Asosiasi Psikiater Amerika menyurati Asosiasi Psikiater Indonesia terkait LGBT

Renée Binder M.D. Presiden Asosiasi Psikiater Amerika

Pada tanggal 9 Maret 2016, Presiden Asosiasi Psikiater Amerika –American Psychiatric Association (APA), Renée Binder, M.D, dan Direktur Medis dan CEO APA, Saul M. Levin, M.D., M.P.A. menandatangani surat yang mereka layangkan kepada Asosiasi Psikiater Indonesia (IPA) untuk mempertimbangkan kembali keputusan mereka terkait homoseksualitas. IPA belum lama ini menklasifikasikan homoseksualitas sebagai gangguan kejiwaan, sebuah label yang salah yang sebenarnya sudah dibantah oleh banyak bukti-bukti penelitian ilmiah.

Tidak ada bukti ilmiah yang mengatakan orientasi seksual (heteroseksual, homoseksual dan lainya) sebagai pilihan.

Berdasarkan bukti ilmiah yang terakhir, memang menunjukkan bahwa orientasi seksual,  ekspresi gender dan identitas gender terjadi secara alami, dan tidak mempunyai ancaman terhadap masyarakat di mana orientasi seksual, ekpresi dan identitas gender tersebut diterima sebagai hal yang normal yang merupakan variasi seksualitas manusia.

Ada pendapat yang kuat yang menyatakan bahwa ada komponen biologis yang kuat terkait orientasi seksual yang mana ini bisa dipengaruhi oleh interaksi gen, hormon dan faktor lingkungan. Jadi intinya, tidak ada bukti-bukti ilmiah yang mengatakan bahwa orientasi seksual baik itu heteroseksual, homoseksual dan lainnya sebagai sebuah pilihan.

Usaha untuk mengubah orientasi seksual melalui “Terapi Konversi” bisa membahayakan. Resiko yang ditimbulkan dari terapi tersebut diantaranya, depresi, keinginan bunuh diri, kecemasan, mengurung diri dari masyarakat dan berkurangnya keinginan untuk berhubungan intim. Karena alasan ini, APA dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) tidak mengategorikan LGBT sebagai sebuah gangguan.

Setelah meninjau kembali bukti-bukti ilmiah, pada tahun 1973 APA memutuskan bahwa homoseksualitas bukan gangguan kejiwaan dan menghilangkannya dari DSM. Sejak saat itu APA sudah menyatakan bahwa tidak ada basis rasional, ilmiah dan lain sebagainya untuk mendrikriminasi atau menghukum LGBT. APA juga menyatakan bahwa konversi dan terapi reparatif hanya akan berujung pada sebuah tindakan perawatan paksa dan mempunyai potensi kekerasan terhadap individu LGBT.

Dalam surat yang ditulis Dr. Binder dan Saul M. Levin tersebut  berisi daftar sejumlah penelitian yang mendukung dan menegaskan pernyataan APA terkait isu-isu diatas. Asosiasi Psikiater Dunia  –The World Psychiatric Association (WPA) juga mengeluarkan pernyataan serupa yang menyatakan bahwa mereka menegaskan kembali bahwa tidak ada bukti bahwa orientasi seksual adalah pilihan dan bisa diubah. Berdasarkan fakta ini, serta banyaknya bukti ilmiah yang mendukung, APA dengan penuh hormat berharap bahwa anggota-anggota IPA akan menimbang kembali keputusan mereka.

Sebelumnya pada tanggal 2 Maret 2016, British Psychological Society (BPS) juga melakukan hal serupa. Mereka menyatakan bahwa keputusan IPA yang mengategorikan Homoskesualitas sebagai gangguan jiwa adalah salah.

Baca juga : British Psychological Society mengecam Asosiasi Psikiater Indonesia yang menyatakan LGBT sebagai penyakit jiwa

Sebenarnya juga sudah jelas bahwa dalam  Buku Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) III yang diterbitkan Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 1993, menyatakan bahwa  Homoseksual (Gay dan Lesbian) dan Biseksual TIDAK TERMASUK GANGGUAN JIWA.

Baca juga : Dr. Fidiansyah diminta meminta maaf atas pernyataannya yang mengatakan homoseksualitas adalah gangguan jiwa

Berikut surat resmi APA

apa 1

apa 2

apa 3

 

Atau bisa diunduh di sini : APA-denounces-IPA-LGBT-classification

Terjemahan dalam Bahasa Indonesia

8 Maret 2016
Dr Tun Kurniasih Bastaman
Asosiasi Psikiatri Indonesia
Jl Prof Latumenten 1
Jelambar, Grogol Petamburan
JAKARTA 11460
Via info@pdskji.org dan tunbastaman@yahoo.com

Untuk Dr Tun Kurniasih Bastaman:
Kami menulis atas nama American Psychiatric Association untuk mengungkapkan keprihatinan kami atas pernyataan Asosiasi Psikiatri Indonesia baru baru ini yang mengklasifikasikan homoseksualitas sebagai gangguan mental serta pernyataan bahwa individu tersebut dapat disembuhkan dengan “perawatan yang tepat.” Berita menyampaikan bahwa IPA (Indonesian Psychiatric Association – Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia) mengatakan: “Orang-orang dengan homoseksualitas dan biseksualitas dapat dikategorikan sebagai orang-orang dengan masalah mental, “dan bahwa orang-orang tersebut menderita “masalah fisik, mental dan sosial, masalah pertumbuhan dan perkembangan, dan / atau masalah kualitas hidup, yang memicu adanya risiko pengalaman gangguan mental”. Kami juga memahami bahwa Anda telah membuat klaim serupa tentang individu transgender

Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan kembali posisi Anda, karena penelitian ilmiah yang terbaru dan terbaik menunjukkan bahwa orientasi seksual dan ekspresi gender yang berbeda terjadi secara alami dan belum terbukti menimbulkan kerugian bagi masyarakat di mana mereka diterima sebagai varian normal seksualitas manusia. Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa upaya untuk mengubah orientasi individu – yang disebut “terapi konversi” atau “terapi reparatif” – bisa berbahaya, dan terkait dengan depresi, bunuh diri, kecemasan, isolasi sosial dan penurunan kapasitas keintiman.

Untuk alasan tersebut, APA Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) tidak mengklarifikasi kan individu lesbian, gay, biseksual atau transgender terganggu secara intrinsik.

Kami dengan penuh hormat menunjuk bahwa individu dalam PDSKJI yang menyebabkan perubahan dalam klasifikasi telah salah mengerti pentingnya penemuan ilmiah terkini, yang menunjukkan bahwa banyak faktor, termasuk baik biologis ataupun lingkungan, memainkan peran dalam membentuk orientasi seksual dan identitas gender. Secara singkat, orientasi seseorang bukanlah sebuah pilihan.

Ada bukti yang kuat bahwa genetiik berperan dalam menentukan seksualitas seseorang. Mustanksi, dkk, menulis dalam Annual Review of Sex Research : “Riset genetik menggunakan metodologi studi keluarga dan kembar telah menghasilkan bukti konsisten bahwa gen mempengaruhi orientasi seksual.” Kesimpulan ini dicapai setelah tinjauan komprehensif dari riset yang berhubungan sepanjang periode 10 tahun yang berakhir pada tahun 2002. Studi ini dan studi lainnya menunjukkan bahwa gen memang memainkan peran, meski tidak harus selalu peran satu-satunya, dalam menentukan orientasi seksual. Dan sebagaimana sifat (trait) yang ditentukan oleh genetis, hal ini (orientasi seksual) memiliki lebih dari satu gen yang turut berperan serta.

Sebuah studi Finlandia melibatkan 3,261 kembar Finlandia berumur 34-43 tahun, diterbitkan dalam Archives of Sexual Behavior pada tahun 2007 menunjukkan bahwa “analisis genetik kuantitatif menunjukkan bahwa variasi dalam perilaku gender atipikal dan orientasi seksual dewasa memiliki bagian yang disebabkan oleh genetik, dengan sisanya dijelaskan oleh efek lingkungan yang tidak terbagi.” Penulis mengutip dari studi di Belanda mengenai perilaku gender atipikal pada kembar umur 7- dan 10 dan orientasi seksual yang terbentuk kemudian hari, dimana riset ini menemukan bahwa faktor genetik terhitung berperan sekitar 70% variansi dalam perilaku gender atipikal untuk laki-laki dan perempuan, dan fenomena ini secara substansial berhubungan dengan homoseksualitas.

Ada bukti lainnya bahwa, sepanjang masa perkembangan janin, pemaparan terhadap jenis hormon tertentu dapat memainkan peran. Sebuah tinjauan pada tahun 2011 yang dilakukan oleh peneliti Belgia, Jacques Balthazart dan diterbitkan di jurnal Endocrinology menyimpulkan bahwa “rerata subjek homoseksual dulunya terpapar dengan kondisi endokrin atipikal sepanjang perkembangan,” dan bahwa “perubahan endokrin yang signifikan sepanjang masa embrio seringkali menghasilkan meningkatnya homoseksualitas”

Sebagai tambahan, faktor genetik dan hormonal secara umum berinteraksi dengan faktor lingkungan yang tidak dapat ditentukan, meskipun demikian faktor pola asuh yang ataupun pemaparan terhadap individu gay tidak menyebabkan homoseksualitas. Jumlah opini dalam komunitas ilmiah yang ada kebanyakan adalah hadirnya komponen biologis yang kuat untuk orientasi seksual dan bahwa faktor genetik, hormonal dan lingkungan berinteraksi untuk mempengaruhi orientasi individu. Tidak ada bukti ilmu yang menyatakan baik homoseksualitas ataupun heteroseksualitas adalah pilihan kehendak bebas.

Rice, dkk mencatat pada artikel tahun 2012 mereka bahwa “Studi prapuber dan kembar menunjukkan bahwa homoseksualitas memiliki unsur pewarisan dalam kedua jenis kelamin,” namun pemaparan masa janin (atau kekurangan pemaparan) dari hormon androgen yang bersifat memaskulinkan sepanjang tahap paling aawal dari perkembangan embrio memiliki hubungan yang kuat dengan orientasi seksual pada kedua jenis kelamin. Embrio perempuan yang terpapar tingkat androgen di atas rerata akan memiliki kecenderungan untuk menjadi perempuan gay, sebagaimana kekurangan pemaparan androgen dari rerata di janin laki-laki menghasilkan homoseksualitas.

Dalam artikel 2011 oleh Bao dan Swaab menjelaskan bahwa fenomena dari ketertarikan seksual yang berjalan memunculkan kondisi fisiologis tertentu pada seseorang dikarenakan diferensiasi seksual seseorang muncul belakangan di masa perkembangan janin daripada pembentukan alat kelamin, Sebagai hasilnya, feminisasi otak dapat terjadi pada janin laki-laki, disebabkan oleh pemaparan hormonal jauh sesudah menetapnya gender laki-laki.

