Pendamping Orang-orang terpinggirkan

 

This slideshow requires JavaScript.

( Manajer kasus HIV dan TB MDR )

Matahari baru muncul dari persembunyian malam. aku siap sarapan dengan lauk dan nasi , hasil masakan sendiri.  Buru-buru mengunci pintu konntrakan. sebelum berangkat,  ku cantelin di pintu “ kerja, pulang jam 6 sore”.  Jalanan  Jakarta yang macet, perjalanan panjang dari Pondokgede ke penjaringan ku tempuh dalam satu setengah jam. Hari ini jadwal untuk berdiskusi dengan Lisa . Lisa terinfeksi HIV dan  mau melahirkan. Pertemuan ini sudah direncanakan dua minggu sebelumnya. Ia harus di pastikan mengerti bagaimana menghadapi proses kelahiran yang bisa mengurangi resiko penularan pada bayi nya… Walau Lisa sudah menjalani propilaksis di RSUD Koja. Lisa harus menjalani persalinan secara Caesar serta memilih untuk menyusui bayi nya atau tidak , agar bayi nya selamat dari virus yang telah membuat nya ter jauh dari keluarga, dan lingkungan nya.

Aku  mendampingi Lisa sejak 5 bulan lalu, ketika suaminya yang biseksual meninggal dunia. Lisa tak tahu prilaku seksual suaminya sebelum nya, menangis meraung-raung ketika diwariskan HIV. Sampai saat ini aku tak  memberitahukan tentang itu.  Aku takut membuat nya bersedih dan kecewa. Membiarkan si suami pergi dengan tanda tanya besar di benak nya mungkin akan lebih baik. Biarlah Lisa tahu suami nya seseorang yang alim bersorban. Biarlah  tahu suaminya setia, tidak pernah bergaul dengan wanita lain,  sangat membenci narkoba. Biarlah Lisa tak pernah bisa mengerti kenapa suami nya tertular HIV. Karena baginya suami nya adalah suami terbaik yang tuhan kirim untuk nya.. Suami yang penuh kasih sayang pada keluarga. Biarlah rahasia ini hanya milikku dan Tuhan, itu pun jika tuhan memang zat yang maha tahu…

………………..

“ Bapak, pernah berhubungan seks dengan selain istri?” tanya ku

“ ngak mas, aku setia dengan istriku”

“ sebelum menikah mungkin?” selidik ku

“ ngak pernah mas.”

“pernah memakai narkoba?”

“pernah mas”

“jenis apa aja yang pernah bapak gunakan”

“Cuma ineks doang mas” aku mengerenyitkan kening ku

“ pernah coba narkoba lain, misal nya morfin atau lain nya yang di suntikan?” tanya ku sedikit ragu

“ ngak mas, ineks pun hanya sekali mas, tapi ternyata itu yang berakibat fatal, aku terinfeksi HIV” jelas nya dengan mantap.

Aku mengeser duduk ku lebih deket, aku buka masker yang menutup wajah ku sesaat. Kemudian kulanjutkan diskusi.

“kapan bapak terakhir berhubungan seks  dengan istri” aku alihkan pertanyaan

“ udah lama mas, empat bulan lalu”

“ lewat depan atau belakang?”

“ dua dua nya”

“ sejak kapan berhubungan seks lewat belakang”

“dah lama  mas”

“ Bapak menikmati nya?” selidik ku

“ sama aja mas”

“ Istri Bapak menikmati? ‘ tanya ku sedikit menyelidik

“Ngak tahu, kayaknya ngak,” dia menjawab acuh

“ apakah  pernah berhubungan seks lewat belakang dengan wanita lain”.

“ aku ngak pernah selingkuh mas” tegas jawab nya

“ kalo begitu , pernah berhubungan seks dengan lelaki atau waria? Karena dari analisa ku dari diskusi tadi faktor resiko bapak ada di prilaku seksual mas, bukan di Pemakaian narkoba. saya sangat bisa menyimpan rahasia , kita perlu tahu secara detail sehingga bisa memberikan layanan dan dukungan yang tepat untuk penyakit bapak”. Aku menjelaskan panjang lebar sambil memegang tangan nya. Aku ingin ia mempercayai ku.

Ia terdiam

Terpojok

Aku tenang menunggu

Berdebar

Aku sangat inginkan kejujuran nya.

Ia masih binggung.

