Gender dan Seksualitas

( Sebuah Kajian Etnografi )

Konsep maskulinitas dan dan feminimitas dalam masa penjajahan, di pakai sebagai sebuah legitimasi, pembenar buat Bangsa-bangsa Eropa. Bangsa penjajah digambarkan sebagai sesuatu yang maskulin, perkasa,  kuat, baik, beradap dan lainnya, sebaliknya jajahan, dianggap sesuatu yang feminim, eksotis, lemah, buruk, gelap , tidak beradap dan lainnya. Konsep ini membuat penjajahan dianggap sebagai sesuatu yang benar dan dibenarkan.  Legitimasi pembenaran tersebut membuat nafsu penjajah dengan sifat maskulinitasnya melakukan “penetrasi” terhadap ibu pertiwi, yang lemah gemulai, eksotis dan tidak beradap. Ibu pertiwi, adalah istilah yang muncul, akibat hegemony maskulinitas penjajah. Sehingga dalam perjuangan kemerdekaan, konsep perjuangan adalah pembebasan Ibu pertiwi ( feminim) oleh para pejuang yang dicitrakan sebagai . hero, maskulin, jantan dan heroik.

Setidaknya ada tiga diskriminasi dalam konsep bangsa dan negara yang pernah dan masih terjadi;

  1. Diskriminasi terhadap seksualitas
  2. Diskriminasi terhadap gender
  3. Diskriminasi berupa tekanan untuk pernikahan

Ketika seksualitas berada dalam konsep bangsa dan negara, ia menjadi sesuatu yang tidak bisa berdiri sendiri, terkait dengan banyak hal. Keterkaitan ini menyebabkan seksualitas tidak lagi menjadi milik pribadi tetapi bagian dari nilai komunal. Sehingga seksualitas diatur sedemikian rupa. Dalam masyarakat indonesia di masa sebelum kemerdekaan, seksualitas yang baik adalah seksualitas yang dilakukan  oleh Lelaki dan perempuan untuk  memperoleh keturunan,  antara penis dan vagina, harus melalui pernikahan  serta dilakukan di Ruang pribadi. Seksualitas selainnya dianggap sesuatu yang salah dan melanggar norma, tidak beretika dan lainnya.

Saat ini pun, Sebagai bangsa kita masih berkutat dengan permasalahan salah dan benar. gender dan seksualitas menjadi sesuatu yang diatur dalam relasi kuasa yang tidak seimbang. Kasus Ariel, Luna maya dan Cut tari misalnya, mereka menjadi tidak berhak untuk menikmati tubuhnya sendiri dan dianggap salah ketika melakukan hubungan seksual di luar pernikahan, dan tersebar diruang publik. Ada keinginan untuk menghukum oleh masyarakat, media dan negara. sejatinya setiap orang punya hak otonom terhadap tubuhnya dan bebas untuk melakukan apapun termasuk menikmati hubungan seksual dengan siapapun.  Seorang presiden sekaliber Susilo bambang Yudoyono ( SBY) pun perlu bersuara tentang orgasme masyarakatnya di tengah kasus-kasus korupsi yang tidak mampu diselesaikannya.

Menurut Faucault, ada dua hal yang mampu mengambarkan hal tersebut dalam kajian Etnografi yaitu; discourse dan spatial scale.  Discourse berarti percakapan, dialog, wacana, adalah sesuatu yang tidak punya batasan dan saling terhubung dengan hal lainnya. Discourse tidak mampu berdiri sendiri, terpengaruh oleh discourse lainnya,  Gender misalnya, terpengaruh oleh  ekonomi, politik, sosial, budaya, struktur masyarakat dan lainnya.

Semua discourse mempunyai spatial scale. Spatial scale atau skala spatial merujuk bahwa sebuah discourse dibatasi oleh  waktu dan kewilayahan.

Discourse tentang homoseksualitas misalnya, pada awalnya muncul di gunakan untuk keperluan medis, kemudian istilah tersebut diawal 70 an mulai dikenal di Indonesia bersamaan dengan dimulainya program keluarga berencana, kemudian istilah homoseksual dipakai oleh orang-orang yang secara sadar menidentifikasikan diri sebagai homoseksual secara medis untuk mengorganisir diri dan membentuk identitas komunitas. Hal ini disebut reverse discourse.

Discourse tentang gay Di indonesia muncul sekitar tahun 1980 an yang merupakan efek dari kesuksesan orde baru. Dan konsep gay indonesia menjadi konsep gay bangsa bukan konsep gay lokal/kedaerahan. Banyak gay dindonesia mengaku sebagai gay indonesia, kemudian baru gay daerah atau lokal.

Konsep gay dindonesia bukan sesuatu yang direncanakan atau di impor dari luar, tetapi merupakan efek dari kemajuan yang dinginkan oleh bangsa. Kedepannya perjuangan komunitas LGBT haruslah bersifat keseluruhan Indonesia sebagai bangsa.

