Call For Proposals Untuk Sub Recipient (SR) NEW FUNDING MODEL (NFM) – THE GLOBAL FUND ATM

A. LATAR BELAKANG
Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia terutama negara-negara yang sedang berkembang. Menurut laporan dari WHO Global Report tahun 2014, saat ini Indonesia menempati urutan ke-5 terbesar di dunia sebagai penyumbang penderita TB setelah Negara India, China, Nigeria, dan Pakistan.
Sesuai dengan Strategi Nasional (STRANAS) TB tahun 2015, visi umumnya adalah : “Indonesia bebas Tuberkulosis dengan tujuan “ tidak ada kematian, penyakit dan penderitaan yang disebabkan oleh Tuberkulosis.” Tujuan utama STRANAS adalah mengakhiri epidemi Tuberkulosis di Indonesia.
STRANAS menetapkan tiga target untuk dicapai pada akhir tahun 2019, yaitu 30% penurunan angka kematian yang disebabkan oleh TB dibandingkan angka pada tahun 2014; 15% penurunan insidens dibandingkan pada tahun 2014 dengan mempercepat penurunan perkiraan insiden dari 1% pertahun menjadi 4% pertahun mulai tahun 2017 dan seterusnya; dan meningkatkan akses pada Jaminan kesehatan universal dan perlindungan social sehingga pada tahun 2019 tidak ada pasien TB maupun keluarganya yang harus mengeluarkan biaya “musibah/bencana” akibat pengobatan TB.

Program TB di Indonesia melalui program dana hibah New Funding Model (NFM) The Global Fund untuk periode 2016-2017, dengan grant number: IND-T-AIS dibawah manajemen Principal Recipient (PR) TB ‘Aisyiyah dengan Sub Recipient (SR), dengan melibatkan Non-Government Organization (NGO) dan Civil Society Organization (CSO) untuk memperkuat dan memberdayakan komunitas.

PR TB ‘Aisyiyah mengundang CSO untuk mengajukan proposal dan mengikuti proses seleksi menjadi Sub Resipient (SR) di 25 propinsi, 160 kabupaten/kota. Selanjutnya CSO yang memenuhi syarat dan lolos seleksi akan terlibat dalam NFM 2016-2017.

B. WILAYAH KERJA
Program New Funding Model (NFM) akan berlangsung selama 2 tahun dimulai dari periode 1 Januari 2016 – 30 Desember 2017, bekerja di 25 provinsi dan 160 kabupaten/kota meliputi :
Provinsi Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Riau, Kepulauan Riau, Lampung, Bengkulu, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat ,Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Papua dan Papua Barat

C. INTERVENSI DAN UKURAN KEBERHASILAN
1. TB –HIV Care and Prevention
a. Pencarian suspek yang berkualitas,
b. Jumlah penderita TB semua tipe
c. Jumlah pasien TB dengan resiko HIV-AIDS yang berhasil dimotivasi untuk tes HIV dan menerima hasil,
d. Jumlah pasien TB-MDR yang didampingi sampai sembuh,
e. Mengawal pasien sembuh minimum 90%,
2. Community system strengthening (CSS)
a. Perangkat untuk menilai tingkat kepuasan pasien di layanan kesehatan dan menilai tingkat partisipasi LSM
b. Ada laporan analisa situasi terhadap penyakit Tuberkulosis di kabupaten-kota
c. Ada Strategi Advokasi Bersama untuk program TB-HIV di tingkat kabupaten-kota
3. Removing Legal Barriers
a. Ada kerjasama dengan biro hukum untuk membantu pendirian Kelompok Masyarakat Peduli TB
b. Ada dokumen dari sisi hukum terkait dengan pelaksanaan program TB-HIV
c. Ada perangkat pengawasan untuk program TB-HIV
d. Ada laporan data terkait dengan adanya kesulitan masyarakat untuk mengakses layanan TB-HIV

D. KRITERIA SELEKSI
Seleksi Administrasi calon SR dapat menunjukkan bukti :
1. Terdaftar sebagai entitas legal di Departemen Hukum & HAM serta Depdagri
2. Memiliki Nomor Pokok Wajib pajak (NPWP)
3. Memiliki Alamat yang dapat diverifikasi
4. Memiliki Profil Organisasi terbaru (tahun 2015)
5. Memiliki kantor cabang, struktur pengurus dan anggota dari pusat hingga tingkat komunitas di daerah (Kabupaten/Kota).
6. Bersedia berkontribusi (SR) terhadap program, dalam bentuk ruang kantor, SDM, peralatan kantor, dll (dilampirkan dalam surat kesanggupan dan rincian kontribusi yang akan diberikan)
7. Kapasitas menangani program yang sudah terbukti (melampirkan satu lembar resume portofolio yang menyajikan informasi antara lain; Nama program, Nama Lembaga/Donor pemberi dana, total jumlah dana dikelola, tahun/durasi program, lokasi program, jumlah penerima manfaat dan nama lembaga mitra implementasi program)
8. Kapasitas menangani program TB, terbagi atas:
a) CSO yang memiliki kapasitas untuk melakukan community-based active case finding dan case holding serta advokasi di tingkat lokal (propinsi, kabupaten/kota). Bagi CSO dalam kategori ini harus melampirkan data penjangkauan terduga (suspek) TB, pencapaian CNR dan data kesembuhan serta data lengkap kader aktif danhasil proses advokasi local yang dilakukan dalam periode dua tahun terakhir yang dapat diverifikasi.
b) CSO yang memiliki kapasitas untuk melakukan advokasi di tingkat Nasional melampirkan hasil-hasil kerja advokasi yang dapat berupa dokumen analisa situasi, analisa kertas posisi, policy paper, dokumen kemitraan lintas stakeholder untuk tujuan advokasi bersama, prosiding pertemuan konsultatif dengan Pemerintah dan Dewan Perwakilan,
c) Memiliki kapasitas Monitoring & evaluasi yang dibuktikan dengan dokumen M&E Plan dan resume/rekomendasi hasil monitoring dan evaluasi.
d) Memiliki rekam jejak baik dalam pengelolaan dana dan capaian, khususnya kerjasama serupa dengan Global Fund, salah satunya dibuktikan dengan data penyerapan dana dan riwayat Rating serta Management Letter.

