Kasus HIV Tenaga Kerja Migran Di Taiwan

Saya beberapa minggu lalu dihubungi oleh satu orang sahabat dari Taiwan, yang mengetahui nomor kontakku lewat website ini. Dia mengaku baru saja tes HIV dan hasil nya positif. Nada kuatir, ketakutan dan tangisan terdengar lewat suara nya.

Saya terpaku mendengar ceritanya. Berusaha memahami apa yang sedang dialami, sambil dejavu dengan pengalaman ku sendiri. sebut saja Ganar, sahabat itu. Dia melanjutkan ceritanya, bahwa Lau Kung Tzi ( Kantor Departemen Tenaga Kerja Taiwan) memintanya untuk segera pulang ke Indonesia alias di PHK.  Agensi yang memberangkatkan tidak melakukan apa-apa. Walaupun hanya sepotong informasi tentang layanan bagi Orang terinfeksi HIV di Indonesia. Dia meminta waktu untuk mempersiapkan semuanya.  Lewat Website, akhirnya mempertemukannya dengan saya.

Bagi Tenaga kerja migran, ketika dia terinfeksi HIV ada  ketakutan mendasar :

1. Ketakutan akan infeksi HIV sendiri, sebagai penyakit yang belum bisa disembuhkan

2. Ketakutan kehilangan sumber mata Pencaharian karena alasan di PHK. Kebanyakan tenaga Kerja migran merupakan tulang punggung keluarga. ada beban berat sebagai orang yang menghidupi keluarga.

3. Kehilangan masa depan. Bagi Ganar, Infeksi HIV telah membuatnya kehilangan mimpinya; ingin membelikan rumah buat orang tua, membiayai pendidikan ponakan dan mandiri secara finansial.

4. Ketakutan menghadapi pertanyaan keluarga terkait resiko infeksi.  Bagi ganar, dia kesulitan menjelaskan  resiko infeksi, Orientasi seksual yang dia miliki

Ketiga ketakutan ini membuatnya hampir setiap hari menghubungiku. Ganar termasuk yang terpelajar, sehingga bisa mencari bantuan dengan mencari informasi dan bantuan lewat internet. Paling tidak dia bisa mendapatkan dukungan, seperti saat ini, dia mendapatkan dukungan dari Positive rainbow. Menurut Informasi yang dia terima dari seseorang petugas pendampingnya di Taiwan sana, sebelumnya ada 7 TKI lain yang langsung di pulangkan tanpa diberikan informasi terkait layanan pengobatan dan dukungan terhadap Odha di Indonesia.  Kantor Dagang Ekonomi Republik Indonesia di Taiwan, ternyata belum melakukan apa apa terkait issue ini. Akan bagaimana kah Nasib para Pahlawan devisa kita di rantau sana, saat tak ada perlindungan dan pendampingan dari Negara???

Advertisements

Obat HIV AIDS telah Di Jual Bebas di Indonesia?

Berdasarkan data yang diungkapkan oleh P2PL ( Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan)  Kementrian Kesehatan Republik indonesia dari bulan Januari sampai Juni 2012 mencapai 9.883 orang sedangkan untuk AIDS adalah 2.224 orang dan orang positif HIV dan AIDS yang meninggal sebanyak 5.623. Setiap hari selama 2012 lebih dari 54 kasus infeksi HIV baru , 12 orang  memasuki fase AIDS, dan 30 orang ODHA   meninggal dunia. Angka yang cukup fantastis. silahkan baca juga data IBBS 2011  http://www.positiverainbow.com/slide1/.

Pengobatan untuk pasien selama ini dilakukan di Rumah sakit pemerintah terutama di Tingkat propinsi dan beberapa kota kabupaten. Obat di berikan secara gratis ( bersubsidi) dengan persyaratan CD4 dibawah 350 dpl. Ketersedian obat ( ARV /Anti Retro Viral) saat ini merupakan harapan hidup banyak ODHA di Indonesia. Obat di dapat dengan hanya mambayar biaya pendaftaran di Rumah Sakit-rumah Sakit Pemerintah. Di banyak Rumah sakit pelayanan ARV membutuhkan waktu 5-6 jam mulai dari pendaftaran sampai arv bisa dibawah pulang. Hal ini menjadi masalah serius bagi ODHA yang bekerja di sektor formal dengan jam kerja normal. Marc, seorang sahabat positive Rainbow ketakutan dipecat dari kantornya, karena selalu libur sehari  setiap bulan. Beberapa kali ia terpaksa minta bantuan teman lainnya untuk mengambil obat. Belum lagi persyaratan seperti harus melampirkan KTP setiap mengabil obat, pelayanan yang tidak ramah dan lain-lain. Teman lainnya di Positive Rainbow sebut saja Mando berkomentar “ Kadang saya berpikir untuk stop obat saja, karena melihat pandangan jijik dan kata-kata ketus petugas Farmasi , saya merasa diperlakukan seperti sampah”. Mando saat ini berobat di RSUD Duren Sawit Jakarta timur. Pelayanan yang tidak bersahabat membuatnya diri nya malas untuk datang mengambil obat.

