Kanker Anus: Informasi dan pengobatan

Kanker anus adalah penyakit yang berbahaya (kanker) dalam bentuk sel tisu dalam anus.

Anus adalah bagian akhir dari usus besar, di bawah bagian rektum yang dilalui kotoran (limbah padat) untuk keluar dari tubuh. Anus yang dibentuk adalah sebagian dari luar lapisan kulit dari tubuh dan sebagian dari usus. Dua-ring seperti otot, disebut otot sphincter, berfungsi untuk membuka dan menutup anus, anus membuka agar kotoran keluar dari tubuh. anal kanal, bagian pembukaan antara dubur dan anal panjangnya sekitar 1 ½ inci.

Kulit luar sekitar dubur yang disebut daerah perianal. Tumor di daerah ini adalah Tumor kulit, bukan kanker anus.

Terinfeksi dengan papillomavirus manusia (HPV) dapat mempengaruhi resiko pengembangan kanker anus.

Faktor risiko meliputi:

* Usia lebih dari 50 tahun.
* Terinfeksi dengan human papillomavirus (HPV).
* Memiliki banyak pasangan seks.
* Melakukan hubungan anal seks.
* Anus sering mengalami kemerahan, pembengkakan dan kesakitan.
* Menderita anus fistula (bukaan yang tidak normal).
* Merokok.

Kemungkinan tanda kanker anus termasuk pendarahan dari anus atau dubur atau benjolan di dekat anus.

Ini dan gejala lainnya dapat disebabkan oleh kanker anus. Kondisi lain dapat menyebabkan gejala yang sama. Harus berkonsultasi ke Dokter jika ada masalah yang berikut ini:
* Pendarahan dari anus atau dubur.
* Sakit atau tekanan di daerah sekitar dubur.
* Gatal-gatal atau banyak keluar lendir dari anus.
* Benjolan di dekat anus.
* Perubahan kebiasaan BAB.

Pengujian untuk memeriksa dubur digunakan untuk mendeteksi (menemukan) dan diagnosa kanker anus.

Berikut tes dan prosedur yang dapat digunakan:
Pemeriksaan fisik dan sejarah: Sebuah pengujian pada tubuh untuk memeriksa tanda-tanda kesehatan umum, termasuk untuk memeriksa tanda-tanda penyakit, seperti gumpalan atau hal lain yang tampaknya tidak biasa. Sebuah sejarah kesehatan pasien dan kebiasaan terakhir penyakit dan juga perawatannya.

  • Pemeriksaan dubur digital (DRE): Sebuah penelitian terhadap anus dan rektum. Dokter atau perawat memasukkan pelumas, bersarung tangan dan jari dimasukkan ke dalam dubur untuk merasakan adanya gumpalan atau hal lain yang tampaknya tidak biasa.
  • Anoscopy: Sebuah alat pemeriksaan anus dan yang lebih rendah dari rectum, tabung yang diterangi disebut anoscope.
  • Proctoscopy: Sebuah alat pemeriksaan yang pendek untuk memeriksa rectum, tabung yang diterangi disebut proctoscope.
  • Endo-anal atau endorectal ultrasound: Sebuah prosedur yang di mana menggunakan ultrasound transducer (penyelidikan) dimasukkan ke dalam anus atau dubur dan digunakan untuk memancarkan energi gelombang suara tinggi (ultrasound) pada organ internal dan membuat Gema. Gema yang berupa gambar tisu tubuh disebut sonogram.
  • Biopsi: Penyingkiran sel atau tisu sehingga mereka dapat dilihat di bawah mikroskop oleh patolog untuk memeriksa tanda-tanda kanker. Jika yang dilihat adalah daerah yang tidak normal selama anoscopy, yang pernah dilakukan pada waktu itu.

Informasi Umum Tentang kanker

kanker anus adalah penyakit yang berbahaya (kanker) dalam bentuk sel tisu dalam anus.

Anus adalah bagian akhir dari usus besar, di bawah bagian rektum yang dilalui kotoran (limbah padat) untuk keluar dari tubuh. Anus yang dibentuk adalah sebagian dari luar lapisan kulit dari tubuh dan sebagian dari usus. Dua-ring seperti otot, disebut otot sphincter, berfungsi untuk membuka dan menutup anus, anus membuka agar kotoran keluar dari tubuh. anal kanal, bagian pembukaan antara dubur dan anal panjangnya sekitar 1 ½ inci.

Kulit luar sekitar dubur yang disebut daerah perianal. Tumor di daerah ini adalah Tumor kulit, bukan kanker anus.

Terinfeksi dengan papillomavirus manusia (HPV) dapat mempengaruhi resiko pengembangan kanker anus.

Faktor risiko meliputi:

* Usia lebih dari 50 tahun.
* Terinfeksi dengan human papillomavirus (HPV).
* Memiliki banyak pasangan seks.
* Melakukan hubungan anal seks.
* Anus sering mengalami kemerahan, pembengkakan dan kesakitan.
* Menderita anus fistula (bukaan yang tidak normal).
* Merokok.

Kemungkinan tanda kanker anus termasuk pendarahan dari anus atau dubur atau benjolan di dekat anus.

Ini dan gejala lainnya dapat disebabkan oleh kanker anus. Kondisi lain dapat menyebabkan gejala yang sama. Harus berkonsultasi ke Dokter jika ada masalah yang berikut ini:

* Pendarahan dari anus atau dubur.
* Sakit atau tekanan di daerah sekitar dubur.
* Gatal-gatal atau banyak keluar lendir dari anus.
* Benjolan di dekat anus.
* Perubahan kebiasaan BAB.

Pengujian untuk memeriksa dubur digunakan untuk mendeteksi (menemukan) dan diagnosa kanker anus.

Masa (kesempatan pemulihan) tergantung pada hal berikut:

* Ukuran Tumor.
* Dibagian mana Tumor berada didalam anus.
* Apakah kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening.

Pengobatan tergantung dari pilihan berikut:

*TTahapan dari kanker.
* Dimana Tumor tersebut berada didalam anus.
* Apakah pasien telah menderita penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV).
* Apakah kanker tetap ada setelah perawatan atau kambuh.

Setelah kanker anus didiagnosa, tes yang dilakukan untuk mengetahui apakah sel kanker sudah menyebar didalam anus atau ke bagian tubuh yang lain.

Proses yang digunakan untuk mengetahui apakah kanker telah menyebar didalam anus atau ke bagian tubuh yang lain disebut staging. Informasi yang dikumpulkan dari proses pementasan menentukan tahap penyakit. Adalah penting untuk mengetahui tahap untuk rencana perawatan. Berikut tes dapat digunakan dalam proses pementasan:

* CT scan : Sebuah prosedur yang membuat serangkaian gambar detail dari bagian dalam tubuh, diambil dari berbagai sudut pandang. Gambar yang dibuat oleh komputer yang terhubung ke sebuah mesin x-ray. Dye mungkin disuntikkan ke dalam pembuluh darah atau ditelan untuk membantu organ atau tisu muncul lebih jelas. Prosedur ini juga disebut Computed Tomography, komputerisasi tomografi, atau komputerisasi tomografi aksial. Untuk kanker anus, yang di CT scan dari panggul dan perut dapat dilakukan.
* X-ray dada : Sebuah x-ray ke organ dan tulang di dalam dada. Sebuah x-ray adalah jenis energi sinar yang dapat tembus kedalam tubuh dan diabadikan kebentuk film, membuat gambar dari bagian dalam tubuh.
* Endo-anal atau endorectal ultrasound: Sebuah prosedur yang di mana menggunakan ultrasound transducer (penyelidikan) dimasukkan ke dalam anus atau dubur dan digunakan untuk memancarkan energi gelombang suara tinggi (ultrasound) pada organ internal dan membuat Gema. Gema yang berupa gambar tisu tubuh disebut sonogram.

Tahapan-tahapan yang digunakan untuk kanker anus:

Tahap 0 (kanker bisul di Situ)

Pada tahap 0, kanker hanya ditemukan di lapisan terjauh dari anus. Tahap 0 kanker juga disebut kanker bisul di situ.

Tahap I

Pada tahap I, Tumor adalah 2 sentimeter atau lebih kecil.

Tahap II

Pada tahap II, Tumor adalah lebih besar daripada 2 sentimeter.

Tahap IIIA

Pada tahap IIIA, Tumor dapat berukuran apapun dan telah menyebar ke salah satu:

* Kelenjar getah bening di dekat dubur; atau
* dekat organ, seperti vagina, saluran kencing, dan kandung kemih.

Tahap IIIB

Pada tahap IIIB, Tumor seukuran apapun dan telah tersebar:

* ke tempat-tempat organ dan untuk Kelenjar getah bening di dekat dubur; atau
* untuk Kelenjar getah bening di satu sisi panggul dan / atau kunci paha, dan mungkin telah menyebar ke organ di dekatnya; atau
* untuk Kelenjar getah bening di dekat dubur dan di kunci paha, dan / atau ke Kelenjar getah bening pada kedua sisi panggul dan / atau kunci paha, dan mungkin telah menyebar ke organ didekatnya.

Tahap IV

Pada tahap IV, yang mungkin Tumor seukuran apapun dan kanker mungkin telah menyebar ke Kelenjar getah bening atau organ dekat dan jauh telah menyebar ke bagian tubuh.

Kanker anus kambuhan

Kanker anus kambuhan adalah kanker yang telah recurred (kembali) setelah dirawat. Kanker dapat datang kembali didalam anus atau di bagian tubuh yang lain.

Sekilas tentang perawatan pilihan

Ada berbagai jenis pengobatan untuk pasien kanker anus.

Berbagai jenis perawatan yang tersedia untuk pasien kanker anus. Beberapa perawatan yang standar (yang saat ini digunakan), dan beberapa lagi yang sedang diteliti dalam uji klinis. Sebelum perawatan dimulai, pasien mungkin berpikir tentang mengambil bagian dalam percobaan klinis. Percobaan perawatan klinis adalah penelitian studi dimaksudkan untuk membantu meningkatkan perawatan saat ini atau memperoleh informasi tentang perawatan baru untuk pasien penderita kanker. Ketika uji klinis menunjukkan bahwa perawatan yang baru lebih baik dari perawatan standar, maka pengobatan baru tersebut dapat menjadi standar pengobatan.

Uji klinis ada di banyak negara bagian. Informasi tentang uji klinis tersedia di Situs NCI . Memilih perawatan kanker yang tepat idealnya melibatkan keputusan dari pasien, keluarga, dan tim kesehatan.

Tiga jenis perawatan standar yang digunakan:

Terapi radiasi

Terapi radiasi adalah perawatan kanker yang menggunakan energi tinggi sinar-x atau jenis lain radiasi untuk membunuh sel kanker. Ada dua jenis terapi radiasi. Eksternal terapi radiasi yang menggunakan mesin di luar tubuh untuk mengirim radiasi terhadap kanker. Internal terapi radiasi menggunakan zat radioaktif mati dalam jarum, bibit, kawat, atau catheters yang ditempatkan secara langsung ke dalam atau dekat dengan kanker. Cara terapi radiasi diberikan tergantung pada jenis dan tahap kanker yang sedang dirawat.

Kemoterapi

Kemoterapi adalah perawatan kanker yang menggunakan obat untuk menghentikan pertumbuhan sel kanker, baik dengan membunuh sel atau dengan menghentikan pembelahan sel. Bila kemoterapi diambil melalui mulut atau menyuntikkan ke dalam pembuluh darah atau otot, obat memasuki aliran darah dan dapat mencapai sel kanker di seluruh tubuh (sistemik kemoterapi). Bila kemoterapi ditempatkan langsung ke dalam tulang belakang, organ, atau rongga badan seperti bagian perut, obat terutama mempengaruhi sel kanker di tempat-tempat (daerah kemoterapi). Cara kemoterapi diberikan tergantung pada jenis dan tahap kanker yang sedang dirawat.

Bedah

* Lokal resection: Sebuah prosedur bedah Tumor yang diangkat dari anus bersama dengan beberapa jaringan yang sehat di sekelilingnya. Lokal resection dapat digunakan jika kanker adalah kecil dan belum tersebar. Prosedur ini mungkin dapat menyimpan otot sphincter sehingga pasien masih dapat mengontrol pergerakan usus. Tumor yang berkembang di bagian bawah anus sering bisa dihapus dengan resection lokal.
* Abdominoperineal resection: Sebuah prosedur bedah anus, pada rektum, dan bagian dari usus sigmoid dibuang melalui torehan yang dibuat di bagian perut. Dokter memotong ujung usus dan menyambungkannya dibagian samping perut, yang disebut stoma, dilakukan di permukaan tubuh bagian perut untuk memudahkan kotoran keluar dan ditampung dalam sebuah kantong di luar tubuh. Hal ini disebut Kolostomi. Kelenjar getah bening yang mengandung kanker juga dapat dihapus selama operasi ini.

