Managing HIV; Adherence to HIV Therapy

What is medication adherence?
Adherence means that you take all your medicines exactly as they are prescribed. That means you take them when and how they are supposed to be taken. For example, if a medicine needs to be taken every 6 hours, adhering to that regimen means that you really take the medicine at those time intervals and that you don’t miss any dose. Adherence also includes how you take your medicines. For example, some medicines must be taken on an empty stomach to be effective, while others need to be taken with food.

How you can prepare for this discussion

* List daily activities that may interfere with regimens
* Note if you have had trouble adhering to medication regimens in the past
* Note your eating and sleeping habits

Why is adherence to HIV medications important?
The current recommendation for the treatment of HIV disease is called HAART—highly, active, anti-retroviral therapy. HAART regimens combine three or more HIV drugs that need to be taken according to strict dosing schedules. Adherence is important because missing a dose can cause the levels of the HIV in your body (viral load) to increase. Also, when doses are skipped there may not be enough medication in the body to stop the virus, which may allow the virus to become immune to the medicine. This may make the HIV medicines you are currently taking, or even new medicines that you may need to take in the future, ineffective. These drug-resistant HIV strains are much more difficult to treat.

How you can prepare for this discussion

* List daily activities that may interfere with regimens
* Take a look at your work and travel schedules
* List all prescription, over-the-counter medications and dietary supplements you are taking <
* Note if you have had trouble taking medications in the past

Why do people have trouble sticking with their HIV drug regimens?
Adherence to HIV medications is a challenge. Some people with busy lifestyles simply forget to take them. Others may find it difficult to manage the pills that need to be taken at specific times of the day. In addition, since some medicines cannot be mixed with certain foods, alcohol or other medicines, adhering to some regimens can be very complicated. People who may otherwise feel well may not be able to cope with some of the medication side effects. Others feel that taking medicines when they feel well reminds them of having a disease that they would rather not think about. Your doctor will want to know if you have had trouble with complicated medicine regimens in the past.

How you can prepare for this discussion

* List all dietary preferences or restrictions
* Note how much alcohol you drink
* Make a note of your daily routines and habits
* List any side effects to medications you have experienced in the past
* List all prescription, over-the-counter medications and dietary supplements you are taking

What are some strategies to keep the HIV medication regimen in track?
People who are contemplating beginning therapy are sometimes encouraged to first practice taking candies or mints as if they were the exact medicines in their regimen to see how well they can manage the regimen. Once you have decided to start therapy it will be important to integrate the regimen into your lifestyle. Some of the following strategies can help you adhere to your medication regimen:

* Use daily medication organizers or pillboxes
* Use an alarm device or electronic PDA
* Keep a medication diary and checklist
* Keep an extra supply of medicines on hand
* Integrate the regimen into daily routines
* Utilize a support network

How you can prepare for this discussion

* Look for patterns in your daily schedule
* Note how well you were able to take other medications such as antibiotics
* Think about who in your life might be considered part of your support network

What can my doctor do to help?
Although some people learn to cope with complex regimens, others can find it too difficult. Discussing these issues with your doctor will help him/her recommend a regimen that is a better fit for you lifestyle. Certain combinations of medicines can be chosen over others and dosages can sometimes be adjusted. To avoid missing doses because you were unable to obtain your medication, you may want to ask about drug assistance programs in your area.

How you can prepare for this discussion

* Write down your questions and concerns and bring them to your doctor's visit
* Educate yourself about new treatment regimens
* List all prescription, over-the-counter medications and dietary supplements you are taking
* Assess your insurance coverage and financial resources

Advertisements
By posrainbow Posted in 1

NAYLA: Saatnya Untuk Memilih

Nayla mengeser ujung jilbab putihnya melewati pundak. Kedua jari lentiknya membuhul kedua ujung nya. Panas masih terik, ketika dia buru-buru menaiki bendi untuk segera pulang. Hatinya galau mamang. Begitu banyak tanya yang seharusnya bisa ia lontarkan. Mulutnya terkunci. Membisu dia, sejak tahu rahasia apa yang diungkapkan Salman. Terlalu sulit baginya, menerima kenyataan, tak siap kehilangan dan merasa dipermainkan.