Penting untuk mengakui bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa percobaan untuk mengubah orientasi seksual seseorang pernah berhasil, bahkan ketika subjek tulus ingin mengubah (orientasinya).

Pada tahun 1973, berdasarkan review penelitian ilmiah, American Psychiatric Association menetapkan bahwa homoseksualitas bukan merupakan gangguan mental dan dihapus dari DSM. Ini adalah posisi APA, yang mengungkapkan bahwa tidak ada dasar rasional, ilmiah atau lainnya, untuk menghukum atau mendiskriminasi orang-orang LGBT.

Dengan segala hormat untuk Anda dan orang-orang Indonesia, kami menyarankan bahwa pengklasifikasian homoseksualitas dan ekspresi gender sebagai gangguan intrinsik hanya akan menyebabkan pemaksaan “perawatan” dan kekerasan terhadap orang-orang yang tidak menimbulkan kerugian bagi masyarakat dan tidak bisa mengubah siapa mereka.

Kami berharap bahwa dengan menyediakan Anda data ilmiah tambahan di atas akan memberikan informasi terkait keputusan Anda. Kami mendorong Anda untuk mempertimbangkan bukti yang terkandung dan untuk mempertimbangkan kembali keputusan Anda. Kami siap untuk menjawab setiap pertanyaan yang mungkin Anda miliki.

Hormat kami,
Renée Binder, MD
President CEO

Saul Levin, MD, MPA
Medical Director

Terjemahan dikutip dari Sdr Ferene Debineva

Advertisements

Bom Waktu Itu Bernama HIV AIDS

Dalam sebuah rumah berdinding semen dan berkamar tiga di Sorong, Papua Barat, impian Angelina pun perlahan memudar. Dulu ia pernah bercita-cita untuk menjadi seorang polisi wanita “karena saya melihat mereka membantu dan melindungi orang.”

Namun sudah lama impian itu sirna. Pada Juni 2002, suaminya yang bekerja sebagai ahli mekanik meninggal. Enam bulan kemudian bayi perempuan pertamanya pun juga meninggal. Baru pada bulan Oktober ia tahu penyebabnya. Belum juga hilang kesedihannya, perempuan 21 tahun itu diberitahu bahwa ia terinfeksi HIV. Kemungkinan besar suaminya terjangkit virus itu dari pekerja seks.

Angelina hanya salah satu korban yang polos dan  tidak tahu menahu tentang HIV di Indonesia. Ia hanya orang biasa yang bahkan tidak pernah melakukan tindakan beresiko tetapi tertular oleh orang yang berkelakuan tidak baik. Tentu saja banyak perhatian tercurah pada penyebaran HIV/AIDS di antara kelompok-kelompok yang beresiko. Tapi UNICEF justru memfokuskan pada anak muda dalam upayanya mencegah penularan virus ke masyarakat luas.

Sebagian besar anak muda Indonesia tidak tahu mengenai HIV/AIDS dan penyebarannya. Hanya sedikit yang mendapat informasi yang tepat tentang penyakit itu. Dalam satu penelitian, hanya satu dari tiga pelajar sekolah menengah atas di Jakarta yang tahu persis cara pencegahan penularan virus secara seksual.

Kurangnya pengetahuan ini menjadi sebuah bom waktu di daerah-daerah seperti Papua. Di sana anak muda mulai aktif secara seksual pada awal masa pubertas. Dengan memberikan pelatihan pada guru-guru sekolah menengah atas di Papua tentang ketrampilan hidup dan HIV/AIDS, UNICEF berharap generasi muda di Papua akan memahami konsekuensi dari seks yang tidak aman.

Menyangkut pendidikan sebagai satu pilar strategi lima tahun HIV/AIDS,  pemerintah Indonesia tetap berjalan di tempat. Karena itu UNICEF mencoba langkah berbeda dengan menyentuh langsung pelajar sekolah menengah atas.

“Saat kita berada di sekolah, kita mengkombinasikan strategi pendidikan ketrampilan hidup dan pendidikan sebaya untuk mencegah penularan HIV dan penyalahgunaan obat-obatan. Strategi itu pada dasarnya dirancang untuk memberikan kaum muda ketrampilan komunikasi antar pribadi, kreatifitas, kepercayaan diri, harga diri dan daya pikir kritis. Ini perlu untuk membantu mereka jika menghadapi kesempatan untuk mencoba obat-obatan atau melakukan seks yang tidak aman,” kata Rachel Odede, kepala unit HIV/AIDS UNICEF Indonesia.

Hambatan utama untuk pendidikan orang Indonesia adalah keyakinan bahwa penyakit ini hanya menjangkiti “orang tidak baik”  dan memang mereka layak mendapatkannya. Orang yang terinfeksi HIV/AIDS pun diberi stigma dan dipaksa pergi dari kampung halaman mereka. Mereka ditolak berobat ke dokter, diancam, dijauhi dan disingkirkan. Ketakutan dan stigma semacam itulah yang membuat para tetangga dan bahkan anggota keluarga Angelina tidak tahu sama sekali penyakitnya.

“Saya anggota aktif di gereja. Saya tidak ingin orang melihat ke saya dan berkata ‘Lihat, orang itu putrinya sakit’”, kata Yakobus, ayahnya. Ia seorang guru sekolah dasar yang mengambil pensiun dini untuk merawat putri bungsunya itu.

Meski orang Indonesia yang sekuler telah mengenal program keluarga berencana dengan slogan ‘dua anak cukup’, pembicaraan mengenai seks masih dianggap tabu oleh sebagian penduduk yang sebagian besar Muslim dan konservatif ini. Saat ini epidemi HIV/AIDS terkonsentrasi pada tingkat penularan HIV yang masih rendah pada penduduk secara umum. Namun pada populasi tertentu, tingkat penularannya cukup tinggi, yaitu di antara para pekerja seks komersil dan pengguna jarum suntik yang kian meningkat.

© UNICEF/IDSA/036/Estey

Seperti halnya Viet Nam dan China, epidemi HIV/AIDS di Indonesia masih digolongkan baru timbul. Para pakar memperkirakan ada sekitar 90.000 sampai 130.000 orang Indonesia yang terjangkit HIV. Tapi UNICEF yakin angka ini akan bertambah jika tidak ada perubahan perilaku populasi yang beresiko dan menjadi perantara.

Tidak sulit melihat gambaran penularan ini di masyarakat umum. Diperkirakan ada 7 sampai 10 juta laki-laki Indonesia mengunjungi pelacuran tiap tahunnya. Mereka biasanya enggan menggunakan kondom. Diperkirakan juga ribuan perempuan telah terinfeksi secara seksual oleh laki-laki yang menyuntikkan obat-obatan.

“Pada tahun-tahun setelah krisis moneter, kami melihat makin banyak orang muda pergi ke kota untuk mencari pekerjaan. Tampak pula terjadi peningkatan jumlah pekerja seks dan pengguna jarum suntik (IDU),” kata Dr Barakbah, kepala unit penyakit menular Rumah Sakit Dr Soetomo, Surabaya. “Kita akan melihat lonjakan kasus AIDS dalam beberapa tahun mendatang. Kita juga melihat pertumbuhan eksponensial pada kasus-kasus HIV yang dilaporkan, terutama yang berasal dari tempat pelacuran. Penyebarannya sedang memasuki tahap ketiga, yang mengarah ke AIDS. Kami melihat makin banyak pasien,” tambahnya.

Untuk mengetahui bagaimana skenario ini terkuak, lihatlah kisah pekerja seks berusia 16 tahun, Reena (bukan nama sebenarnya). Ia beroperasi di Surabaya, daerah seks terbesar di Asia. Ia terinfeksi HIV positif  dan ia tidak tahu. Ia pun tetap melayani tamunya sampai 12 orang tiap minggunya. Tak satupun para pelanggannya dan beberapa ‘pacarnya’ itu yang menggunakan kondom.

Orang-orang tersebut adalah di antara 2.000 lebih pelaut yang singgah setiap minggunya di Surabaya, ibu kota Jawa Timur yang juga pusat pengiriman barang antara Jawa, Sulawesi, dan kepulauan bagian timur Indonesia.

Orang dari seluruh penjuru Nusantara menjuluki Surabaya dengan istilah ‘tiga M’ dalam kaitannya dengan penularan HIV/AIDS, yaitu “Men (laki-laki), Money (uang ) dan Mobility (mobilitas)”.

Saat ini instansi-instansi makin menaruh perhatian terhadap cepatnya penularan HIV/AIDS terhadap generasi muda Indonesia yang menggunakan jarum suntik. Sebagian besar dari mereka berumur dua puluhan dan aktif secara seksual.

Di beberapa daerah di Jakarta, diperkirakan 90 persen pengguna terkena HIV positif. Beberapa tahun lalu, demografi para pengguna obat-obatan mulai meningkat karena jatuhnya harga heroin dan para ahli kimia Indonesia mulai membuat shabu-shabu dalam jumlah besar (bahkan cukup untuk menjadi eksporter obat bius).

Seperti halnya di Thailand, penggunaan obat-obatan menarik para orang miskin di kota di Indonesia. Merekalah kelompok yang sulit diberi pengertian mengenai jarum suntik pribadi dan bersih.

Untuk mendorong kaum muda untuk memanfaatkan layanan pengujian dan konseling, UNICEF memberi dukungan teknis dan finansial kepada beberapa lembaga swadaya masyarakat untuk membantu generasi muda putus sekolah yang rentan terhadap penyalahgunaan obat dan eksploitasi seks.

Tapi lembaga-lembaga ini tidak bisa berjuang sendirian. Untuk memberi pemahaman ke masyarakat yang lebih luas, mereka butuh dukungan dan sumber-sumber dari pemerintah pusat dan daerah. Sayangnya, instansi pemerintah enggan untuk memimpin gerakan ini karena penyakit itu dianggap sebagai akibat dari ‘tindakan amoral’.

Beberapa langkah baru telah diambil. Para gubernur dari daerah-daerah yang penularannya parah bersedia menandatangani  perjanjian dan bersumpah untuk memusatkan segala sumber mereka untuk kemajuan penyuluhan mengenai penyakit itu. Tapi rupanya masih terlalu banyak hal yang harus dikerjakan.

