Puisi tentang Cinta II

Cinta, mengiba, merajuk-rayu, janji, ungkapkan rasa

Kata indah, sanjung, lenakan diri dalam kekang hati

Kisah, mengharu-biru dalam siasat yang hendak pergi

Ku sudah mengenal mu, dalam Jejak seribu pengembara yang pernah menepi di dada

Ku kan hantarkan semua yang terselip di benak mu, janji ku

dalam seribu purnama, sepertinya memang tak kan ada lagi cinta

Jika hanya dua revolusi surya, hati mu sudah tertata

Cinta.

Cinta?

cinta!

Cinta………………………..

Pondok Gede, ujung September 2012

Advertisements

Lesbian dalam Pandangan Psikiatrik, Sebuah Tanggapan

Lesbian dalam Pandangan Psikiatrik,
Sebuah Tanggapan
Soe Tjen Marching ;  Komponis
Sumber :  KORAN TEMPO, 21 Juni 2012
Sangat mengejutkan membaca artikel “Lesbian dalam Pandangan Psikiatrik” di Koran Tempo, Kamis, 14 Juni 2012. Sang penulis, H. Soewadi, mengajukan argumen bahwa lesbian adalah penyimpangan dan gangguan seksual yang perlu disembuhkan. Padahal, sejak 1973, the American Psychiatric Association sudah menetapkan bahwa homoseksualitas tidak lagi digolongkan sebagai gangguan mental. Lalu, pada 17 Mei 1990, Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) secara resmi menyatakan homoseksualitas bukanlah penyakit atau gangguan jiwa. Di Indonesia, Pedoman Penggolongan Diagnosa Gangguan Jiwa III juga mencabut homoseksualitas sebagai gangguan, pada 1993.
Yang tidak kalah mengejutkan, penulis menyetujui pendapat bahwa homoseksual terjadi karena berbagai faktor, antara lain: (1) Faktor biologi berupa terganggunya struktur otak kanan dan kiri serta adanya ketidakseimbangan hormonal; (2) Faktor psikologis, kurangnya kasih ibu, dan tidak adanya peran seorang ayah; (3) Pengaruh lingkungan yang tidak baik bagi perkembangan kematangan seksual yang normal; (4) Faktor pola asuh, kurangnya ketaatan agama.
Saya ingin membahas satu per satu faktor yang telah disebut oleh penulis artikel sebagai penyebab homoseksualitas. Pertama, kalau homoseksualitas memang manusia yang terganggu struktur otak dan hormonnya, artinya mereka akan mengalami rasa letih, pening, stres, insomnia, dan terkadang disertai dengan kejang. Apakah para homoseksual mempunyai gejala demikian? Mungkin benar, banyak homoseksual di Indonesia yang mengalami stres berat, pening, dan insomnia. Tapi bukan lantaran gangguan otak, melainkan karena banyak dari mereka mendapat tekanan dan stigma dari masyarakat!
Sekarang sudah tersedia berbagai terapi dan pengobatan bagi mereka yang struktur otak atau hormonnya terganggu. Saya telah menjumpai beberapa pasien, baik yang heteroseksual maupun homoseksual, dengan gangguan otak atau hormon. Dan setelah gangguan otak pasien homoseksual disembuhkan, ia tidak lalu menjelma menjadi heteroseksual. Para homoseksual yang masuk rumah sakit dengan gangguan otak biasanya akan keluar dari rumah sakit sebagai homoseksual juga-–mereka tetap setia pada orientasi seksual masing-masing. Jadi tidak ada hubungannya struktur otak dan gangguan hormon dengan orientasi seksual manusia. Dan gangguan otak macam apa yang dialami petenis lesbian Martina Navratilova, sehingga dia bisa bermain dengan dahsyat-–memenangi 18 grand slam. Navratilova bahkan masih bertarung di Wimbledon pada usianya yang ke-50.
Faktor kedua yang disebut oleh H. Soewadi adalah kurangnya kasih ibu dan tiadanya peran seorang ayah. Namun saya mengenal banyak sekali homoseksual yang tumbuh dengan kasih sayang kedua orang tua mereka, dan banyak juga heteroseksual yang tidak mempunyai ayah dan ditelantarkan oleh ibu mereka. Ilmuwan Dede Oetomo (juga homoseksual) bahkan sempat menceritakan bahwa ayahnya sangat memperhatikan dirinya, dan betapa ibunya begitu mendukung ide-ide dan aktivitasnya dalam memperjuangkan hak-hak lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di Indonesia. Yang sering terjadi di Indonesia bukannya anak menjadi homoseksual karena kurangnya kasih sayang orang tua, tapi orang tua (konservatif) berkurang kasih sayangnya setelah mengetahui anak mereka homoseksual.
