Seri Kesehatan Mental dan HIV/AIDS

Kelompok Dukungan Psikososial dalam Pogram Pengobatan Anti Retroviral (ARV)

Penandaan yang digunakan dan presentasi bahan-bahan dalam publikasi ini tidak mewakili pernyataan atau pendapat dari the World Health Organization berkaitan dengan status legal suatu negara, kota atau wilayah, atau sehubungan dengan delimitasi dari perbatasan. Garis putus-putus pada peta hanya mengambarkan garis batas kira-kira dimana ia mungkin belum sepenuhnya disepakati.

Penyebutan nama produk perusahaan tertentu tidak berarti produk tersebut disetujui atau direkomendasikan oleh the World Health Organization dan lebih disukai dibanding produk lain dengan sifat yang sama yang tidak disebutkan. Nama dari prodk paten ditandai dengan huruf capital inisial, kecuali bila terjadi kesalahan dan kelalaian.

Semua tindakan pencegahan telah dlakukan oleh World Health Organization untuk memverifikasi informasi yang ada pada publikasi ini. Namun, bahan publikasi ini didistribusikan tanpa ada jaminan apapun, baik yang tersurat maupun yang tersirat. Interpretasi dan pemanfaatan dari materi ini menjadi tanggung jawab pembacanya sendiri. Dalam keadaan apapun, World Health Organization tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang timbul dari penggunaan tulisan ini.

Bagian dari publikasi ini aslinya dipublikasikan oleh Partner in Health sebagai GUIA SES para Grupos de Apoyo Psico-Social con

Pacientes con TB-MDR, Copyright 2003 – 2004© Partners in Health, dan dipublikasikan kembali di sini atas kemurahan hati Partners in Health

Dicetak di Hohanesburg

Ditulis oleh:

Annika Sweetland

(Partners in Health, USA/Peru)

Ray Lazarus

(Unit Penelitian HIV Perinatal, Afrika Selatan)

Melvyn Freeman

(Konsultan WHO, Afrika Selatan)

Kerry Saloner

(Konsultan HIV/AIDS, Afrika Selatan)

Ini adalah modul 4 dari seri ’Kesehatan Mental dan HIV/AIDS’

Modul yang lainnya adalah:

  1. Dukungan organisasi dan sistem untuk intervensi kesehatan mental dalam program pengobatan antiretroviral (ARV)
  2. Pedoman konseling dasar untuk program pengobatan anti-retroviral (ARV)
  3. Perawatan psikiatris dalam pengobatan anti-retroviral (ARV (untuk perawatan tingkat ke dua)
  4. Intervensi psikoterapeutik dalam pengobatan anti-retroviral (ARV) (untuk perawatan tingkat ke dua)

WHO mengucapkan terima kasih atas dukungan dana dari Uni Eropa melalui the National Department of Health di Afrika Selatan.

Ilustrasi oleh Rigel Stuhlmiller, hak dilindungi undang-undang

Bantuan editorial oleh Bobby Rodwell dan tampilan serta rancangan oleh Fontline International.

Kelompok teknis dan penasihat untuk serial ini:

Dr. Atalay ALEM (Universitas Addis Ababa, Ethiopia)

Dr. Jose BERTOLOTE (WHO, Switzerland)

Dr. Jose CATALAN (Rumah Sakit Chelsea & Westminster, United Kingdom)

Dr. Pamela COLLINS (Universitas Columbia dan Institut Psikiatri New York State, USA)

Dr. Francine COURNOS (Institut Psikiatri, New York State, USA)

Prof Melvyn FREEMAN (Konsultan WHO, Afrika Selatan)

Dr. Sandra GOVE (WHO, Switzerland)

Dr. Mark HALMAN (Rumah Sakit Saint Michael, Universitas Toronto, Canada)

Dr. Kevin KELLY (Pusat Pengembangan, Penelitian dan Evaluasi AIDS, Afrika Selatan)

Ms Ray LAZARUS (Unit Penelitian HIV Perinatal, Afrika Selatan)

Dr. Joseph MBATIA (Kementrian Kesehatan, Tanzania)

Prof. Dan MKIZE ( N. Mandela Medical School, Afrika Selatan)

Dr. Vikram PATEL (Sangath Centre, India)

Ms Kerry SALONER (Pusat Studi AIDS, Afrika Selatan)

Mr Vernon SOLOMON (Universitas KwaZulu-Natal, Afrika Selatan)

Prof Leslie SWARTZ (Dewan Penelitian Ilmu Pengetahuan Manusia, Afrika Selatan)

Ms Annika SWEETLAND (Partners in Health, USA/Peru)

Dr Rita THOMB (Universitas Witwatersrand, Afrika Selatan)

Daftar Isi

 

Kata Pengantar

Kata Pendahuluan

Tujuan dari Kelompok Pendukung

Berbagai Jenis Kelompok Pendukung

Kelompok penyuluhan

Kelompok Pedukung yang dikelola sejawat

Kelompok Pengobatan

Struktur kelompok dan keanggotaanya

Terbuka vs tertutup

Kelompok pendukung yang dibatasi waktu vs yang tidak terbatas

Kelompok dengan target campuran vs spesifik

Siapa yang menglola kelompok pendukung?

Siapa yang harus turut serta dalam kelompok pendukung?

Mengelola suatu kelompok pendukung: logistik dan pertimbangan lainnya

Bagaimana kelompok berkembang sejalan dengan waktu

Memulai suatu kelompok: sesi pertama

Fase operasional/pelaksanaan

Mengakhiri suatu kelompok pendukung

Strategi apa yang digunakan untuk memfasilitasi suatu kelompok pendukung terapetik?

Beberapa masalah yang biasanya timbul dalam kelompok pendukung

Penolakan sosial dan diskriminasi

Pengungkapan: Bercerita kepada orang lain bahwa seseorang positif HIV

Hidup dengan pengobatan anti retroviral

Hubungan dengan partner

Kematian dan hampir mati

Mengatasi masalah yang timbul selama kelompok berproses

Mendorong efektivitas fasilitator

Kesimpulan

Kata Pengantar

Epidemi AIDS adalah salah satu dari tangtangan sosial dan kesehatan masyarakat yang paling serius yang pernah dihadapi dunia. Ia tidak hanya menghancurkan individu, melainkan juga keluarga, masyarakat dan seluruh tatanan sosial. Yang paling parah terkena adalah masyarakat yang paling tidak mempunyai kemampuan untuk membatasi dan mengendalikan penyakit ini. Ini mungkin menjadi rintangan dalam pencapaian Millenium Development Goals.

Untuk mengatasi ini WHO telah mencanangkan inisiatif 3 kali 5 (3 by 5 initiative), yang bertujuan selain untuk memberikan pengobatan kepada berjuta orang yang memerlukan, juga membangun elemen sistem kesehatan yang diperlukan untuk memberikan layanan tersebut.

Karenanya, menangani gangguan mental pada orang yang hidup dengan HIV/AIDS mempunyai konsekuensi besar untuk kemanusiaan, kesehatan masyarakat dan ekonomi; seperti halnya memberikan dukungan psikososial yang memadai bagi orang yang membutuhkannya. Ini bukanlah upaya yang mudah, dilihat dari terbatasnya sumber daya manusia, teknis dan keuangan.

Buku ini merupakan kontribusi dari Departemen Keehatan Mental dan Ketergantungan dari inisiatif 3 kali 5 WHO, namun lebih dari itu. Dalam menyusunnya dilibatkan para pakar kesehatan jiwa di kalangan orang dengan HIV/AIDS dari seluruh dunia. Mereka dengan rela menyumbangkan pengetahuan, kepakaran, energi dan antusiasme untuk kerja keras ini. Kami sangat berhutang budi kepada mereka, serta kepada badan-badan dan organisasi yang terkait. Nama dari para kontributor bisa dilihat pada tiap modul pada buku ini. Terima kasih khususnya kami tujukan kepada Prof Melvyn Freeman, yang telah mengarahkan kelompok kerja ini, dengan penuh kesabaran dan efisiensi.

Kini, kita menyediakan bahan ini, tidak sebagai produk final, melainkan sebagai perangkat kerja, untuk diterjemahkan dalam bahasa setempat, diadaptasi sesuai kebutuhan, dan dikembangkan. Suatu instrumen pelajaran/pelatihan khusus, yang berkaitan dengan buku ini, akan segera diterbitkan, sebagai kontribusi lain dari upaya besar membangun keterampilan dari sumber daya manusia yang tersedia dan diperlukan, khususnya dimana inisiatif 3 kali 5 dijalankan. Komentar, saran dan dukungan sangat dinantikan.

Dr Benedetto Saraceno, Direktur Departemen Kesehatan Mental dan Penyalahgunaan obat, World Health Organization

Dr Jim Kim, Direktur Departemen HIV/AIDS; World Health Organization

Kata Pendahuluan

Di antara mereka yang terkena atau berisiko terkena HIV/AIDS adalah orang dengan gangguan jiwa. Ini terutama terjadi melalui dua mekanisme:

(i)                 beberapa gangguan jiwa membuat orang lebih rentan terhadap infeksi virus (misalnya, pengguna obat suntik intravena, penyalahgunaan alcohol, depresi mayor dan gangguan psikotik, gangguan perkembangan , dan gangguan jiwa lain yang merusak kemampuan menilai dan membuat keputusan) dan leibh rentan terhadap situasi yang meningkatkan risiko menularkan virus ke orang lain; dan

(ii)               beberapa bentuk infeksi HIV mempengaruhi otak dan menciptakan gejala klinis yang pada mulanya menyerupai beberapa gangguan jiwa.

Sayangnya, kondisi saling mempengaruhi antara HIV/AIDS dengan gangguan jiwa berjalan lebih jauh dari sekedar saling memfasilitasi kejadian. Mungkin aspek praktis yang paling relevan dari interaksi ini berhubungan dengan kepatuhan terhadap pengobatan. Telah sama-sama diketahui bahwa adanya gangguan mental – khususnya depresi, psikotik dan penyalahgunaan obat – menurunkan kepatuhan berobat terhadap semua kondisi, termasuk HIV/AIDS.

Kegagalan dalam kepatuhan berobat dengan antri-retroviral (ARV) akan mengakibatkan 3 akibat utama. Pertama, keuntungan yang diharapkan dari pengobatan tidak didapatkan, kondisi klinis memburuk, dan kematian meningkat. Ke dua, ketidakteraturan meminum obat ARV mengakibatkan timbulnya strain virus yang resisten sehingga menyulitkan penanganan selanjutnya. Ke tiga, pengobatan yang terhenti atau tidak lengkap memboroskan uang dan sumber daya lain yang seharusnya memberikan hasil yang lebih efektif dari segi biaya bila penderita patuh.

Selain itu, menjadi seseorang yang positif HIV, atau mempunyai anggota keluarga dengan VIV/AIDS bisa menimbulkan stress bagi penderita tersebut ataupun orang yang merawatnya. Di banyak negara dimana prevalensi HIVnya tinggi, tidak jarang ditemukan lebih dari seorang dengan HIV/AIDS tinggal di satu rumah pada waktu yang sama. Stress karena hidup dengan penyakit kronis atau merawat saudara yang sakit kronis – walaupun tidak secara langsung menimbulkan gangguan jiwa utama seperti depresi berat – bisa menimbulkan rangkaian reaksi psikososial yang menyebabkan kesulitan dan difungsi. Disfungsi dan distress tersebut bisa menurunkan resistensi dan daya tahan terhadap kondisi ko-morbid, dan akan berkontribusi dalam mengurangi kepatuhan berobat.

Jose M. Bertolote,

Koordinator Manajemen penyakit mental dan otak

Departemen Kesehatan Jiwa dan Penyalahgunaan Obat

World Health Organization

Tujuan dari Kelompok Pendukung

Orang bila mengalami situasi kehidupan yang sama, terutama situasi susah, seringkali merasakan ketentraman, dukungan dan kekuatan bila berkumpul bersama orang lain yang mengalami masalah yang sama. Kelompok pendukung adalah suatu tempat dimana orang dengan kekhawatiran dan kebutuhan yang sama dapat berbagi pengalaman dan saling membantu dalam menjalani masa yang sulit, dan dengan demikian bisa mencapai derajat kesehatan yang lebih baik bagi semua anggotanya. Kelompok pendukung bisa disebut sebagai ‘tempat penyembuhan’ (places of healing) karena memungkinkan orang-orang untuk mendapatkan kebutuhan mereka dan menyembuhkan mereka sendiri, selain membantu yang lain untuk melakukan hal yang sama, dalam suatu lingkungan yang saling mengerti dan saling menjaga.

Kelompok pendukung membantu orang untuk menyesuaikan diri dengan hidup mereka dan tumbuh sebagai manusia. Kelompok dapat berfungsi di berbagai tingkatan dan, tergantung dari tujuan kelompok tersebut, bisa membantu orang lain dengan  kebutuhan emosional, spiritual, fisik, psikologis, dan pendidikan. Sebagian besar kelompok memutuskan untuk mereka sendiri maksud dan tujuan mereka, dengan bimbingan dari fasilitator, dan berupaya untuk mencapai tujuan tersebut.

Orang-orang dalam kelompok biasanya berbagi informasi, pengetahuan, ide dan pengalaman. Melalui proses berbicara dan mendengarkan, mendapatkan dukungan dan mendukung orang lain, orang seringkali mampu maju ke depan dalam hidup mereka dengan kekuatan dan semangat baru. Kelompok dibentuk, tumbuh dan bertahan dengan prinsip utama ‘saling mendukung’.

Gambar: Saling mendukung

Seperti yang akan dijelaskan nanti dalam dokumen ini, ada beberapa macam kelompok pendukung, masing-masing untuk mencapai tujuan yang berbeda. Walaupun banyak hal berbeda yang menentukan arah dari suatu kelompok dan apa yang akan dicapainya, ada dua hal terpenting adalah apa yang diinginkan orang-orang dalam kelompok tersebut dan pengalaman dari fasilitatornya.

Sangat penting bagi para fasilitator untuk menyadari tingkat kompetensinya, keterampilannya dan pengalamannya, serta menjaga interaksi kelompoknya dalam batas kemampuan manajerialnya. Bila tidak, kemungkinan interaksi kelompok bisa jadi merugikan, bukannya menguntungkan. Beberapa jenis interaksi, misalnya eksplorasi emosi yang mendalam, atau menggunakan interaksi antar anggota kelompok untuk menghadapi pola yang menetap, memerlukan fasilitasi yang terampil, yang mungkin paling baik dilakukan oleh para professional kesehatan mental seprti psikiater, ahli psikologi atau perawat psikiatri.

Kelompok Pendukung untuk orang yang hidup dengan HIV/AIDS

Kelompok untuk orang yang hidup dengan HIV/AIDS bisa sangat bermanfaat bagi orang-orang pada tingkatan infeksi yang berbeda. Kebanyakan orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) mengalami stres emosional pada satu titik tertentu, walaupun tingkatannya bermacam-macam. Beberapa ODHA mengalami stres saat pertama kali mereka mendengar bahwa mereka positif, hingga sampai ingin bunuh diri. Beberapa orang yang lain mungkin bisa mengatasi stres emosionalnya dengan dukungan dari keluarga dan orang-orang yang mencintainya, sedangkan yang lain bisa tenggelam dalam depresi berat. Sebagian orang menganggap bahwa mendpatkan pengobatan anti retroviral dan terus bertahan adalah mudah, sedangkan orang lain menganggap hal tersebut sulit dilakukan. Kelompok bisa memberikan manfaat kepada semua orang ini, kadang mereka menjadi penerima dukungan dan kadang sebagai pemberi dukungan, karena memberikan dukungan seringkali sama artinya dan pentingnya dengan menerima dukungan.

Kelompok bisa menjadi bermanfaat, khususnya karena stigma sosial yang menyebabkan penolakan dan diskriminasi ODHA di masyarakat. Akibat dari stigma, orang bisa mengalami kesepian, isolasi dan depresi, yang bisa menambah parahnya penyakit. Jejaring sosial yang dibentuk dalam kelompok pendukung bisa membantu  mengurangi perasaan terisolasi ini dan menciptakan rasa solidaritas sosial  dengan yang lainnya yang menghadapi tantangan yang sama dalam hidup mereka. Bergabung dalam kelompok dapat membebaskan stres emosional dan psikologis.

Keputusan untuk memulai atau tidak pengobatan anti retroviral (ART) tidaklah sederhana bagi banyak orang. Kelompok dapat membantu dengan menciptakan ruang dimana ODHA dapat menggali pertanyaan dan kekhawatiran mereka tentang  ART dengan para ODHA lainnya dan membuat keputusan untuk pengobatan mereka sendiri. Ini khusunya bermanfaat bila beberapa anggota kelompok ada yang sudah mulai pengobatan. Berbagi pengalaman dalam kelompok dan belajar dari orang lain akan membantu individu untuk membuat keputusan atas dasar informasi yang mereka dapatkan tentang hidup dan penanganan penyakit mereka.

Orang yang sedang dalam pengobatan ART juga bisa mendapatkan manfaat dari kelompok. Banyak ODHA merasa bahwa kesulitan emosional yang mereka alami sebelum mendapat ART, digantikan oleh tantangan baru yang berbeda, misalnya tentang kepatuhan, stigma sosial, atau depresi. Seringkali orang lain dalam kelompok tersebut yang juga mendapat ART, mungkin mengalami masalah yang sama, dan eksplorasi dari kekhawatiran tersebut serta saling mendukung antar anggota dapat sangat menolong semua orang.

Kelomok pendukung diperuntukkan bagi orang-orang untuk:

–          Berbagi pengalaman, kesulitan dan perasaan;

–          Mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang efek samping dan konsekuensi negatif lain dari penyakit dan/atau pengobatannya, dan belajar berbagai cara untuk menyesuaikan diri;

–          Mengurangi rasa takut, cemas, bersalah, dan emosi negatif lain yang berhubungan dengan penyakit dan/atau pengobatannya;

–          Berhubungan dengan orang lain yang mengalami masalah dan pengalaman yang sama;

–          Mendapatkan wawasan tentang diri dan berbagai masalah yang didiskusikan  dalam kelompok;

–          Memperbaiki kemampuan seseorang untuk menghadapi situasi sulit dengan lebih efektif;

–          Memperbaiki dan meningkatkan jejaring dukungan keluarga dan sosial;

–          Mendapat informasi yang dapat dipercaya;

–          Mengakses sistem rujukan; dan

–          Menunjukkan rasa tangggung jawab sosial individu yang berkaitan dengan masalah kesehatan masyarakat, misalnya mencegah penularan virus atau re-infeksi, melawan stigma, dan meningkatkan kewaspadaan terhadap HIV dan AIDS.

Kelompok pendukung tentu saja bukan satu-satunya cara bagi ODHA untuk mengatasi masalah dan tumbu sebagai manusia, dan kelompok mungkin bukan pilihan terbaik untuk semua individu. Misalnya, sebagian orang memerlukan pengobatan untuk mengatasi tekanan atau gangguan mental, sebagian lain lebih memilih atau memerlukan konseling atau terapi, sedangkan sebagian lainnya berpartisipasi dalam kegiatan di masyarakat untuk mempromosikan hidup yang positif bagi ODHA mungkin merupakan cara yang paling konstruktif bagi mereka untuk menghadapi situasi mereka. Meskipun demikian, bagi banyak orang, kelompok menawarkan pilihan yang efisien untuk memperbaiki kesehatan.

Kelompok pendukung psikososial di negara berkembang

Apakah kelompok pendukung psikososial efektif dan memadai di negara berkembang yang miskin dengan budaya yang beragam mungkin masih dipertanyakan oleh sebagian orang. Namun, tiga contoh berikut ini, dari tiga budaya yang berbeda, menunjukkan bahwa kelompok pendukung dapat berhasil dengan baik dalam mengurangi masalah kesehatan mental.

 

Contoh 1

Psikoterapi Interpersonal Kelompok untuk depresi di pedesaan Uganda

Karena tingginya angka depresi di provinsi Rakai dan Masaka di Uganda, Psikoterapi Interpersonal Kelompok disesuaikan untuk situasi lokal) dibentuk di 15 desa. Sebanyak 107 orang yang berpartisipasi dalam kelompok ini untuk dibandingkan sebelum dan sesudah dilakukan intervensi dengan pria dan wanita yang tidak mendapat terapi.

Anggota kelompok bertemu selama 90 menit dalam 16 minggu, dipimpin oleh orang-orang yang telah mendapat pelatihan intensif selama dua minggu di Psikoterapi Interpersonal Kelompok. Pada setiap sesi, ketua kelompok menilai gejala depresi para peserta dan kemudian meminta mereka untuk mengaitkan kejadian minggu lalu dengan suasana hati mereka. Ketua kelompok memfasilitasi dukungan dan meminta anggota kelompok lainnya untu memberikan saran perubahan.

Hasil evaluasi menunjukkan bahwa mereka yang berpartisipasi dalam kelompok mempunyai depresi yang lebih ringan (secara statistik bermakna) setelah mengalami intervensi, dibanding kelompok kontrol. Para peneliti menyimpulkan bahwa Psikoterapi Interpersonal Kelompok sangat efektif untuk mengurangi depresi dan disfungsi.

Bolton P et al. (2003). Group Intrpersonal Psychotherapy for Depression in Rural Uganda. A randomized Controlled Trial. JAMA 289 (23), 3117 – 3124

 

Contoh 2

Kelompok Pendukung Psikososial untuk pasien dengan MDR-TB di Peru

Pada tahun 1999 suatu intervensi Kelompok Pendukung Psikososial diperkenalkan di Lima, Peru untuk mereka yang mengalami kemoterapi jangka panjang yang rumit untuk pengobatan tuberculosis yang kebal terhadap berbagai obat (multidrugs-resistant tuberculosis atau MDR TB). Mendapatkan kesembuhan dari strain TB jenis ini masih memungkinkan, tapi membutuhkan kepatuhan yang baik terhadap rejimen obat yang rumit untuk jangka waktu lama (18 – 36 bulan). Melihat peliknya pengalaman sosial dan emosional yang berkaitan dengan penyakit ini dan pengobatannya, dilakukanlah suatu intervensi sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kepatuhan dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Tujuan dari dibentuknya Intervensi Kelompok Pendukung ini adalah untuk menciptakan suatu forum dimana orang-orang yang bila dibiarkan bisa terisolasi secara sosial ini dapat berkumpul dan menghadapi penyakit mereka dan, dengan solidaritas dan saling mendukung, mereka saling membantu untuk menyelesaikan pengobatan mereka yang sulit. Hasil lainnya di luar itu adlah penciptaan jejaring dukungan sosial, baik formal maupun informal, karena terbentuknya persahabatan sehingga mereka masih saling bertemu walaupun di luar kelompok. Ini membantu mereka untuk mampu bertahan dalam pengobatan, mendapat harapan baru, menciptakan inspirasi, dan menciptakan suasana saling mendukung sesama orang yang menghadapi kesulitan yang sama.

Kelompok bertemu dua kali dalam sebulan selama 90 menit, dan di ko-fasilitasi oleh suatu team yang terdiri atas seorang perawat dan seorang psikiater. Kelompok terdiri atas sekitar 8 – 12 pasien yang sedang diobati, atau beberapa pasien yang telah sembuh yang diundang sebagai tamu untuk memberikan kesaksian dan dukungan. Keanggotaan kelompok berganti-ganti sejalan dengan waktu karena masuknya anggota baru atau keluarnya anggota lama, semua secara sukarela. Selain sesi yang rutin, kadang diadakan juga acara rekreasi, pesta informal, dan kalakarya keluarga.

Walaupun belum bisa dilakukan evaluasi formal untuk mengukur dampak dari intervensi ini, strategi ini telah diperluas ke daerah lain sejalan dengan bertambahnya ketersediaan obat, termasuk di bagian lain dari kota Lima dan beberapa propinsi lain di Peru.

 

Sweetland, A. Acha, J., & Guerra, D. (2002). Enhancing adherence: The role of group psychotherapy in the treatment of MDR-TB in Urban Peru. In A. Cohen, A. Kleinman & B. Saraceno (Eds.), World mental health casebook: Social and mental health programs in low-income countries (pp. 57 – 85). New York: Kluwer Academic/Plenum Press.

 

Contoh 3

Kelompok Pendukung Sejawat untuk orang dengan HIV

Sejak tahun 2001, HIVSA, suatu LSM yang beropeasi di Soweto, Afrika Selatan, membentuk kelompok pendukung bagi orang yang terinfeksi HIV. Fasilitator kelompok diambil dari program pengobatan yang dijalankan oleh suatu organisasi peneliti dan terlatih dalam fasilitasi kelompok. Fasilitator menjalankan kelompok pendukung bagi klien yang direkrut dari program pengobatan, dari layanan VCT dan dari masyarakat yang lebih luas. Setiap dua minggu fasilitator berkonsultasi dengan petugas kesehatan jiwa professional dan mengikuti sesi pengarahan.

Pada suatu evaluasi baru-baru ini, dengan penilaian yang berbasis klien, dapat dilihat bahwa kelompok telah memberikan suatu peluang bagi para anggota untuk mengklarifikasi salah pengertian dan mendapatkan informasi yang lebih individual terkait dengan kekhawatiran mereka sehubungan dengan HIV, termasuk mengenai pengobatan ARV. Kelompok ini juga memberikan dukungan emosional dan solidaritas antar anggota yang positif HIV dalam menghadapi penolakan dan diskriminasi, selain juga dukungan bagi anggota yang positif HIV dalam menghadapi status HIV mereka, berkaitan dengan pengungkapan, mengadopsi gaya hidup yang positif dan menghindari ‘perilaku berisiko’.  Dan yang terakhir, kelompok ini meciptakan suatu forum untuk pemecahan masalah  seputar masalah pengobatan, reaksi anggota keluarga dan masyarakat terhadap orang yang positif HIV, selain juga hubungan dengan mitra seksualnya, termasuk pertanyaan tentang notifikasi bagi mitra seks dan negosiasi praktik seks yang aman.