“Tantangan terdekat yang saya lihat adalah menterjemahkan strategi HIV/AIDS menjadi rencana tindak yang operasional dan konkrit,” kata Odede.

http://www.unicef.org/indonesia/id/reallives_3186.html

Saat Sahabat Meninggal Pagi Ini

Dulu

Ku ingat saat kita bersama menyusuri jalanan Ibu kota

Menikmati setiap pandangan yang mencibir

Kita hanya tertawa, kala sepuluh lelaki mengajak ke Peraduan nya

Kau, aku  dan mereka bergumul dalam keringat

Ada kepuasan di Setiap tetes air mani yang melembabkan bumi kita

Kau dan aku, hanya ingin kita mengungkapkan pada dunia

Bahwa kita manusia dari tanah yang sama

Nafsu yang sama

Surga yang sama

Surga Linga-linga tanpa Yoni

Tak peduli, saat pagi mereka terbangun dan meludahi muka kita

Sahabat, Ku ingat kau pernah bercerita

Tentang orang tua yang mengusirmu dari rumah

Tentang keharusan untuk menikah

Aku hanya bisa memeluk tubuh mu

Menangis bersama

Sahabat

Pagi ini saat pagi merah

Bayu bercerita tentang akhir perjalanan mu di Dunia

Kandida, typus, jantung, tuberculosis dan segala macam penyakit lainnya

Mengalahkanmu dalam satu kata

Mati

*****

Pagi yang emosional, 8 November 2012

Ku dedikasikan untuk semua Sahabat yang sedang berjuang untuk lebih sehat dan lebih baik

Teruslah berjuang….

Aku selalu bersama mu

Image

Data IBBS 2011 ( STBP 2011)

Lesbian dalam Pandangan Psikiatrik, Sebuah Tanggapan

Lesbian dalam Pandangan Psikiatrik,
Sebuah Tanggapan
Soe Tjen Marching ;  Komponis
Sumber :  KORAN TEMPO, 21 Juni 2012
Sangat mengejutkan membaca artikel “Lesbian dalam Pandangan Psikiatrik” di Koran Tempo, Kamis, 14 Juni 2012. Sang penulis, H. Soewadi, mengajukan argumen bahwa lesbian adalah penyimpangan dan gangguan seksual yang perlu disembuhkan. Padahal, sejak 1973, the American Psychiatric Association sudah menetapkan bahwa homoseksualitas tidak lagi digolongkan sebagai gangguan mental. Lalu, pada 17 Mei 1990, Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) secara resmi menyatakan homoseksualitas bukanlah penyakit atau gangguan jiwa. Di Indonesia, Pedoman Penggolongan Diagnosa Gangguan Jiwa III juga mencabut homoseksualitas sebagai gangguan, pada 1993.
Yang tidak kalah mengejutkan, penulis menyetujui pendapat bahwa homoseksual terjadi karena berbagai faktor, antara lain: (1) Faktor biologi berupa terganggunya struktur otak kanan dan kiri serta adanya ketidakseimbangan hormonal; (2) Faktor psikologis, kurangnya kasih ibu, dan tidak adanya peran seorang ayah; (3) Pengaruh lingkungan yang tidak baik bagi perkembangan kematangan seksual yang normal; (4) Faktor pola asuh, kurangnya ketaatan agama.
Saya ingin membahas satu per satu faktor yang telah disebut oleh penulis artikel sebagai penyebab homoseksualitas. Pertama, kalau homoseksualitas memang manusia yang terganggu struktur otak dan hormonnya, artinya mereka akan mengalami rasa letih, pening, stres, insomnia, dan terkadang disertai dengan kejang. Apakah para homoseksual mempunyai gejala demikian? Mungkin benar, banyak homoseksual di Indonesia yang mengalami stres berat, pening, dan insomnia. Tapi bukan lantaran gangguan otak, melainkan karena banyak dari mereka mendapat tekanan dan stigma dari masyarakat!
Sekarang sudah tersedia berbagai terapi dan pengobatan bagi mereka yang struktur otak atau hormonnya terganggu. Saya telah menjumpai beberapa pasien, baik yang heteroseksual maupun homoseksual, dengan gangguan otak atau hormon. Dan setelah gangguan otak pasien homoseksual disembuhkan, ia tidak lalu menjelma menjadi heteroseksual. Para homoseksual yang masuk rumah sakit dengan gangguan otak biasanya akan keluar dari rumah sakit sebagai homoseksual juga-–mereka tetap setia pada orientasi seksual masing-masing. Jadi tidak ada hubungannya struktur otak dan gangguan hormon dengan orientasi seksual manusia. Dan gangguan otak macam apa yang dialami petenis lesbian Martina Navratilova, sehingga dia bisa bermain dengan dahsyat-–memenangi 18 grand slam. Navratilova bahkan masih bertarung di Wimbledon pada usianya yang ke-50.
Faktor kedua yang disebut oleh H. Soewadi adalah kurangnya kasih ibu dan tiadanya peran seorang ayah. Namun saya mengenal banyak sekali homoseksual yang tumbuh dengan kasih sayang kedua orang tua mereka, dan banyak juga heteroseksual yang tidak mempunyai ayah dan ditelantarkan oleh ibu mereka. Ilmuwan Dede Oetomo (juga homoseksual) bahkan sempat menceritakan bahwa ayahnya sangat memperhatikan dirinya, dan betapa ibunya begitu mendukung ide-ide dan aktivitasnya dalam memperjuangkan hak-hak lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di Indonesia. Yang sering terjadi di Indonesia bukannya anak menjadi homoseksual karena kurangnya kasih sayang orang tua, tapi orang tua (konservatif) berkurang kasih sayangnya setelah mengetahui anak mereka homoseksual.
Faktor ketiga yang disebut oleh penulis ini: pengaruh lingkungan yang tidak baik. Mungkin banyak dari kita yang telah mendengar nama Socrates, Plato, Aristoteles, dan Alexander Agung, para filsuf terpelajar dengan lingkungan para bangsawan. Tapi apakah kita semua sadar bahwa para lelaki ini mempunyai kekasih lelaki? Apakah ini karena lingkungan mereka yang tidak baik?
Sekali lagi, saya akan menyebut Dede Oetomo, yang saya kenal cukup dekat. Dia mempunyai orang tua dan saudara heteroseksual, dan teman-teman heteroseksual juga. Tidak ada “lingkungan” yang membentuk dia menjadi homoseksual! Yang lebih tepat mungkin bukan lingkungan yang tidak baik yang membentuk homoseksual, tapi homoseksual di Indonesia sering kali harus menghadapi lingkungan yang “tidak baik” (yang berpikiran sempit dan menyudutkan LGBT).
Faktor keempat, kurangnya ketaatan agama. Dalam artikel ini, sang penulis menyiratkan, dalam agama, heteroseksuallah yang diklaim benar. Tapi agama mana yang dimaksud? Dewa-dewi di Nusantara (yang kebanyakan berasal dari India) tidak mengacu pada dualisme heteroseksual. Salah satunya adalah Ardhanarishvara, yang merupakan persatuan antara Dewi Parwati dan Dewa Syiwa, sehingga ia mempunyai dua tubuh (separuh lelaki dan separuh perempuan). Patungnya masih bisa ditemukan di Bali dan di Museum Trowulan (Mojokerto).
Begitu juga dalam agama Hindu. Beberapa dewa-dewi agama Hindu tidak berpaku pada kemapanan gender. Misalnya, Wishnu, yang pandai menjelma menjadi beberapa makhluk. Suatu ketika ia menjelma menjadi Dewi Mohini, dan saat itu Dewa Syiwa jatuh cinta kepadanya. Akhirnya, bersetubuhlah penjelmaan Dewa Wishnu dengan Dewa Syiwa. Dari persetubuhan ini, lahirlah seorang bayi bernama Ayyapa.
Selain Mohini, tokoh pewayangan Hindu yang kisahnya memuat ambiguitas gender adalah Srikandi, yang merupakan titisan Dewi Amba. Dalam kitab Mahabharata, Srikandi lahir sebagai seorang wanita, tapi karena sabda para dewa, ia diasuh sebagai seorang pria. Srikandi sering kali dianggap mempunyai jenis kelamin waria, dan ia jatuh cinta kepada seorang perempuan juga.
Agama masyarakat Bugis mempunyai pendeta lelaki yang feminin (biasa dikenal sebagai waria di Indonesia), yang disebut bissu. Bissu mempunyai kedudukan yang cukup disegani di masyarakat Bugis-–karena perpaduan karakter feminin dan maskulin dalam satu tubuh inilah, ia dianggap sebagai makhluk yang lebih sempurna daripada mereka yang hanya mempunyai sifat maskulin atau feminin. Masih ada beberapa contoh agama yang tidak menabukan homoseksual atau biseksual, tapi karena keterbatasan tempat, saya tidak bisa menyebut semua.
Sangatlah disayangkan bila stigma yang diberikan kepada LGBT dipertahankan. Inilah yang sering kali tidak disadari: bila LGBT disudutkan, masyarakat itu sendiri juga mengalami kerugian. Berapa banyak waktu dan uang orang tua yang terbuang untuk mengirim anak LGBT mereka ke psikiater dan mencoba menyembuhkan orientasi seksual mereka? Energi yang tersia-sia hanya untuk merendahkan hak manusia. Justru stigma seperti inilah yang bisa menyebabkan stres dan depresi berkepanjangan.
Di negara-negara yang tidak melecehkan LGBT, mereka bisa mengembangkan kemampuan dengan lebih leluasa. Dengan demikian, akhirnya kemampuan para LGBT tidak terhambat dan tersia-sia, atau menjelma menjadi frustrasi berkepanjangan, hanya karena kutukan masyarakat atau stigma.

Selama kita merendahkan keberadaan LGBT, kita juga telah ikut membunuh kemampuan mereka yang di masa depan bisa menjadi penerus tokoh-tokoh seperti Leonardo da Vinci, Hans Christian Andersen, Jodie Foster, dan Martina Navratilova.

Mitos seputar kesehatan Lelaki

This slideshow requires JavaScript.

Masalah pada kesehatan seksual pria umumnya topik tabu bahkan di antara laki-laki sendiri. Sedangkan perempuan lebih terbuka dalam mendiskusikan hal-hal pribadi dan seksual dengan rekan-rekan mereka dan dengan dokter mereka, laki-laki umumnya segan untuk mencari nasihat dari orang lain bahkan dengan profesional medis mengenai masalah-masalah kesehatan seksual laki-laki. Mungkin saja sifat alami pria untuk menjaga diri mereka sendiri dalam masalah pribadi, apa lagi pada kesehatan seksual pria yang dapat menjadi isu yang sensitif. Sebagai remaja, laki-laki muda mendapatkan informasi tentang seksualitas mereka dari rekan-rekan mereka, dan akhirnya, masalah kesehatan seksual laki-laki menjadi topik yang dibicarakan di balik pintu tertutup.

Meskipun informasi yang telah diperoleh selama tahap ini dapat merangsang atau menarik, hampir sering pria bisa tidak akurat atau tidak benar. Pria cenderung untuk membahas masalah kesehatan seksual mereka dengan pria lain sedangkan wanita memiliki kecenderungan untuk mengungkapkan kekhawatiran tersebut dengan mudah dan terbuka. Akibatnya, pria sering bingung ketika kekhawatiran terhadap kesehatan seksual laki-laki muncul karena mereka merahasiakan itu. Dengan invasi yang luas dari teknologi internet namun, ada penyebaran informasi tentang kesehatan seksual pria. Hal ini sangat menguntungkan bagi laki-laki karena dapat memiliki akses ke informasi tentang kesehatan seksual pria – sebuah anonim pada saat itu – karena banyak situs menawarkan data yang luas tentang masalah tersebut.