Galau mamang karano cinto. Harok habih baputiah mato. Di siko badan raso taniayo. yo taniayo, nan taniayo . Jikok jauh badan lah dakek. Katiko dakek kato talompek. Disitu hancua janji nan diikek.
( berkecamuk hati karena cinta, harapan habis putih lah mata. Badan terasa teraniaya. Ya teraniaya. Teraniaya. Jika dahulu jauh, sekarang telah dekat. Ketika dekat dan bicara, Saat itu hancur janji yang diikat.)

” Sulit Nayla, untuk menerima kenyataan ini. Aku sendiri butuh dua belas tahun untuk bisa berdamai dengan diriku. Untuk memahami kalau aku berbeda dengan uda –uda ku. Untuk mengerti kalau Tuhan menciptakan aku mungkin dengan tujuan tertentu. Dan ihklasku untuk menjalani takdirku.” Salman memainkan garpu di Piring berisi rujak aneka buah.

Nayla tetap diam membisu.

” Aku menyayangi mu dengan tulus. Dua kali pertemuan kita sebelumnya, aku mempersiapkan diri untuk bicara tentang keadaanku. Tapi egoku selalu berontak setiap kali Nayla bercerita dengan kebencian pada duniaku.” Salman menatap mata teduh di wajah Nayla yang keibuan.

Salman kembali ingat saat Nayla mengecam perkawinan sejenis. Dalam keyakinanya, menyukai sejenis adalah penyakit, karena itu harus disembuhkan. Ia membawa laknat tidak hanya kepada pelakunya tetapi juga kepada masyarakat lingkungan sekitar.

“Empat puluh rumah di kiri, kanan, depan, belakang akan tertimpa azab tuhan jika perbuatan itu dibiarkan. Pelegalan pernikahan sejenis adalah tanda kiamat semakin dekat. “.  Salman ingat sekali komentar Nayla saat membaca buletin yang berisi pernikahan sepasang gay di Negeri Belanda.

Ketidaksukaan Nayla juga terungkap, saat bercerita tentang dua orang waria yang bersamanya di dalam Angkutan Kota. Nayla langsung turun dari Angkutan kota karena tak sudi berbagi tempat duduk bersama mereka.

“Allah mengharamkan lelaki berpakaian wanita,” kata Nayla di telepon dengan emosi yang tinggi. Ia menumpahkan kemarahan pada Salman.

“Apakah menurut Nayla, pakaian ada jenis kelaminya? sebegitu detailkah Allah mengatur manusia? ”

“Bukan Allah uda, tapi masyarakat. Hukum Allah menyesuaikan dengan budaya. Allah ingin ada Furqon yang tegas antara lelaki dan perempuan. Kalau lelaki, ya harus seperti lelaki. Islam agama yang tegas dan bukan ambigu. waria itu tidak jelas maunya, setengah-setengah. laki-laki tidak perempuan tidak. Allah mengutuk mereka.” Nayla mengoceh panjang lebar. Salman akhirnya diam di Ujung Telepon. Ia ingin membantah Nayla. Tapi percuma. Salman mengerti sifat-sifat dan tabiat nya.

Sejak Lima tahun lalu, Salman ingin bicara tentang dirinya yang berbeda. Roman yang tinggal serumah dengan nya di Jakarta. Cinta dan hasrat yang tidak hanya kepada wanita. Adiksi seks yang melenakannya. Malam-malam panjang pencariannya di Jalanan Ibu Kota. Beberapa kali Salman mencoba untuk terbuka. Selalu ada tembok besar yang menghalangi. Tembok keyakinan milik Nayla.

