321922_217850784943546_100001558794016_581693_134078289_o

Dialog dengan Demonstran ( diskusi langsung dengan pendemo Q Film Festival )

Goethe institute, 29 September 2010

Jakarta siang , panas membakar kulit, aku sampai depan Goethe Institute jam 14.30 WIB, setelah  melayani teman-teman ODHIV di RSUD Koja.  Pintu masuk dan satpam yang biasanya tersenyum ramah, kelihatan mematung di pos nya. Aku menghentikan motor ku di depan Cecep Junaidy dan Kustin karbiaty, dua konselor volounteer dan VCT  GWL-Ina  yang diadakan berbarengan dengan Q Film festival.

“bakal ada demo dari Mahasiswa UI” komentar mereka berbarengan saat ku tanya, kenapa suasana jadi mencekam dengan banyaknya polisi yang mengelilingi Gedung kebudayaan Jerman tersebut. Ini bukan demo pertama, sehari sebelumnya hampir seratus an massa FPI telah melakukan hal yang sama sambil meneriakan “ Ganyang Gay dan Lesbian”. Hati ku sedih, melihat saudara muslim ku membenci ciptaan Tuhan mereka. Ingin bertanya kepada mereka kenapa tidak bisa menghargai pilihan hidup orang lain.

Benar saja, tidak sampai lima menit tiga mobil parkir di pinggir jalan persis di depan ku. Satu mobil bak terbuka, berisi sound speaker dan alat pengeras suara, dua minibus. Minibus pertama berisi mahasiswa  berjumlah 13 orang turun satu persatu. Dari mobil lainnya, turun perempuan berjilbab berusia sekitar 45 an diikuti 18 orang perempuan lainnya yang berusia lebih muda. Sesaat kemudian mereka sibuk membagikan dan membuka spanduk.  Seorang wartawan dengan mike bermerk Tv one menghampiri dua orang mahasiswa berjaket kuning. Mereka ditanya tentang jumlah mereka.

Wartawan: Mas, berapa orang peserta demo, ada seratus orang ngak?
Mahasiswa: lebih kurang  40 orang
Wartawan: kurang greget mas, kita tulis 80 orang aja ya? kurang greget kalo sedikit
saya pergi sambil bergumam “ oalah…. kok jumlah pendemo aja kayak dagang sapi ya???”

Saya mengambil  beberapa foto copian dan kemudian membagikan nya dengan Cecep dan Kustin. Untuk mengali lebih lanjut apa yang demonstran mau, saya mencoba berdiskusi beberapa dari mereka. Jawaban Maulana Akbar dan Nadya sangat mengambarkan jawaban yang lainnya ketika ditanya tentang aksi mereka.

Seorang Mahasiswa yang mengaku bernama Maulana Akbar ( MA)  berasal dari MII FMIPA Universitas indonesia saya ajak  bercakap, saat dia berdiri di tengah pembatas jalan sambil memegang spanduk besar berisi tuntutan

setelah percakapan perkenalan diskusi kami lanjutkan seputar aksi mereka yang bertema :  “ jangan Pernah rela Gay dan lesbian merajalela”:

Saya: kenapa sih Q! FF harus dihentikan?

MA:  Gay dan lesbian merusak moral bangsa mas, dan ini bukan budaya bangsa kita

Saya: maksudnya??

MU: gay dan lesbian adalah penyimpangan, melanggar budaya dan agama. Mereka orang yang tidak bermoral dan ini harus dihentikan. Jika dibiarkan terus akan musnah umat manusia ini. Mana ada sesama lelaki atau perempuan mampu menghasilkan keturunan.  gay dan lesbian adalah penyimpangan dari apa yang diajarkan ketentuan agama, budaya dan hukum yang berlaku.

Saya:  Budaya indonesia mana yang menentang gay dan lesbian?  Atau hukum positif mana di indonesia yang melarang keberadaan Gay dan lesbian di Indonesia?

MA: tapi agama melarang nya, dan tidak sesuai dengan budaya masyarakat indonesia.

Saya: pernah dengar budaya Gemblak dan warok, atau tradisi tentang calabai, calalai ngak mas? Itu budaya indonesia kan?

MA: (ekpresi binggung). Mayoritas masyarakat indonesia adalah masyarakat timur dan beragama. Tidak ada satu agama pun yang memperbolehkan gay dan Lesbian hidup di Indonesia.

Saya: Apa yang diharapkan dalam Aksi ini?

MA: Festival ini harus dihentikan karena membuat orang menjadi gay dan lesbian. Ini bisa memusnahkan bangsa Indonesia. Bayangkan saja jika semua orang indonesia menjadi Gay. Saya: Apakah mungkin menonton film bisa membuat orang menjadi gay? Dan ini juga untuk kalangan terbatas kan?

MA: Bisa, kan tontonan bisa mempengaruhi seseorang.

Saya: Kenapa Mas dan teman-teman tidak bikin Festival film hetero seksual saja, dan ajak mereka agar bisa berubah.

MA: itu bukan urusan ku.