Menderita Human Immunodeficiency Virus atau HIV dapat mempengaruhi pengobatan kanker anus.

Terapi kanker selanjutnya dapat merusak atau melemahkan sistem kekebalan tubuh pasien yang memiliki human immunodeficiency virus (HIV). Untuk alasan ini, pasien yang menderita kanker anus dan HIV biasanya dirawat dengan menurunkan dosis obat anticancer dan radiasi daripada pasien yang tidak terjangkit HIV.

Jenis perawatan lain sedang diuji dalam percobaan klinis, termasuk yang berikut:

Radiosensitizers

Radiosensitizers adalah obat yang membuat sel Tumor lebih sensitif terhadap terapi radiasi. Menggabungkan dengan terapi radiasi radiosensitizers dapat membunuh lebih banyak sel Tumor.

Ringkasan ini merujuk pada perawatan spesifik di bawah studi percobaan klinis, tetapi mungkin tidak menyebutkan setiap pegujian pengobatan baru. Informasi tentang uji klinis berlangsung tersedia di situs NCI.

Pilihan perawatan oleh tahap

Tahap 0 Kanker Anus (kanker bisul di Situ)

Perawatan dari tahap 0 anal anus biasanya adalah lokal resection.

Kanker anus tahap I
Perawatan kanker anus tahap I dapat termasuk :

* Resection lokal.
* Terapi radiasi sinar eksternal dengan atau tanpa kemoterapi. Jika kanker tetap ada setelah perawatan, tambahan kemoterapi dan terapi radiasi dapat diberikan untuk menghindari dilakukannya Kolostomi.
* Abdominoperineal resection, jika kanker tetap ada atau datang kembali setelah perawatan dengan terapi radiasi dan kemoterapi.
* Internal terapi radiasi untuk kanker yang tetap ada setelah perawatan eksternal dengan radiasi sinar-terapi.

Pasien yang telah melakukan perawatan dan berhasil menyisakan otot sphincter mungkin menerima kajian tindak lanjut setiap 3 bulan untuk 2 tahun pertama, termasuk memeriksa rektum dengan endoscopy dan biopsi, sesuai kebutuhan.

Kanker anus tahap II
Perawatan kanker anus tahap II dapat termasuk :

* Resection lokal.
* Terapi radiasi sinar eksternal dengan atau tanpa kemoterapi. Jika kanker tetap ada setelah perawatan, tambahan kemoterapi dan terapi radiasi dapat diberikan untuk menghindari dilakukannya Kolostomi.
* Terapi radiasi internal.
* Abdominoperineal resection, jika kanker tetap ada atau datang kembali setelah perawatan dengan terapi radiasi dan kemoterapi.
* Pengobatan baru uji coba klinis sebagai pilihan.

Pasien yang telah melakukan perawatan dan berhasil menyisakan otot sphincter mungkin menerima kajian tindak lanjut setiap 3 bulan untuk 2 tahun pertama, termasuk memeriksa rektum dengan endoscopy dan biopsi, sesuai kebutuhan.

Kanker anus tahap IIIA
Perawatan kanker anus tahap IIIA dapat termasuk:

* Terapi radiasi sinar eksternal dengan atau tanpa kemoterapi. Jika kanker tetap ada setelah perawatan, tambahan kemoterapi dan terapi radiasi dapat diberikan untuk menghindari dilakukannya Kolostomi.
* Radiasi sinar internal
* Abdominoperineal resection, jika kanker tetap ada atau datang kembali setelah perawatan dengan terapi radiasi dan kemoterapi.
* Pengobatan baru uji coba klinis sebagai pilihan.

Kanker anus tahap IIIB
Perawatan kanker anus tahap IIIB dapat termasuk:

* Terapi radiasi sinar eksternal dengan kemoterapi.
* Resection lokal atau abdominoperineal resection, jika kanker tetap ada atau datang kembali setelah perawatan dengan kemoterapi dan terapi radiasi. Kelenjar getah bening juga dapat dihapus.
* Pengobatan baru uji coba klinis sebagai pilihan.

Kanker anus tahap IV

Perawatan kanker anus tahap IV dapat termasuk:

* Bedah sebagai terapi palliative untuk meringankan gejala dan meningkatkan kualitas hidup.
* Terapi radiasi sebagai terapi palliative .
* Kemoterapi dengan terapi radiasi sebagai terapi palliative.
* Pengobatan baru uji coba klinis sebagai pilihan.

Pilihan perawatan untuk kanker anus kambuhan
Perawatan untuk kanker anus kambuhan dapat termasuk :

* Terapi radiasi dan kemoterapi, untuk kambuh setelah operasi.
* Bedah, untuk kambuh setelah terapi radiasi dan / atau kemoterapi.
* Sebuah uji coba klinis terapi radiasi dengan kemoterapi dan / atau radiosensitizers.

Ringkasan ini merujuk pada perawatan spesifik di bawah studi percobaan klinis, tetapi mungkin tidak menyebutkan setiap pegujian pengobatan baru. Informasi tentang uji klinis berlangsung tersedia di situs NCI.

* Ukuran Tumor.
* Dibagian mana Tumor berada didalam anus.
* Apakah kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening.

Pengobatan tergantung dari pilihan berikut:

* TTahapan dari kanker.
* Dimana Tumor tersebut berada didalam anus.
* Apakah pasien telah menderita penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV).
* Apakah kanker tetap ada setelah perawatan atau kambuh.

Tahapan kanker anus

Setelah kanker anus didiagnosa, tes yang dilakukan untuk mengetahui apakah sel kanker sudah menyebar didalam anus atau ke bagian tubuh yang lain.

Proses yang digunakan untuk mengetahui apakah kanker telah menyebar didalam anus atau ke bagian tubuh yang lain disebut staging. Informasi yang dikumpulkan dari proses pementasan menentukan tahap penyakit. Adalah penting untuk mengetahui tahap untuk rencana perawatan. Berikut tes dapat digunakan dalam proses pementasan:

* CT scan : Sebuah prosedur yang membuat serangkaian gambar detail dari bagian dalam tubuh, diambil dari berbagai sudut pandang. Gambar yang dibuat oleh komputer yang terhubung ke sebuah mesin x-ray. Dye mungkin disuntikkan ke dalam pembuluh darah atau ditelan untuk membantu organ atau tisu muncul lebih jelas. Prosedur ini juga disebut Computed Tomography, komputerisasi tomografi, atau komputerisasi tomografi aksial. Untuk kanker anus, yang di CT scan dari panggul dan perut dapat dilakukan.
* X-ray dada : Sebuah x-ray ke organ dan tulang di dalam dada. Sebuah x-ray adalah jenis energi sinar yang dapat tembus kedalam tubuh dan diabadikan kebentuk film, membuat gambar dari bagian dalam tubuh.
* Endo-anal atau endorectal ultrasound: Sebuah prosedur yang di mana menggunakan ultrasound transducer (penyelidikan) dimasukkan ke dalam anus atau dubur dan digunakan untuk memancarkan energi gelombang suara tinggi (ultrasound) pada organ internal dan membuat Gema. Gema yang berupa gambar tisu tubuh disebut sonogram.

Tahapan-tahapan yang digunakan untuk kanker anus:

Tahap 0 (kanker bisul di Situ)
Pada tahap 0, kanker hanya ditemukan di lapisan terjauh dari anus. Tahap 0 kanker juga disebut kanker bisul di situ.

Tahap I
Pada tahap I, Tumor adalah 2 sentimeter atau lebih kecil.

Tahap II

Pada tahap II, Tumor adalah lebih besar daripada 2 sentimeter.

Tahap IIIA

Pada tahap IIIA, Tumor dapat berukuran apapun dan telah menyebar ke salah satu:
* Kelenjar getah bening di dekat dubur; atau
* dekat organ, seperti vagina, saluran kencing, dan kandung kemih.

Tahap IIIB
Pada tahap IIIB, Tumor seukuran apapun dan telah tersebar:
* ke tempat-tempat organ dan untuk Kelenjar getah bening di dekat dubur; atau
* untuk Kelenjar getah bening di satu sisi panggul dan / atau kunci paha, dan mungkin telah menyebar ke organ di dekatnya; atau
* untuk Kelenjar getah bening di dekat dubur dan di kunci paha, dan / atau ke Kelenjar getah bening pada kedua sisi panggul dan / atau kunci paha, dan mungkin telah menyebar ke organ didekatnya.

Tahap IV
Pada tahap IV, yang mungkin Tumor seukuran apapun dan kanker mungkin telah menyebar ke Kelenjar getah bening atau organ dekat dan jauh telah menyebar ke bagian tubuh.

Kanker anus kambuhan

Kanker anus kambuhan adalah kanker yang telah recurred (kembali) setelah dirawat. Kanker dapat datang kembali didalam anus atau di bagian tubuh yang lain.

Perawatan untuk kanker anus kambuhan dapat termasuk :

* online prescriptions Terapi radiasi dan kemoterapi, untuk kambuh setelah operasi.
* Bedah, untuk kambuh setelah terapi radiasi dan / atau kemoterapi.
* Sebuah uji coba klinis terapi radiasi dengan kemoterapi dan / atau radiosensitizers.

Ringkasan ini merujuk pada perawatan spesifik di bawah studi percobaan klinis, tetapi mungkin tidak menyebutkan setiap pegujian pengobatan baru. Informasi tentang uji klinis berlangsung tersedia di situs NCI.

disadur dari  http://www.ahliwasir.com

Asosiasi Psikiater Amerika menyurati Asosiasi Psikiater Indonesia terkait LGBT

Renée Binder M.D. Presiden Asosiasi Psikiater Amerika

Pada tanggal 9 Maret 2016, Presiden Asosiasi Psikiater Amerika –American Psychiatric Association (APA), Renée Binder, M.D, dan Direktur Medis dan CEO APA, Saul M. Levin, M.D., M.P.A. menandatangani surat yang mereka layangkan kepada Asosiasi Psikiater Indonesia (IPA) untuk mempertimbangkan kembali keputusan mereka terkait homoseksualitas. IPA belum lama ini menklasifikasikan homoseksualitas sebagai gangguan kejiwaan, sebuah label yang salah yang sebenarnya sudah dibantah oleh banyak bukti-bukti penelitian ilmiah.

Tidak ada bukti ilmiah yang mengatakan orientasi seksual (heteroseksual, homoseksual dan lainya) sebagai pilihan.

Berdasarkan bukti ilmiah yang terakhir, memang menunjukkan bahwa orientasi seksual,  ekspresi gender dan identitas gender terjadi secara alami, dan tidak mempunyai ancaman terhadap masyarakat di mana orientasi seksual, ekpresi dan identitas gender tersebut diterima sebagai hal yang normal yang merupakan variasi seksualitas manusia.

Ada pendapat yang kuat yang menyatakan bahwa ada komponen biologis yang kuat terkait orientasi seksual yang mana ini bisa dipengaruhi oleh interaksi gen, hormon dan faktor lingkungan. Jadi intinya, tidak ada bukti-bukti ilmiah yang mengatakan bahwa orientasi seksual baik itu heteroseksual, homoseksual dan lainnya sebagai sebuah pilihan.

Usaha untuk mengubah orientasi seksual melalui “Terapi Konversi” bisa membahayakan. Resiko yang ditimbulkan dari terapi tersebut diantaranya, depresi, keinginan bunuh diri, kecemasan, mengurung diri dari masyarakat dan berkurangnya keinginan untuk berhubungan intim. Karena alasan ini, APA dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) tidak mengategorikan LGBT sebagai sebuah gangguan.

Setelah meninjau kembali bukti-bukti ilmiah, pada tahun 1973 APA memutuskan bahwa homoseksualitas bukan gangguan kejiwaan dan menghilangkannya dari DSM. Sejak saat itu APA sudah menyatakan bahwa tidak ada basis rasional, ilmiah dan lain sebagainya untuk mendrikriminasi atau menghukum LGBT. APA juga menyatakan bahwa konversi dan terapi reparatif hanya akan berujung pada sebuah tindakan perawatan paksa dan mempunyai potensi kekerasan terhadap individu LGBT.

Dalam surat yang ditulis Dr. Binder dan Saul M. Levin tersebut  berisi daftar sejumlah penelitian yang mendukung dan menegaskan pernyataan APA terkait isu-isu diatas. Asosiasi Psikiater Dunia  –The World Psychiatric Association (WPA) juga mengeluarkan pernyataan serupa yang menyatakan bahwa mereka menegaskan kembali bahwa tidak ada bukti bahwa orientasi seksual adalah pilihan dan bisa diubah. Berdasarkan fakta ini, serta banyaknya bukti ilmiah yang mendukung, APA dengan penuh hormat berharap bahwa anggota-anggota IPA akan menimbang kembali keputusan mereka.

Sebelumnya pada tanggal 2 Maret 2016, British Psychological Society (BPS) juga melakukan hal serupa. Mereka menyatakan bahwa keputusan IPA yang mengategorikan Homoskesualitas sebagai gangguan jiwa adalah salah.