Cinta dan keinginan yang besar untuk menikah membuat Salman bicara. Ia tidak ingin berbohong sepanjang pernikahanya dengan Nayla. Kemunafikan sudah membuatnya ingin muntah . Jarak Jakarta dan Padang membuatnya bisa berkamuflase. Tapi jika telah bersama tak akan cukup waktu baginya untuk merubah wajah. Hati kecil meringkik agar lidah nya tak kelu di depan Nayla. Semua ini harus diungkap apapun resikonya. Aku harus mampu bisik hati kecilnya . harus…..

Nayla hanya menatap diam, saat ombak laut Padang menghempaskan diri ke Pantai pasir putih. Sepasang Camar bermain di Bibir ombak. Harapan nayla terbang melayang bersama kepak sayap nya.

” Aku memilih jujur agar kau bisa memilih ku dengan alasan yang sempurna. Andai pun Nayla memilih yang lebih baik dari ku. Aku ihklaskan untuk bahagiamu. Aku akan tetap menjadi abang mu”

Nayla diam sambil memelintir jari-jemarinya. Salman berbicara dengan muka pucat, terlihat kesungguhan di Wajahnya. Terlalu sulit baginya berbicara tentang hasratnya yang berbeda. Hasrat yang datang tanpa diminta nya. Ia masih ingat tentang mimpi basah pertama dua puluh tahun lalu. Bercinta bertiga di ruang sekolah. Ia berhasrat tidak hanya pada Lia tapi juga Jhon, kakak kelasnya. Orgasme dalam tidur itu menimbulkan rasa penyesalan luar biasa . Apalagi ketika di Sekolah mukanya merah saat berpapasan dengan mereka.Terbawa hasrat mimpinya ke alam nyata. Namun rasa takut dan bersalah,  membuatnya membatu sendiri. Ia sembunyikan mimpi itu pada teman, keluarga bahkan Nayla, sang kekasih permata hati.

Rasa sayang pada Nayla, yang menunggu selama bertahun-tahun, mendorongnya untuk terbuka. Bukankah kejujuran adalah puncak dari kasih sayang? Dan bukankah kejujuran awal yang baik untuk memulai hidup baru?. Hidup dalam rumah dengan dinding kayu mahoni, di Daerah Persawahan Lunang nan permai. Perjalanan mereka ke kota kerinci menautkan hati Nayla ke Desa itu. . Ingin nya bisa membesarkan anak-anak hasil pernikahan mereka diiringi dendang gemericik air sungai siang dan malam. Impian ini yang selalu ditulis Nayla dalam setiap suratnya selama ini. Salman tak punya satu kosa kata pun untuk menyanggahnya.

Taratak, pasanyo sanjo. Urang Jalamu, pai mangaleh. Taragak hati indak basuo. Lah batamu makonyo cameh. ondeh tuan oiiii… buruak nyo badan. De tuan oiiii…..
( Taratak, pasarnya senja. Orang Jalamu pergi jualan. Rindu hati ingin bertemu. Setelah bertemu menjadi cemas. Oh tuan… jeleknya nasib… oh tuan oi )

” Nay, aku tahu kesulitanmu untuk memahamiku. Aku tahu kondisi bathinmu, berpikirkanlah dengan tenang. Aku akan menunggu sampai kamu bisa mengambil keputusan. Ini akan jadi hari berat sebelum kepulanganku ke Jakarta. ” Salman menatap Nayla yang masih tertunduk tanpa bahasa. Dia berdiri dan pergi. Saat bersamaan, Nayla bangkit dan membenahi Jilbab putih nya yang melayang dibelai angin Pantai Padang nan permai.

Bandara Minangkabau dua hari kemudian

Salman siap berangkat ke Jakarta. Tangan menenteng sekardus oleh-oleh bermerk ” Puti Andam Dewi”, di Punggung tas ransel warna hitam seperti memberati langkahnya menaiki eskalator.Waktu nya untuk kembali ke Rantau. Mengumpulkan setiap mimpi lewat usaha keras.

Karatau madang di Hulu babuah babungo balun. Marantau bujang dahulu dirumah paguno balun (pantun yg melandasi semangat merantau anak-anak muda Minangkabau )

Sekeping hatinya masih tertinggal bersama Nayla. Dua hari Nayla tanpa kabar. Salman tak ingin mempengaruhinya. Ihklas. Siap menerima apapun pilihan Nayla. Menjadi suami Nayla dengan kebohongan tidak lebih baik baginya dibanding dicampakan Nayla setelah kejujurannya.

