STRATEGI NASIONAL PELIBATAN ORGANISASI MASYARAKAT SIPIL DALAM PROGRAM PENGENDALIAN TB DI INDONESIA

Pelibatan CSO

Pelibatan CSO

I. Pendahuluan

Indonesia merupakan negara yang luas dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa, terbentang sejauh 5 juta kilometer dan mempunyai 17,800 pulau. Indonesia memiliki 34 provinsi dan 539,yang terdiri dari 412 Kabupaten, dan 93 kota (tidak termasuk 5 kota administrative, dan 1 kabupaten administrative di DKI Jakarta). Sistem administrasi yang diterapkan di Indonesia adalah sistem desentralisasi atau otonomi daerah pada tingkat kota/kabupaten yang mengelola sumber daya untuk kepentingan daerah sendiri. Sebagian besar program prioritas kesehatan di tingkat Kabupaten/kota selama ini belum menjadikan TB sebagai program yang penting, hal ini terbukti dengan kecilnya APBD untuk alokasi dana bagi program pengendalian TB.

Estimasi insidensi TB di Indonesia pada tahun 2013 adalah 185/100,000 penduduk dengan perkiraan angka kematian adalah 27/100,000 penduduk, sedangkan estimasi prevalensi TB adalah 281/100,000 penduduk. Total jumlah kasus TB yang dicatat pada 2011 adalah 321,308 kasus dan perkiraan jumlah kasus MDR adalah 6,620 per tahun dengan kasus yang dicatat sebanyak 383 (0,12%) di tahun 2011. Prevalensi HIV dalam pasien TB yang dilaporkan sebanyak 3,3%. Indonesia masih menjadi salah satu Negara dengan beban TB terbesar di dunia dan diperkirakan terdapat 52 kasus baru ditemukan serta 8 orang meninggal akibat TB setiap jamnya. Sehubungan dengan hal tersebut, sangat penting mendorong program pengendalian TB nasional menjadi bagian utama dalam sistem pelayanan kesehatan dalam rangka mencapai target MDG’S secara global. Banyak hal yang dibutuhkan untuk mencapai target nasional dalam akses universal dan tidak ada kematian akibat infeksi TB di tahun 2035.

Beberapa tahun terakhir, angka penemuan kasus TB di Indonesia mencapai 69% per tahun, hal ini menunjukkan bahwa masih ada kasus yang belum ditemukan, diobati dan dilaporkan. Diperlukan kerjasama yang baik antara pemerintah, sector swasta dan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang bekerja dalam program pengendalian TB sehingga meningkatkan kemampuannya dalam menemukan kasus TB, mendiagnosis dan meLsmbati. Penemuan kasus TB resistan obat kurang dari 1% dari kasus baru yang diperkirakan, sedangkan kasus TB resistan obat meningkat secara signifikan setiap tahunnya. Diperkirakan 2% dari Kasus TB baru dan 12% dari kasus yang sudah diobati sebelumnya adalah TB resistan Obat. Disamping TB resistan obat, masih ada tantangan lainnya yaitu Pasien TB yang mengetahui status HIV nya hanya 0,8% dari jumlah pasien TB yang dilaporkan. Diperlukan mekanisme, strategi dan metode yang inovatif untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Masyarakat umum dan yang tergabung dalam organisasi profesi, kelompok pasien dan organisasi keagamaan baik di tingkat lokal, nasional dan internasional serta jejaringnya memiliki potensi yang bagus dalam berkontribusi pada pengendalian TB. Namun, organisasi yang terlibat dalam pengendalian TB masih terbatas dan masih tergantung pada pendanaan dari pihak donor. Aisyiyah, LKNU, dan Perdhaki sebagai contoh, adalah organisasi berbasis agama yang melakukan kegiatan secara aktif di beberapa provinsi. Selain itu terdapat banyak Lembaga internasional yang memiliki banyak sumber daya dan pendapatan dan bekerja dalam isu kesehatan untuk orang miskin, perempuan dan anak tetapi tidak memasukan program TB dalam program kerjanya. Pada kenyataannya 40% kasus kematian pada ODHA (Orang dengan HIV-AIDS) disebabkan oleh Infeksi TB.

Strategi ini akan menjelaskan mengenai tanggungjawab dan kontribusi dari LSM dan organisasi berbasis masyarakat lainnya dalam pengendalian TB di Indonesia, termasuk didalamnya bagaimana kolaborasi antara satu LSM dengan LSM lainnya dan antara LSM dengan Pemerintah dalam Program TB Nasional.

II. Analisa situasi

a. Pengetahuan Sikap dan Perilaku Masyarakat tentang TB (data?)
1. Sedikit bukti bahwa piagam hak dan kewajiban pasien telah didesiminasikan ke provider layanan dan pasien.

b. Akses Layanan Untuk Pasien TB
1. Hanya ada sedikit pembelajaran bahwa permintaan untuk pelayanan tuberkulosis telah meningkat atau advokasi dan komunikasi untuk tuberkulosis telah dikembangkan di setiap level.
2. Kebanyakan layanan tuberkulosis berbasis fasilitas daripada komunitas. Hal ini mengakibatkan adanya biaya transportasi dan kehilangan pendapatan serta meningkatkan biaya hidup yang disebabkan alasan jarak dan waktu tempuh. Hal ini mengurangi kemampuan masyarakat miskin untuk mengkases layanan diagnosis dan peLsmbatan. Ini menjadi masalah terpenting bagi pasien TB MDR yang harus minum obat dan diinjeksi tiap hari di Fasyankes.

c. Pelibatan Masyarakat dan Pasien TB
1. Pelibatan Lembaga non pemerintah dan organisasi berbasis agama dalam tuberkulosis hanya sebagian kecil saja dari keseluruhan organisasi masyarakat sipil yang aktif dalam kegiatan berbasis masyarakat di negara ini.
2. LSM masih bergantung ke Subdit TB Kemenkes pendanaan dan siklus kegiatan sangat tergantung pada proyek-proyek yang didukung donor yang tersedia. Tidak ada usaha untuk menjangkau dan melibatkan Organisasi non pemerintah dan mendorong mereka untuk mempergunakan sumber daya manusia, material dan finansial dalam kegiatan tuberkulosis berbasis masyarakat yang terintegrasi dengan program-program lainya di sektor yang lain.
3. Keberlangsungan keterlibatan masyarakat dalam tuberkulosis menjadi prioritas yang rendah dengan tidak adanya mekanisme untuk memantau perkembangan program Nasional dalam pelibatan dan kolaborasi dengan masyarakat dan kelompok organisasi berbasis masyarakat sipil dan tidak ada juga anggaran yang dialokasikan untuk itu baik di Tingkat Provinsi maupun dan Nasional.
4. Tidak ada metode yang sistematis untuk mengumpulkan dan melaporkan kontribusi masyarakat dan indikator keberhasilan organisasi masyarakat dari penemuan kasus dan keberhasilan peLsmbatan. Fasyankes bisa mencatat fasilitas yang merujuk pasien dalam buku peLsmbatan (TB01) tetapi imformasi ini tidak bisa dipindahkan ke Buku register TB (TB03) dan tidak bisa dikumpulkan datanya di Level kota kabupaten atau provinsi.
5. Walaupun telah ada pengakuan dari pentingnya pelibatan pasien dalam peLsmbatan TB, tetapi belum ada metode pendekatan yang digunakan dalam layanan di semua level.
6. Hanya ada beberapa organisasi non pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat yang aktif dalam kegiatan penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia. Dengan beberapa pengecualian, mereka yang bergerak di dalam layanan Tuberkulosis pada umumnya bergantung kepada pendanaan dari lembaga donor seperti Global Fund. Bersama dengan beberapa partner teknis mereka (CSOs/LSMs) mewakili komunitas dan organisasi yang bekerjasama dengan Subdit TB Kemenkes. Tabel di bawah ini menggambarkan beberapa kekuatan dan kelemahan dari peran organisasi non pemerintah dan LSM dalam penanggulangan TB saat ini.

Tabel 1. Peran LSM dalam layanan TB; Kekuatan, Kelemahan, dan Peluang

KEKUATAN KELEMAHAN
Menanggapi kebutuhan dari masyarakat Keterlibatan LSM dalam layanan TB masih rendah
Dapat menjangkau kelompok marginal dan yang tersisihkan Peran LSM tidak dapat didistribusikan secara merata
Dapat bekerja di wilayah terpencil Kegiatannya terkotak kotak dan kurang terkoordinasi
Dekat dengan kelompok masyarakat dan layanan kesehatan lokal Kebanyakan LSM hanya memiliki pengertian yang terbatas mengenai TB
Berakar dari kebudayaan dan Bahasa lokal TB dilihat sebagai masalah kesehatan. Efeknya terhadap psikososial dan ekonomi kurang ditanggapi atau dikenali
Semangat sukarela Keterlibatan LSM saat ini tidak didukung oleh peraturan atau Undang-undang Nasional

Anggota yang memiliki motivasi Terbatasnya sumberdaya dalam kegiatan penanggulangan TB
Mampu untuk menarik tenaga sukarela seperti kader Dukungan terhadap Tuberkulosis tergantung pada program pendanaan
Sistemnya sederhana, tidak banyak birokrasi Ketergantungan terhadap Donor meningkat
Kegiatan-kegiatannya dengan mudah dapat disatukan (mis: kegiatan TB HIV) Tenaga sukarela tidak selalu dapat menjadi agen yang terpercaya
Keterlibatan dari orang yang pernah sakit TB termasuk bekas pasien TB Tingginya ‘turnover’ dari staf dan sukarelawan
Rasa memiliki yang tinggi Tidak cukup terlibat untuk advokasi
Dapat menciptakan banyak jejaring Kapasitas dan kemampuan tidak seimbang
Program dan kegiatannya ‘fleksibel’
Dapat terlibat disetiap tingkatan masyarakat
Berprinsip partisipasif dan aktif (Gotong-royong)
Memanfaatkan sumberdaya yang ada secara masksimal
Memiliki struktur dari level internasional, nasional, provindi, dan kabupaten kota
Peluang
Memiliki potensi untuk melibatkan LSM lain yang bekerja untuk HIV, Kesehatan ibu dan anak serta LSM yang bergerak di sektor lain yang belum mengintgrasikan program TB dalam program kerjanya.
Adanya sumber daya dan kapasitas dari LSM internasional yang belum melakukan kegiatan TB berbasis masyarakat.
Adanya potensi untuk meningkatkan kolaborasi dan koordinasi serta membangkitkan “suara” dari LSM untuk membantu advokasi di tingkat lokal dan Nasional
Memperluas cakupan kegiatan TB berbasis komunitas ke tempat kerja dan sekolah serta lebih sistematis dalam menjangkau populasi kunci
Menggunakan komunikasi berbasis teknologi untuk medukung kegiatan TB berbasis komunitas
Potensi untuk mengundang perhatian media untuk mendukung kesadaran masyarakat TB
Meningkatkan keterlibatan kelompok mantan pasien TB dalam layanan TB, dukungan serta advokasi

d. Pembiayaan Program TB (melihat dari sisi UKB-BPJS dan UKM-Pemerintah serta sisi swasta-CSR)

e. Monitoring dan evaluasi (termasuk ke dalamnya pencatatan dan pelaporan)
Belum tersedianya panduan dalam melakukan penilaian kualitas layanan kesehatan berdasarkan persepsi pasien yang dikembangkan dan melibatkan organisasi berbasis masyarakat.