Baca juga : British Psychological Society mengecam Asosiasi Psikiater Indonesia yang menyatakan LGBT sebagai penyakit jiwa

Sebenarnya juga sudah jelas bahwa dalam  Buku Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) III yang diterbitkan Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 1993, menyatakan bahwa  Homoseksual (Gay dan Lesbian) dan Biseksual TIDAK TERMASUK GANGGUAN JIWA.

Baca juga : Dr. Fidiansyah diminta meminta maaf atas pernyataannya yang mengatakan homoseksualitas adalah gangguan jiwa

Berikut surat resmi APA

apa 1

apa 2

apa 3

 

Atau bisa diunduh di sini : APA-denounces-IPA-LGBT-classification

Terjemahan dalam Bahasa Indonesia

8 Maret 2016
Dr Tun Kurniasih Bastaman
Asosiasi Psikiatri Indonesia
Jl Prof Latumenten 1
Jelambar, Grogol Petamburan
JAKARTA 11460
Via info@pdskji.org dan tunbastaman@yahoo.com

Untuk Dr Tun Kurniasih Bastaman:
Kami menulis atas nama American Psychiatric Association untuk mengungkapkan keprihatinan kami atas pernyataan Asosiasi Psikiatri Indonesia baru baru ini yang mengklasifikasikan homoseksualitas sebagai gangguan mental serta pernyataan bahwa individu tersebut dapat disembuhkan dengan “perawatan yang tepat.” Berita menyampaikan bahwa IPA (Indonesian Psychiatric Association – Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia) mengatakan: “Orang-orang dengan homoseksualitas dan biseksualitas dapat dikategorikan sebagai orang-orang dengan masalah mental, “dan bahwa orang-orang tersebut menderita “masalah fisik, mental dan sosial, masalah pertumbuhan dan perkembangan, dan / atau masalah kualitas hidup, yang memicu adanya risiko pengalaman gangguan mental”. Kami juga memahami bahwa Anda telah membuat klaim serupa tentang individu transgender

Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan kembali posisi Anda, karena penelitian ilmiah yang terbaru dan terbaik menunjukkan bahwa orientasi seksual dan ekspresi gender yang berbeda terjadi secara alami dan belum terbukti menimbulkan kerugian bagi masyarakat di mana mereka diterima sebagai varian normal seksualitas manusia. Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa upaya untuk mengubah orientasi individu – yang disebut “terapi konversi” atau “terapi reparatif” – bisa berbahaya, dan terkait dengan depresi, bunuh diri, kecemasan, isolasi sosial dan penurunan kapasitas keintiman.

Untuk alasan tersebut, APA Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) tidak mengklarifikasi kan individu lesbian, gay, biseksual atau transgender terganggu secara intrinsik.

Kami dengan penuh hormat menunjuk bahwa individu dalam PDSKJI yang menyebabkan perubahan dalam klasifikasi telah salah mengerti pentingnya penemuan ilmiah terkini, yang menunjukkan bahwa banyak faktor, termasuk baik biologis ataupun lingkungan, memainkan peran dalam membentuk orientasi seksual dan identitas gender. Secara singkat, orientasi seseorang bukanlah sebuah pilihan.

Ada bukti yang kuat bahwa genetiik berperan dalam menentukan seksualitas seseorang. Mustanksi, dkk, menulis dalam Annual Review of Sex Research : “Riset genetik menggunakan metodologi studi keluarga dan kembar telah menghasilkan bukti konsisten bahwa gen mempengaruhi orientasi seksual.” Kesimpulan ini dicapai setelah tinjauan komprehensif dari riset yang berhubungan sepanjang periode 10 tahun yang berakhir pada tahun 2002. Studi ini dan studi lainnya menunjukkan bahwa gen memang memainkan peran, meski tidak harus selalu peran satu-satunya, dalam menentukan orientasi seksual. Dan sebagaimana sifat (trait) yang ditentukan oleh genetis, hal ini (orientasi seksual) memiliki lebih dari satu gen yang turut berperan serta.

Sebuah studi Finlandia melibatkan 3,261 kembar Finlandia berumur 34-43 tahun, diterbitkan dalam Archives of Sexual Behavior pada tahun 2007 menunjukkan bahwa “analisis genetik kuantitatif menunjukkan bahwa variasi dalam perilaku gender atipikal dan orientasi seksual dewasa memiliki bagian yang disebabkan oleh genetik, dengan sisanya dijelaskan oleh efek lingkungan yang tidak terbagi.” Penulis mengutip dari studi di Belanda mengenai perilaku gender atipikal pada kembar umur 7- dan 10 dan orientasi seksual yang terbentuk kemudian hari, dimana riset ini menemukan bahwa faktor genetik terhitung berperan sekitar 70% variansi dalam perilaku gender atipikal untuk laki-laki dan perempuan, dan fenomena ini secara substansial berhubungan dengan homoseksualitas.

Ada bukti lainnya bahwa, sepanjang masa perkembangan janin, pemaparan terhadap jenis hormon tertentu dapat memainkan peran. Sebuah tinjauan pada tahun 2011 yang dilakukan oleh peneliti Belgia, Jacques Balthazart dan diterbitkan di jurnal Endocrinology menyimpulkan bahwa “rerata subjek homoseksual dulunya terpapar dengan kondisi endokrin atipikal sepanjang perkembangan,” dan bahwa “perubahan endokrin yang signifikan sepanjang masa embrio seringkali menghasilkan meningkatnya homoseksualitas”

Sebagai tambahan, faktor genetik dan hormonal secara umum berinteraksi dengan faktor lingkungan yang tidak dapat ditentukan, meskipun demikian faktor pola asuh yang ataupun pemaparan terhadap individu gay tidak menyebabkan homoseksualitas. Jumlah opini dalam komunitas ilmiah yang ada kebanyakan adalah hadirnya komponen biologis yang kuat untuk orientasi seksual dan bahwa faktor genetik, hormonal dan lingkungan berinteraksi untuk mempengaruhi orientasi individu. Tidak ada bukti ilmu yang menyatakan baik homoseksualitas ataupun heteroseksualitas adalah pilihan kehendak bebas.

Rice, dkk mencatat pada artikel tahun 2012 mereka bahwa “Studi prapuber dan kembar menunjukkan bahwa homoseksualitas memiliki unsur pewarisan dalam kedua jenis kelamin,” namun pemaparan masa janin (atau kekurangan pemaparan) dari hormon androgen yang bersifat memaskulinkan sepanjang tahap paling aawal dari perkembangan embrio memiliki hubungan yang kuat dengan orientasi seksual pada kedua jenis kelamin. Embrio perempuan yang terpapar tingkat androgen di atas rerata akan memiliki kecenderungan untuk menjadi perempuan gay, sebagaimana kekurangan pemaparan androgen dari rerata di janin laki-laki menghasilkan homoseksualitas.

Dalam artikel 2011 oleh Bao dan Swaab menjelaskan bahwa fenomena dari ketertarikan seksual yang berjalan memunculkan kondisi fisiologis tertentu pada seseorang dikarenakan diferensiasi seksual seseorang muncul belakangan di masa perkembangan janin daripada pembentukan alat kelamin, Sebagai hasilnya, feminisasi otak dapat terjadi pada janin laki-laki, disebabkan oleh pemaparan hormonal jauh sesudah menetapnya gender laki-laki.

Penting untuk mengakui bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa percobaan untuk mengubah orientasi seksual seseorang pernah berhasil, bahkan ketika subjek tulus ingin mengubah (orientasinya).

Pada tahun 1973, berdasarkan review penelitian ilmiah, American Psychiatric Association menetapkan bahwa homoseksualitas bukan merupakan gangguan mental dan dihapus dari DSM. Ini adalah posisi APA, yang mengungkapkan bahwa tidak ada dasar rasional, ilmiah atau lainnya, untuk menghukum atau mendiskriminasi orang-orang LGBT.

Dengan segala hormat untuk Anda dan orang-orang Indonesia, kami menyarankan bahwa pengklasifikasian homoseksualitas dan ekspresi gender sebagai gangguan intrinsik hanya akan menyebabkan pemaksaan “perawatan” dan kekerasan terhadap orang-orang yang tidak menimbulkan kerugian bagi masyarakat dan tidak bisa mengubah siapa mereka.

Kami berharap bahwa dengan menyediakan Anda data ilmiah tambahan di atas akan memberikan informasi terkait keputusan Anda. Kami mendorong Anda untuk mempertimbangkan bukti yang terkandung dan untuk mempertimbangkan kembali keputusan Anda. Kami siap untuk menjawab setiap pertanyaan yang mungkin Anda miliki.

Hormat kami,
Renée Binder, MD
President CEO

Saul Levin, MD, MPA
Medical Director

Terjemahan dikutip dari Sdr Ferene Debineva

Resonansi Rindu

20141226_090537

 

Rindu ku pada cahaya panas matahari saat hujan mulai rajin menyambangi,
seperti ku juga rindu pada hujan, saat musim kemarau lalu
Rindu selalu tentang ketiadaan
Ketiadaan keluarga, ayah, ibu dan anak
ketiadaan sahabat, teman yang menghabiskan masa bersama
Bahkan rinduku juga akan banjir, berenang dalam cairan kuning limbah sungai ciliwung. Saat banyak anugrah telah merubah raga dan jiwa.

Saat ini ku rindu
karena tetiba sadar akan Ketiadaan mu
ngilu dan galau di kalbu
karena kamu pernah hadir mengisi hati ku.

Jakarta, 17 November 2015

Call For Proposals Untuk Sub Recipient (SR) NEW FUNDING MODEL (NFM) – THE GLOBAL FUND ATM

A. LATAR BELAKANG
Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia terutama negara-negara yang sedang berkembang. Menurut laporan dari WHO Global Report tahun 2014, saat ini Indonesia menempati urutan ke-5 terbesar di dunia sebagai penyumbang penderita TB setelah Negara India, China, Nigeria, dan Pakistan.
Sesuai dengan Strategi Nasional (STRANAS) TB tahun 2015, visi umumnya adalah : “Indonesia bebas Tuberkulosis dengan tujuan “ tidak ada kematian, penyakit dan penderitaan yang disebabkan oleh Tuberkulosis.” Tujuan utama STRANAS adalah mengakhiri epidemi Tuberkulosis di Indonesia.
STRANAS menetapkan tiga target untuk dicapai pada akhir tahun 2019, yaitu 30% penurunan angka kematian yang disebabkan oleh TB dibandingkan angka pada tahun 2014; 15% penurunan insidens dibandingkan pada tahun 2014 dengan mempercepat penurunan perkiraan insiden dari 1% pertahun menjadi 4% pertahun mulai tahun 2017 dan seterusnya; dan meningkatkan akses pada Jaminan kesehatan universal dan perlindungan social sehingga pada tahun 2019 tidak ada pasien TB maupun keluarganya yang harus mengeluarkan biaya “musibah/bencana” akibat pengobatan TB.

Program TB di Indonesia melalui program dana hibah New Funding Model (NFM) The Global Fund untuk periode 2016-2017, dengan grant number: IND-T-AIS dibawah manajemen Principal Recipient (PR) TB ‘Aisyiyah dengan Sub Recipient (SR), dengan melibatkan Non-Government Organization (NGO) dan Civil Society Organization (CSO) untuk memperkuat dan memberdayakan komunitas.

PR TB ‘Aisyiyah mengundang CSO untuk mengajukan proposal dan mengikuti proses seleksi menjadi Sub Resipient (SR) di 25 propinsi, 160 kabupaten/kota. Selanjutnya CSO yang memenuhi syarat dan lolos seleksi akan terlibat dalam NFM 2016-2017.