Truvada dan Viread, Angin Segar atau malapetaka?

Informasi  tentang disetujuinya Kimia Farma sebagai Distributor lagi  ( KF juga distibutor tunggal utk ARV bersubsidi) untuk obat bermerek dagang VIREAD® (tenofovir disoproxil fumarate) untuk lengkapnya silahkan ku njungi :  www.gilead.com/pdf/viread_pi.pdf dan Truvada (tdf +FTC)( link:www.truvada.com) yang dijual bebas mulai bulan November 2012 . Informasi ini ditanggapi beragam oleh beberapa Komunitas orang positive dan pengiat HIV di Tanah Air   . Seorang pasien sebut saja namanya “Andy” berkomentar ” sepertinya rumah sakit tidak memiliki databased pasien nya,atau mereka menjual KTP ODHA ( pasien HIV)  untuk mendapatkan pendanaan?”, Belum lagi, pengambilan obat harus dilakukan di tanggal yang telah ditetapkan atau sesudah nya. Hal ini tentu saja sangat memberatkan bagi para ODHA, terutama bagi mereka yang bekerja kantoran.

. ” ini sepertinya bagus, saya lebih baik membayar daripada harus bolos sehari dalam sebulan” Marcel ( bukan nama sebenarnya) berkomentar tentang ARV non subsidi .

Tanggapan para aktifis HIV

Para aktivis HIV di Indonesia berkomentar beragam terkait penjualan ARV secara bebas ini, mulai menkuatirkan tentang ARV bersubsidi yang akan segera berkurang karena Kimia Farma sebagai Distributor tunggal berkemungkinan akan mendapatkan margin yang jauh lebih besar dengan ARV non subsidi yang di Jual bebas, bagaimana membedakan ODHA yang miskin dan berhak untuk ARV bersubsidi dengan yang tidak ( Aditya Wardana, Indonesia AIDS Coalition), sampai keraguan tentang pengawasan terhadap kepatuhan terapi yang bisa menyebabkan resistensi ( kekebalan Virus HIV terhadap obat)

Prof. D.N. Wirawan secara bijaksana menghimbau agar semua Community Based Organization dapat memantau hal tersebut, sehingga hal-hal yang tidak sejalan dengan pemenuhan kebutuhan ODHA terkait pengobatan dapat dilaporkan  dan diadvokasi sesegera mungkin.

Semoga.

Bom Waktu Itu Bernama HIV AIDS

Dalam sebuah rumah berdinding semen dan berkamar tiga di Sorong, Papua Barat, impian Angelina pun perlahan memudar. Dulu ia pernah bercita-cita untuk menjadi seorang polisi wanita “karena saya melihat mereka membantu dan melindungi orang.”

Namun sudah lama impian itu sirna. Pada Juni 2002, suaminya yang bekerja sebagai ahli mekanik meninggal. Enam bulan kemudian bayi perempuan pertamanya pun juga meninggal. Baru pada bulan Oktober ia tahu penyebabnya. Belum juga hilang kesedihannya, perempuan 21 tahun itu diberitahu bahwa ia terinfeksi HIV. Kemungkinan besar suaminya terjangkit virus itu dari pekerja seks.

Angelina hanya salah satu korban yang polos dan  tidak tahu menahu tentang HIV di Indonesia. Ia hanya orang biasa yang bahkan tidak pernah melakukan tindakan beresiko tetapi tertular oleh orang yang berkelakuan tidak baik. Tentu saja banyak perhatian tercurah pada penyebaran HIV/AIDS di antara kelompok-kelompok yang beresiko. Tapi UNICEF justru memfokuskan pada anak muda dalam upayanya mencegah penularan virus ke masyarakat luas.

Sebagian besar anak muda Indonesia tidak tahu mengenai HIV/AIDS dan penyebarannya. Hanya sedikit yang mendapat informasi yang tepat tentang penyakit itu. Dalam satu penelitian, hanya satu dari tiga pelajar sekolah menengah atas di Jakarta yang tahu persis cara pencegahan penularan virus secara seksual.