Berbagai Jenis Kelompok Pendukung

Orang yang bekerja dengan ODHA atau individu lain yang terinfeksi dalam berbagai lingkungan, seperti di klinik dimana pasien mendapat ART, di rumah dimana mereka berkunjung sebagai pemberi layanan, atau pada advokasi LSM, bisa datang dengan berbagai kebutuhan yang tidak terpenuhi. Mereka juga mungkin bisa melihat bahwa banyak orang mempunyai kebutuhan yang sama. Misalnya, beberapa orang perlu pengetahuan yang lebih baik tentang HIV/AIDS, yang lain lebih perlu dukungan sosial yang leibh tinggi, sedang yang lain mungkin mengalami depresi berat. Mereka semua perlu intervensi psiko-terapetik yang luas dan bahkan mungkin perlu obat psikotropik. Selanjutnya, tidak hanya ODHA saja yang yang menmpunyai kebutuhan yang tidak bisa terpenuhi; keluarga ODHA juga mungkin perlu dukungan untuk meneruskan peran mereka sebagai relawan pemberi pelayanan. Membentuk suatu kelompok dan memutuskan siapa yang harus ada di dalamnya tergantung pada kebutuhan yang paling besar pada masyarakat tersebut.

Ada berbagai macam kelompok pendukung bagi orang yang hidup dengan HIV/AIDS. Namun, seringkali mereka saling tumpang tindih. Misalnya, orang dengan kelompok pengobatan pada satu saat perlu informasi dan penyuluhan, sedangkan orang di kelompok penyuluhan pada saatnya dapat berbagi perasaan dan memberikan dukungan pada anggota lain yang sedang berjuang dengan masalah lain.

Kebutuhan dari individu atau masyarakat yang terjangkit HIV/AIDS, atau mereka yang mendapat ART, bisa berbeda-beda dari satu tempat ke tempat lain, dan dari satu orang ke orang lain. Jadi penting untuk mengidentifikasi kebutuhan yang paling umum atau mendesak, kemudian memilih format yang paling memadai untuk pelayanan.

Tiga jenis kelompok yang paling umum yang dapat digunakan untuk program ODHA atau ART adalah:

–          Kelompok penyuluhan;

–          Kelompok dukungan yang dikelola sejawat;

–          Kelompok pengobatan (dikelola oleh profesional dan paraprofessional)

Bab ini akan menjelaskan setiap jenis dari kelompok ini, lengkap dengan manfaat dan keterbatasan dari setiap format.

Kelompok Penyuluhan

Tujuan utama kelompok penyuluhan hádala menyebarkan informasi penting tentang satu masalah spesifik atau masalah umum yang mempengaruhi kehidupan anggota kelompok. Seringkali kelompok seperti ini mempunyai format ‘kalakarya’ (workshops), dengan serangkaian kegiatan kelompok yang semuanya berfokus pada masalah di tangan. Pada saat lain, mereka mempunyai format ceramah, diikuti dengan sesi tanya jawab. Contoh dari kelompok penyuluhan adalah mereka yang fokus terhadap:

–          ARV dan efek sampingnya;

–          HIV dan kehamilan;

–          Kepatuhan;

–          HIV dan keluarga;

–          Infeksi oportunistik;

–          Penularan HIV/AIDS; dan

–          Topik relevan lain.

Gambar: Kelompok Penyuluhan

Keuntungan dari kelompok penyuluhan:

–          Individu biasanya mempunyai banyak pertanyaan tentang penyakit mereka dan pengobatannya, dan format kelompok ini dapat bermanfaat dalam memaksimalkan sumber daya Marusia yang terbatas (satu atau dua fasilitator untuk satu kelompok). Format kelompok untuk menyampaikan informasi hádala memadai untuk sebagian besar individu, mengurangi jumlah orang yang mungkin memerlukan perhatian individual berlebih.

–          Jenis kelompok ini sangat membantu dalam mengatasi masalah spesifik sejumlah individu secara lebih mendalam dibanding membahas masalah berbasis individu, karena hambatan waktu dan sumber daya.

–          Beberapa individu mungkin malu untuk bertanya kepada dokter atau perawatnya, dan merasa lebih nyaman di dalam situasi dimana banyak orang lain juga bertanya. Juga, orang lain dalam kelompok mungkin bertanya (dan mendapat jawaban untuk semua) tentang sesuatu yang takut untuk ditanyakan oleh individu;

–          Informasi yang diberikan oleh anggota kelompok, berdasarkan pengalaman mereka sendiri, akan lebih bermanfaat bagi anggota lain dalam kelompok, karena ia menggambarkan ‘pengalaman nyata’ dan bukan sekedar ‘pendapat ahli’;

–          Anggota kelompok bertemu dengan anggota lainnya yang mempunyai pengalaman yang sama dalam situasi emosi yang netral, dan mendapat dukungan informal dari anggota lainnya; dan

–          Peserta akan meninggalkan sesi yang diikutinya dengan keterampilan dan informasi baru yang akan menambah kemampuan mereka untuk hidup dengan baik bersama HIV.

Keterbatasan Kelompok Penyuluhan:

–          Karena kelompok semacam ini biasanya mempunyai tujuan pembelajaran yang spesifik, ia tidak mungkin membahas masalah atau kekhawatiran lain yang timbul saat berlangsungnya sesi bila tidak sesuai dengan tujuan yang ditetapkan; dan

–          Biasanya format ini tidak termasuk komponen pengobatan yang bisa membantu anggota kelompok untuk memaksimalkan kemampuan mereka untuk bertindak terhadap informasi yang mereka dapat selama sesi berlangsung.

Kelompok Pendukung yang dikelola sejawat (Peer-led support groups)

Jenis ke dua dari kelompok pendukung ini dikelola oleh individu yang menderita HIV/AIDS, dengan tujuan utama untuk saling mendukung. Jenis kelompok ini tidak menggantikan layanan sejenis yang dilakukan petugas profesional, tetapi berfungsi sebagai pelengkap.

Gambar: kelompok pendukung yang dikelola sejawat

Keuntungan kelompok pendukung yang dikelola sejawat:

–          Beberapa individu dengan penyakit dan pengobatan yang sama akan secara khusus merasa cocok untuk mendukung orang lain dengan situasi yang sama, berdasarkan pengalaman mereka;

–          Jenis kelompok ini memungkinkan untuk dikelola dengan sumber daya yang sangat terbatas;

–          Kelompok pendukung yang dikelola sejawat memerlukan inisiatif dari sejumlah individu yang mengambil peran pimpinan diantara sejawat lainnya dan, melalui contoh mereka, mendorong anggota lainnya untuk mengambil sikap yang lebih proaktif yang terkait dengan kesehatan dan hidup mereka;

–          Inisiatif sejawat  bisa melengkapi layanan yang tersedia melalui institusi kesehatan; dan

–          Jenis kelompok ini dapat membentuk suatu forum yang memungkinkan untuk saling dukung antar penderita HIV, selain menciptakan suatu alat untuk mengelola suatu komunitas yang bisa ditambah dengan tujuan tambahan lain ataupun tidak.

Keterbatasan kelompok pendukung yang dikelola sejawat

–          Pimpinan sejawat mungkin tidak mempunyai pengalaman yang banyak dalam mengatasi masalah yang rumit yang mungkin ada dalam kelompok.

–          Para sejawat mungkin tidak mempunyai tingkat yang sama dalam informasi teknis tentang penyakit dan/atau pengobatannya dan secara tidak sengaja dapat berkontribusi dalam beredarnya mitos dan miskonsepsi tentang penyakitnya; dan

–          Karena kelompok pendukung yang dikelola sejawat sering tergantung kepada satu atau dua orang individu sebagai pemimpin dan pengelola kelompok, bila motivasi mereka berkurang, atau mereka tidak lagi ada (karena ada acara lain, pindah, atau sakit), kelompok ini dapat runtuh.

Kelompok Pengobatan (Therapeutic groups)

Kelompok pengobatan pada dasarnya adalah bincang-bincang antara sekelompok orang dengan suatu masalah yang sama, yang difasilitasi oleh seseorang (fasilitator) dan mempunyai maksud atau tujuan untuk pengobatan. Agar dapat ’mengobati’, maka bincang-bincang perlu diarahkan kepada perubahan sesuai dengan pola pikir, perasaan dan tindakan peserta. Hasil yang diharapkan adalah berkurangnya penderitaan mereka dan untuk meningkatkan kemungkinan mereka hidup dengan bahagia dan sehat.

ODHA seringkali merasa kewalahan karena beban emosional penyakitnya, sehingga merasa depresi, sedih, frustasi atau cemas. Bagi mereka, kelompok pengobatan bisa merupakan intervensi yang paling memadai. Namun dalam kategori besar kelompok pengobatan sekalipun terdapat berbagai kelompok dengan maksud dan tujuan yang berbeda. Mereka akan berupaya untuk mencapai tujuan dengan cara yang  berbeda pula, ditentukan oleh kebutuhan kelompok, serta kualitas, keterampilan dan pengalaman dari fasilitator. Semua kelompok pendukung pengobatan harus mempunyai setidaknya satu

orang tetap yang memimpin kelompok, yang disebut fasilitator.

Seorang fasilitator untuk kelompok pengobatan adalah:

–          Seorang profesional dalam kesehatan jiwa (psikiater, psikolog, pekerja sosial, atau perawat psikiatri); dan

–          Para-profesional (profesional di bidang kesehatan dari disiplin lain atau mereka yang dilatih khusus untuk kegiatan ini, misalnya seorang perawat, petugas kesehatan masyarakat yang berpengalaman, atau ODHA)

Kelompok pendukung pengobatan bisa dijalankan dengan cara yang berbeda-beda oleh profesional kesehatan jiwa atau para-profesional. Misalnya, profesional kesehatan jiwa mungkin mempunyai keterampilan dan kemampuan yang lebih tinggi daripada para-profesional. Sebaliknya, para-profesional mungkin lebih dekat kepada para anggota kelompok dalam hal latar belakang, lingkungan hidup, dan kadang, bahasa.

Tergantung dari kebutuhan kelompok, seorang pemimpin kelompok bisa lebih memadai untuk kelompok tersebut dibanding yang lain. Di sejumlah negara, terdapat badan pengatur khusus yang menentukan kualifikasi apa yang diperlukan seseorang untuk berurusan dengan masalah kesehatan mental, dan di negara dimana anda bekerja, disarankan untuk mengecek bersama badan ini tentang siapa yang diberi wewenang untuk melakukan intevensi.

Kelompok pendukung pengobatan yang dijalankan oleh profesional

Psikiater, psikolog, pekerja sosial, atau perawat psikiatri yang terlatih khusus dalam menjalankan kelompok harus mampu membantu anggota kelompok, tidak hanya untuk berbai pengalaman dan menemukan jalan memecahkan masalah, tapi juga mendalami masalah yang melibatkan emosional dengan lebih baik.

Keutungan dari kelompok yang difasilitasi oleh profesional

–          Fasilitasi kelompok bisa menjadi tantangan dan memerlukan keterampilan khusus. Bila terjadi, profesional mungkin lebih tepat untuk memegang peranan ini;

–          Profesional umumnya lebih nyaman dan terlatih dalam menangani krisis emosional yang mungkin timbul selama sesi;

–          Profesional kesehatan jiwa mungkin lebih terampil dalam mengenali individu yang memerlukan perhatian tambahan individual; dan

–          Profesional kesehatan jiwa akan mengetahui bagaimana menilai dan berurusan dengan anggota kelompok yang mengalami masalah mental dan emosional yang serius.

Dalam semua kelompok dukungan, salah satu fungsi dari kelompok adalah memberikan kesempatan kepada para anggota untuk berbagi perasaan tentang apa yang sedang terjadi dalam kehidupan mereka dan agar anggota lain dapat memahami perasaan tersebut dan kemudian menawarkan dukungannya. Bila fungsi dari kelompok adalah untuk mendalami emmosi orang lain dan menemukan alasan dibelakannya secara mendalam, atau menggunakan interaksi antar anggota kelompok untuk merubah cara berpikir yang kaku, maka hal ini paling baik dilakukan oleh profesional berpengalaman. Juga, bila masalah ini muncul dalam suatu kelompok yang mempunyai tujuan yang lain, lebih baik mengkonsulkannya dengan profesional tentang bagaimana melanjutkan kegiatan ini.

Namun, tidak selalu peranan ini bisa diisi oleh orang yang profesional karena terbatasnya sumber daya, dan juga orang yang profesional tidak selalu tepat untuk semua situasi.

Keterbatasan kelompok yang difasilitasi oleh profesional

–          Stigma sosial mungkin akan melekat bila seseorang turut serta dalam kelompok yang dipimpin oleh seorang profesional, dan karenanya beberapa anggota akan menolak berpartisipasi; dan

–          Bila jumlah orang yang profesional terbatas, mungkin mengambil terlalu banyak waktu mereka bukan merupakan cara yang efektif, terutama bila ada petugas paraprofesional terlatih atau oranglain yang memadai untuk memfasilitasi kelompok.

Kelompok pendukung pengobatan yang dipimpin paraprofesional

Dalam keadaan dimana sumber daya terbatas, pilihan paling baik mungkin adalah dengan melatih sejumlah paraprofesional untuk memfasilitasi kelompok. Mereka ini bisa merupakan tenaga profesional dari disiplin lain (misalnya soerang perawat), atau mereka yang termotivasi untuk mengisi peran ini. Dalam beberapa situasi dimungkinkan untuk memberikan pelatihan intensif kepada ODHA yang kemudian dapat memimpin kelompok pendukung pengobatan ini. Kelompok semacam ini bisa menjadi forum bagi para anggota untuk berbagi pengalaman dan perasaan dan mendapatkan dukungan, tapi umumnya tidak mendorong orang untuk mengeksplorasi emosi secara mendalam.

Keuntungan kelompok yang dipimpin oleh paraprofesional

–          Di tempat dengan sumber daya terbatas dengan akses yang terbatas kepada profesional kesehatan jiwa, melatih fasilitator kelompok akan merupakan pilihan yang lebih ekonomis;

–          Pada sejumlah kelompok pendukung, dengan hanya berkumpulnya orang-orang yang mempunyai pengalaman dan tantangan yang sama sudah akan memberikan keuntungan terapetik, tanpa melihat siapa pemimpin kelompoknya;

–          Anggota kelompok tidak akan merasa bahwa dirinya sakit atau bahkan ’gila’ bila kelompoknya tidak dipimpin oleh ahli kesehatan jiwa. Ini bisa menjadi keuntungan tersendiri bagi mereka dalam berbagi dengan anggota lain dan dalam mengungkapkan emosinya; dan

–          Bila paraprofesional juga positif HIV, dia akan mempunyai pemahaman yang lebih mendalam tentang masalah yang sedang ditangani. Dia juga bisa lebih dipercaya oleh anggota kelompok.

Keterbatasan dari kelompok yang dipimpin oleh paraprofesional

–          Fasilitator yang kurang pengalaman bisa mendapat kesulitan menangani topik yang bisa menimbulkan krisis atau emosi, misalnya bunuh diri dan kematian, yang bisa mempunyai implikasi pengobatan yang signifikan;

–          Bila sang paraprofesional juga positif HIV, kelompok akan berharap ia bisa memberikan jawaban pada berbagai masalah yang seharusnya ditangani melalui proses dalam kelompok. Fasilitator yang kurang terampil akan lebih berusaha memberikan saran dan bukannya membiarkan mereka memutuskan apa yang terbaik bagi mereka (ini tidak merujuk pada informasi yang faktual semisal efek samping ART atau apakah itu hitung CD4, dimana seorang fasilitator dapat memberikan jawabannya). Bagi fasilitator yang positif HIV juga ada kemungkinan beberapa masalah dari anggota kelompok dapat ”terlalu dekat ke rumah’, yaitu bahwa fasilitator sendiri menghadapi kesulitan dalam masalah tersebut, dan ini bisa mengurangi kemampuannya untuk mengatasi masalah ini secara efektif dalam kelompok; dan

–          Kadang-kadang terjadi dimana seorang anggota kelompok berada dalam suatu situasi emosional dimana fasilitator tidak cukup terampil dan berpengalaman untuk mengatasinya, misalnya bila seorang anggota merasa ingin bunuh diri. Dalam situasi ini fasilitator perlu merujuk penderita tersebut segera dan jangan berusaha untuk menangani situasi di luar kompetensinya, yang bis menyebabkan kerugian,bukan hanya kepada yang besangkutan, tetapi kepada seluruh anggota kelompok.

Struktur kelompok dan keanggotaannya

Sekali diputuskan jenis kelompok mana yang akan dibentuk, berdasarkan kebutuhan dan potensi anggota kelompok dan ketersediaan dari fasilitator yang memadai, sejumlah keputusan lain perlu dibuat. Ini termasuk apakah kelompok akan merupakan suatu yang terbuka atau tertutup, apakah akan ada batasan waktu atau seterusnya, dan apakah kelompok akan bersifat ’campuran’ atau hanya untuk orang tertentu yang ditargetkan. Pilihan-pilihan ini akan menentukan apakah kelompok yang akan dibentuk adalah kelompok penyuluhan, kelompok pendukung yang dikelola sejawat, atau kelompok pengobatan.

Terbuka vs tertutup

Kelompok terbuka

Kelompok terbuka adalah suatu kelompok yang mengijinkan para anggotanya untuk bergabung atau meninggalkan kelompok pada sesi manapun. Seseorang dapat bergabung kapan saja, walaupun kelompok telah berjalan beberapa lama. Tidak ada perjanjian ’kontrak’ untuk tetap berada di kelompok dan anggota dapat datang dan pergi sesuai keinginan.

Keuntungan dari kelompok terbuka

–          Orang yang membutuhkan dukungan segera dapat bergabung dalam kelompok kapan saja dan tidak harus menunggu kelompok baru dimulai;

–          Lebih mudah untuk mengakomodasi ODHA yang secara fisik, emosi dan situasi praktisnya tidak mengungkinkan untuk bergabung secara teratur; dan

–          Sejumlah orang mungkin tidak memerlukan dukungan terus menerus, dan bisa menjadap bantuan melalui suatu kelompok terbuka bila mereka memerlukannya.

Keterbatasan kelompok terbuka:

–          Anggota kelompok akan kesulitan untuk menjalin ikatan yang kuat dengan yang lainnya dan untuk bisa saling mempercayai sepenuhnya untuk saling terbuka dan berbagi perasaan tentang pengalaman yang menyakitkan atau memalukan, karena keanggotaan bisa berubah setiap waktu;

–          Anggota kelompok mungkin lebih memikirkan kerahasiaan bila orang-orang senantiasa keluar masuk kelompok;

–          Keberhasilannya kemungkinan sedikit lebih terbatas dibanding kelompok tertutup; dan

–          Orang yang baru bergabung mungkin ingin membahas sesuatu yang telah didiskusikan dan ini bisa menimbulkan kebosanan bagi sebagian anggota.

Karenanya, format ini cocok untuk kelompok yang hanya bisa memberikan dukungan yang terbatas untuk anggotanya atau dimana fasilitatornya tidak terlalu terampil untuk menghadapi emosi yang dalam. Lagipula, tidak mudah bagi seorang fasilitator untuk menjalankan suatu kelompok dengan orang-orang yang selalu datang dan pergi dan harus menghadapi anggota baru setiap waktu, beberapa diantaranya mungkin datang dengan kebutuhan yang mendesak. Karenanya, orang yang menjalankan kelompok terbuka juga harus mengembangkan keterampilan dan pengalaman, yang sedikit berbeda dengan yang dibutuhkan untuk mengurus kelompok tertutup, khususnya dalam hal fleksibilitas dan adaptibilitas menghadapi situasi yang tidak terduga.

Kelompok Tertutup

Kelompok tertutup adalah suatu kelompok yang mempunyai keanggotaan tetap. Semua anggota bergabung ke dalam kelompok saat kelompok tersebut dibentuk dan setelah itu tidak ada anggota baru yang diperkenankan bergabung.

Keuntungan dari kelompok tertutup:

–          Format ini memungkinkan konsistensi, kesinambungan dan keamanan terkait masalah perasaan dan situasi sulit;

–          Memungkinkan untuk mencapai level kepercayaan yang lebih tinggi dan ’identifikasi kelompok’ di antara para anggotanya;

–          Suatu kelompok tertutup mendorong potensi terapetik dari kelompok dan memfasilitasi untuk saling mendukung;

–          Orang seringkali mampu membangun kedekatan dan penghargaan yang lebih baik satu sama lain;

–          Para anggota akan merasa kerahasiaannya lebih terjaga dan karenanya mereka akan lebih mampu berbagi pengalaman secara terbuka dengan yang lain di dalam kelompok;

–          Semua anggota akan merasa bertanggung jawab untuk menentukan tujuan dan ’aturan dasar’ dari kelompok dan, karenanya akan lebih mendukung pencapaian tujuan tersebut; dan

–          Kelompok tertutup akan lebih mudah merencanakan topik atau tema yang akan dibahas dibanding dengan kelompok terbuka.

Kelompok pendukung yang dibatasi waktu vs yang tidak terbatas

Kelompok yang dibatasi waktu

Kelompok yang dibatasi waktu menentukan sejumlah sesi yang akan dibahas pada suatu perioda waktu, misalnya 8 sesi, atau 6 bulan, dsb. Sringkali kelompok jenis ini mempunyai tujuan spesifik tertentu yang telah diidentifikasi, dan sejumlah sesi dibuat untuk mencapai keluaran yang diinginkan dalam satu waktu yang ditentukan. Banyak diantaranya yang membuat pedoman yang mengarahkan kegiatan atau strategi untuk tiap sesi yang terus bergerak maju untuk mencapai tujuan akhir. Biasanya kelompok jenis ini dirancang untuk mendorong perkembangan sejalan dengan waktu, baik dalam isinya maupun kedalamannya. Pembelajaran untuk satu sesi merupakan lanjutan dari pembelajaran sebelumnya. Karenanya, kelompok jenis ini sering mempunyai keanggotaan yang tetap, dan mereka yang berpartisipasi di sesi awal diharapkan untuk terus berpartisipasi secara teratur hingga kegiatan selesai.

Keuntungan dari kelompok yang dibatasi waktu:

–          Sebagian besar peserta dapat diharapkan untuk mendapat pengetahuan dasar umum dan/atau dukungan pengobatan sepanjang seluruh sesi;

–          Cocok untuk mentargetkan masalah dan kebutuhan spesifik dan mengatasinya dalam waktu yang tepat;

–          Karena jumlah sesinya sudah ditentukan, ia juga menjadi lebih memungkinkan untuk memproyeksikan dan mengantisipasi biaya dan sumber daya yang dibutuhkan;

–          Sebagian orang lebih suka suatu bentuk yang terstruktur karena mereka lebih merasa „mempunyai tujuan“ dan mencapai tujuan tersebut setelah mereka menjalani topik utama; dan

–          Para anggota mengetahui persis komitmen apa yang telah mereka berikan dan yang akan direncanakan tentang masalah mereka.

Keterbatasan dari kelompok yang dibatasi waktu:

–          Agak sulit untuk bisa mengatasi kebutuhan atau krisis yang tidak diantisipasi sebelumnya yang timbul saat sesi berlangsung; dan

–          Bila ada urusan pribadi atau kompetisi tanggung jawab dari para peserta, akan sulit bagi beberapa anggota kelompok untuk mengikuti semua sesi dengan teratur untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Kelompok Pendukung yang berkelanjutan

Kelompok pendukung yang berkelanjutan biasanya kurang terstruktur dibanding dengan kelompok yang dibatasi waktu. Mereka tidak menentukan lamanya waktu dan agenda pada setiap sesi biasanya ditentukan berdasarkan kebutuhan peserta. Biasanya kelompok jenis ini mempunyai kenaggotaan yang terbuka. Namun, beberapa kelompok bisa juga mempunyai keanggotan yang tertutup.

Keuntungan kelompok yang berkelanjutan

–          Struktru yang informal memungkinkan para anggota untuk memainkan peran yang lebih aktif dalam membentuk suatu sesi, dengan memberi pengaruh terhadap apa yang mereka katakan dan kapan. Ini menjadikan kelompok seperti ini efektif dalam menangani krisis atau masalah kritis yang ada saat ini yang dihadapi dalam kehidupan individu (misalnya kemtian atau mencintai seseorang) dengan baik. Para anggota didorong untuk mengemukakan topik baru yang relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka;

–          Karena kebutuhan anggota bisa berubah sejalan dengan waktu, format yang fleksibel seperti ini memungkinkan individu untuk berpartisipasi sesuai dengan kebutuhan mereka sendiri, yaitu, berpartisipasi sesering atau sejarang yang mereka butuhkan atau inginkan;

–          Kelompok berkelanjutan yang mempunyai anggota yang tertutup memungkinkan orang yang sama menggali masalah dengan lebih dalam tanpa harus takut hilangnya kepercayaan atau khawatir kelompoknya akan berakhir saat mereka sedang rentan dan membutuhkan dukungan emosi yang bisa diberikan oleh kelompoknya; dan

–          Bila kelompok ini terbuka dan berkelanjutan, keanggotaan akan bervariasi dari sesi ke sesi dan individu bisa berpartisipasi dalam rangka ’sesuai kebutuhan’.

Keterbatasan kelompok yang berkelanjutan

–          Karena strukturnya sesinya yang informal, kelompok seperti ini membutuhkan fasilitator yang lebih berpengalaman untuk membantu menjaga rasa ingin mencapai tujuan kelompok an untuk merespon situasi atau kebutuhan yang kritis;

–          Kelompok ini mungkin perlu sumber daya intensif yang tinggi. Orang yang sama bisa terlibat dalam waktu yang panjang, kurang memberikan kesempatan bagi orang lain untuk mendapatkan manfaat dari dukungan kelompok. Ini terutama pada kelompok berkelanjutan dengan keanggotaan tertutup, walaupun untuk bisa berhasil, kelompok terbukapun biasanya punya batasan keanggotaan; dan

–          Bila kelompok berkelanjutan mempunyai keanggotaan terbuka, tingkat kepercayaan yang tercipta antar anggota kelompok bisa menjadi terbatas, dan bergantinya keanggotaan bisa menimbulkan kehawatiran bagi sebagian anggota berkaitan dengan kerahasiaan.

Kelompok dengan target campuran vs spesifik

Setiap kelompok hampir selalu mempunyai kriteria untuk keanggotaan. Dalam kelompok yang dijelaskan dalam manual ini, kriteria tersebut adalah bahwa semua anggota adalah penderita, atau terkena dampak HIV/AIDS. Namun, kriteria yang ditetapkan bisa lebih spesifik dari ini, dan suatu kelompok bisa dibatasi hanya untuk orang yang mendapat ART, dan sebagainya. Sekali kategorisasi besar sudah ditetapkan, pilihan selanjutnya perlu dibuat tentang apakah keanggotaan akan lebih spesifik atau campuran.