Faktor ketiga yang disebut oleh penulis ini: pengaruh lingkungan yang tidak baik. Mungkin banyak dari kita yang telah mendengar nama Socrates, Plato, Aristoteles, dan Alexander Agung, para filsuf terpelajar dengan lingkungan para bangsawan. Tapi apakah kita semua sadar bahwa para lelaki ini mempunyai kekasih lelaki? Apakah ini karena lingkungan mereka yang tidak baik?
Sekali lagi, saya akan menyebut Dede Oetomo, yang saya kenal cukup dekat. Dia mempunyai orang tua dan saudara heteroseksual, dan teman-teman heteroseksual juga. Tidak ada “lingkungan” yang membentuk dia menjadi homoseksual! Yang lebih tepat mungkin bukan lingkungan yang tidak baik yang membentuk homoseksual, tapi homoseksual di Indonesia sering kali harus menghadapi lingkungan yang “tidak baik” (yang berpikiran sempit dan menyudutkan LGBT).
Faktor keempat, kurangnya ketaatan agama. Dalam artikel ini, sang penulis menyiratkan, dalam agama, heteroseksuallah yang diklaim benar. Tapi agama mana yang dimaksud? Dewa-dewi di Nusantara (yang kebanyakan berasal dari India) tidak mengacu pada dualisme heteroseksual. Salah satunya adalah Ardhanarishvara, yang merupakan persatuan antara Dewi Parwati dan Dewa Syiwa, sehingga ia mempunyai dua tubuh (separuh lelaki dan separuh perempuan). Patungnya masih bisa ditemukan di Bali dan di Museum Trowulan (Mojokerto).
Begitu juga dalam agama Hindu. Beberapa dewa-dewi agama Hindu tidak berpaku pada kemapanan gender. Misalnya, Wishnu, yang pandai menjelma menjadi beberapa makhluk. Suatu ketika ia menjelma menjadi Dewi Mohini, dan saat itu Dewa Syiwa jatuh cinta kepadanya. Akhirnya, bersetubuhlah penjelmaan Dewa Wishnu dengan Dewa Syiwa. Dari persetubuhan ini, lahirlah seorang bayi bernama Ayyapa.
Selain Mohini, tokoh pewayangan Hindu yang kisahnya memuat ambiguitas gender adalah Srikandi, yang merupakan titisan Dewi Amba. Dalam kitab Mahabharata, Srikandi lahir sebagai seorang wanita, tapi karena sabda para dewa, ia diasuh sebagai seorang pria. Srikandi sering kali dianggap mempunyai jenis kelamin waria, dan ia jatuh cinta kepada seorang perempuan juga.
Agama masyarakat Bugis mempunyai pendeta lelaki yang feminin (biasa dikenal sebagai waria di Indonesia), yang disebut bissu. Bissu mempunyai kedudukan yang cukup disegani di masyarakat Bugis-–karena perpaduan karakter feminin dan maskulin dalam satu tubuh inilah, ia dianggap sebagai makhluk yang lebih sempurna daripada mereka yang hanya mempunyai sifat maskulin atau feminin. Masih ada beberapa contoh agama yang tidak menabukan homoseksual atau biseksual, tapi karena keterbatasan tempat, saya tidak bisa menyebut semua.
Sangatlah disayangkan bila stigma yang diberikan kepada LGBT dipertahankan. Inilah yang sering kali tidak disadari: bila LGBT disudutkan, masyarakat itu sendiri juga mengalami kerugian. Berapa banyak waktu dan uang orang tua yang terbuang untuk mengirim anak LGBT mereka ke psikiater dan mencoba menyembuhkan orientasi seksual mereka? Energi yang tersia-sia hanya untuk merendahkan hak manusia. Justru stigma seperti inilah yang bisa menyebabkan stres dan depresi berkepanjangan.
Di negara-negara yang tidak melecehkan LGBT, mereka bisa mengembangkan kemampuan dengan lebih leluasa. Dengan demikian, akhirnya kemampuan para LGBT tidak terhambat dan tersia-sia, atau menjelma menjadi frustrasi berkepanjangan, hanya karena kutukan masyarakat atau stigma.

