Call For Proposals Untuk Sub Recipient (SR) NEW FUNDING MODEL (NFM) – THE GLOBAL FUND ATM

A. LATAR BELAKANG
Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia terutama negara-negara yang sedang berkembang. Menurut laporan dari WHO Global Report tahun 2014, saat ini Indonesia menempati urutan ke-5 terbesar di dunia sebagai penyumbang penderita TB setelah Negara India, China, Nigeria, dan Pakistan.
Sesuai dengan Strategi Nasional (STRANAS) TB tahun 2015, visi umumnya adalah : “Indonesia bebas Tuberkulosis dengan tujuan “ tidak ada kematian, penyakit dan penderitaan yang disebabkan oleh Tuberkulosis.” Tujuan utama STRANAS adalah mengakhiri epidemi Tuberkulosis di Indonesia.
STRANAS menetapkan tiga target untuk dicapai pada akhir tahun 2019, yaitu 30% penurunan angka kematian yang disebabkan oleh TB dibandingkan angka pada tahun 2014; 15% penurunan insidens dibandingkan pada tahun 2014 dengan mempercepat penurunan perkiraan insiden dari 1% pertahun menjadi 4% pertahun mulai tahun 2017 dan seterusnya; dan meningkatkan akses pada Jaminan kesehatan universal dan perlindungan social sehingga pada tahun 2019 tidak ada pasien TB maupun keluarganya yang harus mengeluarkan biaya “musibah/bencana” akibat pengobatan TB.

Program TB di Indonesia melalui program dana hibah New Funding Model (NFM) The Global Fund untuk periode 2016-2017, dengan grant number: IND-T-AIS dibawah manajemen Principal Recipient (PR) TB ‘Aisyiyah dengan Sub Recipient (SR), dengan melibatkan Non-Government Organization (NGO) dan Civil Society Organization (CSO) untuk memperkuat dan memberdayakan komunitas.

PR TB ‘Aisyiyah mengundang CSO untuk mengajukan proposal dan mengikuti proses seleksi menjadi Sub Resipient (SR) di 25 propinsi, 160 kabupaten/kota. Selanjutnya CSO yang memenuhi syarat dan lolos seleksi akan terlibat dalam NFM 2016-2017.

B. WILAYAH KERJA
Program New Funding Model (NFM) akan berlangsung selama 2 tahun dimulai dari periode 1 Januari 2016 – 30 Desember 2017, bekerja di 25 provinsi dan 160 kabupaten/kota meliputi :
Provinsi Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Riau, Kepulauan Riau, Lampung, Bengkulu, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat ,Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Papua dan Papua Barat

C. INTERVENSI DAN UKURAN KEBERHASILAN
1. TB –HIV Care and Prevention
a. Pencarian suspek yang berkualitas,
b. Jumlah penderita TB semua tipe
c. Jumlah pasien TB dengan resiko HIV-AIDS yang berhasil dimotivasi untuk tes HIV dan menerima hasil,
d. Jumlah pasien TB-MDR yang didampingi sampai sembuh,
e. Mengawal pasien sembuh minimum 90%,
2. Community system strengthening (CSS)
a. Perangkat untuk menilai tingkat kepuasan pasien di layanan kesehatan dan menilai tingkat partisipasi LSM
b. Ada laporan analisa situasi terhadap penyakit Tuberkulosis di kabupaten-kota
c. Ada Strategi Advokasi Bersama untuk program TB-HIV di tingkat kabupaten-kota
3. Removing Legal Barriers
a. Ada kerjasama dengan biro hukum untuk membantu pendirian Kelompok Masyarakat Peduli TB
b. Ada dokumen dari sisi hukum terkait dengan pelaksanaan program TB-HIV
c. Ada perangkat pengawasan untuk program TB-HIV
d. Ada laporan data terkait dengan adanya kesulitan masyarakat untuk mengakses layanan TB-HIV

D. KRITERIA SELEKSI
Seleksi Administrasi calon SR dapat menunjukkan bukti :
1. Terdaftar sebagai entitas legal di Departemen Hukum & HAM serta Depdagri
2. Memiliki Nomor Pokok Wajib pajak (NPWP)
3. Memiliki Alamat yang dapat diverifikasi
4. Memiliki Profil Organisasi terbaru (tahun 2015)
5. Memiliki kantor cabang, struktur pengurus dan anggota dari pusat hingga tingkat komunitas di daerah (Kabupaten/Kota).
6. Bersedia berkontribusi (SR) terhadap program, dalam bentuk ruang kantor, SDM, peralatan kantor, dll (dilampirkan dalam surat kesanggupan dan rincian kontribusi yang akan diberikan)
7. Kapasitas menangani program yang sudah terbukti (melampirkan satu lembar resume portofolio yang menyajikan informasi antara lain; Nama program, Nama Lembaga/Donor pemberi dana, total jumlah dana dikelola, tahun/durasi program, lokasi program, jumlah penerima manfaat dan nama lembaga mitra implementasi program)
8. Kapasitas menangani program TB, terbagi atas:
a) CSO yang memiliki kapasitas untuk melakukan community-based active case finding dan case holding serta advokasi di tingkat lokal (propinsi, kabupaten/kota). Bagi CSO dalam kategori ini harus melampirkan data penjangkauan terduga (suspek) TB, pencapaian CNR dan data kesembuhan serta data lengkap kader aktif danhasil proses advokasi local yang dilakukan dalam periode dua tahun terakhir yang dapat diverifikasi.
b) CSO yang memiliki kapasitas untuk melakukan advokasi di tingkat Nasional melampirkan hasil-hasil kerja advokasi yang dapat berupa dokumen analisa situasi, analisa kertas posisi, policy paper, dokumen kemitraan lintas stakeholder untuk tujuan advokasi bersama, prosiding pertemuan konsultatif dengan Pemerintah dan Dewan Perwakilan,
c) Memiliki kapasitas Monitoring & evaluasi yang dibuktikan dengan dokumen M&E Plan dan resume/rekomendasi hasil monitoring dan evaluasi.
d) Memiliki rekam jejak baik dalam pengelolaan dana dan capaian, khususnya kerjasama serupa dengan Global Fund, salah satunya dibuktikan dengan data penyerapan dana dan riwayat Rating serta Management Letter.

Seleksi Proposal Program
1. Kecocokan dan kelengkapan usulan program dengan ukuran keberhasilan di poin C diatas
2. Strategi dan metode pelaksanaan program mengacu pada strategy dan intervensi PR TB ‘Aisyiyah di program NFM seperti di poin C diatas ; termasuk ketersediaan dan kesiapan pelaksana program dalam dua tahun mendatang(aspek program manajemen).
3. Anggaran : kecocokan antara jumlah anggaran yang diusulkan dengan strategi dan metode pelaksanaan serta mengacu pada SBU Kementerian Keuangan RI tahun 2015

E. KRITERIA PENILAIAN BERDASARKAN :
1. Kelengkapan dan kebenaran dokumen pendukung
2. Proposal yang diajukan menunjukkan kepahaman dan mendorong percepatan strategy NFM
3. Kualitas teknis proposal, termasuk tujuan umum dan spesifik yang jelas dan dampak potensial dari cakupan program dalam mencapai indikator utama program
4. Kepasitas manajemen dan administratif lembaga untuk dapat melaksanakan kegiatan/program
5. Secara teknis menunjukkan pengalaman dan rekam jejak di wilayah yang menjadi area program
6. Pengalaman dan rekam jejak implementasi program kerjasama dengan Global Fund

Hasil penilaian dibagi menjadi 3 kategori
1. Lolos seleksi langsung
2. Lolos seleksi dengan syarat (Presentasi Program dan wawancara)
3. Tidak lolos seleksi

Tim seleksi terdiri dari
Perwakilan Country Coordinating Mechanism (CCM), Technical Working Group (TWG), Kementerian Kesehatan – Sub Direktorat TB, Unsur Organisasi Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Principal Recipient TB ‘Aisyiyah dan Profesional dibidang TB
F. FORMAT PROPOSAL
Proposal ditulis dalam format minimum 10 halaman dan maksimum 20 halaman dan ditulis dalam bahasa Indonesia. Pelamar diminta menggunakan kertas ukuran A4 , 1,5 spasi.