Kelompok target spesifik

Kelompok dapat ditujukan untuk sub populasi atau individu tertentu yang terkena dampak HIV/AIDS. Misalnya, kelompok dapat diperuntukkan berdasarkan pada:

–          Jeniskelamin;

–          Umur atau tahap kehidupan;

–          Stadium penyakit;

–          Orientasi seksual;

–          Pengalaman hidup (kehilangan, kejahatan domestik, kehamilan, menjadi orang tua, dsb.); dan

–          Lokasi geografis.

Keuntungan dari kelompok dengan target spesifik

–          Isi dan struktur dapat dibentuk sesuai kebutuhan spesifik dari kelompok khusus ini, dan tema ini dapat digali dengan lebih mendalam; dan

–          Anggota kelompok bisa lebih siap mengidentifikasi orang lain dengan latar belakang atau pengalaman hidup yang sama.

Keterbatasan dari kelompok dengan target spesifik:

–          Kelompok yang khusus kadang memerlukan sumberdaya yang lebih dan karenanya sulit dilaksanakan;

–          Kelompok seperti ini dapat menjadi eksklusif dan menghalangi partisipasi dari individu lain yang tidak memenuhi kriteria tapi membutuhkan dukungan;

–          Kelompok seperti ini akan sulit menerima pandangan dan perspektif dari prang yang mempunyai pengalaman, pengetahuan dan pendapat yang berbeda. Misalnya, dalam suatu kelompok yang spesifik gender, para pria tidak akan mendapat manfaat dari mendengarkan perspektif seorang wanita. Pada kelonpok yang ditentukan berdasarkan umur, seorang remaja tidak akan mendapat manfaat dari perspektif orang yang lebih tua, dan sebaliknya.

Kelompok dengan keanggotaan campuran

Kelompok campuran adalah mereka yang tidak mempunyai kriteria kualifikasi tertentu untuk keanggotaan selain kriteria umum yang dijelaskan di atas (misalnya orang yang terkena dampak HIV/AIDS). Dengan kata lain, kelompok campuran bisa mempunyai anggota dari berbagai jenis kelamin, umur, orientasi seks, stadium penyakit, dan lain-lain. Pada beberapa kasus, mungkin HIV bukanlah satu-satunya hal yang harus dipunyai seorang anggota kelompok.

Keuntungan dari kelompok campuran:

–          Dalam kondisi dimana sumber daya terbatas, tidak selalu kelompok pendukung dibentuk dengan sub kelompok target yang spesifik, dan karenanya kelompok campuran bisa menjadi alternatif yang bisa diterima;

–          Keberagaman dalam kelompok seperti ini dapat menyoroti rentang yang lebar dari masalah yang dihadapi orang yang terkena dampak HIV/AIDS. Orang lain dari latar belakang yang berbeda dapat bergabung dan mencari ’penyebab yang umum’ dari penyakit, dan membentuk solidaritas; dan

–          Orang dengan pengalaman hidup dan latar belakang yang berbeda bisa membawa perspektif dan alternatif baru dalam menginterpretasikan situasi sulit.

Keterbatasan dari kelompok campuran:

–          Beberapa masalah sulit didiskusikan secara mendalam dalam kelompok campuran, misalnya seksualitas atau masalah keintiman lain; dan

–          Sebagian anggota bisa merasa terhalangi untuk mengekspresikan kebebasan mereka disebabkan karena norma budaya atau adat kebiasaan terkait dengan perilaku yang diharapkan dari kelompok yang spesifik (misalnya, wanita dengan pria, atau remaja dengan orang tua).

Siapa yang mengelola kelompok pendukung?

Tidak semua orang cocok untuk mengelola kelompok pendukung, dan pelatihan untuk mengelola kelompok pendukung adalah sangat penting. Tergantung pada jenis kelompok yang akan dikelola seorang fasilitator, diperlukan berbagai pelatihan yang berbeda. Pelatihan dapat berupa kursus singkat hingga yang lebih lama dan sangat intensif. Selain itu, berbagai bentuk supervisi, mentoring atau kukungan sejawat yang berkelanjutan adalah juga krusial. Praktisi yang berkualifikasi paling tinggi dan paling terampilpun bisa mendapatkan manfaat dari mendiskusikan kasus, dinamika kelompok dan strategi.

Kualitas seorang fasilitator kelompok

Tanpa memandang tingkat pelatihan fasilitator atau jenis kelompok yang ia kelola, ada beberapa kualitas dasar yang harus dipunyai seorang fasilitator:

–          Kehangatan

–          Kemampuan untuk menempatkan diri pada masalah seseorang dan memahami emosinya (empati);

–          Kemampuan untuk berkomunikasi dan memfasilitasi komunikasi antar anggota;

–          Keterlibatan dengan, dan komitmen untuk, orang yang terkena dampak HIV/AIDS;

–          Mengenali dan mengendalikan setiap ketakutan atau perasaan negatif yang terkait dengan HIV/AIDS (misalnya menyalahkan, menghakimi, takut terinfeksi, dsb.);

–          Sabar;

–          Bersikap positif terhadap dirinya sendiri dan anggota kelompok;

–          Dapat dipercaya dan teguh pedirian;

–          Tertarik, menikmati dan mengetahui tentang topik yang didiskusikan;

–          Fleksibel; dan

–          Menguasai dengan baik aspek bio-psiko-sosial dari HIV/AIDS.

Ko-fasilitasi

Walaupun tidak merupakan keharusan untuk mempunyai lebih dari satu orang dalam mengelola suatu kelompok, seringkali ada manfaatnya untuk menunjuk orang ke dua untuk berbagi fasilitasi atau untuk meng”ko-fasilitasi” sebuah kelompok. Bila pemimpin kelompok kurang berpengalaman, ia akan terbantu bila mendapat dukungan. Ko-fasilitasi juga dapat digunakan sebagai perangkat untuk pelatihan.

Dengan memasangkan fasilitator yang kurang berpengalaman dengan seorang lain yang lebih berpengalaman, mereka akan belajar melalui modeling dan observasi. Kadang seorang fasilitator dapat ’tersedot’ ke dalam dinamika suatu kelompok, dan seorang ko-fasilitator dapat melangkah masuk untuk membantu. Juga, ko-fasilitasi bisa lebih menjamin kelangsungan suatu kelompok, karena kelompok tersebut dapat tetap  berjalan bila salah satu dari fasilitator tidak hadir.

Komunikasi antar ko-fasilitator adalah sangat penting sebelum dan sesudah suatu sesi, karena ini memperkuat  kemampuan mereka untuk bekerja secara efektif sebagai tim terapetik. Persiapan sebelum suatu sesi dimulai memungkinkan suatu kerja tim yang efisien selama sesi berlangsung, dan diskusi dalam tiap sesi memungkinkan para ko-fasilitator berbagi pengamatan mereka, mengidentifikasi individu yang mungkin memerlukan tindak lanjut, memecahkan masalah, dan merencanakan sesi selanjutnya.

Bantuan dari luar

Kadang-kadang kita perlu mengundang orang yang bukan merupakan anggota reguler kelompok untuk membantu dalam hal-hal yang strategis. Misalnya, bila kelomok pendukung anda adalah bagi mereka yang mendapat pengobatan ARV baru, mungkin anda perlu mengundang seseorang atau lebih yang pernah mendapat pengobatan ARV untuk waktu yang lama dan yang dapat memberikan saran dan dukungan kepada mereka yang baru saja mendapat ARV. Demikian juga, bila target kelompok anda adalah wanita hamil yang positif HIV, akan bermanfaat bila anda mengundang satu atau dua ibu yang positif HIV yang baru melahirkan agar dapat berbagi pengalaman dan pandangan.

Siapa yang harus turut serta dalam kelompok pendukung?

Menyeleksi peserta untuk suatu kelompok

Tidak semua orang berkehendak untuk bergabung dalam suatu kelompok. Alasannya bisa karena alasan praktis, misalnya kesulitan transportasi, atau bisa juga berkaitan dengan rasa takut tentang apa yang akan dilakukan dalam kelompok. Namun ada juga alasan lain yang sederhana semisal tidak merasa betah untuk berkumpul bersama banyak orang. Sebagian lain merasa belum siap bergabung dalam kelompok pada waktu tertentu tetapi ingin bergabung kemudian. Pada waktu tertentu, seeorang mungkin hanya memerlukan intervensi satu lawan satu terlebih dahulu, seperti konseling individual, sebelum bergabung ke dalam suatu kelompok. Untuk membantu proses seleksi anggota kelompok, perlu dibuat suatu daftar tilik (check list atau ceklis) tentang hal apa saja yang harus ada atau tidak ada pada seorang calon peserta, yang sering disebut dengan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Kriteria inclusi adalah hal-hal yang harus ada pada seorang peserta, sedangkan kriteria eksklusi adalah hal-hal yang tidak boleh ada pada seorang calon peserta.

Misalnya, dalam mengelola suatu kelompok pendukung bagi remaja dengan HIV, selain dari segi usia, perlu ditambahkan bahwa mereka yang akan bergabung harus memenui satu atau lebih kriteria berikut:

–          Dukungan sosial terbatas;

–          Ada masalah dengan kepatuhan;

–          Anak yatim atau remaja lain yang kehilangan orang yang dicintai karena HIV/AIDS;

–          Korban salah asuh (di rumah atau oleh orang tua); dan/atau

–          Aktif secara seksual

Dalam mengelola kelompok yang sama, bisa juga diberikan hal-hal yang tidak boleh dipunyai oleh para peserta (kriteria eksklusi), misalnya para remaja dengan kondisi berikut:

–          Mengalami gangguan tingkah laku atau kepribadian yang berat;

–          Mengalami adiksi alkohol atau obat yang berat;

–          Mempunyai penyakit jiwa yang aktif (tetapi bila gejalanya bisa diatasi dengan pengobatan psikiatri, individu ini mungin bisa bergabung dalam kelompok); dan

–          Adanya ko-infeksi denan penyakit menular dalam kondisi yang masih bisa menularkan, seperti tuberkulosis atau pneumonia (karena mereka bisa manjadikan anggota lain berisiko tertular).

Ditentukannya kriteria inklusi dan ekslusi untuk mendasari rekrutmen pweserta tergantung dari jenis kelompok yang akan dibentuk.

Juga biasanya marupakan suatu hal yang baik, bila fasilitator melakukan wawancara individual dengan setiap orang yang menunjukkan minatnya untuk bergabung dalam kelompok. Fasilitator akan bisa menilai apakah calon peserta memenuhi kriteria inklusi/ eksklusi, bisa menjelaskan apa yang akan dilakukan dalam kelompok, komitmennya para peserta (misalnya bahwa para anggota diharapkan mengikuti kegiatan dengan teratur), dan juga mengklarifikasi bila para calon anggota mempunyai harapan yang tidak realistik atau masih mempunyai salah pengertian. Dengan demikian wawancara merupakan langkah menuju kesepakatan para anggota untuk mematuhi pedoman.

Mengelola suatu kelompok pendukung: logistik dan pertimbangan lainnya

Dalam mengelola suatu kelompok pendukung yang baru, ada beberapa hal yang harus diklarifikasi sebelum kelompok mulai berfungsi. Beberapa diantaranya merupakan masalah sederhana, tetapi bila tidak dilakukan akan mengganggu jalannya kelompok.

Tujuan dari kelompok

Mengetahui tujuan dari kelompok merupakan langkah yang penting dalam menentukan kelompok jenis apa yang paling memadai. Misalnya, tujuan utama yang ingin dicapai adalah menyediakan informasi, dukungan dan/atau menggali reaksi emosional yang dialami peserta. Hanya bila tujuan telah ditentukan, maka rencana selanjutnya dapat dibuat.

Lama berlangsungnya kelompok

Berapa lama suatu kelompok akan bertemu tergantung pada jenis kelompok yang akan dibentuk. Misalnya, kelompok yang dibatasi waktu cenderung akan bertemu lebih sering untuk waktu yang relatif lebih pendek, misalnya, sekali seminggu untuk sepuluh sesi. Kelompok pendukung yang berkelanjutan mungkin akan lebih jarang bertemu, tapi dalam waktu yang tidak ditentukan. Agar dapat menjamin kesinambungan kelompok, antar dua pertemuan sebaiknya tidak dijadwalkan lebih dari sebulan.

Waktu pertemuan

Untuk menentukan kapan kelompok akan bertemu, perlu dipertimbangkan acara dari para pesertanya. Misalnya, bila sebagian besar perserta tidak bekerja, maka pertemuan dapat dilaksanakan pada hari kerja. Tapi, bila mereka kebanyakan bekerja, maka malam hari atau akhir minggu akan lebih baik. Faktor lain misalnya transportasi dan keselamatan juga perlu dipertimbangkan. Seberapapun seringnya sesi dijadwalkan, yang perlu ditekankan adalah kesinambungan. Jadi, bila pertemuan dijadwalkan untuk diadakan dengan interval dua minggu, harus diupayakan agar kita konsisten pada jadwal tersebut sebisa mungkin.

Tempat pertemuan:

Seringkali tidak mungkin untuk mendapatkan tempat ideal untuk pertemuan dan karenanya kadand diperlukan kompromi. Seringkali kelompok bertemu di tempat-tempat seperti aula gereja, ruangan kelas di sekolah, ruangan kantor, atau di klinik kesehatan. Sedapat mungkin pengelola harus menjamin bahwa ruang pertemuan memenuhi kriteria sebagai berikut:

–          Tidak terlalu besar atau terlalu kecil. Bila ruangan sangat besar, bisa diberi pembatas denan tirai, atau kursi-kursi diatur sedemikian sehingga kelompok berkumpul di satu area yang terbatas.

–          Bebas dari gangguan. Ini termasuk mencegah orang lain di luar keanggotaan hilir mudik atau membuat kegaduhan.

–          Privasi. Beberapa anggota mungkin merasa tidak nyaman untuk mengadakan pertemuan di tempat yang berkaitan dengan HIV/AIDS karena takut status HV mereka terungkap dengan tidak sengaja.

–          Akses ke kamar kecil/WC

–          Tersedia dalam jangka panjang. Tempat pertemuan harus tersedia bagi kelompok untuk selama waktu yang diperlukan.

–          Mudah diakses dengan kendaraan umuum

–          Aman. Para anggota harus merasa aman untuk berangkat ke dan pulang dari tempat pertemuan.

Mengatur tempat pertemuan

Mengatur tempat duduk bagi para peserta adalah penting. Tempat duduk harus ditempatkan melingkar sehingga para perserta dapat saling memandang. Duduk dengan posisi melingkar lebih membantu peserta untuk berbicara satu sama lain dibanding dengan duduk dalam posisi barisan. Fasilitator harus duduk di dalam lingkaran tersebut bersama anggota kelompok lainnya.

Besarnya kelompok

Jumlah beserta tergantung dari jenis kelompok yang anda kelola. Bila ia merupakan kelompok terapetik, agak sulit bila pertemuan diikuti oleh lebih dari 15 orang. Jumlah ideal biasanya adalah sekitar 8  – 12 orang untuk kelompok jenis ini. Kelompok penyuluhan bisa mempunyai peserta yang lebih banyak. Perlu untuk dipertimbangkan bahwa untuk mengelola pertemuan yang lebih besar diperlukan fasilitator yang terampil.

Biaya transport

Tergantung dari tersedianya sumber daya, bila perlu disediakan biaya untuk transport bagi para anggota yang bila tidak mereka tidak akan mampu datang. Namun ini tidak selalu bisa dilakukan. Apapun kondisinya, bila sudah ditentukan anggota kelompok harus diberi tahu agar tidak ada kesalahpahaman.

Menyediakan makanan dan minuman.

Menyediakan makanan ringan merupakan hal biasa dalam satu pertemuan kelompok. Bila makanan bisa diupayakan, maka ini akan bisa mambantu anggota, karena seringkali konsumsi bisa menjadi ’pengikat’ agar orang mau berkumpul. Bila maanan kecil tersedia, perlu diatur agar pembagiannya tidak menginterupsi atau merubah acara pertemuan sehingga perhatian peserta tidak akan terganggu.

Penitipan anak

Pada beberapa kelompok, mungkin perlu disediakan tempat untuk penitipan anak selama orang tuanya mengikuti pertemuan

Mengklarifikasi pengharapan

Kadang-kadang orang yang bergabung dalam suatu kelompok mempunyai pengharapan yang salah atau tidak realistik. Pada beberapa contoh, pengharapan tersebut adalah dalam bentuk materi seperti parsel makanan, pekerjaan atau uang. Sebagian lain mungkin berharap akan mendapatkan  ”penyembuhan yang ajaib” untuk HIVnya atau depresinya atau gejala psikologisnya. Bila pengharapan ini tidak didapatkan, mereka akan kecewa dan meninggalkan kelompoknya. Karenanya perlu diberikan penjelasan dengan baik kepada para anggota yang prospektif apa yang capat diharapkan dan apa yang secara nyata akan mereka dapatkan.

Mengatasi kemungkinan stigma

Karena reaksi negatif dari anggota masyarakat terhadp orang yang hidup dengan HIV/AIDS, biasanya lebih baik tidak mengidentifikasikan kelompok yang dibentuk sebagai kelompok HIV/AIDS dan tidak mengadakan pertemuan di tempat yang terkait dengan HIV/AIDS. Bagi mereka yang status HIVnya belum diungkap, sebaiknya pertemuan diadakan di tempat pertemuan yang netral.


Bagaimana kelompok berkembang sejalan dengan waktu

Kelompok dibangun dan berubah sejalan dengan waktu pada tiga fase utama:

–          Fase permulaan;

–          Fase operasional/pelaksanaan;

–          Fase akhir

Setiap fase akan dibahas lebih lanjut dalam bab ini.

Memulai suatu kelompok: sesi pertama

Memulai suatu kelompok capat menjadi kecemasan bagi semua yang hadir. Bila fasilitator merasa percaya diri dan kompeten terhadap apa yang harus ia lakukan, ini akan membantu anggota kelompok merasa santai dan nyaman. Ada empat langkah pedoman yang umum dilakukan pada pertemuan pertama:

–          Perkenalan anggota kelompok;

–          Menetapkan pedoman;

–          Mendorong komunikasi; dan

–          Memberikan klarifikasi tentang tujuan kelompok.

Langkah 1- Perkenalan anggota kelompok

Anggota kelompok perlu mengetahui siapa yang ada di kelompok. Ini bisa dilakukan dengan acara ’memecahkan es’ (breaking the ice). Suatu kegiatan bisa dilakukan untuk membantu para peserta santai dan sekaligus bisa mengenal satu sama lain. Salah satu contohnya adalah dengan berbagi informasi dasar diri (nama, umur, menikah atau tidak, apakah mempunyai anak, pekerjaan) dengan mitranya, kemudian sang mitra memperkenalkannya kepada peserta lain.

Langkah 2- menetapkan aturan dasar

Biasanya cara terbaik untuk menciptakan suatu daftar aturan atau pedoman adalah dengan meminta anggota kelompok menyatakan ide mereka, daripada memaksakan suatu aturan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Ini memungkinkan peserta untuk berperan aktif dan pembentukan kelompok tersebut dan bisa mulai merasakan bahwa mereka merupakan anggota yang bernilai dalam kelompok tersebut. Pertanyaan berikut ini dapat digunakan untuk memperoleh pendapat dari anggota kelompok:

Gambar: Langkah 1: Perkenalan anggota kelompok

Sebelum kita mulai, marilah kita menetapkan beberapa pedoman dan aturan dasar untuk kelompok kita ini. Peraturan dibuat tidak untuk membatasi kita, tapi untuk menjamin bahwa ini merupakan tempat yang aman bagi kita semua. Peraturan atau norma apa yang menurut anda harus ditetapkan sehingga kita semua merasa aman dan nyaman dalam kelompok kita ini?”

Kadang-kadang, para peserta masih malu-malu dan kurang berpartisipasi pada sesi awal ini, dan perlu dilakukan sesuatu untuk mendorong seseorang mengemukakan pendapatnya, misalnya:

”Mari kita lihat. Menurut anda harus seperti apa aturan tentang kerahasiaan kita? Apakah kita perbolehkan kita berbagi informasi tentang apa yang kita bicarakan di sini dengan orang lain diluar kelompok kita?”

 

”Baiklah, kita sepakat bahwa salah satu peraturan pada kelompok kita ini adalah kerahasiaan. Aturan apalagi yang perlu kita sepakati yang akan bisa membantu agar kelompok kita ini menjadi tempat yang aman bagi semua orang?”

 

Seringkali juga akan membantu bila kita sudah siap dengan daftar norma yang bisa diantisipasi (misalnya saling menghormati, kerahasiaan, saling mendengarkan, dsb), yang bisa dikemukakan oleh fasilitator bila hal-hal tersebut tidak mengemuka.

Pedoman yang disepakati ini bisa menjadi semacam ”kontrak” selama kegiatan kelompok dilaksanakan. Dari sejak sesi pertama harus sudah ada kesepakatan tentang norma dan pedoman bagaimana kelompok ini akan dijalankan. Ini akan membantu para anggota untuk merasa aman, dihormati, dan didukung dalam kelompok ini.

Setiap kelompok akan mempunyai pedoman atau kontrak sendiri, tergantung dari jenis kelompok, dan satu sama lain cenderung untuk berbeda dalam beberapa hal. Misalnya, aturan tentang kehadiran akan berbeda pada suatu kelompok terbuka dengan kelompok tertutup. Bahkan mungkin bisa terjadi aturan didalam aturan itu sendiri. Beberapa kelompok mungkin memutuskan bahwa peraturan yang ditetapkan pada sesi pertama tidak boleh dirubah lagi, sedangkan kelompok lain mungkin menyepakati bahwa aturan dapat dirubah bila menjadi konsensus semua anggota kelompok.

Contoh dari kontrak kelompok:

Kerahasiaan

Semua yang dibicarakan di dalam kelompok harus tetap berada di kelompok. Kehidupan pribadi anggota tidak boleh didiskusikan diluar sesi.

Kehadiran

Semua anggota harus mengikuti semua sesi dengan teratur.

Ketepatan waktu

Semua orang harus menghormati waktu mulainya setiap sesi

Saling menghormati

Semua anggota harus menghormati pendapat anggota lain, walaupun pendapat tersebut berbeda dengan pendapat dirinya

Parisipasi

Semua anggota harus berupaya untuk berpartisipasi aktif dalam diskusi kelompok

Mendengarkan orang lain

Semua anggota mempunyai hak untuk berpartisipasi dan mengemukakan idenya dalam semua sesi. Peserta lain harus mendengarkan kepada orang yang sedang berbicara. Hanya boleh satu orang yang berbicara pada satu kesempatan.

Pedoman kelompok ini dapat dituliskan dan dicetak dan merupakan kesepakatan dari kelompok. Ia dapat dipasang pada setiap sesi kelompok untuk mengingatkan. Pedoman ini perlu dilihat kembali pada setiap awal sesi pertemuan, terutama bila ada anggota baru yang bergabung. Ini juga untuk mengecek apakah kesepakatan masih berlaku di antara para anggota tentang kontrak yang disetujui.

Langkah 2: Menetapkan aturan dasar

Juga perlu didiskusikan dengan anggota kelompok, bagaimana mengatasi bila ada aturan yang tidak diikuti. Merujuk ke kontrak kelompok bisa menjadi strategi yang baik bila kelompok menghadapi situasi yang menantang.

Akhirnya, perlu juga dikemukakan jadwal sesi selanjutnya. Tergantung pada struktur, waktu dan tempat pertemuan, anda bisa mengatakan, misalnya,”Kelompok kita ini akan bertemu setiap hari Sabtu sore antara jam 1 – 3 sore. Setiap sesi akan berlansugn sekitar satu setengah jam, dan akan ada sedikit tambahan waktu setelah setiap sesi untuk bersosialisasi satu sama lain.”

Langkah 3 – Mendorong komunikasi

Agar suatu kelompok menjadi efektif, para pesertanya perlu berbicara dan berinteraksi satu sama lain. Ini harus diupayakan sejak sesi pertama dan terus dilakukan selama kelompok berjalan. Pada suatu kelompok yang baru dibentuk, seringkali para peserta berbicara langsung kepada fasilitator. Jadi, fasilitator harus berperan untuk menghidupkan dialog antar sesama anggota kelompok, bukannya antara dia dengan setiap anggota. Ini dapat dilakukan dengan memberikan komentar seperti:

”Siapa yang juga mempunyai pengalaman semacam ini?”

” Itu pasti sulit untuk diceritakan di kelompok ini.”

”Siapa yang mau memberikan komentar tentang apa yang baru saja dia ceritakan?”

”Kami menghargai anda yang telah berbagi tentang apa yang anda rasakan.”

 

 

 

 

Gambar: Langkah 3: Mendorong komunikasi

Langkah 4 – Mengklarifikasi tujuan pembentukan kelompok

Penting bagi anggota kelompok untuk memutuskan bagi mereka sendiri apa yang akan didiskusikan dan apa yang ingin mereka dapatkan dari kelompok. Ini bisa membentuk struktur dari kelompok dan para anggota diberi kesempatan untuk berbagi harapan mereka terhadap adanya kelompok pendukung ini.

Namun, seringkali kelompok tidak menyadari tentang semua tema dan topik yang mungin bisa dicakup, juga tidak tahu bagaimana tujuan terapetikna bisa dicapai. Karenanya, saat peserta mengemukakn suatu topik, fasilitator harus membimbing kelompoknya ke arah tema yang lebih mempunyai potensi terapetik atau edukasi. Memberikan suatu daftar tema dan topik yang dapat dibahas pada pertemuan berikutnya juga dapat menolong mereka untuk menentukan topik apa yang akan menjadi fokus mereka nanti. Juga mungkin kelompok pendukung ini bila perlu mengundang pembicara lain untuk memberikan informasi tambahan pada topik tertentu.