B. WILAYAH KERJA
Program New Funding Model (NFM) akan berlangsung selama 2 tahun dimulai dari periode 1 Januari 2016 – 30 Desember 2017, bekerja di 25 provinsi dan 160 kabupaten/kota meliputi :
Provinsi Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Riau, Kepulauan Riau, Lampung, Bengkulu, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat ,Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Papua dan Papua Barat

C. INTERVENSI DAN UKURAN KEBERHASILAN
1. TB –HIV Care and Prevention
a. Pencarian suspek yang berkualitas,
b. Jumlah penderita TB semua tipe
c. Jumlah pasien TB dengan resiko HIV-AIDS yang berhasil dimotivasi untuk tes HIV dan menerima hasil,
d. Jumlah pasien TB-MDR yang didampingi sampai sembuh,
e. Mengawal pasien sembuh minimum 90%,
2. Community system strengthening (CSS)
a. Perangkat untuk menilai tingkat kepuasan pasien di layanan kesehatan dan menilai tingkat partisipasi LSM
b. Ada laporan analisa situasi terhadap penyakit Tuberkulosis di kabupaten-kota
c. Ada Strategi Advokasi Bersama untuk program TB-HIV di tingkat kabupaten-kota
3. Removing Legal Barriers
a. Ada kerjasama dengan biro hukum untuk membantu pendirian Kelompok Masyarakat Peduli TB
b. Ada dokumen dari sisi hukum terkait dengan pelaksanaan program TB-HIV
c. Ada perangkat pengawasan untuk program TB-HIV
d. Ada laporan data terkait dengan adanya kesulitan masyarakat untuk mengakses layanan TB-HIV

D. KRITERIA SELEKSI
Seleksi Administrasi calon SR dapat menunjukkan bukti :
1. Terdaftar sebagai entitas legal di Departemen Hukum & HAM serta Depdagri
2. Memiliki Nomor Pokok Wajib pajak (NPWP)
3. Memiliki Alamat yang dapat diverifikasi
4. Memiliki Profil Organisasi terbaru (tahun 2015)
5. Memiliki kantor cabang, struktur pengurus dan anggota dari pusat hingga tingkat komunitas di daerah (Kabupaten/Kota).
6. Bersedia berkontribusi (SR) terhadap program, dalam bentuk ruang kantor, SDM, peralatan kantor, dll (dilampirkan dalam surat kesanggupan dan rincian kontribusi yang akan diberikan)
7. Kapasitas menangani program yang sudah terbukti (melampirkan satu lembar resume portofolio yang menyajikan informasi antara lain; Nama program, Nama Lembaga/Donor pemberi dana, total jumlah dana dikelola, tahun/durasi program, lokasi program, jumlah penerima manfaat dan nama lembaga mitra implementasi program)
8. Kapasitas menangani program TB, terbagi atas:
a) CSO yang memiliki kapasitas untuk melakukan community-based active case finding dan case holding serta advokasi di tingkat lokal (propinsi, kabupaten/kota). Bagi CSO dalam kategori ini harus melampirkan data penjangkauan terduga (suspek) TB, pencapaian CNR dan data kesembuhan serta data lengkap kader aktif danhasil proses advokasi local yang dilakukan dalam periode dua tahun terakhir yang dapat diverifikasi.
b) CSO yang memiliki kapasitas untuk melakukan advokasi di tingkat Nasional melampirkan hasil-hasil kerja advokasi yang dapat berupa dokumen analisa situasi, analisa kertas posisi, policy paper, dokumen kemitraan lintas stakeholder untuk tujuan advokasi bersama, prosiding pertemuan konsultatif dengan Pemerintah dan Dewan Perwakilan,
c) Memiliki kapasitas Monitoring & evaluasi yang dibuktikan dengan dokumen M&E Plan dan resume/rekomendasi hasil monitoring dan evaluasi.
d) Memiliki rekam jejak baik dalam pengelolaan dana dan capaian, khususnya kerjasama serupa dengan Global Fund, salah satunya dibuktikan dengan data penyerapan dana dan riwayat Rating serta Management Letter.

Seleksi Proposal Program
1. Kecocokan dan kelengkapan usulan program dengan ukuran keberhasilan di poin C diatas
2. Strategi dan metode pelaksanaan program mengacu pada strategy dan intervensi PR TB ‘Aisyiyah di program NFM seperti di poin C diatas ; termasuk ketersediaan dan kesiapan pelaksana program dalam dua tahun mendatang(aspek program manajemen).
3. Anggaran : kecocokan antara jumlah anggaran yang diusulkan dengan strategi dan metode pelaksanaan serta mengacu pada SBU Kementerian Keuangan RI tahun 2015

E. KRITERIA PENILAIAN BERDASARKAN :
1. Kelengkapan dan kebenaran dokumen pendukung
2. Proposal yang diajukan menunjukkan kepahaman dan mendorong percepatan strategy NFM
3. Kualitas teknis proposal, termasuk tujuan umum dan spesifik yang jelas dan dampak potensial dari cakupan program dalam mencapai indikator utama program
4. Kepasitas manajemen dan administratif lembaga untuk dapat melaksanakan kegiatan/program
5. Secara teknis menunjukkan pengalaman dan rekam jejak di wilayah yang menjadi area program
6. Pengalaman dan rekam jejak implementasi program kerjasama dengan Global Fund

Hasil penilaian dibagi menjadi 3 kategori
1. Lolos seleksi langsung
2. Lolos seleksi dengan syarat (Presentasi Program dan wawancara)
3. Tidak lolos seleksi

Tim seleksi terdiri dari
Perwakilan Country Coordinating Mechanism (CCM), Technical Working Group (TWG), Kementerian Kesehatan – Sub Direktorat TB, Unsur Organisasi Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Principal Recipient TB ‘Aisyiyah dan Profesional dibidang TB
F. FORMAT PROPOSAL
Proposal ditulis dalam format minimum 10 halaman dan maksimum 20 halaman dan ditulis dalam bahasa Indonesia. Pelamar diminta menggunakan kertas ukuran A4 , 1,5 spasi.

Proposal berisi bagian sebagai berikut:
• Halaman Depan/Cover;
• Executive Summary
Summary harus menjelaskan kunci dasar dari strategy, pendekatan, metodologi, personnel dan rencana implementasi.
• Isi Proposal
• Latar Belakang
• Tujuan dan Target
• Usulan Kegiatan
• Kebutuhan
• Modal awal
• Proses Pelaksanaan
• Mekanisme pelaporan
• Anggaran
• Pengalaman/Keberhasilan sebelumnya
• Profil organisasi & contact person

G. JADWAL CALL FOR PROPOSAL
7-21Nov Pengumuman untuk call for proposal NFM dan minat sebagai SR
Pengumuman melalui website http://www.tbcareaisyiyah.org/
Batas akhir penerimaan proposal tanggal 21 november 2015 jam 23.59 WIB
23 Nov Pengumuman hasil seleksi dikirimkan langsung kepada mereka yang lolos seleksi
Dikirimkan melalui email yang bersangkutan
24-25 Nov Presentasi dan wawancara bagi kandidat SR yang lolos dengan syarat
25 Nov Pengumuman Final lolos seleksi melalui http://www.tbcareaisyiyah.org/

H. BATAS AKHIR & ALAMAT PENGIRIMAN PROPOSAL
Proposal yang telah ditulis dikirim ke Principal Recipient PR TB ‘Aisyiyah dalam bentuk Soft copy dan hard copy. Untuk format soft copy dikirim ke : admin@pr-tbaisyiyah.or.id
Hard Copy dikirimkan ke alamat :
PR TB PR TB ‘Aisyiyah NFM-GFATM
Jl. Dukuh Patra No. 25 Kelurahan Menteng Dalam, Kecamatan Tebet
Jakarta 12870

Tanggal akhir pengajuan proposal : 21 November 2015 jam 23.59

Obat HIV Terbaru

Obat HIV seharusnya diberikan saat diagnosa diketahui karena menurut sebuah percobaan penting hal ini dapat mengubah cara perawatan jutaan orang.

Penderita saat ini baru diberikan terapi antiretroviral setelah terjadinya penurunan tingkat sel darah putih.

Tetapi sebuah pengkajian di Amerika Serikat memotong proses tersebut karena perawatan dini sangat berguna bagi para pasien.

Dan Badan AIDS PBB mendesak agar semua orang segera mendapatkan obat, lapor wartawan BBC James Gallagher.

Sekitar 35 juta orang hidup dengan HIV dan lebih dari dua juta memulai terapi antiretroviral setiap tahun.

Penemuan obat yang menyerang virus telah mengubah cara perawatan penyakit namun masih muncul perdebatan sengit tentang kapan perawatan harus dimulai.

Panduan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan perawatan harus dimulai ketika terdapat kurang dari 500 sel darah putih pada setiap milimeter kubik darah.

Percobaan pada 4.685 orang di 35 negara yang dilakukan US National Institutes of Health membandingkan pendekatan ini dengan perawatan yang langsung diberikan.

Dimulai pada tahun 2011, percobaan ini baru akan selesai pada akhir tahun 2016.

Bagaimanapun analisa data sementara menunjukkan kasus AIDS, kematian dan komplikasinya, seperti penyakit ginjal dan hati, telah berkurang setengahnya karena perawatan dini.

Direktur National Institute of Allergy and Infectious Diseases, Anthony Fauci, mengatakan, “Terapi dini memberikan keuntungan ganda, bukan hanya memperbaiki kesehatan seseorang, tetapi pada saat yang sama, menurunkan muatan virus dan mengurangi risiko penularan HIV ke pihak lain.”

Sumber: BBC News, 20154retroviral

Takdir ku?

cropped-10418354_844373198957965_7240848430755332390_n.jpgTakdir adalah ketika ketidakmapaman menghampiri ku/kepak ini patah tertahan/terjerembab dalam pelukan mu, menelusuri setiap jengkal tubuh ku/ menghitung setiap huruf yang membentuk untaian nama ku “herman varella sabir’/ramalan mu akan cinta ku/ sepertinya diri mu yang akan bertahta /mahluk indah, sekuat naga dan seagung biksu/ aku yakin itu kamu/saat malam di hotel sepulang menjelajah puncak tertinggi kota seoul/ aku, kamu telah satu/kita akan selalu satu/walau kau merintih ingin kan bahagian ku untuk mencapai langit/aku tak ingin selalu dibawah tubuh mu, rengek mu/biarkan aku mencapai langit dengan cara mu/bukan semua nya harus setara/itu perjuangan, rintih mu/ aku dan kamu telah mencapai mega, melampaui jalan panjang/saat tidak terpikir akan kesedirian di Kota mu / dan aku meratap sepi di sini/ menunggu enam purnama saat takdir menjemput ku/ pastikan, kata ku/ aku tidak mampu untuk pasti/ semua bisa berubah karena semesta yang berubah/kamu juga harus berubah/ jadi pengusaha adalah keagungan yang ditorehkan lewat garis melengkung di telapak tangan mu/ kamu kan bisa tetap membantu sesama jika takdir mu telah kau temui/tebal kumparan tangan mu, adalah pertanda /kamu akan melampaui hari ini/ aku merenung sambil memandang celoteh bibir mu/ bibir tipis mengucap setiap kata/dua garis merah itu membuat lukisan cinta di hati / kamu takdir ku /gumam ku mengaliri aliran darah di nadi /saat dingin menelusup lewat celah pendingin ruangan dan rintik hujan terlihat lewat kaca hotel/ Kita saling menghangatkan/aku, kamu satu.
Di saat musim hujan telah datang di kota ku/saat kita tak lagi bersama menyusuri tepian sungai dan berkejaran menuju pemberhentian Guang Buk Dong/saat musim panas negeri ginseng tak berbekas lagi disini/ kamu harus hati-hati dengan air/ takdir mu bisa jatuh jika elemen itu datang/ kesuksesan mu berbarengan dengan rapuh nya tubuh mu/kejatuhan karena air dan kebangkitan karena unsur api /jangan pakai nama terlalu panjang/ kamu tambahkan sendiri atau anugerah dari orang tua mu?/ nama yang panjang akan menyulitkan takdirmu/aku menyangkal mu/aku berhasil melewati banyak persoalan setelah kutambahkan nama lahir ku/kesakitan yang sangat telah lewat kataku/satu masa kamu akan kesulitan karena nama mu, tegas mu/aku ingatkan dengan cinta agar kamu waspada/ramalan ku dalam tujuan itu/aku tergugu/yakinkan aku kalau kamu selalu ada untuk ku/ bahkan saat masa kesulitan itu datang/research ku kan menghalangi ku menemui mu/tak ada masa untuk bersama/setidaknya untuk 2011/selepas januari di valentine days aku usahakan/kamu harus mampu sendiri/ sekarang aku sendiri/ tapi ku tak mau menyendiri/ku takut sepi
Saat ini ada takdir baru dalam hidup ku/mahluk indah, sekuat Naga dan seagung Biksu ternyata /takdir telah mempertemukanku dengan yang lainnya/bukankah di dunia ini ada tujuh sosok yang serupa/ mungkin dia salah satu nya/aku mulai meragui takdir ku untuk mu/sosok dalam ramalan mu itu menyeruak hari ku/ memijiti setiap titik kelelahan ku/mengingatkan saat raga ku harus ditransfusi energi baru/dia seperti kamu/indah dan kuat bagai naga/agung laksana biksu
Hari ini, saat rindu membuncah ingin menemui mu/Yakin ku akan ramalan mu atas takdir ku, seyakin penerimaan ku atas semua kejadian hari ini…..Takdir ada disini, dekat ….

Pondok Gede, 23 oktober 2015

saat gundah datang, dan kamu

tak kunjung kembali

STRATEGI NASIONAL PELIBATAN ORGANISASI MASYARAKAT SIPIL DALAM PROGRAM PENGENDALIAN TB DI INDONESIA

Pelibatan CSO

Pelibatan CSO

I. Pendahuluan

Indonesia merupakan negara yang luas dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa, terbentang sejauh 5 juta kilometer dan mempunyai 17,800 pulau. Indonesia memiliki 34 provinsi dan 539,yang terdiri dari 412 Kabupaten, dan 93 kota (tidak termasuk 5 kota administrative, dan 1 kabupaten administrative di DKI Jakarta). Sistem administrasi yang diterapkan di Indonesia adalah sistem desentralisasi atau otonomi daerah pada tingkat kota/kabupaten yang mengelola sumber daya untuk kepentingan daerah sendiri. Sebagian besar program prioritas kesehatan di tingkat Kabupaten/kota selama ini belum menjadikan TB sebagai program yang penting, hal ini terbukti dengan kecilnya APBD untuk alokasi dana bagi program pengendalian TB.