Selama kita merendahkan keberadaan LGBT, kita juga telah ikut membunuh kemampuan mereka yang di masa depan bisa menjadi penerus tokoh-tokoh seperti Leonardo da Vinci, Hans Christian Andersen, Jodie Foster, dan Martina Navratilova.

Puisi Galau

Saat rindu ini begitu mendendam,

ingin ku nafikan semua rasa yang terlalu menghujam,

hujan dan gerimis jakarta malam ini,

laksana 9 purnama yang tak terhapus siang,

kadang hati ingin meragu,

bukan telah dimulai tahun yang baru,

mengapa tidak mengengam waktu,

merajut kisah yang tercecer saat gerimis di Meong dong,

Aku masih mengingat mu,

mengikat setiap wangi tubuh dalam buhul hati ku,

aku masih memuja mu,

bercerita pada semua musafir

ku pikir akan menyampaikan setiap tetes rindu ku pada mu,

Aku masih menunggu mu,

menanti janji mu untuk bersama menapaki setiap tangga menuju keuzuran kita,

Aku masih di Sini sayang,

karena percaya jodoh ku, kamu.

Pondok gede, saat gerimis mengengam malam di awal weekend

Lagu tentang cinta

lagu ini ku titip buat mu

si pengelana cinta, yang terjebak di ombak samudera

kau kah,  menelusuri jejak yang tertanda di hati

mengapa malu tuk mengakui

kau kah,  menawar dengan mawar berbalut belati

mengapa takut untuk mengungkap kenyataan diri

Lagu ini kutulis untuk mu wahai kekasih

kunyanyi kan sambil berdansa di tiang kota new delhi

Ku lah puncak yang tinggi hendak kau daki

ku lah samudera yang dalam belum kau selami

ku lah pelangi yang melingkar perbukitan pagi

Jangan pernah ungkapkan tanya nan berkelindan di hati

puaskan saja reguk kopi pahit untuk tenangkan diri

Karena aku tak ingin kau miliki

Lagu ini ku nyanyikan lewat hati

agar terjawab semua gelisah sebelum ku mati

Ku tak ingin ada yang miliki

Lagu ini untuk mu, kekasih-kekasih

Aku terlalu bahagia sendiri

This slideshow requires JavaScript.

Jakarta, 20 juli 2011

Bulan Sempurna di Langit Pondokgede

Sendiri di teras sepi

menunggu malam menjemput pagi

Bulan sempurna menyisir  saat  terlewati

renungi mimpi menyempurnakan janji

sudahlah, semua tak akan terpenuhi

biarlah semua pergi

pergi

menjauh dari hati

Bulan sempurna Di Langit Pondok Gede malam ini

Kepak gagak melagu di hati, kembali sunyi

Dingin menyesak sampai  jantung, detak lirih

Hampa, hilang semua rasa dalam nyepi

Sepi

Sendiri

Bulan Sempurna Di Langit Malam ini

ingin ku hanya berbagi

seperti bulan menerangi  gulita ini

sendiri

sendiri

sendiri

sampai nafas terhenti

mati

pondok gede, 20 maret 2011

Dialog dengan Demonstran ( diskusi langsung dengan pendemo Q Film Festival )

Goethe institute, 29 September 2010

Jakarta siang , panas membakar kulit, aku sampai depan Goethe Institute jam 14.30 WIB, setelah  melayani teman-teman ODHIV di RSUD Koja.  Pintu masuk dan satpam yang biasanya tersenyum ramah, kelihatan mematung di pos nya. Aku menghentikan motor ku di depan Cecep Junaidy dan Kustin karbiaty, dua konselor volounteer dan VCT  GWL-Ina  yang diadakan berbarengan dengan Q Film festival.

