LUNA MAYA (I)

“JANGAN BILANG NAMAKU LUNA!”

Hari sudah mulai beranjak malam ketika kusahut telponku yang berdering. ”Da, temanku Luna sakit da, udah dua hari” suara Dio terasa seperti lewat begitu saja. “Uda bisa datang ngak?” kondisinya agak parah. malam ini dibawa ke kost an ku” Suara si Ndut, gw biasa panggil dia, seperti tidak memberi kesempatan buatku bertanya. “Dio, aku lagi  di jalan bawa motor, ntar aku ke tempatmu’ singkat jawabku, lalu kupacu kembali motorku di bawah cahaya remang lampu jalanan ibu kota yang mulai bersolek genit.
Jam 11 malam ku ketuk pintu rumah Dio, ku lihat dia semakin sehat. ” Mana Luna?” tanyaku. ”Dia di dalam” jawabnya. Malam ini pertama kalinya kulihat wajah Luna yang kuyu, ada kumis tipis yang membuatnya terlihat lebih tua. Tulang lututnya menyembul lewat celana pendek yang dipakainya. Dua bulan sebelumnya, aku melihatnya di beberapa acara sebagai bintang panggung yang jelita, tapi kali ini, terlihat seperti manusia yang berbeda.Luna, si semampai yang jelita, bagai bintang film luna maya. Pandangan ku mencoba menelisik lebih jauh, tapi tak satupun sisa kecantikan sang bintang panggung itu ku temui saat ini.
Sebagai manajer kasus di sebuah lembaga peduli Aids pikiranku langsung menuntunku untuk bertanya tentang status HIV nya. Dio,Cuma bisa mengelengkan kepala, saat malam semakin larut, ku naiki motorku pulang ke rumah, setelah pastikan Dio, membawa Luna untuk VCT esok hari.
Seminggu, setelah ku terima surat rujukan dari konselor di PKBI, Kudapati Luna semakin ringkih, tulang-tulang menyombongkan diri di balik kulit lusuhnya. Dio bilang sudah dua hari dia diare. Aku terpaku, di balik gorden merah jambu milik dio. Ku mulai berhitung tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Sampai hari ini Luna tak mau memberitahu satu alamat keluarga yang bisa dihubungi. Jawaban selalu tidak punya no telpon dan tidak tahu alamat jelas untuk sekedar memberi tahu tentang kondisinya hari ini.
Luna, si ratu panggung yang selama ini kukenal hanya mengeluh tentang bosnya yang tiba-tiba tidak lagi mengizinkanya untuk tinggal dirumahnya, tentang pacarnya yang akhirnya mencari-cari alasan untuk mencampakan semua rencana indah yang pernah mereka rajut bersama. Tentang teman-temannya yang selama ini selalu memujanya dan menunggu penampilan anggunnya di panggung-panggung pesta. Tentang  kebiasaannya mereguk sperma di sebuah bioskop tua. Tentang tukang-tukang ojek yang di gilir bersama. Tentang brondong yang menyerahkan keperjakaannya demi alasan duit receh lima belas ribu rupiah. Tentang pandangannya bahwa HIV dan sipilis bisa di tolak dengan odol dan sebutir antibiotik dari toko di pramuka. Luna bercerita tentang semua detail hidupnya, tapi tak pernah sedikitpun antusias jika ku tanya, ”keluargamu ada di mana?”

Selasa di minggu terakhir desember 2008
Jam 9 pagi aku sudah sibuk di IGD RSCM, Luna, si bintang panggung dalam perjalanan di temani Dio si baik hati. Kondisinya drop, tadi malam. Berbekal keberanian dan kemanusian luna di putuskan dirawat, tanpa duit sepeserpun. Setengak panik, ku siapkan semua administrasi untuk menyambut kedatangannya. Ku ingin dia terlayani dengan baik, ku ingin dia bisa lagi tampil mengisi acara di panggung para diva. Ya, Luna adalah diva, diva dengan kreativitas yang segudang, dia Di panggung bagai diva dunia, Celine Dion, dan Kadang berdandut se sempurna I’is Dahlia diva  dangdut di nusantara. Ya, Luna, ku ingin kau tetap jadi diva, semangatlah…. ku katup bibirku saat ku bopong tubuhnya dari taksi, saat matahari sepengalah redup di mendung kening Luna yang terkulai.

Sehari sudah Luna dirawat di IGD RSCM, tubuhnya melemah, beberapa kali ku coba desak agar ia memberi ku sedikit informasi tentang keluarganya. ” Luna, keluarga mu perlu tahu, kalau sesuatu yang buruk terjadi”. Dia diam matanya menerawang loteng putih rumah sakit. Bibirnya ngak juga bergerak, kuyakini dia dengan sedikit tekanan. ” Lun, kalau tidak ada penjelasan apa-apa dari kamu, aku takut nanti Dio yang di minta pertanggungjawaban oleh keluargamu, kamu ingin dia dapat masalah?”. dia sedikit memberi respon. ” Aku takut mas!”. lirih suaranya, tapi membuatku jadi bersemangat. “kenapa LUN?” tanya ku pelan. ” Aku takut, kalo keluargaku nanti menanyakan, kenapa aku bisa kena penyakit ini”. Suara lirihnya menyadarkan aku pada konsep diri yang dimiliki luna maya.

Luna maya, ternyata masih belum bisa berdamai dengan dirinya ( meminjam istilah, temanku seorang penjangkau kelompok gay ( MSM ). Aku jadi merasa salah dalam memahaminya selama ini. Bukankah Luna sudah sempurna, sebagai bintang panggung cantik, di kagumi karena aura wanitanya?. Bukankah Luna, sudah sempurna, saat menjadi wanita, di pelukan lelaki perkasa, si tukang ojek yang merangkulnya mesra?. Bukankah luna sudah menjelma jadi Dewi uma, yang menyedot keperjakaan brondong lima belas ribuannya?.
Sejenak ku tertegun, ku pandang lagi matanya yang sedikit berair. ” Lun, tapi keluargamu harus tahu, biar ada yang merawatmu?” Aku, Dio, tak akan mampu merawatmu, kita punya keterbatasan, kita bekerja dan dio juga sakit”. Aku mencoba menyentuh hatinya dengan alasan ketidakmampuan kami. Luna terdiam, sepertinya otaknya sedang berpikir. ” Mas, janji ya, Jangan bilang namaku Luna maya”. Suara nya berdesis parau, sejenak kemudian, ku mulai mencatat alamat keluarga Luna maya. Gembira bersama telponku yang disambut keluarga Luna. Seperti janjiku pada Luna, ku akhirnya hanya bercerita tentang kondisi Luna maya yang terinfeksi HIV dan sedang berjuang di Tahap AIDS stadium empat. Seperti yang telah di duga Luna, keluarganya sempat bertanya tentang penyebabnya, ku hanya jelaskan bahwa HIV, bisa menular lewat pertukaran cairan, apakah itu darah, sperma, cairan kelamin atau air susu ibu.
Bersambung……. ( WWW.positiverainbow.wordpress.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s