Kurangnya pengetahuan ini menjadi sebuah bom waktu di daerah-daerah seperti Papua. Di sana anak muda mulai aktif secara seksual pada awal masa pubertas. Dengan memberikan pelatihan pada guru-guru sekolah menengah atas di Papua tentang ketrampilan hidup dan HIV/AIDS, UNICEF berharap generasi muda di Papua akan memahami konsekuensi dari seks yang tidak aman.

Menyangkut pendidikan sebagai satu pilar strategi lima tahun HIV/AIDS,  pemerintah Indonesia tetap berjalan di tempat. Karena itu UNICEF mencoba langkah berbeda dengan menyentuh langsung pelajar sekolah menengah atas.

“Saat kita berada di sekolah, kita mengkombinasikan strategi pendidikan ketrampilan hidup dan pendidikan sebaya untuk mencegah penularan HIV dan penyalahgunaan obat-obatan. Strategi itu pada dasarnya dirancang untuk memberikan kaum muda ketrampilan komunikasi antar pribadi, kreatifitas, kepercayaan diri, harga diri dan daya pikir kritis. Ini perlu untuk membantu mereka jika menghadapi kesempatan untuk mencoba obat-obatan atau melakukan seks yang tidak aman,” kata Rachel Odede, kepala unit HIV/AIDS UNICEF Indonesia.

Hambatan utama untuk pendidikan orang Indonesia adalah keyakinan bahwa penyakit ini hanya menjangkiti “orang tidak baik”  dan memang mereka layak mendapatkannya. Orang yang terinfeksi HIV/AIDS pun diberi stigma dan dipaksa pergi dari kampung halaman mereka. Mereka ditolak berobat ke dokter, diancam, dijauhi dan disingkirkan. Ketakutan dan stigma semacam itulah yang membuat para tetangga dan bahkan anggota keluarga Angelina tidak tahu sama sekali penyakitnya.

“Saya anggota aktif di gereja. Saya tidak ingin orang melihat ke saya dan berkata ‘Lihat, orang itu putrinya sakit’”, kata Yakobus, ayahnya. Ia seorang guru sekolah dasar yang mengambil pensiun dini untuk merawat putri bungsunya itu.

Meski orang Indonesia yang sekuler telah mengenal program keluarga berencana dengan slogan ‘dua anak cukup’, pembicaraan mengenai seks masih dianggap tabu oleh sebagian penduduk yang sebagian besar Muslim dan konservatif ini. Saat ini epidemi HIV/AIDS terkonsentrasi pada tingkat penularan HIV yang masih rendah pada penduduk secara umum. Namun pada populasi tertentu, tingkat penularannya cukup tinggi, yaitu di antara para pekerja seks komersil dan pengguna jarum suntik yang kian meningkat.

© UNICEF/IDSA/036/Estey

Seperti halnya Viet Nam dan China, epidemi HIV/AIDS di Indonesia masih digolongkan baru timbul. Para pakar memperkirakan ada sekitar 90.000 sampai 130.000 orang Indonesia yang terjangkit HIV. Tapi UNICEF yakin angka ini akan bertambah jika tidak ada perubahan perilaku populasi yang beresiko dan menjadi perantara.

Tidak sulit melihat gambaran penularan ini di masyarakat umum. Diperkirakan ada 7 sampai 10 juta laki-laki Indonesia mengunjungi pelacuran tiap tahunnya. Mereka biasanya enggan menggunakan kondom. Diperkirakan juga ribuan perempuan telah terinfeksi secara seksual oleh laki-laki yang menyuntikkan obat-obatan.

“Pada tahun-tahun setelah krisis moneter, kami melihat makin banyak orang muda pergi ke kota untuk mencari pekerjaan. Tampak pula terjadi peningkatan jumlah pekerja seks dan pengguna jarum suntik (IDU),” kata Dr Barakbah, kepala unit penyakit menular Rumah Sakit Dr Soetomo, Surabaya. “Kita akan melihat lonjakan kasus AIDS dalam beberapa tahun mendatang. Kita juga melihat pertumbuhan eksponensial pada kasus-kasus HIV yang dilaporkan, terutama yang berasal dari tempat pelacuran. Penyebarannya sedang memasuki tahap ketiga, yang mengarah ke AIDS. Kami melihat makin banyak pasien,” tambahnya.