“bakal ada demo dari Mahasiswa UI” komentar mereka berbarengan saat ku tanya, kenapa suasana jadi mencekam dengan banyaknya polisi yang mengelilingi Gedung kebudayaan Jerman tersebut. Ini bukan demo pertama, sehari sebelumnya hampir seratus an massa FPI telah melakukan hal yang sama sambil meneriakan “ Ganyang Gay dan Lesbian”. Hati ku sedih, melihat saudara muslim ku membenci ciptaan Tuhan mereka. Ingin bertanya kepada mereka kenapa tidak bisa menghargai pilihan hidup orang lain.

Benar saja, tidak sampai lima menit tiga mobil parkir di pinggir jalan persis di depan ku. Satu mobil bak terbuka, berisi sound speaker dan alat pengeras suara, dua minibus. Minibus pertama berisi mahasiswa  berjumlah 13 orang turun satu persatu. Dari mobil lainnya, turun perempuan berjilbab berusia sekitar 45 an diikuti 18 orang perempuan lainnya yang berusia lebih muda. Sesaat kemudian mereka sibuk membagikan dan membuka spanduk.  Seorang wartawan dengan mike bermerk Tv one menghampiri dua orang mahasiswa berjaket kuning. Mereka ditanya tentang jumlah mereka.

Wartawan: Mas, berapa orang peserta demo, ada seratus orang ngak?
Mahasiswa: lebih kurang  40 orang
Wartawan: kurang greget mas, kita tulis 80 orang aja ya? kurang greget kalo sedikit
saya pergi sambil bergumam “ oalah…. kok jumlah pendemo aja kayak dagang sapi ya???”

Saya mengambil  beberapa foto copian dan kemudian membagikan nya dengan Cecep dan Kustin. Untuk mengali lebih lanjut apa yang demonstran mau, saya mencoba berdiskusi beberapa dari mereka. Jawaban Maulana Akbar dan Nadya sangat mengambarkan jawaban yang lainnya ketika ditanya tentang aksi mereka.

Seorang Mahasiswa yang mengaku bernama Maulana Akbar ( MA)  berasal dari MII FMIPA Universitas indonesia saya ajak  bercakap, saat dia berdiri di tengah pembatas jalan sambil memegang spanduk besar berisi tuntutan

setelah percakapan perkenalan diskusi kami lanjutkan seputar aksi mereka yang bertema :  “ jangan Pernah rela Gay dan lesbian merajalela”:

Saya: kenapa sih Q! FF harus dihentikan?

MA:  Gay dan lesbian merusak moral bangsa mas, dan ini bukan budaya bangsa kita

Saya: maksudnya??

MU: gay dan lesbian adalah penyimpangan, melanggar budaya dan agama. Mereka orang yang tidak bermoral dan ini harus dihentikan. Jika dibiarkan terus akan musnah umat manusia ini. Mana ada sesama lelaki atau perempuan mampu menghasilkan keturunan.  gay dan lesbian adalah penyimpangan dari apa yang diajarkan ketentuan agama, budaya dan hukum yang berlaku.

Saya:  Budaya indonesia mana yang menentang gay dan lesbian?  Atau hukum positif mana di indonesia yang melarang keberadaan Gay dan lesbian di Indonesia?

MA: tapi agama melarang nya, dan tidak sesuai dengan budaya masyarakat indonesia.

Saya: pernah dengar budaya Gemblak dan warok, atau tradisi tentang calabai, calalai ngak mas? Itu budaya indonesia kan?

MA: (ekpresi binggung). Mayoritas masyarakat indonesia adalah masyarakat timur dan beragama. Tidak ada satu agama pun yang memperbolehkan gay dan Lesbian hidup di Indonesia.

Saya: Apa yang diharapkan dalam Aksi ini?

MA: Festival ini harus dihentikan karena membuat orang menjadi gay dan lesbian. Ini bisa memusnahkan bangsa Indonesia. Bayangkan saja jika semua orang indonesia menjadi Gay. Saya: Apakah mungkin menonton film bisa membuat orang menjadi gay? Dan ini juga untuk kalangan terbatas kan?

MA: Bisa, kan tontonan bisa mempengaruhi seseorang.

Saya: Kenapa Mas dan teman-teman tidak bikin Festival film hetero seksual saja, dan ajak mereka agar bisa berubah.