III. ISU STRATEGIS
1. Pengetahuan Sikap dan Perilaku Masyarakat tentang TB (data?)
2. Akses Layanan Untuk Pasien TB
3. Pelibatan Masyarakat dan Pasien TB
4. Pembiayaan Program TB (melihat dari sisi UKB-BPJS dan UKM-Pemerintah serta sisi swasta-CSR)
5. Monitoring dan evaluasi (termasuk ke dalamnya pencatatan dan pelaporan)

IV. TUJUAN, INDIKATOR, & TARGET

TUJUAN

1. Menjangkau pasien yang belum ditemukan dan tidak dapat mengakses layanan untuk menegakkan diagnosa TB serta peLsmbatan TB (33% missing case)
2. Menurunkan insiden serta dampak dari TB MDR melalui jaminan terhadap tuntasnya peLsmbatan TB dan meningkatkan pendampingan terhadap mereka yang dalam peLsmbatan MDR ( penemuan kasus, peLsmbatan dan dukungan lainnya).
3. Tujuannya adalah untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat TB dalam rangka pencapaian tujuan pembangunan kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

INDIKATOR
Strategi ini menggarisbawahi visi, misi, dan tujuan dari Stranas dengan melihat kepada mekanisme untuk mempekuat keterlibatan organisasi dari masyarakit sipil terhadap program penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia

TARGET
(lihat framework CSO TB HIV)

V. RUMUSAN STRATEGI

Strategi inti ini memiliki 4 elemen yang saling berkaitan

LIBATKAN —EKSPANSI—-FOKUS —- PANTAU

1. Libatkan – melibatkan lebih banyak organisasi non pemerintah dan organisasi masyarakt sipil lainnya dalam layanan TB dengan mempromosikan aktivitas TB berbasis masyarakat.
2. Ekspansi– memperluas jaringan dari LSM/CSO yang sudah bekerja di program TB dengan memperluas wilayah kerja dan lebih banyak melibatkan kelompok mantan pasien TB
3. Fokus – memfokuskan keterlibatan CSO dalam 2 area saja, yaitu penemuan kasus dan dukungan untuk memantau kepatuhan minum obat dalam 2 kategori pasien yaitu pasien MDR dan pasien koinfeksi TB HIV
4. Pantau – menghitung kontribusi dari masyarakat untuk layanan TB melalui kegiatan monitoring dan evaluasi yang efektif

1. Libatkan lebih banyak LSM dan CSO

Di Indonesia, seperti di negara lain, Tuberkulosis dipandang sebagai masalah medis semata. Untuk alasan ini beberapa LSM yang telah terlibat dalam program TB umumnya memiliki layanan klinis dalam bentuk klinik dan rumah sakit. Namun sebagian besar dari LSM dan organisasi keagamaan yang ada di Indonesia tidak bekerja untuk TB walaupun mereka bekerja untuk area-area yang sebenarnya berkaitan erat dengan TB seperti, kemiskinan, dan Kesehatan Ibu dan anak, atau penyakit yang berhubungan erat dengan TB seperti Diabetes mellitus, HIV ,dan lain lain. Oleh karena itu perlu diseminasi informasi tentang Tuberkulosis pada LSM untuk mendorong keterlibatan mereka dalam aktivitas TB berbasis komunitas, khususnya; pencegahan ,penemuan kasus, pendampingan, dan advokasi.

Potensi utama ada pada LSM internasional yang memiliki banyak sumber daya dan menjadi donor untuk LSM nasional dan lokal lainnya, sehingga mereka dapat mengintegrasikan kegiatan TB ke dalam program mereka yang sudah berjalan. Dengan mengintegrasikan TB ke dalam program mereka akan dapat meminimalkansumber daya secara signifikan, misalnya tenaga kerja atau biaya lainnya. Misalnya, Kader-kader yang telah bekerja di program HIV dan KIA perlu dilatih tentang penemuan kasus dan dukungan pengobatan TB. Dibutuhkan suatu badan koordinasi untuk LSM yang baru dengan LSM TB lebih mapan untuk berbagai informasi dan saling belajar tentang program penanggulangan TB. LSM yang baru bergabung membutuhkan pelatihan dasar bagi kader-kadernya, panduan sederhana dan alat untuk membantu mereka mulai bekerja pada TB. Badan koordinasi tersebut harus independen dari pemerintah dan perlu diadakan pertemuan secara berkala dengan subdit TB untuk koordinasi dan sharing informasi.

Di tingkat layanan kesehatan lokal, ada kebutuhan untuk membuat asosiasi baru mantan pasien TB. Ada bukti bahwa mantan pasien sangat termotivasi dan mampu memberikan dukungan terhadap pasien baru, terutama pasien MDR-TB. Untuk alasan ini, ditingkat nasional perlu dibentuk jaringan organisasi pasien (asosiasi) oleh organisasi pasien yang telah ada diseluruh indonesia. Jaringan ini berperan dalam memfasilitasi pembentukan kelompok pasien baru yang bertugas memberikan dukungan kepada pasien lain di fasilitas layanan kesehatan TB. Subdit TB Kemenkes harus bertemu secara berkala dengan Jaringan ini juga untuk membantu kelancaran komunikasi mereka dengan puskesmas di tingkat lokal dan fasilitas kesehatan lainnya. Jaringan ini juga harus mampu mengamankan dukungan dari mitra teknis mungkin diperlukan.

2. Perluas wilayah kerja dari LSM dan CSO

Keterlibatan LSM/CSO dalam TB sebagian besar dibatasi oleh perjanjian PR dan SR hibah yang terkait dengan Global Fund. Hal ini telah menjadi bagian dari budaya keterlibatan saat ini di TB. Namun, ada banyak kesempatan untuk memperluas pekerjaan TB berbasis masyarakat dari organisasi yang sudah ada tanpa dana tambahan. Hal ini menjadi layak bila TB tidak diperlakukan sebagai program vertikal yang membutuhkan staf dan pengawasan sendiri melainkan diintegrasikan ke dalam pekerjaan sektor lain organisasi. Pada lokakarya konsultasi nasional dengan LSM pada April 2014, LSM/ CSO sendiri yang menyatakan bahwa mereka bisa melakukan kegiatan setidaknya 20% lebih banyak dari wilayah yang diatur dalam perjanjian hibah Global Fund. Dalam prakteknya, jika ada fokus pada penemuan kasus dan dukungan peLsmbatan untuk MDR-pasien, jangkauan pelayanan TB berbasis masyarakat tersebut bisa jauh lebih dari 20% di atas tingkat saat ini.

Kelompok sasaran baru harus menjadi bagian dari pekerjaan tersebut. Pabrik dan pesantren merupakan sarana berkumpulnya orang banyak dan lebih mudah dilakukan intervensi. Perlu pengembangan kelompok pendidik sebaya di tempat-tempat tersebut dan didukung oleh pemerintah setempat dalam melakukan kegiatan peningkatan kesadaran masyarakat terkait TB serta rujukan bagi mereka yang menjadi terduga TB. Pengambil keputusan di masing-masing sektor harus peka terhadap kebutuhan pasien, sehingga kebijakan yang mendukung dapat dibuat dan disetujui. Perlu adanya panduan sederhana dan hal lainnya untuk memperluas cakupan kegiatan tersebut. Ini perlu dibuat dan dikembangkan. Hal-hal tersebut akan mencakup bahan-bahan informasi sederhana, presentasi power point, dan bimbingan untuk kebijakan di tempat kerja.

Kegiatan berbasis komunitas (LSM) juga perlu dilakukan pada populasi kunci yang terkena dampak akibat TB (HIV). Kegiatan yang sementara berjalan pada pengguna narkoba suntik, pekerja seks atau buruh migran, perlu peningkatan kesadaran TB, perlu dilakukan skrining dan rujukan yang terintegrasi ke dalam pekerjaan.

Perluasan jangkauan dan cakupan tersebut akan lebih baik didukung melalui kolaborasi antara LSM itu sendiri, dengan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran mereka tentang TB dan dilakukan terus-menerus. Hal ini mungkin cocok untuk mengajak LSM yang bersedia untuk bekerja sama dalam jaringan yang didukung oleh mitra teknis untuk mempromosikan agar layanan tersebut diperluas.

3. Emphasize – Tekankan – menitikberatkan keterlibatan CSO dalam 2 area saja yaitu penemuan kasus dan dukungan untuk memantau kepatuhan minum obat .

Contoh pembagian tugas dan peran untuk LSM dan keterlibatan dari CSO lainnya untuk kegiatan TB

– Perubahan perilaku komunikasi untuk mobilisasi masyarakat
– peningkatan kesadaran berkomunikasi yang bertujuan menghimbau masyarakat
– Mengurangi stigma
– Advokasi di semua tingkatan (misalnya untuk meningkatkan ketersediaan sumber daya, jasa dan obat-obatan)
– Penemuan dini kasus TB berbasis masyarakat (misalnya melalui kampanye atau kunjungan rumah-ke-rumah)
– Pengambilan dahak dan transportasi
– Menelusuri kontak orang dengan TB menular dalam keluarga dan komunitas mereka
– dukungan kepatuhan peLsmbatan TB
– Dukungan sosial dan mata pencaharian (misalnya suplemen makanan, kegiatan yang menghasilkan pendapatan)
– Mempromosikan penggunaan Piagam Pasien untuk Perawatan TB
– Screening, profilaksis dan peLsmbatan TB bagi orang yang hidup dengan HIV
– konseling dan testing HIV untuk pasien TB dan orang terduga TB
– Manajemen Pasien-pasien TB Kebal Obat dan TB yang resistan terhadap obat secara luas
– menyebarluaskan informasi dan jaringan untuk mengatasi masalah kesehatan dan perlindungan sosial
– Dukungan untuk memperbaiki sistem penyediaan layanan kesehatan (misalnya sumber daya manusia, infrastruktur, pasokan)
– Melakukan penelitian operasional berbasis program
– Pembiayaan dan sumber daya mobilisasi

Namun, mengingat rendahnya tingkat keterlibatan sekarang ini, kecepatan untuk memperluas cakupan akan lebih baik apabila kita memfokuskan upaya pelibatan LSM baru untuk program TB. Hal ini akan memungkinkan sumber daya yang baru tersebut untuk diarahkan ke tujuan yang sama, dan untuk mengatasi beragamnya kelompok LSM yang muncul maka perlu ada suatu pembelajaran bersama antar satu LSM dengan lainnya. Dua area yang perlu ditekankan adalah penemuan kasus baru dan dukungan terhadap kepatuhan peLsmbatan. Kedua hal ini merupakan prioritas yang paling mendesak untuk pengendalian TB di Indonesia. Selain itu, dua kelompok pasien yang perlu diprioritaskan adalah TB /HIV (sehingga membuatnya lebih mudah bagi LSM yang bekerja pada HIV untuk terlibat) dan MDR-TB (untuk mencegah penyebaran terhadap individu, rumah tangga dan masyarakat). Kegiatan yang mendukung adalah informasi, pendidikan, komunikasi dan dukungan sosial ekonomi serta advokasi harus didorong dan dipromosikan.