Seleksi Proposal Program
1. Kecocokan dan kelengkapan usulan program dengan ukuran keberhasilan di poin C diatas
2. Strategi dan metode pelaksanaan program mengacu pada strategy dan intervensi PR TB ‘Aisyiyah di program NFM seperti di poin C diatas ; termasuk ketersediaan dan kesiapan pelaksana program dalam dua tahun mendatang(aspek program manajemen).
3. Anggaran : kecocokan antara jumlah anggaran yang diusulkan dengan strategi dan metode pelaksanaan serta mengacu pada SBU Kementerian Keuangan RI tahun 2015

E. KRITERIA PENILAIAN BERDASARKAN :
1. Kelengkapan dan kebenaran dokumen pendukung
2. Proposal yang diajukan menunjukkan kepahaman dan mendorong percepatan strategy NFM
3. Kualitas teknis proposal, termasuk tujuan umum dan spesifik yang jelas dan dampak potensial dari cakupan program dalam mencapai indikator utama program
4. Kepasitas manajemen dan administratif lembaga untuk dapat melaksanakan kegiatan/program
5. Secara teknis menunjukkan pengalaman dan rekam jejak di wilayah yang menjadi area program
6. Pengalaman dan rekam jejak implementasi program kerjasama dengan Global Fund

Hasil penilaian dibagi menjadi 3 kategori
1. Lolos seleksi langsung
2. Lolos seleksi dengan syarat (Presentasi Program dan wawancara)
3. Tidak lolos seleksi

Tim seleksi terdiri dari
Perwakilan Country Coordinating Mechanism (CCM), Technical Working Group (TWG), Kementerian Kesehatan – Sub Direktorat TB, Unsur Organisasi Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Principal Recipient TB ‘Aisyiyah dan Profesional dibidang TB
F. FORMAT PROPOSAL
Proposal ditulis dalam format minimum 10 halaman dan maksimum 20 halaman dan ditulis dalam bahasa Indonesia. Pelamar diminta menggunakan kertas ukuran A4 , 1,5 spasi.

Proposal berisi bagian sebagai berikut:
• Halaman Depan/Cover;
• Executive Summary
Summary harus menjelaskan kunci dasar dari strategy, pendekatan, metodologi, personnel dan rencana implementasi.
• Isi Proposal
• Latar Belakang
• Tujuan dan Target
• Usulan Kegiatan
• Kebutuhan
• Modal awal
• Proses Pelaksanaan
• Mekanisme pelaporan
• Anggaran
• Pengalaman/Keberhasilan sebelumnya
• Profil organisasi & contact person

G. JADWAL CALL FOR PROPOSAL
7-21Nov Pengumuman untuk call for proposal NFM dan minat sebagai SR
Pengumuman melalui website http://www.tbcareaisyiyah.org/
Batas akhir penerimaan proposal tanggal 21 november 2015 jam 23.59 WIB
23 Nov Pengumuman hasil seleksi dikirimkan langsung kepada mereka yang lolos seleksi
Dikirimkan melalui email yang bersangkutan
24-25 Nov Presentasi dan wawancara bagi kandidat SR yang lolos dengan syarat
25 Nov Pengumuman Final lolos seleksi melalui http://www.tbcareaisyiyah.org/

H. BATAS AKHIR & ALAMAT PENGIRIMAN PROPOSAL
Proposal yang telah ditulis dikirim ke Principal Recipient PR TB ‘Aisyiyah dalam bentuk Soft copy dan hard copy. Untuk format soft copy dikirim ke : admin@pr-tbaisyiyah.or.id
Hard Copy dikirimkan ke alamat :
PR TB PR TB ‘Aisyiyah NFM-GFATM
Jl. Dukuh Patra No. 25 Kelurahan Menteng Dalam, Kecamatan Tebet
Jakarta 12870

Tanggal akhir pengajuan proposal : 21 November 2015 jam 23.59

Kasus HIV Tenaga Kerja Migran Di Taiwan

Saya beberapa minggu lalu dihubungi oleh satu orang sahabat dari Taiwan, yang mengetahui nomor kontakku lewat website ini. Dia mengaku baru saja tes HIV dan hasil nya positif. Nada kuatir, ketakutan dan tangisan terdengar lewat suara nya.

Saya terpaku mendengar ceritanya. Berusaha memahami apa yang sedang dialami, sambil dejavu dengan pengalaman ku sendiri. sebut saja Ganar, sahabat itu. Dia melanjutkan ceritanya, bahwa Lau Kung Tzi ( Kantor Departemen Tenaga Kerja Taiwan) memintanya untuk segera pulang ke Indonesia alias di PHK.  Agensi yang memberangkatkan tidak melakukan apa-apa. Walaupun hanya sepotong informasi tentang layanan bagi Orang terinfeksi HIV di Indonesia. Dia meminta waktu untuk mempersiapkan semuanya.  Lewat Website, akhirnya mempertemukannya dengan saya.

Bagi Tenaga kerja migran, ketika dia terinfeksi HIV ada  ketakutan mendasar :

1. Ketakutan akan infeksi HIV sendiri, sebagai penyakit yang belum bisa disembuhkan

2. Ketakutan kehilangan sumber mata Pencaharian karena alasan di PHK. Kebanyakan tenaga Kerja migran merupakan tulang punggung keluarga. ada beban berat sebagai orang yang menghidupi keluarga.

3. Kehilangan masa depan. Bagi Ganar, Infeksi HIV telah membuatnya kehilangan mimpinya; ingin membelikan rumah buat orang tua, membiayai pendidikan ponakan dan mandiri secara finansial.