Estimasi insidensi TB di Indonesia pada tahun 2013 adalah 185/100,000 penduduk dengan perkiraan angka kematian adalah 27/100,000 penduduk, sedangkan estimasi prevalensi TB adalah 281/100,000 penduduk. Total jumlah kasus TB yang dicatat pada 2011 adalah 321,308 kasus dan perkiraan jumlah kasus MDR adalah 6,620 per tahun dengan kasus yang dicatat sebanyak 383 (0,12%) di tahun 2011. Prevalensi HIV dalam pasien TB yang dilaporkan sebanyak 3,3%. Indonesia masih menjadi salah satu Negara dengan beban TB terbesar di dunia dan diperkirakan terdapat 52 kasus baru ditemukan serta 8 orang meninggal akibat TB setiap jamnya. Sehubungan dengan hal tersebut, sangat penting mendorong program pengendalian TB nasional menjadi bagian utama dalam sistem pelayanan kesehatan dalam rangka mencapai target MDG’S secara global. Banyak hal yang dibutuhkan untuk mencapai target nasional dalam akses universal dan tidak ada kematian akibat infeksi TB di tahun 2035.

Beberapa tahun terakhir, angka penemuan kasus TB di Indonesia mencapai 69% per tahun, hal ini menunjukkan bahwa masih ada kasus yang belum ditemukan, diobati dan dilaporkan. Diperlukan kerjasama yang baik antara pemerintah, sector swasta dan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang bekerja dalam program pengendalian TB sehingga meningkatkan kemampuannya dalam menemukan kasus TB, mendiagnosis dan meLsmbati. Penemuan kasus TB resistan obat kurang dari 1% dari kasus baru yang diperkirakan, sedangkan kasus TB resistan obat meningkat secara signifikan setiap tahunnya. Diperkirakan 2% dari Kasus TB baru dan 12% dari kasus yang sudah diobati sebelumnya adalah TB resistan Obat. Disamping TB resistan obat, masih ada tantangan lainnya yaitu Pasien TB yang mengetahui status HIV nya hanya 0,8% dari jumlah pasien TB yang dilaporkan. Diperlukan mekanisme, strategi dan metode yang inovatif untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Masyarakat umum dan yang tergabung dalam organisasi profesi, kelompok pasien dan organisasi keagamaan baik di tingkat lokal, nasional dan internasional serta jejaringnya memiliki potensi yang bagus dalam berkontribusi pada pengendalian TB. Namun, organisasi yang terlibat dalam pengendalian TB masih terbatas dan masih tergantung pada pendanaan dari pihak donor. Aisyiyah, LKNU, dan Perdhaki sebagai contoh, adalah organisasi berbasis agama yang melakukan kegiatan secara aktif di beberapa provinsi. Selain itu terdapat banyak Lembaga internasional yang memiliki banyak sumber daya dan pendapatan dan bekerja dalam isu kesehatan untuk orang miskin, perempuan dan anak tetapi tidak memasukan program TB dalam program kerjanya. Pada kenyataannya 40% kasus kematian pada ODHA (Orang dengan HIV-AIDS) disebabkan oleh Infeksi TB.

Strategi ini akan menjelaskan mengenai tanggungjawab dan kontribusi dari LSM dan organisasi berbasis masyarakat lainnya dalam pengendalian TB di Indonesia, termasuk didalamnya bagaimana kolaborasi antara satu LSM dengan LSM lainnya dan antara LSM dengan Pemerintah dalam Program TB Nasional.

II. Analisa situasi

a. Pengetahuan Sikap dan Perilaku Masyarakat tentang TB (data?)
1. Sedikit bukti bahwa piagam hak dan kewajiban pasien telah didesiminasikan ke provider layanan dan pasien.

b. Akses Layanan Untuk Pasien TB
1. Hanya ada sedikit pembelajaran bahwa permintaan untuk pelayanan tuberkulosis telah meningkat atau advokasi dan komunikasi untuk tuberkulosis telah dikembangkan di setiap level.
2. Kebanyakan layanan tuberkulosis berbasis fasilitas daripada komunitas. Hal ini mengakibatkan adanya biaya transportasi dan kehilangan pendapatan serta meningkatkan biaya hidup yang disebabkan alasan jarak dan waktu tempuh. Hal ini mengurangi kemampuan masyarakat miskin untuk mengkases layanan diagnosis dan peLsmbatan. Ini menjadi masalah terpenting bagi pasien TB MDR yang harus minum obat dan diinjeksi tiap hari di Fasyankes.

c. Pelibatan Masyarakat dan Pasien TB
1. Pelibatan Lembaga non pemerintah dan organisasi berbasis agama dalam tuberkulosis hanya sebagian kecil saja dari keseluruhan organisasi masyarakat sipil yang aktif dalam kegiatan berbasis masyarakat di negara ini.
2. LSM masih bergantung ke Subdit TB Kemenkes pendanaan dan siklus kegiatan sangat tergantung pada proyek-proyek yang didukung donor yang tersedia. Tidak ada usaha untuk menjangkau dan melibatkan Organisasi non pemerintah dan mendorong mereka untuk mempergunakan sumber daya manusia, material dan finansial dalam kegiatan tuberkulosis berbasis masyarakat yang terintegrasi dengan program-program lainya di sektor yang lain.
3. Keberlangsungan keterlibatan masyarakat dalam tuberkulosis menjadi prioritas yang rendah dengan tidak adanya mekanisme untuk memantau perkembangan program Nasional dalam pelibatan dan kolaborasi dengan masyarakat dan kelompok organisasi berbasis masyarakat sipil dan tidak ada juga anggaran yang dialokasikan untuk itu baik di Tingkat Provinsi maupun dan Nasional.
4. Tidak ada metode yang sistematis untuk mengumpulkan dan melaporkan kontribusi masyarakat dan indikator keberhasilan organisasi masyarakat dari penemuan kasus dan keberhasilan peLsmbatan. Fasyankes bisa mencatat fasilitas yang merujuk pasien dalam buku peLsmbatan (TB01) tetapi imformasi ini tidak bisa dipindahkan ke Buku register TB (TB03) dan tidak bisa dikumpulkan datanya di Level kota kabupaten atau provinsi.
5. Walaupun telah ada pengakuan dari pentingnya pelibatan pasien dalam peLsmbatan TB, tetapi belum ada metode pendekatan yang digunakan dalam layanan di semua level.
6. Hanya ada beberapa organisasi non pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat yang aktif dalam kegiatan penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia. Dengan beberapa pengecualian, mereka yang bergerak di dalam layanan Tuberkulosis pada umumnya bergantung kepada pendanaan dari lembaga donor seperti Global Fund. Bersama dengan beberapa partner teknis mereka (CSOs/LSMs) mewakili komunitas dan organisasi yang bekerjasama dengan Subdit TB Kemenkes. Tabel di bawah ini menggambarkan beberapa kekuatan dan kelemahan dari peran organisasi non pemerintah dan LSM dalam penanggulangan TB saat ini.

Tabel 1. Peran LSM dalam layanan TB; Kekuatan, Kelemahan, dan Peluang

KEKUATAN KELEMAHAN
Menanggapi kebutuhan dari masyarakat Keterlibatan LSM dalam layanan TB masih rendah
Dapat menjangkau kelompok marginal dan yang tersisihkan Peran LSM tidak dapat didistribusikan secara merata
Dapat bekerja di wilayah terpencil Kegiatannya terkotak kotak dan kurang terkoordinasi
Dekat dengan kelompok masyarakat dan layanan kesehatan lokal Kebanyakan LSM hanya memiliki pengertian yang terbatas mengenai TB
Berakar dari kebudayaan dan Bahasa lokal TB dilihat sebagai masalah kesehatan. Efeknya terhadap psikososial dan ekonomi kurang ditanggapi atau dikenali
Semangat sukarela Keterlibatan LSM saat ini tidak didukung oleh peraturan atau Undang-undang Nasional

Anggota yang memiliki motivasi Terbatasnya sumberdaya dalam kegiatan penanggulangan TB
Mampu untuk menarik tenaga sukarela seperti kader Dukungan terhadap Tuberkulosis tergantung pada program pendanaan
Sistemnya sederhana, tidak banyak birokrasi Ketergantungan terhadap Donor meningkat
Kegiatan-kegiatannya dengan mudah dapat disatukan (mis: kegiatan TB HIV) Tenaga sukarela tidak selalu dapat menjadi agen yang terpercaya
Keterlibatan dari orang yang pernah sakit TB termasuk bekas pasien TB Tingginya ‘turnover’ dari staf dan sukarelawan
Rasa memiliki yang tinggi Tidak cukup terlibat untuk advokasi
Dapat menciptakan banyak jejaring Kapasitas dan kemampuan tidak seimbang
Program dan kegiatannya ‘fleksibel’
Dapat terlibat disetiap tingkatan masyarakat
Berprinsip partisipasif dan aktif (Gotong-royong)
Memanfaatkan sumberdaya yang ada secara masksimal
Memiliki struktur dari level internasional, nasional, provindi, dan kabupaten kota
Peluang
Memiliki potensi untuk melibatkan LSM lain yang bekerja untuk HIV, Kesehatan ibu dan anak serta LSM yang bergerak di sektor lain yang belum mengintgrasikan program TB dalam program kerjanya.
Adanya sumber daya dan kapasitas dari LSM internasional yang belum melakukan kegiatan TB berbasis masyarakat.
Adanya potensi untuk meningkatkan kolaborasi dan koordinasi serta membangkitkan “suara” dari LSM untuk membantu advokasi di tingkat lokal dan Nasional
Memperluas cakupan kegiatan TB berbasis komunitas ke tempat kerja dan sekolah serta lebih sistematis dalam menjangkau populasi kunci
Menggunakan komunikasi berbasis teknologi untuk medukung kegiatan TB berbasis komunitas
Potensi untuk mengundang perhatian media untuk mendukung kesadaran masyarakat TB
Meningkatkan keterlibatan kelompok mantan pasien TB dalam layanan TB, dukungan serta advokasi

d. Pembiayaan Program TB (melihat dari sisi UKB-BPJS dan UKM-Pemerintah serta sisi swasta-CSR)

e. Monitoring dan evaluasi (termasuk ke dalamnya pencatatan dan pelaporan)
Belum tersedianya panduan dalam melakukan penilaian kualitas layanan kesehatan berdasarkan persepsi pasien yang dikembangkan dan melibatkan organisasi berbasis masyarakat.

III. ISU STRATEGIS
1. Pengetahuan Sikap dan Perilaku Masyarakat tentang TB (data?)
2. Akses Layanan Untuk Pasien TB
3. Pelibatan Masyarakat dan Pasien TB
4. Pembiayaan Program TB (melihat dari sisi UKB-BPJS dan UKM-Pemerintah serta sisi swasta-CSR)
5. Monitoring dan evaluasi (termasuk ke dalamnya pencatatan dan pelaporan)

IV. TUJUAN, INDIKATOR, & TARGET

TUJUAN

1. Menjangkau pasien yang belum ditemukan dan tidak dapat mengakses layanan untuk menegakkan diagnosa TB serta peLsmbatan TB (33% missing case)
2. Menurunkan insiden serta dampak dari TB MDR melalui jaminan terhadap tuntasnya peLsmbatan TB dan meningkatkan pendampingan terhadap mereka yang dalam peLsmbatan MDR ( penemuan kasus, peLsmbatan dan dukungan lainnya).
3. Tujuannya adalah untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat TB dalam rangka pencapaian tujuan pembangunan kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

INDIKATOR
Strategi ini menggarisbawahi visi, misi, dan tujuan dari Stranas dengan melihat kepada mekanisme untuk mempekuat keterlibatan organisasi dari masyarakit sipil terhadap program penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia

TARGET
(lihat framework CSO TB HIV)

V. RUMUSAN STRATEGI

Strategi inti ini memiliki 4 elemen yang saling berkaitan

LIBATKAN —EKSPANSI—-FOKUS —- PANTAU

1. Libatkan – melibatkan lebih banyak organisasi non pemerintah dan organisasi masyarakt sipil lainnya dalam layanan TB dengan mempromosikan aktivitas TB berbasis masyarakat.
2. Ekspansi– memperluas jaringan dari LSM/CSO yang sudah bekerja di program TB dengan memperluas wilayah kerja dan lebih banyak melibatkan kelompok mantan pasien TB
3. Fokus – memfokuskan keterlibatan CSO dalam 2 area saja, yaitu penemuan kasus dan dukungan untuk memantau kepatuhan minum obat dalam 2 kategori pasien yaitu pasien MDR dan pasien koinfeksi TB HIV
4. Pantau – menghitung kontribusi dari masyarakat untuk layanan TB melalui kegiatan monitoring dan evaluasi yang efektif

1. Libatkan lebih banyak LSM dan CSO

Di Indonesia, seperti di negara lain, Tuberkulosis dipandang sebagai masalah medis semata. Untuk alasan ini beberapa LSM yang telah terlibat dalam program TB umumnya memiliki layanan klinis dalam bentuk klinik dan rumah sakit. Namun sebagian besar dari LSM dan organisasi keagamaan yang ada di Indonesia tidak bekerja untuk TB walaupun mereka bekerja untuk area-area yang sebenarnya berkaitan erat dengan TB seperti, kemiskinan, dan Kesehatan Ibu dan anak, atau penyakit yang berhubungan erat dengan TB seperti Diabetes mellitus, HIV ,dan lain lain. Oleh karena itu perlu diseminasi informasi tentang Tuberkulosis pada LSM untuk mendorong keterlibatan mereka dalam aktivitas TB berbasis komunitas, khususnya; pencegahan ,penemuan kasus, pendampingan, dan advokasi.