Namun kita perlu membatasi harapan yang tidak realistik atau tidak memadai yang mungkin ada pada anggota. Misalnya, bila suatu kelompok adalah kelompok penyuluhan, para anggota seyogyanya tidak berharap akan membicarakan tentang bagaimana mengatasi diskriminasi secara rinci (walau mereka dapat melakukannya saat waktu istirahat atau setelah sesi selesai). Bila kelompok bermaksud untuk mendiskusikan perasaan tentang orang yang menyandang status HIV dan mendapat pengobatan ART, maka akan hanya ada sedikit kesempatan untuk menjelaskan informasi tentang HIV atau ART.

Fase Operasional/pelaksanaan

Bagaimana melaksanakan fase operasional sebaik-baiknya akan dijelaskan kemudian. Namun, penting untuk dicatat bahwa suatu kelompok tidaklah statis, dan walaupun beberapa kelompok sangat terstruktur, seringkali terjadi hal-hal yang yang tidak terduga dan fasilitator harus seap dengan keadaan ini.

Merencanakan topik

Kadang-kadang suatu kelompok lebih suka untuk menentukan sebelumnya topik apa yang akan dibahas pada pertemuan mendatang. Kelompok lain mungkin memutuskan secara spontan topik apa yang ingin dibahas saat sesi dimulai. Namun, tanpa melihat antisipasi struktur dari suatu sesi, terutama saat pertemuan berlangsung, penting bagi para anggota kelompok untuk diberikan kesempatan untuk berbagi dengan anggota lainnya bagaimana pendapat mereka dan apa yang mereka rasakan pada saat tersebut. Vila ada hal yang membutuhkan perhatian segera, biasanya cara terbaik adalah dengan memberikan fleksibilitas dan membahas masalah tersebut. Ini akan membantu untuk menjamin bahwa fokus dari kelompok adalah seimbang antar kebutuhan kelompok secara keseluruhan dan kebutuhan setiap anggota.

Gambar: Mengklarifikasi tujuan pembentukan kelompok

Perubahan kelompok seiring waktu

Kelompok bisa mengalami banyak perubahan pada sesi awalnya dimana orang tidak saling mengenal, kepercayaan tidak tercipta, orang tidak yakin bagaimana kelompok mereka akan berfungsi dan bagaimana mereka mendapatkan manfaat darinya. Suatu kelompok akan berkembang secara berbeda tergantung, misalnya, apakah ia tertutup atau terbuka, apakah mereka lebih ke arah penyuluhan atau pengobatan, dan sebagainya. Bagaimanapun, saat para anggota sudah lebih mengenal satu sama lain, dan kepercayaan terbangun antar mereka, fasilitator biasanya menjadi kurang aktif dalam kelompok. Anggota kelompok cenderung untuk mengambil lebih banyak tanggung jawab dan lebih merasa ”memiliki” kelompoknya. Misalnyam anggota muai memberikan lebih banyak dukungan kepada anggota lainnya. Akhirnya, pada beberapa situasi, anggota kelompok tampak seperti diluar kelompok dalam rangka memberdayakan mereka sendiri. Banyak kelompok pencari dana dan kegiatan lain dihasilkan sebagai hasil sampingan dari kelompok pendukung.

Disamping dukungan yang bisa didapatkan oleh seseorang dari kelompok, dan tergantung dari jenis kelompok, kadang ada waktu dimana ditemukan kesulitan. Individu dalam kelompok bisa mengalami saat emosional yang sulit dan ini terbawa dalam kelompok. Selain itu, stres yang didapat diluar kelompok dapat berkontribusi terhadap terjadinya konflik di dalam kelompok, atau antar anggota. Konflik bisa menjadi hal yang sulit untuk ditangani tetapi, bila ditangani denan efektif, akan membawa perkembangan yang baik bagi anggota sebagai individu dan kelompoknya secara keseluruhan.

Mengakhiri suatu kelompok pendukung

Proses untuk mengakhiri suatu kelompok akan banyak ditentukan oleh apakah kelompok tersebut dibatasi waktu atau berkelanjutan. Demikian juga emosi dari orang-orang didalamnya.

Pada suatu kelompok yang dibatasi waktu, saat akhir dari kelompok sudah ditentukan saat sesi pertama dan para anggota biasanya telah mempersiapkan diri untuk itu. Bila kegiatan kelompok telah dilaksanakan secara efektif, para anggota akan mengalami perasaan bahwa penutupan kelompoknya seperti salah satu bab dalam kehidupannya telah berakhir. Walaupun beberapa akan merasa sedih saat kelompok ditutup, diharapkan mereka merasa lebih kuat setelah melalui semua pengalaman ini. Walaupun sebagian besar dari mereka telah membangun hubungan yang kuat dengan rekan-rekannya di kelompok, mereka akan menyadari bahwa hubungan ini suatu saat memang pasti akan berakhir (setidaknya dalam format yang mereka dapatkan dalam kelompoknya). Beberapa kelompok, atau beberapa anggota dalam suatu kelompok bisa merasa bahwa mereka mendapatkan manfaat lebih banyak bila kelompok dipertahankan lebih lama. Mereka biasanya menghendaki sejumlah pertemuan tambahan, memutuskan apa yang mereka perlukan dan merencanakan pelaksanaannya.

Bila kelompok pendukung merupakan kelompok yang bekelanjutan, dan dilaksanakan dengan sedemikian rupa dimana orang dapat datang dan pergi secara periodik, terminasi biasanya lebih pada tingkat individu. Orang meninggalkan kelompok pada waktu yang berbeda untuk alasan yang bermacam-macam pula. Bila keluarnya dari kelompok sudah direncanakan sebelumnya, misalnya, karena anggota yang bersangkutan mendapat pekerjaan baru sehingga tidak dapat menlanjutkan partisipasinya, ini bisa diberitahukan pada satu sesi, dan kesan dari yang bersangkutan dan anggota kelompok lainnya dapat digali. Karena kehilangan seringkali menjadi masalah penting bagi ODHA, terminasi/ pengakhiran ini harus ditangani dengan hati-hati dan sensitif.

Bila suatu kelompok tertutup sudah berjalan, keputusan untuk mengakhiri seringkali jadi sulit. Orang-orang biasanya sudah menjadi saling tergantung satu sama lain dan para anggota akan merasa khawatir bagaimana mereka dapat menyesuaikan diri tanpa kelompoknya. Perasaan sedih dan cemas tentang masa depan adalah hal yang sudah umum. Fasilitator harus mempersiapkan setiap anggota, dan kelompoknya secara keseluruhan, akan berakhirnya kelompok mereka. Namun, walaupun kelompok telah berakhir, mereka harus didorong untuk membangun sistem pendukung diluar kelompoknya.

Strategi apa yang digunakan untuk memfasilitasi suatu kelompok pendukung terapetik?

 

Seperti telah didiskusikan sebelumnya, suatu kelompok terapetik (pengobatan) adalah suatu bincang-bincang antar sekelompok orang yang mempunyai satu persamaan, dan bertujuan untuk mendapatkan perubahan dalam cara para mereka berpikir, merasa dan bertindak.

Apa yang membuat bincang-bincang antar sejawat menjadi ”terapetik”?

Berikut ini adalah beberapa kunci untuk membuat suatu bincang-bincang bernilai pengobatan:

Peserta akan mampu secara terbuka mengekspresikan perasaan, emosi dan pikiran mereka

Ekspresi emosi yang terbuka dan tidak dibatasi akan mempunyai dua manfaat. Pertama, ia menjadikan yang bersangkutan membongkar perasaannya yang selama ini terkunci didalam dirinya. Ini akan memberikan rasa kebebasan, yang disebut efek katartik (cathartic effect). Ke dua, berbicara tentang perasaan seseorang memungkinkan untuk melihat perasaan itu secara lebih obyektif, dan mengeluarkan obyektifitasnya, sehingga ia dapat dipahami secara berbeda. Pengekspresian emosi seseorang juga dapat menimbulkan emosi dan pemikiran dari peserta lain yang kemudian dapat membantu mereka untuk merefleksikannya secara berbeda sesuai dengan pengalaman mereka sendiri.

Pendapat/pandangan yang berbeda bisa saling dibagi dan ditoleransi

Mempelajari pemikiran, emosi dan perasaan anggota lain dapat membantu para peserta untuk menciptakan kembali, menginterpretasikan kembali, atau merubah keyakinan dan/atau ide mereka yang selama ini membuat mereka menderita dan tidak berdaya dalam menyesuaikan diri dan berperilaku.

Apa yang dapat dilakukan fasilitator untuk mendorong perbincangan terapetik antar sejawat?

Fasilitator dapat menggunakan serangkaian perangkat teknis dan sumber daya untuk menciptakan kondisi yang menunjang dialog yang bersifat terbuka, penuh rasa hormat, kreatif, toleran dan aman. Diantara perangkat itu adalah:

Menciptakan dan menjaga suasana berdasarkan saling menghormati dan saling percaya.

Rasa percaya akan timbul bila seorang individu merasa bahwa ia akan dimengerti dan tidak akan dihakimi atau dikritik untuk apa yang dia pikirkan atau katakan. Tim terapetik bertanggung jawab untuk menciptakan iklim kepercayaan ini. Untuk mencapa ini, perlu ditekankan suatu pemahaman bahwa semua peserta mempunyai satu kesamaan, ”kita adalah satu”, dan bahwa setiap anggota adalah spesial dan penting. Sikap seperti saling mengenalkan diri, merujuk ke orang lain dengan menyebut nama, mendengarkan setiap orang (satu pembicara dalam satu saat) dan tidak menghakimi perilaku atau ide dari para perserta, semua berkontribusi dalam menciptakan suasana kepercayaan. Rasa percaya merupakan kunci untuk memfasilitasi dialog yang murni, menghilangkan ide atau perasaan yang negatif atau membatasi, dan membuka pemikiran dan perasaan yang memungkinkan seseorang untuk hidup dengan lebih positif, walaupun di bawah kondisi yang sebaliknya.

Mendorong ekspresi pemikiran dan emosi

Bagi seorang fasilitator yang belum berpengalaman atau baru, bagaimana ia memulai dialog kelompok dengan baik bisa merupakan sesuatu yang intimidatif.  Secara sederhana, tujuan seorang fasilitator adalah mengajak para anggota kelompok untuk berbagi masalah atau kekhawatiran mereka yang terjadi dalam pengalaman mereka sehari-hari yang kemudian mendorong terciptanya diskusi kelompok. Penting untuk diingat bahwa tidak satu cara yang paling benar untuk melakukannya, karena ada beberapa cara untuk memulai diskusi. Berikut ini adalah beberapa contoh strategi yang biasa digunakan untuk memulai percakapan.

Salah satu cara ialah dengan mengajukan pertanyaan langsung kepada kelompok secara umum dan tunggu mereka untuk menceritakan pengalamannya:

Bagaimana kabar anda? Ada kabar apa selama dua minggu terakhir ini? Ada hal yang baru? Ada yang merasa bahagia atau sedih tentang sesuatu yang terjadi selama dua minggu terakhir ini? Ada yang mau berbagi cerita untuk kelompok kita ini?”

Atau seorang fasilitator dapat mengajukan pertanyaan langsung kepada seorang anggota secara spesifik, sehingga ia bisa memulai bercerita:

Apa kabar Juana? Ada sesuatu yang baru? Bagaimana keadaan anda selama dua minggu terakhir ini?”

Pilihan lain, sedikit lebih memerintah, ialah dengan memberikan suatu instruksi khusus untuk kelompok untuk memulai dialog, misalnya:

Mari kita memperkenalkan diri, satu per satu. Kita mulai dengan menyebutkan nama kita masing-masing, bulan apa mulai mendapat pengobatan, dan beberapa informasi lain tentang diri kita agar kita lebih saling mengenal. Bagaimana kalau kita mulai dari anda, Juana.”

Mari kita buat lingkaran dan setiap orang tolong ceritakan secara ringkas apa yang terjadi dalam dua minggu terakhir. Setelah itu, sebagai satu kelompok, kita akan menentukan topik apa yang akan kita bicarakan pada pertemuan ini.”

Upaya untuk merekonstruksi seobyektif mungkin situasi yang dialami peserta

Setelah seorang anggota kelompok mengemukakan kesaksiannya, mungkin ada beberapa rincian yang masih belum jelas. Bila individu tersebut terpaku dengan masalahnya, akan sulit baginya untuk memilah-milah untuk mendapatkan fakta yang jelas dan obyektif. Fungsi dari seorang fasilitator adalah untuk mengajukan pertanyaan yang bisa membantu untuk menrekonstruksi situasinya seobyektif mungkin untuk memfasilitasi intervensi yang akan dilakukan. Beberapa pertanyaan yang spesifik bisa diajukan untuk merekonstruksi situasi, misalnya, bila masalah yang dihadapi berkaitan dengan keluarga, bisa ditanyakan siapa lagi yang tinggal di rumah yang bersangkutan, apa peranan yang berangkutan dalam keluarga, dan rincian lain yang relevan. Berikut ini adalah contoh dari suatu kesaksian singkat dari seorang anggota kelompok dan beberapa contoh pertanyaan yang bisa diajukan seorang fasilitator:

Juana:”Saya merasa bersalah karena saya tidak mampu memberi sesuatu yang lebih bagi anak perempuan saya. Dia tidak memahami bahwa ibunya sedang sakit. Saya ingin bisa berbuat lebih untuknya, untuk bekerja, memberinya sesuatu dan membantunya menyelesaikian PR, tapi kadang saya merasa bahwa pokoknya saya tidak bisa. Saya mudah merasa lelah, dan mengalami banyak efek samping. Saya merasa bersalah.”

Pada contoh ini kesaksian Juana menyoroti berbagai kesulitan yang ia hadapi dengan putrinya dan perasaan yang dialaminya, terutama frustasi dan kesedihan. Tergantung dari aspek terapetik dimana seorang fasilitator ingin memfokuskan intervensinya, ia dapat menggali situasi dengan mengajukan pertanyaan seperti berikut:

Berapa umur putri anda?”

 

”Apakah putri anda pernah mengatakan sesuatu tentang anda, apakah dia pernah mengeluh? Atau itu semua hanya perasaan yang anda rasakan bahwa anda tidak merawatnya dengan baik seperti yang anda inginkan?”

 

”Siapa lagi yang tinggal di rumah anda? Saat anda tidak bisa membantu putri anda, siapa yang membantunya?”

 

”Apakah ayah dar putri anda tinggal bersama anda?”

Menggali cara berfikir yang lain tentang situasi yang ada dan mendekatinya

Orang mempunyai kecenderungan untuk membentuk kebiasaan dalam cara berpikir dan bertindak, yang dapat mempengaruhi interpretasi atau reaksi mereka tentang masalah atau situasi yang ada. Seseorang biasanya cenderung untuk mempertahankan kebiasaan atau cara berpikir ini seakan ini adalah satu-satunya cara yang sah untuk merespon siatu situasi, dan bisa melakukannya kembali , tanpa melihat lagi apakah cara tersebut efektif dalam menghadapi problem yang lain. Kemungkinan besar strategi ini efektif pada satu saat dalam hidup seseorang, tetapi mungkin ia bisa gagal untuk mencapai hasil yang diinginkan pada situasi sekarang ini, atau bahkan bisa meningkatkan penderitaan. Mendengarkan bagaimana cara orang lain berpikir dan bertindak saat menghadapi situasi yang sama akan dapat membantu seseorang untuk merubah kebiasaanya, untuk kemudian membentuknya kembali dan memperluas cara berpikir seseorang dalam menghadapi masalah, dan memodifikasi sikap dan perilakunya. Ini terutama lebih mungkin terjadi bila alternatif tersebut datang dari orang yang ia kenal, ia sukai atau hormati.

Untuk memfasilitasi perubahan ini, fasilitator harus mendorong para peserta untuk terlibat dalam diskusi tentang masalah dari setiap anggota, serta memberikan secara bebas ekspresi emosinya, pengalamannya dan refleksinya terhadap situasi tersebut.

Salah satu cara langsung untuk melakukan ini adalah dengan mengundang anggota yang lain untuk mengintervensi:

Apakah ada yang ingin bertanya sesuatu yang lain tentang kesulitan yang dihadapi Juana dan putrinya?”

Cara lainnya adalah dengan merespon secara langsung kepada yang bersangkutan, dengan menyoroti masalah yamg umum dan memetakannya dengan perspektif yang berbeda, sehingga kelompok dapat merefleksikannya dan membantu Juana:

Terima kasih, Juana, untuk berbagi pengalaman ini di kelompok kita. Ini merupakan situasi yang sulit. Untuk banyak orang, pengobatan menimbulkan keterbatasan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial mereka, selain juga fungsi fisik dan kegiatan akademis mereka. Namun, kita perlu ingat bahwa keterbatasan ini adalah sementara. Kesehatan anda adalah yang utama.”

Karena anggota kelompok yang lain juga mengalami pengobatan yang sama, sangat mungkin mereka juga mempunyai kesulitan yang sama dan/atau telah melewati situasi yang sama. Jadi, strategi lainnya adalah dengan memanfaatkan pengakuan Juana sebagai suatu contoh, dan memfasilitasi intervensi dari anggota lain untuk membantu Juana:

Juana telah menceritakan kepada kita bahwa dia merasa kemampuannya untuk menjaga putrinya jadi terbatas. Ada yang ingin memberi komentar? Saran apa yang bisa kita berikan kepadanya terkait situasi dengan putrinya ini?”

Karena ada kemungkinan anggota yang lain juga pernah mengalami situasi yang sama dan dapat memberikan sarannya berdasarkan pengalamannya, fasilitator dapat mengajukan usul:

Siapa lagi yang mempunyai anak? Apakah ada yang juga mengalami kesulitan yang sama?Bagaimana kita dapat mengatasi masalah ini dengan anak kita?”

Atau, bila fasilitator menemukan persamaan antara pengalaman satu anggota kelompok dengan yang lainnya, ia dapat mengemukakan kesamaan ini untuk memfasilitasi intervensi dari anggota kelompok yang lain. Misalnya:

Coba kita lihat, Maria, anda mempunyai anak, kan? Mungkin anda bisa berbagi kepada semua bagaimana anda mengatasi masalah ini. Bagaimana anda menyeimbangkan peran anda sebagai penderita dan sebagai seorang ibu?”

Akhirnya, mungkin kita perlu untuk merangkai kembali topik tersebut dengan cara dimana peserta lain akan merasa lebih mampu mengidentifikasi dan merefleksikan berdasarkan pengalaman mereka sendiri. Dalam hal ini, misalnya, daripada memfokuskan topik tentang bagaimana menjaga anak saat kita sakit, akan lebih bermanfaat bila kita berbicara tentang sesuatu yang lebih umum, yaitu keterbatasan lain yang mungkin timbul saat mendapat pengobatan (pekerjaan, sosial, akademik, fisik, dsb.)

Juana telah bercerita kepada kita bahwa ia merasa kemapuannya untuk menjaga putrinya jadi terbatas karena ia sakit. Apakah ada yang lain yang juga merasa kegiatannya terhambat karena`pengobatan ini?”

Orientasikan diskusi pada topik dan/atau masalah yang berpotensi memberikan dampak terapetik.

Tidak semua topik mempunyai dampak yang sama terhadap cara para peserta berpikir, merasa dan bertindak. Ada beberapa topik yang lebih sensitif dari yang lainnya, dan melibatkan emosi yang lebih dalam. Namun seringkali topik-topik dengan potensi terapetik ini tidak timbul secara natural, dan bahkan kelompok dapat jadi terganggu dengan topik yang relevansinya dan keterlibatan emosinya hanya sedikit saja. Fasilitator bertanggung jawab untuk mengorientasikan diskusi ke arah tema-tema ini tanpa memaksa atau memecahkan keharmonisan dan kepercayaan yang telah terbangun di dalam kelompoknya.

Beberapa fasilitator lebih suka untuk memfokuskan diskusi  kearah pengalaman atau kesulitan dari satu atau lebih anggota kelompok, sedangkan yang lain lebih suka memfokuskan pada topik umum untuk mencari pemecahan. Dengan menggunakan contoh Juana untuk ilustrasi, topik utama dari sesi adalah situasi spesifik dari Juana.

Bagaimana hidup Juana dengan pengalamannya? Apa gejala-gejala utamanya (efek samping) yang menghalangai aktivitasnya? Siapa lagi yang tinggal di rumahnya? Bagaimana dampak dari penyakitnya terhadap dinamika keluarganya? Apakah ia mempunyai anak yang lain? Saran apa yang dapat diberikan oleh anggota kelompok yang lain?

Selanjutnya,  tema utama dari sesi ini bisa menjadi:

Bagaimana kita menjaga anak-anak kita bela kita sendiri sedang menderita sakit? Atau, seberapa jauh pengobatan menimbulkan hambatan dalam kegiatan kita sehari-hari? Bagaimana kita mengatasinya?

Fasilitator dapat menilai tingkat perhatian dan motivasi dalam kelompok untuk fokus pada masalah dari salah seorang anggotanya, atau mendorong dialog ke arah topik yang lebih umum.

Mencari partisipasi dari anggota yang strategis

Sejumlah ODHA yang pengobatan ARTnya berjalan baik dapat diundang dalam sesi untuk dijadikan model dalam pengobatan dan menginspirasi mereka melalui kesaksian mereka.

 

 

 

 

Gambar: Mencari partisipasi dari anggota yang strategis

Pandangan dan pengalaman mereka akan sangat berharga bagi anggota kelompok yang menghadapi masalah yang sama terkait pengobatan mereka, yang ragu apakah pengobatan tersebut akan efektif, atau situasi lainnya. Saran dari anggota kelompok yang lebih berpengalaman ini mempunyai nilai terapetik yang penting, yang berbeda dari yang diberikan fasilitator, karena saran tersebut datang dari orang lain yang secara pribadi menderita penyakitnya dan mendapatkan pengobatannya, dan dapat mengorientasikan anggota kelompok berdasarkan pengalamannya.

Peserta yang strategis lain adalah mereka anggota ‘veteran’ dari kelompok tersebut yang bisa membantu mengintegrasikan anggota baru. Karena keanggotaan kelompok berfluktuasi sejalan dengan waktu dan anggota baru secara konstan bergabung, anggota veteran dapat menjelaskan kepada anggota baru, dengan kata-kata mereka sendiri, tujuan dari kelompok ini, apa yang dilakukan pada setiap sesi yang diadakan, dan aturan dasar dari kelompok (khususnya kerahasiaan). Melalui penjelasan mereka, mereka akan meningkatkan tingkat kepercayaan dalam kelompok dan memfasilitasi integrasi dari anggota baru ke dalam kelompok.

Mengoreksi distorsi atau generalisasi dalam bahasa

Kadang orang-orang ingin mengesankan penderitaan mereka mengemukakan interpretasi mereka sendiri terhadap pengalamannya. Interpretasi yang negatif ini terlihat dari cara mereka mengekspresikan. Bila kita mendengarkannya dengan penuh perhatian, kita dapat melihat serangkaian pesan yang, selain tidak sepenuhnya benar, juga dapat menimbulkan penderitaan dan membatasi tindakan. Beberapa contohnya antara lain:

”Tidak seorangpun mencintai saya.”

”Anak-anak saya membuat saya gila”

”Saya harus tunduk kepada keinginan suami saya.”

”Saya orang yang tidak berguna.”

”Tidak mungkin saya hidup terus dengan penyakit ini.”

”Istri saya meninggalkan saya.”

”Jelas bahwa orang itu membenci saya.”

”Saya bosan minum obat terus.” dst.

Analisis yang teliti pada pernyataan-pernyataan tersebut akan memperlihatkan bahwa mungkin mereka sudah diluar proporsi dari apa yang sebenarnya mereka alami. Tugas dari fasilitator adalah untuk mencoba mengaitkan ekspresi verbal ini kepada pengalaman sebenarnya melalui pertanyaan yang menyoroti penggeneralisasian, mengganti kata yang hilang dan mengoreksi distorsi verbal (lihat tabel 1)

Tabel 1. Bagaimana mengoreksi distorsi bahasa atau generalisasi

Pernyataan masalah Distorsi bahasa Bagaimana mengoreksinya
Tidak seorangpun mencintai saya Terminologi absolut seperti tidak seorangpun, semua orang, selalu, tidak pernah, biasanya tidaklah benar Cari bebarapa pengalaman yang mengkontradiksi generalisasi: Benar-benar tidak seorangpun mencintai anda?
”Anak-anak saya membuat saya gila” Walaupun bentuk emosi seperti marah, bahagia atau sedih bisa dipicu oleh tindkan orang lain, pada dasarnya ia adalah proses internal, dan karenanya tergantung dari orang itu sendiri Biarkan anggota kelompok mengambil alih tanggung jawab untuk emosinya: Apakah satu-satunya cara untuk bereaksi terhadap apa yang dilakukan anak anda adalah dengan kemarahan? Apa yang anda dapatkan dari kemarahan anda?
”Saya harus tunduk kepada keinginan suami saya.” Pernyataan seperti ini menunjukkan ketidak berdayaan untuk merespon situasi yang diciptakan orang lain, yang membatasi kemungkinan orang untuk bertindak. Keterbatasan ini bisa benar atau hanya imaginasi Gali kenyataan dari situasi tersebut: Mengapa anda harus melakukan ini? Apa yang akan tejadi bila anda tidak melakukannya?
Tidak mungkin saya hidup terus dengan penyakit ini.” Banyak situasi tampak seperti absolute, tapi hanya sedikit yang benar-benar. Buatu koneksi dari dua situasi yang terkait: Satu satunya jalan untuk hidup adalah sebagai orang sehat?
”Istri saya meninggalkan saya. Ada beberapa situasi yang sebenarnya adalah hasil dari interaksi dua orang atau lebih, tapi diekspresikan seakan-akan seorang aktif dan yang lainnya pasif. Dalam situasi semacam ini, tidak ada yang total aktif (pelaku) dan yang total pasif (korban) Bantu anggota kelompok untuk mengambil tanggung jawab dan peran lebih aktif dalam hubungan tersebut: dengan kata lain, anda dan istri anda telah bercerai satu sama lain?
Jelas bahwa orang itu membenci saya.” Kadang suatu situasi dikemukakan sebagai kebenaran yang absolut, tanpa dasar, atau berdasar bukti keadaan. Cari bukti: Apa yang membuat anda berpikir bahwa orang tersebut membenci anda?
”Saya bosan minum obat terus.” Keadaan saat ini (sedang berlangsung) dikemukakan sebagai keadaan secara umum di waktu lalu, sehingga sepertinya tidak mungkin dirubah Bawa kembali tindakan ke saat ini: Maksud anda, anda saat ini menjadi bosan untuk minum obat?

