ODHA DALAM MASYARAKAT KITA

Odha ( orang hidup dengan HIV )adalah bagian dari masyarakat yang bisa jadi adalah teman,  sahabat,  kenalan,  some one yang kita menghabiskan satu malam nan indah bersamanya, atau mungkin pasangan kita, suami atau istri sah kita , yang kita menghabiskan sebahagian besar waktu  bersamanya.  Sampai hari ini belum ada ciri tertentu terutama dalam fase awal yang bisa menandakan seseorang itu terinfeksi HIV atau tidak, kecuali lewat tes darah yang tentu saja hasilnya hanya untuk pribadi yang bersangkutan.

Beberapa saat yang lalu saya punya kesempatan yang sangat baik untuk bertemu seseorang yang baru saja tahu tentang HIV yang bersarang dalam dirinya. Dalam diskusi panjang kami, dia berpikir untuk mencari seseorang untuk bisa berbagi hidup dan kepedihannya saat itu. Ia bercerita banyak tentang libido yang mengebu ( umurnya baru 20 tahun )dan butuh penyaluran. Tetapi disisi lain ada ketakutan sendiri dalam dirinya untuk menulari orang lain dengan virusnya. Ia bimbang, dari sekian banyak masalah yang tengah di hadapi nya saat itu ( masalah buka status dg keluarga, kebinggungan akan status, depresi, rasa bersalah dan lainnya ) saya mencoba melanjutkan diskusi kami tentang keinginannya itu.

Dorongan seksual adalah sesuatu yang normal, bahkan sangat normal. Tapi bagi orang dengan HIV positif, akankah itu menjadi ‘normal’ juga? ini menjadi menarik walau aku bukanlah seseorang yang ahli dalam seksologi, tapi pelan ku ajak pikirannya menggembara dalam dasar-dasar penularan HIV, yang hanya bisa berpindah lewat darah, cairan vagina, sperma dan air susu ibu, ku ajak dia untuk berpikir. tentang proses apa yang sebenarnya terjadi saat berhubungan sex, lalu proses apa yang sebenarnya menyebabkan penularan HIV.
Dia kemudian berkata, ” berarti kalo saya pake kondom, maka siapapun pasangan saya tidak akan tertular mas?”
aku mengganguk mengiyakan, ” asal kondomnya yang berstandar internasional dan di simpan dan dipakai dengan cara yang aman” imbuhku. Tiba-tiba kulihat ada sebentuk kilat bahagia di rona mukanya.
“tapi, apakah saya harus kasih tahu kondisi saya mas?”
Pertanyaan ini membuatku terdiam, aku binggung sesaat, sebagai manusia biasa dan memposisikan diri berada dalam kondisi pasangannya, siapa pun itu. Pasti aku akan berlari secepat kilat. aku merasa tidak adil kalau dia sudah mengetahui statusnya dan membuatku memilihnya tanpa kejelasan. Kutarik nafas pelan, ku buang udara lewat hidung yang terasa menyempit. ” tidak harus” kataku berat

2 comments on “ODHA DALAM MASYARAKAT KITA

  1. pantang seks bagi ODHA memangharus dilakukan walaupun itu sedikit melanggar HAM (HAM-nya ODHA), tetapi disatu sisi orang lain juga memiliki hak untuk tidak tertular HIV?AIDS

    • Mungkin kalo kata harus sepertinya tidak tepat bung, karena menikmati seks adalah kebutuhan dasar dan hak semua org termasuk ODHA. tetapi saver dengan dengan kondom adalah kewajiban semua ODHA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s