Potensi utama ada pada LSM internasional yang memiliki banyak sumber daya dan menjadi donor untuk LSM nasional dan lokal lainnya, sehingga mereka dapat mengintegrasikan kegiatan TB ke dalam program mereka yang sudah berjalan. Dengan mengintegrasikan TB ke dalam program mereka akan dapat meminimalkansumber daya secara signifikan, misalnya tenaga kerja atau biaya lainnya. Misalnya, Kader-kader yang telah bekerja di program HIV dan KIA perlu dilatih tentang penemuan kasus dan dukungan pengobatan TB. Dibutuhkan suatu badan koordinasi untuk LSM yang baru dengan LSM TB lebih mapan untuk berbagai informasi dan saling belajar tentang program penanggulangan TB. LSM yang baru bergabung membutuhkan pelatihan dasar bagi kader-kadernya, panduan sederhana dan alat untuk membantu mereka mulai bekerja pada TB. Badan koordinasi tersebut harus independen dari pemerintah dan perlu diadakan pertemuan secara berkala dengan subdit TB untuk koordinasi dan sharing informasi.

Di tingkat layanan kesehatan lokal, ada kebutuhan untuk membuat asosiasi baru mantan pasien TB. Ada bukti bahwa mantan pasien sangat termotivasi dan mampu memberikan dukungan terhadap pasien baru, terutama pasien MDR-TB. Untuk alasan ini, ditingkat nasional perlu dibentuk jaringan organisasi pasien (asosiasi) oleh organisasi pasien yang telah ada diseluruh indonesia. Jaringan ini berperan dalam memfasilitasi pembentukan kelompok pasien baru yang bertugas memberikan dukungan kepada pasien lain di fasilitas layanan kesehatan TB. Subdit TB Kemenkes harus bertemu secara berkala dengan Jaringan ini juga untuk membantu kelancaran komunikasi mereka dengan puskesmas di tingkat lokal dan fasilitas kesehatan lainnya. Jaringan ini juga harus mampu mengamankan dukungan dari mitra teknis mungkin diperlukan.

2. Perluas wilayah kerja dari LSM dan CSO

Keterlibatan LSM/CSO dalam TB sebagian besar dibatasi oleh perjanjian PR dan SR hibah yang terkait dengan Global Fund. Hal ini telah menjadi bagian dari budaya keterlibatan saat ini di TB. Namun, ada banyak kesempatan untuk memperluas pekerjaan TB berbasis masyarakat dari organisasi yang sudah ada tanpa dana tambahan. Hal ini menjadi layak bila TB tidak diperlakukan sebagai program vertikal yang membutuhkan staf dan pengawasan sendiri melainkan diintegrasikan ke dalam pekerjaan sektor lain organisasi. Pada lokakarya konsultasi nasional dengan LSM pada April 2014, LSM/ CSO sendiri yang menyatakan bahwa mereka bisa melakukan kegiatan setidaknya 20% lebih banyak dari wilayah yang diatur dalam perjanjian hibah Global Fund. Dalam prakteknya, jika ada fokus pada penemuan kasus dan dukungan peLsmbatan untuk MDR-pasien, jangkauan pelayanan TB berbasis masyarakat tersebut bisa jauh lebih dari 20% di atas tingkat saat ini.

Kelompok sasaran baru harus menjadi bagian dari pekerjaan tersebut. Pabrik dan pesantren merupakan sarana berkumpulnya orang banyak dan lebih mudah dilakukan intervensi. Perlu pengembangan kelompok pendidik sebaya di tempat-tempat tersebut dan didukung oleh pemerintah setempat dalam melakukan kegiatan peningkatan kesadaran masyarakat terkait TB serta rujukan bagi mereka yang menjadi terduga TB. Pengambil keputusan di masing-masing sektor harus peka terhadap kebutuhan pasien, sehingga kebijakan yang mendukung dapat dibuat dan disetujui. Perlu adanya panduan sederhana dan hal lainnya untuk memperluas cakupan kegiatan tersebut. Ini perlu dibuat dan dikembangkan. Hal-hal tersebut akan mencakup bahan-bahan informasi sederhana, presentasi power point, dan bimbingan untuk kebijakan di tempat kerja.

Kegiatan berbasis komunitas (LSM) juga perlu dilakukan pada populasi kunci yang terkena dampak akibat TB (HIV). Kegiatan yang sementara berjalan pada pengguna narkoba suntik, pekerja seks atau buruh migran, perlu peningkatan kesadaran TB, perlu dilakukan skrining dan rujukan yang terintegrasi ke dalam pekerjaan.

Perluasan jangkauan dan cakupan tersebut akan lebih baik didukung melalui kolaborasi antara LSM itu sendiri, dengan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran mereka tentang TB dan dilakukan terus-menerus. Hal ini mungkin cocok untuk mengajak LSM yang bersedia untuk bekerja sama dalam jaringan yang didukung oleh mitra teknis untuk mempromosikan agar layanan tersebut diperluas.

3. Emphasize – Tekankan – menitikberatkan keterlibatan CSO dalam 2 area saja yaitu penemuan kasus dan dukungan untuk memantau kepatuhan minum obat .

Contoh pembagian tugas dan peran untuk LSM dan keterlibatan dari CSO lainnya untuk kegiatan TB

– Perubahan perilaku komunikasi untuk mobilisasi masyarakat
– peningkatan kesadaran berkomunikasi yang bertujuan menghimbau masyarakat
– Mengurangi stigma
– Advokasi di semua tingkatan (misalnya untuk meningkatkan ketersediaan sumber daya, jasa dan obat-obatan)
– Penemuan dini kasus TB berbasis masyarakat (misalnya melalui kampanye atau kunjungan rumah-ke-rumah)
– Pengambilan dahak dan transportasi
– Menelusuri kontak orang dengan TB menular dalam keluarga dan komunitas mereka
– dukungan kepatuhan peLsmbatan TB
– Dukungan sosial dan mata pencaharian (misalnya suplemen makanan, kegiatan yang menghasilkan pendapatan)
– Mempromosikan penggunaan Piagam Pasien untuk Perawatan TB
– Screening, profilaksis dan peLsmbatan TB bagi orang yang hidup dengan HIV
– konseling dan testing HIV untuk pasien TB dan orang terduga TB
– Manajemen Pasien-pasien TB Kebal Obat dan TB yang resistan terhadap obat secara luas
– menyebarluaskan informasi dan jaringan untuk mengatasi masalah kesehatan dan perlindungan sosial
– Dukungan untuk memperbaiki sistem penyediaan layanan kesehatan (misalnya sumber daya manusia, infrastruktur, pasokan)
– Melakukan penelitian operasional berbasis program
– Pembiayaan dan sumber daya mobilisasi

Namun, mengingat rendahnya tingkat keterlibatan sekarang ini, kecepatan untuk memperluas cakupan akan lebih baik apabila kita memfokuskan upaya pelibatan LSM baru untuk program TB. Hal ini akan memungkinkan sumber daya yang baru tersebut untuk diarahkan ke tujuan yang sama, dan untuk mengatasi beragamnya kelompok LSM yang muncul maka perlu ada suatu pembelajaran bersama antar satu LSM dengan lainnya. Dua area yang perlu ditekankan adalah penemuan kasus baru dan dukungan terhadap kepatuhan peLsmbatan. Kedua hal ini merupakan prioritas yang paling mendesak untuk pengendalian TB di Indonesia. Selain itu, dua kelompok pasien yang perlu diprioritaskan adalah TB /HIV (sehingga membuatnya lebih mudah bagi LSM yang bekerja pada HIV untuk terlibat) dan MDR-TB (untuk mencegah penyebaran terhadap individu, rumah tangga dan masyarakat). Kegiatan yang mendukung adalah informasi, pendidikan, komunikasi dan dukungan sosial ekonomi serta advokasi harus didorong dan dipromosikan.

4. Enumerate – Hitung – menghitung kontribusi dari masyarakat untuk layanan TB melalui kegiatan monev yang efektif.

Agar lebih banyak LSM yang terlibat dalam layanan TB dan juga agar terbentuk lebih banyak asosiasi mantan pasien TB serta memperluas jangkauan dan cakupan, maka sangat penting dilakukan pencatatan, pendokumentasian dan pelaporan untuk dapat mengukur kontribusi mereka dalam penemuan kasus baru dan keberhasilan peLsmbatan. Hal ini paling baik dilakukan dalam satu sistem pemantauan nasional. Register TB di semua fasilitas harus mampu merekam sumber rujukan dan melacak semua rujukan dari masyarakat untuk mendapatkan angka notifikasi kasus. Demikian pula, register peLsmbatan harus dapat mencatat apakah pasien menerima dukungan kepatuhan dari masyarakat dan kemudian melacak hasil peLsmbatan pasien tersebut. Untuk hal tersebut kita dapat mengikuti panduan Pelibatan TB (ENGAGE-TB, WHO). Subdit TB Kemenkes harus dapat memfasilitasi agar tersedianya angka-angka ini di tingkat kabupaten kota untuk dapat dilaporkan setiap triwulan. Sebagaimana data tersebut dihasilkan, dampak dari upaya LSM dan organisasi masyarakat sipil lainnya akan menjadi lebih jelas. Hal ini juga akan membantu memberikan pelajaran untuk memperbaiki upaya yang sudah dilakukan dan mendukung kinerja yang lebih baik.

E. RENCANA KEGIATAN

Strategi ini memerlukan perhatian yang lebih besar untuk dapat melibatkan organisasi kemasyarakatan dari berbagai stakeholder.
Subdit TB Kemenkes harus bertemu secara berkala dengan berbagai lembaga yang diusulkan dalam strategi ini, untuk memastikan dukungan serta mendorong keterlibatan dan memberikan umpan balik. Pertemuan ini bertujuan untuk koordinasi dan hanya membutuhkan waktu yang singkat, selama beberapa jam, dan, hanya melibatkan perwakilan pimpinan koalisi, dan akan lebih efektif dilakukan setiap triwulan. Perwakilan pimpinan koalisi ini kemudian dapat menginformasikan kepada anggota hasil pertemuan tanpa perlu anggota untuk hadir di pertemuan. Pertemuan rutin sangat penting untuk meningkatkan motivasi dan apabila ada permasalahan yang dihadapi agar bisa segera diatasi.
Engage TB merupakan panduan implementasi yang memberikan langkah -langkah tentang bagaimana untuk melibatkan LSM baru dan CSO lainnya dan bagaimana mereka bisa mengintegrasikan TB ke dalam kegiatan mereka berdasarkan enam komponen yaitu:
1. Analisis Situasi
2. Memberdayaan lingkungan
3. Pedoman dan alat pendukung
4. Identifikasi peran
5. Pemantauan dan evaluasi
6. Peningkatan kapasitas

Kurikulum pelatihan dan panduan fasilitator untuk pendekatan ENGAGE-TB juga sudah tersedia. Subdit TB harus menggunakan kurikulum ini untuk membantu dalam menjangkau dan melibatkan LSM baru dan CSO lainnya. Selain itu, yang perlu mendapatkan perhatian yaitu:

A. mekanisme kelembagaan yang baru
• mengaktifkan kembali Gerdunas sebagai mitra kunci pengendalian TB di Indonesia untuk mendapatkan dukungan yang lebih besar dari pemerintah (seperti Departemen Sosial) dan dari kabupaten. Mekanisme ini memungkinkan untuk mendapatkan perhatian yang lebih besar dan meningkatkan komitmen serta sumber daya yang ada untuk Pengendalian TB. Ini juga akan membantu dalam menyusun undang-undang baru yang mungkin diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi peningkatan LSM dan partisipasi kelompok pasien dalam Pelayanan TB
• Membentuk Kelompok Kerja Teknis (TWG) pada Community Engagement untuk secara sistematis melacak, menindaklanjuti dan mendukung peningkatan keterlibatan masyarakat. Kepemimpinan bisa datang dari salah satu mitra teknis atau dari LSM besar untuk mengadakan kelompok.
• Membentuk mekanisme baru berasal dari masyarakat sipil yang independen sebagai payung koordinasi LSM (NCB) untuk membantu pelibatan CSO yang baru.
• Aktif dalam membentuk koalisi dan paguyuban pasien yang baru
• Mendukung koalisi LSM yang bekerja di Global Fund didukung-proyek untuk mempertimbangkan dan mempromosikan perluasan jangkauan dengan sumber daya yang ada
• Memfasilitasi koalisi CSO yang terlibat dalam Pengendalian TB dan paguyuban pasien TB di tingkat kabupaten.
• Mempromosikan asosiasi pasien TB di tingkat layanan untuk memperluas dukungan pasien terutama pasien TB MDR

B. pertemuan rutin
• pertemuan triwulanan antara Subdit TB Kemenkes dan masing-masing koalisi secara terpisah perlu diadakan di tingkat nasional dan kabupaten/kota. (Sebuah LSM bisa secara bersamaan menjadi anggota lebih dari satu koalisi).
• Pertemuan-pertemuan ini dapat melibatkan 3-4 orang dari Subdit TB dan 3-5 pemimpin koalisi LSM dan berlangsung tidak lebih dari 3-4 jam. Keteraturan pertemuan sangat penting. Dan secara bergiliran LSM menjadi tuan rumah pertemuan untuk mengurangi beban pada Subdit TB.
• Pertemuan harus dilaksanakan di tingkat kabupaten maupun tingkat nasional.

