Dialog dengan Demonstran ( diskusi langsung dengan pendemo Q Film Festival )

Goethe institute, 29 September 2010

Jakarta siang , panas membakar kulit, aku sampai depan Goethe Institute jam 14.30 WIB, setelah  melayani teman-teman ODHIV di RSUD Koja.  Pintu masuk dan satpam yang biasanya tersenyum ramah, kelihatan mematung di pos nya. Aku menghentikan motor ku di depan Cecep Junaidy dan Kustin karbiaty, dua konselor volounteer dan VCT  GWL-Ina  yang diadakan berbarengan dengan Q Film festival.

“bakal ada demo dari Mahasiswa UI” komentar mereka berbarengan saat ku tanya, kenapa suasana jadi mencekam dengan banyaknya polisi yang mengelilingi Gedung kebudayaan Jerman tersebut. Ini bukan demo pertama, sehari sebelumnya hampir seratus an massa FPI telah melakukan hal yang sama sambil meneriakan “ Ganyang Gay dan Lesbian”. Hati ku sedih, melihat saudara muslim ku membenci ciptaan Tuhan mereka. Ingin bertanya kepada mereka kenapa tidak bisa menghargai pilihan hidup orang lain.

Benar saja, tidak sampai lima menit tiga mobil parkir di pinggir jalan persis di depan ku. Satu mobil bak terbuka, berisi sound speaker dan alat pengeras suara, dua minibus. Minibus pertama berisi mahasiswa  berjumlah 13 orang turun satu persatu. Dari mobil lainnya, turun perempuan berjilbab berusia sekitar 45 an diikuti 18 orang perempuan lainnya yang berusia lebih muda. Sesaat kemudian mereka sibuk membagikan dan membuka spanduk.  Seorang wartawan dengan mike bermerk Tv one menghampiri dua orang mahasiswa berjaket kuning. Mereka ditanya tentang jumlah mereka.

Wartawan: Mas, berapa orang peserta demo, ada seratus orang ngak?
Mahasiswa: lebih kurang  40 orang
Wartawan: kurang greget mas, kita tulis 80 orang aja ya? kurang greget kalo sedikit
saya pergi sambil bergumam “ oalah…. kok jumlah pendemo aja kayak dagang sapi ya???”

Saya mengambil  beberapa foto copian dan kemudian membagikan nya dengan Cecep dan Kustin. Untuk mengali lebih lanjut apa yang demonstran mau, saya mencoba berdiskusi beberapa dari mereka. Jawaban Maulana Akbar dan Nadya sangat mengambarkan jawaban yang lainnya ketika ditanya tentang aksi mereka.

Seorang Mahasiswa yang mengaku bernama Maulana Akbar ( MA)  berasal dari MII FMIPA Universitas indonesia saya ajak  bercakap, saat dia berdiri di tengah pembatas jalan sambil memegang spanduk besar berisi tuntutan

setelah percakapan perkenalan diskusi kami lanjutkan seputar aksi mereka yang bertema :  “ jangan Pernah rela Gay dan lesbian merajalela”:

Saya: kenapa sih Q! FF harus dihentikan?

MA:  Gay dan lesbian merusak moral bangsa mas, dan ini bukan budaya bangsa kita

Saya: maksudnya??

MU: gay dan lesbian adalah penyimpangan, melanggar budaya dan agama. Mereka orang yang tidak bermoral dan ini harus dihentikan. Jika dibiarkan terus akan musnah umat manusia ini. Mana ada sesama lelaki atau perempuan mampu menghasilkan keturunan.  gay dan lesbian adalah penyimpangan dari apa yang diajarkan ketentuan agama, budaya dan hukum yang berlaku.

Saya:  Budaya indonesia mana yang menentang gay dan lesbian?  Atau hukum positif mana di indonesia yang melarang keberadaan Gay dan lesbian di Indonesia?

MA: tapi agama melarang nya, dan tidak sesuai dengan budaya masyarakat indonesia.

Saya: pernah dengar budaya Gemblak dan warok, atau tradisi tentang calabai, calalai ngak mas? Itu budaya indonesia kan?

MA: (ekpresi binggung). Mayoritas masyarakat indonesia adalah masyarakat timur dan beragama. Tidak ada satu agama pun yang memperbolehkan gay dan Lesbian hidup di Indonesia.

Saya: Apa yang diharapkan dalam Aksi ini?