4. Ketakutan menghadapi pertanyaan keluarga terkait resiko infeksi.  Bagi ganar, dia kesulitan menjelaskan  resiko infeksi, Orientasi seksual yang dia miliki

Ketiga ketakutan ini membuatnya hampir setiap hari menghubungiku. Ganar termasuk yang terpelajar, sehingga bisa mencari bantuan dengan mencari informasi dan bantuan lewat internet. Paling tidak dia bisa mendapatkan dukungan, seperti saat ini, dia mendapatkan dukungan dari Positive rainbow. Menurut Informasi yang dia terima dari seseorang petugas pendampingnya di Taiwan sana, sebelumnya ada 7 TKI lain yang langsung di pulangkan tanpa diberikan informasi terkait layanan pengobatan dan dukungan terhadap Odha di Indonesia.  Kantor Dagang Ekonomi Republik Indonesia di Taiwan, ternyata belum melakukan apa apa terkait issue ini. Akan bagaimana kah Nasib para Pahlawan devisa kita di rantau sana, saat tak ada perlindungan dan pendampingan dari Negara???

Obat HIV AIDS telah Di Jual Bebas di Indonesia?

Berdasarkan data yang diungkapkan oleh P2PL ( Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan)  Kementrian Kesehatan Republik indonesia dari bulan Januari sampai Juni 2012 mencapai 9.883 orang sedangkan untuk AIDS adalah 2.224 orang dan orang positif HIV dan AIDS yang meninggal sebanyak 5.623. Setiap hari selama 2012 lebih dari 54 kasus infeksi HIV baru , 12 orang  memasuki fase AIDS, dan 30 orang ODHA   meninggal dunia. Angka yang cukup fantastis. silahkan baca juga data IBBS 2011  http://www.positiverainbow.com/slide1/.

Pengobatan untuk pasien selama ini dilakukan di Rumah sakit pemerintah terutama di Tingkat propinsi dan beberapa kota kabupaten. Obat di berikan secara gratis ( bersubsidi) dengan persyaratan CD4 dibawah 350 dpl. Ketersedian obat ( ARV /Anti Retro Viral) saat ini merupakan harapan hidup banyak ODHA di Indonesia. Obat di dapat dengan hanya mambayar biaya pendaftaran di Rumah Sakit-rumah Sakit Pemerintah. Di banyak Rumah sakit pelayanan ARV membutuhkan waktu 5-6 jam mulai dari pendaftaran sampai arv bisa dibawah pulang. Hal ini menjadi masalah serius bagi ODHA yang bekerja di sektor formal dengan jam kerja normal. Marc, seorang sahabat positive Rainbow ketakutan dipecat dari kantornya, karena selalu libur sehari  setiap bulan. Beberapa kali ia terpaksa minta bantuan teman lainnya untuk mengambil obat. Belum lagi persyaratan seperti harus melampirkan KTP setiap mengabil obat, pelayanan yang tidak ramah dan lain-lain. Teman lainnya di Positive Rainbow sebut saja Mando berkomentar “ Kadang saya berpikir untuk stop obat saja, karena melihat pandangan jijik dan kata-kata ketus petugas Farmasi , saya merasa diperlakukan seperti sampah”. Mando saat ini berobat di RSUD Duren Sawit Jakarta timur. Pelayanan yang tidak bersahabat membuatnya diri nya malas untuk datang mengambil obat.

Truvada dan Viread, Angin Segar atau malapetaka?

Informasi  tentang disetujuinya Kimia Farma sebagai Distributor lagi  ( KF juga distibutor tunggal utk ARV bersubsidi) untuk obat bermerek dagang VIREAD® (tenofovir disoproxil fumarate) untuk lengkapnya silahkan ku njungi :  www.gilead.com/pdf/viread_pi.pdf dan Truvada (tdf +FTC)( link:www.truvada.com) yang dijual bebas mulai bulan November 2012 . Informasi ini ditanggapi beragam oleh beberapa Komunitas orang positive dan pengiat HIV di Tanah Air   . Seorang pasien sebut saja namanya “Andy” berkomentar ” sepertinya rumah sakit tidak memiliki databased pasien nya,atau mereka menjual KTP ODHA ( pasien HIV)  untuk mendapatkan pendanaan?”, Belum lagi, pengambilan obat harus dilakukan di tanggal yang telah ditetapkan atau sesudah nya. Hal ini tentu saja sangat memberatkan bagi para ODHA, terutama bagi mereka yang bekerja kantoran.

. ” ini sepertinya bagus, saya lebih baik membayar daripada harus bolos sehari dalam sebulan” Marcel ( bukan nama sebenarnya) berkomentar tentang ARV non subsidi .

Tanggapan para aktifis HIV

Para aktivis HIV di Indonesia berkomentar beragam terkait penjualan ARV secara bebas ini, mulai menkuatirkan tentang ARV bersubsidi yang akan segera berkurang karena Kimia Farma sebagai Distributor tunggal berkemungkinan akan mendapatkan margin yang jauh lebih besar dengan ARV non subsidi yang di Jual bebas, bagaimana membedakan ODHA yang miskin dan berhak untuk ARV bersubsidi dengan yang tidak ( Aditya Wardana, Indonesia AIDS Coalition), sampai keraguan tentang pengawasan terhadap kepatuhan terapi yang bisa menyebabkan resistensi ( kekebalan Virus HIV terhadap obat)

Prof. D.N. Wirawan secara bijaksana menghimbau agar semua Community Based Organization dapat memantau hal tersebut, sehingga hal-hal yang tidak sejalan dengan pemenuhan kebutuhan ODHA terkait pengobatan dapat dilaporkan  dan diadvokasi sesegera mungkin.

Semoga.

Bom Waktu Itu Bernama HIV AIDS

Dalam sebuah rumah berdinding semen dan berkamar tiga di Sorong, Papua Barat, impian Angelina pun perlahan memudar. Dulu ia pernah bercita-cita untuk menjadi seorang polisi wanita “karena saya melihat mereka membantu dan melindungi orang.”