C. Bantuan teknis
• Material yang digunakan oleh LSM dan organisasi masyarakat sipil lainnya sering tidak memenuhi yang dibutuhkan. Subdit TB perlu menemukan cara dan sarana untuk mengembangkan pedoman dan tools yang dapat digunakan di setiap daerah oleh semua LSM
• mitra Teknis harus membantu dalam mengembangkan materi tersebut. Sebagai contoh: presentasi kepada pekerja pabrik yang berisi informasi TB dasar; presentasi kepada anak-anak sekolah asrama; Materi KIE untuk koinfeksi HIV-TB, dll.
• Material sederhana juga diperlukan untuk membantu penemuan kasus secara dini yang berisi informasi seperti pada tanda-tanda dan gejala TB
• Pedoman perlu dikembangkan untuk beberapa bidang pekerjaan termasuk, misalnya, peLsmbatan di rumah bagi pasien MDR-TB (menggunakan perawat komunitas seperti dalam proyek CEPAT)
• pelatihan baru perlu diberikan kepada pelatih sehingga sejumlah besar kader-kader baru dari LSM yang berpartisipasi dapat dilatih tentang dasar-dasar TB, skrining dan rujukan serta dukungan kepatuhan, tindak lanjut peLsmbatan.

D. identifikasi kembali staf dalam Subdit TB Kemenkes
• Staf ACSM di NTP harus kembali ditunjuk sebagai staf Community Engagement karena sekarang diakui secara global bahwa istilah “ACSM” tidak sesuai lagi untuk keterlibatan masyarakat.
• Setelah titel staf berubah, persyaratan harus disesuaikan yaitu jenjang pendidikan dan pengalaman dalam mengembangkan kemitraan dengan LSM dan CSO lainnya
• Untuk mengatasi kesenjangan kapasitas dalam NTP, setidaknya satu staf tingkat menengah dengan keterlibatan masyarakat atau mempunyai pengalaman bekerja dengan LSM harus segera ditambahkan ke dalam tim, yang mana saat ini jmlahnya hanya 3 orang.

E. Sumber daya lainnya
• Ada pengalaman penyerapan yang rendah pada dana hibah Global Fund yang lebih dari 25% dan bahkan lebih di bidang keterlibatan masyarakat. Subdit TB harus meninjau dan meminta re-program dana hibah sehingga anggaran dapat dialokasikan ke proses yang dijelaskan dalam strategi ini.
• Beberapa ketentuan harus dibuat untuk pendanaan bagi koalisi baru yang diusulkan dalam strategi ini sehingga mereka bisa menyediakan dana awal untuk mengembangkan asosiasi baru di tingkat kabupaten, khususnya asosiasi mantan pasien.
• Selain itu, LSM yang baru terlibat harus didorong untuk mendekati donor dan konstituen mereka sendiri untuk mendukung pekerjaan mereka dalam mengintegrasikan layanan TB.
• Kabupaten dan departemen lain juga merupakan potensi yang signifikan untuk peningkatan dana. LSM / CSO harus bekerja dengan media untuk menyadarkan masyarakat tentang perlunya sumber daya yang lebih banyak untuk pengendalian TB melalui acara yang menonjolkan peran kabupaten dan departemen lain. LSM selaras dengan partai-partai politik harus didorong untuk meminta pihak-pihak dalam mengangkat isu alokasi dana untuk TB di tingkat kabupaten dan di forum provinsi dan nasional. Dalam kampanye perlu ditekankan bahwa terdapat 52 infeksi baru setiap jam dan 8 kematian baru setiap jam karena TB, ini dapat menjadi pesan utama dalam kampanye.

Advokasi dan kampanye
• Advokasi dan kampanye perlu ditingkatkan secara signifikan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tetapi juga untuk mendapatkan komitmen pendanaan yang lebih besar dari kabupaten dan departemen lain
• Melibatkan stakeholder HIV dan TB untuk mengintegrasikan ke dalam kegiatan mereka dan membantu memfasilitasi mereka kepada ahli, seperti dalam bidang advokasi dan komunikasi.
• Peristiwa Nasional, dikoordinasikan dengan semua LSM, perlu diadakan secara berkala dengan keterlibatan penuh dari TV dan koran.
• suara pasien TB perlu didengar sebagai suara utama dalam advokasi tersebut
• penyediaan anggaran khusus perlu dibuat dalam kegiatan apapun yang mendukung media dan advokasi upaya tersebut

F. IMPLEMENTASI STRATEGI NASIONAL

G. MONITORING DAN EVALUASI

• Modifikasi perlu dilakukan pada sistem pencatatan di tingkat layanan, terutama pada register TB dan peLsmbatan untuk memastikan kontribusi masyarakat dapat dicatat dan dilaporkan.
• pelaporan kabupaten harus mencakup data yang dikumpulkan dari kontribusi masyarakat sebagaimana seharusnya laporan provinsi

40 Blogger; Sumber Inspirasi Ku

Genap sudah 12 bulan tidak pernah mempublikasikan tulisan, hanya menjawab pertanyaan dari pengunjung Blog. Malam ini, saya mencoba merangkai kata kembali; terinspirasi oleh pertemuan dengan 40 Blogger hebat di kegiatan Workshop Blogger dalam rangka Perayaan TB Day 2015, yang dilaksanakan oleh SUBDIT TB, Kementrian Kesehatan RI bersama Puskomplik (Pusat komunikasi Publik) Kemkes dengan dukungan penuh dari KNCV TBC Foundation. KNCV adalah kantor tempatku bekerja saat ini.
Sejak pertama kali menulis di Blog tahun 2008, tujuan ku hanya satu, ingin berbagi ketakutan ku saat itu, ketakutan atas epidemi HIV, melihat begitu banyak orang-orang, teman, bahkan saudara yang terinfeksi, membutuhkan informasi bagaimana hidup sehat walau terinfeksi HIV, semangat pencegahan agar jangan ada lagi orang terinfeksi HIV. Jujur, tulisan ku belum banyak membantu, buktinya epidemi HIV semakin meningkat di Indonesia, dan semangat saya menulis terhenti maret 2014. Ironis
Belajar juga dari melihat jumlah kunjungan blog ku, yang sempat mencapai kunjungan terbanyak 1200 orang perhari, dan kemudian menurun karena tidak produktif, hanya 100 an orang per hari. Walaupun begitu masih banyak orang yang menhubungi ku berdasarkan informasi di Blog, mulai dari mahasiswa, pasien HIV, TB maupun masyarakat lainnya. Berdasarkan pengalaman itu, tahun lalu saya memberanikan diri untuk mengajukan kegiatan pelibatan Blogger, saat dapat promosi dari kantor sebagai Technical Officer ACSM. Kompetisi Blogger ternyata banyak menghasilkan tulisan yang menarik, tiap serial dua minggu-an ada 100 an tulisan berkompetisi, kegiatan berlangsung selama 8 serial dan hasilnya adalah makin banyak informasi tentang TB di Internet, mulai informasi tentang Stigma dan diskriminasi tentang TB, sampai informasi tentang TB HIV.
Tahun ini dalam rangka perayaan TB Day, saya kembali mengusulkan untuk melibatkan kembali Blogger, setelah diskusi panjang, akhirnya jadilah rencana Workshop Blogger. Pertemuan team Subdit ( Devi, Nurul, Dangan dan Silvi), WHO (Dita) bersama saya dengan Pak Andjari dari Puskomplik semakin mambuka mata ku. Puskomplik sejak tahun 2014 telah juga melibatkan Blogger sebagai desiminator informasi tentang JKN. Jadilah gayung bersambut, sehingga munculah hastag #sahabatJKN #lawan TB. Blogger adalah desiminator informasi yang mumpuni, belajar dari keberhasilan Puskomlik dalam mensosialisasikan program JKN ke masyarakat. Pertemuan saya dengan beberapa pemilik blog dibawah ini membuatku ingin kembali belajar menulis. Luar biasa, ada semangat baru dalam diri ketika  berinteraksi; Mba Fadlun yang sering dipangil bapak fadlun, ayu yang begitu kuat dan tegar, abang tigor yang kocak, mas uwan yang baca puisinya nyampe ke hati, atau mas aris yang suka jalan di saat subuh, semuanya keren.  Saya melihat semangat yang kuat dalam membentuk ikatan, kegembiraan, kebersamaan,  kepedulian terhadap sesama. Semangat itu telah mendorong ku kini untuk menulis kembali. Sebagai penghargaan terhadap para Blogger, saya coba cantumkan alamat blog-blog mereka di tulisan ini.

8950_10152856637527909_8729549213163769251_n

http://www.elisakoraag.com
http://www.kompasiana.com/dhevianggarakasih
http://www.ivegotago.com
http://www.errornita.blogspot.com
http://www.andiniharsono.blogspot.com
http://www.defiranc.com
www,juleshwa.blogspot.com
http://www.hananoyuri.com
http://www.ibufadlun.com
nannisa7.blogspot.com
http://www.NurulMusyafirah.com
http://www.uwanurwan.blogspot.com
http://www.induny4w4w4. blogdetik.com
http://www.kompasiana.com/novita_maria
http://www.nunung-suryani.blogspot.com
http://www.wayakomala.web.id
http://www.duniaspasi.blogspot.com
http://ariss.id

http://www.catatan-efi.com
http://nuzululku.wordpress.com/
http://alaikaabdullah.com
http://www.nchiehanie.com/
http://www.anakkrim.info
http://www.kompasiana.com/tigoragustinussimanjuntak
http://bangaswi.wordpress.com
http://www.novawijaya.com
http://keluargafauzi.blogspot.com
http://www.dobelden.com
http://www.sumartisaelan.com & kompasiana/sumarti_saelan
http://www.fitrian.net
http://novariany.com
http://www.sukamakancokelat.com
http://www.orin.supriatna.web.id
http://www.nunikutami.com
http://halamancermin.blogspot.con
http://www.msmahadewi.com
http://www.punyapista.com
http://www.ajenangelina.con
http://www.catatanoshin.blogspot.com

Terimakasih, telah berbagi teman-teman #sahabatJKN #Lawan TB..

Pondok Gede, 7 maret 2014, malam hujan sepulang kantor.

 

Kasus HIV Tenaga Kerja Migran Di Taiwan

Saya beberapa minggu lalu dihubungi oleh satu orang sahabat dari Taiwan, yang mengetahui nomor kontakku lewat website ini. Dia mengaku baru saja tes HIV dan hasil nya positif. Nada kuatir, ketakutan dan tangisan terdengar lewat suara nya.

Saya terpaku mendengar ceritanya. Berusaha memahami apa yang sedang dialami, sambil dejavu dengan pengalaman ku sendiri. sebut saja Ganar, sahabat itu. Dia melanjutkan ceritanya, bahwa Lau Kung Tzi ( Kantor Departemen Tenaga Kerja Taiwan) memintanya untuk segera pulang ke Indonesia alias di PHK.  Agensi yang memberangkatkan tidak melakukan apa-apa. Walaupun hanya sepotong informasi tentang layanan bagi Orang terinfeksi HIV di Indonesia. Dia meminta waktu untuk mempersiapkan semuanya.  Lewat Website, akhirnya mempertemukannya dengan saya.