MA: itu bukan urusan ku.

Maulana akbar akhirnya ngeloyor pergi bergabung dengan teman nya dengan wajah merah.

Teriak-teriak dari beberapa orator tentang tolak QFF, masih terdengar. Saya melihat king Oey dari Arus pelangi datang dengan skuter nya. Saya hampiri , sekalian menyapanya. Menurut, King, aksi mereka cukup bagus untuk mendewasakan masyarakat dan menggangkat issue tentang LGBT ke diskusi publik. Selama diskusi tidak anarkis, itu bahagian dari pendewasaan kita sebagai bangsa.  Beberapa saat saya kembali ke barisan pendemo yang mulai berubah posisi, seperti ini trik yang bagus, barisan perempuan yang sebelum nya berada di pinggir jalan berpindah ke tengah pembatas jalan dan lelaki ke pinggir.

Saya berkenalan dengan pendemo perempuan yang mengaku berasal dari Fakultas keperawatan UI, nadya (Nad). Nadya hari itu mengenakan Jilbab berwarna coklat dengan gamis hijau yang sedikit kedodoran.

Saya: mengapa, perumpamaan di spanduk berhubungan dengan bebek, ayam , pisang dan binatang?

Nad: ya, Binatang aja tidak mau saling suka sesama jenis mas, apalagi manusia. Tidak mungkin kan dua bapak atau dua ibu bisa melahirkan anak. Bebek dan anjing saja tidak akan menghasilkan telur  jika dua-duanya betina atau jantan.

Saya: pernah baca wikipedia tentang homoseksual di binatang ngak?, seperti di Pingguin, sapi, beberapa primata.

Nad: saya belum pernah baca

Saya: sebagai mahasiswa harus rajin baca ya. Saya mengoda nya sambil tertawa. Apakah menurut mba? Berpasangan hanya untuk mengahsilkan anak saja?

Nad: Iya kan salah satu fungsi nya adalah untuk menghasilkan keturunan dan melindungi pasangan.

Saya: maksudnya?

Nad: lelaki kan ditakdirkan sebagai pelindung dari wanita.

Saya: kalo lelaki  saling melindungi dengan lelaki gimana?

Nad: ya ngak mungkin lah.

Saya: siapa bilang, mereka juga berpasangan loh?

Nad: Iya, tapi tetap saja ada yang berperan sebagai wanita?

Saya: ngak mesti, bisa aja dua-dua nya lelaki macho berpasangan.

Nad: tapi homoseksual tetap saja tidak sah secara agama. Pernah dengar kaum Luth dan  kota Sodom kan?

Saya: pernah, tapi Gay dan lesbian kan mahkluk ciptaan tuhan juga, apa solusi nya buat mereka. Jika mereka tidak bisa hidup di Indonesia.

Nad: Harus bertobat, kembali ke jalan yang benar.

Bersamaan para Orator bersemangat bersorak untuk menolaK QFF. Sebagian berteriak jangan sampai Gay dan Lesbian merajalela di bumi Indonesia.

Saya: Maksud nya?

Nad: Menikahlah dengan lain jenis

Saya: Mba, sebagai wanita mau ngak di nikahi oleh pria yang secara seksual tidak tertarik dengan Mba?

Nad: tentu tidak. Amit-amit mas!

Saya: Jika tidak berarti saudara mba, mba bisa ihklas? Atau teman mungkin?

Nad: tentu saja tidak.

Saya: Mba ingin mereka mendustai pasangan nya seumur hidup agar bisa hidup di indonesia?

Nad: Mas dari mana?

Saya: Saya Tim yang mengadakan VCT di dalam.

Nad: ada dokter yang terlibat?

Saya: yup, pasti karena kita bekerjasama dengan RSUD koja

Nad: menurut mas apa solusi nya?

Saya: saya bersahabat dengan mereka, bagi saya itu hak nya untuk memilih mau menjadi gay dan lesbian. Yang aku dan teman-teman lakukan adalah agar bertanggungjawab dengan pilihan nya, saudara, pasangan, keluarga dan masyarakat. Dan VCT yang kita lakukan dalam rangka itu. Udah pernah nonton Film tentang gay dan lesbian sebelumnya?