Mendorong partisipasi aktif saat sesi berlangsung

Ada beberapa pendapat tentang partisipasi didalam kelompok. Sejumlah orang berpendapat bahwa semua anggota kelompok harus berpartisipasi aktif dengan berbicara, berekspresi, mendengarkan secara aktif, dan merefleksikan topik yang sedang didiskusikan dalam sesi. Sebagian lain mengatakan bahwa tidak menjadi masalah bila sebagian anggota kelompok berbicara sedangkan yang lain diam dan hanya mendengarkan.

Ada keuntungan dan kerugian dari kedua pendekatan tersebut. Di satu sisi, menekan seseorang yang sangat pemalu untuk berpartisipasi malah bisa membuatnya tidak nyaman dan mungkin memilih untuk tidak datang lagi pada sesi selanjutnya. Di sisi lain, bila seseorang mengijinkan hanya beberapa anggota saja yang berpartisipasi dan berkontribusi, ada kemungkinan hanya beberapa orang saja yang mendominasi dialog dan tidak memungkinkan orang lain ikut. Kadang-kadang anggota kelompok yang pemalu memerlukan sedikit bantuan agar ia merasa nyaman dalam lingkungan kelompoknya.

Mendorong komitmen dan motivasi para peserta untuk datang ke sesi berikutnya

Secara umum, satu cara yang baik untuk menyimpulkan suatu sesi adalah dengan memberikan ringkasan topik yang dibicarakan hari itu, termasuk masalah yang didiskusikan dan pemecahan yang ditawarkan, dan mencapai kesepakatan tentang tanggal dari sesi selanjutnya.

Beberapa masalah yang biasanya  timbul dalam kelompok pendukung

Bab ini akan menggunakan lima contoh kasus untuk mengilustrasikan beberapa masalah yang biasanya timbu dalam kelompok pendukung untuk ODHA. Kemudian akan dikemukakan beberapa kemungkinan cara untuk merespon kebutuhan orang-orang yang mengemukakan masalah tesebut sedemikian sehingga memungkinkan anggota lain untuk berpartisipasi dan mendapat pelajaran dari diskusinya. Kelima contoh tersebut adalah:

–          Penolakan sosial dan diskriminasi;

–          Pengungkapan status: menceritakan kepada orang lain bahwa seseorang positif HIV;

–          Hidup dengan pengobatan anti retroviral

–          Hubungan dengan mitra; dan

–          Kematian dan menjelang kematian.

Tidak ada kelompok pendukung yang serupa satu sama lain. Ini karena anggotanya membawa kekhawatiran, perasaan, pengalaman, dan latar belakang mereka yang unik ke dalam kelompok. Ini adalah bagian yang membuah kelompok pendukung menjadi spesial bagi mereka. Semua sama, ada  beberapa masalah tertentu yang serting timbul dalam kelompok pendukung. Ini karena orang yang hidup dengan HIV/AIDS mempunyai kesamaan dalam penyakitnya, bagaimana mendapatkannya, pengobatannya dan terutama penglaman menghadapi respon orang lain terhadap status HIV mereka.

Apapun masalah yang dikemukakan seorang anggota kelompok, ada serangkaian pertanyaan dimana fasilitator dapat bertanya kepada dirinya sendiri untuk memutuskan cara mana yang paling baik untuk mengatasinya.

Bagaimana pandangan pribadi saya terhadap masalah tersebut?

Kesadaran akan pandangan pribadi seseorang akan membantu fasilitator untuk mengecek reaksi dirinya sendiri dan berusaha untuk tetap senetral mungkin didalam kelompok

Apa yang saya keahui tentang kelompok ini?

Misalnya, telah berapa lama kelompok ini berjalan? Seberapa akrabkah mereka satu sama lain? Hubungan seperti apa yang ada di kelompok trsebut? Masalah yang sama yang mana yang telah dikemukakan pada waktu lalu dan bagaimana hal tersebut telah diatasi?

Apa yang saya ketahui tentang anggota kelompok yang mengemukakan masalah ini?

Misalnya, sudah berapa lama anggota ini mengikuti kegiatan? Bagaimana kecocokan dia terhadap kelompoknya? Seberapa percaya dirikah atau seberapa rapuhkah ia? Apakah masalah dia cocok dengan pola masalah yang lalu yang dikemukakannya? Apakah kekuatan individu ini?

Strategi apa yang dapat saya gunakan untuk membuka komunikasi antar anggota kelompok?

Bagaimana saya dapat membantu anggota kelompok menggali berbagai cara dalam memandang suatu situasi?

Bagaimana saya dapat mengelola proses dalam kelompok?

Reaksi problematik apa yang dapat timbu dalam pelaksanaan? Dengan cara apa problem ini sebaiknya diatasi?

Bagaimana saya meyakinkan bahwa kebutuhan anggota yang mengemukakan masalah sudah diatasi?

Selalu ingat bahwa biasanya ada beberapa jalan untuk merespon suatu masalah. Karenanya, saat mempelajari suatu contoh kasus, ada perlunya berlatih utnuk berfikir tentang pilihan apa lagi yang bisa diambil.

Penolakan sosial dan diskriminasi

Orang yang hidup dengan HIV/AIDS seringkali mengalami penolakan dan diskriminasi, baik dari mitranya, keluarga, teman atau mesyarakat yang lebih luas. Apa yang dilakukan dan dirasakan adalah langsung dan nyata, atau lebih halus, seperti yang diperlihatkan pada kutipan di halaman berikut ini.

Mengalami secara langsung penolakan dan diskriminasi dapat mengikis harga diri, motivasi untuk hidup dengan positif, dan kemampuan untuk patuh berobat seperti yang diharuskan. Bahkan biarpun seseorang tidak mengalaminya langsung, rasa takut akan penolakan dan diskriminasi dapat menjadi penghalang untuk hidup positif, mendapatkan pengobatan mematuhinya.

Kelompok pendukung memberikan satu tempat yang aman dimana orang dapat berbagi ketakutan dan kepedihan mereka dan mencari jalan untuk mengantisipasi dan merespon penolakan dan diskriminasi tersebut. Untuk melakukan ini, penting bagi fasilitator dan anggota kelompok mengerti apa yang menyebabkan mereka mengalami ini. Karena, walaupun penolakan dan diskriminasi ini tidak pernah dibenarkan, memahami mengapa prang berperilaku negatif seperti ini akan dapat membantu menemukan cara bagaimana merubah perilaku ini.

Apa yang dikatakan anggota kelompok

Bila anda juga positif HIV seperti saya, sangat menyakitkan saat anda tidak mendapat dukungan dari keluarga dan teman.”

 

“Orang tua saya percaya bahwa HIV adalah suatu hukuman untuk dosa yang dilakukan, jadi saya harus menyembunyikan obat-obat saya dan harus berhati-hati saat meminumnya, karena saya tidak mau mereka tahu bahwa saya positif HIV.”

 

“Saat saudara-saudara saya tahu bahwa saya positif HIV, mereka memukul saya dan berusaha mengusir saya dari rumah.”

 

“Beberapa orang di masyarakat yang tahu tentang status HIV dari orang lain cenderung untuk berfikir bahwa kami pantas untuk mendapat HIV. Jadi apa yang terjadi adalah bahwa kami tidak pernah membicarakan status kami, atau merasa bersalah, atau bahkan kabur dari rumah.”

Stigma

Akar penyebab dari sebagian besar penolakan dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS adalah stigma terhadap penyakit ini. Stigma adalah kepercayaan dan sikap negatif kepada orang-orang atau kelompok yang mempunyai karakteristik yang sama, dalam hal ini HIV/AIDS. Orang yang menjadi subyek stigma dilihat sebagai ‘orang lain’ yang berbeda dan terpisah. Stigma seringkali juga memberikan stereotipe kepada orang-orang dari kelompok tertentu, dengan kata lain, menganggap bahwa karena mereka mempunyai satu keadaan yang sama (yaitu menderita HIV/AIDS), berarti mereka sama-sama dalam berbagai hal (‘kotor’, ‘melacur’, ‘tidak berguna’).

Stigma dapat meluas ke orang-orang yang melekat dengan kelompok yang terstigma. Ini berarti tidak hanya mereka yang terinfeksi, tapi juga mereka yang mendapat dampak dari HIV/AIDS, seperti mitranya, anggota keluarga, bisa menjadi subyek stigma. Mungkin, yang paling merusak, bahwa stigma tidak hanya  seseuatu yang diekspresikan oleh orang lain. Orang dengan HIV/AIDS sendiri juga kadang menerima sikap dan kepercayaan itu, merasa malu dan bersalah karena pandangan negatif ini.

Stigma dapat diekspresikan dengan diskriminasi, dengan kata lain, orang yang menderita atau yang terkena dampak HIV/AIDS diperlakukan dengan cara yang berbeda dari apa yang secara umum bisa diterima di masyarakat dan yang tidak bisa dibenarkan secara rasional. Salah satu contohnya adalah penolakan untuk sama-sama menggunakan peralatan rumah tangga dengan seseorang yang terinfeksi HIV. Seringkali korban stigma merasa sendiri dan terisolasi secara sosial.

Gambar: Isolasi sosial

Apa yang menyebabkan stigma?

Kekurang tahuan tentang HIV/AIDS: Banyak orang tidak tahu banyak tentang HIV/AIDS, mempunyai pemikiran yang membingungkan, atau kepercayaan yang salah. Misalnya, mereka mungkin berpikir bahwa HIV dapat menular bila kita berdekatan dengan penderitanya, seperti halnya seorang anak yang dapat mendapat penyakit campak karena berada bersama anak lain yang menderita campak. Mereka juga mungkin berpikir bahwa sekali anda terkena HIV maka hidup anda tidak akan lama lagi. Juga ada kesalah pahaman yang menyebar luas bahwa HIV terkait dengan homoseksual atau pelacuran, dimana ‘orang yang terhormat’ tidak akan mungkin terkena. Pemikiran yang membingungkan dan kepercayaan yang salah seperti ini dapat meningkatkan ketakutan akan terinfeksi dan menyebabkan sikap yang negatif terhadap orang yang menderitanya.

Ketakutan (fear): suatu faktor ke dua yang menyuburkan stigma dan diskriminasi adalah ketakutan. Kenyataan bahwa begitu banyak orang yang trinfeksi dan bahwa sampai saat ini tidak ada pengobatan untuk AIDS membuat orang takut terhadap HIV/AIDS. Kenyataan bahwa orang dengan HIV/AIDS tidak mampu mendapatkan pengobatan dan mati dengan keadaan yang sulit, mungkin telah mengarahkan pemikiran bahwa HIV/AIDS berarti penderitaan dan kematian. Karena orang takut mendapat HIV/AIDS, mereka akan mencoba menghindari atau menolak para penderitanya.

Kaitan antara HIV dan tabu (kematian dan praktik seksual): Kematian, di sebagian besar masyarakat, sering dihubungkan dengan tabu, yaitu sesuatu yang tidak pernah didiskusikan secara terbuka dan berkaitan dengan ritual khusus untuk membantu masyarakat mengatasi sesuatu yang ditakuti. Dalam hal HIV, tabu yang ada bahkan lebih kuat dan kematian seringkali dirahasiakan atau disembunyikan. HIV juga dikaitkan dengan seks, suatu subyek tabu yang lain yang tidak pernah didiskusikan secara terbuka. Ia dianggap urusan pribadi dan mempunyai serangkaian ekspektasi serta penilaian moral tentang apa yang pantas atau tidak pantas dilakukan.

Ini semua adalah faktor yang harus diingat dalam membantu anggota kelompok untuk memahami dan mengatasi diskriminasi dan penolakan. Walaupun tidak selalu memungkinkan untuk merubah reaksi dari masyarakat terhadap ODHA, namun kita mungkin bisa merubah cara mereka bereaksi, menginterpretasi situasi ini dan mengurangi akibat buruk yang terkait dengannya.

Gambar: memahami orang lain dapat mengurangi akibat buruk dari stigma

Penolakan dan diskriminasi: pengalaman Maria

Maria baru baru ini bergabung dalam suatu kelompok. Hari ini, akhirnya dia mempunyai cukup keberanian untuk berbagi situasi yang dialaminya bersama kelompoknya. Dia berkata bahwa dia pernah mendengar tentang seorang yang dipukuli dan diusir dari rumahnya setelah keluarganya mengetahui bahwa ia positif HIV. Maria meneruskan dan berkata: “Saya masih tinggal bersama keluarga saya, tetapi kadang saya merasa bahwa diusir dari rumah mungkin tidaklah lebih buruk. Mereka mencoba menghindari untuk menggunakan waktu bersama saya, bahkan berada di satu ruanganpun mereka tidak mau. Sebelumnya ibu saya selalu senang kalau saya mau membantunya di sekitar rumah. Sekarang dia tidak mengijinkan saya membantunya memasak. Saudara perempuan saya tidak mau anak-anaknya ada di dekat saya. Dia akan memanggil mereka keluar bila mereka masuk ke ruangan saya. Sulit untuk diterima bahwa ibu saya sudah tidak mencintai saya lagi dan saudara perempuan saya tidak mau berbuat apapun dengan saya. Kadang saya merasa begitu sedih dan berpikir tidak ada gunanya minum obat dan saya mungkin terlewat sekali atau dua kali. Mungkin lebih baik saya segera mati saja.

Bagaimana mengatasi situasi semacam ini?

Pemahaman fasilitator terhadap situasi Maria bisa seperti berikut:

Maria menceritakan bagaimana keluarganya bereaksi kepadanya dan bagaimana perasaannya terhadap pengalaman itu. Dia membandingkan situasinya dengan apa yang pernah dia dengar. Perasaan kehilangan dan putus asanya tampaknya mempengaruhi kepatuhannya berobat.

Ada beberapa kemungkinan penjelasan tentang reaksi keluarga Maria kepadanya:

–          Apakah mereka tidak mempunyai pengetahuan yang cukup tentang bagaimana HIV ditualrkan sehingga berlaku seperti itu karena takut tertular?

–          Apakah mereka terpengaruh oleh stigma yang terkait dengan HIV/AIDS dan karenanya menghakimi Maria dan memandangnya rendah karena dia berstatus HIV positif?

–          Apakah ini cara mereka untuk melampiaskan kemarahan dan frustasi karena bisa kehilangan Maria karena penyakitnya?

Apa yang diketahui fasilitator tentang kelompoknya dan posisi Maria didalamnya:

Kelompok ini merupakan kelompok terbuka dan sudah berjalan beberapa lama. Ada beberapa anggota yang datang secara teratur selama hampir setahun, sedangkan lain lebih jarang datang, tetapi diterima sebagai anggota kelompok. Maria termasuk anggota yang relatif baru. Ini adalah sesi ke tiganya dan dia hanya berpartisipasi sedikit pada sesi-sesi sebelumnya. Suaranya terdengar sedih dan dia meneteskan air mata saat mengakhiri ceritanya. Anggota lain dalam kelompok juga ada yang bercerita tentang cerita yang sama. Secara umum, kelompok ini cukup suportif, kare banyak dari mereka telah mengalami (atau takut akan mengalami) pengalaman yang sama. Pada beberapa kesempatan, beberap anggota seakan menyalahkan orang yang positif HIV karena tidak memberikan informasi yang memadai, sedangkan yang lain menyarankan suatu pendekatan yang sedikit berisiko dengan menantang keluarga tentang prasangka mereka. Pada beberapa kesempatan, anggota kelompok bersikap kritis kepada mereka yang tidak meminum obat dengan tertur.

Beberapa pilihan untuk membuka diskusi dan mengatasi kebutuhan Maria:

–          Buat ringkasan tentang cerita Maria untuk kelompok. Akhiri dengan menrefleksikan perasaan kehilangan dan putus asanya, dan beri penekanan bahwa ini membuatnya sulit untuk meminum obat dengan patuh. Kemudian minta komentar anggota kelompok yang lain dengan bertanya:

Ada yang mau memberikan respon terhadap apa yang telah diceritakan Maria?”

–          Bantu Maria untuk melihat bahwa dia tidak sendiri mengalami hal ini dengan memiinta kepada yang lain untuk berbagi penglaman yang sama dengan keluarganya;

–          Tanyakan apakah ada yang bisa bercerita bagaimana mengatasi situasi tersebut;

–          Geser fokus pada keluarga, dengan bertanya:

Bagaimana kita bisa memahami cara keluarga Maria bereaksi dan bagaimana cara untuk merubahnya?”

Mengelola proses pelaksanaan kelompok:

Reaksi terhadap masalah Contoh Kemungkinan intervensi
Menyalahkan Ini adalah kesalahan dia bila keluarganya bersikap demikian. Bila dia bisa menjelaskan. Bahwa….” ”Saya yakin semua setuju bahwa tidak seorangpun yang layak untuk diperlakukan seperti Mari. Semua sama, kita dapat membantu Maria mencari cara lain untuk memberi penyuluhan kepada keluarganya. Ada yang punya masukan?”
Membuat harapan yan tida realistik Mengapa dia tidak pergi saja menemui mitranya dan bersikukuh, bahwa…” ”Kedengarannya itu suatu ide yang baik, mungkin Maria bisa memikirkannya dan kita beisa membahasnya lain kali.”
Tindakan yang menekan Saya katakan, satu-satunya cara agar mereka bisa bersikap lebih baik adalah dengan……. ”Mari kita ingat, bahwa untuk melakukan hal tersebut perlu waktu yang lama. Mungkin Maria perlu melakukan beberapa hal dalam satu waktu.”
Menghakimi Salah kamu sendiri kalau nanti sakitmu jadi parah bila tiak minum obat setiap hari. ”Banyak orang mengalami kesulitan untuk minu obat dari waktu ke waktu. Apa yang bisa membantu mereka untuk patuh pada apa yang harus mereka lakukan atau untuk kembali ke jalur yang seharusnya?”

Pengungkapan: Bercerita kepada orang lain bahwa seseorang positif HIV

Ketakutan tentang pengungkapan, saran tentang pendekatan yang memadai dan tidak memadai untuk mengungkap, dan konsekuensi dari mengungkapkan atau tidak mengungkapkan, semua itu sering timbul setiap waktu dalam kelompok pendukung.

Bagi orang yang positif HIV, membuat keputusan untuk mengungkapkan status mereka merupakan hal yang paling sulit, tapi juga yang paling penting dalam hidup mereka. Ia dapat meningkatkan dukungan praktis dan emosional dan mendorong kepatuhan yang lebih baik terhadap pengobatan. Namun ia juga bisa berakhir dengan penolakan dan diskriminasi, selain juga kerugian material, dan dapat mempengaruhi secara negatif kemampuan seseorang untuk tetap menjalani hidup yang positif dan kepatuhan pada pengobatan. Tidak mengungkap status, dilain pihak, walaupun bisa melindungi seseorang terhadap efek negatif yang mungkin timbul, berarti yang bersangkutan terus memikul beban kerahasiaan dan berada dalam risiko bahwa orang lain menemukan status HIVnya.

Apa yang dikatakan anggota kelompok:

Saya takut bila saya mengungkapkan status saya, saya tidak akan diterima.”

Saya pikir anda harus siap untuk mengungkapkan dan tidak usah ditekan oleh orang lain untuk melakukannya.”

”Beberapa orang mengatakan bahwa lebih baik mengungkapkan status kita segera setelah kita tahu hasilnya, tapi saya kira pertama anda sendiri harus menerima status anda dan yakin bahwa anda sudah tahu banyak tentang HIV/AIDS, sehingga anda dapat memberikan penyuluhan kepada keluarga anda dan bila mereka bertanya anda dapat memberikan jawaban terhadap kekuatiran mereka.”

 

”Dalam beberapa kondisi, tidaklah bijaksana untuk mengungkap status kita, karena bila anda bercerita pada seseorang, ia akan lari menjauh. Lebih baik untuk mengenal lebih baik partner anda dan bila anda melihat bahwa ia mencintai anda, itulah saatnya anda bercerita kepadanya.”

 

”Saya tidak mempunyai pekerjaan. Bila saya ceritakan kepada partner saya tentang status HIV saya dan dia menolak saya, bagaimana saya menjaga anak-anak saya sedangkan saya tidak punya penghasilan?”

 

”Salah satu alasan sejumlah orang tidak patuh pada pengobatan adalah karna mereka belum menceritakan kepada siapapun tentang status mereka dan takut partner mereka akan tahu.”

Karena hal-hal diatas, sangat penting bagi fasilitator dan anggota kelompok untuk menerima bahwa membuat suatu keputusan untuk mengungkapkan status dan bagaimana seseorang akan bersikap terhadap pengungkapan tersebut bisa memakan waktu berminggu-minggu, bulan, bahkan tahun. Ia adalah suatu proses, dan bukan kejadian yang terjadi satu kali kemudian selesai. Ia tidak boleh diburu-buru, tapi dipikirkan secara hati-hati dan sistematik, sehingga orang tersebut membuat satu keputusan setelah ia paham (informed decision), dengan mempertimbangkan situasi kehidupan mereka. Perlu ada dukungan sebelum, selama dan sesudah seseorang melakukan upaya pengungkapan.

Pertanyaan-pertanyaan yang perlu untuk diingat adalah:

–          Sejauh mana kelompok menerima dan bersikap dengan pengungkapan status HIV seseorang? Adakah cara yang dapat dilakukan kelompok untuk membantu anggota kelompok membangun sikap yang lebih positif dan strategy untuk mengatasi?

–          Kepada siapa anggota kelompok dapat mengungkap statusnya?

–          Sejauh mana dia harus mengungkap? Apakah perlu persiapan (misalnya mengetahui dahulu pengetahuan dan sikap orang kepada siapa dia akan mengungkap)?

–          Kapan waktu yang baik, apa yang harus dikatakan dan bagaimana cara terbaik mengatakannya?

–          Apa kemungkinan reaksi dari orang yang akan menerima cerita dan apa yang bisa dilakukan anggota?

–          Apa yang terbaik bagi sang anggota kelompok saat itu?

Anggota-anggota kelompok, berdasarkan pengalaman mereka sendiri, dapat memberikan masukan dan dukungan kepada seorang anggotanya untuk memertimbangkan atau melakukan proses pengungkapan status. Namun ada juga bahaya dimana kelompok menekan kepada seseorang untuk mengungkapkan statusnya sebelum yang bersangkutan siap. Jadi sangat penting bagi setiap orang di kelompok untuk memahami dan menerima, dan fasitator yakin, bahwa keputusan untuk mengungkap atau tidak tetap menjadi hak yang berangkutan.

Mengungkapkan status: apa yang harus dilakukan Petros?

Petros sudah mengikuti kelompok pendukung selama beberap bulan. Sebelumnya dia bercerita kepada kelompoknya bahwa dia telah mengungkapkan statusnya saat dia diperiksa setelah partnernya diperiksa dan positif saat dia hamil. Kemudian timbul masalah untuk mengungkapkan statusnya, dia mengatakan bahwa walaupun partnernya mengetahui statusnya, Pedro tidak bermaksud untuk mengungkapkan statusnya kepada orang tua, saudara laki-lakinya atau saudara perempuannya. ”Ini bukan urusn mereka. Bagaimanapun, saya bisa menjaga diri saya sendiri dan saya minum obat secara teratur, jadi saya fit dan sehat, jadi mengapa saya harus mengkhawatirkan mereka?” dia bertanya. Albert tidak setuju,”Bagaimana bila partner anda meninggalkan anda, atau dia meninggal sebelum kamu? Siapa yang akan mengurus anda dan anak anda bila anda jatuh sakit:” anggota kelompok lain terpecah dalam debat ini. Sebagian mendukung Petros dan sebagian lain mendukung Albert.

Bagaimana mengatasi situasi ini?

 

Pemahaman fasilitator tentang situasi Petro bisa seperti berikut:

Selain mendapat pengobatan, tampaknya Petro tidak sepenuhnya mengerti tentang status HIV positifnya dan berpikir bahwa ia akan tetap sehat selama ia terus minum obat. Mengungkapkan statusnya kepada keluarganya bisa berarti ia mengambil satu langkah lain tentang statusnya. Juga ada risikonya karena tidak ada indikasi bagaimana keluarganya akan bersikap bila Petro mengungkap statusnya. Dilain pihak, kegagalan dalam mengungkap statusnya bisa menimbulkan kesulitan baginyauntuk merencanakan masa depannya, terutama bagaimana menjaga anak-anaknya.

Apa yang diketahui fasilitator tentang kelompoknya dan posisi Petro didalamnya?

Kelompok ini merupakan kelompok tertutup, hanya beranggotakan para pria dan telah berlangsung selama tiga bulan. Petro dan Albert keduanya memposisikan sebagai pimpinan dalam kelompok tersebut. Mereka telah berselisih sejak beberapa pertemuan dan sulit untuk mencapai kompromi.

Pengungkapan status merupakan sesuatu yang sudah didiskusikan sebelumnya dan ketidak sesuaian antara Petro dan Albert mencerminkan ketidak sesuaian yang lebih luas dalam kelompok. Di sini, penting untuk tetap menjamin bahwa kelompok ini tetap merupakan tempat yang aman dimana semua orang dapat berbagi pemikiran dan pendapat tanpa merasa dihakimi dan bahwa anggota kelompok tidak menekan Petro untuk mengungkapkan statusnya sebelum dia siap dan mempunyai rencana untuk itu.

Beberapa pilihan untuk mendiskusikan dan mengatasi kebutuhan Petro:

–          Potong diskusi, buat ringkasan dari berbagai sudut pandang, dan tanyakan apakah anggota kelompok setuju dengan ringkasan anda. Beri penekanan bahwa tidak masalah bila anggota kelompok tidak selalu sepakat terhadap segala sesuatu. Fasilitator dapat berkata:

”Pengungkapan status merupakan masalah yang sulit. Tidak semua orang akan melihatnya atau melakukannya dengan cara yang sama.”

–          Minta anggota kelompok untuk mengurutkan keuntungan dan kerugian dari setiap pilihan. Buat ringkasannya dan beri penekanan bahwa setiap pilihan ada keuntungan dan kerugiannya masing-masing;

–          Ingatkan kelompok bahwa penting bagi seseorang untuk memahami sepenuhnya statusnya sebelum mengungkapkannya kepada orang lain. Tanyakan apakah ada yang ingin berbagi pengalaman tentang hal ini.

