Orientasi Dan Prilaku Seksual

biz_0025edit

Orientasi atau kecenderungan prilaku seks telah membentuk kelompok tertentu dan teridentifikasi dalam masyarakat. Ada yang diakui, lainnya jadi kelompok yang tersisih dalam pergaulan sosial masyarakat. Ada yang bergerak jauh menembus batas wilayah, Negara dan benua, ada juga yang muncul secara tiba-tiba berbentuk kerumunan di satu tempat dan satu waktu. kelompok orientasi seks bagaimanapun telah jadi penomena dalam masyarakat kita, bahkan bergerak lebih agresif dalam penyamaan semua orientasi tanpa dasar pandang, cultural, agama/ religius. Atas nama hak asazi manusia, ada desakan untuk pengakuan keberadaan mereka dan perlindungan hak-hak masyarakat orientasi seksual tertentu pada lembaga kenegaraan dan masyarakat umum. Di Indonesia sendiri ada beberapa organisasi kelompok lesbian, gay, biseksual, trankseksual, yang telah menyuarakan hal ini sejak lama. Gaya nusantara, Arus pelangi, dan lain sebagian dari organisasi berdasarkan orientasi seksual yang cukup terkenal gaungnya.

Orientasi seks secara umum dibagi jadi tiga kelompok besar: heteroseksual yaitu orientasi seks pada lain jenis kelamin, homoseksual, orientasi seks pada jenis kelamin yang sama. Biseksual, kecenderungan seks pada jenis kelamin yang sama dan pada saat yang bersamaan juga tertarik pada lain jenis kelamin. Pada umumnya sesorang tidak bisa di lihat orientasi seksualnya hanya pada penampilan luarnya saja. Orientasi seksual seseorang hanya bisa diketahui dengan komunikasi yang intens dan keterbukaan satu sama lain. Orientasi seksual tidak bisa ditentukan dengan ciri-ciri fisik seseorang saja, misalnya; tegap, atletis, macho, cakep, tampan, kemayu, gemulai, sissy atau manly. Semua itu tidak mencerminkan orientasi seksual, karena penapilan hanya merupakan identitas seseorang ketiga dia bergaul di tengah komunitas atau masyarakat.

Penilaian masyarakat yang bersumber dari tata nilai dan agama, telah menempatkan keragaman orientasi seksual pada titik yang salah, benar dan normal, abnormal. Nilai-nilai di masyarakat yang hanya menanggap heteroseksual sebagai sesuatu yang benar dan normal, telah membuat orang-orang yang mempunyai orientasi seks lainnya menjadi takut untuk terbuka pada masyarakat. Mereka takut terlihat sebagai pribadi yang menyimpang atau melanggar norma dalam masyarakat. Sehingga banyak pelaku homoseksual dan biseksual yang pada akhirnya mengidentifikasi diri dalam masyarakat sebagai seorang heteroseksual dengan berbagai alasan. Alasan-alasan seperti takut nama baik keluarga tercoreng, takut kehilangan pekerjaan, takut dijauhi teman, takut kehilangan kedudukan di masyarakat, atau factor-faktor lainnya, menyebabkan semakin kaburnya batas-batas orientasi seksual tersebut.

Pseudo homoseksual

Kenyataan lain dimasyarakat adalah seringnya terjadi perpindahan orientasi seksual seseorang karena sesuatu sebab di satu saat tertentu, hal ini lazim disebut dengan pseudo homoseksual. Misalnya seorang heteroseksual yang terpaksa memuaskan atau menyalurkan libido seksualnya dengan sesama jenis dengan berbagai alasan, apakah karena keterbatasan materi, waktu, kesempatan, keterpaksaan, lingkungan, gaya hidup dan lain sebagainya.