Proposal berisi bagian sebagai berikut:
• Halaman Depan/Cover;
• Executive Summary
Summary harus menjelaskan kunci dasar dari strategy, pendekatan, metodologi, personnel dan rencana implementasi.
• Isi Proposal
• Latar Belakang
• Tujuan dan Target
• Usulan Kegiatan
• Kebutuhan
• Modal awal
• Proses Pelaksanaan
• Mekanisme pelaporan
• Anggaran
• Pengalaman/Keberhasilan sebelumnya
• Profil organisasi & contact person

G. JADWAL CALL FOR PROPOSAL
7-21Nov Pengumuman untuk call for proposal NFM dan minat sebagai SR
Pengumuman melalui website http://www.tbcareaisyiyah.org/
Batas akhir penerimaan proposal tanggal 21 november 2015 jam 23.59 WIB
23 Nov Pengumuman hasil seleksi dikirimkan langsung kepada mereka yang lolos seleksi
Dikirimkan melalui email yang bersangkutan
24-25 Nov Presentasi dan wawancara bagi kandidat SR yang lolos dengan syarat
25 Nov Pengumuman Final lolos seleksi melalui http://www.tbcareaisyiyah.org/

H. BATAS AKHIR & ALAMAT PENGIRIMAN PROPOSAL
Proposal yang telah ditulis dikirim ke Principal Recipient PR TB ‘Aisyiyah dalam bentuk Soft copy dan hard copy. Untuk format soft copy dikirim ke : admin@pr-tbaisyiyah.or.id
Hard Copy dikirimkan ke alamat :
PR TB PR TB ‘Aisyiyah NFM-GFATM
Jl. Dukuh Patra No. 25 Kelurahan Menteng Dalam, Kecamatan Tebet
Jakarta 12870

Tanggal akhir pengajuan proposal : 21 November 2015 jam 23.59

Advertisements

40 Blogger; Sumber Inspirasi Ku

Genap sudah 12 bulan tidak pernah mempublikasikan tulisan, hanya menjawab pertanyaan dari pengunjung Blog. Malam ini, saya mencoba merangkai kata kembali; terinspirasi oleh pertemuan dengan 40 Blogger hebat di kegiatan Workshop Blogger dalam rangka Perayaan TB Day 2015, yang dilaksanakan oleh SUBDIT TB, Kementrian Kesehatan RI bersama Puskomplik (Pusat komunikasi Publik) Kemkes dengan dukungan penuh dari KNCV TBC Foundation. KNCV adalah kantor tempatku bekerja saat ini.
Sejak pertama kali menulis di Blog tahun 2008, tujuan ku hanya satu, ingin berbagi ketakutan ku saat itu, ketakutan atas epidemi HIV, melihat begitu banyak orang-orang, teman, bahkan saudara yang terinfeksi, membutuhkan informasi bagaimana hidup sehat walau terinfeksi HIV, semangat pencegahan agar jangan ada lagi orang terinfeksi HIV. Jujur, tulisan ku belum banyak membantu, buktinya epidemi HIV semakin meningkat di Indonesia, dan semangat saya menulis terhenti maret 2014. Ironis
Belajar juga dari melihat jumlah kunjungan blog ku, yang sempat mencapai kunjungan terbanyak 1200 orang perhari, dan kemudian menurun karena tidak produktif, hanya 100 an orang per hari. Walaupun begitu masih banyak orang yang menhubungi ku berdasarkan informasi di Blog, mulai dari mahasiswa, pasien HIV, TB maupun masyarakat lainnya. Berdasarkan pengalaman itu, tahun lalu saya memberanikan diri untuk mengajukan kegiatan pelibatan Blogger, saat dapat promosi dari kantor sebagai Technical Officer ACSM. Kompetisi Blogger ternyata banyak menghasilkan tulisan yang menarik, tiap serial dua minggu-an ada 100 an tulisan berkompetisi, kegiatan berlangsung selama 8 serial dan hasilnya adalah makin banyak informasi tentang TB di Internet, mulai informasi tentang Stigma dan diskriminasi tentang TB, sampai informasi tentang TB HIV.
Tahun ini dalam rangka perayaan TB Day, saya kembali mengusulkan untuk melibatkan kembali Blogger, setelah diskusi panjang, akhirnya jadilah rencana Workshop Blogger. Pertemuan team Subdit ( Devi, Nurul, Dangan dan Silvi), WHO (Dita) bersama saya dengan Pak Andjari dari Puskomplik semakin mambuka mata ku. Puskomplik sejak tahun 2014 telah juga melibatkan Blogger sebagai desiminator informasi tentang JKN. Jadilah gayung bersambut, sehingga munculah hastag #sahabatJKN #lawan TB. Blogger adalah desiminator informasi yang mumpuni, belajar dari keberhasilan Puskomlik dalam mensosialisasikan program JKN ke masyarakat. Pertemuan saya dengan beberapa pemilik blog dibawah ini membuatku ingin kembali belajar menulis. Luar biasa, ada semangat baru dalam diri ketika  berinteraksi; Mba Fadlun yang sering dipangil bapak fadlun, ayu yang begitu kuat dan tegar, abang tigor yang kocak, mas uwan yang baca puisinya nyampe ke hati, atau mas aris yang suka jalan di saat subuh, semuanya keren.  Saya melihat semangat yang kuat dalam membentuk ikatan, kegembiraan, kebersamaan,  kepedulian terhadap sesama. Semangat itu telah mendorong ku kini untuk menulis kembali. Sebagai penghargaan terhadap para Blogger, saya coba cantumkan alamat blog-blog mereka di tulisan ini.

8950_10152856637527909_8729549213163769251_n

http://www.elisakoraag.com
http://www.kompasiana.com/dhevianggarakasih
http://www.ivegotago.com
http://www.errornita.blogspot.com
http://www.andiniharsono.blogspot.com
http://www.defiranc.com
www,juleshwa.blogspot.com
http://www.hananoyuri.com
http://www.ibufadlun.com
nannisa7.blogspot.com
http://www.NurulMusyafirah.com
http://www.uwanurwan.blogspot.com
http://www.induny4w4w4. blogdetik.com
http://www.kompasiana.com/novita_maria
http://www.nunung-suryani.blogspot.com
http://www.wayakomala.web.id
http://www.duniaspasi.blogspot.com
http://ariss.id

http://www.catatan-efi.com
http://nuzululku.wordpress.com/
http://alaikaabdullah.com
http://www.nchiehanie.com/
http://www.anakkrim.info
http://www.kompasiana.com/tigoragustinussimanjuntak
http://bangaswi.wordpress.com
http://www.novawijaya.com
http://keluargafauzi.blogspot.com
http://www.dobelden.com
http://www.sumartisaelan.com & kompasiana/sumarti_saelan
http://www.fitrian.net
http://novariany.com
http://www.sukamakancokelat.com
http://www.orin.supriatna.web.id
http://www.nunikutami.com
http://halamancermin.blogspot.con
http://www.msmahadewi.com
http://www.punyapista.com
http://www.ajenangelina.con
http://www.catatanoshin.blogspot.com

Terimakasih, telah berbagi teman-teman #sahabatJKN #Lawan TB..

Pondok Gede, 7 maret 2014, malam hujan sepulang kantor.

 

Mengenali TB MDR di Lingkungan Sekitar

Indonesia menduduki peringkat ke tiga dalam daftar High Burden
Countries. Insidens TB diperkirakan (laporan WHO 2005) sekitar 623.000 kasus. prevalensi semua kasus diperkirakan sekitar 1.4 juta pasien dimana 282,000 kasus baru BTA positif
(Perkiraan insidensi 128/100.000). Tuberkulosis juga menduduki peringkat 3
daftar 10 penyebab kematian di Indonesia, yang menyebabkan 146,000
kematian setiap tahun (10% mortalitas total). Tuberkulosis sering mengenai
orang berpendapatan rendah. Data awal survei resistensi obat OAT lini pertama yang dilakukan di Jawa Tengah menunjukkan angka TB-MDR yang rendah pada kasus baru (1-2%), tetapi angka ini meningkat pada pasien yang pernah diobati sebelumnya (15%). Limited and unrepresentative hospital data (2006) menunjukkan kenyataan dari TB-MDR dan TB-XDR, sepertiga kasus TB-MDR resisten terhadap Ofloxacin dan ditemukan satu kasus TB-XDR (diantara 24 kasus TB-MDR). Tuberkulosis MDR di Indonesia belum mendapat akses pengobatan yang memadai karena tidak semua obat yang dibutuhkan oleh pasien TBMDR tersedia di Indonesia.