Maulana akbar akhirnya ngeloyor pergi bergabung dengan teman nya dengan wajah merah.

Teriak-teriak dari beberapa orator tentang tolak QFF, masih terdengar. Saya melihat king Oey dari Arus pelangi datang dengan skuter nya. Saya hampiri , sekalian menyapanya. Menurut, King, aksi mereka cukup bagus untuk mendewasakan masyarakat dan menggangkat issue tentang LGBT ke diskusi publik. Selama diskusi tidak anarkis, itu bahagian dari pendewasaan kita sebagai bangsa.  Beberapa saat saya kembali ke barisan pendemo yang mulai berubah posisi, seperti ini trik yang bagus, barisan perempuan yang sebelum nya berada di pinggir jalan berpindah ke tengah pembatas jalan dan lelaki ke pinggir.

Saya berkenalan dengan pendemo perempuan yang mengaku berasal dari Fakultas keperawatan UI, nadya (Nad). Nadya hari itu mengenakan Jilbab berwarna coklat dengan gamis hijau yang sedikit kedodoran.

Saya: mengapa, perumpamaan di spanduk berhubungan dengan bebek, ayam , pisang dan binatang?

Nad: ya, Binatang aja tidak mau saling suka sesama jenis mas, apalagi manusia. Tidak mungkin kan dua bapak atau dua ibu bisa melahirkan anak. Bebek dan anjing saja tidak akan menghasilkan telur  jika dua-duanya betina atau jantan.

Saya: pernah baca wikipedia tentang homoseksual di binatang ngak?, seperti di Pingguin, sapi, beberapa primata.

Nad: saya belum pernah baca

Saya: sebagai mahasiswa harus rajin baca ya. Saya mengoda nya sambil tertawa. Apakah menurut mba? Berpasangan hanya untuk mengahsilkan anak saja?

Nad: Iya kan salah satu fungsi nya adalah untuk menghasilkan keturunan dan melindungi pasangan.

Saya: maksudnya?

Nad: lelaki kan ditakdirkan sebagai pelindung dari wanita.

Saya: kalo lelaki  saling melindungi dengan lelaki gimana?

Nad: ya ngak mungkin lah.

Saya: siapa bilang, mereka juga berpasangan loh?

Nad: Iya, tapi tetap saja ada yang berperan sebagai wanita?

Saya: ngak mesti, bisa aja dua-dua nya lelaki macho berpasangan.

Nad: tapi homoseksual tetap saja tidak sah secara agama. Pernah dengar kaum Luth dan  kota Sodom kan?

Saya: pernah, tapi Gay dan lesbian kan mahkluk ciptaan tuhan juga, apa solusi nya buat mereka. Jika mereka tidak bisa hidup di Indonesia.

Nad: Harus bertobat, kembali ke jalan yang benar.

Bersamaan para Orator bersemangat bersorak untuk menolaK QFF. Sebagian berteriak jangan sampai Gay dan Lesbian merajalela di bumi Indonesia.

Saya: Maksud nya?

Nad: Menikahlah dengan lain jenis

Saya: Mba, sebagai wanita mau ngak di nikahi oleh pria yang secara seksual tidak tertarik dengan Mba?

Nad: tentu tidak. Amit-amit mas!

Saya: Jika tidak berarti saudara mba, mba bisa ihklas? Atau teman mungkin?

Nad: tentu saja tidak.

Saya: Mba ingin mereka mendustai pasangan nya seumur hidup agar bisa hidup di indonesia?

Nad: Mas dari mana?

Saya: Saya Tim yang mengadakan VCT di dalam.

Nad: ada dokter yang terlibat?

Saya: yup, pasti karena kita bekerjasama dengan RSUD koja

Nad: menurut mas apa solusi nya?

Saya: saya bersahabat dengan mereka, bagi saya itu hak nya untuk memilih mau menjadi gay dan lesbian. Yang aku dan teman-teman lakukan adalah agar bertanggungjawab dengan pilihan nya, saudara, pasangan, keluarga dan masyarakat. Dan VCT yang kita lakukan dalam rangka itu. Udah pernah nonton Film tentang gay dan lesbian sebelumnya?

Nad: Haram mas.

Saya tersenyum dalam hati, begitu muda kata haram, cercaan keluar dari mulut seorang intelektual muda dari Universitas Indonesia. Apa yang mereka dapat di bangku kuliah sehingga terlihat bodoh, berpendapat dengan sesuatu yang tidak mereka pelajari sebelumnya. Saya tersenyum dalam hati, inilah potret kecil masa kini indonesia. Potret cara pantang sektarian yang tak inteletual.

Dari diskusi dengan Perempuan pendemo lain, juga terungkap teman-teman mahasiswa banyak yang tidak mengerti tentang konsep ABCD dalam penanggulangan HIV. Kebanyak mereka berpikir LSM dan orang yang bekerja untuk issue LGBT adalah menyuarakan kepentingan asing ( budaya asing) dalam rangka mengkampanyekan seks bebas tanpa kondom. Nauzubillah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s