Asosiasi Psikiater Amerika menyurati Asosiasi Psikiater Indonesia terkait LGBT

Renée Binder M.D. Presiden Asosiasi Psikiater Amerika

Pada tanggal 9 Maret 2016, Presiden Asosiasi Psikiater Amerika –American Psychiatric Association (APA), Renée Binder, M.D, dan Direktur Medis dan CEO APA, Saul M. Levin, M.D., M.P.A. menandatangani surat yang mereka layangkan kepada Asosiasi Psikiater Indonesia (IPA) untuk mempertimbangkan kembali keputusan mereka terkait homoseksualitas. IPA belum lama ini menklasifikasikan homoseksualitas sebagai gangguan kejiwaan, sebuah label yang salah yang sebenarnya sudah dibantah oleh banyak bukti-bukti penelitian ilmiah.

Tidak ada bukti ilmiah yang mengatakan orientasi seksual (heteroseksual, homoseksual dan lainya) sebagai pilihan.

Berdasarkan bukti ilmiah yang terakhir, memang menunjukkan bahwa orientasi seksual,  ekspresi gender dan identitas gender terjadi secara alami, dan tidak mempunyai ancaman terhadap masyarakat di mana orientasi seksual, ekpresi dan identitas gender tersebut diterima sebagai hal yang normal yang merupakan variasi seksualitas manusia.

Ada pendapat yang kuat yang menyatakan bahwa ada komponen biologis yang kuat terkait orientasi seksual yang mana ini bisa dipengaruhi oleh interaksi gen, hormon dan faktor lingkungan. Jadi intinya, tidak ada bukti-bukti ilmiah yang mengatakan bahwa orientasi seksual baik itu heteroseksual, homoseksual dan lainnya sebagai sebuah pilihan.

Usaha untuk mengubah orientasi seksual melalui “Terapi Konversi” bisa membahayakan. Resiko yang ditimbulkan dari terapi tersebut diantaranya, depresi, keinginan bunuh diri, kecemasan, mengurung diri dari masyarakat dan berkurangnya keinginan untuk berhubungan intim. Karena alasan ini, APA dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) tidak mengategorikan LGBT sebagai sebuah gangguan.

Setelah meninjau kembali bukti-bukti ilmiah, pada tahun 1973 APA memutuskan bahwa homoseksualitas bukan gangguan kejiwaan dan menghilangkannya dari DSM. Sejak saat itu APA sudah menyatakan bahwa tidak ada basis rasional, ilmiah dan lain sebagainya untuk mendrikriminasi atau menghukum LGBT. APA juga menyatakan bahwa konversi dan terapi reparatif hanya akan berujung pada sebuah tindakan perawatan paksa dan mempunyai potensi kekerasan terhadap individu LGBT.

Dalam surat yang ditulis Dr. Binder dan Saul M. Levin tersebut  berisi daftar sejumlah penelitian yang mendukung dan menegaskan pernyataan APA terkait isu-isu diatas. Asosiasi Psikiater Dunia  –The World Psychiatric Association (WPA) juga mengeluarkan pernyataan serupa yang menyatakan bahwa mereka menegaskan kembali bahwa tidak ada bukti bahwa orientasi seksual adalah pilihan dan bisa diubah. Berdasarkan fakta ini, serta banyaknya bukti ilmiah yang mendukung, APA dengan penuh hormat berharap bahwa anggota-anggota IPA akan menimbang kembali keputusan mereka.

Sebelumnya pada tanggal 2 Maret 2016, British Psychological Society (BPS) juga melakukan hal serupa. Mereka menyatakan bahwa keputusan IPA yang mengategorikan Homoskesualitas sebagai gangguan jiwa adalah salah.

Baca juga : British Psychological Society mengecam Asosiasi Psikiater Indonesia yang menyatakan LGBT sebagai penyakit jiwa

Sebenarnya juga sudah jelas bahwa dalam  Buku Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) III yang diterbitkan Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 1993, menyatakan bahwa  Homoseksual (Gay dan Lesbian) dan Biseksual TIDAK TERMASUK GANGGUAN JIWA.