Namun sudah lama impian itu sirna. Pada Juni 2002, suaminya yang bekerja sebagai ahli mekanik meninggal. Enam bulan kemudian bayi perempuan pertamanya pun juga meninggal. Baru pada bulan Oktober ia tahu penyebabnya. Belum juga hilang kesedihannya, perempuan 21 tahun itu diberitahu bahwa ia terinfeksi HIV. Kemungkinan besar suaminya terjangkit virus itu dari pekerja seks.

Angelina hanya salah satu korban yang polos dan  tidak tahu menahu tentang HIV di Indonesia. Ia hanya orang biasa yang bahkan tidak pernah melakukan tindakan beresiko tetapi tertular oleh orang yang berkelakuan tidak baik. Tentu saja banyak perhatian tercurah pada penyebaran HIV/AIDS di antara kelompok-kelompok yang beresiko. Tapi UNICEF justru memfokuskan pada anak muda dalam upayanya mencegah penularan virus ke masyarakat luas.

Sebagian besar anak muda Indonesia tidak tahu mengenai HIV/AIDS dan penyebarannya. Hanya sedikit yang mendapat informasi yang tepat tentang penyakit itu. Dalam satu penelitian, hanya satu dari tiga pelajar sekolah menengah atas di Jakarta yang tahu persis cara pencegahan penularan virus secara seksual.

Kurangnya pengetahuan ini menjadi sebuah bom waktu di daerah-daerah seperti Papua. Di sana anak muda mulai aktif secara seksual pada awal masa pubertas. Dengan memberikan pelatihan pada guru-guru sekolah menengah atas di Papua tentang ketrampilan hidup dan HIV/AIDS, UNICEF berharap generasi muda di Papua akan memahami konsekuensi dari seks yang tidak aman.

Menyangkut pendidikan sebagai satu pilar strategi lima tahun HIV/AIDS,  pemerintah Indonesia tetap berjalan di tempat. Karena itu UNICEF mencoba langkah berbeda dengan menyentuh langsung pelajar sekolah menengah atas.

“Saat kita berada di sekolah, kita mengkombinasikan strategi pendidikan ketrampilan hidup dan pendidikan sebaya untuk mencegah penularan HIV dan penyalahgunaan obat-obatan. Strategi itu pada dasarnya dirancang untuk memberikan kaum muda ketrampilan komunikasi antar pribadi, kreatifitas, kepercayaan diri, harga diri dan daya pikir kritis. Ini perlu untuk membantu mereka jika menghadapi kesempatan untuk mencoba obat-obatan atau melakukan seks yang tidak aman,” kata Rachel Odede, kepala unit HIV/AIDS UNICEF Indonesia.

Hambatan utama untuk pendidikan orang Indonesia adalah keyakinan bahwa penyakit ini hanya menjangkiti “orang tidak baik”  dan memang mereka layak mendapatkannya. Orang yang terinfeksi HIV/AIDS pun diberi stigma dan dipaksa pergi dari kampung halaman mereka. Mereka ditolak berobat ke dokter, diancam, dijauhi dan disingkirkan. Ketakutan dan stigma semacam itulah yang membuat para tetangga dan bahkan anggota keluarga Angelina tidak tahu sama sekali penyakitnya.

“Saya anggota aktif di gereja. Saya tidak ingin orang melihat ke saya dan berkata ‘Lihat, orang itu putrinya sakit’”, kata Yakobus, ayahnya. Ia seorang guru sekolah dasar yang mengambil pensiun dini untuk merawat putri bungsunya itu.

Meski orang Indonesia yang sekuler telah mengenal program keluarga berencana dengan slogan ‘dua anak cukup’, pembicaraan mengenai seks masih dianggap tabu oleh sebagian penduduk yang sebagian besar Muslim dan konservatif ini. Saat ini epidemi HIV/AIDS terkonsentrasi pada tingkat penularan HIV yang masih rendah pada penduduk secara umum. Namun pada populasi tertentu, tingkat penularannya cukup tinggi, yaitu di antara para pekerja seks komersil dan pengguna jarum suntik yang kian meningkat.

© UNICEF/IDSA/036/Estey

Seperti halnya Viet Nam dan China, epidemi HIV/AIDS di Indonesia masih digolongkan baru timbul. Para pakar memperkirakan ada sekitar 90.000 sampai 130.000 orang Indonesia yang terjangkit HIV. Tapi UNICEF yakin angka ini akan bertambah jika tidak ada perubahan perilaku populasi yang beresiko dan menjadi perantara.

Tidak sulit melihat gambaran penularan ini di masyarakat umum. Diperkirakan ada 7 sampai 10 juta laki-laki Indonesia mengunjungi pelacuran tiap tahunnya. Mereka biasanya enggan menggunakan kondom. Diperkirakan juga ribuan perempuan telah terinfeksi secara seksual oleh laki-laki yang menyuntikkan obat-obatan.

“Pada tahun-tahun setelah krisis moneter, kami melihat makin banyak orang muda pergi ke kota untuk mencari pekerjaan. Tampak pula terjadi peningkatan jumlah pekerja seks dan pengguna jarum suntik (IDU),” kata Dr Barakbah, kepala unit penyakit menular Rumah Sakit Dr Soetomo, Surabaya. “Kita akan melihat lonjakan kasus AIDS dalam beberapa tahun mendatang. Kita juga melihat pertumbuhan eksponensial pada kasus-kasus HIV yang dilaporkan, terutama yang berasal dari tempat pelacuran. Penyebarannya sedang memasuki tahap ketiga, yang mengarah ke AIDS. Kami melihat makin banyak pasien,” tambahnya.

Untuk mengetahui bagaimana skenario ini terkuak, lihatlah kisah pekerja seks berusia 16 tahun, Reena (bukan nama sebenarnya). Ia beroperasi di Surabaya, daerah seks terbesar di Asia. Ia terinfeksi HIV positif  dan ia tidak tahu. Ia pun tetap melayani tamunya sampai 12 orang tiap minggunya. Tak satupun para pelanggannya dan beberapa ‘pacarnya’ itu yang menggunakan kondom.

Orang-orang tersebut adalah di antara 2.000 lebih pelaut yang singgah setiap minggunya di Surabaya, ibu kota Jawa Timur yang juga pusat pengiriman barang antara Jawa, Sulawesi, dan kepulauan bagian timur Indonesia.