Aku mendesak nya

“ kalo bapak jujur akan lebih baik, sebagaimana inform consent sebelumnya, kerahasian sangat dijaga dalam pelayanan ini. Semua informasi yang diberikan tidak dibuka sama siapa saja kecuali atas izin dari bapak.

Ia diam

Aku tetap kokoh menunggu

Aku dah terbiasa menunggu

Kadang menunggu sambil memaksa

Bicara lah pak , pintaku dalam hati.

“Ia mas, saya  berhubungan seks dengan teman ku yang laki-laki”

“sejak kapan?”

“ di pesantren”

“berganti-ganti pasangan”

“ sejak pindah ke jakarta semua nya berubah dan tak terkontrol”

Ia mulai mencair, aku lihat ada kelegaan di wajah nya saat bercerita. Beberapa kali kita tertawa bareng saat cerita nya yang lucu dan aku juga pernah alami. Kami mencair.  Itu pertemuan pertama ku dengan dia di sebuah rumah sakit umum daerah di Jakarta. Dua minggu setelah itu, tubuhnya tak sanggup lagi menahan hantaman banyak infeksi lain yang mengambil peluang. Virus HIV telah mengerogoti tubuhnya. Rapuh seperti kayu lapuk termakan waktu. Rahasia nya masih kusimpan dalam catatan ku. Yah, Lisa harus menghormatinya dan selalu berpikir positif. Kudukung pandangan bahwa penyakit yang ia dan suami nya derita adalah bentuk ujian tuhan atas keimanan mereka. Selalu bersabar Lisa, aku akan tetap ada untuk mu dan anak mu nanti. aku janji, ingatin yah, kalo suatu saat  lupa karena keasyikan mencari nafkah untuk hidup ku…

……………………

Tando mengeluh bekas suntikan nya berdarah tadi malam. Mengoceh dengan Batak nya yang kental. Suster Alia duduk termangu. Aku tak tahu apa yang ada di pikiran nya, rasa bersalah telah menyuntik Tando semalam atau mau marah melihat tindakan tando yang memarahi nya saat pagi, dingin dan masih sepi di POLI MDR. Aku memperhatikan mereka sambil bermain Facebook. Tando kadang mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Berkali-kali suster alia menjelaskan kalo dia menyuntik tando dengan prosedur yang benar. Dengan jarum standar untuk suntik kanamicin, tidak mungkin berdarahnya akan sampai malam hari.  Tando tetap marah.

Saya berdiri dan meminta Tando melihat kan  bekas suntikannya. Tando mengelak, tangan sakit tak bisa membuka celana, alasan nya. Saya menyatakan kesedian untuk membantunya membuka resleting celananya. Dia sedikit kaget dan mengelak nanti aja pas saat suntikan hari ini alasan nya. Aku tersenyum dalam hati kembali ke tempat duduk dan mencoba mengajak suster Elia bercanda. Ku lihat Tando akhir nya tenang menonton acara musik lewat TV di Pojok depan ruangan Poli.

Ini bulan ketiga ku dalam mendampingi pasien TB MDR. Pengalaman baru memang. TB MDR atau Multi drugs resistence yang jika diterjemahkan secara bebas berarti TBC yang kebal beberapa jenis obat. Kelemahan sistem pengobatan TB kategori satu ( OAT) dan kategori dua telah melahirkan Bakteri TB baru yang berbahaya. Penyebabnya bisa jadi karena kelalaian dari pemberi layanan apakah itu : Puskesmas, rumah sakit, Dokter dalam memberikan pengobatan dan mengawasi, bisa juga karena pasien yang tidak patuh  dengan minum obat OAT sampai TB nya tuntas, atau bisa jadi  memang tertular TB yang sudah kebal terhadap pengobatan kategori baik satu ( pengobatan TB 6 bulan tanpa suntikan) maupun yang kategori dua ( pengobatan TB 9 bulan dengan fase suntikan).

TB MDR merupakan kasus lain dalam masyarakat yang menarik perhatian. Pasien TB MDR juga mengalami stigma dan diskriminasi dari lingkungan. Seorang pasien yang aku dampingi, sebut saja nama nya Rina  27 tahun, dia diusir dari kontrakannya ketika diketahui mengidap TB MDR. Rina shock. Dia mengangkat barang-barang dari kontrakan langsung ke rumah sakit. Butuh dua puluh lima hari untuk mengembalikan kondisi  fisik dan fsikis nya yang memburuk akibat tertekan dalam pengusiran tersebut. Diskusi panjang dengan Rina dan suami  mengembalikannya ke tengah keluarga.