TB MDR merupakan penyakit yang di sebabkan oleh bakteri tuberkolosis yang sudah kebal terhadap obat-obatan terutama: Ripampisin ( R) dan Izoniasid ( INH). Di Banyak kasus, kadang ditambah dengan obat-obatan lainya, misal nya Etambhutol ( E), dan obat-obatan lainnya. Karena Penularan nya berlangsung lewat media Udara yang terpapar bakteri tuberkulosis dari Bersin, batuk dan bahkan berbicara penderita TB MDR, Penyakit ini sepertinya akan menjadi wabah yang paling menakutkan di Indonesia masa mendatang.

TB-MDR pada dasarnya adalah suatu fenomena buatan manusia (man-made
phenomenon), sebagai akibat pengobatan TB tidak adekuat .

Penyebab pengobatan TB yang tidak adekuat
· Penyedia pelayanan kesehatan:
· Buku paduan yang tidak sesuai
· Tidak mengikuti paduan yang tersedia
· Tidak memiliki paduan
· Pelatihan yang buruk
· Tidak terdapatnya pemantauan program pengobatan
· Pendanaan program penanggulangan TB yang lemah
Obat: Penyediaan atau kualitas obat tidak adekuat
· Kualitas obat yang buruk
· Persediaan obat yang terputus
· Kondisi tempat penyimpanan yang tidak terjamin
· Kombinasi obat yang salah atau dosis yang kurang
Pasien: Kepatuhan pasien yang kurang
· Kepatuhan yang kurang
· Kurangnya informasi
· Kekurangan dana (tidak tersedia pengobatan cuma-cuma)
· Masalah transportasi
· Masalah efek samping
· Masalah sosial
· Malabsorpsi
· Ketergantungan terhadap substansi tertentu

Pencegahan terhadap terjadinya resistensi OAT

Pencegahan terhadap terjadinya resistensi terhadap OAT ( TB MDR) dapat dilakukan dengan penguatan di Layanan pengobatan Tuberkolosis awal terutama di Pengobatan Kategori I dan II. Penguatan tersebut dapat dilakukan dengan cara-cara berikut:
· Pengelompokkan kasus pasien TB secara tepat
· Regimen obat yang adekuat untuk semua kategori pasien
· Identifikasi dini dan pengobatan yang adekuat untuk kasus TB resisten
· Intergrasi program DOTS dengan pengobatan resisten TB akan bekerja
sinergis untuk menghilangkan sumber potensial penularan
· Pengendalian infeksi, pengunaan masker, kamar terpisah, dan sistem sirkulasi udara dan Cahaya ( ventilasi ) di rumah pasien  sangat perlu ditekankan pada Keluarga dan Pasien TB MDR agar tidak menular ke orang-orang sekitar nya.

Cara Mengenali Saudara atau keluarga yang terinfeksi TB, termasuk TB MDR

1. Batuk tidak berhenti selama dua minggu atau lebih

2. Berkeringat saat malam hari

3.  Nafsu makan kurang

4. Berat Badan turun

5. Pernah di obati OAT kategori I dan atau II sebelum nya

6. Pemeriksaan Mikroskopis menunjukan BTA ( Basil Tahan Asam) Positif

7. Hasil kultur biakan menunjukan resistensi minimal dua obat Ripampisin dan INH

8. Dengan beberapa pertimbangan jika pemeriksaan resistensi lewat GeneXpert :Ripampisin resistensi, pasien sudah dapat di Obati dengan terapi MDR.

Untuk saat ini pengobatan MDR telah terdapat di Kota Jakarta ( RSU Persahabatan), Surabaya ( RSU Dr Soetomo), Malang ( RSU Syaiful Anwar), Solo ( RSU Mulawardi), Makassar ( RSU Labuhan Bajo), Bandung ( RSU Hasan Sadikin), Medan ( RSU Pringadi) dan sedang di persiapkan untuk di Bali dan Daerah lainnnya.

Pengobatan TB MDR mengharuskan pasien untuk datang tiap hari ke Rumah sakit atau Puskesmas yang telah ditetapkan dan meminum obat dalam pengawasan langsung petugas rumah sakit.

Longsari “Dukungan komprehensif membantu ku sembuh dari TB XDR”

 

Longsari, lelaki 50 tahunan asal Pasaman Sumatera Barat, terlihat bahagia di RSUP persahabatan. Hari ini ( 18 Januari 2012)  beliau diberitahu bahwa  akan  bebas  dari rutinitas minum obat. Setiap hari selama 20 bulan dia meminum Pirazinamide 1500, Levofloxaxin 1000, Etionamide 750, Cycloserin  750 passer 4 gram dan B6 150. Dia telah dinyatakan sembuh dari TB XDR  ( Tubercolosis extra drug resistance / infeksi tuberkolosis  yang kebal sangat banyak obat baik kategori satu maupun dua) oleh Tim Ahli Klinis di RSUP Persahabatan Jakarta Timur. “ Ini perjuangan yang luar biasa.”  ungkap nya. Perjuangan longsari menjadi semangat baru bagi semua pasien TB  XDR dan MDR  di RSUP Persahabatan atau mungkin di Indonesia. Longsari adalah pasien kedua TB XDR yang dinyatakan segera berhenti pengobatan dan sembuh di Indonesia. Bulan lalu seorang Perempuan Ny E, petugas di sebuah rumah sakit swasta terkemuka telah berhasil menjadi orang pertaman sembuh dari TB XDR di Indonesia.

Kisah Longsari dimulai ketika ia mengalami batuk-batuk  dan sesak nafas saat berkunjung ke rumah Putra nya di BSD Tangerang. Dokter yang merawat nya meminta untuk diperiksa MGIT ( pemeriksaan kultur( biakan) dari spesimen dahak) karena mempunyai riwayat pengobatan OAT sebelum nya.  Longsari didiagnosis TB MDR.  Setelah 2 bulan, akhir hasil  pemeriksaan keluar. Dia terbukti  bukan TB MDR, melainkan TB XDR.  Semua nya berubah sejak itu, rencana awal hanya liburan ke jakarta, menjadi berubah. Dia harus menetap di Kota ini minimal dua tahun untuk kebutuhan pengobatan.

“ Keputusan yang sulit sebenar nya, karena saya harus meninggalkan murid, rumah dan mengurus Izin ke sekolah tempat  mengajar.  Tapi demi kesehatan, saya mengambil keputusan untuk pindah  sementara untung  keluarga dan pihak sekolah sangat mendukung saya” jelas Longsari.

Sejak itu rutinitas minum obat tiap hari ke RSUP persahabatan dilakoni nya.  Tiap hari Longsari bolak-balik dari rumah Putra nya di BSD tangerang ke RSUP Persahabatan. Butuh dua jam perjalanan dari rumah ke rumah sakit , itu jika tidak ada kemacetan di jalanan Jakarta. Jika macet , bisa sampai 4 jam.  Perjalanan yang jauh di tambah dengan efek samping yang berat membuat perjalanan itu menjadi momok menakutkan bagi Longsari.

Hampir setiap pagi ketika akan berangkat berobat Longsari merasakan perut nya bergejolak karena mual. Sering muntah setiap mau makan atau minum.  Asam urat yang tinggi pernah membuat nya tidak mampu untuk membuka baju nya sendiri.  Satu kali terpaksa memotong kaos yang digunakan saat akan berganti pakaian. Asam urat membuat semua persendian nya menjadi kaku dan Gilu. Meminum Passer, adalah derita lain yang dialami nya selama 20 bulan pengobatan.

