DIGILIFE DIGITAL CAMERA

Love In Bangkok ( Part I)

This slideshow requires JavaScript.

Giant bergegas mengambil beberapa celana dalam berlogo calvin klein dan Hugo boss. Dia sengaja memilih warna dan model yang berbeda. Mengulungnya menjadi sangat kecil di gengaman,  mengumpulkan dalam kantong kain dan meletak kan di sudut bagian atas koper nya. “ apalagi yah?” omongan keluar tanpa tahu bertanya sama siapa. Giant sendiri di kamar nya menjelang pagi. “ oh ya, sikat gigi dan pelembab muka” sambil berteriak dia bergegas ke kamar mandi. Mengambil beberapa peralatan mandi , kemudian  memasukan di kantong sebelah kiri atas koper.

“ alhamdulillah selesai”

“ Kriiiing… jkriiiiing” Alarmnya berbunyi saat menunjukan jam 2.00  dini hari . di luar masih sangat gelap. Dia bergegas ke Taksi yang sudah menunggu nya di  jalan kecil depan rumah . Bandara Soekarno Hatta, adalah tujuan yang hendak dicapai . Sepanjang jalan pikiran nya menerawang. Petualangan ini harus memberi kesan . dia berusaha tanamkan tekad sekuat baja di bathin  yang  sedikit goyah. Goyah, ketika Beib membatalkan keberangkatan dengan alasan, proyek pembangunan apartemen  sedang pengecoran tahap akhir. “ Beib , aku ngak bisa ikut, kamu aja yah, seraya memberikan dia  50.000 bath,”

Burd berlari kecil. Badan nya yang kekar terlihat kokoh pagi itu. Jam 2.00 di MRT Silom Line. Kaos V neck, menunjukan dada berbulu yang membusung dan bidang. Rambut halus di tangan meremang, karena terpaan udara pagi. Wajah nya tampak Capek. Setelah show selama 5 jam,  melayani seorang tamu dari belanda membuat  Lelah. Habis semua energi yang dipersiapkan  dari sore. Pagi ini, tujuan nya hanya satu,  ingin pulang ke kos-an di Mo Chit.  Seorang pria memperhatikan  dari atas kaki ke ujung kepala. Lalu pria itu menyapa nya.

“ Hei, kamu nomor 47 kan”

“ Aku pengagum baru mu, bisakah mengobrol sebentar ?”

Burd mundur dua langkah, dia kaget. Dengan terpaksa bibir nya tersenyum.

“ Boleh ku tahu, dari mana kamu memiliki dick sebesar itu? Ada waktu untuk menemaniku sekarang?”

Pria asing itu memberondong  pertanyaan  laksana prajurit yang kalap di depan musuh bebuyutan. Burd Tidak terlalu senang. Dia merasa Dilecehkan.

“ Maaf, saya harus pulang” wajah lelaki nya mengeras.   Dengan Acuh  dia beranjak masuk MRT yang segera membawa  pergi . Pria asing itu terlihat melonggo binggung.

Ini memang bukan yang pertama, sudah sering ia menerima pangilan dengan No. 47 itu. Di tempat kerja nya, dia akan sangat senang jika di awal acara ada orang yang memanggil  nomor tersebut. Itu berarti ia tidak harus melengak lengok, menari di panggung . Itu berarti ia akan pulang mengantongi duit yang banyak. Itu juga berarti ia akan segera melaksanakan tugas nya di tempat lain. Tempat yang kadang sangat mewah dibanding kos-anya di Mo Chit, atau kadang malah  di hostel murah seperti Lisa lodge di Silom . Paling tidak,  ia tidak harus memeragakan tubuh, kejantanan nya  di depan banyak tamu untuk malam itu.

Ia menemukan lelaki yang mirip diri nya sedang terbang dengan sayap putih. Berkali-kali lelaki itu melirik nya. Ia terpesona. Lelaki bertubuh kekar, berkulit sawo matang, memiliki sayap  terbang  tepat di  muka nya. Beberapa kali dia tersenyum. Setiap Burd  ingin  dekati , kedua sayap nya mengepak menjauh. Burn penasaran, mengejar nya. Tangan nya tak pernah sampai mengapai. Terbebas di awang. si lelaki bersayap itu seperti terus mengoda nya…

“ The Next Destination is Siam,” kalimat pemberitahuan tersebut,  membuyarkan mimpi Burd. Dengan mata yang masih berat ia bergegas turun, untuk segera berpindah ke MRT lain, Mo Chit.

2.00 AM, Robert berkali-kali membalikan badan. Matanya engan terpicing. Pikiran tertinggal di Hotmale, Soi 4 Patpong road. Bayangan kejantanan lelaki itu engan membiarkan  terlelap. Warna coklat kesukaan nya terlihat begitu sempurna di atas panggung. Urat-urat yang mengeras tidak hanya di bisep dan trisep tetapi sampai ke penis   yang menjulang kokoh. Ingin sekali ia menjilat nya saat itu, memagut tubuh itu, atau merangkul  dalam dekapan hangat . Berkali-kali tubuh nya kaku, celana dalam basah ketika melihat lelaki penari tersebut beraksi. Goyangan pinggul dan dada nya dan tangan nya seolah mengapai, memelintir, memagut, mengayun seirama musik.