Lena, wanita Jawa kelahiran sumatera terpaksa pindah dari Medan. Niat nya ingin berobat  lebih baik. di dukung dengan ekonomi keluarga yang lumayan, berobat ke Malaysia. Harapan nya semoga ada pengobatan Paru yang lebih baik di Negeri orang. Mengingat kualitas pelayanan kesehatan di Negeri ini yang sangat rendah. Lena sangat tahu itu, karena ia sendiri merupakan staff Rumah sakit ternama di Medan. Tapi semua nya berubah, Di malaysia diagnosa TB MDR nya disimpulkan. Lena di sekap dalam ruangan untuk pengendalian Infeksi. Ia di deportasi ke Indonesia akhirnya menjalani pengobatan di RS Persahabatan atas rekomendasi relasinya. Lena mengontrak Tidak jauh dari rumah sakit. Dia terpaksa terpisah dari anak dan suami nya. Semangat nya mengebu untuk sembuh agar bisa kemabali ke tengah keluarga. Tiap hari ia membuat kerajinan tangan dari beads dan menyulam Jilbab, untuk pengalih kekangenan  pada keluarga, alasannya.

Pengobatan TB MDR saat ini hanya tersedia di Jakarta ( RS persahabatan) dan Surabaya ( Dr Soetomo), walau rencana nya dalam waktu deket akan ada di Malang, Solo dan Makasar. Semua dana Operasional masih tergantung dari bantuan asing. Pemerintah Indonesia lewat departemen kesehatan membantu dalam penyediaan tempat dan Tenaga medis.

catt: nama-nama di kisah ini bukan nama sebenarnya

Bersambung……………….

Advertisements

Identitas Diri dan Enam kunci menuju sukses

Identitas diri akan menentukan siapa kita di masa datang. Bagaimana cara kita mengidentifikasi diri akan mempengaruhi konsep diri kita. Identifikasi di bentuk dari beberapa elemen pokok yang menentukan bagaimana kita di mata orang lain. Identitas diri terbentuk dari elemen-elemen penampilan ( performance ), relasi atau orang-orang di sekeliling kita ( relation), kepintaran ( smart ), dan  penyelesaian masalah ( decision making).

Enam kunci menjadi sukses

  • Diri sendiri, anda yang bertanggungjawab thd diri anda sendiri. Kegagalan dan keberhasilan hanya diri kita yang menentukan.
  • Presupposition, (logika berpikir), kita harus mempunyai logika berpikir yang positif. Logika akan menentukan arah yang anda tuju. Harus mulai mengenal konseksuensi logis dari setiap tindakan.
  • Tujuan. Apapun yang dilakukan harus memiliki tujuan yang jelas.
  • Rapport. Membangun hubungan mutualisme, dg orang lain, organisasi, masyarakat atau teknologi. Siapa diri anda adalah siapa yang sering anda temui dan siapa yang anda sering mengobrol dengan nya. Dan kita harus bergaul dengan orang-orang yang akan menjadi tujuan dari kesusksesan anda.
  • Awarenes ( peka), kita harus peka terhadap situasi yang terjadi. Setiap saat kita berubah, sesuai dengan perubahan kondisi dan situasi. Kepekaan utk merubah diri dengan situasi akan menentukan kesusksesan anda.
  • Flexibility, kita harus fleksibel untuk mendekati tujuan. Cara untuk mencapai tujuan harus fleksibel. Setiap perubahan sekecil apapun akan mendapatkan respon yang berbeda.

Home Visit / Kunjungan Rumah Pada Pasien TB MDR

Home Visit pasien TB MDR di lakukan oleh Pekerja Sosial, Manajer kasus, Perawat, Wasor dan petugas lain nya dilakukan untuk mendapatkan data dan kesimpulan yang tepat sehubungan dengan kondisi ekonomi, pendidikan, pengetahuan, keluarga, lingkungan yang bisa berpengaruh terhadap pengobatan pasien dimasa datang. Dengan Home visit di harapkan semua data yang diperolah akan lebih shahih dan dapat digunakan untuk perencanaan, monitoring dan evaluasi serta pelacakan pasien TB MDR. Home Visit bersifat, konfirmasi data yang telah tercatat dilayanan dengan kenyataan sebenarnya. Pengalian informasi baru lebih dalam untuk dalam mengetahui faktor pendukung agar pasien mampu menjalani terapi ke depan.

Home Visit Pasien TB MDR

•       Home visit Verifikasi

•       Home visit mangkir

Apa Saja yang dilakukan saat Home VisiT  ?

