Kenangan: Jejakku Masih Sempurna

Sepanjang jalan kenangan, lagu ini seolah mewakili perjalanan ku ke padang kali ini. Makan di Warung Etek Sinar, nasi yang di penuhi gulai, rendang, sambal plus annyang daun papaya muda dan kerupuk jengkol terasa lebih nikmat dan lebih pedas. Entah karena lidah ku yang mulai terbiasa dengan makanan di Jakarta yang lebih manis atau panas kota padang, keringat ku mengalir deras, tissue dari Id, menghapus keringat di wajah dan leherku. Kuliner berikutnya yang tak pernah terlewati adalah makan kapalo Ikan di Bungus, luar biasa.

Menyusuri pedestrian Di Sepanjang Batang Arau, dari gedung Bank Dagang Negara ( sekarang bank Mandiri ) sampai Jembatan Siti Nurbaya dan pantai padang yang eksotis mengingatku pada seseorang. Seseorang dengannya aku pernah meneguhkan komitmen untuk berani menghadapi setiap penghalang agar cinta yang dirasa Abadi. Aturan keluarga, Adat-istiadat bahkan agama sepertinya bukan sesuatu yang menakutkan.

“Aku siap untuk berhenti kerja dan kehilangan hak dalam keluarga”

Kata-kata Yos membuatku tersanjung dan merasa sangat berharga. ( Yos saat itu sbg manager penjualan lokal di Perush kayu keluarganya dan aku masih mahasiswa). Aku masih tetap bahagia walau setahun setelah malam itu ia menikah dengan pilihan orang tuanya. Aku bersyukur pernah mengenalnya. Aku gigit bagian terakhir dari jagung bakar, Debur ombak dan dinginnya angin malam pantai padang membuat ku segera berlalu. Takut ku emosi dapat merubah mood ku.

Next destination, Taman Budaya Padang, Walau sedang di lakukan renovasi besar-besaran, hampir di setiap bata dan genteng bekas yang berserakan aku menemukan serpihan kenangan saat Nicholay Von Tonslaman mengajari ku step-step dansa, Cha cha cha, Rumba, Tango, Sestorka dan tarantella de peppina…. Nicholay dengan sabar melenturkan kaki ku yang kaku. Aku ingat genggaman tangannya di jariku yang kadang sedikit keras.

“ Aku tak menyangka kamu bisa tampil sebagus tadi”

Kalimat yang dibisikan di telinggaku saat pementasan perdanaku membius dan membuat aku yakin kalo dansa bahagian dari hidupku sampai saat ini.

Melewati Gang sempit samping kantor Pos Besar Kota padang. Bagian kegilaan ku yang lain yang masih terekam jelas dalam benakku. Begitu banyak gairah yang tertumpah bersama desiran bayu di daun pohon Waru dan sudut sempit warung-warung fhoto copy. Setiap sudutnya masih sama, tempatku pernah menuangkan segenap sakit hati dan kecewa terkhianati lewat gairah muda yang panas dan nyeleneh. Saat itu hampir setiap malam menjadi malam jahanam. Seolah tidur ku tidak akan pulas kalo tidak mampir walau sekejap. Desakan untuk segera menyelesaikan Skripsi dan pekerjaan di KAP Gaffar Salim dan Rekan akhirnya bisa membunuh kegilaan ku. Mataku tertegun saat seseorang menepuk pundakku.

“da, bilo datang? Dima Kini? Lah berapa anak?”

Ku mencoba mengingatnya. Oh ya, bukankah Dia yang dulu meringkuk kesakitan di pojok kaki pohon waru tua. Dia yang dahulu menjadi pelampiasanku. Ternyata saat ini memiliki 3 anak. Walau mengaku tidak bahagia dengan pernikahannya karena merasa pernikahan hanya kewajiban untuk keluarga dan status sosial di masyarakat, aku yakin waktu bisa merubah banyak hal. Kisah dia yang meringkuk kesakitan itu membuatku semakin yakin ku harus terbuka dengan Id tentang kehidupanku, masa lalu dan kini ku. Ku semakin teguh, kejujuran modal awal dalam pernikahan, dan jika Id tidak bisa menerima keadaan ku, paling tidak aku telah jujur dan keputusannya akan ku terima dengan ihklas.

Bulan separoh masih sembunyi di balik awan, dan daun pohon waru masih mendendangkan nyanyian malam. Beberapa pensil ( istilah utk tren baru PPS padang ) berputar di depanku dengan Mio nya, ku langkahkan kaki kembali ke Hotel. Walau tanpa menumpahkan gairah nakal ku, ku yakin ku bisa tidur pulas dan ketemu ID sesudah sarapan pagi.

Padang, 22 September 2009.

By posrainbow Posted in 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s