Robert sedang liburan ke Bangkok . hati terikat ke kota ini. ini kali ke empat ia datang ke kota ini, sejak  6 tahun lalu.  ia selalu menyempatkan liburan ke Bangkok, Yokyakarta, bali,  setiap liburan . Bangkok mengikat nya, tidak saja Chao praya yang meliuk seperti Naga membelah Kota bangkok, tetapi juga suasana  Soi 4, Patpong road.   Lelaki asia selalu melenakan semua hasrat nya.

Giant menghirup udara segar sepanjang perjalanan dari Suvarnabhumi ke Phatumwan, kemacetan tidak seperti jakarta yang sangat semrawut. ia memasuki hotel saat matahari berada di tepat di ubun-ubun.  Setelah meninggal kan resepsionis,  diantar oleh seorang petugas hotel ke kamar 2202. Sebuah kamar yang mewah, bathub yang terbuat dari kaca transparan membuat nya terpesona. Selamat datang di dunia baru. Akan ku telusuri semua yang baru disini, bisik hati  nya.

Jam 21 00, waktu yang tidak berbeda dengan Jakarta, Giant mulai menjejakan kaki di Silom Road. Tidak sulit bagi nya untuk sampai disini, berbekal informasi dari door man di Condrad Hotel. Giant sampai juga di Silom Road, hanya dengan naik bus hotel ke statsiun Chit lam, kemudian naik kereta ke Shukumvit station untuk melakukan interchange ke MRT jurusan Silom, hanya 20 menit dari hotel.

Giant mulai melihat-lihat baju-baju kaki lima-an di Silom road. Walau di jual  di emperan, baju-baju yang di pajang cukup menarik hati nya. Up to date dan elegan, dia selalu menginginkan pakaian seperti itu membungkus tubuh nya. Untuk pakaian yang diinginkan nya, Giant tidak pernah bermasalah dengan harga.  Bagi nya rasa tertarik nya pada sesuatu adalah harga yang pantas ia bayar. Dia tidak pernah pelit terhadap apa yang disukai nya. Selera nya adalah segalanya bagi nya.

Giant meminta izin untuk mencoba Kemeja abu-abu yang dipadu dengan warna hitam di bagian kancing dan lengan. Dada nya yang bidang terlihat berkilauan di bawah lampu jalanan, bergegas dia mencoba baju tersebut, mengaitkan kancing, merapihkan kerah nya kemudian mematok dirinya di depan kaca setinggi tubuhnya yang di letakan di pinggiran baju-baju yang digantung membelakangi jalan.

Robert tak henti menatap tubuh telanjang di depan matanya. Sedikit aneh ia melihat pemuda  yang berani membuka baju nya di tengah jalanan  silom road. Dada bidang berbulu halus, lengan yang kekar, perut sixpack itu membuat mata nya seolah terikat dengan sosok yang menarik di depan nya.  Ia tak henti  menatap sambil berpura-pura melihat baju.

“it’s nice for u” ia mencoba membuka pembicaraan. Lelaki itu mengalihkan pandangan ke arah nya sambil tersenyum, robert menikmati nya.

“thank u” singkat sekali jawaban itu.

Robert terdiam, dia sebenar nya ingin memulai pertanyaan pembuka lainnya, tetapi lelaki itu seperti nya terlalu sibuk mencoba baju-baju yang di sodorkan kepadanya .

Patpong Road Soi 4

Berbekal  peta dan petunjuk lewat telpon dari Beib , Giant sampai juga di Hotmale Bar, Patpong Road Soi 4. Beberapa lelaki Thai mencoba menawarkan nya untuk menonton Seks Show yang menjadi daya tarik utama Silom. Wisata seks menjadi andalan Silom, semua jenis seks show ada disini. Mulai dari gogo dance, striptease yang di jakarta sangat tertutup sampai Seks show dalam arti sebenar nya terdapat di Sini. Tidak hanya hubungan penetrasi antara wanita-pria, pria-pria, pria-waria, Orgy dan lainnya  menjadi legal di sini. Silom Road memang andalan pariwisata Bangkok di Kala malam tiba. Beib tidak pernah melarang Giant selama di bangkok. Dia hanya berpesan  agar Giant hati-hati dan  menikmati liburan nya kali ini. Itu yang di sukai Giant dari Beib, sangat dewasa dan tidak mengekang.