–          Tanyakan apakah ada anggota kelompok (siapa saja, atau pilih salah seorang ygn sebelumnya pernah berbagi cerita tentang pengungkapan status ini) yang bisa berbagi penalaman tentang pengungkapan status yang berakhir dengan positif atau lebih dari yang diharapkan. Minta kepada orang tersebut untuk bercerita kepada kelompoknya kepada siapa dia mengungkapkan statusnya, mengapa ia memilih orang tersebut, apakah ia melalukan persiapan tertentu untuk itu, kapan dan dimana ia melakukannya, apa yang dia katakan, bagaimana reaksi dari orang tersebut, apa yang kemudian dia katakan atau lakukan, dan bagaimana situasinya kemudian bekembang. Gunakan contoh ini untuk mengilustrasikan bahwa pengungkapan status adalah suatu proses, bukan suatu kejadian;

–          Tanyakan kepada kelompok (bukan Petros khususnya) apakah ada yang belum mengungkapkan statusnya yang ingin tahu apa yang perlu ia lakukan untuk memulai proses pengungkapan statusnya. Minta kelompok untuk membantu orang ini dengan memberikan saran yang positif dan menunjukkan kemungkinan kesulitan yang perlu ia antisipasi;

–          Bila ada yang sukarela, yang setuju untuk memulai proses pengungkapan, biarkan orang tersebut dan kelompok mengetahui bahwa kemungkinan akan ada kesulitan yang tidak terantisipasi dan bahwa hal ini bisa dibicarakan pada sesi selanjutnya. Fasilitator nanti dapat mengatakan:

”Bagaimana perkembangan yang terjadi? Ceritakan apa yang berjalan baik dan apa yang tidak.”

–          Bila tidak ada yang sukarela memulai proses pengungkapan status, anda mungkin perlu menutup masalah ini untuk sesi ini dan membahasnya lagi pada sesi berikutnya nanti dengan mengatakan:

Apakah ada yang ingin mengemukakan pendapatnya lebih jauh tentang apa yang kita bicarakan minggu lalu tentang pengungkapan status?”

Mengelola proses pelaksanaan kelompok

Reaksi yang problematik Contoh Kemungkinan intervensi oleh fasilitator
Argumen antar dua orang anggota Albert:”Anda harus mencerita-kannya kepada keluarga anda”

Petros:”Ini bukan urusan mereka”

Albert: “Mereka berhak untuk tahu”

Petros: Saya tidak mau membuat mereka khawatir.”“Telah jelas bahwa Albert dan Petros tidak sepaham tentang hal ini. Bagaimana pendapat yang lain tentang pro-kontra Petros bercerita kepada keluarganya tentang status HIVnya ini?Menekan”Anda harus segera datang ke keluarga anda dan mencari cara untuk menceritakan kepada mereka”’Mari kita biarkan masalah ini disini dulu. Kita masing-masing harus menyelesai-kan masalah kita masing-masing dengan sebaik-baiiknya.Mengesampingkan”Petro benar. Dia sehat, jadi mengapa dia harus bercerita kepada keluarganya?”“Tidak ada jawaban yang mutlak benar untuk situasi ini. Setiap situasi berbeda dan ini merupakan keputusan pribadi untuk mengungkap status kita atau tidak.

Hidup dengan pengobatan antri retroviral

Dalam suatu kelompok pendukung, khususnya yang fokus pada pengobatan, ada banyak diskusi untuk mengklarifikasi miskonsepsi atau pertanyaan tentang pengobatan anti retroviral (ART). Kelompok memberikan kesempatan kepada individu untuk berbagi kesulitan yang mereka hadapi dalam meminum obat seperti yang dikehendaki, dan mendapatkan saran bagaimana menangani kesulitan tersebut. Efek samping obat juga mungkin bisa menjadi pembicaraan disertai dengan strategi untuk menghadapinya.

Juga, para anggota dapat berbagi kekhawatiran tentang perubahan dari status kesehatan atau pengobatan. Walaaupun diskusi tentang hal ini tampaknya seperti hal yang faktual, namun hal-hal seperti kecemasan, ketakutan, kegembiraan, kekecewaan dan kemarahan selalu akan ada dan mungkin sebenarnya hal inilah yang menjadikan seseorang ignin membahasnya.

Apa yang dikatakan anggota kelompok:

”Saya mengalami berbagai efek samping dan ini telah berlangsung lebih dari sebulan. Itu adalah lebih lama dari yang dikatakan dokter. Mengapa? Apakah ini berarti bahwa obat tersebut tidak bekerja sebagaimana mestinya pada saya?”

 

”Saya sudah meminum obat ARV selama tiga bulan dan saya merasa saya mempunyai lebih banyak energi, nafsu makan saya baik dan saya merasa kuat untuk melakukan apapun. Hitung CD4 saya tinggi dan saya merasa yakin bahwa saya akan semakin baik saat ini!”

 

”Saya dikirim ke klinik untuk menadapatkan ARV karena mereka bilang hitung CD4 saya kurang dari 200. Tapi saya tidak mengerti mengapa saya harus minum ARV padahal saya tidak sakit. Terus terang, saya kadang-kadang lupa untuk minum obat tersebut dan tampaknya tidak ada perubahan yang berarti.”

”Saya sudah mendapat ARV selama tiga tahun. Sewaktu saya datang untuk pemeriksaan kesehatan (check up) hari ini, dokter mengatakan bahwa hitung CD4 saya menurun dan beban virusnya meningkat, pada tiga kunjungan berturut-turut. Dia tampaknya memperkirakan bahwa sudah terjadi resistensi terhadap obat dan saya harus berganti obat. Saya tidak mengerti, padahal saya minum obat persis seperti apa yang diperintahkan.

 

Sejak ARV lebih tersedia secara luas, semakin memungkinkan untuk membicarakan AIDS sebagai suatu penyakit kronis. Dalam hal ini, ia seperti penyakit kronik lain seperti diabetes dan hipertensi, yang juga mengancam jiwa san mengharuskan komitmen seumur hidup untuk patuh pada rejimen pengobatan dan menjalani kehidupan dengan cara sendiri. Seperti penyakit lainnya, menjalani pengobatan mempunyai beberapa titik kritis.

Titik-titik kritis dari pengobatan HIV/AIDS:

–          Menilai kesiapan untuk memulai pengobatan;

–          Menegosiasikan rencana pengobatan yang sesuai dan menolong penderita dalam persiapan memulai pengobatan;

–          Memulai pengobatan dan menyesuaikan diri terhadap pengobatan, termasuk tentang efek samping;

–          Menjaga pengobatan saat merasa lebih baik atau saat mendapat infeksi oportunistik;

–          Harus mengganti pengobatan karena efek samping atau resistensi terhadap obat; dan

–          Kesehatan yang menurun, yang menunjukkan bahwa pengobatan sudah tidak lagi efektif.

Pada setiap titik ini, suatu kelompok pendukung dapat menolong penderita melalui proses yang dijalani, memberikan informasi dan saran, berdasarkan pada pengalaman dan dukungan emosional dari anggota kelompok. Di lain pihak, bila seorang anggota kelompok mengalami salah satu dari titik ini, pengalaman dan reaksinya akan bisa mempengaruhi anggota kelompok yang lain, menimbulkan masalah yang sama atau berkaitan bagi mereka.

Ini karena ada suatu persaan dimana AIDS ’tidaklah seperti penyakit kronis lain’. Ia mempunyai stigma, pilihan pengobatannya masih baru dan relatif masih sedikit dan, walaupun ARV memperpanjang hidup lebih dari yang mungkin didapatkan bila tanpa pengobatan, ketakutan akan kematian adalah lebih nyata dan menjadi kekhawatiran bagi orang yang hidup dengan HIV/AIDS. Perbedaan ini menambah kesulitan bagi orang yang mendapat ARV untuk hidup dengan pengobatannya.

Hidup dengan ART: perubahan dalam pengobatan Jay

Jay telah mendapat ARV selama beberapa tahun dan tampaknya bisa menyesuaikan diri dengan baik. Dia sering menjadi sumber informasi, memberi saran dan dukungan kepada anggota kelompok yang baru, bila mereka mempunyai pertanyaan tentang HIV/AIDS, efek samping ARV, hidup dengan sehat, dan lainnya. Baru-baru ini dia ketinggalan beberapa sesi dalam kelompoknya, padahal biasanya tidak begitu. Namun hari ini dia muncul dan berkata, ”Maaf, saya tidak hadir dalam beberapa sesi terakhir ini. Berat badan saya menurun dan akhir-akhir ini saya merasa lebih lelah dari biasanya, jadi saya memutuskan untuk mengurangi kegiatan. Saat saya ”check up” saya katakan kondisi saya ini kepada dokter. Saya juga menderita batuk yang cukup mengganggu. Dokter mengirim saya untuk pemeriksaan dan mengatakan bahwa saya menderita TB. Jadi sekarang saya mendapat pengobatan TB juga dan pengobatan ARV saya harus dirubah karena kedua jenis obat tersebut tidak boleh diberikan bersamaan. Sekarang saya harus menyesuaikan diri dengan obat-obat baru tersebut. Saya merasa kecewa sekali karena saya selama ini sudah berusaha menjaga driri saya sebaik mungkin.” Pada mulanya semua orang dalam kelompok terdiam, kemudian beberapa anggota berkata mereka turut bersedih atas apa yang terjadi pada Jay. Salah seorang menambahkan, ”Saya menderita TB sebelum saya mulai berobat ARV dan saya harus mengobati TB saya dulu sebelum saya mendapat ARV. Tidakkah anda harus menghentikan ARV anda untuk sementara waktu?” Salah seorang yang lain berkata, ”Saya pikir minum Bactrim bersama ARV akan mencegah kita dari penyakit TB. Apakah ini berarti semua dari kita bisa mendapat TB?”

Bagaimana mengatasi situasi ini?

Pemahaman fasilitator terhadap situasi Jay bisa sebagai berikut:

Tampaknya Jay tidak segera pergi ke dokter begitu ia menyadari akan gejala-gejala yang ia alami, tetapi menunggu hingga tiba waktunya untuk ”check up”. Ini, bersama dengan fakta  bahwa ia ketinggalan beberapa sesi, dapat berarti bhanwa dia mengalami kesulitan untuk menerima bahwa sesuatu yang buruk bisa terjadi padanya. Walaupun saat ini ia tampaknya menerima bahwa ada masalah dan bahwa ia harus meminum obat lain, dia jelas mempunyai perasaan tentang apa yang terjadi. Perasaan ’kecewa sekali’ dapat berarti banyak, tidak puas, depresi, marah (terhadap dirinya sendiri, kepada dokter, atau tentang ketidak adilan karena mendapat TB padahal ia sudah sangat hati-hati).

Apa yang diketahui fasilitator tentang kelompoknya dan posisi Jay di dalamnya:

Jay merupakan anggota kelompok yang tegar dan percaya diri. Baik ia maupun kelompoknya biasa membantu orang lain, dan bukannya ia sendiri yang memerlukan bantuan. Situasinya menimbulkan pertanyaan dan kecemasan bagi anggota-anggota yang lain. Respon mereka hanya menyentuh sedikit saja tentang bagaimana perasaan Jay dan terfokus pada hal-hal faktual saja sebagai jalan untuk mengatasi situasi Jay dan menunjukkan perhatian mereka, tanpa mengemukakan perasaan yang sebenarnya mendasari. Ini adalah satu situasi yang perlu melibatkan perasaan dan pemberian informasi. Fasilitator harus berupaya bahwa keduanya dibahas sedemikian rupa agar Jay dan kelompoknya tetap kuat.

Beberapa pilihan untuk membuka diskusi dan mengatasi kebutuhan Jay:

–          Fasilitator dapat mengintervensi dengan membuat rangkuman tentang apa yang telah dikatakan Jay dan anggota kelompok yang lain:

Jay telah menceritakan kepada kita sesuatu yang tidak diharapkan. Sulit baginya menerima kenyataan ini. Juga sulit bagi anggota kelompok yang lain karena cerita ini menimbulkan kekhawatiran bahwa yang lain juga dapat mengalami hal yang sama.”

–          Fasilitator dapat melanjutkan dan fokus kepada perasaan Jay yang spesifik:

Jay, anda katakan anda merasa kecewa karena anda selama ini sudah berusaha berhati-hati. Ceritakan lebih jauh kepada kami tentang perasaan anda.”

Fasilitator kemudian dapat bertanya apakah ada anggota kelompok yang lain yang mempunyai perasaan yang sama. Atau fasilitator dapat memulainya:

”Bagaimana perasaan anggota kelompok yang lain setelah medengar tentang apa yang terjadi pada Jay?”

dan kemudian minta Jay memberikan komentarnya.

–          Fasilitator dapat memanfaatkan situasi ini untuk membawa kelompok pada diskusi yang lebih luas tentng kecemasan dan ketakutan.

–          Dalam beberapa hal, masalah faktual perlu dibicarakan (apakah penderita yang mendapat ARV bisa terkena TB dan bagaimana ini bisa terjadi, apakah seseorang yang sedang mendapat ARV harus menghentikan obat ini saat mendapat pengobatan TB, apakah obat ARV selalu harus dirubah bila seseorang harus mendapat pengobatan TB?)[1]. Mungkin ada anggota kelompok (termasuk Jay) yang dapat menjawab pertanyaan ini atau pertanyaan lain yang terkait, atau fasilitator dapat melakukannya, atau mungkin juga perlu dicari dahulu jawabannya dan kemudian dibicarakan lagi pada sesi yang lain.

Mengelola proses pelaksanaan kelompok

Reaksi problematik Contoh Kemungkinan intervensi fasilitator
Fokus eksklusif terhadap kebutuhan informasi, meninggalkan emosi yang lebih dalam ”Saya menderita TB sebelum saya mendapat ARVdan saya harus berobat TB sebelum mulai dengan ARV. Tidakkah anda harus menghentikan ARV untuk sementara?”

 

”Saya pikir dengan minum bactrim bersama ARV saya akan terhindar dari TB. Apakah ini berarti siapapun dari kita dapat tertular TB?””Itu adalah pertanyaan yang baik. Tapi, sebelum kita coba cari jawabannya, apakah kita bisa mendengar dari yang lain bagaimana perasaan anda setelah mendengar cerita Jay?”

”Jay, bisakah anda ceritakan lebih jauh kepada kami tentang bagaimana perasaan anda terhadap apa yang telah terjadi?”Mengabaikan kebutuhan anggota kelompok yang kuat atau dominan”Setelah mendengar apa yang terjadi pada Jay, saya jadi takut. Ini bisa terjadi pada saya juga.Apa yang terjadi pada Jay membuat semua merasa terancam. Tapi Jay sedang mengalami masalah itu sekarang. Mari kita berbincang tentan itu dahulu.”

“Jay, dapatkah anda bercerita lebih jauh tentang apa yang terjadi dan apa yang anda rasakan?”

 

Hubungan dengan partner

Dalam suatu kelompok, orang dengan HIV/AIDS sering bercerita tentang hubungan mereka dengan partnernya, termasuk bagaimana partner mereka membantu dalam menghadapi penyakit mereka dan pengobatannya, dan bagaimana kesulitan dalam hubungan mereka menambah stres mereka dan mempengaruhi kemampuan mereka untuk patuh pada pengobatan. Baik pria maupun wanita sering mengajukan masalah ini, tetapi, karena wanita lebih sering tergantung pada pria dari segi materi dan dukungan finansial, wanita cenderung lebih sering mengemukakan masalah ini.

Apa yang dikatakan anggota kelompok:

Saat tiba waktunya untuk berhubungan seks, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, karena suami sayatidak mau memakai kondom. Ia berkata rasanya tidak sama. Sulit bagi saya untuk bersikeras, tapi saya khawatir untuk mendapat reinfeksi, sehingga akhirnya kami batal berhubungan seks.”

 

”Pacar saya tidak setia walaupun dia tahu akan risiko terjadinya reinfeksi. Ia memanfaatkan situasi karena dia tau saya memerlukan dia untuk menopang saya dan anak-anak kami. Ini sangat membuat stres dan menambah sulit bagi saya untuk tetap meminum obat.”

 

”Kadang saya merasa saya tidak ingin meminum obat terus, karena ia tidak akan pernah membuat saya sembuh kembali. Kemudian partner saya duku bersama saya untuk membicarkannya dan membantu saya untuk terus berobat.”

 

”Saya menyadari bahwa saya tidak bisa menyalahkan HIV untuk semua masalah dalam hubungan kami. Bila anda tidak menceritakannya kepada partner anda, bahwa anda sedang menghadapi sesuatu yang tidak anda sukai, maka dia tidak akan pernah menyadari bahwa anda sedang dalam masalah, dan dia tidak akan ada bersama anda saat anda memerlukannya.

 

Perbedaan peran gender

Dalam setiap masyarakat, terdapat perbedaan tentang bagaimana pria dan wanita semestinya berperilaku. Juga ada perbedaan dalam kekuasaan antara pria dan wanita, dan pria umumnya mempunyai kekuasaan yang lebih besar dalam mengambil keputusan dalam hubungan dia dan mitranya.

Perbedaan gender ini tergambarkan dalam hubungan antar partner dan harapan mereka satu sama lain, termasuk siapa yang seharusnya lebih dominan dalam hubungan mereka, siapa yang harus mencari nafkah, siapa yang harus memulai dalam hubungan seks, siapa yang harus mengurus anak-anak, dan lain sebagainya. Biasanya tidak satupun dari hal-hal tersebut yang mutlak dan pasangan akan melakukan apa yang secara umum diharapkan dan berakhir dengan sesuatu yang dirasakan cocok untuk mereka. Tetapi latar belakang dari perbedaan peran gender, terutama dalam perbedaan kekuasaan antara pria dan wanita, cukup mempengaruhi timbulnya masalah-masalah dalam hubungan kemitraan, termasuk tentang dalam HIV/AIDS, dan perlu diselesaikan.

Bila anggota kelompok berbicara tentang kesulitan dalam hubungan dengan partner mereka, kita perlu mempertimbangkan perbedaan ini, karena hal ini sering tersembunyi di belakang apa yang mereka kemukakan. Perbedaan ini juga berarti bahwa anggota kelompok, khususnya kelompok yang anggotanya bercampur antara pria dan wanita, sering mencoba membenarkan suatu masalah menurut pemahaman mereka sendiri sebagai salah satu gender. Sebagai seorang fasilitator, penting untuk berupaya mendorong kelompok untuk melihat pada kedua sisi, sehingga setiap orang mempunyai pemahaman yang lebih baik tentang mengapa partner mereka berperilaku seperti apa yang mereka lakukan. Selain itu, bukan hanya pada perbedaan peran gender, tapi juga hal-hal spesifik dari setiap orang dan latar belakangnya perlu dilihat.

Hubungan dengan partner: Kesulitan yang dihadapi Sarita

Sarita mempunyai dua orang anak dan merupakan anggota reguler suatu kelompok yang beranggotakan lebih banyak wanita daripada pria.Sebelumnya dia pernah berceritera tentang bagaimana sulitnya untuk mengungkapkan statusnya pada partnernya, Thomas, dan bagaimana partnernya tersebut mengancam akan mengusirnya dari rumah. Walaupun itu tidak terjadi dan dia tetap memberikan nafkah finansial bagi dia dan anak-anaknya, segala sesuatu jadi memburuk sejak itu. Thomas tidak mau diperiksa status HIVnya, karena menurutnya bila Sarita terinfeksi maka ia pun pasti kena, jadi apa gunanya? Untuk alasan yang sama, dia juga tidak mau menggunakan kondom jika mereka berhubungan seks. Hari ini Sarita mengemukakan masalah ini lagi. ”Saya pergi untuk Check up minggu ini dan dokter mengatakan bahwa hitung CD4 saya menurun dan beban virusnya meningkat. Karena saya minum obat ARV seperti seharusnya, maka dokter mengatakan kemungkinan ini adalah karena re-infeksi karena berhubungan seks tanpa menggunakan kondom. Dokter mengerti situasi saya tapi dia berkata bahwa saya harus memikirkan sekali lagi untuk berkata kepada Thomas agar menggunakan kondom dan tentang anjuran agar diapun diperiksa. Tetapi setiap waktu saya mencoba berkata kepadanya, dia jadi marah dan menyuruh saya pergi dengan membawa serta anak-anak. Saya benar-benar tidak tahu harus bagaimana?”

Bagaimana mengatasi situasi ini?

Pemahaman fasilitator tentang situasi Sarita bisa seperti berikut:

Sarita telah menjalani pengobatan ARV dengan baik dan tetap menjaga status kesehatannya hingga kini. Sementara itu sejauh yang diketahui oleh Thomas, tampaknya apapun yang dikatakannya, dia tidak sepenuhnya menyadari bahwa diapun bisa terinfeksi, dan ini pula mungkin yang menyebabkan dia tidak mau diperiksa. Di lain pihak, walaupun mengancam, Thomas tetap memberikan nafkah bagi Sarita dan anak-anaknya, yang menunjukkan bahwa pada tingkat tertentu dia masih mempunyai komitmen pada hubungan mereka dan anak-anak. Kelompok sebelumnya sudah menyarankan bagaimana cara Sarita meminta Thomas untuk diperiksa, termasuk bahwa dia juga bisa mendapat ARV bila dia terinfeksi. Ini adalah situasi yang sangat sulit bagi Sarita karena Thomas jelas mempunyai peran yang dominan dalam hubungan mereka (mungkin dipengaruhi oleh peran gender). Dalam hal ini perlu dicari cara bagaimana bisa melindungi kesehatannya tanpa berisiko diusir dari rumah bersama anak-anaknya. Perubahan pada status kesehatan Sarita dan implikasinya bagi anak-anak dapat memberikan motivasi baru baginya untuk sekali lagi mencoba bercerita kepada Thomas. Namun, penting juga untuk tidak mengesampingkan perasaannya tentang perubahan status kesehatannya. Bila ia terlalu mendapatkan demoralisasi dari situasinya, akan sulit baginya merencanakan apapun.

Apa yang diketahui oleh fasilitator tentang kelompoknya dan posisi Sarita didalamnya:

Sarita secara teratur hadir dalam kelompok, tapi biasanya lebih banyak diam, tidak banyak bicara, kecuali fasilitator mengarahkannya dalam diskusi. Dia sangat mudah mengalah bila ada orang lain yang tidak setuju dengannya. Secara khusus dia juga sangat sungkan terhadap para anggota pria dan yang lebih tua di kelompoknya. Tampaknya dia merasa ada rasa memiliki dalam kelompoknya dan mendapat dukungan emosional dari orang lain. Para anggota kelompok pada umumnya mendukungnya dan mencoba membantunya untuk mengatasi Thomas.

Namun, para anggota kelompok kadang menjadikan masalah ini menjadi perdebatan antara pria dan wanita dan siapa yang salah, atau menjadi tidak sabar bila seseorang tidak mengindahkan ‘saran’ yang diberikan kelompok. Sebaiknya kelompok tetap menyediakan ruang bagi seorang pemalu seperti Sarita dapat mengemukakan masalah spesifiknya dan diberi kesempatan untuk menentukan pilihan yang cocok untuknya. Mendorong solidaritas antar anggota kelompok yang mempunyai pengalaman atau mengantisipasi masalah yang sama bisa merupakan satu cara untuk memulai.

Beberapa pilihan untuk membuka diskusi dan mengatasi kebutuhan Sarita:

–          Tanyakan apakah ada diantara anggota kelompok yang mau berbagi tentang bagaimana perasaan mereka bila mendengar perubahan status kesehatan mereka, seperti yang dialami Sarita. Dorong dan refleksikan komentar-komentas yang bisa membantu Sarita memahami bahwa orang lain juga memahami perasaan kecewa, cemas, takut, tidak ada harapan, marah yang dialaminya, selain juga memberikan saran pemecahannya;

–          Berikan komentar bahwa masalah dalam menceritakan hal ini kepada Thomas telah pernah diceritakan oleh Sarita sebelumnya. Minta kepada kelompok untuk mendiskusikan apakah bisa ada bedanya bagi Sarita dan Thomas sekarang karena telah terjadi perubahan status kesehatan pada Sarita (misalnya kekhawatiran akan terjadinya deteriorasi/kehancuran pada status kesehatan, perlunya perhatian lebih, dan urgensi tentang masa depan anak-anak);

–          Apa saja kekuatan dari Sarita dan Thomas sebagai individu, dan sebagai pasangan, dalam menyesuaikan diri dengan perubahan ini (misalnya, walau bagaimanapun Thomas tetap menunjang Sarita dan anak-anaknya, dan bahwa kekhawatiran Sarita terhadap anak-anaknya telah membuatnya bertahan bersama Thomas)?;

–          Apakah faktor-faktor ini memberikan kemungkinan yang baru yang dapat dicoba oleh Sarita untuk bercerita kepada Thomas?; dan

–          Fasilitator dapat melakukan suatu permainan peran untuk menguji coba saran-saran yang diajukan. Peran dari Thomas dimainkan oleh Sarita, sedangkan orang lain berperan sebagai Sarita, dan kemudian, mungkin, Sarita berperan sebagai dirinya sendiri dan salah seorang pria berperan sebagai Thomas. Jagalah agar bermain peran ini ringan tapi bila perlu mengandung intervensi, sehingga Sarita akan merasa mendapat dukungan.

Mengelola proses pelaksanaan kelompok:

Reaksi problematik Contoh Kemungkinan intervensi fasilitator
Menyalahkan

”Anda harus lebih tegas kepada suami anda.”

 

“Suami anda harusnya lebih memahami.”“Sebelum kita bercerita tentang bagaimana Sarita mengatasi hal ini, mungkin kita perlu mendengar lebih banyak darinya bagaimana perasaannya tentang apa yang dikatakan dokter.”

 

“Sarita, bagaimana perasaan anda saat anda tahu bahwa CD4 anda telah drop walaupun and minum obat dengan teratur?”Menekan”Anda harus bersikeras agar suami anda menggunakan kondom.””Kadang-kadang berkata memang lebih mudah daripada melakukan. Apakah yang lain yang pernah mengalami hal yang sama bisa bercerita apa yang telah dilakukan untuk memulai sesuatu yang sulit ini?”Mengesampingkan isu penting seperti gender”Anda harus mengerti, dia kan laki-laki.”