“ Meminum Passer seperti  meminum krikil, terasa sangat menganjal di tengorokan dan membuat perih di perut”  ujar nya

“. Dukungan yang komprehensif dari petugas dan keluarga telah berhasil membuat ku menang dalam bertarungan melawan TB XDR, terimaksih untuk petugas, teman-teman di kelompok pasien dan keluarga yang telah mendukung ku selama ini” Longsari menambahkan.

Longsari  termasuk pasien yang paling aktif berdiskusi dengan petugas konseling dan di kelompok dukungan  bagi pasien TB MDR/XDR di RSUP Persahabatan.

Mengenal Kelompok Dukungan Sebaya

Dukungan sebaya adalah dukungan untuk dan oleh orang dalam situasi yang sama.

• Dukungan sebaya meliputi orang yang menghadapi tantangan yang sama seperti pasien dengan infeksi tertentu, komunitas tertentu, orang-orang dengan permasalahn yang sama misalnya: Dapat juga perempuan dengan  HIV dan atau TB MDR, pasangan Pasien, orang yang baru didiagnosa  HIV dan atau TB MDR dan lain-lain

• Dukungan sebaya bisa diantara seseorang yang menghadapi tantangan untuk pertama kalinya dengan seseorang yang telah mampu mengelolanya. Ini dapat berarti mengkaitkan seseorang yang baru memulai pengobatan dengan seseorang yang sudah mengelola pengobatan dan efek samping dengan baik.

Keuntungan Dukungan Sebaya

Mengurangi isolasi

Meningkatkan dukungan sosial

Mengurangi stigma

Mengurangi sumber intimidasi dari dukungan

Membantu berbagi pengalaman

Membantu orang untuk melihat bahwa hidup dengan HIV dan atau TB MDR dan efek samping adalah mungkin

Mengurangi ketergantungan pada petugas kesehatan

Mengurangi beban kerja petugas kesehatan

Meningkatkan kualitas hidup bagi Pasien HIV dan atau TB MDR

Meskipun pasien belajar banyak dari petugas kesehatan, ada beberapa hal lebih baik dipelajari dari orang yang mengalami permasalahan dan hambatan yang sama. Baik di RS, pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) , dukungan sebaya menjadi bagian penting dari penyediaan perawatan yang didapatkan pasien.

Memperkenalkan Dukungan Sebaya :

dengan membicarakan secara teratur tentang dukungan sebaya pada pasien dukung mereka untuk mengaksesnya.

Menegaskan keuntungan-keuntungan dari dukungan sebaya.

Memahami ketakutan-ketakutan mereka.

Mencari tahu apa saja sumber lokal yang tersedia dan mengetahui dengan rinci tentang kelompok-kelompok dalam wilayah itu.

Membangun KDS untuk:

Pasien Baru baru menerima Diagnosis HIV dan Atau TB MDR, pasien mulai terapi ARV, pasien Konversi, non konversi, pasangan Pasien, orang dalam pengobatan.

Membangun kelompok-kelompok pasca tes.

Menjalankan sesi-sesi kelompok edukasi.

Mengidentifikasi idividu yang disiapkan bertindak sebagai pendukung sebaya Memahami Mengapa orang berhenti menggunakan dukungan sebaya: Takut kerahasiaan terbongkar. Takut bertemu orang baru. Tidak mengetahui keberadaan dukungan sebaya. Terlalu sibuk untuk memperoleh dukungan sebaya. Tidak bisa mengikuti pertemuan dukungan sebaya. Tidak punya uang transportasi. Perlu menjaga anak. Tidak mendapat dukungan dari pasangan untuk hadir. Harus menjelaskan kemana mereka pergi kepada orang lain. Mempunyai komitmen lain.

Cara Menawarkan Dukungan Sebaya:

Dukungan sebaya Individual: Jika seseorang baru saja didiagnosa HIV dan ata TB MDR atau baru memulai pengobatan, akan sangat membantu mengkaitkan mereka kepada seseorang yang sudah menerima keadaannya dan dapat membagi pengalaman serta memberi dorongan.

Kelompok Edukasi : Seringkali Pasien TB MDR merasa sendiri dan diisolasi. Bertemu dengan pasien lain dapat mengurangi isolasi dan mendorong mereka untuk hidup lebih baik. Kelompok ini dapat bergaul atau berfokus pada aktifitas-aktifitas peningkatan penghasilan. Kelompok ini biasanya dijalankan untuk dan oleh PasienHIV dan atau  TB MDR dapat juga diadakan lebih dulu oleh petugas kesehatan

Kelompok Dukungan  : Orang yang akan memulai Pengobatan, baru memulai ART, non konversi, konversi, re konversi, dsb) akan merasa terbantu bertemu satu dengan yang lain untuk saling mendukung. Peran petugas kesehatan adalah membentuk terjadi dan memfasilitasi kelompok sampai mereka bisa menjalankannya sendiri

Contoh Cara untuk menawarkan dukungan sebaya:

Klub Pasca-Tes:

Kelompok ini diperuntukkan bagi semua orang yang telah menerima hasil Diagnosis TB MDR.. Mereka sering berfokus pada pemberian informasi dasar TB MDR, aspek kepatuhan dan bagaimana mengakses layanan jika terjadi masalah selama pengobatan . Petugas perlu mendiskusikan situasi yang kondusif bagi anggota untuk saling bertemu dan mendiskusikan semua isu-isu yang relevan. Kelompok edukasi (5 menit) Sesi kelompok edukasi dapat digambarkan sebagai pengembangan/lanjutan dari kunjungan ke pusat kesehatan dimana tidak hanya kebutuhan fisik dan medis ditemukan, tetapi perhatian pada edukasi, aspek sosial dan psikologis yang disepakati dalam pembentukan kelompok. Sesi kelompok edukasi dapat membantu anda untuk tidak menghabiskan waktu di pusat kesehatan.

Pergunakan pertemuan kelompok untuk :

• Mendidik pasien tentang kondisi mereka.

• Membangun dukungan sebaya dan keahlian.

• Memperkenalkan pengelolaan diri.

• Menjalankan tindak lanjut klinis.

• Memusatkan perhatian pada kesulitan-kesulitan.

Dalam membentuk dukungan sebaya di wilayah kita perlu :

• Temukan sumber lokal yang tersedia agar pelayanan tidak tumpang tindih. • Konsultasi dengan Pasien TB MDR dengan menggunakan system pelayanan kesehatan.

• Mengidentifikasi perbedaan strategi dalam dukungan sebaya: baik dukungan satu persatu, dukungan kelompok atau klub pasca test, dan tentukan strategi mana yang ingin anda kembangkan selanjutnya.

• Identifikasi orang yang tertarik mengembangkan sistem dukungan sebaya (baik petugas kesehatan maupun Pasien  HIV dan atau TB MDR).

• Adakan pertemuan dengan petugas kesehatan dan Pasien TB MDR sehingga anda dapat mendiskusikan rencana anda.

• Ketika membentuk KDS, sangatlah penting untuk pertimbangkan: 1 Acara dan waktu. 2 Biaya dan siapa yang membayar. 3 Untuk siapa kelompok dibentuk. 4 Siapa yang akan memimpin kelompok. 5 Bagaimana kerahasiaan akan dijaga. 6 Bagaimana petugas kesehatan akan mendukung para fasilitator. 7 Peran dari petugas kesehatan. 8 Bagaimana memperkenalkan kelompok pada masyarakat luas.

Dalam membentuk kelompok edukasi di pusat kesehatan :

• Konsultasi dengan Pokja HIV dan atau tim ahli klinis anda

• Konsultasi dengan Pasien  HIV dan atau TB MDR yang menggunakan system pelayanan kesehatan

• Identifikasi orang yang tertarik mengembangkan system dukungan sebaya (baik petugas kesehatan maupun )

• Undang mereka untuk mendiskusikan rencana

• Ketika membentuk sesi kelompok edukasi, sangatlah penting untuk pertimbangkan: o Acara dan waktu. o Biaya dan siapa yang membayar. o Untuk siapa sesi kelompok edukasi dibentuk. o Bagaimana memilih orang yang terlibat dalam kelompok o Kegiatan apa yang dilakukan dalam sesi-sesi. o Apa peran anggota kelompok. o Apa peran petugas kesehatan. o Bagaimana memperkenalkan kelompok edukasi pada masyarakat luas.