Tiba-tiba Hp Salman berbunyi ” Da, masihkah uda mencintai Nayla setelah kejadian kemaren? Nayla belum siap untuk berpisah dengan alasan apapun.” Salman mencium Handphone dalam gengamannya.

Setengah berlari dia menuju pesawat yang siap membawanya ke Jakarta. Di sepanjang perjalanan hati salman berdansa dengan angan-angan nya. Lepas sudah semua keraguannya akan Nayla. Cinta telah membuat Nayla mau menerimanya.

Ruso kuniang tabang ka Rimbo. Rimbo ba pudiang basusun tigo. Susun katigo jadi pamenan. jadi pamenan. jadi pamenan. kaba carito tantang si Salman. Salmam barangkek jo hati sanang. Raso digangam cinto nyo kini. diambiak Laptop nan di Ranselnyo, di Sinan bakato-kato la inyo kini. Dirangkai huruf manjadi kato. disusun kato jadi kalimaik. jadilah surek untuak ka kampuang. Ikola isi sureknyo nan tun. Ka jadi basandiang yo jo Nayla. Yo jo Nayla…. yo jo nayla….

(Rusa kuning lari ke Rimba. Rimba dipenuhi puding ( sejenis tanaman perdu dengan daun berwarna warni aneka rupa, biasanya jadi pagar hidup di Taman dan rumah di Minangkabau tempo dulu) bertingkat tiga. Bagian ketika jadikan permainan. Jadikankan permainan. jadikan permainan. Salman berangkat dengan hati senang. Lewat laptop dipesawat ditulis surat ke kampung. Isi suratnya tentang rencana perkawinan nya dengan Nayla).

Jakarta Rabu, 30 September 2009 jam 18.00.

Salman baru sampai di Kontrakannya. TV one menyiarkan berita tentang bencana gempa terjadi di Padang dan Padang Pariaman. Bergetar badan nya. Pikirannya kalut. Rencananya untuk menelpon Nayla buyar ketika semua nomor yang menuju Nayla hanya dijawab operator. Pikiran nya terasa membatu. Raga nya seolah tak lagi bernyawa. Takut nya pada semua imajinasi tentang bencana yang dasyat. Semalaman dia bolak-balik dari teras sampai kamar mandi. Kekokohan jazad nya meredup. Salman terduduk di Pintu kamar. Berita tentang bencana Padang merengut semangat hidupnya yang bergelora sejak menerima SMS dari Nayla.

Kamis , 1 Oktober 2009 jam 16.00 di Bandara Soekarno Hatta

Salman terlihat pucat, Kaos putih nya belum diganti sejak keberangkatanya ke Jakarta. Rambutnya yang biasa rapih terlihat kusut. Tak terlihat lagi langkah mantap dan senyum yang menemani wajah klimisnya. Ia ingin secepatnya melihat Jazad Nayla yang ditemukan di Gedung Bimbingan belajar GAMMA tempatnya mengajar. Ia ingin memeluk Nayla untuk mengucapkan terima kasih atas Cinta dan kasih yang mampu memahami  perbedaan diri nya. **********

Kenangan: Jejakku Masih Sempurna

Sepanjang jalan kenangan, lagu ini seolah mewakili perjalanan ku ke padang kali ini. Makan di Warung Etek Sinar, nasi yang di penuhi gulai, rendang, sambal plus annyang daun papaya muda dan kerupuk jengkol terasa lebih nikmat dan lebih pedas. Entah karena lidah ku yang mulai terbiasa dengan makanan di Jakarta yang lebih manis atau panas kota padang, keringat ku mengalir deras, tissue dari Id, menghapus keringat di wajah dan leherku. Kuliner berikutnya yang tak pernah terlewati adalah makan kapalo Ikan di Bungus, luar biasa.