MA: Festival ini harus dihentikan karena membuat orang menjadi gay dan lesbian. Ini bisa memusnahkan bangsa Indonesia. Bayangkan saja jika semua orang indonesia menjadi Gay. Saya: Apakah mungkin menonton film bisa membuat orang menjadi gay? Dan ini juga untuk kalangan terbatas kan?

MA: Bisa, kan tontonan bisa mempengaruhi seseorang.

Saya: Kenapa Mas dan teman-teman tidak bikin Festival film hetero seksual saja, dan ajak mereka agar bisa berubah.

MA: itu bukan urusan ku.

Maulana akbar akhirnya ngeloyor pergi bergabung dengan teman nya dengan wajah merah.

Teriak-teriak dari beberapa orator tentang tolak QFF, masih terdengar. Saya melihat king Oey dari Arus pelangi datang dengan skuter nya. Saya hampiri , sekalian menyapanya. Menurut, King, aksi mereka cukup bagus untuk mendewasakan masyarakat dan menggangkat issue tentang LGBT ke diskusi publik. Selama diskusi tidak anarkis, itu bahagian dari pendewasaan kita sebagai bangsa.  Beberapa saat saya kembali ke barisan pendemo yang mulai berubah posisi, seperti ini trik yang bagus, barisan perempuan yang sebelum nya berada di pinggir jalan berpindah ke tengah pembatas jalan dan lelaki ke pinggir.

Saya berkenalan dengan pendemo perempuan yang mengaku berasal dari Fakultas keperawatan UI, nadya (Nad). Nadya hari itu mengenakan Jilbab berwarna coklat dengan gamis hijau yang sedikit kedodoran.

Saya: mengapa, perumpamaan di spanduk berhubungan dengan bebek, ayam , pisang dan binatang?

Nad: ya, Binatang aja tidak mau saling suka sesama jenis mas, apalagi manusia. Tidak mungkin kan dua bapak atau dua ibu bisa melahirkan anak. Bebek dan anjing saja tidak akan menghasilkan telur  jika dua-duanya betina atau jantan.

Saya: pernah baca wikipedia tentang homoseksual di binatang ngak?, seperti di Pingguin, sapi, beberapa primata.

Nad: saya belum pernah baca

Saya: sebagai mahasiswa harus rajin baca ya. Saya mengoda nya sambil tertawa. Apakah menurut mba? Berpasangan hanya untuk mengahsilkan anak saja?

Nad: Iya kan salah satu fungsi nya adalah untuk menghasilkan keturunan dan melindungi pasangan.

Saya: maksudnya?

Nad: lelaki kan ditakdirkan sebagai pelindung dari wanita.

Saya: kalo lelaki  saling melindungi dengan lelaki gimana?

Nad: ya ngak mungkin lah.

Saya: siapa bilang, mereka juga berpasangan loh?

Nad: Iya, tapi tetap saja ada yang berperan sebagai wanita?

Saya: ngak mesti, bisa aja dua-dua nya lelaki macho berpasangan.

Nad: tapi homoseksual tetap saja tidak sah secara agama. Pernah dengar kaum Luth dan  kota Sodom kan?

Saya: pernah, tapi Gay dan lesbian kan mahkluk ciptaan tuhan juga, apa solusi nya buat mereka. Jika mereka tidak bisa hidup di Indonesia.

Nad: Harus bertobat, kembali ke jalan yang benar.

Bersamaan para Orator bersemangat bersorak untuk menolaK QFF. Sebagian berteriak jangan sampai Gay dan Lesbian merajalela di bumi Indonesia.

Saya: Maksud nya?

Nad: Menikahlah dengan lain jenis

Saya: Mba, sebagai wanita mau ngak di nikahi oleh pria yang secara seksual tidak tertarik dengan Mba?

Nad: tentu tidak. Amit-amit mas!

Saya: Jika tidak berarti saudara mba, mba bisa ihklas? Atau teman mungkin?

Nad: tentu saja tidak.

Saya: Mba ingin mereka mendustai pasangan nya seumur hidup agar bisa hidup di indonesia?

Nad: Mas dari mana?

Saya: Saya Tim yang mengadakan VCT di dalam.

Nad: ada dokter yang terlibat?

Saya: yup, pasti karena kita bekerjasama dengan RSUD koja

Nad: menurut mas apa solusi nya?