Memasuki Hotmale bar, Giant sedikit Risih. Beberapa lelaki telanjang terlihat bergoyang di panggung utama yang di kelilingi oleh kursi penonton. Empat penari lainnya meliuk-liukan tubuh nya di panggung kecil selebar satu meter yang terdapat di empat sudut ruangan . Giant duduk di kursi tengah sebelah kanan panggung.  Beberapa kursi di bahagian pinggir yang remang sudah di penuhi oleh pengunjung. Beberapa tamu bermata sipit dan berkulit putih terlihat di sebelah utara. Beberapa lelaki memakai celana pendek dan perempuan-perempuan terlihat asyik menikmati pertunjukan. Giant meletak kan pantat nya. Hanya dia yang datang sendiri sepertinya

Seorang pelayan, lelaki muda bertelanjang dada menghampiri nya,

“ยินดีต้อนรับ “

“ English please”

“ Where are u come from?”

“ Jakarta” Giant mengeser duduk nya, si pelayan duduk di samping nya sambil menyediakan daftar Menu

“ wajah  mu terlihat seperti orang Thai”

“ oh yah, mungkin  karena kita  bangsa bertetangga” Giant menjawab sambil mengambil daftar menu dan memperhatikan satu persatu menu yang di tulis dalam bahasa Thai dan  inggris.

Giant memesan segelas long island. pelayan pergi ke Meja bar, tidak lebih 10 menit kembali di saat  lelaki-lelaki di panggung mulai membuka G string yang menjadi penutup akhir tubuh nya. Dada Giant berdebar keras, ada sesuatu yang bergerak di celana nya.

Burd sedang berganti baju di kamar ganti. sejak tadi pagi ada sesuatu yang menganggu pikiran nya.  lelaki bersayap dalam mimpi nya seolah terikat erat di pikiran . membekas di alam bawah sadar . Dia mengambil sebuah botol berwarna putih dari dalam kemudian membuka tutup nya  . dua butir pil keemasan dari dalam botol  langsung melesak ke mulut, dengan bantuan air mineral yang telah disiapkan sebelum nya pil itu mengalir lewat tenggorokan dan memasuki lambung nya. Burd terduduk di kursi Pojok. Ini Bagian yang tidak disukai nya. rutinitas meminum Pil emas ini membuat nya jenuh, bosan dan muak. tetapi jika bukan karena ini, maka kejantanan nya tidak akan sempurna sepanjang pertunjukan. Tidak  akan mampu membuat tamu terpana. yah, mau tidak mau, ritual ini harus tetap di lakukan sepanjang ia mau tetap bekerja demi dua putri nya di rumah.

Burd Sekarang tinggal bersama Putri nya, Chattiya sang istri meninggal kan nya. Chattiya tidak sangup hidup sebagai Istri Burd yang awal nya bekerja sebagai Waiters di KFC Silom. gaji nya sebesar 1200 Bath per bulan tidak pernah cukup buat berempat. Chattiya akhir nya pergi. tinggalah Burd bersama kedua putri nya.  Burd Keluar dari KFC dan akhir nya memilih bekerja sebagai Penari di Hotmale Bar.

Robert memasuki Hotmale dengan langkah santai. Mata nya berkeliling melihat ruang kosong. hampir semua kursi terisi. kemudian mata nya menangkap sosok yang terlihat berganti baju di Silom Road.

‘ oh, ini kesempatan” bisik hati nya.

Dia mengayunkan langkah ke kursi  kosong di sebelah kanan lelaki  yang sedang mengobrol dengan waiters .

“ boleh saya duduk?”

“ Silahkan” mata biru robert melihat senyum manis di bibir merah.

“ Saya Robert dari Jerman, boleh saya tahu nama anda? “ Robert menjulurkan tangan nya

“Giant dari jakarta”

“ jakarta, kota yang sangat macet hah?”

“ Yup, sekarang masih macet parah” Giant berpikir jika bule yang didepan nya cukup ramah dan terlihat sangat menarik di bawah lampu temaram bar.

Burd berdiri di belakang panggung. lima menit lagi waktu nya untuk tampil membius penonton.  Tubuh tegap dibaluri lotion yang membuat kulit gelap nya mengkilap. otot-otot terlihat mengelembung, perut sicpack nya terlihat menawan ditutupi rambut-rambut halus yang terhubung dari pusat sampai ke batas g string berwarna hitam yang dikenakan.

Burd mulai melakukan relaksasi, kaki nya beberapa kali di regangkan di lantai membentuk garis lurus kedua tangan nya berusaha menjangkau ke dua ibu jari kaki secara bergantian.

“ Burd siap! dua menit lagi!” satu suara keras membuat Burs harus segera berdiri. dia menyambangi kaca sebentar, memperhatikan setiap bagian tubuh dan membentulkan No 47 yang terlihat bergeser akibat peregangan yang dilakukan barusan. Dada nya berdebar keras, saat bayangan lelaki bersayap melintas kembali di pikiran. kemudian dia beranjak ke Pintu penghubung Ruang ganti dengan panggung. Dia melangkah penuh keyakinan. penampilan nya masih yang terbaik di Hotmale Bar.

( bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s