Bagi Tenaga kerja migran, ketika dia terinfeksi HIV ada  ketakutan mendasar :

1. Ketakutan akan infeksi HIV sendiri, sebagai penyakit yang belum bisa disembuhkan

2. Ketakutan kehilangan sumber mata Pencaharian karena alasan di PHK. Kebanyakan tenaga Kerja migran merupakan tulang punggung keluarga. ada beban berat sebagai orang yang menghidupi keluarga.

3. Kehilangan masa depan. Bagi Ganar, Infeksi HIV telah membuatnya kehilangan mimpinya; ingin membelikan rumah buat orang tua, membiayai pendidikan ponakan dan mandiri secara finansial.

4. Ketakutan menghadapi pertanyaan keluarga terkait resiko infeksi.  Bagi ganar, dia kesulitan menjelaskan  resiko infeksi, Orientasi seksual yang dia miliki

Ketiga ketakutan ini membuatnya hampir setiap hari menghubungiku. Ganar termasuk yang terpelajar, sehingga bisa mencari bantuan dengan mencari informasi dan bantuan lewat internet. Paling tidak dia bisa mendapatkan dukungan, seperti saat ini, dia mendapatkan dukungan dari Positive rainbow. Menurut Informasi yang dia terima dari seseorang petugas pendampingnya di Taiwan sana, sebelumnya ada 7 TKI lain yang langsung di pulangkan tanpa diberikan informasi terkait layanan pengobatan dan dukungan terhadap Odha di Indonesia.  Kantor Dagang Ekonomi Republik Indonesia di Taiwan, ternyata belum melakukan apa apa terkait issue ini. Akan bagaimana kah Nasib para Pahlawan devisa kita di rantau sana, saat tak ada perlindungan dan pendampingan dari Negara???

Yang Ranjang, Yang Politis

oleh : Hartoyo

Suarakita.org – Empat pasang gay di Jombang-Jatim diintai dan kemudian digerebek oleh warga dan kemudian diserahkan ke Polisi. Dapat dibaca beritanya disini

Kejadian itu walau tidak persis sama dengan apa saya alami pada Januari 2007 di Banda Aceh, Saya juga diintai, digerebek, ditelajangi dan disiksa oleh Polisi. Semua hanya satu alasannya, karena Aaya dan juga empat laki-laki di Jombang itu adalah seorang gay, penyuka sejenis yang sedang melakukan ekspresi seksual sejenisnya. Itu haram dan layak untuk dipermalukan, menurut para pelaku.

Sebagai seorang gay dan juga aktivis isu ini, Saya tentu akan bertanya, “ Apa urusan pihak lain sampai melakukan kontrol atas kelamin dan nafsu kami sebagai seorang gay?”, “Sejak kapan para pelaku punya mandat urus kelamin kami?”.

Setiap orang, lembaga agama dan negara seperti punya wewenang melakukan kontrol sistematis atas tubuh kami sebagai gay. Tentu tidak usah dibahas lagi bagaimana stigma dan kekerasan yang dialami oleh keempat pasangan gay tersebut, baik yang dilakukan oleh masyarakat maupun kepolisian. Bahkan keempat korban sangat rawan penyiksaan dan pemerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian. Bahkan setelah kasus ini selesai, stigma akan terus berlangsung di lingkungan sosial. Mengerikan hidup di negara yang katanya beragama tetapi jauh dari nilai-nilai agama.

Apakah mereka (keempat gay) itu melakukan pelanggaran hukum? Secara formal Indonesia tidak mempunyai hukum (KUHP) maupun kebijakan lainnya yang mengkriminalkan homoseksual. Dalam Undang-Undang Pornografi, seorang atau lebih homoseksual hanya akan dihukum ketika menyebarkan dan membuat konten yang masuk kategori pornografi. Aturan itu bukan hanya berlaku untuk homoseksual saja tetapi juga berlaku untuk heteroseksual. Tetapi poinnya jika dipublikasikan ke publik, jika dalam ruang private menjadi bukan kriminal.

Dalam kasus empat pasangan gay di Jombang itu, berdasarkan keterangan media, mereka justru diintai oleh warga, digerebek dan yang penting jika memang benar mereka melakukan praktek seksual, semua dilakukan dirumah kontrakan yang mereka miliki. Ruang private bukan ruang publik.

Justru dalam KUHP orang yang mengintai dan menggerebek kamar dan memaksa orang lain dapat dikenakan sanksi hukum. Saya yakin polisi Jombang tidak akan berani bertindak pada warga, mungkin juga polisi justru “mengiyakan” apa yang dilakukan oleh warga sebagai sesuatu yang benar. Bahkan mungkin sekali Polisi akan menjadi pelaku selanjutnya pada keempat korban. Inilah fakta kualitas polisi Indonesia.

Jika dilihat dari perpektif publik mainstrem, minimal dari membaca komentar-komentar pembaca berita itu, sangat sedikit bahkan mungkin tidak ada pihak yang empaty dan berpihak pada keempat pasangan gay sebagai korban. Berbagai hujatan dan cap tak bermoral dilekatkan kepada keempat pasangan gay itu. Dan yang biasa dilontarkan adalah, homoseksual selalu kasus dengan urusan “selangkangan”.

Apalagi mereka (keempat gay tersebut) umumnya sudah berumur diatas 30 tahun dan dipastikan sebagian sudah menikah dengan perempuan dan punya anak. Belum lagi status pekerjaan sebagai pegawai negeri dilekatkan dengan moral sex mereka. Itulah situasinya sekarang.

Mungkin kita ketika melihat praktek seks bersama-sama seperti yang dilakukan oleh keempat gay itu jika terjadi pada pasangan heteroseksual tetap akan menilai sesuatu yang “amoral”, tetapi akan menjadi sebagai “kenakalan” laki-laki. Padahal faktanya praktek seksual seperti itu bisa terjadi oleh siapapun, bahkan kasus penangkapan mantan Presiden PKS bersama Fathana juga melibatkan perempuan yang banyak pihak yakin ada praktek transaksi seksual dalam kasus korupsi.

Padahal jika ingin jujur, praktek seksual yang dianggap sebagai “sex party” yang terjadi di kelompok homoseksual maupun heteroseksual banyak terjadi dimanapun, mau dikelas ekonomi bawah maupun atas. Bahkan ketika masyarakat tanpa kelas-pun ala Karl Marx praktek-praktek sex bersama-sama juga tetap akan ada.

Tetapi masyarakat dan negara ingkar akan keberadaan orientasi seksual lain selain heteroseksual. Manusia seperti “didesign” sedemikian rupa untuk menjadi seorang heteroseksual. Padahal dalam sejarah peradaban manusia, dimanapun selama ada kehidupan manusia maka disana ada homoseksual, biseksual maupun heteroseksual. Bahkan dalam sejarah nusantara, homoseksual juga menjadi seksualitas yang tumbuh di sejarah perabadaban nusantara, tanpa penghakiman dan kekerasan seperti yang dialami sekarang ini.

Sayang pada konteks sekarang khususnya Indonesia, kelompok heteroseksual sangat mendapatkan ruang yang sangat “istimewa”. Homoseksual sebagai orientasi bukan hanya tidak diakui tetapi juga disingkirkan sebagai sesuatu yang “menyimpang” .

Jika mengambil analisis bapak Sosiolog asal Perancis, Emile Durkheim bahwa homoseksual sebagai sesuatu yang “anomi” yang dapat menganggu sistem struktur sosial masyarakakat. Sehingga karena dianggap anomi maka layak untuk disingkirkan untuk membangun integrasi sosial yang kuat, bermoral dan religius. Sehingga menjadi tidak heran masyarakat dan negara seperti layak melakukan teror,mengintai dan menggerebek apa yang dialami oleh saya di Aceh maupun keempat pasangan gay di Jombang tersebut.

Tetapi bagaimana dengan kelompok heteroseksual? Walau sebenarnya kelompok ini juga mengalami kontrol sistematis oleh lembaga agama, adat dan negara tetapi ada sedikit ruang dan pilihan. Misalnya jika tidak ingin dianggap “zina” maka ada ruang sosial lain yang disebut lembaga pernikahan.

Seksualitas kelompok heteroseksual dirayakan dan disucikan praktek-praktek seksual mereka, walau tentunya dalam koridor hubungan sex yang dikontrol oleh agama dan negara seperti masuk dalam lembaga. Walau sebagian kelompok feminis menolak institusi perkawinan itu, tetapi masih ada ruang ekspresi seksual bagi heteroseksual, tetapi sama sekali tidak bagi kami kelompok homoseksual.

Kelompok homoseksual sudah dimatikan sejak kecil ekspresi seksualnya, jika terlihat maka layak untuk diintimasi dan diserang sebagai individu maupun kelompok. Itulah yang terjadi dalam hidup saya dan teman-teman homoseksual di Indonesia, hidup dalam terus dikontrol bahkan diperkosa secara sistematis.

Akibatnya kelompok homoseksual di Indonesia memilih untuk “sembunyi” sebagai pencinta sejenis. Dampaknya apa? Umumnya (mungkin lebih 90 persen) homoseksual di Indonesia melakukan praktek pernikahan secara heteroseksual dan mempunyai anak layaknya umumnya pasangan heteroseksual. Tetapi disisi lain hubungan seksual sejenisnya tetap berlangsung, seperti yang terjadi pada pasangan gay di Jombang tersebut.

Setiap dari kita seperti ingkar bahwa seorang homoseksual ada disekeliling kita, hidup bersama kita. Mungkin saja kakek-nenek, ayah-ibu,adik-kakak ataupun sahabat-sahabat kita. Diri kita tidak pernah menanyakan pada diri kita sendiri atau empati pada situasi ini. Akibatnya bukan hanya homoseksualnya sendiri yang “tersiksa” menjadi korban tetapi juga para pasangannya, anak-anaknya atau keluarga yang tentu juga menjadi korban atas situasi yang heterosentris (kebenaran hanya heteroseksual).

Untuk itu, terakhir saya mengusulkan mulailah membuka pikiran dan hati kita bahwa ada orientasi seksual selain heteroseksual. Orientasi seksual homoseksual,biseksual itu “inherent” atau melekat dalam diri seseorang seperti juga heteroseksual. Bahkan penyatuannya jauh lebih melekat dari sebuah keyakinan agama. Karena mungkin saja orientasi seksual (baca homoseksual) sebuah hal yang genetis, sedangkan keyakinan agama jelas bukan sebuah genetis. Misalnya, seorang gay yang lahir di Indonesia dan menjadi muslim tetapi ketika lahir di Israel kemungkinan besar akan penganut non muslim, tetapi ke-gay-annya akan tetap melekat pada individu tanpa terbatas ruang dan waktu. Inilah yang Saya maksud kelekatannya jauh lebih melekat daripada sebuah keyakinan apapun.

Sehingga hanya dengan memberikan pengakuan dan penempatkan yang

bagi homoseksual, biseksual dan heteroseksual untuk mengakhiri diskriminasi dan ketidakadilan yang selama ini terjadi. Karena hanya dengan itulah esensi kemanusiaan, keberagamaan dan kebangsaan kita diuji. Persoalan kasus empat gay Jombang dan kasus saya di Aceh jelas bukan sebatas persoalan “ranjang” semata, tetapi ini ada persoalan struktur yang sangat tidak adil pada mereka yang berbeda. Struktur negara yang ditopang oleh institusi agama, itulah yang seharusnya dibongkar untuk menjadikan bangsa yang tidak sibuk berperan sebagai polisi kelamin.

*Direktur Perkumpulan Suara Kita
http://www.suarakita.org/2013/10/yang-ranjang-yang-politis/

Mayapada Grup ( dr Tahir) Menyumbang 65 Juta Dolar ( US) Untuk Program AIDS, Tuberkulosis dan Malaria

Dr Tahir, pimpinan dari Mayapada Grup ( http://en.wikipedia.org/wiki/Mayapada ) menyatakan komitmen nya untuk menyumbang sebesar $ 65 Juta lewat Gates Foundation untuk Global Fund ( GF ATM / Global Funds To Fight AIDS, Tuberculosis and Malaria). Dana Sumbangan Dari Dr Tahir akan diperuntukan bagi program AIDS, Tuberkulosis dan Malaria di Indonesia . Gates Foundation tahun ini menyumbang $130 juta kepada Global Funds. &5 % dari sumbangan tersebut akan diperuntukan untuk indonesia atau setara $ 97,5 juta.
Dr Tahir juga berkomitment untuk mengajak konglomerat lainnya di Indonesia untuk lebih peduli dan memberikan donasi bagi pembangunan Kesehatan. Menurut beliau CSR ( Corporate Social Responsibility) adalah hal Berbeda dengan sumbangan ( Filantropis).
Untuk menjawab komitment ini, semua pemangku kepentingan dalam program AIDS, Tuberkulosis dan Malaria di Indonesia untuk lebih meningkatkan exit Strategy bagi program pengentasan, pengobatan dan dukungan bagi Pasien AIDS, Tuberkulosis dan malaria.

Sumber : CCM Indonesia