Orang dari seluruh penjuru Nusantara menjuluki Surabaya dengan istilah ‘tiga M’ dalam kaitannya dengan penularan HIV/AIDS, yaitu “Men (laki-laki), Money (uang ) dan Mobility (mobilitas)”.

Saat ini instansi-instansi makin menaruh perhatian terhadap cepatnya penularan HIV/AIDS terhadap generasi muda Indonesia yang menggunakan jarum suntik. Sebagian besar dari mereka berumur dua puluhan dan aktif secara seksual.

Di beberapa daerah di Jakarta, diperkirakan 90 persen pengguna terkena HIV positif. Beberapa tahun lalu, demografi para pengguna obat-obatan mulai meningkat karena jatuhnya harga heroin dan para ahli kimia Indonesia mulai membuat shabu-shabu dalam jumlah besar (bahkan cukup untuk menjadi eksporter obat bius).

Seperti halnya di Thailand, penggunaan obat-obatan menarik para orang miskin di kota di Indonesia. Merekalah kelompok yang sulit diberi pengertian mengenai jarum suntik pribadi dan bersih.

Untuk mendorong kaum muda untuk memanfaatkan layanan pengujian dan konseling, UNICEF memberi dukungan teknis dan finansial kepada beberapa lembaga swadaya masyarakat untuk membantu generasi muda putus sekolah yang rentan terhadap penyalahgunaan obat dan eksploitasi seks.

Tapi lembaga-lembaga ini tidak bisa berjuang sendirian. Untuk memberi pemahaman ke masyarakat yang lebih luas, mereka butuh dukungan dan sumber-sumber dari pemerintah pusat dan daerah. Sayangnya, instansi pemerintah enggan untuk memimpin gerakan ini karena penyakit itu dianggap sebagai akibat dari ‘tindakan amoral’.

Beberapa langkah baru telah diambil. Para gubernur dari daerah-daerah yang penularannya parah bersedia menandatangani  perjanjian dan bersumpah untuk memusatkan segala sumber mereka untuk kemajuan penyuluhan mengenai penyakit itu. Tapi rupanya masih terlalu banyak hal yang harus dikerjakan.

“Tantangan terdekat yang saya lihat adalah menterjemahkan strategi HIV/AIDS menjadi rencana tindak yang operasional dan konkrit,” kata Odede.

http://www.unicef.org/indonesia/id/reallives_3186.html

Pasien HIV Telah Berhasil Disembuhkan

Kesembuhan adalah harapan terbesar saat ini dalam diri setiap orang terinfeksi HIV AIDS di Seluruh dunia. Masa penantian lebih dari 30 tahun sejak ditemukannya kasus HIV pertama, sampai saat ini sepertinya tak lama lagi akan berakhir dengan happy ending. Lebih dari 35 juta orang di seluruh dunia telah terinfeksi virus HIV, dan  25 juta dari jumlah tersebut telah meninggal dunia. Kabar HIV AIDS dapat disembuhkan merupakan sebuah fase baru dan harapan baru dalam epidemi yang menakutkan manusia di Muka Bumi.

Sebuah presentasi hasil penelitian selama bertahun-tahun telah membuktikan bahwa ilmu pengetahuan adalah solusi untuk harapan itu. Hasil penelitian yang disampaikan dalam International AIDS Conference ke-19 di Washington DC mengatakan ada dua orang Pasien HIV yang berhasil di sembuhkan lewat Tranplantasi Sumsum tulang belakang. Untuk lebih lengkap silahkan baca: http://today.msnbc.msn.com/id/48338421/ns/today-today_health/t/two-more-men-hiv-now-virus-free-cure/#.UJcdWVJlzNw .

Harapan ini, sepertinya angin segar  bagi semua orang terinfeksi HIV di Indonesia ( ODHA ), harapan untuk terbebas dari ketakutan atas kematian, ketergantungan akan obat yang harus diminum setiap hari, ketakutan akan resistensi karena pengunaan obat dalam jangka panjang, dan lebih besar lagi ketakutan akan terasing dari keluarga, orang yang di kasihi dan masyarakat umum karena masih tingginya stigma dan diskriminasi terhadap ODHA. Saya berharap harapan ini segera akan nyata di Indonesia, semoga.

Image

Data IBBS 2011 ( STBP 2011)

Longsari “Dukungan komprehensif membantu ku sembuh dari TB XDR”

 

Longsari, lelaki 50 tahunan asal Pasaman Sumatera Barat, terlihat bahagia di RSUP persahabatan. Hari ini ( 18 Januari 2012)  beliau diberitahu bahwa  akan  bebas  dari rutinitas minum obat. Setiap hari selama 20 bulan dia meminum Pirazinamide 1500, Levofloxaxin 1000, Etionamide 750, Cycloserin  750 passer 4 gram dan B6 150. Dia telah dinyatakan sembuh dari TB XDR  ( Tubercolosis extra drug resistance / infeksi tuberkolosis  yang kebal sangat banyak obat baik kategori satu maupun dua) oleh Tim Ahli Klinis di RSUP Persahabatan Jakarta Timur. “ Ini perjuangan yang luar biasa.”  ungkap nya. Perjuangan longsari menjadi semangat baru bagi semua pasien TB  XDR dan MDR  di RSUP Persahabatan atau mungkin di Indonesia. Longsari adalah pasien kedua TB XDR yang dinyatakan segera berhenti pengobatan dan sembuh di Indonesia. Bulan lalu seorang Perempuan Ny E, petugas di sebuah rumah sakit swasta terkemuka telah berhasil menjadi orang pertaman sembuh dari TB XDR di Indonesia.