Harus dicatat bahwa ada juga situs yang tak terhitung menyampaikan informasi palsu dan luar biasa pada kesehatan seksual pria, karena itu kecerdasan mempertanyakan dan penegasan tajam juga diperlukan untuk mendapatkan fakta-fakta yang akurat dari internet. Ada berbagai topik tentang kesehatan seksual pria.

Seperti misalnya, penggunaan kondom. Penggunaan kondom pada dasarnya dipandang sebagai sarana yang tepat untuk mencegah penularan penyakit menular seksual (PMS) dan sebagai alat kontrasepsi juga. Namun, sebagian besar pria tidak sesuai dengan tindakan pencegahan terhadap PMS dan kehamilan yang tidak diinginkan untuk wanita.

Sebuah forum kesehatan pria online pada kesehatan seksual pria bisa menjadi sangat membantu dalam hal ini. Risiko, tips dan pengalaman pribadi dapat dibagi dan dibahas dalam modus komunikasi antara manusia.

Disfungsi ereksi atau impotensi juga merupakan salah satu masalah yang paling tertutup pada kesehatan seksual pria. Karena impotensi merupakan isu sensitif maskulinitas, sebagian besar pria merasa malu untuk membahas topik ini dengan teman sebaya mereka atau bahkan dokter mereka. Kemajuan Farmasi telah mencoba untuk mengembangkan sarana untuk memerangi kondisi ini, tapi masih saja masalah impotensi berkonotasi penghinaan pribadi. Dengan mengunjungi sumber-sumber informasi online yang dapat dipercaya, pria dapat menemukan jawaban atas permintaan mereka sehingga mengurangi kecemasan mereka dan membuat mereka mencari pilihan untuk memperbaiki masalah.

Isu lain mengenai kesehatan seksual pria adalah peningkatan libido. Forum online dapat menjadi jalan untuk mengatasi masalah medis yang mendasari gaya hidup dan hal-hal terkait yang dapat mempengaruhi hasrat seksual mereka seperti kebugaran, diet dan manajemen berat badan. Pertanyaan kesehatan seksual pria yang lain bisa sangat spesifik mulai dari ketidakmampuan untuk menarik kembali kulup, penyakit Peyroni, kebocoran vena dan perkembangan abnormal dari uretra. Perhatian terutama pada kesehatan seksual pria adalah PMS. Banyak informasi yang diperoleh pada PMS seperti HIV / AIDS, gonorrhea, herpes dan sifilis kadang-kadang lahir dari misinformasi dan kebodohan belaka. Informasi yang akurat tentang kesehatan seksual pria adalah landasan untuk seksualitas sehat dan dalam menikmati hubungan seksual secara maksimal.

Forum online Kesehatan Pria juga merupakan jalan sangat baik untuk pendidikan dan kesadaran di antara pria dan akan mendorong pria untuk mengambil tindakan dan mencari perawatan medis juga.

Kanker Anus: Informasi dan pengobatan

Kanker anus adalah penyakit yang berbahaya (kanker) dalam bentuk sel tisu dalam anus.

Anus adalah bagian akhir dari usus besar, di bawah bagian rektum yang dilalui kotoran (limbah padat) untuk keluar dari tubuh. Anus yang dibentuk adalah sebagian dari luar lapisan kulit dari tubuh dan sebagian dari usus. Dua-ring seperti otot, disebut otot sphincter, berfungsi untuk membuka dan menutup anus, anus membuka agar kotoran keluar dari tubuh. anal kanal, bagian pembukaan antara dubur dan anal panjangnya sekitar 1 ½ inci.

Kulit luar sekitar dubur yang disebut daerah perianal. Tumor di daerah ini adalah Tumor kulit, bukan kanker anus.

Terinfeksi dengan papillomavirus manusia (HPV) dapat mempengaruhi resiko pengembangan kanker anus.

Faktor risiko meliputi:

* Usia lebih dari 50 tahun.
* Terinfeksi dengan human papillomavirus (HPV).
* Memiliki banyak pasangan seks.
* Melakukan hubungan anal seks.
* Anus sering mengalami kemerahan, pembengkakan dan kesakitan.
* Menderita anus fistula (bukaan yang tidak normal).
* Merokok.

Kemungkinan tanda kanker anus termasuk pendarahan dari anus atau dubur atau benjolan di dekat anus.

Ini dan gejala lainnya dapat disebabkan oleh kanker anus. Kondisi lain dapat menyebabkan gejala yang sama. Harus berkonsultasi ke Dokter jika ada masalah yang berikut ini:
* Pendarahan dari anus atau dubur.
* Sakit atau tekanan di daerah sekitar dubur.
* Gatal-gatal atau banyak keluar lendir dari anus.
* Benjolan di dekat anus.
* Perubahan kebiasaan BAB.

Pengujian untuk memeriksa dubur digunakan untuk mendeteksi (menemukan) dan diagnosa kanker anus.

Berikut tes dan prosedur yang dapat digunakan:
Pemeriksaan fisik dan sejarah: Sebuah pengujian pada tubuh untuk memeriksa tanda-tanda kesehatan umum, termasuk untuk memeriksa tanda-tanda penyakit, seperti gumpalan atau hal lain yang tampaknya tidak biasa. Sebuah sejarah kesehatan pasien dan kebiasaan terakhir penyakit dan juga perawatannya.

  • Pemeriksaan dubur digital (DRE): Sebuah penelitian terhadap anus dan rektum. Dokter atau perawat memasukkan pelumas, bersarung tangan dan jari dimasukkan ke dalam dubur untuk merasakan adanya gumpalan atau hal lain yang tampaknya tidak biasa.
  • Anoscopy: Sebuah alat pemeriksaan anus dan yang lebih rendah dari rectum, tabung yang diterangi disebut anoscope.
  • Proctoscopy: Sebuah alat pemeriksaan yang pendek untuk memeriksa rectum, tabung yang diterangi disebut proctoscope.
  • Endo-anal atau endorectal ultrasound: Sebuah prosedur yang di mana menggunakan ultrasound transducer (penyelidikan) dimasukkan ke dalam anus atau dubur dan digunakan untuk memancarkan energi gelombang suara tinggi (ultrasound) pada organ internal dan membuat Gema. Gema yang berupa gambar tisu tubuh disebut sonogram.
  • Biopsi: Penyingkiran sel atau tisu sehingga mereka dapat dilihat di bawah mikroskop oleh patolog untuk memeriksa tanda-tanda kanker. Jika yang dilihat adalah daerah yang tidak normal selama anoscopy, yang pernah dilakukan pada waktu itu.

Informasi Umum Tentang kanker

kanker anus adalah penyakit yang berbahaya (kanker) dalam bentuk sel tisu dalam anus.

Anus adalah bagian akhir dari usus besar, di bawah bagian rektum yang dilalui kotoran (limbah padat) untuk keluar dari tubuh. Anus yang dibentuk adalah sebagian dari luar lapisan kulit dari tubuh dan sebagian dari usus. Dua-ring seperti otot, disebut otot sphincter, berfungsi untuk membuka dan menutup anus, anus membuka agar kotoran keluar dari tubuh. anal kanal, bagian pembukaan antara dubur dan anal panjangnya sekitar 1 ½ inci.

Kulit luar sekitar dubur yang disebut daerah perianal. Tumor di daerah ini adalah Tumor kulit, bukan kanker anus.

Terinfeksi dengan papillomavirus manusia (HPV) dapat mempengaruhi resiko pengembangan kanker anus.

Faktor risiko meliputi:

* Usia lebih dari 50 tahun.
* Terinfeksi dengan human papillomavirus (HPV).
* Memiliki banyak pasangan seks.
* Melakukan hubungan anal seks.
* Anus sering mengalami kemerahan, pembengkakan dan kesakitan.
* Menderita anus fistula (bukaan yang tidak normal).
* Merokok.

Kemungkinan tanda kanker anus termasuk pendarahan dari anus atau dubur atau benjolan di dekat anus.

Ini dan gejala lainnya dapat disebabkan oleh kanker anus. Kondisi lain dapat menyebabkan gejala yang sama. Harus berkonsultasi ke Dokter jika ada masalah yang berikut ini:

* Pendarahan dari anus atau dubur.
* Sakit atau tekanan di daerah sekitar dubur.
* Gatal-gatal atau banyak keluar lendir dari anus.
* Benjolan di dekat anus.
* Perubahan kebiasaan BAB.

Pengujian untuk memeriksa dubur digunakan untuk mendeteksi (menemukan) dan diagnosa kanker anus.

Masa (kesempatan pemulihan) tergantung pada hal berikut:

* Ukuran Tumor.
* Dibagian mana Tumor berada didalam anus.
* Apakah kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening.

Pengobatan tergantung dari pilihan berikut:

*TTahapan dari kanker.
* Dimana Tumor tersebut berada didalam anus.
* Apakah pasien telah menderita penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV).
* Apakah kanker tetap ada setelah perawatan atau kambuh.

Setelah kanker anus didiagnosa, tes yang dilakukan untuk mengetahui apakah sel kanker sudah menyebar didalam anus atau ke bagian tubuh yang lain.

Proses yang digunakan untuk mengetahui apakah kanker telah menyebar didalam anus atau ke bagian tubuh yang lain disebut staging. Informasi yang dikumpulkan dari proses pementasan menentukan tahap penyakit. Adalah penting untuk mengetahui tahap untuk rencana perawatan. Berikut tes dapat digunakan dalam proses pementasan:

* CT scan : Sebuah prosedur yang membuat serangkaian gambar detail dari bagian dalam tubuh, diambil dari berbagai sudut pandang. Gambar yang dibuat oleh komputer yang terhubung ke sebuah mesin x-ray. Dye mungkin disuntikkan ke dalam pembuluh darah atau ditelan untuk membantu organ atau tisu muncul lebih jelas. Prosedur ini juga disebut Computed Tomography, komputerisasi tomografi, atau komputerisasi tomografi aksial. Untuk kanker anus, yang di CT scan dari panggul dan perut dapat dilakukan.
* X-ray dada : Sebuah x-ray ke organ dan tulang di dalam dada. Sebuah x-ray adalah jenis energi sinar yang dapat tembus kedalam tubuh dan diabadikan kebentuk film, membuat gambar dari bagian dalam tubuh.
* Endo-anal atau endorectal ultrasound: Sebuah prosedur yang di mana menggunakan ultrasound transducer (penyelidikan) dimasukkan ke dalam anus atau dubur dan digunakan untuk memancarkan energi gelombang suara tinggi (ultrasound) pada organ internal dan membuat Gema. Gema yang berupa gambar tisu tubuh disebut sonogram.

Tahapan-tahapan yang digunakan untuk kanker anus:

Tahap 0 (kanker bisul di Situ)

Pada tahap 0, kanker hanya ditemukan di lapisan terjauh dari anus. Tahap 0 kanker juga disebut kanker bisul di situ.