4. Enumerate – Hitung – menghitung kontribusi dari masyarakat untuk layanan TB melalui kegiatan monev yang efektif.

Agar lebih banyak LSM yang terlibat dalam layanan TB dan juga agar terbentuk lebih banyak asosiasi mantan pasien TB serta memperluas jangkauan dan cakupan, maka sangat penting dilakukan pencatatan, pendokumentasian dan pelaporan untuk dapat mengukur kontribusi mereka dalam penemuan kasus baru dan keberhasilan peLsmbatan. Hal ini paling baik dilakukan dalam satu sistem pemantauan nasional. Register TB di semua fasilitas harus mampu merekam sumber rujukan dan melacak semua rujukan dari masyarakat untuk mendapatkan angka notifikasi kasus. Demikian pula, register peLsmbatan harus dapat mencatat apakah pasien menerima dukungan kepatuhan dari masyarakat dan kemudian melacak hasil peLsmbatan pasien tersebut. Untuk hal tersebut kita dapat mengikuti panduan Pelibatan TB (ENGAGE-TB, WHO). Subdit TB Kemenkes harus dapat memfasilitasi agar tersedianya angka-angka ini di tingkat kabupaten kota untuk dapat dilaporkan setiap triwulan. Sebagaimana data tersebut dihasilkan, dampak dari upaya LSM dan organisasi masyarakat sipil lainnya akan menjadi lebih jelas. Hal ini juga akan membantu memberikan pelajaran untuk memperbaiki upaya yang sudah dilakukan dan mendukung kinerja yang lebih baik.

E. RENCANA KEGIATAN

Strategi ini memerlukan perhatian yang lebih besar untuk dapat melibatkan organisasi kemasyarakatan dari berbagai stakeholder.
Subdit TB Kemenkes harus bertemu secara berkala dengan berbagai lembaga yang diusulkan dalam strategi ini, untuk memastikan dukungan serta mendorong keterlibatan dan memberikan umpan balik. Pertemuan ini bertujuan untuk koordinasi dan hanya membutuhkan waktu yang singkat, selama beberapa jam, dan, hanya melibatkan perwakilan pimpinan koalisi, dan akan lebih efektif dilakukan setiap triwulan. Perwakilan pimpinan koalisi ini kemudian dapat menginformasikan kepada anggota hasil pertemuan tanpa perlu anggota untuk hadir di pertemuan. Pertemuan rutin sangat penting untuk meningkatkan motivasi dan apabila ada permasalahan yang dihadapi agar bisa segera diatasi.
Engage TB merupakan panduan implementasi yang memberikan langkah -langkah tentang bagaimana untuk melibatkan LSM baru dan CSO lainnya dan bagaimana mereka bisa mengintegrasikan TB ke dalam kegiatan mereka berdasarkan enam komponen yaitu:
1. Analisis Situasi
2. Memberdayaan lingkungan
3. Pedoman dan alat pendukung
4. Identifikasi peran
5. Pemantauan dan evaluasi
6. Peningkatan kapasitas

Kurikulum pelatihan dan panduan fasilitator untuk pendekatan ENGAGE-TB juga sudah tersedia. Subdit TB harus menggunakan kurikulum ini untuk membantu dalam menjangkau dan melibatkan LSM baru dan CSO lainnya. Selain itu, yang perlu mendapatkan perhatian yaitu:

A. mekanisme kelembagaan yang baru
• mengaktifkan kembali Gerdunas sebagai mitra kunci pengendalian TB di Indonesia untuk mendapatkan dukungan yang lebih besar dari pemerintah (seperti Departemen Sosial) dan dari kabupaten. Mekanisme ini memungkinkan untuk mendapatkan perhatian yang lebih besar dan meningkatkan komitmen serta sumber daya yang ada untuk Pengendalian TB. Ini juga akan membantu dalam menyusun undang-undang baru yang mungkin diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi peningkatan LSM dan partisipasi kelompok pasien dalam Pelayanan TB
• Membentuk Kelompok Kerja Teknis (TWG) pada Community Engagement untuk secara sistematis melacak, menindaklanjuti dan mendukung peningkatan keterlibatan masyarakat. Kepemimpinan bisa datang dari salah satu mitra teknis atau dari LSM besar untuk mengadakan kelompok.
• Membentuk mekanisme baru berasal dari masyarakat sipil yang independen sebagai payung koordinasi LSM (NCB) untuk membantu pelibatan CSO yang baru.
• Aktif dalam membentuk koalisi dan paguyuban pasien yang baru
• Mendukung koalisi LSM yang bekerja di Global Fund didukung-proyek untuk mempertimbangkan dan mempromosikan perluasan jangkauan dengan sumber daya yang ada
• Memfasilitasi koalisi CSO yang terlibat dalam Pengendalian TB dan paguyuban pasien TB di tingkat kabupaten.
• Mempromosikan asosiasi pasien TB di tingkat layanan untuk memperluas dukungan pasien terutama pasien TB MDR

B. pertemuan rutin
• pertemuan triwulanan antara Subdit TB Kemenkes dan masing-masing koalisi secara terpisah perlu diadakan di tingkat nasional dan kabupaten/kota. (Sebuah LSM bisa secara bersamaan menjadi anggota lebih dari satu koalisi).
• Pertemuan-pertemuan ini dapat melibatkan 3-4 orang dari Subdit TB dan 3-5 pemimpin koalisi LSM dan berlangsung tidak lebih dari 3-4 jam. Keteraturan pertemuan sangat penting. Dan secara bergiliran LSM menjadi tuan rumah pertemuan untuk mengurangi beban pada Subdit TB.
• Pertemuan harus dilaksanakan di tingkat kabupaten maupun tingkat nasional.

C. Bantuan teknis
• Material yang digunakan oleh LSM dan organisasi masyarakat sipil lainnya sering tidak memenuhi yang dibutuhkan. Subdit TB perlu menemukan cara dan sarana untuk mengembangkan pedoman dan tools yang dapat digunakan di setiap daerah oleh semua LSM
• mitra Teknis harus membantu dalam mengembangkan materi tersebut. Sebagai contoh: presentasi kepada pekerja pabrik yang berisi informasi TB dasar; presentasi kepada anak-anak sekolah asrama; Materi KIE untuk koinfeksi HIV-TB, dll.
• Material sederhana juga diperlukan untuk membantu penemuan kasus secara dini yang berisi informasi seperti pada tanda-tanda dan gejala TB
• Pedoman perlu dikembangkan untuk beberapa bidang pekerjaan termasuk, misalnya, peLsmbatan di rumah bagi pasien MDR-TB (menggunakan perawat komunitas seperti dalam proyek CEPAT)
• pelatihan baru perlu diberikan kepada pelatih sehingga sejumlah besar kader-kader baru dari LSM yang berpartisipasi dapat dilatih tentang dasar-dasar TB, skrining dan rujukan serta dukungan kepatuhan, tindak lanjut peLsmbatan.

D. identifikasi kembali staf dalam Subdit TB Kemenkes
• Staf ACSM di NTP harus kembali ditunjuk sebagai staf Community Engagement karena sekarang diakui secara global bahwa istilah “ACSM” tidak sesuai lagi untuk keterlibatan masyarakat.
• Setelah titel staf berubah, persyaratan harus disesuaikan yaitu jenjang pendidikan dan pengalaman dalam mengembangkan kemitraan dengan LSM dan CSO lainnya
• Untuk mengatasi kesenjangan kapasitas dalam NTP, setidaknya satu staf tingkat menengah dengan keterlibatan masyarakat atau mempunyai pengalaman bekerja dengan LSM harus segera ditambahkan ke dalam tim, yang mana saat ini jmlahnya hanya 3 orang.

E. Sumber daya lainnya
• Ada pengalaman penyerapan yang rendah pada dana hibah Global Fund yang lebih dari 25% dan bahkan lebih di bidang keterlibatan masyarakat. Subdit TB harus meninjau dan meminta re-program dana hibah sehingga anggaran dapat dialokasikan ke proses yang dijelaskan dalam strategi ini.
• Beberapa ketentuan harus dibuat untuk pendanaan bagi koalisi baru yang diusulkan dalam strategi ini sehingga mereka bisa menyediakan dana awal untuk mengembangkan asosiasi baru di tingkat kabupaten, khususnya asosiasi mantan pasien.
• Selain itu, LSM yang baru terlibat harus didorong untuk mendekati donor dan konstituen mereka sendiri untuk mendukung pekerjaan mereka dalam mengintegrasikan layanan TB.
• Kabupaten dan departemen lain juga merupakan potensi yang signifikan untuk peningkatan dana. LSM / CSO harus bekerja dengan media untuk menyadarkan masyarakat tentang perlunya sumber daya yang lebih banyak untuk pengendalian TB melalui acara yang menonjolkan peran kabupaten dan departemen lain. LSM selaras dengan partai-partai politik harus didorong untuk meminta pihak-pihak dalam mengangkat isu alokasi dana untuk TB di tingkat kabupaten dan di forum provinsi dan nasional. Dalam kampanye perlu ditekankan bahwa terdapat 52 infeksi baru setiap jam dan 8 kematian baru setiap jam karena TB, ini dapat menjadi pesan utama dalam kampanye.