Nad: Haram mas.

Saya tersenyum dalam hati, begitu muda kata haram, cercaan keluar dari mulut seorang intelektual muda dari Universitas Indonesia. Apa yang mereka dapat di bangku kuliah sehingga terlihat bodoh, berpendapat dengan sesuatu yang tidak mereka pelajari sebelumnya. Saya tersenyum dalam hati, inilah potret kecil masa kini indonesia. Potret cara pantang sektarian yang tak inteletual.

Dari diskusi dengan Perempuan pendemo lain, juga terungkap teman-teman mahasiswa banyak yang tidak mengerti tentang konsep ABCD dalam penanggulangan HIV. Kebanyak mereka berpikir LSM dan orang yang bekerja untuk issue LGBT adalah menyuarakan kepentingan asing ( budaya asing) dalam rangka mengkampanyekan seks bebas tanpa kondom. Nauzubillah.

NAYLA: Saatnya Untuk Memilih

Nayla mengeser ujung jilbab putihnya melewati pundak. Kedua jari lentiknya membuhul kedua ujung nya. Panas masih terik, ketika dia buru-buru menaiki bendi untuk segera pulang. Hatinya galau mamang. Begitu banyak tanya yang seharusnya bisa ia lontarkan. Mulutnya terkunci. Membisu dia, sejak tahu rahasia apa yang diungkapkan Salman. Terlalu sulit baginya, menerima kenyataan, tak siap kehilangan dan merasa dipermainkan.

Galau mamang karano cinto. Harok habih baputiah mato. Di siko badan raso taniayo. yo taniayo, nan taniayo . Jikok jauh badan lah dakek. Katiko dakek kato talompek. Disitu hancua janji nan diikek.
( berkecamuk hati karena cinta, harapan habis putih lah mata. Badan terasa teraniaya. Ya teraniaya. Teraniaya. Jika dahulu jauh, sekarang telah dekat. Ketika dekat dan bicara, Saat itu hancur janji yang diikat.)

” Sulit Nayla, untuk menerima kenyataan ini. Aku sendiri butuh dua belas tahun untuk bisa berdamai dengan diriku. Untuk memahami kalau aku berbeda dengan uda –uda ku. Untuk mengerti kalau Tuhan menciptakan aku mungkin dengan tujuan tertentu. Dan ihklasku untuk menjalani takdirku.” Salman memainkan garpu di Piring berisi rujak aneka buah.

Nayla tetap diam membisu.

” Aku menyayangi mu dengan tulus. Dua kali pertemuan kita sebelumnya, aku mempersiapkan diri untuk bicara tentang keadaanku. Tapi egoku selalu berontak setiap kali Nayla bercerita dengan kebencian pada duniaku.” Salman menatap mata teduh di wajah Nayla yang keibuan.

Salman kembali ingat saat Nayla mengecam perkawinan sejenis. Dalam keyakinanya, menyukai sejenis adalah penyakit, karena itu harus disembuhkan. Ia membawa laknat tidak hanya kepada pelakunya tetapi juga kepada masyarakat lingkungan sekitar.

“Empat puluh rumah di kiri, kanan, depan, belakang akan tertimpa azab tuhan jika perbuatan itu dibiarkan. Pelegalan pernikahan sejenis adalah tanda kiamat semakin dekat. “.  Salman ingat sekali komentar Nayla saat membaca buletin yang berisi pernikahan sepasang gay di Negeri Belanda.

Ketidaksukaan Nayla juga terungkap, saat bercerita tentang dua orang waria yang bersamanya di dalam Angkutan Kota. Nayla langsung turun dari Angkutan kota karena tak sudi berbagi tempat duduk bersama mereka.

“Allah mengharamkan lelaki berpakaian wanita,” kata Nayla di telepon dengan emosi yang tinggi. Ia menumpahkan kemarahan pada Salman.

“Apakah menurut Nayla, pakaian ada jenis kelaminya? sebegitu detailkah Allah mengatur manusia? ”

“Bukan Allah uda, tapi masyarakat. Hukum Allah menyesuaikan dengan budaya. Allah ingin ada Furqon yang tegas antara lelaki dan perempuan. Kalau lelaki, ya harus seperti lelaki. Islam agama yang tegas dan bukan ambigu. waria itu tidak jelas maunya, setengah-setengah. laki-laki tidak perempuan tidak. Allah mengutuk mereka.” Nayla mengoceh panjang lebar. Salman akhirnya diam di Ujung Telepon. Ia ingin membantah Nayla. Tapi percuma. Salman mengerti sifat-sifat dan tabiat nya.