Kisah Longsari dimulai ketika ia mengalami batuk-batuk  dan sesak nafas saat berkunjung ke rumah Putra nya di BSD Tangerang. Dokter yang merawat nya meminta untuk diperiksa MGIT ( pemeriksaan kultur( biakan) dari spesimen dahak) karena mempunyai riwayat pengobatan OAT sebelum nya.  Longsari didiagnosis TB MDR.  Setelah 2 bulan, akhir hasil  pemeriksaan keluar. Dia terbukti  bukan TB MDR, melainkan TB XDR.  Semua nya berubah sejak itu, rencana awal hanya liburan ke jakarta, menjadi berubah. Dia harus menetap di Kota ini minimal dua tahun untuk kebutuhan pengobatan.

“ Keputusan yang sulit sebenar nya, karena saya harus meninggalkan murid, rumah dan mengurus Izin ke sekolah tempat  mengajar.  Tapi demi kesehatan, saya mengambil keputusan untuk pindah  sementara untung  keluarga dan pihak sekolah sangat mendukung saya” jelas Longsari.

Sejak itu rutinitas minum obat tiap hari ke RSUP persahabatan dilakoni nya.  Tiap hari Longsari bolak-balik dari rumah Putra nya di BSD tangerang ke RSUP Persahabatan. Butuh dua jam perjalanan dari rumah ke rumah sakit , itu jika tidak ada kemacetan di jalanan Jakarta. Jika macet , bisa sampai 4 jam.  Perjalanan yang jauh di tambah dengan efek samping yang berat membuat perjalanan itu menjadi momok menakutkan bagi Longsari.

Hampir setiap pagi ketika akan berangkat berobat Longsari merasakan perut nya bergejolak karena mual. Sering muntah setiap mau makan atau minum.  Asam urat yang tinggi pernah membuat nya tidak mampu untuk membuka baju nya sendiri.  Satu kali terpaksa memotong kaos yang digunakan saat akan berganti pakaian. Asam urat membuat semua persendian nya menjadi kaku dan Gilu. Meminum Passer, adalah derita lain yang dialami nya selama 20 bulan pengobatan.

“ Meminum Passer seperti  meminum krikil, terasa sangat menganjal di tengorokan dan membuat perih di perut”  ujar nya

“. Dukungan yang komprehensif dari petugas dan keluarga telah berhasil membuat ku menang dalam bertarungan melawan TB XDR, terimaksih untuk petugas, teman-teman di kelompok pasien dan keluarga yang telah mendukung ku selama ini” Longsari menambahkan.

Longsari  termasuk pasien yang paling aktif berdiskusi dengan petugas konseling dan di kelompok dukungan  bagi pasien TB MDR/XDR di RSUP Persahabatan.

Mengenal Kelompok Dukungan Sebaya

Dukungan sebaya adalah dukungan untuk dan oleh orang dalam situasi yang sama.

• Dukungan sebaya meliputi orang yang menghadapi tantangan yang sama seperti pasien dengan infeksi tertentu, komunitas tertentu, orang-orang dengan permasalahn yang sama misalnya: Dapat juga perempuan dengan  HIV dan atau TB MDR, pasangan Pasien, orang yang baru didiagnosa  HIV dan atau TB MDR dan lain-lain

• Dukungan sebaya bisa diantara seseorang yang menghadapi tantangan untuk pertama kalinya dengan seseorang yang telah mampu mengelolanya. Ini dapat berarti mengkaitkan seseorang yang baru memulai pengobatan dengan seseorang yang sudah mengelola pengobatan dan efek samping dengan baik.

Keuntungan Dukungan Sebaya

Mengurangi isolasi

Meningkatkan dukungan sosial

Mengurangi stigma

Mengurangi sumber intimidasi dari dukungan

Membantu berbagi pengalaman

Membantu orang untuk melihat bahwa hidup dengan HIV dan atau TB MDR dan efek samping adalah mungkin

Mengurangi ketergantungan pada petugas kesehatan

Mengurangi beban kerja petugas kesehatan

Meningkatkan kualitas hidup bagi Pasien HIV dan atau TB MDR

Meskipun pasien belajar banyak dari petugas kesehatan, ada beberapa hal lebih baik dipelajari dari orang yang mengalami permasalahan dan hambatan yang sama. Baik di RS, pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) , dukungan sebaya menjadi bagian penting dari penyediaan perawatan yang didapatkan pasien.

Memperkenalkan Dukungan Sebaya :

dengan membicarakan secara teratur tentang dukungan sebaya pada pasien dukung mereka untuk mengaksesnya.

Menegaskan keuntungan-keuntungan dari dukungan sebaya.

Memahami ketakutan-ketakutan mereka.

Mencari tahu apa saja sumber lokal yang tersedia dan mengetahui dengan rinci tentang kelompok-kelompok dalam wilayah itu.

Membangun KDS untuk:

Pasien Baru baru menerima Diagnosis HIV dan Atau TB MDR, pasien mulai terapi ARV, pasien Konversi, non konversi, pasangan Pasien, orang dalam pengobatan.

Membangun kelompok-kelompok pasca tes.

Menjalankan sesi-sesi kelompok edukasi.

Mengidentifikasi idividu yang disiapkan bertindak sebagai pendukung sebaya Memahami Mengapa orang berhenti menggunakan dukungan sebaya: Takut kerahasiaan terbongkar. Takut bertemu orang baru. Tidak mengetahui keberadaan dukungan sebaya. Terlalu sibuk untuk memperoleh dukungan sebaya. Tidak bisa mengikuti pertemuan dukungan sebaya. Tidak punya uang transportasi. Perlu menjaga anak. Tidak mendapat dukungan dari pasangan untuk hadir. Harus menjelaskan kemana mereka pergi kepada orang lain. Mempunyai komitmen lain.

Cara Menawarkan Dukungan Sebaya:

Dukungan sebaya Individual: Jika seseorang baru saja didiagnosa HIV dan ata TB MDR atau baru memulai pengobatan, akan sangat membantu mengkaitkan mereka kepada seseorang yang sudah menerima keadaannya dan dapat membagi pengalaman serta memberi dorongan.