Baca juga : Dr. Fidiansyah diminta meminta maaf atas pernyataannya yang mengatakan homoseksualitas adalah gangguan jiwa

Berikut surat resmi APA

apa 1

apa 2

apa 3

 

Atau bisa diunduh di sini : APA-denounces-IPA-LGBT-classification

Terjemahan dalam Bahasa Indonesia

8 Maret 2016
Dr Tun Kurniasih Bastaman
Asosiasi Psikiatri Indonesia
Jl Prof Latumenten 1
Jelambar, Grogol Petamburan
JAKARTA 11460
Via info@pdskji.org dan tunbastaman@yahoo.com

Untuk Dr Tun Kurniasih Bastaman:
Kami menulis atas nama American Psychiatric Association untuk mengungkapkan keprihatinan kami atas pernyataan Asosiasi Psikiatri Indonesia baru baru ini yang mengklasifikasikan homoseksualitas sebagai gangguan mental serta pernyataan bahwa individu tersebut dapat disembuhkan dengan “perawatan yang tepat.” Berita menyampaikan bahwa IPA (Indonesian Psychiatric Association – Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia) mengatakan: “Orang-orang dengan homoseksualitas dan biseksualitas dapat dikategorikan sebagai orang-orang dengan masalah mental, “dan bahwa orang-orang tersebut menderita “masalah fisik, mental dan sosial, masalah pertumbuhan dan perkembangan, dan / atau masalah kualitas hidup, yang memicu adanya risiko pengalaman gangguan mental”. Kami juga memahami bahwa Anda telah membuat klaim serupa tentang individu transgender

Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan kembali posisi Anda, karena penelitian ilmiah yang terbaru dan terbaik menunjukkan bahwa orientasi seksual dan ekspresi gender yang berbeda terjadi secara alami dan belum terbukti menimbulkan kerugian bagi masyarakat di mana mereka diterima sebagai varian normal seksualitas manusia. Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa upaya untuk mengubah orientasi individu – yang disebut “terapi konversi” atau “terapi reparatif” – bisa berbahaya, dan terkait dengan depresi, bunuh diri, kecemasan, isolasi sosial dan penurunan kapasitas keintiman.

Untuk alasan tersebut, APA Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) tidak mengklarifikasi kan individu lesbian, gay, biseksual atau transgender terganggu secara intrinsik.

Kami dengan penuh hormat menunjuk bahwa individu dalam PDSKJI yang menyebabkan perubahan dalam klasifikasi telah salah mengerti pentingnya penemuan ilmiah terkini, yang menunjukkan bahwa banyak faktor, termasuk baik biologis ataupun lingkungan, memainkan peran dalam membentuk orientasi seksual dan identitas gender. Secara singkat, orientasi seseorang bukanlah sebuah pilihan.

Ada bukti yang kuat bahwa genetiik berperan dalam menentukan seksualitas seseorang. Mustanksi, dkk, menulis dalam Annual Review of Sex Research : “Riset genetik menggunakan metodologi studi keluarga dan kembar telah menghasilkan bukti konsisten bahwa gen mempengaruhi orientasi seksual.” Kesimpulan ini dicapai setelah tinjauan komprehensif dari riset yang berhubungan sepanjang periode 10 tahun yang berakhir pada tahun 2002. Studi ini dan studi lainnya menunjukkan bahwa gen memang memainkan peran, meski tidak harus selalu peran satu-satunya, dalam menentukan orientasi seksual. Dan sebagaimana sifat (trait) yang ditentukan oleh genetis, hal ini (orientasi seksual) memiliki lebih dari satu gen yang turut berperan serta.

Sebuah studi Finlandia melibatkan 3,261 kembar Finlandia berumur 34-43 tahun, diterbitkan dalam Archives of Sexual Behavior pada tahun 2007 menunjukkan bahwa “analisis genetik kuantitatif menunjukkan bahwa variasi dalam perilaku gender atipikal dan orientasi seksual dewasa memiliki bagian yang disebabkan oleh genetik, dengan sisanya dijelaskan oleh efek lingkungan yang tidak terbagi.” Penulis mengutip dari studi di Belanda mengenai perilaku gender atipikal pada kembar umur 7- dan 10 dan orientasi seksual yang terbentuk kemudian hari, dimana riset ini menemukan bahwa faktor genetik terhitung berperan sekitar 70% variansi dalam perilaku gender atipikal untuk laki-laki dan perempuan, dan fenomena ini secara substansial berhubungan dengan homoseksualitas.

