It's Time To MANDATORY COUNSELING AND TESTING

Sulis ( bukan Nama sebenarnya), 22 tahun masih menangis di ruanganku, ada kekecewaan yang besar dalam dirinya ketika melihat hasil VCT nya. Ku ambilkan selembar tissue , dan kuserahkan ke tangannya. Kubiarkan dia larut dalam kegalauan dan mungkin kebuntuan nalarnya.

Sulis, wanita muda itu datang ke kantorku, setelah didiagnosis HIV positif dari RSUD Koja. Beberapa kali dia mengemukakan alasan kalau dirinya tidak mungkin terinfeksi virus HIV.

” aku hanya melakukan hubungan seksual dengan suamiku, tidak pernah memakai narkoba jenis apapun dan aku bukan wanita yang bergaul mas, kesalon aja ngak pernah” ujarnya di sela air mata yang membasahi pipi kemerahannya.

Ini bukan yang pertama, selang satu jam sebelumnya aku juga berdiskusi banyak dengan seorang ibu muda yang sangat kuat, Meida, seorang guru Sekolah dasar juga mengalami masalah sama. Terinfeksi HIV dari suami, sementara dia selama ini menjaga prilaku dengan sangat sempurna di bawah jilbab panjang nya.

”Aku berserah pada jalan Tuhan mas, Aku menikah dengan Mas Irfan atas perjodohan keluarga. Mas irfan tidak pernah cerita kalu dia pernah memakai Narkoba saat masih remaja”

Yang lebih memilukan adalah Diana, hari ini dia meninggal dunia. Dia menolak setiap jenis pengobatan yang akan diminumnya sejak Dokter di RSPI jakarta utara mendignosa nya HIV positif. Dia kadang berteriak ingin mati. Meronta seperti orang gila, bahkan kadang ku takut melihat matanya membeliak marah jika dia ingat tentang penyakitnya. Diana kalut tidak tahu tertular HIV dari siapa, 10 tahun menikah , dia hanya melakukan hubungan seksual dengan suami, tidak pernah memakai narkoba dan faktor resiko lainnya. Diana, hanya buruh garment sederhana, yang berangkat kerja dari jam 7 pagi dan pulang jam 5 sore. Selain itu rutinitas nya hanya melayani suami yang pekerja pelabuhan. Aku sempat binggung juga menjelaskan kenapa Diana bisa terinfeksi karena Diana bercerita suaminya negatif hasil tes darahnya.

Tapi hanya seminggu, Tuhan memberikan jawaban yang sebenarnya dari kasus Diana kebinggunganku terjawab ketika dokter Wayan dari Pokja HIV / AIDS rumah sakit umum Koja, merujuk seorang pria yang telah 4 bulan ARV ke ruanganku karena bermasalah dengan kepatuhannya minum obat. Dia ternyata suami Diana.

Sangat ironis memang, ketika rumah tangga , yang sejatinya tempat bernaung dan berlindung seluruh anggota keluarga mulai menjadi sumber infeksi baru. Pernikahan yang pada awalnya menjadi tonggak untuk membentuk keluarga sakinah, keluarga utuh menjadi monster baru yang menakutkan bernama Virus HIV.

Spesialis penyakit dalam RSUP dr Kariadi Semarang, Muchlis Achsan Udji Sofro bahkan menegaskan bila penularan HIV/AIDS telah meluas di kelompok masyarakat umum bukan saja pekerja seks atau pengguna narkoba suntik, tetapi juga ‘menyerang’ ibu rumahtangga (Antara, 27/11).

Yayasan pelayanan Anak dan Keluarga (LAYAK), sebuah yayasan yang bergerak dibidang penjangkauan  penguna jarum suntik dan dukungan psikologi dan sosial ( Manangemen Kasus) bagi ODHA dan keluarga, sampai saat ini ( Oktober 2009)  telah mendamping lebih dari 1770 orang ODHA di seantero DKI Jakarta, dan 45 % menikah dan 70 % terjadi infeksi pada pasangan dalam pernikahan.

