Luna Maya II

“Jangan Bilang Namaku Luna ”

Langit mendung menaungi Jakarta yang mulai menjemput malam. Motor dan mobil menyesaki jalanan Ibu kota yang seolah menyempit dalam kungkungan kegelapan nan menyergap. Ku belokan motor ke Parkiran, setengah berlari ku langkahkan kaki ke Bangsal tempat luna terbaring lemah.

Seminggu luna menjalani perawatan di IRNA A, RSCM. Pneumonia carinii mengerogoti pernapasan, terseguk tarikan nafasnya laksana beban hidup yang kini mendera.  Anemia telah membuat tubuhnya memucat.  Gangguan fungsi hati akut semakin melemahkan raganya. Ketiadaaan keluarga yang merawat membuat hatinya terluka semakin parah.

Segala upaya dilakukan untuk membantu Luna. Sudah dua kali Aku dan Dio memfasilitasi teman-teman di Komunitas untuk memastikan tersedia pasokan darah yang cukup buat nya. Sudah beberapa instansi ku jambangi demi selembar surat yang bernama jaminan keluarga miskin. Telah banyak mata menatap penuh stigma. Dan kadang muak ku berteriak

” Kalo Odha, emang kenapa??”

Tapi di depan Dio tetap kujawab tiap keluhnya

” Da, teman-teman telah menjatuhkan image luna sebagai Diva! Aku tidak ingin luna malu jika dia kembali nanti”. Dio mengeluh dalam harapnya.

Beberapa kali aku coba menenangkan amarah menjalari muka chubby Dio.

” Dio, bilang sama mereka , apakah mereka yakin dengan status kesehatanya? Apa mereka merasa kebal terhadap HIV? Apa mereka pernah tes VCT?”

Dalam pembicaraanku dengan Dio di Puncak lelah, sempat Dio bertanya apa yang ada dalam pikiran mereka? Apakah Luna bukan bagian dari komunitas yang patut untuk di hargai? Apakah hanya Luna yang bisa terinfeksi HIV? Apakah mereka adalah para orang suci yang akan terlindung di balik tudingan dan stigma. Stigma kadang tidak datang dari luar sana, stigma datang dari orang-orang yang sebelumnya memuja. Orang yang mempunyai resiko yang tidak lebih kecil dari Luna. Bahkan orang yang bisa jadi telah berstatus Odha ( orang dengan HIV positif) tanpa pernah disadarinya.

Kadang terpikir olehku, kemanakah para pemuja kecantikan Luna? kemanakah para teman-teman yang biasanya memperlakukannya seperti putri raja? Mereka yang selama ini menghamba, dengan menjadi dayang-dayang luna? mereka yang selama ini membawakan kostum-kostum panggung nya? Mereka yang selama ini membedaki pipi Luna dan merekatkan bulu mata kucing yang membuatnya menjadi Diva. Kemana?

Beginikah realita dalam hidup luna? Rasa setia kawan begitu mahal. Bukankah selama ini mereka hidup dalam masalah yang sama. Masalah keterasingan atau bahkan benar-benar terkucil dan di kucilkan dalam masyarakat. Bukankah setia kawan itu muncul karena ada ikatan sama  melatarinya?  Tidak cukupkah pandangan sinis, ejekan, cacian dan dan banyak diskriminasi lainnya untuk mempersatukan mereka dan berpikir apa yang terjadi pada Luna saat ini bisa menimpa siapa saja dalam komunitas mereka. Tidak cukupkah tertawa mereka di Masa lalu jadi motivasi untuk memperlihatkan senyum manis pada luna. Luna tetap terbaring sendiri tanpa teman dan keluarga.

Malam ini keluarga luna berjanji mau menjenguknya. Beberapa skenario telah ku rancang untuk memastikan luna menikmati kehangatan keluarga. Yakinku suasana rumah adalah obat yang paling baik buat luna. Ku sandarkan tubuh ku di kursi Lobby Irna A.  Aku bayangkan semua tanggapan keluarga di Telpon tempo hari. Gelap malam mampir di kursi ku. Hening membius ku, pikiran mengembara,  melayang menuju dinding-dinding putih yang tak bertepi…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s