Saya: saya bersahabat dengan mereka, bagi saya itu hak nya untuk memilih mau menjadi gay dan lesbian. Yang aku dan teman-teman lakukan adalah agar bertanggungjawab dengan pilihan nya, saudara, pasangan, keluarga dan masyarakat. Dan VCT yang kita lakukan dalam rangka itu. Udah pernah nonton Film tentang gay dan lesbian sebelumnya?

Nad: Haram mas.

Saya tersenyum dalam hati, begitu muda kata haram, cercaan keluar dari mulut seorang intelektual muda dari Universitas Indonesia. Apa yang mereka dapat di bangku kuliah sehingga terlihat bodoh, berpendapat dengan sesuatu yang tidak mereka pelajari sebelumnya. Saya tersenyum dalam hati, inilah potret kecil masa kini indonesia. Potret cara pantang sektarian yang tak inteletual.

Dari diskusi dengan Perempuan pendemo lain, juga terungkap teman-teman mahasiswa banyak yang tidak mengerti tentang konsep ABCD dalam penanggulangan HIV. Kebanyak mereka berpikir LSM dan orang yang bekerja untuk issue LGBT adalah menyuarakan kepentingan asing ( budaya asing) dalam rangka mengkampanyekan seks bebas tanpa kondom. Nauzubillah.

Advertisements

MENKOMINFO dan bantahan Our Voice terkait QFF

Siaran Pers Lembaga
Ourvoice

Menyikapi Pernyataan
KOMINFO Tentang Q Film Festival

Menyikapi siaran pers No. 105/PIH/KOMINFO/ 9/2010 tentang klarifikasi Kementerian Kominfo Mengenai Pemberitaan Penyelenggaraan Q-Film Festival (Q-FF) tertanggal 28 September 2010. Ada beberapa pernyataan KOMINFO menyatakan :

1.Bahwa Kementerian Komunikasi Dan Informasi (KOMINFO) Republik Indonesia sangat tidak mungkin memberikan sponsorship atau persetujuan terhadap pelaksanaan festival film yang kontennya di antaranya terkait dengan kehidupan kaum homoseksual.

2.Sejak tanggal 10 Agustus 2010, Kementerian Kominfo masih terus melakukan kegiatan upaya konkret pemblokiran situs porno pada layanan internet dengan seluruh penyelenggara ISP di Indonesia. Sehingga tidak mungkin Kementerian Kominfo memberikan dukungan pada kegiatan apapun yang menyimpang dari ketentuan yang berlaku dan etika masyarakat yang berlaku.

3.Secara personal leadership adalah tidak mungkin bagi Kementerian Kominfo yang untuk kini di bawah kepemimpinan Menteri Kominfo Tifatul Sembiring, dan dua pejabat sebelumnya yaitu Sofyan A. Djalil dan kemudian Mohammad Nuh, yang notabene ketiganya adalah Ustadz untuk memberikan suatu persetujuan pada kegiatan seni dan kebudayaan yang bertentangan dengan kaidah Islam.

Berdasarkan pernyatan tersebut, Kami Lembaga Ourvoice yang bekerja memperjuangkan hak-hak kelompok homoseksual di Indonesia menyatakan:
1.Berdasarkan Peraturan Presiden (PerPres) No. 75 Tahun 2006 tentang Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) pasal 4 bahwa KOMINFO merupakan anggota KPAN. Salah satu tugas anggota KPAN berdasarkan pasal 3 adalah; peyebaran informasi tentang HIV / AIDS dan bekerjasama dengan stakeholder termasuk didalamnya kelompok gay dan waria. Artinya jika KOMINFO tidak mungkin mendukung kegiatan Q-FF maka KOMINFO tidak memahami mandat PerPres tentang Penanggulangan HIV dan AIDS.

2.Kegiatan Q-Film Festival tahun 2010 salah satunya mengangkat persoalan HIV dan AIDS yang bekerja sama dengan Jaringan Gay,Waria dan Laki Sex Laki (GWL) dengan meyelenggarakan test HIV (VCT),konseling dan membagikan informasi soal HIV dan AIDS secara gratis. Pernyataan KOMINFO ini telah menghambat peyebaran informasi tentang HIV dan AIDS di Indonesia yang semestinya menjadi tugas Kementerian KOMINFO berdasarkan Strategi Nasional KPAN 2010-2014.