Kelompok Edukasi : Seringkali Pasien TB MDR merasa sendiri dan diisolasi. Bertemu dengan pasien lain dapat mengurangi isolasi dan mendorong mereka untuk hidup lebih baik. Kelompok ini dapat bergaul atau berfokus pada aktifitas-aktifitas peningkatan penghasilan. Kelompok ini biasanya dijalankan untuk dan oleh PasienHIV dan atau  TB MDR dapat juga diadakan lebih dulu oleh petugas kesehatan

Kelompok Dukungan  : Orang yang akan memulai Pengobatan, baru memulai ART, non konversi, konversi, re konversi, dsb) akan merasa terbantu bertemu satu dengan yang lain untuk saling mendukung. Peran petugas kesehatan adalah membentuk terjadi dan memfasilitasi kelompok sampai mereka bisa menjalankannya sendiri

Contoh Cara untuk menawarkan dukungan sebaya:

Klub Pasca-Tes:

Kelompok ini diperuntukkan bagi semua orang yang telah menerima hasil Diagnosis TB MDR.. Mereka sering berfokus pada pemberian informasi dasar TB MDR, aspek kepatuhan dan bagaimana mengakses layanan jika terjadi masalah selama pengobatan . Petugas perlu mendiskusikan situasi yang kondusif bagi anggota untuk saling bertemu dan mendiskusikan semua isu-isu yang relevan. Kelompok edukasi (5 menit) Sesi kelompok edukasi dapat digambarkan sebagai pengembangan/lanjutan dari kunjungan ke pusat kesehatan dimana tidak hanya kebutuhan fisik dan medis ditemukan, tetapi perhatian pada edukasi, aspek sosial dan psikologis yang disepakati dalam pembentukan kelompok. Sesi kelompok edukasi dapat membantu anda untuk tidak menghabiskan waktu di pusat kesehatan.

Pergunakan pertemuan kelompok untuk :

• Mendidik pasien tentang kondisi mereka.

• Membangun dukungan sebaya dan keahlian.

• Memperkenalkan pengelolaan diri.

• Menjalankan tindak lanjut klinis.

• Memusatkan perhatian pada kesulitan-kesulitan.

Dalam membentuk dukungan sebaya di wilayah kita perlu :

• Temukan sumber lokal yang tersedia agar pelayanan tidak tumpang tindih. • Konsultasi dengan Pasien TB MDR dengan menggunakan system pelayanan kesehatan.

• Mengidentifikasi perbedaan strategi dalam dukungan sebaya: baik dukungan satu persatu, dukungan kelompok atau klub pasca test, dan tentukan strategi mana yang ingin anda kembangkan selanjutnya.

• Identifikasi orang yang tertarik mengembangkan sistem dukungan sebaya (baik petugas kesehatan maupun Pasien  HIV dan atau TB MDR).

• Adakan pertemuan dengan petugas kesehatan dan Pasien TB MDR sehingga anda dapat mendiskusikan rencana anda.

• Ketika membentuk KDS, sangatlah penting untuk pertimbangkan: 1 Acara dan waktu. 2 Biaya dan siapa yang membayar. 3 Untuk siapa kelompok dibentuk. 4 Siapa yang akan memimpin kelompok. 5 Bagaimana kerahasiaan akan dijaga. 6 Bagaimana petugas kesehatan akan mendukung para fasilitator. 7 Peran dari petugas kesehatan. 8 Bagaimana memperkenalkan kelompok pada masyarakat luas.

Dalam membentuk kelompok edukasi di pusat kesehatan :

• Konsultasi dengan Pokja HIV dan atau tim ahli klinis anda

• Konsultasi dengan Pasien  HIV dan atau TB MDR yang menggunakan system pelayanan kesehatan

• Identifikasi orang yang tertarik mengembangkan system dukungan sebaya (baik petugas kesehatan maupun )

• Undang mereka untuk mendiskusikan rencana

• Ketika membentuk sesi kelompok edukasi, sangatlah penting untuk pertimbangkan: o Acara dan waktu. o Biaya dan siapa yang membayar. o Untuk siapa sesi kelompok edukasi dibentuk. o Bagaimana memilih orang yang terlibat dalam kelompok o Kegiatan apa yang dilakukan dalam sesi-sesi. o Apa peran anggota kelompok. o Apa peran petugas kesehatan. o Bagaimana memperkenalkan kelompok edukasi pada masyarakat luas.

Contoh Kerangka sesi Kelompok Edukasi  :

Ucapan selamat datang dan Perkenalan Setiap peserta memperkenalkan diri 30 menit Sesi Kelompok Edukasi (hanya sesi pertama) Peserta meluangkan sedikit waktu untuk berbicara tentang:

• Kehidupan mereka, pekerjaan dan keluarganya.

• Harapan peserta dari sesi kelompok edukasi (mis; apa yang ingin mereka peroleh)

• Bagaimana mereka dapat memberi kontribusi pada sesi kelompok edukasi (setiap orang dapat mengkontribusikan sesuatu meskipun hanya pelajaran dari pengalaman pribadi)

• Petugas melanjutkan dengan Pertanyaan-pertanyaan dari kelompok.

• Tata cara kelompok edukasi (aturan-aturan sebagai panduan operasional kelompok). 30 menit Topik hari ini, misalnya: Pencegahan dalam konteks perawatan klinis Petugas kesehatan menyediakan informasi yang berkaitan, berinteraksi dengan peserta bila memungkinkan. Beberapa saran untuk membuat sesi interaktif, termasuk bertanya tentang:

• Apa yang anda ketahui tentang pencegahan infeksi di rumah?

• Bagaimana anda mulai mengenal standar pencegahan dalam hidup anda?

• Adakah seseorang disini yang pernah menemui masalah saat memakai masker di tengah masyarakat? Petugas kesehatan sebaiknya menyatukan informasi dengan apa yang telah diajarkan selama pelatihan dan gunakan Kertas plano Edukasi Pasien.

Bagaimanapun, sangat penting menggabungkan hal ini dengan pandangan dan nilai-nilai kelompok.