Tahap I

Pada tahap I, Tumor adalah 2 sentimeter atau lebih kecil.

Tahap II

Pada tahap II, Tumor adalah lebih besar daripada 2 sentimeter.

Tahap IIIA

Pada tahap IIIA, Tumor dapat berukuran apapun dan telah menyebar ke salah satu:

* Kelenjar getah bening di dekat dubur; atau
* dekat organ, seperti vagina, saluran kencing, dan kandung kemih.

Tahap IIIB

Pada tahap IIIB, Tumor seukuran apapun dan telah tersebar:

* ke tempat-tempat organ dan untuk Kelenjar getah bening di dekat dubur; atau
* untuk Kelenjar getah bening di satu sisi panggul dan / atau kunci paha, dan mungkin telah menyebar ke organ di dekatnya; atau
* untuk Kelenjar getah bening di dekat dubur dan di kunci paha, dan / atau ke Kelenjar getah bening pada kedua sisi panggul dan / atau kunci paha, dan mungkin telah menyebar ke organ didekatnya.

Tahap IV

Pada tahap IV, yang mungkin Tumor seukuran apapun dan kanker mungkin telah menyebar ke Kelenjar getah bening atau organ dekat dan jauh telah menyebar ke bagian tubuh.

Kanker anus kambuhan

Kanker anus kambuhan adalah kanker yang telah recurred (kembali) setelah dirawat. Kanker dapat datang kembali didalam anus atau di bagian tubuh yang lain.

Sekilas tentang perawatan pilihan

Ada berbagai jenis pengobatan untuk pasien kanker anus.

Berbagai jenis perawatan yang tersedia untuk pasien kanker anus. Beberapa perawatan yang standar (yang saat ini digunakan), dan beberapa lagi yang sedang diteliti dalam uji klinis. Sebelum perawatan dimulai, pasien mungkin berpikir tentang mengambil bagian dalam percobaan klinis. Percobaan perawatan klinis adalah penelitian studi dimaksudkan untuk membantu meningkatkan perawatan saat ini atau memperoleh informasi tentang perawatan baru untuk pasien penderita kanker. Ketika uji klinis menunjukkan bahwa perawatan yang baru lebih baik dari perawatan standar, maka pengobatan baru tersebut dapat menjadi standar pengobatan.

Uji klinis ada di banyak negara bagian. Informasi tentang uji klinis tersedia di Situs NCI . Memilih perawatan kanker yang tepat idealnya melibatkan keputusan dari pasien, keluarga, dan tim kesehatan.

Tiga jenis perawatan standar yang digunakan:

Terapi radiasi

Terapi radiasi adalah perawatan kanker yang menggunakan energi tinggi sinar-x atau jenis lain radiasi untuk membunuh sel kanker. Ada dua jenis terapi radiasi. Eksternal terapi radiasi yang menggunakan mesin di luar tubuh untuk mengirim radiasi terhadap kanker. Internal terapi radiasi menggunakan zat radioaktif mati dalam jarum, bibit, kawat, atau catheters yang ditempatkan secara langsung ke dalam atau dekat dengan kanker. Cara terapi radiasi diberikan tergantung pada jenis dan tahap kanker yang sedang dirawat.

Kemoterapi

Kemoterapi adalah perawatan kanker yang menggunakan obat untuk menghentikan pertumbuhan sel kanker, baik dengan membunuh sel atau dengan menghentikan pembelahan sel. Bila kemoterapi diambil melalui mulut atau menyuntikkan ke dalam pembuluh darah atau otot, obat memasuki aliran darah dan dapat mencapai sel kanker di seluruh tubuh (sistemik kemoterapi). Bila kemoterapi ditempatkan langsung ke dalam tulang belakang, organ, atau rongga badan seperti bagian perut, obat terutama mempengaruhi sel kanker di tempat-tempat (daerah kemoterapi). Cara kemoterapi diberikan tergantung pada jenis dan tahap kanker yang sedang dirawat.

Bedah

* Lokal resection: Sebuah prosedur bedah Tumor yang diangkat dari anus bersama dengan beberapa jaringan yang sehat di sekelilingnya. Lokal resection dapat digunakan jika kanker adalah kecil dan belum tersebar. Prosedur ini mungkin dapat menyimpan otot sphincter sehingga pasien masih dapat mengontrol pergerakan usus. Tumor yang berkembang di bagian bawah anus sering bisa dihapus dengan resection lokal.
* Abdominoperineal resection: Sebuah prosedur bedah anus, pada rektum, dan bagian dari usus sigmoid dibuang melalui torehan yang dibuat di bagian perut. Dokter memotong ujung usus dan menyambungkannya dibagian samping perut, yang disebut stoma, dilakukan di permukaan tubuh bagian perut untuk memudahkan kotoran keluar dan ditampung dalam sebuah kantong di luar tubuh. Hal ini disebut Kolostomi. Kelenjar getah bening yang mengandung kanker juga dapat dihapus selama operasi ini.

Menderita Human Immunodeficiency Virus atau HIV dapat mempengaruhi pengobatan kanker anus.

Terapi kanker selanjutnya dapat merusak atau melemahkan sistem kekebalan tubuh pasien yang memiliki human immunodeficiency virus (HIV). Untuk alasan ini, pasien yang menderita kanker anus dan HIV biasanya dirawat dengan menurunkan dosis obat anticancer dan radiasi daripada pasien yang tidak terjangkit HIV.

Jenis perawatan lain sedang diuji dalam percobaan klinis, termasuk yang berikut:

Radiosensitizers

Radiosensitizers adalah obat yang membuat sel Tumor lebih sensitif terhadap terapi radiasi. Menggabungkan dengan terapi radiasi radiosensitizers dapat membunuh lebih banyak sel Tumor.

Ringkasan ini merujuk pada perawatan spesifik di bawah studi percobaan klinis, tetapi mungkin tidak menyebutkan setiap pegujian pengobatan baru. Informasi tentang uji klinis berlangsung tersedia di situs NCI.

Pilihan perawatan oleh tahap

Tahap 0 Kanker Anus (kanker bisul di Situ)

Perawatan dari tahap 0 anal anus biasanya adalah lokal resection.

Kanker anus tahap I
Perawatan kanker anus tahap I dapat termasuk :

* Resection lokal.
* Terapi radiasi sinar eksternal dengan atau tanpa kemoterapi. Jika kanker tetap ada setelah perawatan, tambahan kemoterapi dan terapi radiasi dapat diberikan untuk menghindari dilakukannya Kolostomi.
* Abdominoperineal resection, jika kanker tetap ada atau datang kembali setelah perawatan dengan terapi radiasi dan kemoterapi.
* Internal terapi radiasi untuk kanker yang tetap ada setelah perawatan eksternal dengan radiasi sinar-terapi.

Pasien yang telah melakukan perawatan dan berhasil menyisakan otot sphincter mungkin menerima kajian tindak lanjut setiap 3 bulan untuk 2 tahun pertama, termasuk memeriksa rektum dengan endoscopy dan biopsi, sesuai kebutuhan.

Kanker anus tahap II
Perawatan kanker anus tahap II dapat termasuk :

* Resection lokal.
* Terapi radiasi sinar eksternal dengan atau tanpa kemoterapi. Jika kanker tetap ada setelah perawatan, tambahan kemoterapi dan terapi radiasi dapat diberikan untuk menghindari dilakukannya Kolostomi.
* Terapi radiasi internal.
* Abdominoperineal resection, jika kanker tetap ada atau datang kembali setelah perawatan dengan terapi radiasi dan kemoterapi.
* Pengobatan baru uji coba klinis sebagai pilihan.

Pasien yang telah melakukan perawatan dan berhasil menyisakan otot sphincter mungkin menerima kajian tindak lanjut setiap 3 bulan untuk 2 tahun pertama, termasuk memeriksa rektum dengan endoscopy dan biopsi, sesuai kebutuhan.

Kanker anus tahap IIIA
Perawatan kanker anus tahap IIIA dapat termasuk:

* Terapi radiasi sinar eksternal dengan atau tanpa kemoterapi. Jika kanker tetap ada setelah perawatan, tambahan kemoterapi dan terapi radiasi dapat diberikan untuk menghindari dilakukannya Kolostomi.
* Radiasi sinar internal
* Abdominoperineal resection, jika kanker tetap ada atau datang kembali setelah perawatan dengan terapi radiasi dan kemoterapi.
* Pengobatan baru uji coba klinis sebagai pilihan.

Kanker anus tahap IIIB
Perawatan kanker anus tahap IIIB dapat termasuk:

* Terapi radiasi sinar eksternal dengan kemoterapi.
* Resection lokal atau abdominoperineal resection, jika kanker tetap ada atau datang kembali setelah perawatan dengan kemoterapi dan terapi radiasi. Kelenjar getah bening juga dapat dihapus.
* Pengobatan baru uji coba klinis sebagai pilihan.

Kanker anus tahap IV

Perawatan kanker anus tahap IV dapat termasuk:

* Bedah sebagai terapi palliative untuk meringankan gejala dan meningkatkan kualitas hidup.
* Terapi radiasi sebagai terapi palliative .
* Kemoterapi dengan terapi radiasi sebagai terapi palliative.
* Pengobatan baru uji coba klinis sebagai pilihan.

Pilihan perawatan untuk kanker anus kambuhan
Perawatan untuk kanker anus kambuhan dapat termasuk :

* Terapi radiasi dan kemoterapi, untuk kambuh setelah operasi.
* Bedah, untuk kambuh setelah terapi radiasi dan / atau kemoterapi.
* Sebuah uji coba klinis terapi radiasi dengan kemoterapi dan / atau radiosensitizers.

Ringkasan ini merujuk pada perawatan spesifik di bawah studi percobaan klinis, tetapi mungkin tidak menyebutkan setiap pegujian pengobatan baru. Informasi tentang uji klinis berlangsung tersedia di situs NCI.

* Ukuran Tumor.
* Dibagian mana Tumor berada didalam anus.
* Apakah kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening.

Pengobatan tergantung dari pilihan berikut:

* TTahapan dari kanker.
* Dimana Tumor tersebut berada didalam anus.
* Apakah pasien telah menderita penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV).
* Apakah kanker tetap ada setelah perawatan atau kambuh.

Tahapan kanker anus

Setelah kanker anus didiagnosa, tes yang dilakukan untuk mengetahui apakah sel kanker sudah menyebar didalam anus atau ke bagian tubuh yang lain.