Advokasi dan kampanye
• Advokasi dan kampanye perlu ditingkatkan secara signifikan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tetapi juga untuk mendapatkan komitmen pendanaan yang lebih besar dari kabupaten dan departemen lain
• Melibatkan stakeholder HIV dan TB untuk mengintegrasikan ke dalam kegiatan mereka dan membantu memfasilitasi mereka kepada ahli, seperti dalam bidang advokasi dan komunikasi.
• Peristiwa Nasional, dikoordinasikan dengan semua LSM, perlu diadakan secara berkala dengan keterlibatan penuh dari TV dan koran.
• suara pasien TB perlu didengar sebagai suara utama dalam advokasi tersebut
• penyediaan anggaran khusus perlu dibuat dalam kegiatan apapun yang mendukung media dan advokasi upaya tersebut

F. IMPLEMENTASI STRATEGI NASIONAL

G. MONITORING DAN EVALUASI

• Modifikasi perlu dilakukan pada sistem pencatatan di tingkat layanan, terutama pada register TB dan peLsmbatan untuk memastikan kontribusi masyarakat dapat dicatat dan dilaporkan.
• pelaporan kabupaten harus mencakup data yang dikumpulkan dari kontribusi masyarakat sebagaimana seharusnya laporan provinsi

Advertisements

40 Blogger; Sumber Inspirasi Ku

Genap sudah 12 bulan tidak pernah mempublikasikan tulisan, hanya menjawab pertanyaan dari pengunjung Blog. Malam ini, saya mencoba merangkai kata kembali; terinspirasi oleh pertemuan dengan 40 Blogger hebat di kegiatan Workshop Blogger dalam rangka Perayaan TB Day 2015, yang dilaksanakan oleh SUBDIT TB, Kementrian Kesehatan RI bersama Puskomplik (Pusat komunikasi Publik) Kemkes dengan dukungan penuh dari KNCV TBC Foundation. KNCV adalah kantor tempatku bekerja saat ini.
Sejak pertama kali menulis di Blog tahun 2008, tujuan ku hanya satu, ingin berbagi ketakutan ku saat itu, ketakutan atas epidemi HIV, melihat begitu banyak orang-orang, teman, bahkan saudara yang terinfeksi, membutuhkan informasi bagaimana hidup sehat walau terinfeksi HIV, semangat pencegahan agar jangan ada lagi orang terinfeksi HIV. Jujur, tulisan ku belum banyak membantu, buktinya epidemi HIV semakin meningkat di Indonesia, dan semangat saya menulis terhenti maret 2014. Ironis
Belajar juga dari melihat jumlah kunjungan blog ku, yang sempat mencapai kunjungan terbanyak 1200 orang perhari, dan kemudian menurun karena tidak produktif, hanya 100 an orang per hari. Walaupun begitu masih banyak orang yang menhubungi ku berdasarkan informasi di Blog, mulai dari mahasiswa, pasien HIV, TB maupun masyarakat lainnya. Berdasarkan pengalaman itu, tahun lalu saya memberanikan diri untuk mengajukan kegiatan pelibatan Blogger, saat dapat promosi dari kantor sebagai Technical Officer ACSM. Kompetisi Blogger ternyata banyak menghasilkan tulisan yang menarik, tiap serial dua minggu-an ada 100 an tulisan berkompetisi, kegiatan berlangsung selama 8 serial dan hasilnya adalah makin banyak informasi tentang TB di Internet, mulai informasi tentang Stigma dan diskriminasi tentang TB, sampai informasi tentang TB HIV.
Tahun ini dalam rangka perayaan TB Day, saya kembali mengusulkan untuk melibatkan kembali Blogger, setelah diskusi panjang, akhirnya jadilah rencana Workshop Blogger. Pertemuan team Subdit ( Devi, Nurul, Dangan dan Silvi), WHO (Dita) bersama saya dengan Pak Andjari dari Puskomplik semakin mambuka mata ku. Puskomplik sejak tahun 2014 telah juga melibatkan Blogger sebagai desiminator informasi tentang JKN. Jadilah gayung bersambut, sehingga munculah hastag #sahabatJKN #lawan TB. Blogger adalah desiminator informasi yang mumpuni, belajar dari keberhasilan Puskomlik dalam mensosialisasikan program JKN ke masyarakat. Pertemuan saya dengan beberapa pemilik blog dibawah ini membuatku ingin kembali belajar menulis. Luar biasa, ada semangat baru dalam diri ketika  berinteraksi; Mba Fadlun yang sering dipangil bapak fadlun, ayu yang begitu kuat dan tegar, abang tigor yang kocak, mas uwan yang baca puisinya nyampe ke hati, atau mas aris yang suka jalan di saat subuh, semuanya keren.  Saya melihat semangat yang kuat dalam membentuk ikatan, kegembiraan, kebersamaan,  kepedulian terhadap sesama. Semangat itu telah mendorong ku kini untuk menulis kembali. Sebagai penghargaan terhadap para Blogger, saya coba cantumkan alamat blog-blog mereka di tulisan ini.

8950_10152856637527909_8729549213163769251_n

http://www.elisakoraag.com
http://www.kompasiana.com/dhevianggarakasih
http://www.ivegotago.com
http://www.errornita.blogspot.com
http://www.andiniharsono.blogspot.com
http://www.defiranc.com
www,juleshwa.blogspot.com
http://www.hananoyuri.com
http://www.ibufadlun.com
nannisa7.blogspot.com
http://www.NurulMusyafirah.com
http://www.uwanurwan.blogspot.com
http://www.induny4w4w4. blogdetik.com
http://www.kompasiana.com/novita_maria
http://www.nunung-suryani.blogspot.com
http://www.wayakomala.web.id
http://www.duniaspasi.blogspot.com
http://ariss.id

http://www.catatan-efi.com
http://nuzululku.wordpress.com/
http://alaikaabdullah.com
http://www.nchiehanie.com/
http://www.anakkrim.info
http://www.kompasiana.com/tigoragustinussimanjuntak
http://bangaswi.wordpress.com
http://www.novawijaya.com
http://keluargafauzi.blogspot.com
http://www.dobelden.com
http://www.sumartisaelan.com & kompasiana/sumarti_saelan
http://www.fitrian.net
http://novariany.com
http://www.sukamakancokelat.com
http://www.orin.supriatna.web.id
http://www.nunikutami.com
http://halamancermin.blogspot.con
http://www.msmahadewi.com
http://www.punyapista.com
http://www.ajenangelina.con
http://www.catatanoshin.blogspot.com

Terimakasih, telah berbagi teman-teman #sahabatJKN #Lawan TB..

Pondok Gede, 7 maret 2014, malam hujan sepulang kantor.

 

Saat Sahabat Meninggal Pagi Ini

Dulu

Ku ingat saat kita bersama menyusuri jalanan Ibu kota

Menikmati setiap pandangan yang mencibir

Kita hanya tertawa, kala sepuluh lelaki mengajak ke Peraduan nya

Kau, aku  dan mereka bergumul dalam keringat

Ada kepuasan di Setiap tetes air mani yang melembabkan bumi kita

Kau dan aku, hanya ingin kita mengungkapkan pada dunia

Bahwa kita manusia dari tanah yang sama

Nafsu yang sama

Surga yang sama

Surga Linga-linga tanpa Yoni

Tak peduli, saat pagi mereka terbangun dan meludahi muka kita

Sahabat, Ku ingat kau pernah bercerita

Tentang orang tua yang mengusirmu dari rumah

Tentang keharusan untuk menikah

Aku hanya bisa memeluk tubuh mu

Menangis bersama

Sahabat

Pagi ini saat pagi merah

Bayu bercerita tentang akhir perjalanan mu di Dunia

Kandida, typus, jantung, tuberculosis dan segala macam penyakit lainnya

Mengalahkanmu dalam satu kata

Mati

*****

Pagi yang emosional, 8 November 2012

Ku dedikasikan untuk semua Sahabat yang sedang berjuang untuk lebih sehat dan lebih baik

Teruslah berjuang….

Aku selalu bersama mu

Image

Data IBBS 2011 ( STBP 2011)