15 menit Tanya Jawab Petugas Kesehatan sebaiknya menanyakan kelompok jika ada pertanyaan tentang:

• Topik hari ini

• Kesehatan mereka secara umum, masalah mereka belakangan ini atau perjanian-perjanjian yang akan datang 15 menit Perencanaan dan Penutup Tanyakan jika kelompok ingin mendiskusikan sesuatu secara khusus pada sesi selanjutnya, jika tidak topik akan dikomunikasikan lewat agenda. Ucapkan terima kasih untuk kehadiran peserta.

HIV RAPID TESTING DI INDONESIA

Rapid tes telah digunakan di Indonesia sejak tahun 2004. Saat ini HIV Rapid Tes di gunakan di berbagai layanan di Klinik, Puskesmas dan rumah sakit dalam bentuk layanan VCT, ANC dan PMTCT, PITC, mobile klinik serta untuk survey yang dilakukan misal nya oleh depatemen kesehatan ( IBBS) maupun universitas.

Saya sendiri telah menjalani VCT, dengan Rapid tes tahun 2005. Rapid tes membuat tes HIV hanya butuh waktu yang singkat , lebih murah dan efektif. Di dahului oleh konseling, kemudian pengambilan sampel darah sebanyak 2,5 cc lewat vena , menunggu selama 15 menit dilanjutkan dengan konseling akhir untuk mengetahui status HIV. Hanya membutuhkan satu jam hasil tes langsung di ketahui. Konselor memberitahu bahwa tes di lakukan dengan rapid tes.

Tes HIV dilakukan dengan serial tes. Jika hasil pengujian pertama negatif, maka tes di nyatakan selesai. Jika hasil awal Positif, maka pengujian akan di lanjutkan untuk komfirmasi. Hasil pengujian negatif atau positif, pengujian akan tetap dilanjutkan untuk komfirmasi ke dua. Jika tiga pengujian mempunyai hasil positif maka berarti tes HIV mempunyai kesimpulan positif. Jika dua positif dan satu negatif berarti kesimpulan adalah determinan. Kesimpulan determinan akan perlu pengujian kembali dalam 3 bulan ke depan.

Untuk menjamin bahwa pelayanan rapid tes memang tepat, ada badan pengawas yang memastikan bahwa prosedur testing telah dilakukan dengan benar. Badan pengawas terdapat untuk layanan di tempat misal nya puskesmas dan rumah sakit, juga tersedia untuk layanan rapid testing di klinik mobile. Departemen Kesehatan RI melakukan pengujian untuk semua tes HIV yang dilakukan di Indonesia termasuk rapid testing.

Selalu ada evaluasi yang terstandar baik sebelum digunakan, maupun setelah disetujui untuk digunakan. evaluasi dilakukan pada setiap jangka waktu tertentu. Biasanya sekali setahun. Untuk diagnosis positif dalam rapid testing di beberapa layanan rumah sakit dilakukan tes konfirmasi lewat EIA/ELISA based testing. Misalnya di RSCM Jakarta. Menurutku Konfirmasi ini tidak dibutuhkan karena Rapid Testing telah teruji. Dan pengalaman ku dan teman-teman di Positif Rainbow juga membuktikan tes konfirmasi ini hanya mengahabiskan waktu dan biaya. Semua teman-teman yang pernah melakukan tes konfirmasi dengan EIA based testing hasil nya sama tetapi mereka harus membayar lebih mahal untuk itu.

Di Indonesia , tes HIV termasuk Rapid tes selalu di dahului oleh konseling. Konseling bisa dilakukan oleh konselor yang terlatih dan bisa juga oleh dokter-dokter di rumah sakit dalam program PITC. Saat ini konselor yang terlatih telah tersedia di layanan tes HIV di seluruh Indonesia. Petugas-petugas untuk melakukan Rapid tes, mulai dari konselor, petugas laboratorium , dokter dan manager kasus telah dilatih sehubungan dengan rapid testing. Petugas-petugas ini menjadi ujung tombak untuk memberi informasi kepada klien saat mereka melakukan tes. Sehingga klien menjadi termotivasi untuk tes dan mempunyai keyakinan yang besar untuk hasilnya benar.

Petugas-petugas yang dilatih juga akan dimonitoring untuk memastikan kualitas pekerjaan mereka. Monitoring dilakukan oleh pemimpin di tempat layanan misalnya dokter diklinik, program manager di Komunitas, bahkan dinas kesehatan juga melakukan monitoring secara periodik, agar hasil rapid testing mempunyai standar kualitas yang baik. Semua tempat layanan ( sites) yang melakukan pencatatan untuk rapid testing yang dilakukan dan melaporkan hasil kerja mereka ke dinas kesehatan setempat. Dinas kesehatan mengumpulkan data, dan akan membuat laporan dalam skala wilayah dan Nasional sehubungan dengan capaian tes HIV di Indonesia. Hanya saja untuk pemantauan atau monitoring terhadap kualitas tes HIV dilayanan yang dilakukan oleh negara masih belum belum terstandar baik dari sisi waktu monitoring ataupun kualitas secara periodik. Ke depan perlu penguatan untuk fungsi pengawasan dan monitoring.

INH sebagai Profilaksis TBC untuk Pasien HIV

Sebuah penelitian Yang dilakukan beberapa Ahli di Botswana mengungkapkan bahwa pemberian profikasis INH ( Izoniasid ) bagi pasien HIV yang belum terinfeksi kuman TB/TBC terbukti efektif  dalam upaya pencegahan. Pemberian Profilaksis INH selama lebih dari 6 bulan akan mampu melindungi ODHIV  dari infeksi TB walaupun tinggal di daerah pandemik TB. Ini akan lebih efektif jika dilakukan di CD4 lebih dari 200/ul.

Penelitian merupakan   hal yang sangat mengembirakan bagi Teman-teman yang hidup dengan HIV dan AIDS. Sebuah harapan baru untuk bisa bekerja dan hidup lebih sehat walau mungkin tinggal dan bekerja di daerah yang pandemik TB.

untuk informasi selengkap nya silahkan klik link berikut:

Samandari T, 6-month versus 36-month……Lancet 2011 e-pub ahead of print.pdf