Proses yang digunakan untuk mengetahui apakah kanker telah menyebar didalam anus atau ke bagian tubuh yang lain disebut staging. Informasi yang dikumpulkan dari proses pementasan menentukan tahap penyakit. Adalah penting untuk mengetahui tahap untuk rencana perawatan. Berikut tes dapat digunakan dalam proses pementasan:

* CT scan : Sebuah prosedur yang membuat serangkaian gambar detail dari bagian dalam tubuh, diambil dari berbagai sudut pandang. Gambar yang dibuat oleh komputer yang terhubung ke sebuah mesin x-ray. Dye mungkin disuntikkan ke dalam pembuluh darah atau ditelan untuk membantu organ atau tisu muncul lebih jelas. Prosedur ini juga disebut Computed Tomography, komputerisasi tomografi, atau komputerisasi tomografi aksial. Untuk kanker anus, yang di CT scan dari panggul dan perut dapat dilakukan.
* X-ray dada : Sebuah x-ray ke organ dan tulang di dalam dada. Sebuah x-ray adalah jenis energi sinar yang dapat tembus kedalam tubuh dan diabadikan kebentuk film, membuat gambar dari bagian dalam tubuh.
* Endo-anal atau endorectal ultrasound: Sebuah prosedur yang di mana menggunakan ultrasound transducer (penyelidikan) dimasukkan ke dalam anus atau dubur dan digunakan untuk memancarkan energi gelombang suara tinggi (ultrasound) pada organ internal dan membuat Gema. Gema yang berupa gambar tisu tubuh disebut sonogram.

Tahapan-tahapan yang digunakan untuk kanker anus:

Tahap 0 (kanker bisul di Situ)
Pada tahap 0, kanker hanya ditemukan di lapisan terjauh dari anus. Tahap 0 kanker juga disebut kanker bisul di situ.

Tahap I
Pada tahap I, Tumor adalah 2 sentimeter atau lebih kecil.

Tahap II

Pada tahap II, Tumor adalah lebih besar daripada 2 sentimeter.

Tahap IIIA

Pada tahap IIIA, Tumor dapat berukuran apapun dan telah menyebar ke salah satu:
* Kelenjar getah bening di dekat dubur; atau
* dekat organ, seperti vagina, saluran kencing, dan kandung kemih.

Tahap IIIB
Pada tahap IIIB, Tumor seukuran apapun dan telah tersebar:
* ke tempat-tempat organ dan untuk Kelenjar getah bening di dekat dubur; atau
* untuk Kelenjar getah bening di satu sisi panggul dan / atau kunci paha, dan mungkin telah menyebar ke organ di dekatnya; atau
* untuk Kelenjar getah bening di dekat dubur dan di kunci paha, dan / atau ke Kelenjar getah bening pada kedua sisi panggul dan / atau kunci paha, dan mungkin telah menyebar ke organ didekatnya.

Tahap IV
Pada tahap IV, yang mungkin Tumor seukuran apapun dan kanker mungkin telah menyebar ke Kelenjar getah bening atau organ dekat dan jauh telah menyebar ke bagian tubuh.

Kanker anus kambuhan

Kanker anus kambuhan adalah kanker yang telah recurred (kembali) setelah dirawat. Kanker dapat datang kembali didalam anus atau di bagian tubuh yang lain.

Perawatan untuk kanker anus kambuhan dapat termasuk :

* online prescriptions Terapi radiasi dan kemoterapi, untuk kambuh setelah operasi.
* Bedah, untuk kambuh setelah terapi radiasi dan / atau kemoterapi.
* Sebuah uji coba klinis terapi radiasi dengan kemoterapi dan / atau radiosensitizers.

Ringkasan ini merujuk pada perawatan spesifik di bawah studi percobaan klinis, tetapi mungkin tidak menyebutkan setiap pegujian pengobatan baru. Informasi tentang uji klinis berlangsung tersedia di situs NCI.

disadur dari  http://www.ahliwasir.com

Kanker Anus: Informasi dan Pengobatan

Kanker anus adalah penyakit yang berbahaya (kanker) dalam bentuk sel tisu dalam anus.

Anus adalah bagian akhir dari usus besar, di bawah bagian rektum yang dilalui kotoran (limbah padat) untuk keluar dari tubuh. Anus yang dibentuk adalah sebagian dari luar lapisan kulit dari tubuh dan sebagian dari usus. Dua-ring seperti otot, disebut otot sphincter, berfungsi untuk membuka dan menutup anus, anus membuka agar kotoran keluar dari tubuh. anal kanal, bagian pembukaan antara dubur dan anal panjangnya sekitar 1 ½ inci.

Kulit luar sekitar dubur yang disebut daerah perianal. Tumor di daerah ini adalah Tumor kulit, bukan kanker anus.

Terinfeksi dengan papillomavirus manusia (HPV) dapat mempengaruhi resiko pengembangan kanker anus.

Faktor risiko meliputi:

* Usia lebih dari 50 tahun.
* Terinfeksi dengan human papillomavirus (HPV).
* Memiliki banyak pasangan seks.
* Melakukan hubungan anal seks.
* Anus sering mengalami kemerahan, pembengkakan dan kesakitan.
* Menderita anus fistula (bukaan yang tidak normal).
* Merokok.

Kemungkinan tanda kanker anus termasuk pendarahan dari anus atau dubur atau benjolan di dekat anus.

Ini dan gejala lainnya dapat disebabkan oleh kanker anus. Kondisi lain dapat menyebabkan gejala yang sama. Harus berkonsultasi ke Dokter jika ada masalah yang berikut ini:
* Pendarahan dari anus atau dubur.
* Sakit atau tekanan di daerah sekitar dubur.
* Gatal-gatal atau banyak keluar lendir dari anus.
* Benjolan di dekat anus.
* Perubahan kebiasaan BAB.

Pengujian untuk memeriksa dubur digunakan untuk mendeteksi (menemukan) dan diagnosa kanker anus.

Berikut tes dan prosedur yang dapat digunakan:
Pemeriksaan fisik dan sejarah: Sebuah pengujian pada tubuh untuk memeriksa tanda-tanda kesehatan umum, termasuk untuk memeriksa tanda-tanda penyakit, seperti gumpalan atau hal lain yang tampaknya tidak biasa. Sebuah sejarah kesehatan pasien dan kebiasaan terakhir penyakit dan juga perawatannya.

  • Pemeriksaan dubur digital (DRE): Sebuah penelitian terhadap anus dan rektum. Dokter atau perawat memasukkan pelumas, bersarung tangan dan jari dimasukkan ke dalam dubur untuk merasakan adanya gumpalan atau hal lain yang tampaknya tidak biasa.
  • Anoscopy: Sebuah alat pemeriksaan anus dan yang lebih rendah dari rectum, tabung yang diterangi disebut anoscope.
  • Proctoscopy: Sebuah alat pemeriksaan yang pendek untuk memeriksa rectum, tabung yang diterangi disebut proctoscope.
  • Endo-anal atau endorectal ultrasound: Sebuah prosedur yang di mana menggunakan ultrasound transducer (penyelidikan) dimasukkan ke dalam anus atau dubur dan digunakan untuk memancarkan energi gelombang suara tinggi (ultrasound) pada organ internal dan membuat Gema. Gema yang berupa gambar tisu tubuh disebut sonogram.
  • Biopsi: Penyingkiran sel atau tisu sehingga mereka dapat dilihat di bawah mikroskop oleh patolog untuk memeriksa tanda-tanda kanker. Jika yang dilihat adalah daerah yang tidak normal selama anoscopy, yang pernah dilakukan pada waktu itu.

Informasi Umum Tentang kanker

kanker anus adalah penyakit yang berbahaya (kanker) dalam bentuk sel tisu dalam anus.

Anus adalah bagian akhir dari usus besar, di bawah bagian rektum yang dilalui kotoran (limbah padat) untuk keluar dari tubuh. Anus yang dibentuk adalah sebagian dari luar lapisan kulit dari tubuh dan sebagian dari usus. Dua-ring seperti otot, disebut otot sphincter, berfungsi untuk membuka dan menutup anus, anus membuka agar kotoran keluar dari tubuh. anal kanal, bagian pembukaan antara dubur dan anal panjangnya sekitar 1 ½ inci.

Kulit luar sekitar dubur yang disebut daerah perianal. Tumor di daerah ini adalah Tumor kulit, bukan kanker anus.

Terinfeksi dengan papillomavirus manusia (HPV) dapat mempengaruhi resiko pengembangan kanker anus.

Faktor risiko meliputi:

* Usia lebih dari 50 tahun.
* Terinfeksi dengan human papillomavirus (HPV).
* Memiliki banyak pasangan seks.
* Melakukan hubungan anal seks.
* Anus sering mengalami kemerahan, pembengkakan dan kesakitan.
* Menderita anus fistula (bukaan yang tidak normal).
* Merokok.

Kemungkinan tanda kanker anus termasuk pendarahan dari anus atau dubur atau benjolan di dekat anus.

Ini dan gejala lainnya dapat disebabkan oleh kanker anus. Kondisi lain dapat menyebabkan gejala yang sama. Harus berkonsultasi ke Dokter jika ada masalah yang berikut ini:

* Pendarahan dari anus atau dubur.
* Sakit atau tekanan di daerah sekitar dubur.
* Gatal-gatal atau banyak keluar lendir dari anus.
* Benjolan di dekat anus.
* Perubahan kebiasaan BAB.

Pengujian untuk memeriksa dubur digunakan untuk mendeteksi (menemukan) dan diagnosa kanker anus.

Masa (kesempatan pemulihan) tergantung pada hal berikut:

* Ukuran Tumor.
* Dibagian mana Tumor berada didalam anus.
* Apakah kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening.

Pengobatan tergantung dari pilihan berikut:

*TTahapan dari kanker.
* Dimana Tumor tersebut berada didalam anus.
* Apakah pasien telah menderita penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV).
* Apakah kanker tetap ada setelah perawatan atau kambuh.

Setelah kanker anus didiagnosa, tes yang dilakukan untuk mengetahui apakah sel kanker sudah menyebar didalam anus atau ke bagian tubuh yang lain.

Proses yang digunakan untuk mengetahui apakah kanker telah menyebar didalam anus atau ke bagian tubuh yang lain disebut staging. Informasi yang dikumpulkan dari proses pementasan menentukan tahap penyakit. Adalah penting untuk mengetahui tahap untuk rencana perawatan. Berikut tes dapat digunakan dalam proses pementasan:

* CT scan : Sebuah prosedur yang membuat serangkaian gambar detail dari bagian dalam tubuh, diambil dari berbagai sudut pandang. Gambar yang dibuat oleh komputer yang terhubung ke sebuah mesin x-ray. Dye mungkin disuntikkan ke dalam pembuluh darah atau ditelan untuk membantu organ atau tisu muncul lebih jelas. Prosedur ini juga disebut Computed Tomography, komputerisasi tomografi, atau komputerisasi tomografi aksial. Untuk kanker anus, yang di CT scan dari panggul dan perut dapat dilakukan.
* X-ray dada : Sebuah x-ray ke organ dan tulang di dalam dada. Sebuah x-ray adalah jenis energi sinar yang dapat tembus kedalam tubuh dan diabadikan kebentuk film, membuat gambar dari bagian dalam tubuh.
* Endo-anal atau endorectal ultrasound: Sebuah prosedur yang di mana menggunakan ultrasound transducer (penyelidikan) dimasukkan ke dalam anus atau dubur dan digunakan untuk memancarkan energi gelombang suara tinggi (ultrasound) pada organ internal dan membuat Gema. Gema yang berupa gambar tisu tubuh disebut sonogram.