Sejak Lima tahun lalu, Salman ingin bicara tentang dirinya yang berbeda. Roman yang tinggal serumah dengan nya di Jakarta. Cinta dan hasrat yang tidak hanya kepada wanita. Adiksi seks yang melenakannya. Malam-malam panjang pencariannya di Jalanan Ibu Kota. Beberapa kali Salman mencoba untuk terbuka. Selalu ada tembok besar yang menghalangi. Tembok keyakinan milik Nayla.

Cinta dan keinginan yang besar untuk menikah membuat Salman bicara. Ia tidak ingin berbohong sepanjang pernikahanya dengan Nayla. Kemunafikan sudah membuatnya ingin muntah . Jarak Jakarta dan Padang membuatnya bisa berkamuflase. Tapi jika telah bersama tak akan cukup waktu baginya untuk merubah wajah. Hati kecil meringkik agar lidah nya tak kelu di depan Nayla. Semua ini harus diungkap apapun resikonya. Aku harus mampu bisik hati kecilnya . harus…..

Nayla hanya menatap diam, saat ombak laut Padang menghempaskan diri ke Pantai pasir putih. Sepasang Camar bermain di Bibir ombak. Harapan nayla terbang melayang bersama kepak sayap nya.

” Aku memilih jujur agar kau bisa memilih ku dengan alasan yang sempurna. Andai pun Nayla memilih yang lebih baik dari ku. Aku ihklaskan untuk bahagiamu. Aku akan tetap menjadi abang mu”

Nayla diam sambil memelintir jari-jemarinya. Salman berbicara dengan muka pucat, terlihat kesungguhan di Wajahnya. Terlalu sulit baginya berbicara tentang hasratnya yang berbeda. Hasrat yang datang tanpa diminta nya. Ia masih ingat tentang mimpi basah pertama dua puluh tahun lalu. Bercinta bertiga di ruang sekolah. Ia berhasrat tidak hanya pada Lia tapi juga Jhon, kakak kelasnya. Orgasme dalam tidur itu menimbulkan rasa penyesalan luar biasa . Apalagi ketika di Sekolah mukanya merah saat berpapasan dengan mereka.Terbawa hasrat mimpinya ke alam nyata. Namun rasa takut dan bersalah,  membuatnya membatu sendiri. Ia sembunyikan mimpi itu pada teman, keluarga bahkan Nayla, sang kekasih permata hati.

Rasa sayang pada Nayla, yang menunggu selama bertahun-tahun, mendorongnya untuk terbuka. Bukankah kejujuran adalah puncak dari kasih sayang? Dan bukankah kejujuran awal yang baik untuk memulai hidup baru?. Hidup dalam rumah dengan dinding kayu mahoni, di Daerah Persawahan Lunang nan permai. Perjalanan mereka ke kota kerinci menautkan hati Nayla ke Desa itu. . Ingin nya bisa membesarkan anak-anak hasil pernikahan mereka diiringi dendang gemericik air sungai siang dan malam. Impian ini yang selalu ditulis Nayla dalam setiap suratnya selama ini. Salman tak punya satu kosa kata pun untuk menyanggahnya.

Taratak, pasanyo sanjo. Urang Jalamu, pai mangaleh. Taragak hati indak basuo. Lah batamu makonyo cameh. ondeh tuan oiiii… buruak nyo badan. De tuan oiiii…..
( Taratak, pasarnya senja. Orang Jalamu pergi jualan. Rindu hati ingin bertemu. Setelah bertemu menjadi cemas. Oh tuan… jeleknya nasib… oh tuan oi )

” Nay, aku tahu kesulitanmu untuk memahamiku. Aku tahu kondisi bathinmu, berpikirkanlah dengan tenang. Aku akan menunggu sampai kamu bisa mengambil keputusan. Ini akan jadi hari berat sebelum kepulanganku ke Jakarta. ” Salman menatap Nayla yang masih tertunduk tanpa bahasa. Dia berdiri dan pergi. Saat bersamaan, Nayla bangkit dan membenahi Jilbab putih nya yang melayang dibelai angin Pantai Padang nan permai.