Kasus anak jalannan misalnya, banyak praktek homoseksual terjadi antara senior ke yunior karena ketidakadaan biaya untuk membayar wanita penghibur sehingga mereka menyalurkan kebutuhannya seksualnya pada yunior atau orang yang lebih lemah darinya. Di penjara juga begitu, kasus homoseksual terjadi karena keterbatasan didinding penjara, sehingga pemuasaan kebutuhan ragawinya disalurkan pada sesama jenis. ketika mereka keluar dari penjara mereka kembali keorientasi seksual asalnya. Tapi tak menutup kemungkinan jika pada lain waktu mereka kembali ke prilaku heteroseksualnya.

pseudo homoseksual kadang menjadi tahap awal peralihan orientasi seksual seseorang. Pada banyak kasus, pseudo homoseksual menjadi awal pengenalan seseorang pada prilaku homoseks, yang kemudian menjadi pilihan prilakunya.

Pada masa lalu orientasi seksual di percaya lebih banyak dibentuk karena factor lingkungan. Lingkunganlah yang akhirnya menentukan apakah seseorang akan menjadi homoseksual, heteroseksual atau biseksual, lewat pola pengasuhan, pola pendidikan keluarga dan masyarakat, pengalaman masa kecil dan lain sebagainya. Lingkungan dianggap sebagai satu-satunya factor yang mempengaruhi terjadinya keanekaragaman orientasi seksual.

Karena pada kenyataannya semua berasal pada satu orientasi seksual yaitu ibu dan ayahnya yang tentu saja heteroseksual.

Tapi menurut jurnal human genetics edisi pebruari 2008, menyimpulkan adanya pengaruh gen sebagai pemicu sifat homoseksual (gay). Setelah mempelajari penonaktifan kromosom x dengan proses metilasi. Kromosom tersebut terbungkus sejenis bola sehingga tidak dapat diturunkan pada beberapa gen. Menurut penelitinya Sven boclandt dari universitas California, los angeles, amerika serikat, kegagalan penurunan beberapa gen dari ibu ke anak tersebut membuat terjadinya beberapa variasi genetic seperti orientasi seksual yang berbeda-beda pada tiap anak. Tapi pada tahap selanjutnya orientasi seksual juga di pengaruhi oleh factor lingkungan.

Penelitian selanjutnya yang menguatkan bahwa orientasi seksual merupakan faktor bawaan sejak di dalam kandungan adalah berdasarkan penelitian Anthony boghaert dari brock university, ontorio kanada, hasil peneliatan Anthony menngungkapkan, ibu yang sudah melahirkan bayi laki-laki sebelumya memiliki antigen lelaki, yang dapat mempengaruhi bayinya secara genetik sejak dalam kandungan. Semakin banyak jumlah anak lelaki yang dilahirkan akan semakin besar jumlah antigen dalam kandungan si ibu. Jadi jumlah saudara laki-laki yang di lahirkan sebelumnya mempengaruhi pada sifat-sifat orientasi seksual lelaki yang lahir berikutnya.

Hal ini menjadi gambaran jelas bahwa orientasi seksual adalah factor bawaan atau alamiah, dan lingkungan hanya berfungsi menguatkan factor yang sudah ada dalam diri seseorang tersebut.

Menurut tahap perkembangan orientasi seksual seseorang terbagi dalam empat tahap;

Pertama, pengalaman seks, merupakan rentetan pengalaman seseorang sejak dilahirkan yang menjadi relevansinya dalam menentukan orientasi seksnya kedepan. Pengalaman-pengalaman ini akan terekam dalam memory seseorang dan akan memebentuk prilakunya dalam kehidupan dimasa berikutnya.

Kedua, Kebingunggan, adalah tahap ketika sesorang menemukan orientasi seksualnya lewat pengalaman kemudian berusaha mencocokan dengan sistim nilai yang ada dalam masyarakat. Sering kali menemukan ketidaksesuaian yang mendatang kebinggungan bagi mereka untuk menentukan apakah orientasi seksualnya sudah benar atau belum. Atau pengalaman yang mereka alami tidak sesuai dengan kebenaran yang ada dalam masyarakat.