Tahapan-tahapan yang digunakan untuk kanker anus:

Tahap 0 (kanker bisul di Situ)

Pada tahap 0, kanker hanya ditemukan di lapisan terjauh dari anus. Tahap 0 kanker juga disebut kanker bisul di situ.

Tahap I

Pada tahap I, Tumor adalah 2 sentimeter atau lebih kecil.

Tahap II

Pada tahap II, Tumor adalah lebih besar daripada 2 sentimeter.

Tahap IIIA

Pada tahap IIIA, Tumor dapat berukuran apapun dan telah menyebar ke salah satu:

* Kelenjar getah bening di dekat dubur; atau
* dekat organ, seperti vagina, saluran kencing, dan kandung kemih.

Tahap IIIB

Pada tahap IIIB, Tumor seukuran apapun dan telah tersebar:

* ke tempat-tempat organ dan untuk Kelenjar getah bening di dekat dubur; atau
* untuk Kelenjar getah bening di satu sisi panggul dan / atau kunci paha, dan mungkin telah menyebar ke organ di dekatnya; atau
* untuk Kelenjar getah bening di dekat dubur dan di kunci paha, dan / atau ke Kelenjar getah bening pada kedua sisi panggul dan / atau kunci paha, dan mungkin telah menyebar ke organ didekatnya.

Tahap IV

Pada tahap IV, yang mungkin Tumor seukuran apapun dan kanker mungkin telah menyebar ke Kelenjar getah bening atau organ dekat dan jauh telah menyebar ke bagian tubuh.

Kanker anus kambuhan

Kanker anus kambuhan adalah kanker yang telah recurred (kembali) setelah dirawat. Kanker dapat datang kembali didalam anus atau di bagian tubuh yang lain.

Sekilas tentang perawatan pilihan

Ada berbagai jenis pengobatan untuk pasien kanker anus.

Berbagai jenis perawatan yang tersedia untuk pasien kanker anus. Beberapa perawatan yang standar (yang saat ini digunakan), dan beberapa lagi yang sedang diteliti dalam uji klinis. Sebelum perawatan dimulai, pasien mungkin berpikir tentang mengambil bagian dalam percobaan klinis. Percobaan perawatan klinis adalah penelitian studi dimaksudkan untuk membantu meningkatkan perawatan saat ini atau memperoleh informasi tentang perawatan baru untuk pasien penderita kanker. Ketika uji klinis menunjukkan bahwa perawatan yang baru lebih baik dari perawatan standar, maka pengobatan baru tersebut dapat menjadi standar pengobatan.

Uji klinis ada di banyak negara bagian. Informasi tentang uji klinis tersedia di Situs NCI . Memilih perawatan kanker yang tepat idealnya melibatkan keputusan dari pasien, keluarga, dan tim kesehatan.

Tiga jenis perawatan standar yang digunakan:

Terapi radiasi

Terapi radiasi adalah perawatan kanker yang menggunakan energi tinggi sinar-x atau jenis lain radiasi untuk membunuh sel kanker. Ada dua jenis terapi radiasi. Eksternal terapi radiasi yang menggunakan mesin di luar tubuh untuk mengirim radiasi terhadap kanker. Internal terapi radiasi menggunakan zat radioaktif mati dalam jarum, bibit, kawat, atau catheters yang ditempatkan secara langsung ke dalam atau dekat dengan kanker. Cara terapi radiasi diberikan tergantung pada jenis dan tahap kanker yang sedang dirawat.

Kemoterapi

Kemoterapi adalah perawatan kanker yang menggunakan obat untuk menghentikan pertumbuhan sel kanker, baik dengan membunuh sel atau dengan menghentikan pembelahan sel. Bila kemoterapi diambil melalui mulut atau menyuntikkan ke dalam pembuluh darah atau otot, obat memasuki aliran darah dan dapat mencapai sel kanker di seluruh tubuh (sistemik kemoterapi). Bila kemoterapi ditempatkan langsung ke dalam tulang belakang, organ, atau rongga badan seperti bagian perut, obat terutama mempengaruhi sel kanker di tempat-tempat (daerah kemoterapi). Cara kemoterapi diberikan tergantung pada jenis dan tahap kanker yang sedang dirawat.

Bedah

* Lokal resection: Sebuah prosedur bedah Tumor yang diangkat dari anus bersama dengan beberapa jaringan yang sehat di sekelilingnya. Lokal resection dapat digunakan jika kanker adalah kecil dan belum tersebar. Prosedur ini mungkin dapat menyimpan otot sphincter sehingga pasien masih dapat mengontrol pergerakan usus. Tumor yang berkembang di bagian bawah anus sering bisa dihapus dengan resection lokal.
* Abdominoperineal resection: Sebuah prosedur bedah anus, pada rektum, dan bagian dari usus sigmoid dibuang melalui torehan yang dibuat di bagian perut. Dokter memotong ujung usus dan menyambungkannya dibagian samping perut, yang disebut stoma, dilakukan di permukaan tubuh bagian perut untuk memudahkan kotoran keluar dan ditampung dalam sebuah kantong di luar tubuh. Hal ini disebut Kolostomi. Kelenjar getah bening yang mengandung kanker juga dapat dihapus selama operasi ini.

Menderita Human Immunodeficiency Virus atau HIV dapat mempengaruhi pengobatan kanker anus.

Terapi kanker selanjutnya dapat merusak atau melemahkan sistem kekebalan tubuh pasien yang memiliki human immunodeficiency virus (HIV). Untuk alasan ini, pasien yang menderita kanker anus dan HIV biasanya dirawat dengan menurunkan dosis obat anticancer dan radiasi daripada pasien yang tidak terjangkit HIV.

Jenis perawatan lain sedang diuji dalam percobaan klinis, termasuk yang berikut:

Radiosensitizers

Radiosensitizers adalah obat yang membuat sel Tumor lebih sensitif terhadap terapi radiasi. Menggabungkan dengan terapi radiasi radiosensitizers dapat membunuh lebih banyak sel Tumor.

Ringkasan ini merujuk pada perawatan spesifik di bawah studi percobaan klinis, tetapi mungkin tidak menyebutkan setiap pegujian pengobatan baru. Informasi tentang uji klinis berlangsung tersedia di situs NCI.

Pilihan perawatan oleh tahap

Tahap 0 Kanker Anus (kanker bisul di Situ)

Perawatan dari tahap 0 anal anus biasanya adalah lokal resection.

Kanker anus tahap I
Perawatan kanker anus tahap I dapat termasuk :

* Resection lokal.
* Terapi radiasi sinar eksternal dengan atau tanpa kemoterapi. Jika kanker tetap ada setelah perawatan, tambahan kemoterapi dan terapi radiasi dapat diberikan untuk menghindari dilakukannya Kolostomi.
* Abdominoperineal resection, jika kanker tetap ada atau datang kembali setelah perawatan dengan terapi radiasi dan kemoterapi.
* Internal terapi radiasi untuk kanker yang tetap ada setelah perawatan eksternal dengan radiasi sinar-terapi.

Pasien yang telah melakukan perawatan dan berhasil menyisakan otot sphincter mungkin menerima kajian tindak lanjut setiap 3 bulan untuk 2 tahun pertama, termasuk memeriksa rektum dengan endoscopy dan biopsi, sesuai kebutuhan.

Kanker anus tahap II
Perawatan kanker anus tahap II dapat termasuk :

* Resection lokal.
* Terapi radiasi sinar eksternal dengan atau tanpa kemoterapi. Jika kanker tetap ada setelah perawatan, tambahan kemoterapi dan terapi radiasi dapat diberikan untuk menghindari dilakukannya Kolostomi.
* Terapi radiasi internal.
* Abdominoperineal resection, jika kanker tetap ada atau datang kembali setelah perawatan dengan terapi radiasi dan kemoterapi.
* Pengobatan baru uji coba klinis sebagai pilihan.

Pasien yang telah melakukan perawatan dan berhasil menyisakan otot sphincter mungkin menerima kajian tindak lanjut setiap 3 bulan untuk 2 tahun pertama, termasuk memeriksa rektum dengan endoscopy dan biopsi, sesuai kebutuhan.

Kanker anus tahap IIIA
Perawatan kanker anus tahap IIIA dapat termasuk:

* Terapi radiasi sinar eksternal dengan atau tanpa kemoterapi. Jika kanker tetap ada setelah perawatan, tambahan kemoterapi dan terapi radiasi dapat diberikan untuk menghindari dilakukannya Kolostomi.
* Radiasi sinar internal
* Abdominoperineal resection, jika kanker tetap ada atau datang kembali setelah perawatan dengan terapi radiasi dan kemoterapi.
* Pengobatan baru uji coba klinis sebagai pilihan.

Kanker anus tahap IIIB
Perawatan kanker anus tahap IIIB dapat termasuk:

* Terapi radiasi sinar eksternal dengan kemoterapi.
* Resection lokal atau abdominoperineal resection, jika kanker tetap ada atau datang kembali setelah perawatan dengan kemoterapi dan terapi radiasi. Kelenjar getah bening juga dapat dihapus.
* Pengobatan baru uji coba klinis sebagai pilihan.

Kanker anus tahap IV

Perawatan kanker anus tahap IV dapat termasuk:

* Bedah sebagai terapi palliative untuk meringankan gejala dan meningkatkan kualitas hidup.
* Terapi radiasi sebagai terapi palliative .
* Kemoterapi dengan terapi radiasi sebagai terapi palliative.
* Pengobatan baru uji coba klinis sebagai pilihan.

Pilihan perawatan untuk kanker anus kambuhan
Perawatan untuk kanker anus kambuhan dapat termasuk :

* Terapi radiasi dan kemoterapi, untuk kambuh setelah operasi.
* Bedah, untuk kambuh setelah terapi radiasi dan / atau kemoterapi.
* Sebuah uji coba klinis terapi radiasi dengan kemoterapi dan / atau radiosensitizers.

Ringkasan ini merujuk pada perawatan spesifik di bawah studi percobaan klinis, tetapi mungkin tidak menyebutkan setiap pegujian pengobatan baru. Informasi tentang uji klinis berlangsung tersedia di situs NCI.

* Ukuran Tumor.
* Dibagian mana Tumor berada didalam anus.
* Apakah kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening.

Pengobatan tergantung dari pilihan berikut:

* TTahapan dari kanker.
* Dimana Tumor tersebut berada didalam anus.
* Apakah pasien telah menderita penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV).
* Apakah kanker tetap ada setelah perawatan atau kambuh.

Tahapan kanker anus

Setelah kanker anus didiagnosa, tes yang dilakukan untuk mengetahui apakah sel kanker sudah menyebar didalam anus atau ke bagian tubuh yang lain.