Ada bukti lainnya bahwa, sepanjang masa perkembangan janin, pemaparan terhadap jenis hormon tertentu dapat memainkan peran. Sebuah tinjauan pada tahun 2011 yang dilakukan oleh peneliti Belgia, Jacques Balthazart dan diterbitkan di jurnal Endocrinology menyimpulkan bahwa “rerata subjek homoseksual dulunya terpapar dengan kondisi endokrin atipikal sepanjang perkembangan,” dan bahwa “perubahan endokrin yang signifikan sepanjang masa embrio seringkali menghasilkan meningkatnya homoseksualitas”

Sebagai tambahan, faktor genetik dan hormonal secara umum berinteraksi dengan faktor lingkungan yang tidak dapat ditentukan, meskipun demikian faktor pola asuh yang ataupun pemaparan terhadap individu gay tidak menyebabkan homoseksualitas. Jumlah opini dalam komunitas ilmiah yang ada kebanyakan adalah hadirnya komponen biologis yang kuat untuk orientasi seksual dan bahwa faktor genetik, hormonal dan lingkungan berinteraksi untuk mempengaruhi orientasi individu. Tidak ada bukti ilmu yang menyatakan baik homoseksualitas ataupun heteroseksualitas adalah pilihan kehendak bebas.

Rice, dkk mencatat pada artikel tahun 2012 mereka bahwa “Studi prapuber dan kembar menunjukkan bahwa homoseksualitas memiliki unsur pewarisan dalam kedua jenis kelamin,” namun pemaparan masa janin (atau kekurangan pemaparan) dari hormon androgen yang bersifat memaskulinkan sepanjang tahap paling aawal dari perkembangan embrio memiliki hubungan yang kuat dengan orientasi seksual pada kedua jenis kelamin. Embrio perempuan yang terpapar tingkat androgen di atas rerata akan memiliki kecenderungan untuk menjadi perempuan gay, sebagaimana kekurangan pemaparan androgen dari rerata di janin laki-laki menghasilkan homoseksualitas.

Dalam artikel 2011 oleh Bao dan Swaab menjelaskan bahwa fenomena dari ketertarikan seksual yang berjalan memunculkan kondisi fisiologis tertentu pada seseorang dikarenakan diferensiasi seksual seseorang muncul belakangan di masa perkembangan janin daripada pembentukan alat kelamin, Sebagai hasilnya, feminisasi otak dapat terjadi pada janin laki-laki, disebabkan oleh pemaparan hormonal jauh sesudah menetapnya gender laki-laki.

Penting untuk mengakui bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa percobaan untuk mengubah orientasi seksual seseorang pernah berhasil, bahkan ketika subjek tulus ingin mengubah (orientasinya).

Pada tahun 1973, berdasarkan review penelitian ilmiah, American Psychiatric Association menetapkan bahwa homoseksualitas bukan merupakan gangguan mental dan dihapus dari DSM. Ini adalah posisi APA, yang mengungkapkan bahwa tidak ada dasar rasional, ilmiah atau lainnya, untuk menghukum atau mendiskriminasi orang-orang LGBT.

Dengan segala hormat untuk Anda dan orang-orang Indonesia, kami menyarankan bahwa pengklasifikasian homoseksualitas dan ekspresi gender sebagai gangguan intrinsik hanya akan menyebabkan pemaksaan “perawatan” dan kekerasan terhadap orang-orang yang tidak menimbulkan kerugian bagi masyarakat dan tidak bisa mengubah siapa mereka.

Kami berharap bahwa dengan menyediakan Anda data ilmiah tambahan di atas akan memberikan informasi terkait keputusan Anda. Kami mendorong Anda untuk mempertimbangkan bukti yang terkandung dan untuk mempertimbangkan kembali keputusan Anda. Kami siap untuk menjawab setiap pertanyaan yang mungkin Anda miliki.

Hormat kami,
Renée Binder, MD
President CEO

Saul Levin, MD, MPA
Medical Director

Terjemahan dikutip dari Sdr Ferene Debineva

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s