3.Dalam pencapaian Millenium Development Goals (MDGs) 2015 pada tujuan ke-enam terdapat target memberikan informasi HIV dan AIDS secara meyeluruh kepada remaja (15-24 tahun) dan masyarakat umum. Sehingga kegiatan Q-FF ini justru memberikan sumbangsih besar terhadap pencapaian target MDGs khususnya tentang HIV/AIDS dan pendidikan seksualitas pada remaja dan masyarakat. Sehingga secara langsung maupun tidak langsung sikap KOMINFO telah menghambat upaya pencapaian target MDGs 2015 di Indonesia.

4.Kami sebagai pengunjung Q-FF menegaskan bahwa kegiatan ini berkaitan dengan pemutaran film isu HAM,LGBT, seksualitas- gender, HIV/AIDS, diskusi publik, pameran photo dan launching buku. Jika KOMINFO meyatakan bahwa kegiatan ini sesuatu yang menyimpang dari ketentuan berlaku. Menurut kami tidak ada produk hukum yang bertentangan dengan kegiatan ini.

5.Menurut Pedoman Penggolongan Diagnosa Gangguan Jiwa (PPDGJ) III Tahun 1993 yang dikeluarkan secara resmi oleh Kementerian Kesehatan RI, point F66 meyebutkan bahwa homoseksual bukanlah sebuah penyakit ataupun gangguan mental. Hal ini sudah menjadi rujukan bagi kalangan medis di Indonesia maupun dunia (DSM IV). Sehingga bukan wewenang KOMINFO meyatakan homoseksual sebagai penyimpangan.

6.KOMINFO adalah lembaga resmi pemerintah Indonesia untuk menjalankan mandat berdasarkan UUD ‘45 dan Pancasila. Karena KOMINFO bukan lembaga yang menangani agama tertentu, sehingga kepemimpinan KOMINFO tidak ada kaitan dengan gelar agama (Ustadz) seseorang. Walau akhirnya pernyataan soal point ini direvisi oleh KOMINFO dalam siaran persnya.

Salam

Hartoyo
Sekretaris Umum Ourvoice

Situasi QFF Di Goethe Institute

Tadi pukul 13.00 – 16.00 Q!FF kembali didemo di depan Goethe Institute tempat salah satu Q!FF diadakan. Namun kali ini yang melakukan demo adalah beberapa mahasiswa yang mengatasnamakan Universitas Indonesia. Pendemo yang berjumlah sekitar 30-an orang tersebut melakukan orasi dan teriakkan2 yang menetang kegiatan Q!FF serta meminta agar seluruh LGBT bertobat dan kembali kejalannya. Ya berhubung jalan seluruh teman2 yang terllibat di Q!FF adalah Goethe Instituted ya otomatis semuanya kembali ke jalan Sam Ratulangi…hahaha…dengan kata lain setelah demo berakhir Q!FF tetap berjalan seperti semula…selama demo berlangsung puluhan aparat kepolisian menjaga ketat didepan pagar sehingga hanya perwakilannya saja yang boleh masuk kedalam untuk bertemu dengan pihak panitia…mendengar dari teriakkan2 mereka kelihatan banget kalau para pendemo tersebut tidak menunjukkan kualitas mahasiswa yang terpelajar…saat ini Q!FF kembali berlangsung seperti sedia kala…selamat menonton…makasih…

Laporan: Ryan Hutagalung utk jaringan GWL-Ina

VCT Gratis dan Q Jakarta Film Festival 2010

Dalam rangka Q Jakarta Films Festival 2010, yang mulai diselenggarakan tanggal 22 September  sampai 3 Oktober 2010, di beberapa venues   Ibukota. Goethe Institute, Indocine, Erasmus Huis, Apollo bar, Kinforum, Marley Bar, Centre Cultural francais (CCF), Hollywood KC 21, Subtitles DVD Pixel Theater, Galery Cipta III, Cemara 6 Galery dan Japan Foundation.

Venues di Goethe Institute mengadakan Volountary Counseling and testing ( VCT) gratis untuk umum. VCT merupakan tes HIV yang dilakukan dengan konseling dan terjamin kerahasiaan nya ( Anonimous/tanpa nama). Tersedia juga layanan After VCT, berupa layanan Manajemen Kasus yang dilakukan oleh manejer kasus profesional. Ada dua kelompok dukungan sebaya yang ikut berperan di VCT Di Goethe ini yaitu Positive Rainbow dan G Support.