Proses yang digunakan untuk mengetahui apakah kanker telah menyebar didalam anus atau ke bagian tubuh yang lain disebut staging. Informasi yang dikumpulkan dari proses pementasan menentukan tahap penyakit. Adalah penting untuk mengetahui tahap untuk rencana perawatan. Berikut tes dapat digunakan dalam proses pementasan:

* CT scan : Sebuah prosedur yang membuat serangkaian gambar detail dari bagian dalam tubuh, diambil dari berbagai sudut pandang. Gambar yang dibuat oleh komputer yang terhubung ke sebuah mesin x-ray. Dye mungkin disuntikkan ke dalam pembuluh darah atau ditelan untuk membantu organ atau tisu muncul lebih jelas. Prosedur ini juga disebut Computed Tomography, komputerisasi tomografi, atau komputerisasi tomografi aksial. Untuk kanker anus, yang di CT scan dari panggul dan perut dapat dilakukan.
* X-ray dada : Sebuah x-ray ke organ dan tulang di dalam dada. Sebuah x-ray adalah jenis energi sinar yang dapat tembus kedalam tubuh dan diabadikan kebentuk film, membuat gambar dari bagian dalam tubuh.
* Endo-anal atau endorectal ultrasound: Sebuah prosedur yang di mana menggunakan ultrasound transducer (penyelidikan) dimasukkan ke dalam anus atau dubur dan digunakan untuk memancarkan energi gelombang suara tinggi (ultrasound) pada organ internal dan membuat Gema. Gema yang berupa gambar tisu tubuh disebut sonogram.

Tahapan-tahapan yang digunakan untuk kanker anus:

Tahap 0 (kanker bisul di Situ)
Pada tahap 0, kanker hanya ditemukan di lapisan terjauh dari anus. Tahap 0 kanker juga disebut kanker bisul di situ.

Tahap I
Pada tahap I, Tumor adalah 2 sentimeter atau lebih kecil.

Tahap II

Pada tahap II, Tumor adalah lebih besar daripada 2 sentimeter.

Tahap IIIA

Pada tahap IIIA, Tumor dapat berukuran apapun dan telah menyebar ke salah satu:
* Kelenjar getah bening di dekat dubur; atau
* dekat organ, seperti vagina, saluran kencing, dan kandung kemih.

Tahap IIIB
Pada tahap IIIB, Tumor seukuran apapun dan telah tersebar:
* ke tempat-tempat organ dan untuk Kelenjar getah bening di dekat dubur; atau
* untuk Kelenjar getah bening di satu sisi panggul dan / atau kunci paha, dan mungkin telah menyebar ke organ di dekatnya; atau
* untuk Kelenjar getah bening di dekat dubur dan di kunci paha, dan / atau ke Kelenjar getah bening pada kedua sisi panggul dan / atau kunci paha, dan mungkin telah menyebar ke organ didekatnya.

Tahap IV
Pada tahap IV, yang mungkin Tumor seukuran apapun dan kanker mungkin telah menyebar ke Kelenjar getah bening atau organ dekat dan jauh telah menyebar ke bagian tubuh.

Kanker anus kambuhan

Kanker anus kambuhan adalah kanker yang telah recurred (kembali) setelah dirawat. Kanker dapat datang kembali didalam anus atau di bagian tubuh yang lain.

Perawatan untuk kanker anus kambuhan dapat termasuk :

* online prescriptions Terapi radiasi dan kemoterapi, untuk kambuh setelah operasi.
* Bedah, untuk kambuh setelah terapi radiasi dan / atau kemoterapi.
* Sebuah uji coba klinis terapi radiasi dengan kemoterapi dan / atau radiosensitizers.

Ringkasan ini merujuk pada perawatan spesifik di bawah studi percobaan klinis, tetapi mungkin tidak menyebutkan setiap pegujian pengobatan baru. Informasi tentang uji klinis berlangsung tersedia di situs NCI.

disadur dari  http://www.ahliwasir.com

Are U 100 % Heterosexual?

Oleh : Nihayah*

Beberapa tahun lalu saat menyelesaikan program Master di University of Hawaii at Manoa (UHM), saya pernah mengalami kejadian yang kemudian imbasnya terus meninggalkan pertanyaan dalam diri saya. Saat itu saya sedang duduk di Paradise Palm yang letaknya tepat di depan Hamilton Library. Segelas kopi dan beberapa buku menjadi teman saya menghabiskan pagi  itu.

Di tengah-tengah membaca buku saya merasa ada seseorang yang memperhatikan. Setelah menurunkan buku yang saya baca  dan mencoba melihat sekeliling, benar saja ada seorang cewek di deretan bangku di depan sebelah kanan saya yang sedang menatap kearah saya dengan senyum. Karena menganggap itu hanya sekedar benturan mata tidak sengaja, saya pun tersenyum dan kembali menekuni buku. Jarak beberapa menit kemudian, perempuan itu mendatangi meja saya dan meminta ijin untuk duduk di kursi tepat di depan saya. Karena kursi itu kosong, jadi tidak ada alasan bagi saya untuk menolak, terlebih Paradise Palm adalah tempat umum.

Perempuan ini lalu memperkenalkan diri, sebut saja namanya Kathy. Dia adalah mahasiswa Phd Program dari jurusan Political Science di UHM. Setelah basa-basi dengan perkenalan Kathy secara langsung mengutarakan niatnya, “Can I ask your time, just 5 or 10 minutes?� Lalu dia bilang kalau ingin sekali mencium saya. Dalam pandangan dia, saya memiliki kekuatan di bibir dan dia ingin membuktika bahwa dia benar. Permintaan janggal yang otomatis membuat saya mengkerutkan kening. Melihat saya kebingungan dia kemudian menegaskan “I am a Lesbian anyway.� Pernyataan yang jujur dan semakin membuat saya tergagap. Dalam situasi yang kaget, saya masih berusaha mengendalikan diri dan mencoba mengajak dia berbicara. Dari ceritanya saya menjadi tahu kalau dia menjadi lesbian setelah merasa kecewa setiap kali berhubungan dengan laki-laki. “Laki-laki memang egois, mereka hanya mementingkan ejakulasi mereka sendiri, tanpa berpikir bahwa patnernya juga menginginkan hal
yang sama.�

Saya banyak mendapatkan pengetahuan baru yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya. Kathy terus memohon dengan sangat agar saya mengabulkan permintaannya. “Please, just 5 minute� dia terus mengulanginya. Saya sendiri dalam posisi bingung. Di satu sisi saya ingin tahu banyak tentang orang lesbian, di sisi lain ada ketakutan yang luar biasa dalam hati saya, dan yang jelas saya bingung mencari alasan untuk melarikan diri. Di menit yang ke 15 atau 20 dari obrolan kami lewatlah Professor saya yang baru membeli kopi, dia mendatangi meja saya dan bilang, “Excuse me Ninik, can you stop by in my office to take your paper. Sorry I have to give it to you today, because this afternoon I will go to main land.� Yes…. Akhirnya ada yang menyelamatkan saya untuk pergi. Thanks Prof.

Kejadian yang kurang dari setengah jam tersebut menjadi perenungan mendalam dalam diri saya. Bagaimana bisa seseorang bisa merubah orientasi seksualnya dari sebelumnya heteroseksual menuju ke homoseksual? Saya pun mencoba melihat diri saya dengan lebih mendalam lagi dan merasakan setiap perubahan dalam hati untuk mendapatkan jawaban tentang pertanyaan besar yang masih mendekam dalam pikiran. Saya mencoba membandingkan tingkat keterangsangan saya ketika melihat film blue yang heteroseksual dan homoseksual. Hal ini untuk menguji kemungkinan seseorang berubah orientasi seksual. Ketika melihat film homoseksual (Lesbian) saya terangsang juga, namun hal tersebut tidak sebanding dengan besarnya keterangsangan saya ketika melihat film blue heteroseksual. Walaupun begitu keterangsangan saya ketika melihat film lesbian membuat saya khawatir, apakah saya lesbian?.

Semua pertanyaan besar tersebut ternyata saya menemukan jawabannya ketika saya mengikuti pelatihan FSI (Forum Seksualitas Indonesia) pertengahan tahun 2011 lalu. Ketika belajar dari fasilitator tentang Skala Kinsley, saya menyadari bahwa dalam setiap orang ternyata memungkinkan punya potensi heteroseksual dan homoseksual. Yang membedakan seseorang akan menjadi homo atau hetero adalah seberapa besar kecenderungan seseorang pada setiap perilaku tersebut. Bila kecenderungan homoseksualnya yang lebih dominan, dia akan jadi LGBT. Namun perilaku LGBT akan tertutupi bila potensi heteroseksualnya lebih tinggi.

Walaupun Alfred Kinsley hanya memfokuskan diri pada ekspresi seksual semata, namun bila ditelisik lebih dalam, dari segi biologis pun hal tersebut dapat dijelaskan. Fasilitator telah memberikan gambaran ke saya bahwa kromosom dan hormon manusia tidak selalu ‘baik-baik’ saja dalam artian kromosom tidak saja akan full membentuk seseorang menjadi heteroseksual atau homoseksual, namun kromosom betina dan jantan kadang komposisi dalam tiap tubuh manusia berbeda-beda. Dan imbasnya hal ini menjadikan orientasi seksual seseorang tidak selalu linier.

Dengan informasi dari segi biologis ini saya meruntuhkan pemahaman dan kepercayaan yang selama ini saya bangun sendiri. Selama ini saya selalu berpikir bahwa orientasi seksual selalu berjalan lurus, dan tidak ada “persimpangan jalan� dan orientasi seksual 80% dipengaruhi oleh lingkungan. Ternyata yang terjadi lebih komplek dari pada pemahaman saya selama ini.

So, dengan ini saya bisa menyimpulkan bahwa walaupun saya heteroseksual, tapi tetap aja ada kemungkinan sisi homoseksual saya ada, walaupun itu mungkin hanya 1%. Worry dengan kondisi ini? Totally NOT. Bila dalam diri kita sendiri memiliki potensi untuk orientasi LGBTI (Q) walaupun kadarnya sangat rendah, lalu kenapa kita harus menjustis orang lain yang orientasi LGBTI(Q) yang mungkin lebih dominan sebagai “other� atau “berpenyakit�?

Are you hundred percent heterosexual? ? I am not.

*Alumni Pesantren dan Program Master Universitas di Hawai,USA

Gallery

Gay Positif; Stigma, diskriminasi, seksualitas dan gaya hidup

This gallery contains 2 photos.

Menjadi Gay di Indonesia bukanlah pilihan mudah; dijauhi keluarga, dicemooh teman sekantor, dianggap lingkungan sebagai tidak bermoral,  atau di janjikan sebagai penghuni neraka jahanam oleh beberapa kalangan yang merasa yakin surga hanya milik mereka. Seorang sahabat ku berkata “ sejak … Continue reading