Lesbian dalam Pandangan Psikiatrik, Sebuah Tanggapan

Lesbian dalam Pandangan Psikiatrik,
Sebuah Tanggapan
Soe Tjen Marching ;  Komponis
Sumber :  KORAN TEMPO, 21 Juni 2012
Sangat mengejutkan membaca artikel “Lesbian dalam Pandangan Psikiatrik” di Koran Tempo, Kamis, 14 Juni 2012. Sang penulis, H. Soewadi, mengajukan argumen bahwa lesbian adalah penyimpangan dan gangguan seksual yang perlu disembuhkan. Padahal, sejak 1973, the American Psychiatric Association sudah menetapkan bahwa homoseksualitas tidak lagi digolongkan sebagai gangguan mental. Lalu, pada 17 Mei 1990, Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) secara resmi menyatakan homoseksualitas bukanlah penyakit atau gangguan jiwa. Di Indonesia, Pedoman Penggolongan Diagnosa Gangguan Jiwa III juga mencabut homoseksualitas sebagai gangguan, pada 1993.
Yang tidak kalah mengejutkan, penulis menyetujui pendapat bahwa homoseksual terjadi karena berbagai faktor, antara lain: (1) Faktor biologi berupa terganggunya struktur otak kanan dan kiri serta adanya ketidakseimbangan hormonal; (2) Faktor psikologis, kurangnya kasih ibu, dan tidak adanya peran seorang ayah; (3) Pengaruh lingkungan yang tidak baik bagi perkembangan kematangan seksual yang normal; (4) Faktor pola asuh, kurangnya ketaatan agama.
Saya ingin membahas satu per satu faktor yang telah disebut oleh penulis artikel sebagai penyebab homoseksualitas. Pertama, kalau homoseksualitas memang manusia yang terganggu struktur otak dan hormonnya, artinya mereka akan mengalami rasa letih, pening, stres, insomnia, dan terkadang disertai dengan kejang. Apakah para homoseksual mempunyai gejala demikian? Mungkin benar, banyak homoseksual di Indonesia yang mengalami stres berat, pening, dan insomnia. Tapi bukan lantaran gangguan otak, melainkan karena banyak dari mereka mendapat tekanan dan stigma dari masyarakat!
Sekarang sudah tersedia berbagai terapi dan pengobatan bagi mereka yang struktur otak atau hormonnya terganggu. Saya telah menjumpai beberapa pasien, baik yang heteroseksual maupun homoseksual, dengan gangguan otak atau hormon. Dan setelah gangguan otak pasien homoseksual disembuhkan, ia tidak lalu menjelma menjadi heteroseksual. Para homoseksual yang masuk rumah sakit dengan gangguan otak biasanya akan keluar dari rumah sakit sebagai homoseksual juga-–mereka tetap setia pada orientasi seksual masing-masing. Jadi tidak ada hubungannya struktur otak dan gangguan hormon dengan orientasi seksual manusia. Dan gangguan otak macam apa yang dialami petenis lesbian Martina Navratilova, sehingga dia bisa bermain dengan dahsyat-–memenangi 18 grand slam. Navratilova bahkan masih bertarung di Wimbledon pada usianya yang ke-50.
Faktor kedua yang disebut oleh H. Soewadi adalah kurangnya kasih ibu dan tiadanya peran seorang ayah. Namun saya mengenal banyak sekali homoseksual yang tumbuh dengan kasih sayang kedua orang tua mereka, dan banyak juga heteroseksual yang tidak mempunyai ayah dan ditelantarkan oleh ibu mereka. Ilmuwan Dede Oetomo (juga homoseksual) bahkan sempat menceritakan bahwa ayahnya sangat memperhatikan dirinya, dan betapa ibunya begitu mendukung ide-ide dan aktivitasnya dalam memperjuangkan hak-hak lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di Indonesia. Yang sering terjadi di Indonesia bukannya anak menjadi homoseksual karena kurangnya kasih sayang orang tua, tapi orang tua (konservatif) berkurang kasih sayangnya setelah mengetahui anak mereka homoseksual.
Faktor ketiga yang disebut oleh penulis ini: pengaruh lingkungan yang tidak baik. Mungkin banyak dari kita yang telah mendengar nama Socrates, Plato, Aristoteles, dan Alexander Agung, para filsuf terpelajar dengan lingkungan para bangsawan. Tapi apakah kita semua sadar bahwa para lelaki ini mempunyai kekasih lelaki? Apakah ini karena lingkungan mereka yang tidak baik?
Sekali lagi, saya akan menyebut Dede Oetomo, yang saya kenal cukup dekat. Dia mempunyai orang tua dan saudara heteroseksual, dan teman-teman heteroseksual juga. Tidak ada “lingkungan” yang membentuk dia menjadi homoseksual! Yang lebih tepat mungkin bukan lingkungan yang tidak baik yang membentuk homoseksual, tapi homoseksual di Indonesia sering kali harus menghadapi lingkungan yang “tidak baik” (yang berpikiran sempit dan menyudutkan LGBT).
Faktor keempat, kurangnya ketaatan agama. Dalam artikel ini, sang penulis menyiratkan, dalam agama, heteroseksuallah yang diklaim benar. Tapi agama mana yang dimaksud? Dewa-dewi di Nusantara (yang kebanyakan berasal dari India) tidak mengacu pada dualisme heteroseksual. Salah satunya adalah Ardhanarishvara, yang merupakan persatuan antara Dewi Parwati dan Dewa Syiwa, sehingga ia mempunyai dua tubuh (separuh lelaki dan separuh perempuan). Patungnya masih bisa ditemukan di Bali dan di Museum Trowulan (Mojokerto).
Begitu juga dalam agama Hindu. Beberapa dewa-dewi agama Hindu tidak berpaku pada kemapanan gender. Misalnya, Wishnu, yang pandai menjelma menjadi beberapa makhluk. Suatu ketika ia menjelma menjadi Dewi Mohini, dan saat itu Dewa Syiwa jatuh cinta kepadanya. Akhirnya, bersetubuhlah penjelmaan Dewa Wishnu dengan Dewa Syiwa. Dari persetubuhan ini, lahirlah seorang bayi bernama Ayyapa.
Selain Mohini, tokoh pewayangan Hindu yang kisahnya memuat ambiguitas gender adalah Srikandi, yang merupakan titisan Dewi Amba. Dalam kitab Mahabharata, Srikandi lahir sebagai seorang wanita, tapi karena sabda para dewa, ia diasuh sebagai seorang pria. Srikandi sering kali dianggap mempunyai jenis kelamin waria, dan ia jatuh cinta kepada seorang perempuan juga.
Agama masyarakat Bugis mempunyai pendeta lelaki yang feminin (biasa dikenal sebagai waria di Indonesia), yang disebut bissu. Bissu mempunyai kedudukan yang cukup disegani di masyarakat Bugis-–karena perpaduan karakter feminin dan maskulin dalam satu tubuh inilah, ia dianggap sebagai makhluk yang lebih sempurna daripada mereka yang hanya mempunyai sifat maskulin atau feminin. Masih ada beberapa contoh agama yang tidak menabukan homoseksual atau biseksual, tapi karena keterbatasan tempat, saya tidak bisa menyebut semua.
Sangatlah disayangkan bila stigma yang diberikan kepada LGBT dipertahankan. Inilah yang sering kali tidak disadari: bila LGBT disudutkan, masyarakat itu sendiri juga mengalami kerugian. Berapa banyak waktu dan uang orang tua yang terbuang untuk mengirim anak LGBT mereka ke psikiater dan mencoba menyembuhkan orientasi seksual mereka? Energi yang tersia-sia hanya untuk merendahkan hak manusia. Justru stigma seperti inilah yang bisa menyebabkan stres dan depresi berkepanjangan.
Di negara-negara yang tidak melecehkan LGBT, mereka bisa mengembangkan kemampuan dengan lebih leluasa. Dengan demikian, akhirnya kemampuan para LGBT tidak terhambat dan tersia-sia, atau menjelma menjadi frustrasi berkepanjangan, hanya karena kutukan masyarakat atau stigma.

Selama kita merendahkan keberadaan LGBT, kita juga telah ikut membunuh kemampuan mereka yang di masa depan bisa menjadi penerus tokoh-tokoh seperti Leonardo da Vinci, Hans Christian Andersen, Jodie Foster, dan Martina Navratilova.

Kanker Anus: Informasi dan pengobatan

Kanker anus adalah penyakit yang berbahaya (kanker) dalam bentuk sel tisu dalam anus.

Anus adalah bagian akhir dari usus besar, di bawah bagian rektum yang dilalui kotoran (limbah padat) untuk keluar dari tubuh. Anus yang dibentuk adalah sebagian dari luar lapisan kulit dari tubuh dan sebagian dari usus. Dua-ring seperti otot, disebut otot sphincter, berfungsi untuk membuka dan menutup anus, anus membuka agar kotoran keluar dari tubuh. anal kanal, bagian pembukaan antara dubur dan anal panjangnya sekitar 1 ½ inci.

Kulit luar sekitar dubur yang disebut daerah perianal. Tumor di daerah ini adalah Tumor kulit, bukan kanker anus.

Terinfeksi dengan papillomavirus manusia (HPV) dapat mempengaruhi resiko pengembangan kanker anus.

Faktor risiko meliputi:

* Usia lebih dari 50 tahun.
* Terinfeksi dengan human papillomavirus (HPV).
* Memiliki banyak pasangan seks.
* Melakukan hubungan anal seks.
* Anus sering mengalami kemerahan, pembengkakan dan kesakitan.
* Menderita anus fistula (bukaan yang tidak normal).
* Merokok.

Kemungkinan tanda kanker anus termasuk pendarahan dari anus atau dubur atau benjolan di dekat anus.

Ini dan gejala lainnya dapat disebabkan oleh kanker anus. Kondisi lain dapat menyebabkan gejala yang sama. Harus berkonsultasi ke Dokter jika ada masalah yang berikut ini:
* Pendarahan dari anus atau dubur.
* Sakit atau tekanan di daerah sekitar dubur.
* Gatal-gatal atau banyak keluar lendir dari anus.
* Benjolan di dekat anus.
* Perubahan kebiasaan BAB.

Pengujian untuk memeriksa dubur digunakan untuk mendeteksi (menemukan) dan diagnosa kanker anus.

Berikut tes dan prosedur yang dapat digunakan:
Pemeriksaan fisik dan sejarah: Sebuah pengujian pada tubuh untuk memeriksa tanda-tanda kesehatan umum, termasuk untuk memeriksa tanda-tanda penyakit, seperti gumpalan atau hal lain yang tampaknya tidak biasa. Sebuah sejarah kesehatan pasien dan kebiasaan terakhir penyakit dan juga perawatannya.

  • Pemeriksaan dubur digital (DRE): Sebuah penelitian terhadap anus dan rektum. Dokter atau perawat memasukkan pelumas, bersarung tangan dan jari dimasukkan ke dalam dubur untuk merasakan adanya gumpalan atau hal lain yang tampaknya tidak biasa.
  • Anoscopy: Sebuah alat pemeriksaan anus dan yang lebih rendah dari rectum, tabung yang diterangi disebut anoscope.
  • Proctoscopy: Sebuah alat pemeriksaan yang pendek untuk memeriksa rectum, tabung yang diterangi disebut proctoscope.
  • Endo-anal atau endorectal ultrasound: Sebuah prosedur yang di mana menggunakan ultrasound transducer (penyelidikan) dimasukkan ke dalam anus atau dubur dan digunakan untuk memancarkan energi gelombang suara tinggi (ultrasound) pada organ internal dan membuat Gema. Gema yang berupa gambar tisu tubuh disebut sonogram.
  • Biopsi: Penyingkiran sel atau tisu sehingga mereka dapat dilihat di bawah mikroskop oleh patolog untuk memeriksa tanda-tanda kanker. Jika yang dilihat adalah daerah yang tidak normal selama anoscopy, yang pernah dilakukan pada waktu itu.

Informasi Umum Tentang kanker

kanker anus adalah penyakit yang berbahaya (kanker) dalam bentuk sel tisu dalam anus.

Anus adalah bagian akhir dari usus besar, di bawah bagian rektum yang dilalui kotoran (limbah padat) untuk keluar dari tubuh. Anus yang dibentuk adalah sebagian dari luar lapisan kulit dari tubuh dan sebagian dari usus. Dua-ring seperti otot, disebut otot sphincter, berfungsi untuk membuka dan menutup anus, anus membuka agar kotoran keluar dari tubuh. anal kanal, bagian pembukaan antara dubur dan anal panjangnya sekitar 1 ½ inci.

Kulit luar sekitar dubur yang disebut daerah perianal. Tumor di daerah ini adalah Tumor kulit, bukan kanker anus.

Terinfeksi dengan papillomavirus manusia (HPV) dapat mempengaruhi resiko pengembangan kanker anus.

Faktor risiko meliputi:

* Usia lebih dari 50 tahun.
* Terinfeksi dengan human papillomavirus (HPV).
* Memiliki banyak pasangan seks.
* Melakukan hubungan anal seks.
* Anus sering mengalami kemerahan, pembengkakan dan kesakitan.
* Menderita anus fistula (bukaan yang tidak normal).
* Merokok.

Kemungkinan tanda kanker anus termasuk pendarahan dari anus atau dubur atau benjolan di dekat anus.

Ini dan gejala lainnya dapat disebabkan oleh kanker anus. Kondisi lain dapat menyebabkan gejala yang sama. Harus berkonsultasi ke Dokter jika ada masalah yang berikut ini:

* Pendarahan dari anus atau dubur.
* Sakit atau tekanan di daerah sekitar dubur.
* Gatal-gatal atau banyak keluar lendir dari anus.
* Benjolan di dekat anus.
* Perubahan kebiasaan BAB.

Pengujian untuk memeriksa dubur digunakan untuk mendeteksi (menemukan) dan diagnosa kanker anus.

Masa (kesempatan pemulihan) tergantung pada hal berikut:

* Ukuran Tumor.
* Dibagian mana Tumor berada didalam anus.
* Apakah kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening.