Menyusuri pedestrian Di Sepanjang Batang Arau, dari gedung Bank Dagang Negara ( sekarang bank Mandiri ) sampai Jembatan Siti Nurbaya dan pantai padang yang eksotis mengingatku pada seseorang. Seseorang dengannya aku pernah meneguhkan komitmen untuk berani menghadapi setiap penghalang agar cinta yang dirasa Abadi. Aturan keluarga, Adat-istiadat bahkan agama sepertinya bukan sesuatu yang menakutkan.

“Aku siap untuk berhenti kerja dan kehilangan hak dalam keluarga”

Kata-kata Yos membuatku tersanjung dan merasa sangat berharga. ( Yos saat itu sbg manager penjualan lokal di Perush kayu keluarganya dan aku masih mahasiswa). Aku masih tetap bahagia walau setahun setelah malam itu ia menikah dengan pilihan orang tuanya. Aku bersyukur pernah mengenalnya. Aku gigit bagian terakhir dari jagung bakar, Debur ombak dan dinginnya angin malam pantai padang membuat ku segera berlalu. Takut ku emosi dapat merubah mood ku.

Next destination, Taman Budaya Padang, Walau sedang di lakukan renovasi besar-besaran, hampir di setiap bata dan genteng bekas yang berserakan aku menemukan serpihan kenangan saat Nicholay Von Tonslaman mengajari ku step-step dansa, Cha cha cha, Rumba, Tango, Sestorka dan tarantella de peppina…. Nicholay dengan sabar melenturkan kaki ku yang kaku. Aku ingat genggaman tangannya di jariku yang kadang sedikit keras.

“ Aku tak menyangka kamu bisa tampil sebagus tadi”

Kalimat yang dibisikan di telinggaku saat pementasan perdanaku membius dan membuat aku yakin kalo dansa bahagian dari hidupku sampai saat ini.

Melewati Gang sempit samping kantor Pos Besar Kota padang. Bagian kegilaan ku yang lain yang masih terekam jelas dalam benakku. Begitu banyak gairah yang tertumpah bersama desiran bayu di daun pohon Waru dan sudut sempit warung-warung fhoto copy. Setiap sudutnya masih sama, tempatku pernah menuangkan segenap sakit hati dan kecewa terkhianati lewat gairah muda yang panas dan nyeleneh. Saat itu hampir setiap malam menjadi malam jahanam. Seolah tidur ku tidak akan pulas kalo tidak mampir walau sekejap. Desakan untuk segera menyelesaikan Skripsi dan pekerjaan di KAP Gaffar Salim dan Rekan akhirnya bisa membunuh kegilaan ku. Mataku tertegun saat seseorang menepuk pundakku.

“da, bilo datang? Dima Kini? Lah berapa anak?”

Ku mencoba mengingatnya. Oh ya, bukankah Dia yang dulu meringkuk kesakitan di pojok kaki pohon waru tua. Dia yang dahulu menjadi pelampiasanku. Ternyata saat ini memiliki 3 anak. Walau mengaku tidak bahagia dengan pernikahannya karena merasa pernikahan hanya kewajiban untuk keluarga dan status sosial di masyarakat, aku yakin waktu bisa merubah banyak hal. Kisah dia yang meringkuk kesakitan itu membuatku semakin yakin ku harus terbuka dengan Id tentang kehidupanku, masa lalu dan kini ku. Ku semakin teguh, kejujuran modal awal dalam pernikahan, dan jika Id tidak bisa menerima keadaan ku, paling tidak aku telah jujur dan keputusannya akan ku terima dengan ihklas.

Bulan separoh masih sembunyi di balik awan, dan daun pohon waru masih mendendangkan nyanyian malam. Beberapa pensil ( istilah utk tren baru PPS padang ) berputar di depanku dengan Mio nya, ku langkahkan kaki kembali ke Hotel. Walau tanpa menumpahkan gairah nakal ku, ku yakin ku bisa tidur pulas dan ketemu ID sesudah sarapan pagi.

Padang, 22 September 2009.

By posrainbow Posted in 1