Contoh Kerangka sesi Kelompok Edukasi  :

Ucapan selamat datang dan Perkenalan Setiap peserta memperkenalkan diri 30 menit Sesi Kelompok Edukasi (hanya sesi pertama) Peserta meluangkan sedikit waktu untuk berbicara tentang:

• Kehidupan mereka, pekerjaan dan keluarganya.

• Harapan peserta dari sesi kelompok edukasi (mis; apa yang ingin mereka peroleh)

• Bagaimana mereka dapat memberi kontribusi pada sesi kelompok edukasi (setiap orang dapat mengkontribusikan sesuatu meskipun hanya pelajaran dari pengalaman pribadi)

• Petugas melanjutkan dengan Pertanyaan-pertanyaan dari kelompok.

• Tata cara kelompok edukasi (aturan-aturan sebagai panduan operasional kelompok). 30 menit Topik hari ini, misalnya: Pencegahan dalam konteks perawatan klinis Petugas kesehatan menyediakan informasi yang berkaitan, berinteraksi dengan peserta bila memungkinkan. Beberapa saran untuk membuat sesi interaktif, termasuk bertanya tentang:

• Apa yang anda ketahui tentang pencegahan infeksi di rumah?

• Bagaimana anda mulai mengenal standar pencegahan dalam hidup anda?

• Adakah seseorang disini yang pernah menemui masalah saat memakai masker di tengah masyarakat? Petugas kesehatan sebaiknya menyatukan informasi dengan apa yang telah diajarkan selama pelatihan dan gunakan Kertas plano Edukasi Pasien.

Bagaimanapun, sangat penting menggabungkan hal ini dengan pandangan dan nilai-nilai kelompok.

15 menit Tanya Jawab Petugas Kesehatan sebaiknya menanyakan kelompok jika ada pertanyaan tentang:

• Topik hari ini

• Kesehatan mereka secara umum, masalah mereka belakangan ini atau perjanian-perjanjian yang akan datang 15 menit Perencanaan dan Penutup Tanyakan jika kelompok ingin mendiskusikan sesuatu secara khusus pada sesi selanjutnya, jika tidak topik akan dikomunikasikan lewat agenda. Ucapkan terima kasih untuk kehadiran peserta.

INH sebagai Profilaksis TBC untuk Pasien HIV

Sebuah penelitian Yang dilakukan beberapa Ahli di Botswana mengungkapkan bahwa pemberian profikasis INH ( Izoniasid ) bagi pasien HIV yang belum terinfeksi kuman TB/TBC terbukti efektif  dalam upaya pencegahan. Pemberian Profilaksis INH selama lebih dari 6 bulan akan mampu melindungi ODHIV  dari infeksi TB walaupun tinggal di daerah pandemik TB. Ini akan lebih efektif jika dilakukan di CD4 lebih dari 200/ul.

Penelitian merupakan   hal yang sangat mengembirakan bagi Teman-teman yang hidup dengan HIV dan AIDS. Sebuah harapan baru untuk bisa bekerja dan hidup lebih sehat walau mungkin tinggal dan bekerja di daerah yang pandemik TB.

untuk informasi selengkap nya silahkan klik link berikut:

Samandari T, 6-month versus 36-month……Lancet 2011 e-pub ahead of print.pdf

Moga Esok Akan lebih Sehat

Menyebalkan …

Hanya satu kata itu yang terlintas di benakku ketika aku mengetahui kuman merugikan di tubuhku ternyata telah kebal terhadap obat biasa …

Kini aku harus beralih pada sebuah resiko dan berbagai pilihan ..

HIDUP ATAU MATI ??

MENUNDA MIMPI ATAU MENINGGALKAN MIMPI ??

MAJU ATAU MUNDUR ??

Dan berbagai macam pilihan lainnya ..

Aku memutuskan untuk hidup .

Aku ingin menunda mimpi agar kelak bisa meraihnya.

Aku juga ingin maju.

Mana mungkin aku menyerah begitu saja setelah aku harus berhenti kuliah …

Terlebih lagi aku harus meninggalkan teman-teman ku di kampus,meninggalkan sahabatku, teman satu organisasi ..

Ditambah harus meninggalkan kakak-kakak kelasku yang ganteng-ganteng ..

OH TIDAAAKK !!!

Penyakit seperti ini adalah penyakit yang ringan ….

Efek obat adalah masalah yang kecil..

Karena yang besar, paling besar, dan Maha Besar adalah TUHAN !!

Hhhhh …

Itu adalah kesan pertamaku ketika hendak memasuki program TB MDR ..

Dan hari ini merupakan hari pertama aku harus menyentuh obat …

Oh My God …

Baru mendengar efek sampingnya aja udah takut banget ..

Apalagi ampe minum obat itu ??

Tapi aku harus konsisten ..harus punya sikap ..

Di hari pertama minum obat, aku menganggap ini sebuah tantangan ..

Aku menghadapinya dengan santai ….

Ku minum semua hingga masuk ke dalam saluran pencernaanku ..

Saat itu aku masih belum merasakan apapun setelah minum obat dan setelah suntik ..

Tapi ternyata…..???

Efeknya berasa ENAM jam setelah aku minum obat …

Kepala pusing ..

Dan itu benar-benar berasa berat ..kepalaku seperti tertarik oleh magnet ..

Seolah-olah hendak lepas dari kerangka kepalaku..

Badan pegel-pegel..

Berasa habis ngangkat pulau Kalimantan yang merupakan pulau terbesar di Indonesia..

Demam pula ..

Badan berasa lemas tak berdaya dan berasa dingin meski cuma kena angin sepoi-sepoi sesekali..

Duh.. ga tahan banget ..

Tapi penderitaan pertama belum selesai sampai di situ ..

Hari kedua di soka bawah,, lagi lagi harus minum obat..

Dengan sejuta efek samping yaaaannnngggg ……..

KURANG BERSAHABAT…

Lagi-lagi hal yang sama seperti hari pertama pun datang lagi tanpa diundang dan pergi tanpa pamitan…

Namun perbedaan antara hari pertama dan kedua terletak pada rasa di kulit …

Yup yup yup…

Kulitku GATAL-GATAL ….. T_T

Namun belum seberapa …

Dibanding dengan hari ketujuh …

Di hari ketujuh itu kulitku benar-benar gatal-gatal daaannnnn….

BERJERAWAT …. o_O

Lanjut lagi hari berganti hari ….

Efek samping datang silih berganti …

Gatal-gatal mulai hilang beberapa hari kemudian ..

Namun,aku malah SUSAH TIDUR …

Jadi kayak lagi jaga pos kamling…

Mata merem ga bisa tidur ..

Apalagi dengan mata terbuka …

Ckck

Setelah menginjak tiga minggu ..

Efek samping yang ada hanya sulit tidur di kala malam …

(Untung bukan sulit nafas )…

Dan pusing yang sangat-sangat mengganggu di siang hari …

Aduuh ampyuunn deehh …

Mungkin saat ini aku pusing karena terlalu banyak diam…

Lain kali aku lari-larian aja kali ya biar ga pusing ??

Kini satu bulan tepat …

Eng…ing….enngg …

Efek kali ini rada rada …..

Puyeng ampe malem dan ga bisa tidur …

Yaaahhh …..

Jadi kayak kelelawar …

Mungkin bisa gantian jadwal kerja ama batman lain waktu…(??)

Mata kicep-kicep..

Mulut menguap terus-menerus …

Ketika ku coba untuk tidur ….

TAARRRAAAA>>>

Tetep ga bisaa tidur …

Hooaaahhhmmm…

Kini mulai beranjak ke bulan kedua …

YEEAAAHH..

Ga ada pusing sampe malem,,

Ga ada gatel-gatel..

Belum ada mual-muntah berkepanjangan..

Hanya mual dan muntah sesekali..

Dan sempat terjadi sebanyak tiga kali..

Tapi kemudian mual muntah itu berlalu begitu saja..