Untuk mengetahui bagaimana skenario ini terkuak, lihatlah kisah pekerja seks berusia 16 tahun, Reena (bukan nama sebenarnya). Ia beroperasi di Surabaya, daerah seks terbesar di Asia. Ia terinfeksi HIV positif  dan ia tidak tahu. Ia pun tetap melayani tamunya sampai 12 orang tiap minggunya. Tak satupun para pelanggannya dan beberapa ‘pacarnya’ itu yang menggunakan kondom.

Orang-orang tersebut adalah di antara 2.000 lebih pelaut yang singgah setiap minggunya di Surabaya, ibu kota Jawa Timur yang juga pusat pengiriman barang antara Jawa, Sulawesi, dan kepulauan bagian timur Indonesia.

Orang dari seluruh penjuru Nusantara menjuluki Surabaya dengan istilah ‘tiga M’ dalam kaitannya dengan penularan HIV/AIDS, yaitu “Men (laki-laki), Money (uang ) dan Mobility (mobilitas)”.

Saat ini instansi-instansi makin menaruh perhatian terhadap cepatnya penularan HIV/AIDS terhadap generasi muda Indonesia yang menggunakan jarum suntik. Sebagian besar dari mereka berumur dua puluhan dan aktif secara seksual.

Di beberapa daerah di Jakarta, diperkirakan 90 persen pengguna terkena HIV positif. Beberapa tahun lalu, demografi para pengguna obat-obatan mulai meningkat karena jatuhnya harga heroin dan para ahli kimia Indonesia mulai membuat shabu-shabu dalam jumlah besar (bahkan cukup untuk menjadi eksporter obat bius).

Seperti halnya di Thailand, penggunaan obat-obatan menarik para orang miskin di kota di Indonesia. Merekalah kelompok yang sulit diberi pengertian mengenai jarum suntik pribadi dan bersih.

Untuk mendorong kaum muda untuk memanfaatkan layanan pengujian dan konseling, UNICEF memberi dukungan teknis dan finansial kepada beberapa lembaga swadaya masyarakat untuk membantu generasi muda putus sekolah yang rentan terhadap penyalahgunaan obat dan eksploitasi seks.

Tapi lembaga-lembaga ini tidak bisa berjuang sendirian. Untuk memberi pemahaman ke masyarakat yang lebih luas, mereka butuh dukungan dan sumber-sumber dari pemerintah pusat dan daerah. Sayangnya, instansi pemerintah enggan untuk memimpin gerakan ini karena penyakit itu dianggap sebagai akibat dari ‘tindakan amoral’.

Beberapa langkah baru telah diambil. Para gubernur dari daerah-daerah yang penularannya parah bersedia menandatangani  perjanjian dan bersumpah untuk memusatkan segala sumber mereka untuk kemajuan penyuluhan mengenai penyakit itu. Tapi rupanya masih terlalu banyak hal yang harus dikerjakan.

“Tantangan terdekat yang saya lihat adalah menterjemahkan strategi HIV/AIDS menjadi rencana tindak yang operasional dan konkrit,” kata Odede.

http://www.unicef.org/indonesia/id/reallives_3186.html

Saat Sahabat Meninggal Pagi Ini

Dulu

Ku ingat saat kita bersama menyusuri jalanan Ibu kota

Menikmati setiap pandangan yang mencibir

Kita hanya tertawa, kala sepuluh lelaki mengajak ke Peraduan nya

Kau, aku  dan mereka bergumul dalam keringat

Ada kepuasan di Setiap tetes air mani yang melembabkan bumi kita

Kau dan aku, hanya ingin kita mengungkapkan pada dunia

Bahwa kita manusia dari tanah yang sama

Nafsu yang sama

Surga yang sama

Surga Linga-linga tanpa Yoni

Tak peduli, saat pagi mereka terbangun dan meludahi muka kita

Sahabat, Ku ingat kau pernah bercerita

Tentang orang tua yang mengusirmu dari rumah

Tentang keharusan untuk menikah

Aku hanya bisa memeluk tubuh mu

Menangis bersama

Sahabat

Pagi ini saat pagi merah

Bayu bercerita tentang akhir perjalanan mu di Dunia

Kandida, typus, jantung, tuberculosis dan segala macam penyakit lainnya

Mengalahkanmu dalam satu kata

Mati

*****

Pagi yang emosional, 8 November 2012

Ku dedikasikan untuk semua Sahabat yang sedang berjuang untuk lebih sehat dan lebih baik

Teruslah berjuang….

Aku selalu bersama mu