd siap! dua menit lagi!” satu suara keras membuat Burs harus segera berdiri. dia menyambangi kaca sebentar, memperhatikan setiap bagian tubuh dan membentulkan No 47 yang terlihat bergeser akibat peregangan yang dilakukan barusan. Dada nya berdebar keras, saat bayangan lelaki bersayap melintas kembali di pikiran. kemudian dia beranjak ke Pintu penghubung Ruang ganti dengan panggung. Dia melangkah penuh keyakinan. penampilan nya masih yang terbaik di Hotmale Bar.

( bersambung)

Takdirku, Ramalan mu

Takdir, adalah ketidakmapaman  menghampiri ku/kepak ini patah tertahan/terjerembab dalam pelukan mu, menelusuri setiap jengkal tubuh ku/ menghitung setiap huruf yang membentuk untaian nama ku “herman varella Sabir’/ramalan mu akan cinta ku/ sepertinya diri mu yang akan bertahta /mahluk indah, sekuat naga dan seagung biksu/ aku yakin itu kamu/saat malam di hotel sepulang menjelajah puncak tertinggi kota seoul/ aku, kamu telah satu/kita akan selalu satu/walau kau merintih  ingin kan bahagian ku untuk mencapai langit/aku tak ingin selalu dibawah tubuh mu, rengek mu/biarkan aku mencapai langit dengan cara mu/bukan semua nya harus setara/itu perjuangan ku,rintih mu/ aku dan kamu telah mencapai mega, melampaui jalan panjang/saat tidak terpikir akan kesedirian di kota mu / dan aku meratap sepi disini/ menunggu enam purnama saat takdir  menjemput ku/ pastikan, kata ku/ aku tidak mampu untuk pasti/ semua bisa berubah karena semesta yang berubah/kamu juga harus berubah/ jadi pengusaha adalah keagungan yang ditorehkan lewat garis melengkung di telapak tangan mu/ kamu kan bisa tetap membantu sesama jika takdir mu telah kau temui/tebal kumparan tangan mu, adalah pertanda /kamu akan melampaui hari ini/ aku merenung sambil memandang  celoteh  bibir mu/ bibir tipis  mengucap setiap kata/dua garis merah itu membuat lukisan cinta dihati / kamu takdir ku /gumam ku mengaliri aliran darah di nadi /saat dingin menelusup lewat celah pendingin ruangan dan rintik hujan terlihat lewat kaca hotel/ Kita saling menghangatkan/aku, kamu satu.

Di saat musim hujan telah datang di kota ku/saat kita tak lagi bersama menyusuri tepian sungai  dan berkejaran menuju pemberhentian Guang Buk Dong/saat musim panas negeri ginseng tak berbekas lagi disini/ kamu harus hati-hati dengan air/ takdir mu bisa jatuh jika elemen itu datang/ kesuksesan mu berbarengan dengan rapuh nya tubuh mu/kejatuhan karena air dan kebangkitan karena unsur api /jangan pakai nama terlalu panjang/ kamu tambahkan sendiri atau anugerah dari orang tua mu?/ nama yang panjang akan menyulitkan takdirmu/aku menyangkal mu/aku berhasil melewati banyak persoalan setelah kutambahkan nama lahir ku/kesakitan yang sangat telah lewat kataku/satu masa kamu akan kesulitan karena nama mu, tegas mu/aku ingatkan dengan cinta agar kamu waspada/ramalan ku dalam tujuan itu/aku tergugu/yakinkan aku kalau kamu selalu ada untuk ku/ bahkan saat masa kesulitan itu datang/research ku kan menghalangi ku menemui mu/tak ada masa untuk bersama/setidaknya untuk 2011/selepas januari di valentine days aku usahakan/kamu harus mampu sendiri/ sekarang aku sendiri/ tapi ku tak mau menyendiri/ku takut sepi

Saat ini ada  takdir baru dalam hidup ku/mahluk indah, sekuat Naga dan seagung Biksu  /takdir telah mempertemukanku dengan  yang lainnya/bukankah di dunia ini ada tujuh sosok yang serupa/ mungkin dia salah satu nya/aku mulai meragui takdir ku untuk mu/sosok dalam ramalan mu  itu menyeruak  hari ku/ memijiti setiap titik kelelahan ku/mengingatkan saat raga ku harus ditransfusi energi baru/dia seperti kamu/indah dan kuat bagai naga/agung laksana biksu

Hari ini, saat rindu membuncah ingin menemui mu/Yakin ku akan ramalan mu atas takdir ku, seyakin  penerimaan ku atas semua kejadian  hari ini…..Takdir ku telah disini ….

Lagu tentang cinta

IMG_20121030_185438

lagu ini ku titip buat mu

si pengelana cinta, yang terjebak di ombak samudera

kau kah,  menelusuri jejak yang tertanda di hati

mengapa malu tuk mengakui

kau kah,  menawar dengan mawar berbalut belati

mengapa takut untuk mengungkap kenyataan diri

Lagu ini kutulis untuk mu wahai kekasih

kunyanyi kan sambil berdansa di tiang kota new delhi

Ku lah puncak yang tinggi hendak kau daki

ku lah samudera yang dalam belum kau selami

ku lah pelangi yang melingkar perbukitan pagi

Jangan pernah ungkapkan tanya nan berkelindan di hati

puaskan saja reguk kopi pahit untuk tenangkan diri

Karena aku tak ingin kau miliki

Lagu ini ku nyanyikan lewat hati

agar terjawab semua gelisah sebelum ku mati

Ku tak ingin ada yang miliki

Lagu ini untuk mu, kekasih-kekasih

Aku terlalu bahagia sendiri

This slideshow requires JavaScript.

Jakarta, 20 juli 2011

Bulan Sempurna di Langit Pondokgede

Sendiri di teras sepi

menunggu malam menjemput pagi

Bulan sempurna menyisir  saat  terlewati

renungi mimpi menyempurnakan janji

sudahlah, semua tak akan terpenuhi

biarlah semua pergi

pergi

menjauh dari hati

Bulan sempurna Di Langit Pondok Gede malam ini

Kepak gagak melagu di hati, kembali sunyi

Dingin menyesak sampai  jantung, detak lirih

Hampa, hilang semua rasa dalam nyepi

Sepi

Sendiri

Bulan Sempurna Di Langit Malam ini

ingin ku hanya berbagi

seperti bulan menerangi  gulita ini

sendiri

sendiri

sendiri

sampai nafas terhenti

mati

pondok gede, 20 maret 2011