Bandara Minangkabau dua hari kemudian

Salman siap berangkat ke Jakarta. Tangan menenteng sekardus oleh-oleh bermerk ” Puti Andam Dewi”, di Punggung tas ransel warna hitam seperti memberati langkahnya menaiki eskalator.Waktu nya untuk kembali ke Rantau. Mengumpulkan setiap mimpi lewat usaha keras.

Karatau madang di Hulu babuah babungo balun. Marantau bujang dahulu dirumah paguno balun (pantun yg melandasi semangat merantau anak-anak muda Minangkabau )

Sekeping hatinya masih tertinggal bersama Nayla. Dua hari Nayla tanpa kabar. Salman tak ingin mempengaruhinya. Ihklas. Siap menerima apapun pilihan Nayla. Menjadi suami Nayla dengan kebohongan tidak lebih baik baginya dibanding dicampakan Nayla setelah kejujurannya.

Tiba-tiba Hp Salman berbunyi ” Da, masihkah uda mencintai Nayla setelah kejadian kemaren? Nayla belum siap untuk berpisah dengan alasan apapun.” Salman mencium Handphone dalam gengamannya.

Setengah berlari dia menuju pesawat yang siap membawanya ke Jakarta. Di sepanjang perjalanan hati salman berdansa dengan angan-angan nya. Lepas sudah semua keraguannya akan Nayla. Cinta telah membuat Nayla mau menerimanya.

Ruso kuniang tabang ka Rimbo. Rimbo ba pudiang basusun tigo. Susun katigo jadi pamenan. jadi pamenan. jadi pamenan. kaba carito tantang si Salman. Salmam barangkek jo hati sanang. Raso digangam cinto nyo kini. diambiak Laptop nan di Ranselnyo, di Sinan bakato-kato la inyo kini. Dirangkai huruf manjadi kato. disusun kato jadi kalimaik. jadilah surek untuak ka kampuang. Ikola isi sureknyo nan tun. Ka jadi basandiang yo jo Nayla. Yo jo Nayla…. yo jo nayla….

(Rusa kuning lari ke Rimba. Rimba dipenuhi puding ( sejenis tanaman perdu dengan daun berwarna warni aneka rupa, biasanya jadi pagar hidup di Taman dan rumah di Minangkabau tempo dulu) bertingkat tiga. Bagian ketika jadikan permainan. Jadikankan permainan. jadikan permainan. Salman berangkat dengan hati senang. Lewat laptop dipesawat ditulis surat ke kampung. Isi suratnya tentang rencana perkawinan nya dengan Nayla).

Jakarta Rabu, 30 September 2009 jam 18.00.

Salman baru sampai di Kontrakannya. TV one menyiarkan berita tentang bencana gempa terjadi di Padang dan Padang Pariaman. Bergetar badan nya. Pikirannya kalut. Rencananya untuk menelpon Nayla buyar ketika semua nomor yang menuju Nayla hanya dijawab operator. Pikiran nya terasa membatu. Raga nya seolah tak lagi bernyawa. Takut nya pada semua imajinasi tentang bencana yang dasyat. Semalaman dia bolak-balik dari teras sampai kamar mandi. Kekokohan jazad nya meredup. Salman terduduk di Pintu kamar. Berita tentang bencana Padang merengut semangat hidupnya yang bergelora sejak menerima SMS dari Nayla.

Kamis , 1 Oktober 2009 jam 16.00 di Bandara Soekarno Hatta

Salman terlihat pucat, Kaos putih nya belum diganti sejak keberangkatanya ke Jakarta. Rambutnya yang biasa rapih terlihat kusut. Tak terlihat lagi langkah mantap dan senyum yang menemani wajah klimisnya. Ia ingin secepatnya melihat Jazad Nayla yang ditemukan di Gedung Bimbingan belajar GAMMA tempatnya mengajar. Ia ingin memeluk Nayla untuk mengucapkan terima kasih atas Cinta dan kasih yang mampu memahami  perbedaan diri nya. **********