Kesimpulan: satu diskor kadang ada dalam satu skala, tetapi kebanyakan diskors ada dalam banyak skala. Misal konsep gay, dindonesia hanya ada dalam skala nasional/ atau indonesia tetapi tidak ada istilah gay surabaya, jawa atau sumatera. Dan bisa jadi diskors melewati berbagai skala mulai dari lokal sampai global. Misal diskors agama. Melawati skala, lokal, daerah, bnangsa maupun antara bangsa dan global.

Kadang diskors ada dalam skala yang sama dan berbda begitu juga sebaliknya. Dan tidak ada satu discourse dalam skala global yang diangap lebih berkuasa dibanding lokal, tetapi bisa terjadi sebalinya. Semua tergandung pada discourse itu sendiri. Misal dalam skala keluarga bisa jadi discourse-discourse lokal menjadi dominan dibanding  global. Jadi semua discourse menjadi penting, tidak akan ada  yang  selalu dominan dalam skala lokal, global dan di setiap masa.

Seksualitas dan bangsa

Banyak orang tidak bisa menjelaskan tentang hub seksualitasnya dengan negara. Pada beberapa tahun ini terjadi perubahan  yang sangat besar di Indonesia. Pada beberapa tahun lalu semua orang kawin dengan di jodohkan, tetapi saat ini secara dominan mulai terjadi bahwa perkawinan harus dilakukan dengan landasan cinta. Perkembangan ini bisa dilihat dalam kesusasteraan. Misal dalam kesusasteraan lama selalu digambarkan bahwa kebanyakan mereka dijodohkan lalu ada keinginan utk menolaknya agar bisa mengawini orang yang cintai. Issue ini kemudiaan di sejalankan dengan kemerdekaan dan kebebasan yang diperjuangkan. Saat ini ketika perkawinan pada umumnya dilandasi  cinta, mulai lah muncul seksualitas. Dan  cinta ternyata tidak hanya pada perempuan tetapi juga pada lelaki begitu juga dengan seksualitas.

Kemunculan gaya nusantara  yang diikuti oleh gaya celebes, gaya siak dan lainnya juga bisa mengambarkan bagaimana konsep negara dan kebangsaan indonesia berpengaruh pada konsep gay kedaerahan.

Diskusi kelompok

  1. Kelompok yang membicarakan ttg gay lalu dianalisi dalam skala diskors dan spatial scale. Scala pembahasan di sumatera, dimulai dengan tidak adanya istilah utk menyebut orang-orang yang berorientasi sejenis. Ada baranak jawi, sakiek, banci, bujang gadih, kemudian thn 1970 muncul istilah homoseksual dan bieseksual karena adanya kebutuhan medis dan psikologis. Gay muncul th 1980 utk org yang berpendidikan, lalu ketika muncul malah HIV/AIDS muncullah istilah LSL sekitar tahun 2000 an.
  2. Kelompok yg membicarakan ttg waria, diskors waria, ditingkat lokal terdapat di budaya bima/ sarsiwe, wandu/jawa, bissu/sulawesi., diskors ini muncul terkait masalah politik, budaya dan agama serta ekonomi. Kemudian dimasa selanjutnya muncul istilah wadam th 1928, waria 1980, yang terkait dengan masalah partai politik dan antertainer.olahraga dan ekonomi.
  3. Lesbian, pada awalnya belum ada nama untuk menyebut aktivitas lesbian, yang ada hanya label maskulin dan feminim, kemudian muncul istilah tomboi dqn wadam, dan karena adanya hegemoni heteronormativitas munculah istilah sentul dan kantil. Saat ini muncul istilah inport butch, femme dan andro. Istilah-istilah ini muncul akibat pengaruh modernitas kapitalis yang menghendaki adanya pelabelan terhadap segala sesuatunya.
  4. poligami., skale lokalnya di daerah sumba NTT,poligami, dimulai dari masa kerajaan, yang dimulai karena adanya kekuasaan secara suku. , saman kemerdekaan, masayarakat biasa mulai ,meniru prilaku kerajaan dg berpoligami. Dan sebagian penganut agama kristen mulai terjadi pergeseran nilai tentang poligami.

Cat: Tulisan ini disampaikan sebagai resume kuliah hari ke -5 oleh penulis untuk Kuliah Kursus Gender dan Seksualitas V yang diadakan Gaya Nusantara dan HIVOS di Surabaya tgl 29 juni s/d 9 Juli 2010.

2 thoughts on “Gender dan Seksualitas

  1. Salut sekali dengan tulisan ini. Menyingkap secara historis, kultural, mitos, dan semiotik. Minta ijin untuk menjadikan tulisan ini sebagai salah satu referensi saya. Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s