Luna Maya (Part III)

Luna Maya Menuju Surga

Luna memulai perjalanan pulang saat langit di naungi awan perdebatan nan panjang.
Ketika ketakutan di bathin keluarga berbaur dengan rasa cinta. Ketika begitu banyak mitos yang seolah menjadi nyata. Keluarga gagap dengan stigma dari lingkungan yang seolah pasti mendera. Tercabik mereka ketika ku bilang luna butuh kehangatan keluarga, luna butuh aroma kasih yang bisa di inderai oleh penciumannya. Luna saat ini butuh elusan yang menyusur kulit nya yang pernah begitu halus sempurna. Luna butuh sapaan mesra keluarga saat makanan lewat di kerongkongannya yang berjamur candida.

Luna akhirnya memang di bawa pulang, saat semua cinta keluarga memagut erat hidupnya. Keluarga luluh setelah diskusi panjang di Lobby Irna A. Hilang semua duga yang selama ini menjadi pembatas antara luna dan keluarga. Dan atas nama cinta juga, keluarga tidak lagi peduli pada orientasi seks luna yang sepertinya telah dicerna keluarga. Keluarga adalah rumah terbaik buat memahami semua perbedaan. Bukankah cinta tidak akan membeda? Bathinku berharap, pulanglah Luna, nikmati masa penyembuhanmu.. Ku langkahkan kaki menuju parkiran motor ketika Ambulan membawa Luna menuju kota kelahirannya.

Dua hari kemudian

Ku coba hubungi keluarga Luna untuk pengobat keingintahuanku akan kondisinya. Kudapat kabar kalo Luna sudah bisa menelan nasi dan bercanda. Ku ungkap puja puji dengan penuh harap agar Luna bisa kembali ke Jakarta dan menjadi Diva. Keluarga telah menciptakan suasana yang baik bagi penyembuhan luna, pikirku.

Keterbatasan jarak, jakarta dan garut membatasiku untuk melihat kondisi luna, tetapi dengan informasi dari keluarga terterangilah seluruh keraguan tentang semua bisik-bisik bathinku yang pernah tidak yakin pada keluarga luna. Manusia memang mahkluk peragu, kadang malah penuh duga. Duga? Ya duga yang kadang sulit dibedakan dengan insting atau indera keenam yang bagi sebahagian orang begitu dipercaya.

Telah kuhubungi relasiku dibandung yang akan membantu pengobatan luna. Ku yakini keluarga terapi medis buat luna jangan sampai terhenti dalam mantera-mantera dan sesaji dari pengobatan alternatif yang pernah di bicarakan mereka. Hari ini harapanku semakin besar untuk kesembuhan Luna.

Awal tahun, merupakan bulan tersibuk setiap tahunnya. Banyak resolusi yang menuntut kerja keras. Tak terkecuali dengan ku, resolusi yang tertanam di kepalaku saat pergantian tahun dan kutempelkan dengan huruf besar di pintu kamar mandi butuh usaha yang keras buat memulainya. Apalagi jika resolusi itu berupa pengurangan waktu nongkrong yang ku alihkan untuk mengutak-atik laptopku dalam browsing dan menulis. Bagiku, ini kerja yang sangat berat. Tidak gampang memang menjauhi sesuatu yang menyenangkan tetapi kurang positif. Tapi tekadku, harus. Kudu. Wajib. He he he…

Ini malam ketujuh sejak Luna berada dalam suasana keluarga. Saat malam nan sepi dikamar, suara percikan air dari aquarium menemani jariku yang menekan tut tut komputer ku. Pikiran bertumpu pada tema tentang homophobia yang sedang ingin kutulis.
Telponku berdering, ku tingali tut –tut komputer, sekejap berikutnya, ku angkat esia sejuta umatku ( istilah teman-teman untuk esia murah ) ku dengar suara sedih di seberang sana. Aku terdiam, tatapanku seolah menjadi kosong, hampa sesaat. ” jam berapa mas?” tanya ku pelan memecah kebisuanku. ”Lima belas menit lalu” suara nya seperti mengambang di telingga ku. Ku tak dengar apa-apa lagi, harapanku untuk melihat luna di Pentas Para Diva musnah sudah. Ajal telah membawanya kembali ke surga.. Harapanku, ya surga… Luna pantas mendapatkan surga.. Bukankah surga adalah tempat bagi orang-orang yang mendedikasi hidupnya buat kebaikan dan kebahagian orang lainnya. Dan Luna, sang duplikat para diva telah membuatkan banyak mata terpesona, telah membuat sedih rela pergi dari pemujanya. Dan tawa bahagia menghilangkan semua tanya tentang adilkah Tuhan yang sejatinya bisa mengucapkan satu kata untuk menghilangkan diskriminasi dan stigma atas komunitasnya. Ya, Luna telah pergi setelah menhibur banyak pemuja.

Satu Diva telah menyudahi semua konflik batinnya. Manyudahi ketakutannya pada pendapat keluarga tentang orientasi seks yang di anugerahi padanya. Menyudahi semua tatapan binggung masyarakat akan gonta-ganti dandanannya. Menyudahi kepahitan hidup, yang membuatnya terhenti saat sejuta pentas sedang menunggu penampilannya. Luna ah Luna.

Setiap kematian di usia muda, ku selalu ingin bertanya apa yang salah pada mereka? Kematian Luna seharusnya bisa di cegah andai dia bisa tahu status HIV nya lebih awal. Andai luna tak takut atas stigma dan diskriminasi di klinik-klinik pemerintah. Andai luna teryakini bahwa antibiotik pramuka dan odol tidak akan mampu menolak sekian banyak infeksi saat dia bersenggama. Andai luna…. andai luna…. andai luna tahu tes HIV berlangsung sanggat rahasia. otakku di penuhi banyak hal… dalam sepiku dan sendiri.

Ku sendiri kembali dan beralih membuat tulisan tentang Luna maya.

2 comments on “Luna Maya (Part III)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s