Tapi ga bisa tidur malem tetep lanjut …

(Teuteup)

Dan hal inilah yang benar-benar paling mengganggu mental..

Mulai membayangkan indahnya masa lalu..

Seolah lupa dengan masa kini..

Berharap aku tak pernah terlahir..

Berharap dapat kuputar waktu.. (mimpi bangeett)

Berharap ….

Pokoknya mengharap yang aneh-aneh yang jelas-jelas ga mungkin terjadi..

Hhhh…

Tapi,, beruntung aku punya hati yang saat itu menyadarkanku…

Hatiku berkata ….

’hadapi takdirmu …

Kau jauh lebih kuat dari apapun bila kau percaya pada dirimu bahwa kau mampu..

Kau akan menjadi lebih kuat bila kau berusaha untuk maju..

Kau pernah terjatuh ..

Setiap orang pernah terjatuh..

Malulah pada dirimu jika kau hanya bisa berharap yang mustahil..

Keajaiban tak akan datang tiba-tiba..

Semua musibah dan kesenangan yang didapat setiap orang bukan datang dengan tiba-tiba…

Mereka berusaha..

Mereka yang bahagia telah menempuh takdir mereka yang berat..

Kini giliranmu..’

Aku pun tersadar …

Kalau semangat muda sudah luntur, bagaimana nasib bangsa selanjutnya ??

Ckck

Sejak saat itu..

Aku selalu berpikir..

Bukan bagaimana caranya untuk lari..

Juga bukan untuk cepat mengakhiri..

Tetapi…

Bagaimana caranya untuk bisa bertahan hingga hari esok..

Bagaimana caranya untuk bisa tetap maju..

Dan bagaimana caranya untuk bisa menjadi lebih baik dari hari kemarin…

Waahhhh …

Akhirnya setelah berpikir di bulan kedua ..

Aku benar-benar mendapat kekuatan yang amat sangat…

Hingga kini hampir masuk gerbang bulan ketiga..

Di sini aku merasa sangat bosan…

Entah kenapa..

Padahal,,efek yang aku rasa masih hanya tidak bisa tidur..

Mungkin karena tak bisa tidur aku jadi berkhayal lagi…

Aku mulai merasa down lagi seperti di bulan kedua..

Tapi kali ini berbeda..

Aku bukan berharap untuk mundur..

Tapi aku berharap…

Lebih baik aku mati saja …

Yaaa …

Yang kupikirkan saat di bulan ketiga ini,, aku hanya menginginkan satu hal..

MATI..

Lagi dan lagi pemikiran itu terus makin kuat..

Hingga aku tersadar ..

Jika aku mati,

Bagaimana dengan orang-orang yang akan bersedih ???

Jika aku mati,

Sia-sia aku meninggalkan kuliahku,

Meninggalkan sahabatku,

Bahkan aku pasti mengecewakan sahabatku yang mengharap kesembuhanku…

Sungguh bodoh aku mengharapkan kematian..

Aku sudah memilih untuk mengikuti program ini,

Dan berjanji akan berusaha untuk sembuh..

Sungguh pengecut bila aku memilih STOP sedang aku sudah menjalaninya sejauh ini..

Lagi-lagi…

Hari pun berganti.

Masuk bulan keempat..

Mual mulai terasa..

Muntah pun sudah aku alami..

(Awal aku muntah,, terjadi hanya tiga kali di awal bulan kedua..)

Tapi kini,,,

Hampir tiap weekend setelah sampai rumah,pasti mau muntah terus..

Kadang masih bisa ditahan..

Tapi kadang juga keluar begitu saja tanpa ada peringatan apapun..

Wow…

Menegangkan..

Sungguh sulit dikendalikan sebab bisa keluar mendadak tanpa peduli tempatnya..

Kini masuk akhir bulan keempat…

Kira-kira sekitar dua minggu terakhir di bulan keempat ini,

Aku mulai merasa mual setiap hari..

Untung di minggu kedua terakhir ini masih bisa ku tahan gejolak di dalam perutku ..

Tapi, entah sampai kapan aku bisa bertahan…

Wew…

We’ll see…

Inilah satu minggu terakhir di bulan keempat..

Dua hari berturut-turut, aku mual setengah jam setelah minum oabat dan muntah setiap satu jam setelah minum obat..

Beruntung obat ga keluar..

Memang obat ga keluar…

Tapi kronologi bagaimana terjadinya muntah, itu sungguh menyiksa..

Sebelum semua isi perutku meloncat keluar,

Setengah jam setelah aku meminum obat,

Di dalam perutku terasa seperti ada goncangan yang dahsyat..

Seperti pergerakan lempeng bumi yang bertabrakan…

Lalu bergesekan dan menimbulkan sebuah gelombang tsunami yang dahsyat…

Aww..

Itu sungguh tak menyenangkan..

Perutku terasa sakit seperti diremas-remas…

Namun dua hari setelahnyaaaaa ….????

Setelah hari kedua itu aku mampu menahan tsunami yang hendak keluar dari mulutku dengan cara tidur telungkup….

Aku sungguh merasa hebat saat mampu mengendalikan gejolak tersebut..

Hahahaha…

Awalnya aku pesimis kalau aku bisa meng-handle mual ini..

Tapi kemudian aku berusaha meyakinkan diriku bahwa aku kuat..

Aku mampu..

Dan aku pasti bisa..

Syukurlah sugesti yang aku beri pada diriku sendiri mampu bekerja dengan baik ..

**Kita akan menjadi seperti apa yang kita pikirkan..

Saat kita berpikir tidak mampu,,

Maka selamanya tak akan mampu…

Pikiran positif akan memberikan dampak positif bagi diri kita..

Dan kini baru saja memasuki bulan kelima..

Karena sebelumnya sudah ku katakan aku mual dan muntah,

Dokter memberikan obat mual yang bisa dibilang memang cukup manjur..

Dan tak ada rasa mual lagi juga tidak muntah setelah minum obat…

Tapi sepertinya pengaruh susah tidur masih belum akan hilang …

Hmmm…

Entah apa yang akan terjadi setelah iniii….

Yang jelas apapun yang akan terjadi,

Kita selalu punya pilihan..

Pilihan untuk maju…

Mundur, atau bahkan hanya diam di tempat dan menjadi penonton…

Yang penting tetap semangat dan memandang lurus ke depan….

Berjuang untuk terus maju…

Sebab hidup harus menjadi lebih baik dari hari kemarin..

Bukan berharap kembali ke hari kemarin…

HADAPI TAKDIRMU … ^_^

tulisan ini di muat atas persetujuan penulis seorang perempuan yang sedang berjuang meraih kedewasaan dan kesembuhan dari TB MDR di RS Persahabatan)

Pasien Pertama TB MDR Yang Sembuh Di Indonesia

Aku mengenal Sosok lelaki 40 an, berperawakan kecil dengan kulit hitam manis. Muhammad Nur, di Poli MDR RS Persahabatan. Beliau terlihat kalem, tapi jika berbicara semangat hidup nya yang tinggi terlihat jelas. M. Nur, adalah pasien pertama yang dinyatakan sembuh dari TB MDR di Indonesia setelah menjalani pengobatan selama 19 bulan . Beliau mengikuti program PMDT ( Programmatic Manangement on Drug resistance Tubercolosis), yang dilaksanakan KNCV / Royal Nedherlands Tubercolosis Foundation bekerjasama dengan Depkes dengan dua site untuk pilot project yakni. RS persahabatan di Jakarta dan RSU Soetomo di Surabaya.

Muhammad Nur, memulai pengobatan Agustus 2009. setiap hari ia minum 14 butir obat sekali minum yang terdiri : Pirazinamide, Ethambuthol, Cicloserine, Levofloxacin, di tambah dengan suntikan Kapreomicin selama 6 enam bulan.

Sebagai pasien yang menjalani terapi MDR di awal program, M Nur, mempunyai pengalaman-pengalaman yang menarik, mulai dari efek samping obat yang membuat asam urat nya meningkat, rasa pusing dan mual yang sangat atau di suntik di bawah Pohon.