 

”Sebagai wanita harusnya anda tidak melakukan itu”Jelas ada rasa yang kuat tentang masalah ini…”

 

”Mengapa kita mempunyai perasaan seperti ini?”

 

”Namun untuk saat ini yang penting adalah memikirkan kemungkinan jalan yang akan membantu Thomas danSarita memperkuat hubungan mereka sehingga mereka saling mendukung dan menjaga anak-anak mereka.

Kematian dan hampir mati

Kematian dan hampir mati merupakan latar belakang dari hidup orang-orang yang hidup dengan HIV/AIDS. Namun, penekanan pada hidup yang positif dan harapan untuk hidup lebih lama yang ditawarkan ART menjadikan hal ini subyek yang sulit untuk dikemukakan dan dibahas. Diskusi kelompok bisa menawarkan peluang yang mendukung bagi anggota untuk berbicara tentang perasaan mereka dan merencanakan bagaimana mengatasi kesehatan yang memburuk dan persiapan menghadapi kematian. Bagi kelompok yang bersifat jangka panjang, para anggota munekin harus menghadapi masalah ini secara langsung bila ada rekannya yang meninggal.

Apa yang dikatakan anggota kelompok:

”Walaupun kami tidak banyak membicarakannya, kami tidak lupa tentang status kami. Kami selalu berpikir tentang kenyataan bahwa kami akan mati.”

 

”Masalah saya adalah bahwa saya takut menghadapi stadium lanjut dari AIDS dan tentu saja tentang kematian.”

 

”Saya khawatir tentang apa yang akan terjadi pada saya pada stadium akhir AIDS. Saya takut akan rasa sakit yang akan saya alami dan saya bingung tentang hidup setelah mati.”

 

”Hari ini di kelompok kita, salah seorang anggota kita menanyakan apakah diantara kita ada yang sudah mempersiapkan pemakaman kita. Kami semua kaget, tapi kemudian mulai membicarakan tentang melakukan persiapan. Terus terang, rasanya bebas setelah kami membicarakannya.

 

Ada beberapa cara untuk memahami proses bagaimana seseorang menjadi berpikir tentang kematian dan persiapannya. Salah satunya ialah dengan berpkir tentang kematian dan hampir mati sebagai suatu kehilangan. Seseorang dengan HIV/AIDS akan mengalami berbagai macam kehilangan. Ini termasuk kesehatan yang buruk, kurang mampu bekerja (atau tidak mampu bekerja sama sekali), penghasilan berkjurang (atau tidak bisa berbelanja lain kecuali untuk kesehatan), kurang mampu melalukan kegiatan sehari-hari, disamping itu juga kehilangan harga diri akibat keadaan di atas, atau karena respon orang lain. Kehilangan anggota keluarga atau teman akibat HIV/AIDS juga merupakan yang umum dialami. Semua ini adalah kehilangan yang sebenarnya.

Disamping itu, ada bentuk lain dari kehilangan, yang timbul akibat antisipasi dari kehilangan seperti di atas sebelum mereka terjadi, atau memikirkan tentang ’apa yang mungkin sudah terjadi’. Contohnya adalah akibat keputusan untuk tidak mempunyai anak karena risiko tertular, berpikir untuk tidak hidup untuk melihat anak pergi ke sekolah, khawatir menjadi orang sakit dan bergantung pada orang lain. Ini bisa seperti kehilangan yang sebenarnya. Yang juga perlu diingat adalah bahwa orang yang hidup dengan HIV/AIDS biassanya menghadapi kehilangan yang berulang-ulang.tidak hanya satu kehilangan seperti yang disebut di atas tapi biasanya banyak macamnya dan terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan.

Bagaimana orang merespon suatu kehilangan?

Walaupun respon dari setiap orang adalah unik, ada berbagai reaksi yang bersifat umum. Pada satu waktu, banyak ODHA merasa depresi, sedih dan kecilhati, dan mungkin akan menarik diri dan tidak mau berkomunikasi. Kemarahan juga merupakan suatu reaksi yang umum. Ini bisa diarahkan kepada orang yang dianggap menjadi sumber penularan, sesuatu yang banyak orang bisa mengerti.Kemarahan yang ditujukan kepada orang lain yang tidak terinfeksi atau tetap sehat, atau bahkan kepada orang yang sangat dekat yang memberikan dukungan kepada penderita mungkin tampak kurang bisa diterima, tapi ini bisa merefleksikan suatu frustasi, iri dan benci karena kehilangan yang sudah terbayang. Ketakutan (fear) juga umum terjadi. Ketakutan mungkin terhadap rasa nyeri, kehilangan kontrol dari fungsi tubuh, mati kesepian, apa yang akan terjadi setelah kematian, dan apa yang akan terjadi pada anggota keluarga yang ditinggalkan.

Pada sisi lain, sering juga terjadi seseorang dengan HIV/AIDS tampak tidak terpengaruh oleh keseriusan tentang apa yang terjadi padanya, bahkan ketika tanda dari stadium AIDS telah terjadi. Contohnya adalah denganmembuat rencana untuk masa depan yang kecil kemungkinannya dapat dilaksanakan, atau tidak mau membuat rencana pengasuhan anak-anak walaupun bukti menunjukkan kesehatannya telah menurun. Di sini penderita menyangkal kenyataan akan penyakit mereka dan dampaknya. Sebaliknya, pada saat yang lain, penderita bisa tampak telah menyesuaikan dengan situasinya, dan mulai mempersiapkan yang akan datang.

Namun, walaupun reaksi-reaksi ini adalah umum, tidak semua orang akan bereaksi seperti ini dan tidak ada pola yang bisa diprediksi bagaimana berbagai macam orang akan bereaksi. Misalnya, setelah satu perioda ketika seseorang tampak seperti sudah menyesuaikan diri denga situasi, karena adanya perubahan dalam kesehatannya atau kondisi lainnya, atau karena alasan yang tidak diketahui, kemarahan, ketakutan atau depresi dapat timbul kembali.

Telah disebutkan bahwa subyek tentang kematian sering diselimuti oleh tabu. Ini menyulitkan untuk berbicara secara terbuka tentang ketakutan dan kekhawatiran mereka, untuk mendpatkan dukungan dari orang lain, atau untuk mencari jalan mempersiapkan diri dan orang lain dalam menghadapi kematian. Suatu kelompok pendukung, dimana para anggotanya menghadapi tantangan yang sama dan bersama-sama mereka mempunyai banyak pengalaman dalam mengatasi masalah ini, bisa menjadi salah satu dari beberapa tempat yang aman untuk mendiskusikan kematian. Seperti biasa, penting untuk diingat bahwa kelompok jangan sampai memaksakan penilaian dan solusinya kepada anggotanya. Bila, misalnya, seorang anggota kelompok terjebak dalam perasaan marah dan tidak bisa keuar darinya, fasilitator perlu mengintervensi dengan menghargai dan mendukung jalan dari orang ini dalam menangani situasinya pada saat ini.

Berhadapan dengan kematian dan menjelang kematian: respon Nomsa atas kematian temannya

 

Pada pertemuan kelompok hari ini, fasilitator melihat bahwa kali ini Nomsa sangat pendiam dan menarik diri. Fasilitator bertanya bagaimana perasaannya saat ini dan dia menjawab bahwa ia sedang sangat sedih. Fasilitator dengan halus memintanya untuk bisa menceritakannya kepada teman-temannya. Setelah terdiam sejenak, Nomsa berkata bahwa dia sangat sedih karena teman baiknya, yang juga positif HIV, meninggal akhir minggu lalu. Kesehatannya memburuk sejak beberapa bulan lalu dan, walaupun obatnya kemudian diganti, tampaknya obat tersebut tidak banyak menolong. Akhirnya, dia tidak sadar, tidak bisa mengendalikan pencernaannya dan kelihatannya sangat kesakitan. Nomsa mengakhiri ceritanya dengan mengatakan, ”Saya tahu saya tidak boleh berpikir seperti itu, tapi saat itu saya benar-benar menghendaki dia meninggal. Saya tidak tahan melihat dia seperti itu, terutama karena hal itu membuat saya berpikir bahwa ini bisa terjadi juga pada saya.”

Bagaimana menangani situasi ini?

 

Pemahaman fasilitator terhadap situasi Nomsa bisa seperti berikut:

Nomsa selama ini mendapat ARV, berobat dengan baik dan kesehatannya baik. Ia telah mengungkapkan statusnya kepada keluarganya dan mereka mendukungnya. Namun, dari apa yang dikatakan Nomsa kepada kelompoknya, kelihatannya keluarganya tidak begitu senang untuk bercerita tentang hal-hal yang sensitif. Ketika Nomsa ingin menceritakan kepada mereka bagaimana ia tertular HIV, mereka berkata bahwa itu adalah sesuatu yang telah berlalu dan sekarang yang penting adalah dia menjaga dirinya untuk masa ke depan. Nomsa pernah mengatakan kepada kelompoknya bahwa hanya di kelompok inilah dia bisa berbagi perasaan. Pada saat ini tampaknya dia mempunyai berbagai perasaan, takut akan dirinya sendiri di masa depan, merasa bersalah telah menginginkan teman baiknya meninggal, juga mungkin marah kepada temannya untuk caranya meninggal. Mampu berbagi perasaan-perasaan ini dapat membantu Nomsa untuk membuang mereka jauh  ke belakang untuk saat ini dan mencegahnya dari dampak yang dapat mempengaruhinya dalam kepatuhan meminum obat.

Apa yang diketahui fasilitator tentang kelompoknya dan situasi Nomsa di dalamnya:

Nomsa telah mengikuti kelompok terbuka ini selama lebih dari enam bulan. Kelompok ini mempunyai anggota yang keluar masuk, sekitar 20 orang, tapi ada anggota inti sebanyak sekitar 10 orang yang mengikuti hampir semua sesi. Walaupun Nomsa tida mengikuti semua sesi, dia mempunyai posisi yang tetap di kelompok ini. Dia sering mengemukakan permasalahan saat anggota yang lain ragu-ragu. Namun pada situasi ini, justru dialah yang memerlukan dukungan dari kelompoknya. Namun tidak mudah bagi Nomsa untuk mengakui kepada dirinya sendiri apa yang dia rasakan atau yang ingin diceritakan kepada kelompoknya. Anggota-anggota kelompok juga sulit mengakui bahwa ini adlah perasaan yang bisa dirasakan oleh semua orang dan lebih baik untuk mengemukakannya daripada dia tersimpan didalam hati.

Beberapa pilihan untuk membuka diskusi dan menangani kebutuhan Nomsa:

–          Tanyakan apakah ada anggota kelompok yang ingin merespon Nomsa. Dorong dan refleksikan komentar yang mengakui bahwa rasa sedih, kehilangan, marah dan takut adalah umum dan bisa dimengerti dalam situasi seperti ini;

–          Tanyakan bagaimana anggota kelompok sendiri bereaksi setelah mendengar cerita tentang teman dari Nomsa. Pikiran dan perasaan apa yang timbul diantara mereka;

–          Minta anggota kelompok untuk berbagi cerita tentang cara mengatasi perasaan seperti ini;

–          Berikan komentar tentang perkataan Nomsa, ”Itu bisa terjadi pada saya”. Apakah yang lain juga merasa seperti itu? Bantu kelompok untuk bisa menerima bahwa rasa takut dan kehilangan adalah biasa dan harus diperkirakan akan terjadi; dan

–          Tanyakan apa yang bisa dilakukan untuk mempersiapkan kematian seseorang. Bila tidak diungkapkan oleh anggota kelompok, bicarakan tentang cara-cara persiapan, misalnya tentang mengumpulkan kotak kenangan, membuat surat wasiat, membuat rencana untuk anak-anak, menceritakan kepada keluarga atau teman-teman keinginan terakhirnya. Sarankan untuk membuat suatu sesi yang praktis, misalnya membuat suatu sesi untuk memulai membuat kotak kenangan dan/atau meminta seseorang tampil untuk bercerita tentang membuat surat wasiat.

Mengelola proses pelaksanaan kelompok

Reaksi problematik Contoh Kemungkinan intervensi fasilitator
Menggeser topik sebelum kebutuhan emosional nomsa terpenuhi ”Hal yang sama terjadi pada tetangga saya yang meninggal beberapa tahun yang lalu. Dia terlihat begitu menderita pada saat terakhirnya.” ”Jadi tampaknya anda ingin bercerita kepada Nomsa bahwa dia tidak perlu merasa sendiri setelah apa yang terjadi. Kami ikut berduka atas kehilangan and, Nomsa. Kami di sini untuk mendukung anda.”
Mulai tenggelam dalam kesedihan dan depresi ”Kadang saya merasa begitu tak berdaya, sepertinya tidak ada lagi yang bisa saya lakukan.” ”Bagaimana caranya agar kita bisa tetap kuat dalam menghadapi situasi sulit seperti ini?”
Mengesampingkan perasaan dan kekhawatiran anggota kelompok yang lain ”Kadang-kadang lebih baik kita tidak usah membicarakan hal-hal seperti ini.” ”Memang sulit untuk bercerita tentang situasi seperti ini, tetapi dengan berbagi cerita, ini akan membantu. Maria anda katakan tentang tetangga anda. Bisa ceritakan lebih jauh bagimana perasaan anda saat itu? Atau orang lain mungkin?”
Menghindari pembicaraan tentang ketakutan akan kematian [Seperti diatas] “Mungkin yang anda maksud adalah bahwa ini adalah sesuatu yang dapat terjadi pada kita semua dan sulit untuk mengungkapkannya. Ada yang mau berbagi pemikiran atau perasaan tentang ini? Apakah ada yang bisa kita lakukan untuk mempersiapkan dengan lebih baik  bila nanti ini terjadi?”

Mengatasi masalah yang timbul selama kelompok berproses

Semua kelompok bisa mengalami kesulitan, walaupun dikelola oleh fasilitator yang paling terampil dan profesional. Peran dari fasilitator adalah mengenali kesulitan yang dihadapi oleh kelompok dan mengevaluasi perannya untuk mengatasi masalah tersebut. Penting untuk diingat bahwa pemecahan masalah bukanlah tanggung jawab penuh fasilitator. Seringkali, dengan mengangkat suatu masalah dalam suatu sesi, kelompok itu sendiri dapat memainkan peran aktif dalam menemukan cara untuk mengatasi masalah tersebut. Fasilitator tidak boleh merasa bahwa mereka harus mengatasi semua masalah oleh mereka sendiri.

Walaupun tidak mungkin untuk mengantisipasi semua kesulitan yang mungkin timbul saat suatu kelompok pendukung berjalan, mempertimbangkan sebelumnya beberapa skenario yang memungkinkan bisa membantu. Bab ini akan membahas tentang  berbagai situasi sulit dan menguraikan berbagai kemungkinan pemecahannya. Perlu diingat bahwa setiap kelompok adalah unik dan pedoman ini harus disesuaikan dengan situasi khusus dari tiap kelompok.

Kerahasiaan

Kerahasiaan adalah salah satu komponen yang paling penting dari suatu kelompok karena ia menciptakan dasar untuk saling percaya antar anggota kelompok. Merasa yakin bahwa apa yang dikemukakan oleh seseorang dalam kelompoknya tidakakan dibocorkan di luar kelompok adalah sesuatu yang sangat penting/krusial untuk memberi rasa ’aman’ kepada para anggota kelompok untuk berbagi perasaan atau kekhawatiran yang bersifat pribadi. Bila kerahasiaan ini bocor hingga pada titik dimana anggota kelompok tidak lagi merasa aman, ini akan merupakan masalah yang paling serius yang bisa dihadapi suatu kelompok, seperti diperlihatkan pada contoh berikut:

Dua anggota kelompok, Adji dan Maria, saling bertemu di jalan. Adji saat itu sedang bersama suaminya, sedangkan Maria sendirian. Saat Adji saling memperkenalkan keduanya, dia menambahkan, ”Ingat, kan? Dia adalah orang yang sering saya ceritakan.” Maria terkejut. Walaupun dia tidak tahu sejauh mana Adji telah menceritakan perihal dirinya kepada suaminya, kerahasiaan Maria di kelompoknya jadi terbuka. Dia jadi berpikir apakah dia perlu meneruskan bergabung dengan kelompoknya, dan ragu apakah ia akan merasa cukup aman untuk berbagi cerita tentang hal-hal yang sangat menjadi kekhawatirannya: kekerasan yang dilakukan suaminya di rumah.

Strategi yang memungkinkan untuk mengatasi situasi ini

Hal yang paling penting dalam situasi seperti ini adalah pencegahan. Kerahasiaan harus senantiasa digariskan sebagai salah satu aturan dasar pada suatu kelompok pendukung, dan harus selalu diingatkan pada setiap permulaan sesi. Bila semua anggota sepakat akan alasan kerahasiaan ini dan kepentingannya, kecil kemungkinan mereka akan melanggar kesepakatan ini. Salah satu strategi untuk mencapai hal ini adalah dengan meminta anggota kelompok untuk menjelaskan pentingnya kerahasiaan ini dengan kata-kata mereka sendiri.

”Mengapa aturan tentang kerahasiaan ini begitu penting?”

Bila kerahasiaan telah terbuka, anggota yang kepercayaannya telah dilanggar, seperti Maria, bisa berupaya untuk mundur dari kelompoknya. Sebelum ini terjadi, mungkin ini bisa dibicarakan dalam kelompok, dan biarkan kelompok memutuskan tindakan yang memadai. Idealnya, kelompok dapat membantu Adji dan Maria untuk menyelesaikan masalah ini dengan membicarakannya. Dalam situasi yang ekstrim, setelah membicarakan masalah ini dalam kelompok, kelompok dapat memutuskan agar aji tidak lagi berpartisipasi. Yang penting adalah bahwa keputusan dibuat oleh kelompok dan bukan oleh fasilitator sendiri. Yang jelas, apapun keputusannya, ia dibuat demi melindungi kebaikan dari semua anggota.

Perbedaan pendapat dan prasangka

Bila sekelompok orang berkumpul, tidak semua orang mempunyai pendapat yang sama, dan tidak bisa pula setiap orang mempunyai pendekatan yang sama terhadap suatu masalah. Beberapa inividu mungkin mempunyai perasaan yang kuat tentang cara yang ‘benar’ dalam memahami situasi tertentu atau berpikir tentang suatu masalah, dengan sedikit toleransi untuk alternatif lainnya. Lebih jauh, orang mungkin mempunyai prasangka, atau pendapat (seringkali bersifat negatif) tentang masalah tertentu yang cenderung membuatnya menghakimi orang lain. Contoh-contoh isu/masalah dimana orang sering berargumen dengan kuat adalah seksualitas, pengungkapanstatus, peran gender atau seks komersial. Salah satu dasar dari suatu kelompok pendukung yang efektif adalah menciptakan suasana toleransi yang baik, dimana anggota kelompok tidak akan merasa pendapat atau perasaan yang dikemukakannya dihakimi atau dikritik. Pada suatu kelompok pendukung yang sehat, perbedaan pendapat dapat diperdebatkan, namun bila tidak mungkin mendapatkan suatu kesepakatan, pikiran dan perasaan dari setiap anggota harus dihormati, seperti apapun perbedaannya.

Lindi bercerita dalam kelompoknya tentang rasa frustasinya karena suaminya tidak mengijinkannya bercerita kepada anak perempuannya tentang penyakit yang dideritanya. Sebagian besar pria dalam kelompok merasa bahwa walau bagaimanapun suaminya tersebut adalah kepala keluarga dan karenanya Lindi harus melakukan apa yang dikatakan suaminya.”Suaminya pasti punya alasan untuk itu,” kata seseorang. Sejumlah wanita dalam kelompok tidak setuju, dan mengatakan bahwa tindakan Lindi benar untuk mengkonsultasikan hal ini kepada suaminya, tapi Lindi sendirilah yang harus memutuskan. “Itu bukanlah cara yang lazim dalam budaya kita,” kata Jacob, “Wanita yang memutuskan sendiri keputusan mereka adalah sesuatu yang datang dari luar, dan itu bisa membunuh kita!”

Strategi yang memungkinkan untuk mengatasi situasi ini:

Perbedaan pendapat dapat menjadikan anggota kelompok belajar bagaimana melihat segala sesuatu dengan cara yang baru dan mencari cara baru untuk mengatasi masalah. Namun, masalah diatas menunjukkan bagaimana perbedaan pendapat dan prasangka (dalam hal ini tentang peran pria dan wanita) dapat membagi kelompok dalam dua bagian dan menyulitkan bagi kelompok ini untuk terus membantu. Agar kelompok tetap fokus, perlu dicari jalan untuk menjembatani kedua belah pihak. Menghargai perbedaan adalah penting, dan pada saat yang sama jangan sampai kita membuat salah seorang anggota merasa bahwa pendapatnya dihakimi. Mungkin akan bermanfaat untuk mengembalikan diskusi kepada masalah yang sedang timbul dan mencari suatu persamaan antar dua pandangan yang berseberangan, atau mengalihkan penekanan kepada bagaimana pendapat seseorang atau orang lain dikemukakan. Fasilitator bisa berkata:

“Sudah jelas disini bahwa ada perbedaan pendapat tentang peranan pria dan wanita dalam keluarga dan bahwa semua mempunyai pendapat yang kuat tentang ini. Tapi yang perlu kita lihat di sini adalah bagaimana membantu Lindi dengan situasinya. Dia khawatir akan anak-anaknya. Suaminya, sebagai ayah dari anak-anaknya,pasti juga khawatir. Jadi, bagaimana Lindi dapat membuka pembicaraan tentang kekhawatiran keduanya?”

Perilaku yang tidak dapat diterima

Seorang anggota kelompok kadang memperlihatkan perilaku yang tidak dapat diterima oleh sebagian atau seluruh anggota kelompok. Perilaku bisa tidak dapat diterima karena melanggar kesepakatan dasar atau kontrak yang telah disepakati oleh semua anggota pada awal pembentukan, atau karena perilaku tersebut menyerang anggota. Misalnya adalah perilaku agresif atau tidak menghormati anggota yang lain, mengucapkan sumpah serapah, atau mabuk.

Dan sering datang terlambat dalam pertemuan, dan pada suatu saat datang ke suatu sesi dalam keadaan mabuk. Selama sesi dia mengemukakan komentar yang tidak semestinya, dan secara umum mengganggu.

Strategi yang memungkinkan untuk menghadapi situasi seperti ini

Bila perilaku anggota kelompok menjadi tidak memadai, fasilitator pertama perlu melihat alasan dibalik perilaku tersebut. Walaupun ada kemungkinan bahwa ia memang punya sifat kurang menghormati, ada pula kemungkinan bahwa ada penjelasan yang bisa diterima atas perilakunya ini:

Mungkin Dan baru kehilangan pekerjaannya? Ada masalah di rumah? Baru saja mengetahui bahwa parternya juga terinfeksi?

 

Perubahan perilaku bisa jadi merupakan suatu cara yang negatif untuk mengatasi perasaan frustasi, marah dan depresi. Bila ini yang terjadi, ada kemungkinan anggota kelompok yang lain untuk membantunya untuk menghadapi relaita dan mencari jalan lain yang lebih konstruktif untuk menghadapi masalah yang menimpanya.

Khusus pada situasi seperti ini, penting bagi kelompok secara keseluruhan membuat keputusan tentang bagaimana menghadapi situasi ini. Bila jelas bahwa perilaku seorang anggota kelompok tidak dapat diterima, fasilitator dapat mengemukakan masalah tersebut dalam kelompok dan menanyakan apa yang harus dilakukan. Bila Dan terlalu mabuk untuk bisa berpartisipasi dalam diskusi, mungkin perlu menunda diskusi pada sesi lainnya. Kelompok bisa memberikan peringatan kepada Dan, memintanya untuk meninggalkan pertemuan, atau melakukan tindakan lain.

Kehadiran

Satu masalah umum yang dihadapi oleh kelompok pendukung adalah kehadiran yang rendah dan tidak teratur. Atau, orang-orang datang dan mengacaukan sesi yang sedang diadakan. Ini  bisa disebakan oleh bermacam alasan, termasuk masalah kesehatan, efek samping, kesulitan finansial, pekerjaan, persaingan tanggung jawab keluarga, atau kehilangan minat atau komitmen terhadap kelompok. Tergantung dari alasannya, berbagai strategi berbeda dapat digunakan untuk mengatasinya:

Sejak permulaan terbentuknya kelompok pendukung, kehadiran Rafael cukup teratur. Dia jarang ketinggalan sesi. Kemudian, pada suatu saat, kehadiran Rafael berhenti. Ketika ketidakhadirannya ini mengemuka dalam pertemuan kelompok, beberapa anggota mengatakan bahwa mereka sudah lama tidak pernah bertemu dengan Rafael.

Strategi yang memungkinkan untuk menghadapi situasi seperti ini

Bila seorang anggota tiba-tiba menghilang dari kelompok, bila mungkin salah satu dari anggota atau fasilitator berupaya untuk mengontaknya untuk mengetahui mengapa. Walaupun tidak mungkin mengatasi semua situasi sulit, tergantung dari alasan ketidak hadirannya, mungkin ada pemecahan masalah yang bisa diupayakan.

Alasan kesehatan

Anggota kelompok ini harus dibantu untuk mendapatkan layanan kesehatan yang diperlukannya sehingga ia dapat kembali ke kelompoknya. Atau, bila anggota tersebut mengalami kesulitan untuk datang ke pertemuan karena keterbatasan fisiknya. Mungkin seorang pekerja kesehatan masyarakat atau anggota yang lain dapat membantunya dengan menemaninya datang ke sesi.

Alasan finansial

Bila tersedia dana, kadang biaya transport dapat diganti. Atau, mungkin kelompok bisa menyelenggarakan suatu kegiatan acara pengumpulan dana yang akan bisa membantu menutupi biaya ini.

Kehilangan minat atau komitmen terhadap kelompok

Kadang-kadang seseorang merasa bahwa kebutuhannya tidak bisa terpenuhi dari kelompoknya atau ia merasa bukan seorang ’anggota yang penting’ dalam kelompok, karenanya kemudian berhenti berpartisipasi. Dalam hal ini, kontak lanjutan (follow up contact) bisa membantu untuk membuka kebutuhan yang tidak terpenuhi atau membuat si anggota tersebut merasa rasa memiliki dalam kelompoknya.