Ketiga, membuat gambaran tentang diri. Pada tahap ini, mereka telah mengidentifikasi diri dengan seksualitas yang mereka sukai. Mereka mulai menentukan apa yang mereka suka dan tidak suka dari orientasi seksual yang mereka ingini. Mulai menentukan peran apa yang bisa memuaskan kebutuhannya seksnya. Dan pada tahap ini, masing-masing individu telah mempunyai idola, yang menjadi pujaannya sehubungan dengan orientasi seksual masing-masing.

Keempat, tahap komitmen. Merupakan tahapan dimana sesorang telah mantap menentukan orientasi seksualnya. Tahap ini biasanya terjadi jika telah memiliki pasangan, dalam orientasi seksualnya.

Tahap-tahap perkembangan seseorang sampai menemukan orientasi seksualnya dengan matang ini ikut menentukan keterbukaan mereka pada keluarga dan masyarakat. Pada tahap-tahap awal biasanya cenderung berlansung sangat rahasia. Pada tahap ini rasa takut menyalahi tata nilai membuat mereka menjadi sangat tertutup. Dan baru pada tahap kematangan mereka cenderung sedikit terbuka. Pada orientasi seksual yang dianggap menyimpang dalam masyarakat keterbukaan sesorang akan lebih sulit didapat. Pada banyak kasus keterbukan hanya terjadi di komunitasnya saja. Dan dalam masyarakat mereka cenderung berkamuflase menutupi orientasi seksual yang sebenarnya.

Secara garis besar homoseksual bisa dibedakan menjadi, lesbian, gay, biseksual dan transeksual. Atau disingkat LGBT

Lesbian merupakan orientasi seks wanita pada sesame wanita. Orientasi ini menempatkan wanita pada satu titik yang memiliki kepuasan seksual hanya jika di dilayani oleh wanita lainnya. Gay, lelaki yang mengidentifikasi diri sebagai lelaki dalam keseharian dan menyukai lelaki. Biseksual; lelaki atau perempuan yang menyukai lain jenis atau sejenis dalam berhubungan seks. Transeksual, merupakan lelaki atau perempuan yang mengidentifikasi diri dengan jenis kelamin yang berlainnan dengan dirinya tetapi dalam prilaku seksual mereka menyukai yang sejenis.

Orietasi seks dalam kaitan dengan penyakit menular seksual

Semua orientasi seks mempunyai resiko yang sama tertular penyakit infeksi menular seksual, tampa pandang bulu, Baik heteroseksual, homoseksual ataupun biseksual . Tergantung mereka melakukan hubungan seks dengan aman atau tidak.

sebagian prilaku hubungan seksual mempunyai resiko yang lebih besar untuk menularkan penyakit insfeksi menular seksual dibanding dengan yang lainnya. Tergantung bagian alat vital mana saja yang terlibat dan kondisi lapisan yang bersentuhan secara langsung. Sodomi dan petting, akan lebih beresiko dibandingkan dengan ciuman. Cunninglingus, akan lebih gampang menulari penyakit tertentu dibanding rabaan dan lain sebagainya. Dan biasanya homoseksual dan biseksual cenderung lebih variatif dalam prilaku seksualnya.

Budaya masyarakat telah berperan besar dalam pengukuhan bahwa yang paling benar adalah heteroseksual dan di luar itu diangap menyimpang. Hal ini menyebabkan banyak orang-orang yang mempunyai orientasi seks yang di luar heteroseksual berkamuflase untuk tetap di akui dan bersinergi dalam masyarakat.

Homoseksual, baik lesbian, gay, biseksual dan transeksual ada sejak lama dalam masyarakat mulai jaman kejayaan Persia di Mesopotamia puluhan abad sebelum masehi sampai abad ke 21. Mereka berkamuflase dalam berbagai gaya di banyak budaya, baik di dunia maupun di budaya-budaya nusantara. Di Indonesia sendiri, banyak budaya yang telah mencontohkan adanya peneriman positif dalam tarik menarik hubungan antara heteroseksual dan non heteroseksual.

Budaya suku bajo di sulawesi selatan misalnya, bissu disana diangap sebagai tokoh religius, yang bisa menentukan kemakmuran masyarakat. Bissu dianggap sebagai perantara tuhan yang bisa menentukan masa depan. Mampu menentukan kapan musim bercocok tanam dan hal lainnya bisa dilakukan terhindar dari kemudharatan.