Pengobatan tergantung dari pilihan berikut:

*TTahapan dari kanker.
* Dimana Tumor tersebut berada didalam anus.
* Apakah pasien telah menderita penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV).
* Apakah kanker tetap ada setelah perawatan atau kambuh.

Setelah kanker anus didiagnosa, tes yang dilakukan untuk mengetahui apakah sel kanker sudah menyebar didalam anus atau ke bagian tubuh yang lain.

Proses yang digunakan untuk mengetahui apakah kanker telah menyebar didalam anus atau ke bagian tubuh yang lain disebut staging. Informasi yang dikumpulkan dari proses pementasan menentukan tahap penyakit. Adalah penting untuk mengetahui tahap untuk rencana perawatan. Berikut tes dapat digunakan dalam proses pementasan:

* CT scan : Sebuah prosedur yang membuat serangkaian gambar detail dari bagian dalam tubuh, diambil dari berbagai sudut pandang. Gambar yang dibuat oleh komputer yang terhubung ke sebuah mesin x-ray. Dye mungkin disuntikkan ke dalam pembuluh darah atau ditelan untuk membantu organ atau tisu muncul lebih jelas. Prosedur ini juga disebut Computed Tomography, komputerisasi tomografi, atau komputerisasi tomografi aksial. Untuk kanker anus, yang di CT scan dari panggul dan perut dapat dilakukan.
* X-ray dada : Sebuah x-ray ke organ dan tulang di dalam dada. Sebuah x-ray adalah jenis energi sinar yang dapat tembus kedalam tubuh dan diabadikan kebentuk film, membuat gambar dari bagian dalam tubuh.
* Endo-anal atau endorectal ultrasound: Sebuah prosedur yang di mana menggunakan ultrasound transducer (penyelidikan) dimasukkan ke dalam anus atau dubur dan digunakan untuk memancarkan energi gelombang suara tinggi (ultrasound) pada organ internal dan membuat Gema. Gema yang berupa gambar tisu tubuh disebut sonogram.

Tahapan-tahapan yang digunakan untuk kanker anus:

Tahap 0 (kanker bisul di Situ)

Pada tahap 0, kanker hanya ditemukan di lapisan terjauh dari anus. Tahap 0 kanker juga disebut kanker bisul di situ.

Tahap I

Pada tahap I, Tumor adalah 2 sentimeter atau lebih kecil.

Tahap II

Pada tahap II, Tumor adalah lebih besar daripada 2 sentimeter.

Tahap IIIA

Pada tahap IIIA, Tumor dapat berukuran apapun dan telah menyebar ke salah satu:

* Kelenjar getah bening di dekat dubur; atau
* dekat organ, seperti vagina, saluran kencing, dan kandung kemih.

Tahap IIIB

Pada tahap IIIB, Tumor seukuran apapun dan telah tersebar:

* ke tempat-tempat organ dan untuk Kelenjar getah bening di dekat dubur; atau
* untuk Kelenjar getah bening di satu sisi panggul dan / atau kunci paha, dan mungkin telah menyebar ke organ di dekatnya; atau
* untuk Kelenjar getah bening di dekat dubur dan di kunci paha, dan / atau ke Kelenjar getah bening pada kedua sisi panggul dan / atau kunci paha, dan mungkin telah menyebar ke organ didekatnya.

Tahap IV

Pada tahap IV, yang mungkin Tumor seukuran apapun dan kanker mungkin telah menyebar ke Kelenjar getah bening atau organ dekat dan jauh telah menyebar ke bagian tubuh.

Kanker anus kambuhan

Kanker anus kambuhan adalah kanker yang telah recurred (kembali) setelah dirawat. Kanker dapat datang kembali didalam anus atau di bagian tubuh yang lain.

Sekilas tentang perawatan pilihan

Ada berbagai jenis pengobatan untuk pasien kanker anus.

Berbagai jenis perawatan yang tersedia untuk pasien kanker anus. Beberapa perawatan yang standar (yang saat ini digunakan), dan beberapa lagi yang sedang diteliti dalam uji klinis. Sebelum perawatan dimulai, pasien mungkin berpikir tentang mengambil bagian dalam percobaan klinis. Percobaan perawatan klinis adalah penelitian studi dimaksudkan untuk membantu meningkatkan perawatan saat ini atau memperoleh informasi tentang perawatan baru untuk pasien penderita kanker. Ketika uji klinis menunjukkan bahwa perawatan yang baru lebih baik dari perawatan standar, maka pengobatan baru tersebut dapat menjadi standar pengobatan.

Uji klinis ada di banyak negara bagian. Informasi tentang uji klinis tersedia di Situs NCI . Memilih perawatan kanker yang tepat idealnya melibatkan keputusan dari pasien, keluarga, dan tim kesehatan.

Tiga jenis perawatan standar yang digunakan:

Terapi radiasi

Terapi radiasi adalah perawatan kanker yang menggunakan energi tinggi sinar-x atau jenis lain radiasi untuk membunuh sel kanker. Ada dua jenis terapi radiasi. Eksternal terapi radiasi yang menggunakan mesin di luar tubuh untuk mengirim radiasi terhadap kanker. Internal terapi radiasi menggunakan zat radioaktif mati dalam jarum, bibit, kawat, atau catheters yang ditempatkan secara langsung ke dalam atau dekat dengan kanker. Cara terapi radiasi diberikan tergantung pada jenis dan tahap kanker yang sedang dirawat.

Kemoterapi

Kemoterapi adalah perawatan kanker yang menggunakan obat untuk menghentikan pertumbuhan sel kanker, baik dengan membunuh sel atau dengan menghentikan pembelahan sel. Bila kemoterapi diambil melalui mulut atau menyuntikkan ke dalam pembuluh darah atau otot, obat memasuki aliran darah dan dapat mencapai sel kanker di seluruh tubuh (sistemik kemoterapi). Bila kemoterapi ditempatkan langsung ke dalam tulang belakang, organ, atau rongga badan seperti bagian perut, obat terutama mempengaruhi sel kanker di tempat-tempat (daerah kemoterapi). Cara kemoterapi diberikan tergantung pada jenis dan tahap kanker yang sedang dirawat.

Bedah

* Lokal resection: Sebuah prosedur bedah Tumor yang diangkat dari anus bersama dengan beberapa jaringan yang sehat di sekelilingnya. Lokal resection dapat digunakan jika kanker adalah kecil dan belum tersebar. Prosedur ini mungkin dapat menyimpan otot sphincter sehingga pasien masih dapat mengontrol pergerakan usus. Tumor yang berkembang di bagian bawah anus sering bisa dihapus dengan resection lokal.
* Abdominoperineal resection: Sebuah prosedur bedah anus, pada rektum, dan bagian dari usus sigmoid dibuang melalui torehan yang dibuat di bagian perut. Dokter memotong ujung usus dan menyambungkannya dibagian samping perut, yang disebut stoma, dilakukan di permukaan tubuh bagian perut untuk memudahkan kotoran keluar dan ditampung dalam sebuah kantong di luar tubuh. Hal ini disebut Kolostomi. Kelenjar getah bening yang mengandung kanker juga dapat dihapus selama operasi ini.

Menderita Human Immunodeficiency Virus atau HIV dapat mempengaruhi pengobatan kanker anus.

Terapi kanker selanjutnya dapat merusak atau melemahkan sistem kekebalan tubuh pasien yang memiliki human immunodeficiency virus (HIV). Untuk alasan ini, pasien yang menderita kanker anus dan HIV biasanya dirawat dengan menurunkan dosis obat anticancer dan radiasi daripada pasien yang tidak terjangkit HIV.

Jenis perawatan lain sedang diuji dalam percobaan klinis, termasuk yang berikut:

Radiosensitizers

Radiosensitizers adalah obat yang membuat sel Tumor lebih sensitif terhadap terapi radiasi. Menggabungkan dengan terapi radiasi radiosensitizers dapat membunuh lebih banyak sel Tumor.

Ringkasan ini merujuk pada perawatan spesifik di bawah studi percobaan klinis, tetapi mungkin tidak menyebutkan setiap pegujian pengobatan baru. Informasi tentang uji klinis berlangsung tersedia di situs NCI.

Pilihan perawatan oleh tahap

Tahap 0 Kanker Anus (kanker bisul di Situ)

Perawatan dari tahap 0 anal anus biasanya adalah lokal resection.

Kanker anus tahap I
Perawatan kanker anus tahap I dapat termasuk :

* Resection lokal.
* Terapi radiasi sinar eksternal dengan atau tanpa kemoterapi. Jika kanker tetap ada setelah perawatan, tambahan kemoterapi dan terapi radiasi dapat diberikan untuk menghindari dilakukannya Kolostomi.
* Abdominoperineal resection, jika kanker tetap ada atau datang kembali setelah perawatan dengan terapi radiasi dan kemoterapi.
* Internal terapi radiasi untuk kanker yang tetap ada setelah perawatan eksternal dengan radiasi sinar-terapi.

Pasien yang telah melakukan perawatan dan berhasil menyisakan otot sphincter mungkin menerima kajian tindak lanjut setiap 3 bulan untuk 2 tahun pertama, termasuk memeriksa rektum dengan endoscopy dan biopsi, sesuai kebutuhan.

Kanker anus tahap II
Perawatan kanker anus tahap II dapat termasuk :

* Resection lokal.
* Terapi radiasi sinar eksternal dengan atau tanpa kemoterapi. Jika kanker tetap ada setelah perawatan, tambahan kemoterapi dan terapi radiasi dapat diberikan untuk menghindari dilakukannya Kolostomi.
* Terapi radiasi internal.
* Abdominoperineal resection, jika kanker tetap ada atau datang kembali setelah perawatan dengan terapi radiasi dan kemoterapi.
* Pengobatan baru uji coba klinis sebagai pilihan.

Pasien yang telah melakukan perawatan dan berhasil menyisakan otot sphincter mungkin menerima kajian tindak lanjut setiap 3 bulan untuk 2 tahun pertama, termasuk memeriksa rektum dengan endoscopy dan biopsi, sesuai kebutuhan.

Kanker anus tahap IIIA
Perawatan kanker anus tahap IIIA dapat termasuk:

* Terapi radiasi sinar eksternal dengan atau tanpa kemoterapi. Jika kanker tetap ada setelah perawatan, tambahan kemoterapi dan terapi radiasi dapat diberikan untuk menghindari dilakukannya Kolostomi.
* Radiasi sinar internal
* Abdominoperineal resection, jika kanker tetap ada atau datang kembali setelah perawatan dengan terapi radiasi dan kemoterapi.
* Pengobatan baru uji coba klinis sebagai pilihan.

Kanker anus tahap IIIB
Perawatan kanker anus tahap IIIB dapat termasuk:

* Terapi radiasi sinar eksternal dengan kemoterapi.
* Resection lokal atau abdominoperineal resection, jika kanker tetap ada atau datang kembali setelah perawatan dengan kemoterapi dan terapi radiasi. Kelenjar getah bening juga dapat dihapus.
* Pengobatan baru uji coba klinis sebagai pilihan.