Sementara Yayasan Pelita Ilmu Jakarta mengungkap, 90 persen dari 40 ibu rumahtangga yang didampingi, tertular virus dari suaminya (Seputar Indonesia RCTI, 30/11). Ayo Peduli! Seruan itu mungkin paling pas untuk digemakan untuk mengajak ibu rumahtangga lebih peduli pada HIV/AIDS. Dan fakta ini, seharusnya membuat masyarakat lebih memiliki kepedulian terhadap masalah HIV/AIDS. Sebab HIV/AIDS tidak hanya dimiliki golongan tertentu, etnis tertentu, profesi tertentu, usia tertentu dan jenis kelamin tertentu. Siapa pun bisa terinfeksi virus tersebut, tanpa pandang bulu.
Bahkan HIV/AIDS bukan lagi merupakan masalah nasional tetapi sudah menjadi masalah global. Ketika laju epidemi melesat, yang diperlukan bukan hanya penanganan cepat namun juga kepedulian semua pihak.

It’s Time to mandatory

Ketika heteroseksual, biseksual serta penasun atau IDU’s (injection drug users), menjadi salah satu sumber penularan HIV/AIDS yang mencengkeram orang muda, maka ‘bencana’ sesungguhnya sedang dan semakin mengintip perempuan muda dan mereka yang (kemudian) berstatus sebagai ibu rumahtangga. Seorang perempuan ‘baik-baik’ dalam arti hanya melakukan hubungan seks dengan suami, sangat mungkin bisa tertular pula ketika suaminya ‘sempat menyimpan’ virus tersebut di tubuhnya dari pelbagai sebab. Mulai penggunaan jarum suntik tidak steril tersebut dalam kehidupan masa lalunya, kehidupan seksual yang tidak sehat ataupun yang lain.

Bisa dipahami karena HIV menyerang salah satu jenis dari sel-sel darah putih yang bertugas menangkal infeksi. Sel darah putih tersebut termasuk limfosit yang disebut ‘sel T-4’ atau disebut juga ‘sel CD-4’. HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan kemudian menjadi AIDS dengan masa inkubasi 5-8 tahun. Artinya, orang yang terinfeksi virus dapat tetap hidup tanpa gejala untuk jangka waktu panjang. Ketika siklus HIV menjadi AIDS cukup lama maka banyak orang tidak sadar telah terjangkit virus ini bahkan sudah menularkan pada pasangan setianya

Untuk ini sudah saatnya mandatory tes  HIV dilakukan; terutama untuk pasangan yang mau menikah. Mandatory counseling Testing sebenarnya telah dilakukan di berbagai negara malah tidak hanya untuk pasangan yang mau menikah  tetapi bagi semua warganya. Malaysia adalah salah salah satu negara yang telah menerapkan Mandatory counseling testing pra nikah. Dan ini adalah langkah awal agar tidak terjadi infeksi dalam rumah tangga. Untuk melindungi pasangan sah dari sisa  masa lalu pasangannya. Dan menghambat masuknya epidemi HIV di Indonesia dalam populasi umum. Allahualam bissawab…

2 comments on “It's Time To MANDATORY COUNSELING AND TESTING

  1. selamat siang…..
    cerita mengenai sulis diatas.hampir sama dengan yang saya alami…beberapa kali pemeriksaan pasangan saya negatif…hasil pemeriksaan saya dilakukan tanpa sepengetahuan saya..pemeriksaan dilakukan oleh RS tempat saya bekerja..kira2 apa yang harus saya lakukan…pemeriksaan cd4 = 461 dengan status positf hiv
    .terimakasih

    • Goris yang Baik,
      Saat ini rumah sakit memiliki hak untuk memeriksa kondisi HIV seseorang tanpa bersetujuan yang bersangkutan terlebih dahulu, setelah di ketahui hasil baru dilakukan konseling ( PITC ). Dengan CD4 diatas 400, dan jika tidak ada symptom ( gejala Infeksi opportunistik atau lainnya) yang harus dilakukan adalah menjaga pola hidup sehat, olahraga, menghindari makanan yang tidak matang sempurna dan atau tidak bersih, seks harus dengan kondom dan jika anda kebinggungan silahkan hubungi Positive Rainbow di 021 94461642, atau kontak saya di hermanvarella@yahoo.co.id. Positive Rainbow memberikan konseling dan dukungan sebaya untuk ODHIV di wilayah Jakarta dan sekitar nya.
      Terimakasih telah Mampir.
      tetap semangat Goris..

      salam

      Varel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s