Pengakuan masyarakat terhadap bissu adalah bentuk lain pengakuan masyarakat terhadap orientasi seks yang berbeda, karena bissu merupakan kelompok transeksual. Yang secara budaya menempati posisi terhormat. Dan kebanyakan bissu di bajo hidup bersama lelaki dari sukunya. Dan tidak jarang jadi istri kedua “suaminya”.

Budaya warok dan gendhak, di jawa timur juga merupakan bentuk apresiasi positif dari keragaman orientasi seksual. Banyak keluarga yang bersedia menyerahkan putra lelaki nya untuk dipelihara seorang warok. Dengan alasan kehormatan tradisonal para orang tua menyerahkan anaknya dengan kebanggaan. Dan sampai tahap ini homoseksual tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang salah.

Di sumatera barat juga dapat ditemui, bagaimana orientasi seks selain heteroseksual dapat bersinergi dalam masyarakat. Budaya randai misalnya. Dalam Randai tradisional, semua pemainnya adalah pria. Dan mereka memerankan karakter-karakter wanita terhormat dalam budaya masyarakat minangkabau seperti Bundo kanduang, Puti bungsu, Puti andam dewi, dan lain sebagainya. Peran ini biasanya bersikap baku, hampir di setiap pementasan sepanjang karir keseniannya. hal ini tak jarang terbawa dalam kehidupan nyata. Banyak pemain peran-peran wanita tadi yang akhirnya memilih tidak menikah dan hidupserumah lelaki Tapi masyarakat yang sangat religius pun di Sumatera barat telah membuktikan bahwa, orientasi seksual yang berbeda dapat di terima masyarakat dengan bijaksana.

Pada tahap ini budaya-budaya lokal indonesia membuktikan kearifan budaya timur telah mengenal dan menempatkan orientasi seksual pada tataran yang sama baik heteroseksual, homoseksual ataupun biseksual. Perbedaan orientasi seksual telah bersinergi dalam masyarakat dengan cara yang positif. Kearifan yang perlu diteladani bagi generasi kini dan nanti.

7 thoughts on “Orientasi Dan Prilaku Seksual

  1. rafi says:

    rafi, 24, male, gay timur jakarta. call em at 085221324282. i’ll be waittin’ 4 ur coming.

  2. sire says:

    “coba blog nie dilengkapin lage info tentang macam2 orientasi seksual secara keseluruhan….’

  3. Tahap pertama pengalaman seksual..hmm hmenarik juga mas. Perkiran saya ini jadi titik kritis terbentuknya orientasi seksual. Karena sering terjadi “pelecehan seksual” yang tidak disadari oleh anak-anak atau remaja. Bisa jadi dengan iming-iming makanan atau uang misalnya. Coba anak smp mana yg gak mau kalo dibeliin hp android asal mau di “gituin”. Mereka kan belum bernalar ttng hak dan efek perilaku tersebut. Jadinya ya… malah kecanduan hal tersebut dan terbentuklah identitas atau orientasi gay dalam diri mereka. Yg prihatin banyak juga lho gay yang sengaja “memangsa” brondong2 anak smp sma yg lebih lemah dan bisa mereka kendalikan. Akhirnya saat dewasa kmungkinan jadi gay juga makin besar…

    • posrainbow says:

      Sangat setuju mas, Lingkungan dan pengalaman ( peristiwa yang dialami) juga turut membentuk orientasi seksual seseorang. Faktor genetik tetap menjadi penentu utama atas orientasi seksual. terimakasih yah, sudah mampir dan komentar mu

  4. DIDIT says:

    Menarik banget membaca artikel blog ini, hampir semua yang dipaparkan terjadi sama diri saya, terlebih ada yang banyak saya ingin diskusikan dengan penulis. alangkah baiknya via email yang sy cantumkan tanpa dipublish. mohon responnya saya ingin berdiskusi dengan anda.. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s