Peranan pelayanan manajemen kasus menjadi penting untuk membantu klien VCT dalam dukungan pelayanan biopsikososial dan akses pelayanan lanjutan yang dibutuhkan .

Kelompok dukungan sebaya akan terlibat dalam pemberian dukungan pada klien yang hasil tesnya positif/reaktif. Dukungan dari role model ( Kelompok dukungan sebaya) dalam bentuk diskusi dan sharing pengalaman dari teman-teman yang pernah dan berhasil melewati pengalaman yang sama. Dukungan sebaya juga memberikan harapan baru bagi bagi ODHIV bahwa mereka tidak hidup sendiri.

Buat pembaca Blog silahkan datang ke Goethe Institute untuk tes VCT setiap hari selama Q Film festival jam 14.00 WIB sampai 21.00 WIB untuk mendapatkan layanan VCT Gratis, profesional dan kerahasian terjamin.

Pusat Rujukan Dan layanan HIV dan AIDS Bagi Gay, Waria dan Biseksual di DKI Jakarta

Nama Alamat Layanan
1 Jaringan GWL INA

CP : Tono

Menara Topas Lt 7, Jl. MH Thamrin Kav 9. Jakarta Pusat. Telp/fax: 0213902611

Email: gwl.ina.sekretariat@gmail.com

Akses Jaringan Nasional untuk teman Gay, waria dan laki-laki seks dengan lelaki lainnya
2 LPA Karya Bhakti Jakarta

CP: Yanny

Telp: 021 95050970

Komp Patra II no.29

Jl. A Yani

Cempaka Putih timur

Jakarta Pusat

VCT, Outreach, Edutainment, Edukasi, Konseling dan Rujukan
3 Yayasan Intermedika

CP: Ryan

Telp: 08129072033

Ruko Harmoni Plaza

Blok A/28 Lt.II

Jl. Suryo Pranoto no. 2

-Jakarta Pusat

Outreach, Edutainment, Edukasi, Konseling dan Rujukan
4 Yayasan Srikandi Sejati

CP: Inez

Telp: 021 99886844

Jl. Pisangan Baru III no. 64

Jatinegara

Jakarta Timur

Outreach, Edutainment, Edukasi, Konseling dan Rujukan
5 Positive Rainbow

CP: Arel

Telp: 021 94461642

Jl. Swadaya I No.35

Jatiwaringin. Pondokgede

Layanan Manajemen Kasus, Dukungan sebaya, konseling ARV, disclosure, bantuan pengobatan buat GWL tidak mampu.
6 G Support

CP: Iful

Telp: 02195443330

Ruko Harmoni Plaza

Blok A/28 Lt.II

Jl. Suryo Pranoto no. 2

-Jakarta Pusat

Layanan Manajemen Kasus, Dukungan sebaya, pendampingan, konseling ARV.
7 Yayasan Layak

CP: Lusi

Telp: 021 7774735

Jl. Kartini GG Texas No. 7

Citayam. Kota depok

Layanan Manajemen Kasus
8 Yayasan Tegak Tegar

CP: Pipiet

Telp: 021 91296551

Jl. Bend Hilir 12 No.13

Bendungan Hilir

Jakarta Pusat

Outreach, layanan Manajemen Kasus

Layanan Dukungan perawatan dan pengobatan Di DKI Jakarta

No. Layanan Alamat Layanan
1 RSUD Koja Jakarta Utara

021-43938478

Ext 227

Jl. Deli No. 4. Tj Priuk

Jakarta Utara

VCT, PMTCT, IMS, rawat inap, ARV, Laboratorium, dan manajer kasus
2 RS Cipto mangunkusumo