Kanker anus tahap IV

Perawatan kanker anus tahap IV dapat termasuk:

* Bedah sebagai terapi palliative untuk meringankan gejala dan meningkatkan kualitas hidup.
* Terapi radiasi sebagai terapi palliative .
* Kemoterapi dengan terapi radiasi sebagai terapi palliative.
* Pengobatan baru uji coba klinis sebagai pilihan.

Pilihan perawatan untuk kanker anus kambuhan
Perawatan untuk kanker anus kambuhan dapat termasuk :

* Terapi radiasi dan kemoterapi, untuk kambuh setelah operasi.
* Bedah, untuk kambuh setelah terapi radiasi dan / atau kemoterapi.
* Sebuah uji coba klinis terapi radiasi dengan kemoterapi dan / atau radiosensitizers.

Ringkasan ini merujuk pada perawatan spesifik di bawah studi percobaan klinis, tetapi mungkin tidak menyebutkan setiap pegujian pengobatan baru. Informasi tentang uji klinis berlangsung tersedia di situs NCI.

* Ukuran Tumor.
* Dibagian mana Tumor berada didalam anus.
* Apakah kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening.

Pengobatan tergantung dari pilihan berikut:

* TTahapan dari kanker.
* Dimana Tumor tersebut berada didalam anus.
* Apakah pasien telah menderita penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV).
* Apakah kanker tetap ada setelah perawatan atau kambuh.

Tahapan kanker anus

Setelah kanker anus didiagnosa, tes yang dilakukan untuk mengetahui apakah sel kanker sudah menyebar didalam anus atau ke bagian tubuh yang lain.

Proses yang digunakan untuk mengetahui apakah kanker telah menyebar didalam anus atau ke bagian tubuh yang lain disebut staging. Informasi yang dikumpulkan dari proses pementasan menentukan tahap penyakit. Adalah penting untuk mengetahui tahap untuk rencana perawatan. Berikut tes dapat digunakan dalam proses pementasan:

* CT scan : Sebuah prosedur yang membuat serangkaian gambar detail dari bagian dalam tubuh, diambil dari berbagai sudut pandang. Gambar yang dibuat oleh komputer yang terhubung ke sebuah mesin x-ray. Dye mungkin disuntikkan ke dalam pembuluh darah atau ditelan untuk membantu organ atau tisu muncul lebih jelas. Prosedur ini juga disebut Computed Tomography, komputerisasi tomografi, atau komputerisasi tomografi aksial. Untuk kanker anus, yang di CT scan dari panggul dan perut dapat dilakukan.
* X-ray dada : Sebuah x-ray ke organ dan tulang di dalam dada. Sebuah x-ray adalah jenis energi sinar yang dapat tembus kedalam tubuh dan diabadikan kebentuk film, membuat gambar dari bagian dalam tubuh.
* Endo-anal atau endorectal ultrasound: Sebuah prosedur yang di mana menggunakan ultrasound transducer (penyelidikan) dimasukkan ke dalam anus atau dubur dan digunakan untuk memancarkan energi gelombang suara tinggi (ultrasound) pada organ internal dan membuat Gema. Gema yang berupa gambar tisu tubuh disebut sonogram.

Tahapan-tahapan yang digunakan untuk kanker anus:

Tahap 0 (kanker bisul di Situ)
Pada tahap 0, kanker hanya ditemukan di lapisan terjauh dari anus. Tahap 0 kanker juga disebut kanker bisul di situ.

Tahap I
Pada tahap I, Tumor adalah 2 sentimeter atau lebih kecil.

Tahap II

Pada tahap II, Tumor adalah lebih besar daripada 2 sentimeter.

Tahap IIIA

Pada tahap IIIA, Tumor dapat berukuran apapun dan telah menyebar ke salah satu:
* Kelenjar getah bening di dekat dubur; atau
* dekat organ, seperti vagina, saluran kencing, dan kandung kemih.

Tahap IIIB
Pada tahap IIIB, Tumor seukuran apapun dan telah tersebar:
* ke tempat-tempat organ dan untuk Kelenjar getah bening di dekat dubur; atau
* untuk Kelenjar getah bening di satu sisi panggul dan / atau kunci paha, dan mungkin telah menyebar ke organ di dekatnya; atau
* untuk Kelenjar getah bening di dekat dubur dan di kunci paha, dan / atau ke Kelenjar getah bening pada kedua sisi panggul dan / atau kunci paha, dan mungkin telah menyebar ke organ didekatnya.

Tahap IV
Pada tahap IV, yang mungkin Tumor seukuran apapun dan kanker mungkin telah menyebar ke Kelenjar getah bening atau organ dekat dan jauh telah menyebar ke bagian tubuh.

Kanker anus kambuhan

Kanker anus kambuhan adalah kanker yang telah recurred (kembali) setelah dirawat. Kanker dapat datang kembali didalam anus atau di bagian tubuh yang lain.

Perawatan untuk kanker anus kambuhan dapat termasuk :

* online prescriptions Terapi radiasi dan kemoterapi, untuk kambuh setelah operasi.
* Bedah, untuk kambuh setelah terapi radiasi dan / atau kemoterapi.
* Sebuah uji coba klinis terapi radiasi dengan kemoterapi dan / atau radiosensitizers.

Ringkasan ini merujuk pada perawatan spesifik di bawah studi percobaan klinis, tetapi mungkin tidak menyebutkan setiap pegujian pengobatan baru. Informasi tentang uji klinis berlangsung tersedia di situs NCI.

disadur dari  http://www.ahliwasir.com

Mengenal Kelompok Dukungan Sebaya

Dukungan sebaya adalah dukungan untuk dan oleh orang dalam situasi yang sama.

• Dukungan sebaya meliputi orang yang menghadapi tantangan yang sama seperti pasien dengan infeksi tertentu, komunitas tertentu, orang-orang dengan permasalahn yang sama misalnya: Dapat juga perempuan dengan  HIV dan atau TB MDR, pasangan Pasien, orang yang baru didiagnosa  HIV dan atau TB MDR dan lain-lain

• Dukungan sebaya bisa diantara seseorang yang menghadapi tantangan untuk pertama kalinya dengan seseorang yang telah mampu mengelolanya. Ini dapat berarti mengkaitkan seseorang yang baru memulai pengobatan dengan seseorang yang sudah mengelola pengobatan dan efek samping dengan baik.

Keuntungan Dukungan Sebaya

Mengurangi isolasi

Meningkatkan dukungan sosial

Mengurangi stigma

Mengurangi sumber intimidasi dari dukungan

Membantu berbagi pengalaman

Membantu orang untuk melihat bahwa hidup dengan HIV dan atau TB MDR dan efek samping adalah mungkin

Mengurangi ketergantungan pada petugas kesehatan

Mengurangi beban kerja petugas kesehatan

Meningkatkan kualitas hidup bagi Pasien HIV dan atau TB MDR

Meskipun pasien belajar banyak dari petugas kesehatan, ada beberapa hal lebih baik dipelajari dari orang yang mengalami permasalahan dan hambatan yang sama. Baik di RS, pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) , dukungan sebaya menjadi bagian penting dari penyediaan perawatan yang didapatkan pasien.

Memperkenalkan Dukungan Sebaya :

dengan membicarakan secara teratur tentang dukungan sebaya pada pasien dukung mereka untuk mengaksesnya.

Menegaskan keuntungan-keuntungan dari dukungan sebaya.

Memahami ketakutan-ketakutan mereka.

Mencari tahu apa saja sumber lokal yang tersedia dan mengetahui dengan rinci tentang kelompok-kelompok dalam wilayah itu.

Membangun KDS untuk:

Pasien Baru baru menerima Diagnosis HIV dan Atau TB MDR, pasien mulai terapi ARV, pasien Konversi, non konversi, pasangan Pasien, orang dalam pengobatan.

Membangun kelompok-kelompok pasca tes.

Menjalankan sesi-sesi kelompok edukasi.

Mengidentifikasi idividu yang disiapkan bertindak sebagai pendukung sebaya Memahami Mengapa orang berhenti menggunakan dukungan sebaya: Takut kerahasiaan terbongkar. Takut bertemu orang baru. Tidak mengetahui keberadaan dukungan sebaya. Terlalu sibuk untuk memperoleh dukungan sebaya. Tidak bisa mengikuti pertemuan dukungan sebaya. Tidak punya uang transportasi. Perlu menjaga anak. Tidak mendapat dukungan dari pasangan untuk hadir. Harus menjelaskan kemana mereka pergi kepada orang lain. Mempunyai komitmen lain.

Cara Menawarkan Dukungan Sebaya:

Dukungan sebaya Individual: Jika seseorang baru saja didiagnosa HIV dan ata TB MDR atau baru memulai pengobatan, akan sangat membantu mengkaitkan mereka kepada seseorang yang sudah menerima keadaannya dan dapat membagi pengalaman serta memberi dorongan.

Kelompok Edukasi : Seringkali Pasien TB MDR merasa sendiri dan diisolasi. Bertemu dengan pasien lain dapat mengurangi isolasi dan mendorong mereka untuk hidup lebih baik. Kelompok ini dapat bergaul atau berfokus pada aktifitas-aktifitas peningkatan penghasilan. Kelompok ini biasanya dijalankan untuk dan oleh PasienHIV dan atau  TB MDR dapat juga diadakan lebih dulu oleh petugas kesehatan

Kelompok Dukungan  : Orang yang akan memulai Pengobatan, baru memulai ART, non konversi, konversi, re konversi, dsb) akan merasa terbantu bertemu satu dengan yang lain untuk saling mendukung. Peran petugas kesehatan adalah membentuk terjadi dan memfasilitasi kelompok sampai mereka bisa menjalankannya sendiri

Contoh Cara untuk menawarkan dukungan sebaya:

Klub Pasca-Tes:

Kelompok ini diperuntukkan bagi semua orang yang telah menerima hasil Diagnosis TB MDR.. Mereka sering berfokus pada pemberian informasi dasar TB MDR, aspek kepatuhan dan bagaimana mengakses layanan jika terjadi masalah selama pengobatan . Petugas perlu mendiskusikan situasi yang kondusif bagi anggota untuk saling bertemu dan mendiskusikan semua isu-isu yang relevan. Kelompok edukasi (5 menit) Sesi kelompok edukasi dapat digambarkan sebagai pengembangan/lanjutan dari kunjungan ke pusat kesehatan dimana tidak hanya kebutuhan fisik dan medis ditemukan, tetapi perhatian pada edukasi, aspek sosial dan psikologis yang disepakati dalam pembentukan kelompok. Sesi kelompok edukasi dapat membantu anda untuk tidak menghabiskan waktu di pusat kesehatan.