Kisah suntik dibawah Pohon adalah pengalaman unik dari beliau. pengalaman ini sering beliau utarakan di berbagai kesempatan. Sebagai pasien awal, fasilitas penunjang program sangat terbatas. saat beliau di pindahkan dari RS  persahabatan ke Puskesmas Kramat Jati beliau mendapat pengalaman luar biasa tersebut. Puskesmas Kramat jati  belum memiliki Poli  sendiri untuk TB MDR saat itu, ada ketakutan juga dari petugas akan tertular.  tapi semangat pak Nur dan semua petugas TB MDR di Puskesmas, pengobatan tetap dilakukan dengan segala keterbatasan. Akhirnya untuk suntik dan minum obat tiap hari Muhamamad Nur menjalani di bawah Pohon.

” sedikit risih mas” katanya saat ditanya bagaimana perasaan beliau saat itu. risih karena pantat nya hampir tiap hari di lihat oleh pengunjung yang melintasi halaman puskesmas.

Luar biasa, Muhammad Nur, bertekad tidak  patah semangat. Beliau tetap  menjalani pengobatan di tengah semua hambatan dan keterbatasan: menjaga kepatuhan minum obat, menjalani pola hidup sehat dan selalu mendiskusikan semua permasalahan nya dengan petugas di layanan. Buah dari itu semua, beliau di nyatakan sembuh pebruari 2011.

Saat ini Muhammad Nur melanjutkan hidup  dengan lebih sehat dan bahagia. harapan nya usaha jasa pengetikan nya dapat berkembang lebih baik agar ekonomi keluarga  bisa lebih terdongkrak.

” aku seperti lahir kembali” komentar nya di akhir pembicaraan kami

CONGRATULATION  MUHAMMAD NUR…

TB MDR Di Indonesia


Tubercolosis Multi drug resistance, ( TB MDR) adalah bakteri tubercolosis yang mengkuatirkan saat ini. Kemunculan TB MDR di sebabkan kurang adekuat nya pengobatan TB, baik kategori satu atau pun dua . Sejak ditemukan kasus resistensi terhadap pengobatan OAT ( rifampisin) di awal tahun 1970 an, kuman TB resisten semakin berkembang setiap tahun nya. Mulai dari negara-negara di semenanjung Balkan ( Estonia, Lithuania), eropa, Amerika sampai sebahagian besar wilayah Asia. Indonesia saat ini tercatat sebagai negara dengan populasi penderita TB MDR ke lima terbanyak di dunia.
Terdapat 2 jenis kasus resistensi obat yaitu kasus baru (primer) dan kasus telah diobati sebelumnya ( Sekunder).
Secara umum resitensi terhadap obat anti tuberkulosis dibagi menjadi :

• Resistensi primer ialah apabila pasien sebelumnya tidak pernah mendapat pengobatan OAT atau telah mendapat pengobatan OAT kurang dari 1 bulan Resistensi ini ialah apabila kita tidak tahu pasti apakah pasien sudah ada riwayat pengobatan OAT sebelumnya atau belum pernah
• Resistensi sekunder ialah apabila pasien telah mempunyai riwayat pengobatan OAT
minimal 1 bulan

Kategori TB-MDR

Terdapat empat jenis kategori resistensi terhadap obat TB :

1. Mono-resistance: kekebalan terhadap salah satu OAT

2. Poly-resistance: kekebalan terhadap lebih dari satu OAT, selain kombinasi isoniazid dan Rifampisin

3. Multidrug-resistance (MDR) : kekebalan terhadap sekurang-kurangnya isoniazid dan Rifampicin

4. Extensive drug-resistance (XDR) : TB- MDR ditambah kekebalan terhadap salah salah satu obat golongan fluorokuinolon, dan sedikitnya salah satu dari OAT injeksi lini kedua (kapreomisin, kanamisin, dan amikasin)

Di Indonesia sendiri , pengobatan untuk TB MDR telah bisa di akses di dua kota yakni, Jakarta yang berpusat di Rumah Sakit Persahabatan dan Di Kota Surabaya yang berpusat di RSU Dr Soetomo. Dalam waktu dekat akan ada pengembangan layanan di Kota Malang, Solo dan Makasar. Pengobatan Pasien TB MDR, dilakukan lewat program yang jalankan oleh KNCV bekerja sama dengan Departemen kesehatan.

Dukungan Psikososial

Pengobatan untuk TB MDR memakan waktu yang lebih lama; sekitar dua puluh empat bulan, lebih mahal dan lebih banyak efek samping yang dialami pasien. Pasien TB MDR membutuhkan lebih banyak dukungan karena permasalahan tersebut. Dukungan karena kebosanan terhadap waktu pengobatan, dukungan pembiayaan yang lebih memadai agar kontinuitas pengobatan tetap berlangsung, dukungan dari semua pihak untuk membantu pasien melewati berbagai efek samping, mulai Mual, muntah, sakit di pergelangan tangan, gangguan pendengaran sampai pada tahap tuli, gangguan penglihatan bahkan sampai pada gangguan kejiwaan seperti shizoprenia.

Dukungan Psikososial Pada Pasien TB MDR setidak nya bisa dilakukan lewat:
• Konseling ( koseling kepatuhan, disclosure, penerimaan status, efek samping, dll)
• Edukasi
• Pengembangan kelompok diskusi
• Pengembangan kelompok dukungan sebaya
• Pengembangan lingkungan yang mendukung
• Pengembangan jejaring yang adekuat
• Pengembangan pola-pola income generating

Dukungan psikososial yang diberikan pada pasien melewati beberapa tahap kegiatan:

• Assestment
• Pelayanan kepada pasien TB MDR secara Individual
• Pengkoordinasian layanan dukungan
• Monitoring dan evaluasi
• Pendokumentasian

Kegiatan dukungan pada pasien TB MDR, dimulai dari saat pasien di nyatakan suspek TB MDR, selama menjalani pengobatan dan persiapan setelah di nyatakan sembuh.

Pendamping Orang-orang terpinggirkan

 

This slideshow requires JavaScript.

( Manajer kasus HIV dan TB MDR )

Matahari baru muncul dari persembunyian malam. aku siap sarapan dengan lauk dan nasi , hasil masakan sendiri.  Buru-buru mengunci pintu konntrakan. sebelum berangkat,  ku cantelin di pintu “ kerja, pulang jam 6 sore”.  Jalanan  Jakarta yang macet, perjalanan panjang dari Pondokgede ke penjaringan ku tempuh dalam satu setengah jam. Hari ini jadwal untuk berdiskusi dengan Lisa . Lisa terinfeksi HIV dan  mau melahirkan. Pertemuan ini sudah direncanakan dua minggu sebelumnya. Ia harus di pastikan mengerti bagaimana menghadapi proses kelahiran yang bisa mengurangi resiko penularan pada bayi nya… Walau Lisa sudah menjalani propilaksis di RSUD Koja. Lisa harus menjalani persalinan secara Caesar serta memilih untuk menyusui bayi nya atau tidak , agar bayi nya selamat dari virus yang telah membuat nya ter jauh dari keluarga, dan lingkungan nya.

Aku  mendampingi Lisa sejak 5 bulan lalu, ketika suaminya yang biseksual meninggal dunia. Lisa tak tahu prilaku seksual suaminya sebelum nya, menangis meraung-raung ketika diwariskan HIV. Sampai saat ini aku tak  memberitahukan tentang itu.  Aku takut membuat nya bersedih dan kecewa. Membiarkan si suami pergi dengan tanda tanya besar di benak nya mungkin akan lebih baik. Biarlah Lisa tahu suami nya seseorang yang alim bersorban. Biarlah  tahu suaminya setia, tidak pernah bergaul dengan wanita lain,  sangat membenci narkoba. Biarlah Lisa tak pernah bisa mengerti kenapa suami nya tertular HIV. Karena baginya suami nya adalah suami terbaik yang tuhan kirim untuk nya.. Suami yang penuh kasih sayang pada keluarga. Biarlah rahasia ini hanya milikku dan Tuhan, itu pun jika tuhan memang zat yang maha tahu…

………………..

“ Bapak, pernah berhubungan seks dengan selain istri?” tanya ku

“ ngak mas, aku setia dengan istriku”

“ sebelum menikah mungkin?” selidik ku

“ ngak pernah mas.”