Pengharapan yang tidak realistik

Salah satu jenis harapan yang tidak realistik adalah bahwa seseorang akan secara mukjizat mengatasi depresinya hanya dengan datang ke beberapa pertemuan. Bila ini tidak terjadi, anggota ini akan mengalami frustasi dan mundur dari kelompoknya. Misalnya, seorang anggota mungkin bertanya, ”Mengapa saya harus datang ke pertemuan bila hanya akan membuat saya tambah buruk?” atau ”Mengapa saya harus mendengarkan masalah orang lain, sementara masalah saya sendiri juga sudah cukup berat?”. Khususnya pada kelompok terapetik, mengingat dan berbagi pengalaman yang menyakitkan adalah sulit, dan para peserta akan mengalami impresi awal ini dari suatu sesi. Namun, justru tujuan dari dibentuknya kelompok pendukung adalah untuk mengurangi penderitaan yang terkait dengan pengalaman-pengalaman tersebut, dengan memprosesnya, menginterpreta-sikannya kembali, dan mengatasinya dengan bantuan kelompok pendukung.

Penurunan

Sama seperti halnya kehadiran adalah masalah penurunan, atau jika karena satu dan lain alasan, anggota yang sudah bergabung pada kelompok pendukung atau telah mengikuti pertemuan untuk waktu yang cukup lama, tiba-tiba berhenti datang. Pengurangan anggota secara bertahap merupakan bagian yang normal dan alami dari siklus sebuah kelompok.

Anggota kelompok mungkin berhenti datang ke pertemuan kelompok untuk berbagai alasan, misalnya antara lain:

–          Realisasi yang tidak sesuai pada kelompok karena masalah atau kebutuhannya berbeda dengan orang lain dalam kelompok;

–          Mereka merasa bahwa mereka tidak punya cukup kesamaan dengan orang lain di kelompok;

–          Mereka mungki belum siap untuk menyatakan kesulitan mereka dan membicarakannya atau

–          Mereka mempunyai pengharapan yang lain dari kelompoknya.

–          Alasan praktis lain seperti masalah transport atau menjaga anak-anak

Anda memulai suatu kelompok tertutup yang berkelanjutan 10 bulan lalu dengan 8 anggota. Sekarang hanya tinggal tiga orang saja yang bertahan!

Strategi yang memungkinkan untuk menghadapi situasi seperti ini

Para fasilitator yang kurang berpengalaman mungkin akan menanggapinya secara pribadi bila keanggotaan kelompok berkurang. Mereka mungkin merasa mereka akan disalahkan, bahwa mereka tidak disukai oleh para anggota, atau mereka tidak melakukan pekerjaan dengan baik. Walaupun penting untuk secara konstan mengevaluasi kinerja dari seorang fasilitator, seseorang harus menyeimbangkan evaluasi diri dengan suatu pemahaman bahwa penurunan adalah suatu bagian yang alami dari proses suatu kelompok pendukung.

Fasilitator perlu mengantisipasi menurunnya jumlah anggota dan merencanakan tindakan mengatasinya. Misalnya, seorang fasilitator dapat memulai dengan merekrut jumlah anggota yang lebih besar dari yang ideal saat fase perencanaan. Dengan begitu, kelompok tidak akan terlihat terlalu kecil saat mencapai titik stabilnya, yaitu saat mereka yang berpotensi untuk gagal sudah mundur.

Bila jumlah anggota menurun, fasilitator dapat menduskusikan kelanjutan kelompok dengan para anggotanya dan memutuskan apa yang akan mereka lakukan. Misalnya, walaupun kelompok pada mulanhya adalah suatu kelompok tertutup, para anggota bisa memutuskan untuk merubahnya menjadi kelompok terbuka dan mengundang anggota baru. Atau, mereka dapat memutuskan untuk tetap dalam kelompok tertutup tapi mengundang anggota baru pada waktu tertentu, dan kemudian jadi kelompok tertutup lagi. Pilihan lain adalah bagi seorang fasilitator yang mengelola lebih dari satu kelompok dimana anggota kelompoknya sudah berkurang, untuk menyarankan kelompok lain dalam asuhannya untuk bergabung.

Mengkambinghitamkan

Pengkambinghitaman terjadi bila seorang anggota kelompok cenderung untuk menanggung beban tanggung jawab untuk berbagai masalah yang timbul dalam kelompok.

Joan mempunyai masalah dalam hubungannya dengan anggota yang lain dalam kelompok. Dia sering datang terlambat hadir dan setiap ada sesuatu yang tidak beres dalam sesi, tampaknya semua orang ’mengeroyok’ dirinya dan menyalahkannya untuk masalah yang timbul di kelompoknya tersebut.

Strategi yang memungkinkan untuk menghadapi situasi seperti ini

Ini adalah masalah biasa yang dapat timbul pada semua jenis kelompok. Menyalahkan seorang anggota membuat anggota yang lain tetap bisa berhubungan dengan harmonis, dengan mengorbankan anggota tersebut. Bila ini terjadi, fasilitator perlu mengenalinya dan mengintervensinya. Karena seringkali ini terjadi tanpa disadari, fasilitator perlu untuk secara langsung dalam mengatasi masalah ini, walaupun pada waktu yang sama ia tetap harus seobyektif dan senetral mungkin.

Misalnya, fasilitator bisa menunjuk langsung masalah itu kepada kelompok dan mencari penjelasannya:

”Apa yang anda pikir sedang terjadi di sini?”

 

”Mengapa tampaknya Joan menjadi kambing hitam untuk hampir semua masalah di kelompok ini?”

Salah satu anggota mendominasi pembicaraan

Salah satu masalah yang sering timbul dalam kelompok ialah bila salah satu anggota mendominasi pembicaraan. Kadang sulit untuk menginterupsi pembicaraannya tanpa membuatnya tersinggung. Untuk mengetahui bagaimana merespon situasi ini, fasilitator harus bertanya kepada dirinya sendiri. ”Mengapa anggota yang satu ini begitu banyak bicara?” Beberapa kemungkinannya adalah bahwa orang tersebut:

–          Merasa ia perlu bicara?

–          Sulit untuk menghentikan bicaranya?

–          Tidak suka keheningan?

–          Mencari perhatian?

–          Ingin menghindari topik-topik yang lebih sensitif atau berisiko?

Fasilitator juga harus mengukur kadar minat dari anggota kelompok yang lain, dan potensi terapetik dari kesaksian orang tersebut. Bila fasilitator telah menganalisanya, mengidentifikasi penyebabnya, dan memutuskan bahwa ia perlu melakukan intervensi, dia dapat melakukannya dengan beberapa cara, tergantung dari situasi dan respon yang bersangkutan.

Strategi yang memungkinkan untuk menghadapi situasi seperti ini

 

”Apa yang anda katakan sangat menarik. Bagaimana menurut yang lain tentang apa yang ia katakan tersebut?”

 

”Juan mengatakan kepada kita bahwa…. Bagaimana pendapat anda semua tentang hal ini?”

 

“Bagus sekali. Terima kasih atas kesaksian anda. Mari kita dengarkan apa kata orang lain dalam kelompok ini. Mungkin kita bisa dengar dari orang yang belum berbicara….”

 

”Tampaknya kita telah keluar dari topik utama kita. Mari kita kembali ke topik kita tentang……”

 

Bila strategi ini tidak berjalan, mungkin kita perlu mengembalikan ke peraturan dan norma dari kelompok:

”Dalam aturan kelompok, kita telah sepakat bahwa semua orang mempunyai kesempatan untuk berbicara. Mari kita lihat, bila ada anggota lain yang ingin mengemukakan intervensinya atau berbagi sesuatu kepada kelompok ini.”

 

Situasi lain yang menantang

Ada suatu kedaruratan selama sesi berlangsung

Bila seorang anggota mengalami suatu kedaruratan saat sesi berlangsung, misalnya, dia merasa sakitnya jadi parah atau sulit bernafas, ko-fasilitator atau salah seorang staf pendukung harus hadir untuk itu. Kedaruratan harus ditangani sehati-hati mungkin, tanpa mengganggu kelompok atau membuat insiden ini membuat takut anggota kelompok.

Salah satu ko-fasilitator tidak dapat mengikuti sesi.

Salah satu keuntungan dari mempunyai lebih dari satu fasilitator dalam kelompok adalah bahwa bila salah satu tidak bisa hadir, yang lain bisa menggantikan untuk melaksanakan pertemuan. Kesinambungan dan keteraturan pertemuan dalah sangat penting.

Salah seorang peserta ingin membawa anak-anaknya

Peserta memang bisa dari segala usia, walaupun anak-anak yang masih muda sebaiknya tidak mengikuti sesi. Mereka bisa mengganggu dan/atau menginterupsi dinamika kelompok. Lagi pula, beberapa tema yang dibicarakan tidak pantas diikuti oleh anak anak dan dapat menghalangi proses terapetik. Namun, masalah ini bisa tidak terhindarkan pada beberapa kelompok, bila tidak ada lagi orang yang dapat mengasuh anak-anak, dan kelompok dapat membuat suatu keputusan kolektif, bagaimana mereka menyepakati masalah ini.

Salah seorang anggota kelompok meninggal

Situasi ini sangat sulit dan mungkin membutuhkan respon yang unik/tersendiri pada tiap kejadiannya. Bila seorang anggota kelompok mengemukakan topik ini pada sebuah sesi, menjadi sangat penting untuk mendiskusikannya. Namun, bila topik ini tidak muncul secara spontan dalam kelompok, ko-fasilitator perlu mengevaluasi, apakah akan produktif untuk berbagi berita dan menggali reaksi orang lain di dalam kelompok. Di satu pihak, ada risiko bahwa berita ini akan membuat anggota kelompok menjadi takut dan melemahkan tekad mereka untuk melanjutkan pengobatan. Namun bila orang yang meninggal merupakan anggota reguler dari suatu kelompok, anggota yang akan merasakan ketidakhadiran  orang tersebut, atau ada kemungkinan mereka mengetahui kabar kematiannya dari orang lain di luar kelompok. Karenanya, mungkin perlu untuk menggali perasaan para anggota tentang kematian orang ini dalam lingkungan yang aman dan mendukung, untuk meminimalkan dampak negatif. Mengemukakan masalah ini juga bisa memberikan peluang bagi para anggota untuk mengemukakan rasa takut mereka dan membicarakan apa yang dapat dikerjakan untuk mempersiapkan bila hal ini terjadi pada mereka. Setiap situasi memerlukan analisis yang hati-hati tentang keuntungan dan kerugian mengemukakan atau menyimpan saja topik ini, untuk menentukan tindakan yang memadai. Disarankan, bila mungkin, tim terapetik dihadirkan dengan suatu kesepatakan sebelum sesi dimulai.

Salah seorang anggota menderita sakit yang menular

Dalam situasi dimana salah seorang anggota terinfeksi penyakit yang menular, seperti tuberkulosis, keikutsertaannya perlu ditunda dahulu. Karena fungsi kekebalan tubuh yang terganggu, orang dengan HIV mempunyai risiko yang tinggi untuk terserang penyakit dan harus dilakukan upaya-upaya untuk melindungi para anggota lain dari keterpaparan yang tidak perlu terhadap penyakit menular. Bila penderita tersebut sudah tidak menularkan penyakitnya lagi, di adapat kembali bergabung dalam kelompoknya. Misalnya, bila seseorang menderita tuberkulosis, ia perlu menunda kehadirannya  hingga ia memulai pengobatan tuberkulosisnya dan mendapatkan hasil biakannya negatif dua kali berturut-turut, atau tidak menularkan lagi. Kemudian ia bisa bergabung kembali ke kelompoknya.

Salah seorang anggota mengalami gejalan gangguan jiwa yang berat

Pada suatu waktu selama masa sakit seseorang, ada kemungkinan penderita tersebut mengalami gejala yang memerlukan pengobatan psikiatrik. Gejala ini misalnya penderita menjadi sangat menarik diri, berpikir atau berkata yang membingungkan, ketakutan yang tidak rasional, atau kemarahan yang meledak. Karena orang dengan gejala seperti ini bisa mengganggu jalannya kegiatan kelompok, lebih baik orang tersebut ditunda keikutserta-annya hingga dia mendapat pengobatan psikiatrik dan menjadi stabil. Begitu gejalanya dapat terkontrol, ia dapat bergabung kembapi dengan kelompoknya.

Dua anggota dari satu keluarga yang sama (yang juga positif HIV) ingin bergaung dalam kelompok yang sama

Sebenarnya memungkinkan untuk mengundang lebih dari satu orang per keluarga, khususnya bila mereka mempunyai hubungan yang baik dan saling mendukung. Namun, bila ada konflik dalam hubungan mereka, mungkin hanya satu saja yang bergabung dalam kelompok.

Seorang anggota ingin membawa anggota keluarganya atau kenalannya untuk sesekali ikut dalam kelompok pendukung

Tergantung pada situasinya, tim terapetik perlu memutuskan apakah memadai bagi anggota keluarga atau yang lainnya untuk ikut serta pada suatu sesi. Dalam berbagai kasus hal ini bisa bermanfaat untuk proses pengobatan. Namun, karena merupakan orang asing dalam kelompok, kehadiran mereka mungkin juga menyulitkan para anggota untuk secara bebas mendiskusikan masalah, dan bisa melemahkan kemampuan kelompok untuk membahas masalah.

Mendorong efektivitas fasilitator

Ada dua proses penting yang dapat membantu fasilitator menyesuaikan diri secara lebih efektif saat memimpin suatu kelompok. Yang pertama adalah untuk mengetahui diri orang sebaik mungkin dan tidak mebiarkan emosi, kepercayaan dan kecurigaan seseorang mengganggu proses kelompok. Yang ke dua adalah selalu mencari dukungan dan supervisi. Hal ini mungkin memerlukan keterlibatan orang atau mentor yang lebih terampil untuk memberikan masukan dan membantu memecahkan masalah yang timbul, atau melibatkan sejawatnya yang bisa saling memberikan dukungan dan supervisi.

Menangani reaksi seseorang

Pada suatu sesi, seseorang mengemukakan topik tentang perceraian, saat dia bercerita tentang kesulitannya dalam hubungan perkawinannya. Secara kebetulan, salah satu fasilitator juga sedang menghadapi masalah yang sama dalam kehidupannya sendiri. Mendengarkan kesaksian seseorang menyebabkan sang fasilitator merasa sedikit penasaran.

Semua orang bereaksi secara emosional terhadap berbagai situasi. Sesuatu yang normal bila fasilitator kelompok merasa diusik oleh pengalaman seseorang, dan memberikan reaksi emosional terhadap keadaannya. Sesungguhnya, memang tidak mungkin kita bisa sepenuhnya berlaku obyektif dan memisahkan reaksi pribadi kita dari interaksi terapetik. Namun sedapat mungkin, fasilitator harus mencoba untuk menyadari perasaannya sendiri dan mencegahnya mengganggu intervensi terapetik. Untuk itu, kita perlu menyadari setiap perubahan dari suasana hati (mood) atau perasaan seseorang selama sesi berlangsung, dan juga sadar bagaimana reaksi seseorang dapat memancing perasaan orang lain.

Strategi untuk meminimalkan dampak reaksi emosi kita dalam lingkungan terapetik.

 

Bawalah ’stok’ dari bagaimana perasaan seseorang sebelum sesi dimulai

Sebelum suatu sesi dimulai, penting untuk menilai status emosional seseorang. Untuk itu, kita perlu melakukan introspeksi diri. Sebagai bagian dari kegiatan instrospeksi, kita perlu melakukan analisa status emosi seseorang,dan mengidentifikasi adanya penyebab potensial kegelisahan emosional (emotional unrest). Bila kita menyadari bahwa status emosional kita terganggu, kita bisa mencoba untuk melakukan relaksasi sebelum memulai suatu sesi. Bila fasilitator tidak menikmati kesehatan mental yang positif, ia akan mendapat kesulitan untuk membantu dan mendukung orang lain.

Emosi baru apa yang dialami selama sesi berlangsung?

Penting bagi kita untuk menyadari adanya perubahan emosi kita selama sesi berlangsung. Karena kita sudah melakukan dasar instropeksi diri, akan lebih mudah untuk melihat jika dan kapan terjadinya perubahan.

Faktor yang berkontribusi pad reaksi emosional seseorang

Suatu analisis yang teliti dari rekasi emosional kita adalah krusial agar kita tahu bagaimana kita menjalankan pertemuan. Sensasi baru yang kita alami dalam konteks sesi pengobatan, pada umumnya, merupakan refleksi dari apa yang terjadi dengan satu atau lebih orang di kelompok. Namun, ada juga kemungkinan bahwa emosi ini dipicu oleh beberapa pengalaman pribadi sebelumnya dari fasilitator, dan kemungkinan ini perlu disadari. Kita perlu bertanya kepada kita sendiri:

Sejauh mana emosi saya merupakan refleksi dari apa yang tejadi dalam kelompok, dan sejauh mana faktor pribadi berkontribusi terhadap reaksi emosional saya?

 

Misalnya, bagaimana seseorang menginterpretasikan perasaan kecemasan atau rasa takut pada suatu sesi? Biasanya kecemasan merupakan refleksi dari suatu ancaman atau sikap bermusuhan dari seorang atau lebih anggota di kelompok. Atau, ia dapat merefleksikan ketakutan akan menghadapi suatu topik yang sulit yang mempertaruhkan kemampuan terapetik kita sendiri, dan membuat kita merasa gelisah dan cemas. Juga, ada kemungkinan sesuatu terjadi saat sesi berlangsung yag memicu kecemasan yang telah laten, dimana kita sendiri kurang menyadarinya. Karena besarnya variasi penyebab yang memungkinkan timbulnya reaksi, sebagai fasilitator, kita harus sangat waspada akan reaksi kita dengan bentuknya yang dapat mempengaruhi interaksi terapetik.

Mengekspresikan emosi pada jalan terapetik

Bila fasilitator telah mengidentifikasi penyebab emosi yang dialami mereka, ia perlu membuat keputusan apa yang harus dilakukan, yaitu, bagaimana mengekspresikannya pada jalan terapetik. Ada tiga pilihan: menyembunyikan emosi tersebut, mengekspresi-kannya secara terbuka, atau memberi penekanan pada ekspresi emosi tersebut.

Misalnya, bila sepanjang sesi fasilitator merasakan adanya emosi yang negatif, misalnya frustasi, terhadap seorang anggota yang mendominasi pembicaraan, kita perlu menganalisis reaksinya. Bila fasilitator mencatat bahwa reaksi ini hanya bersifat pribadi dan bukan semata-mata kesalahan yang bersangkutan, keputusan terapetik yang diambil kebanyakan adalah menyembunyikan emosi tersebut. Di lain pihak, bila kesaksian dari anggota tersebut memprovokasi suatu reaksi seperti kesedihan, fasilitator perlu menanyakan pada dirinya apa reaksi terapetik yang paling memadai, menyembunyikan atau mengekspresikan emosi. Tergantung dari penyebab dan implikasi dari respon, fasilitator dapat memilih tindakan yang terbaik.

Menghindari banjir masalah dari anggota kelompok

Pada akhir dari setiap sesi, fasilitator harus mengadakan introspeksi untuk mengevaluasi bagaimana perasaan emosionalnya. Apakah terasa ada perubahan? Bila hal ini terjadi, ia perlu melakukan latihan relaksasi atau kegitan lain untuk ’membersihkan emosi’ agar tidak terus membawa masalah dari para anggota di kelompoknya ke rumahnya. Menjaga diri kita sendiri adalah sesuatu yang penting untuk mencegah kehancuran emosi dan kehilangan efektivitas terapetik.

Mendapatkan masukan, dukungan dan supervisi dari orang lain

Membangun jaringan para pakar

Walaupun tidak mungkin dilakukan untuk segala situasi, bila memungkinkan, seorang fasilitator kelompok perlu untuk membuat jejaring dari orang-orang yang dapat dia pakai sebagai rujukan (misalnya untuk konseling individu atau pengobatan psikiatris), untuk mendapatkan masukan saat ia tidak yakin akan sesuatu, atau bahkan mengundang pakar tersebut untuk memberikan masukan kepada kelompok. Misalnya, bila sejumlah anggota kelompok mendapat pengobatan psikiatrik tapi baik anggota kelompok tersebut maupun fasilitatornya tidak yakin apakah obat-obat tersebut aman diminum bersama ART, seorang pakar dapat diundang untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Luangkan waktu untuk dukungan dan pengembangan

Untuk tetap menjadi efektif, fasilitator memerlukan dukungan emosional dan kesempatan untuk berbagi kesuksesan maupun kesulitan dalam bekerja mengelola suatu kelompok, sehingga ia bisa terus mengembangkan keterampilannya. Ini sering disebut sebagai ’supervisi’ atau ’mentoring’, dan biasanya diberikan oleh seseorang yang lebih berpengalaman. Fasilitator perlu mempunyai sesi yang terstruktur dan terjadwal untuk mendapat supervisi/mentoring. Sebaiknya ini dilakukan secara teratur dan berkelanjutan, tapi bagi beberapa fasilitator sesi tersebut mungkin dilakukan kurang teratur, atau bahkan hanya ’bila diperlukan’. Dukungan dan supervisi/mentoring bisa berbasis individual tapi bisa juga dilakukan oleh seorang supervisor/mentor pada satu sesi, dengan diikuti oleh sejumlah fasilitator yang mengelola kelompok.

Beberapa manfaat dari dukungan/supervisi/mentoring adalah:

–          Memberi dukungan emosiaonal kepada fasilitator yang mungkin merasa terkuras karena selalu memberikan kukungan kepada anggota kelompok tapi dia sendiri kurang mendapatkannya;

–          Membantu fasilitator saat mereka ’mentok’ baik karena salah satu anggota kelompok maupun karena kelompok tersebut secara keseluruhan;

–          Memberikan teknik dan strategi baru bagi fasilitator;

–          Memberikan jaminan bahwa fasilitator berada pada jalur yang benar dan efektif dalam  bekerja;

–          Memberi informasi dari para pakar bila fasilitator tidak mengetahui jawaban dari beberapa hal yang dapat timbul dalam kelompok; dan

–          Membantu fasilitator menghadapi masalah pribadi yang mungkin bisa mengganggunya dalam menglelola suatu kelompok.

Bila seorang fasilitator mendiskusikan berbagai masalah dengan supervisor/mentor, perlu diingat bahwa kerahasiaan kelompok tetap harus dijaga. Ini sebagian bisa dilakukan dengan tidak menyebut nama. Fasilitator harus berdiskusi dengan kelompoknya bahwa ia akan membawa masalah yang dibicarakan tersebut dengan supervisor/mentornya. Dia harus secara khusus menyebutkan manfaat dari yang akan dia lakukan bagi kelompok tersebut. Namun, kelompoknya juga harus diyakinkan bahwa semua hal yang akan didiskusikan akan dijaga kerahasiaannya oleh supervisor/mentornya ataupun oleh orang lain yang terlibat dalam kelompok supervisi/mentoring bila ada.

Kesimpulan

Bergabung dalam suatu kelompok pendukung merupakan suatu langkah penting bagi setiap orang yang positif HIV. Ini bisa berarti perubahan yang nyata dari perilaku untuk hidup bersama HIV/AIDS. Dalam beberapa kasus, ini dapat berarti perubahan antara hidup dan mati. Setidaknya pada kebanyakan kasus hal ini bisa menimbulkan dampak pada kualitas hidup seseorang.

Jadi, sangat penting bagi fasilitator untuk mempersiapkan kelompoknya dengan baik, dalam hal jenis kelompok, siapa yang akan menjadi anggota, dan menentukan tujuan yang realistik yang ingin dicapai. Walaupun para anggota harus dilibatkan dalam menentukan ’aturan’ dalam pertemuan kelompok, konselor harus berhati-hati agar bisa mendorong harapan yang realistik dan melawan harapan yang tidak realistik pada awal-awal sesi kelompok.
Juga sama pentingnya bahwa fasilitator mendapat dukungan dan kesempatan untuk ’tanya jawab’, bila kekuatan emosional dan psikologis fasilitator berada dalam keadaan kritis. Walaupun setiap kelompok mempunyai dinamikanya sendiri, kami yakin bahwa ide-ide dan pengalaman yang dikemukakan dalam manual ini akan memberikan pedoman tentang cara yang efektif untuk menyelenggarakan suatu kelompok pendukung.


[1] Catatan tentang pertanyaan mengenai pengobatan (lihat Hidup dengan ART)

    • Bactrim (cotrimoxazole) tidak mencegah infeksi TB dan orang yang mendapat ARV bisa mendapat TB sebagai infeksi oportunistik akibat melemahnya sistem kekebalan.
    • Begitu seorang penderita mulai mendapatkan ARV, biasanya ia tidak perlu menghentikan obat ARVnya bila ia harus mendapat obat TB. Ini hanya perlu dipertimbangkan bila ada kesulitan dalam mentoleransi obat-obat kombinasinya.
    • Hanya obat ARV tertentu saja (nevirapine) yang perlu diganti dengan obat lain bila seseorang mendapat pengobatan TB.  Dengan banyaknya obat-obatan, walaupun tidak perlu berganti ke obat yang lain, aka ada penambahan dosis obat atau penambahan obat yang lain.

Katalog Pustaka WHO – Data yang dipublikasikan

Psychosocial support groups in anti-retroviral (ARV) therapy programmes.

(Seri Kesehatan Mental dan HIV/AIDS)

      1. Dukungan sosial 2. Kelompok penolong diri  3. Infeksi HIV – psikologi 4. Acquired Immunodeficiency syndrome – psychology  4. Pedoman  I. World Health Organization II. Serial

ISBN 92 4 1593105                                                    (Klasifikasi NLM: WC 503.7)

ISSN 1814 – 750X

© World Health Organization 2005

Hak dilindungi undang-undang. Publikasi dari the World Health Organization bisa didapatkan dari WHO Press, World Health Organization, 20 Avenue Appia, 1211 Geneva 27, Switzerland (tel.: +41 22 791 3264; fax: +41 22 791 4857; email: bookorder@who.int). Permintaan ijin menggandakan atau menterjemahkan publikasi – baik untuk dijual atau distribusi non komersial – agar dialamatkan kepada WHO Press, pada alamat di atas (fax: +41 22 791 4806; email: permissions@who.int).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s