Pergunakan pertemuan kelompok untuk :

• Mendidik pasien tentang kondisi mereka.

• Membangun dukungan sebaya dan keahlian.

• Memperkenalkan pengelolaan diri.

• Menjalankan tindak lanjut klinis.

• Memusatkan perhatian pada kesulitan-kesulitan.

Dalam membentuk dukungan sebaya di wilayah kita perlu :

• Temukan sumber lokal yang tersedia agar pelayanan tidak tumpang tindih. • Konsultasi dengan Pasien TB MDR dengan menggunakan system pelayanan kesehatan.

• Mengidentifikasi perbedaan strategi dalam dukungan sebaya: baik dukungan satu persatu, dukungan kelompok atau klub pasca test, dan tentukan strategi mana yang ingin anda kembangkan selanjutnya.

• Identifikasi orang yang tertarik mengembangkan sistem dukungan sebaya (baik petugas kesehatan maupun Pasien  HIV dan atau TB MDR).

• Adakan pertemuan dengan petugas kesehatan dan Pasien TB MDR sehingga anda dapat mendiskusikan rencana anda.

• Ketika membentuk KDS, sangatlah penting untuk pertimbangkan: 1 Acara dan waktu. 2 Biaya dan siapa yang membayar. 3 Untuk siapa kelompok dibentuk. 4 Siapa yang akan memimpin kelompok. 5 Bagaimana kerahasiaan akan dijaga. 6 Bagaimana petugas kesehatan akan mendukung para fasilitator. 7 Peran dari petugas kesehatan. 8 Bagaimana memperkenalkan kelompok pada masyarakat luas.

Dalam membentuk kelompok edukasi di pusat kesehatan :

• Konsultasi dengan Pokja HIV dan atau tim ahli klinis anda

• Konsultasi dengan Pasien  HIV dan atau TB MDR yang menggunakan system pelayanan kesehatan

• Identifikasi orang yang tertarik mengembangkan system dukungan sebaya (baik petugas kesehatan maupun )

• Undang mereka untuk mendiskusikan rencana

• Ketika membentuk sesi kelompok edukasi, sangatlah penting untuk pertimbangkan: o Acara dan waktu. o Biaya dan siapa yang membayar. o Untuk siapa sesi kelompok edukasi dibentuk. o Bagaimana memilih orang yang terlibat dalam kelompok o Kegiatan apa yang dilakukan dalam sesi-sesi. o Apa peran anggota kelompok. o Apa peran petugas kesehatan. o Bagaimana memperkenalkan kelompok edukasi pada masyarakat luas.

Contoh Kerangka sesi Kelompok Edukasi  :

Ucapan selamat datang dan Perkenalan Setiap peserta memperkenalkan diri 30 menit Sesi Kelompok Edukasi (hanya sesi pertama) Peserta meluangkan sedikit waktu untuk berbicara tentang:

• Kehidupan mereka, pekerjaan dan keluarganya.

• Harapan peserta dari sesi kelompok edukasi (mis; apa yang ingin mereka peroleh)

• Bagaimana mereka dapat memberi kontribusi pada sesi kelompok edukasi (setiap orang dapat mengkontribusikan sesuatu meskipun hanya pelajaran dari pengalaman pribadi)

• Petugas melanjutkan dengan Pertanyaan-pertanyaan dari kelompok.

• Tata cara kelompok edukasi (aturan-aturan sebagai panduan operasional kelompok). 30 menit Topik hari ini, misalnya: Pencegahan dalam konteks perawatan klinis Petugas kesehatan menyediakan informasi yang berkaitan, berinteraksi dengan peserta bila memungkinkan. Beberapa saran untuk membuat sesi interaktif, termasuk bertanya tentang:

• Apa yang anda ketahui tentang pencegahan infeksi di rumah?

• Bagaimana anda mulai mengenal standar pencegahan dalam hidup anda?

• Adakah seseorang disini yang pernah menemui masalah saat memakai masker di tengah masyarakat? Petugas kesehatan sebaiknya menyatukan informasi dengan apa yang telah diajarkan selama pelatihan dan gunakan Kertas plano Edukasi Pasien.

Bagaimanapun, sangat penting menggabungkan hal ini dengan pandangan dan nilai-nilai kelompok.

15 menit Tanya Jawab Petugas Kesehatan sebaiknya menanyakan kelompok jika ada pertanyaan tentang:

• Topik hari ini

• Kesehatan mereka secara umum, masalah mereka belakangan ini atau perjanian-perjanjian yang akan datang 15 menit Perencanaan dan Penutup Tanyakan jika kelompok ingin mendiskusikan sesuatu secara khusus pada sesi selanjutnya, jika tidak topik akan dikomunikasikan lewat agenda. Ucapkan terima kasih untuk kehadiran peserta.

Gallery

Gay Positif; Stigma, diskriminasi, seksualitas dan gaya hidup

This gallery contains 2 photos.

Menjadi Gay di Indonesia bukanlah pilihan mudah; dijauhi keluarga, dicemooh teman sekantor, dianggap lingkungan sebagai tidak bermoral,  atau di janjikan sebagai penghuni neraka jahanam oleh beberapa kalangan yang merasa yakin surga hanya milik mereka. Seorang sahabat ku berkata “ sejak … Continue reading

Lagu tentang cinta

lagu ini ku titip buat mu

si pengelana cinta, yang terjebak di ombak samudera

kau kah,  menelusuri jejak yang tertanda di hati

mengapa malu tuk mengakui

kau kah,  menawar dengan mawar berbalut belati

mengapa takut untuk mengungkap kenyataan diri

Lagu ini kutulis untuk mu wahai kekasih

kunyanyi kan sambil berdansa di tiang kota new delhi

Ku lah puncak yang tinggi hendak kau daki

ku lah samudera yang dalam belum kau selami

ku lah pelangi yang melingkar perbukitan pagi

Jangan pernah ungkapkan tanya nan berkelindan di hati

puaskan saja reguk kopi pahit untuk tenangkan diri

Karena aku tak ingin kau miliki

Lagu ini ku nyanyikan lewat hati

agar terjawab semua gelisah sebelum ku mati

Ku tak ingin ada yang miliki

Lagu ini untuk mu, kekasih-kekasih

Aku terlalu bahagia sendiri

This slideshow requires JavaScript.

Jakarta, 20 juli 2011

HIV RAPID TESTING DI INDONESIA

Rapid tes telah digunakan di Indonesia sejak tahun 2004. Saat ini HIV Rapid Tes di gunakan di berbagai layanan di Klinik, Puskesmas dan rumah sakit dalam bentuk layanan VCT, ANC dan PMTCT, PITC, mobile klinik serta untuk survey yang dilakukan misal nya oleh depatemen kesehatan ( IBBS) maupun universitas.

Saya sendiri telah menjalani VCT, dengan Rapid tes tahun 2005. Rapid tes membuat tes HIV hanya butuh waktu yang singkat , lebih murah dan efektif. Di dahului oleh konseling, kemudian pengambilan sampel darah sebanyak 2,5 cc lewat vena , menunggu selama 15 menit dilanjutkan dengan konseling akhir untuk mengetahui status HIV. Hanya membutuhkan satu jam hasil tes langsung di ketahui. Konselor memberitahu bahwa tes di lakukan dengan rapid tes.

Tes HIV dilakukan dengan serial tes. Jika hasil pengujian pertama negatif, maka tes di nyatakan selesai. Jika hasil awal Positif, maka pengujian akan di lanjutkan untuk komfirmasi. Hasil pengujian negatif atau positif, pengujian akan tetap dilanjutkan untuk komfirmasi ke dua. Jika tiga pengujian mempunyai hasil positif maka berarti tes HIV mempunyai kesimpulan positif. Jika dua positif dan satu negatif berarti kesimpulan adalah determinan. Kesimpulan determinan akan perlu pengujian kembali dalam 3 bulan ke depan.

Untuk menjamin bahwa pelayanan rapid tes memang tepat, ada badan pengawas yang memastikan bahwa prosedur testing telah dilakukan dengan benar. Badan pengawas terdapat untuk layanan di tempat misal nya puskesmas dan rumah sakit, juga tersedia untuk layanan rapid testing di klinik mobile. Departemen Kesehatan RI melakukan pengujian untuk semua tes HIV yang dilakukan di Indonesia termasuk rapid testing.

Selalu ada evaluasi yang terstandar baik sebelum digunakan, maupun setelah disetujui untuk digunakan. evaluasi dilakukan pada setiap jangka waktu tertentu. Biasanya sekali setahun. Untuk diagnosis positif dalam rapid testing di beberapa layanan rumah sakit dilakukan tes konfirmasi lewat EIA/ELISA based testing. Misalnya di RSCM Jakarta. Menurutku Konfirmasi ini tidak dibutuhkan karena Rapid Testing telah teruji. Dan pengalaman ku dan teman-teman di Positif Rainbow juga membuktikan tes konfirmasi ini hanya mengahabiskan waktu dan biaya. Semua teman-teman yang pernah melakukan tes konfirmasi dengan EIA based testing hasil nya sama tetapi mereka harus membayar lebih mahal untuk itu.

Di Indonesia , tes HIV termasuk Rapid tes selalu di dahului oleh konseling. Konseling bisa dilakukan oleh konselor yang terlatih dan bisa juga oleh dokter-dokter di rumah sakit dalam program PITC. Saat ini konselor yang terlatih telah tersedia di layanan tes HIV di seluruh Indonesia. Petugas-petugas untuk melakukan Rapid tes, mulai dari konselor, petugas laboratorium , dokter dan manager kasus telah dilatih sehubungan dengan rapid testing. Petugas-petugas ini menjadi ujung tombak untuk memberi informasi kepada klien saat mereka melakukan tes. Sehingga klien menjadi termotivasi untuk tes dan mempunyai keyakinan yang besar untuk hasilnya benar.

Petugas-petugas yang dilatih juga akan dimonitoring untuk memastikan kualitas pekerjaan mereka. Monitoring dilakukan oleh pemimpin di tempat layanan misalnya dokter diklinik, program manager di Komunitas, bahkan dinas kesehatan juga melakukan monitoring secara periodik, agar hasil rapid testing mempunyai standar kualitas yang baik. Semua tempat layanan ( sites) yang melakukan pencatatan untuk rapid testing yang dilakukan dan melaporkan hasil kerja mereka ke dinas kesehatan setempat. Dinas kesehatan mengumpulkan data, dan akan membuat laporan dalam skala wilayah dan Nasional sehubungan dengan capaian tes HIV di Indonesia. Hanya saja untuk pemantauan atau monitoring terhadap kualitas tes HIV dilayanan yang dilakukan oleh negara masih belum belum terstandar baik dari sisi waktu monitoring ataupun kualitas secara periodik. Ke depan perlu penguatan untuk fungsi pengawasan dan monitoring.