“pernah memakai narkoba?”

“pernah mas”

“jenis apa aja yang pernah bapak gunakan”

“Cuma ineks doang mas” aku mengerenyitkan kening ku

“ pernah coba narkoba lain, misal nya morfin atau lain nya yang di suntikan?” tanya ku sedikit ragu

“ ngak mas, ineks pun hanya sekali mas, tapi ternyata itu yang berakibat fatal, aku terinfeksi HIV” jelas nya dengan mantap.

Aku mengeser duduk ku lebih deket, aku buka masker yang menutup wajah ku sesaat. Kemudian kulanjutkan diskusi.

“kapan bapak terakhir berhubungan seks  dengan istri” aku alihkan pertanyaan

“ udah lama mas, empat bulan lalu”

“ lewat depan atau belakang?”

“ dua dua nya”

“ sejak kapan berhubungan seks lewat belakang”

“dah lama  mas”

“ Bapak menikmati nya?” selidik ku

“ sama aja mas”

“ Istri Bapak menikmati? ‘ tanya ku sedikit menyelidik

“Ngak tahu, kayaknya ngak,” dia menjawab acuh

“ apakah  pernah berhubungan seks lewat belakang dengan wanita lain”.

“ aku ngak pernah selingkuh mas” tegas jawab nya

“ kalo begitu , pernah berhubungan seks dengan lelaki atau waria? Karena dari analisa ku dari diskusi tadi faktor resiko bapak ada di prilaku seksual mas, bukan di Pemakaian narkoba. saya sangat bisa menyimpan rahasia , kita perlu tahu secara detail sehingga bisa memberikan layanan dan dukungan yang tepat untuk penyakit bapak”. Aku menjelaskan panjang lebar sambil memegang tangan nya. Aku ingin ia mempercayai ku.

Ia terdiam

Terpojok

Aku tenang menunggu

Berdebar

Aku sangat inginkan kejujuran nya.

Ia masih binggung.

Aku mendesak nya

“ kalo bapak jujur akan lebih baik, sebagaimana inform consent sebelumnya, kerahasian sangat dijaga dalam pelayanan ini. Semua informasi yang diberikan tidak dibuka sama siapa saja kecuali atas izin dari bapak.

Ia diam

Aku tetap kokoh menunggu

Aku dah terbiasa menunggu

Kadang menunggu sambil memaksa

Bicara lah pak , pintaku dalam hati.

“Ia mas, saya  berhubungan seks dengan teman ku yang laki-laki”

“sejak kapan?”

“ di pesantren”

“berganti-ganti pasangan”

“ sejak pindah ke jakarta semua nya berubah dan tak terkontrol”

Ia mulai mencair, aku lihat ada kelegaan di wajah nya saat bercerita. Beberapa kali kita tertawa bareng saat cerita nya yang lucu dan aku juga pernah alami. Kami mencair.  Itu pertemuan pertama ku dengan dia di sebuah rumah sakit umum daerah di Jakarta. Dua minggu setelah itu, tubuhnya tak sanggup lagi menahan hantaman banyak infeksi lain yang mengambil peluang. Virus HIV telah mengerogoti tubuhnya. Rapuh seperti kayu lapuk termakan waktu. Rahasia nya masih kusimpan dalam catatan ku. Yah, Lisa harus menghormatinya dan selalu berpikir positif. Kudukung pandangan bahwa penyakit yang ia dan suami nya derita adalah bentuk ujian tuhan atas keimanan mereka. Selalu bersabar Lisa, aku akan tetap ada untuk mu dan anak mu nanti. aku janji, ingatin yah, kalo suatu saat  lupa karena keasyikan mencari nafkah untuk hidup ku…

……………………

Tando mengeluh bekas suntikan nya berdarah tadi malam. Mengoceh dengan Batak nya yang kental. Suster Alia duduk termangu. Aku tak tahu apa yang ada di pikiran nya, rasa bersalah telah menyuntik Tando semalam atau mau marah melihat tindakan tando yang memarahi nya saat pagi, dingin dan masih sepi di POLI MDR. Aku memperhatikan mereka sambil bermain Facebook. Tando kadang mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Berkali-kali suster alia menjelaskan kalo dia menyuntik tando dengan prosedur yang benar. Dengan jarum standar untuk suntik kanamicin, tidak mungkin berdarahnya akan sampai malam hari.  Tando tetap marah.

Saya berdiri dan meminta Tando melihat kan  bekas suntikannya. Tando mengelak, tangan sakit tak bisa membuka celana, alasan nya. Saya menyatakan kesedian untuk membantunya membuka resleting celananya. Dia sedikit kaget dan mengelak nanti aja pas saat suntikan hari ini alasan nya. Aku tersenyum dalam hati kembali ke tempat duduk dan mencoba mengajak suster Elia bercanda. Ku lihat Tando akhir nya tenang menonton acara musik lewat TV di Pojok depan ruangan Poli.

Ini bulan ketiga ku dalam mendampingi pasien TB MDR. Pengalaman baru memang. TB MDR atau Multi drugs resistence yang jika diterjemahkan secara bebas berarti TBC yang kebal beberapa jenis obat. Kelemahan sistem pengobatan TB kategori satu ( OAT) dan kategori dua telah melahirkan Bakteri TB baru yang berbahaya. Penyebabnya bisa jadi karena kelalaian dari pemberi layanan apakah itu : Puskesmas, rumah sakit, Dokter dalam memberikan pengobatan dan mengawasi, bisa juga karena pasien yang tidak patuh  dengan minum obat OAT sampai TB nya tuntas, atau bisa jadi  memang tertular TB yang sudah kebal terhadap pengobatan kategori baik satu ( pengobatan TB 6 bulan tanpa suntikan) maupun yang kategori dua ( pengobatan TB 9 bulan dengan fase suntikan).

TB MDR merupakan kasus lain dalam masyarakat yang menarik perhatian. Pasien TB MDR juga mengalami stigma dan diskriminasi dari lingkungan. Seorang pasien yang aku dampingi, sebut saja nama nya Rina  27 tahun, dia diusir dari kontrakannya ketika diketahui mengidap TB MDR. Rina shock. Dia mengangkat barang-barang dari kontrakan langsung ke rumah sakit. Butuh dua puluh lima hari untuk mengembalikan kondisi  fisik dan fsikis nya yang memburuk akibat tertekan dalam pengusiran tersebut. Diskusi panjang dengan Rina dan suami  mengembalikannya ke tengah keluarga.

Lena, wanita Jawa kelahiran sumatera terpaksa pindah dari Medan. Niat nya ingin berobat  lebih baik. di dukung dengan ekonomi keluarga yang lumayan, berobat ke Malaysia. Harapan nya semoga ada pengobatan Paru yang lebih baik di Negeri orang. Mengingat kualitas pelayanan kesehatan di Negeri ini yang sangat rendah. Lena sangat tahu itu, karena ia sendiri merupakan staff Rumah sakit ternama di Medan. Tapi semua nya berubah, Di malaysia diagnosa TB MDR nya disimpulkan. Lena di sekap dalam ruangan untuk pengendalian Infeksi. Ia di deportasi ke Indonesia akhirnya menjalani pengobatan di RS Persahabatan atas rekomendasi relasinya. Lena mengontrak Tidak jauh dari rumah sakit. Dia terpaksa terpisah dari anak dan suami nya. Semangat nya mengebu untuk sembuh agar bisa kemabali ke tengah keluarga. Tiap hari ia membuat kerajinan tangan dari beads dan menyulam Jilbab, untuk pengalih kekangenan  pada keluarga, alasannya.

Pengobatan TB MDR saat ini hanya tersedia di Jakarta ( RS persahabatan) dan Surabaya ( Dr Soetomo), walau rencana nya dalam waktu deket akan ada di Malang, Solo dan Makasar. Semua dana Operasional masih tergantung dari bantuan asing. Pemerintah Indonesia lewat departemen kesehatan membantu dalam penyediaan tempat dan Tenaga medis.

catt: nama-nama di kisah ini bukan nama sebenarnya

Bersambung……………….