•       Assetment ( ekonomi, dukungan psikososial, persepsi pasien dan keluarga )

•       Diskusi dan edukasi

•       Support

•       konseling

•       Dokumentasi

A. Assestmen:

-siapa yang paling deket dengan pasien

-Siapa yang memegang otoritas ( didengar) di keluarga

– Kontak terdekat pasien

– persepsi pasien dan keluarga tentang efek samping dan pengobatan

-adakah lingkungan yang mendukung atau berpotensi mendukung pengobatan pasien

B. Diskusi dan Edukasi

•       Gali pengetahuan pasien ttg TB MDR dan pegobatan, pembiayaan pengobatan

•       Lakukan edukasi dengan santai dan bersahabat

•       Lakukan tanya –jawab untuk memastikan pasien mengerti yang disampaikan

•       Diakhir diskusi adakah hal lain yang ingin diketahui pasien

•       Gunakan alat peraga atau alat bantu edukasi lainnya

Support

•       Berusaha menjadi pendengar yang aktif

•       Beri kata-kata semangat

•       Dekati anggota keluarga yang berpegaruh

•       Ketahui orang lain yang mampu mempengaruhi pasien

•       Bantu pasien dan keluarga mengambil keputusan

•        Jangan menghakimi

Konseling

  • Pengalian masalah secara rinci
  • Membangun kepercayaan
  • Komunikasi aktif
  • pertanyaan terbuka dan tertutup
  • Menjadi pendengar aktif
  • fokus pada masalah

Pendokumentasian

  • Kegiatan harus dicatat sehingga bisa dijadikan Bukti
  • Bisa digunakan sebagai bahan untuk merencanakan kegiatan lanjutan
  • Sebagai bahan untuk MONEV

Catt: Home Visit harus dilakukan dengan atau tanpa persetujuan klien jika pasien bagi yang telah menandatanggani Inform consent kunjungan rumah. petugas perlu memperhatikan pakaian yang tidak mencolok (mis: pakaian dinas) dan aspek pencegahan infeksi

PENERAPAN MANAJEMEN KASUS

APA dan Mengapa Case Management?

Pengertian, konsep, dan kerangka kerja case management secara holistic.

Case Management:
Sebuah metode pendekatan secara individu yang menjelaskan setiap akses pemberian pelayanan yang ditujukan agar “seseorang” dengan permasalahan kompleks dapat memperoleh akses pelayan yang dibutuhkan secara tepat.

Case Management juga merupakan sebuah peta yang menuntut kita, memulai pelayanan dari konsep dasar pertama untuk membantu individu secara holistik .

Kerangka Kerja Case Management :
1. Analisis Kebutuhan (assessment)
2. Pembentukan Relasi Bantuan
3. Komunikasi Interpersonal dan Komunikasi Kelompok kecil (KPP, Konseling, dll)
4. Perencanaan strategi sesuai dgn kebutuhan seseorang
5. Intervensi dgn seseorang
6. Laporan kasus untuk monitoring kualitas
7. Evaluasi Dampak
8. Merencanakan Advokasi untuk Kesinambungan

Analisis Kebutuhan
a.Pahami permasalahan
b. Ketahui kelompok sasaran dan profil
c. Identifikasi kebutuhan
• Pembentukan Relasi Bantuan
a. Penghargaan terhadap pribadi seseorang dan lingkungan
b. Membangun hubungan personal dan lingkungan dengan ekspresi perasaan yang bertujuan (empati)
c. Penerimaan
d. Nonjudgement (sikap tidak menghakimi)
e. Menghargai proses pilihan dan hasil keputusan individu
f. Kerahasiaan

Komunikasi Interpersonal dan Komunikasi Kelompok kecil
Komunikasi untuk perubahan perilaku
Konseling dasar
Pemecahan masalah
Perencanaan strategi sesuai dgn kebutuhan seseorang
a. Peran-peran CM dalam pelaksanaan
b. Mengidentifikasi sistim akses kepada pelayanan holistic

Intervensi dgn seseorang
a. Kelola berdasarkan perencanaan
b. Bangun iklim jaringan yang positif dan focus pada perkembangan kebutuhan individu akan akses pelayanan
c. Membuat laporan untuk monitoring hasil
d. Tanggapi umpan balik dengan cepat dan tepat

Laporan kasus untuk monitoring

Evaluasi dampak

Merencanakan Advokasi untuk Kesinambungan