021-3905250

Jl. Diponegoro No. 71

Jakarta Pusat

VCT, PMTCT, IMS, rawat inap, ARV dan Laboratorium
3 RS Dharmais

021-5681570

Jl. Letjend S. Parman Kav.84-86

Slipi Jakarta Barat

VCT, PMTCT, IMS, rawat inap, ARV /sd lini kedua, dan Laboratorium
4 RSUD Tarakan

021-70866133

Jl. Kyai Caringin No. 7

Cideng- Jakarta Barat

VCT, PMTCT, IMS, rawat inap, ARV dan Laboratorium
5 RS Duren Sawit

021-8617601/8678889

Ext  1009

Jl. Duren Sawit Baru No. 2

Jakarta Timur

VCT,, rawat inap, ARV dan Laboratorium
6 RSPAD Gatot Subroto

021-3441008/3445453

Ext 2456

Jl. Abd Rahman Saleh No.17A

Jakarta Pusat

VCT, rawat inap, ARV dan Laboratorium
7 RSAL Mintoharjo

021-5703081

Ext 141

Jl. Bend. Hilir No. 17A

Jakarta Pusat

VCT, rawat inap, ARV dan Laboratorium
8 RS Polri Sukamto

021-8091708

Ext 664

Jl. Kramat Jati No. 24

Jakarta Timur

VCT, rawat inap, ARV dan Laboratorium
9 RS Persahabatan

021-4891708/4711220

Ext 664

Jl. Persahabatan Raya

Rawamangun

Jakarta Timur

VCT, rawat inap, ARV dan Laboratorium
10 RS Fatmawati

021-7501524

Jl. RS Fatmawati

Cilandak

Jakarta Selatan

VCT, PMTCT,IMS  rawat inap, ARV dan Laboratorium
11 RS Ketergantungan Obat ( RSKO)

021 7695451

Jl. Lapangan Tembak

Cibubur

VCT, rawat inap, ARV dan Laboratorium
13 RS St, Carolus

021-3101946/3904441

Jl. Salemba Raya No. 41

Jakarta Pusat

VCTrawat inap, dan Laboratorium
14 PKM Kec.Pasar Minggu Jl Jagakarsa Raya No.149

Jakarta Selatan

VCT  dan IMS (selasa dan Kamis) tanpa pemerikasaan anus
15 PKM Kebayoran Lama Jl Ciputat raya Rt 005/01

Jakarta Selatan

VCT dan IMS ( tiap Hari) tanpa pemeriksaan anus
16 PKM Pancoran Jl. Potlot II -6

Pancoran

Jakarta Selatan

VCT dan IMS ( Tiap Selasa)  tanpa pemeriksaan Anus
17 PKC Setiabudi

021-8295529

Jl. Halimun No. 12/13A

Jakarta Selatan

VCT, dan IMS ( Tiap hari Senen dan Kamis) Tanpa pemeriksaan anus
18 PKC  Taman Sari

021-6297752

Jl. Madu No. 10

Taman Sari

Jakarta Pusat

VCT, dan IMS ( Tiap hari Senen, rabu dan Kamis) Tanpa pemeriksaan anus
19 PKC Senen

021-3145194

Jl. Kramat No.10

Tanah Tinggi

Jakarta Pusat

VCT, dan IMS ( Tiap hari) Tanpa pemeriksaan anus
20 PKC Gambir

021-jl. Raya Duren Semper barat I

jaka

Jl. Tanah Abang no. 10

Gambir

Jakarta Pusat

VCT, dan IMS ( Tiap hari) Tanpa pemeriksaan anus
21 PKM Cilincing

021-4412889

jl. Raya Duren Semper barat I

jakarta Utara

VCT dan IMS ( Tiap Selasa)  tanpa pemeriksaan Anus
22 PKM Koja

021-021-435880

Jl. Walang PermaiNo.39

Jakarta Utara

VCT dan IMS ( Tiap Selasa dan jum’at)  tanpa pemeriksaan Anus
24 PKBI DKI Jakarta

O21-8566535

Jl. Pisangan Baru Timur No.2A

Matraman

Jakarta Timur

VCT dan IMS terlengkap bagi GWL

Perkembangan HIV dan AIDS di Indonesia

Laporan Triwulan

situasi perkembangan HIV dan AIDS di

Indonesia sampai dengan 30 Juni 2010.

1. Laporan Kasus AIDS

a. Sampai dengan 30 Juni 2010 secara kumulatif jumlah kasus AIDS yang dilaporkan

adalah sebagai berikut :

Kasus AIDS : 21770

Provinsi yang melaporkan : 32 provinsi

Kabupaten/Kota yang melaporkan :300 kab/kota

Ratio kasus AIDS antara laki-Iaki dan perempuan adalah 3: 1.

b. Cara penularan kasus AIDS kumulatif yang dilaporkan melalui Heteroseksual

(49,3%), (IDU 40,4%), dan Lelaki Seks Lelaki (3,3%), perinatal (2,7%).

c. Proporsi kumulatif kasus AIDS tertinggi dilaporkan pada kelompok umur 20-29

tahun (48,1%), disusul kelompok umur 30-39 tahun (30,9%) dan kelompok umur

40-49 tahun (9,1%).

d. Kasus AIDS terbanyak dilaporkan dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur,

Papua, Bali, Jawa Tengah,Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara,

Riau, Sumatera Barat!.

e. Rate kumulatif kasus AIDS

9,44 per 100.000 penduduk Indonesia 230.632.700 jiwa).Nasional sampai dengan 30 Juni 2010 adalah berdasarkan data BPS 2009, jumlah penduduk

f. Rate kumulatif kasus AIDS tertinggi dilaporkan dari provinsi Papua (14,34 kali

angka nasional), Bali (5,2 kali angka nasional), DKI Jakarta (4,4kali angka

nasional), Kep. Riau (2,4 kali angka nasional), Kalimantan Barat (1,8 kali angka

nasional), Maluku (1,5 kali angka nasional), Bangka Belitung (1,2 kali angka

nasional), Papua Barat, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Jawa Barat Sumatera Barat,

Riau (1,0 kali angka nasional).

a. Proporsi kasus AIDS yang dilaporkan telah meninggal adalah 19,0%.

b. Infeksi oportunistik yang terbanyak dilaporkan adalah :

  • • TBC : 10648
  • • Diare kronis : 6392
  • • Kandidiasis oro-faringeal : 6412
  • • Dermatitis generalisata : 1623
  • • Limfadenopati generalisata persisten : 770

c. Pada triwulan ini penambahan kasus AIDS adalah sebanyak 1206 kasus.

  1. 1. Laporan Kasus AIDS Triwulan Kedua

a. Dari April sampai dengan Juni 2010 jumlah kasus AIDS baru yang dilaporkan

adalah 1206 kasus. Sebanyak 36 Kabupaten/Kota yang melapor dan sebanyak 16

provinsi yang melapor (NAD, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Bengkulu,

Kepulauan Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Bali,

NTB, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara,).

b. Ratio kasus AIDS antara laki-laki dan Perempuan adalah 3 : 1

c. Cara penularan kasus AIDS baru yang dilaporkan melalui Heteroseksual

(34,0%), (IDU 58,2%), Perinatal 3,0%, dan Lelaki Seks Lelaki 2,2%)

d. Proporsi kasus AIDS tertinggi dilaporkan pada kelompok umur 30-39 tahun

(42,5%), disusul kelompok umur 20-29 tahun (37,2%) dan kelompok umur 40-49

tahun (11,8%).

2. Laporan Monitoring VCT

a. Laporan ini didapatkan dari layanan VCT sampai dengan 30 Juni 2010 Jumlah

Kasus HIV positif kumulatif sebanyak 44.292 dengan positive rate rata-rata

10,3%.

b. Jumlah total kasus baru HIV positif pada triwulan 2 tahun 2010 adalah 3.916.

Secara kumulatif jumlah kasus HIV positif terbanyak dilaporkan dari Provinsi DKI

Jakarta (9.804), Jawa Timur (5.973), Jawa Barat (3.798), Sumatera Utara (3.391),

Papua (2.947) dan Bali (2.505).

3. Laporan Monitoring CST

a. Perawatan HIV di Indonesia sudah dimulai sejak tahun 2005 dengan jumlah yang

masih dalam pengobatan ARV pad a tahun 2005 sebanyak 2.381 (61% dari yang

pernah menerima ARV). Kemudian sampai dengan 30 Juni 2010 terdapat 16.982

ODHA yang masih menerima ARV (60.3 % dari yang pernah menerima ARV),

Jumlah ODHA yang masih dalam pengobatan ARV tertinggi dilaporkan dari

provinsi DKI Jakarta (7242), Jawa Barat (2001), Jawa Timur (1517), Bali (984),

Papua (685), Jawa Tengah (575), Sumatera Utara (570), Kalimantan Barat (463),

Kepulauan Riau (426), dan Sulawesi Selatan (343),

b. Kematian ODHA menurun dari 46 % pad a tahun 2006 menjadi 18% pada tahun

2009,

c. Sampai dengan Juni 2010 78,1% masih menggunakan rejimen lini pertama,

18,4% telah substitusi (salah satu ARV-nya diganti dengan obat ARV lain tapi

masih pada kelompok lini pertama yang original) dan 3,5% switch (1 atau 2 jenis

ARV-nya diganti dengan obat ARV lini kedua),

http://gwl-ina.org/perpustakaan/cat_view/24-laporan-triwulan-perkembangan-hivaaids-2010.html