Sekilas Tentang HIV dan Anti Retroviral Therapy ( ART )

Banyak sahabat-sahabat yang datang Ke Positive Rainbow, menanyakan pengertian  IO ( Infeksi Opportunistik ), HIV dan ART ( Anti Retroviral Therapi) dan bagaimana pemberian dukungan yang seharusnya dihadirkan untuk Orang yang hidup dengan HIV AIDS dan atau terinfeksi Bakteri, Virus, kuman dari hubungan seksual .  Para pengiat HIV pemula, petugas di Puskesmas dan Rumah Sakit juga sering menanyakan tentang bagaimana mempresentasikan hal-hal tersebut. Semoga Power point dan gambar-gambar berikut dapat sedikit membantu Orang-orang yang ingin tahu sekilas tentang IMS, HIV dan ART.ImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImage

Kanker Anus: Informasi dan pengobatan

Kanker anus adalah penyakit yang berbahaya (kanker) dalam bentuk sel tisu dalam anus.

Anus adalah bagian akhir dari usus besar, di bawah bagian rektum yang dilalui kotoran (limbah padat) untuk keluar dari tubuh. Anus yang dibentuk adalah sebagian dari luar lapisan kulit dari tubuh dan sebagian dari usus. Dua-ring seperti otot, disebut otot sphincter, berfungsi untuk membuka dan menutup anus, anus membuka agar kotoran keluar dari tubuh. anal kanal, bagian pembukaan antara dubur dan anal panjangnya sekitar 1 ½ inci.

Kulit luar sekitar dubur yang disebut daerah perianal. Tumor di daerah ini adalah Tumor kulit, bukan kanker anus.

Terinfeksi dengan papillomavirus manusia (HPV) dapat mempengaruhi resiko pengembangan kanker anus.

Faktor risiko meliputi:

* Usia lebih dari 50 tahun.
* Terinfeksi dengan human papillomavirus (HPV).
* Memiliki banyak pasangan seks.
* Melakukan hubungan anal seks.
* Anus sering mengalami kemerahan, pembengkakan dan kesakitan.
* Menderita anus fistula (bukaan yang tidak normal).
* Merokok.

Kemungkinan tanda kanker anus termasuk pendarahan dari anus atau dubur atau benjolan di dekat anus.

Ini dan gejala lainnya dapat disebabkan oleh kanker anus. Kondisi lain dapat menyebabkan gejala yang sama. Harus berkonsultasi ke Dokter jika ada masalah yang berikut ini:
* Pendarahan dari anus atau dubur.
* Sakit atau tekanan di daerah sekitar dubur.
* Gatal-gatal atau banyak keluar lendir dari anus.
* Benjolan di dekat anus.
* Perubahan kebiasaan BAB.

Pengujian untuk memeriksa dubur digunakan untuk mendeteksi (menemukan) dan diagnosa kanker anus.

Berikut tes dan prosedur yang dapat digunakan:
Pemeriksaan fisik dan sejarah: Sebuah pengujian pada tubuh untuk memeriksa tanda-tanda kesehatan umum, termasuk untuk memeriksa tanda-tanda penyakit, seperti gumpalan atau hal lain yang tampaknya tidak biasa. Sebuah sejarah kesehatan pasien dan kebiasaan terakhir penyakit dan juga perawatannya.

  • Pemeriksaan dubur digital (DRE): Sebuah penelitian terhadap anus dan rektum. Dokter atau perawat memasukkan pelumas, bersarung tangan dan jari dimasukkan ke dalam dubur untuk merasakan adanya gumpalan atau hal lain yang tampaknya tidak biasa.
  • Anoscopy: Sebuah alat pemeriksaan anus dan yang lebih rendah dari rectum, tabung yang diterangi disebut anoscope.
  • Proctoscopy: Sebuah alat pemeriksaan yang pendek untuk memeriksa rectum, tabung yang diterangi disebut proctoscope.
  • Endo-anal atau endorectal ultrasound: Sebuah prosedur yang di mana menggunakan ultrasound transducer (penyelidikan) dimasukkan ke dalam anus atau dubur dan digunakan untuk memancarkan energi gelombang suara tinggi (ultrasound) pada organ internal dan membuat Gema. Gema yang berupa gambar tisu tubuh disebut sonogram.
  • Biopsi: Penyingkiran sel atau tisu sehingga mereka dapat dilihat di bawah mikroskop oleh patolog untuk memeriksa tanda-tanda kanker. Jika yang dilihat adalah daerah yang tidak normal selama anoscopy, yang pernah dilakukan pada waktu itu.

Informasi Umum Tentang kanker

kanker anus adalah penyakit yang berbahaya (kanker) dalam bentuk sel tisu dalam anus.

Anus adalah bagian akhir dari usus besar, di bawah bagian rektum yang dilalui kotoran (limbah padat) untuk keluar dari tubuh. Anus yang dibentuk adalah sebagian dari luar lapisan kulit dari tubuh dan sebagian dari usus. Dua-ring seperti otot, disebut otot sphincter, berfungsi untuk membuka dan menutup anus, anus membuka agar kotoran keluar dari tubuh. anal kanal, bagian pembukaan antara dubur dan anal panjangnya sekitar 1 ½ inci.

Kulit luar sekitar dubur yang disebut daerah perianal. Tumor di daerah ini adalah Tumor kulit, bukan kanker anus.

Terinfeksi dengan papillomavirus manusia (HPV) dapat mempengaruhi resiko pengembangan kanker anus.

Faktor risiko meliputi:

* Usia lebih dari 50 tahun.
* Terinfeksi dengan human papillomavirus (HPV).
* Memiliki banyak pasangan seks.
* Melakukan hubungan anal seks.
* Anus sering mengalami kemerahan, pembengkakan dan kesakitan.
* Menderita anus fistula (bukaan yang tidak normal).
* Merokok.

Kemungkinan tanda kanker anus termasuk pendarahan dari anus atau dubur atau benjolan di dekat anus.

Ini dan gejala lainnya dapat disebabkan oleh kanker anus. Kondisi lain dapat menyebabkan gejala yang sama. Harus berkonsultasi ke Dokter jika ada masalah yang berikut ini:

* Pendarahan dari anus atau dubur.
* Sakit atau tekanan di daerah sekitar dubur.
* Gatal-gatal atau banyak keluar lendir dari anus.
* Benjolan di dekat anus.
* Perubahan kebiasaan BAB.

Pengujian untuk memeriksa dubur digunakan untuk mendeteksi (menemukan) dan diagnosa kanker anus.

Masa (kesempatan pemulihan) tergantung pada hal berikut:

* Ukuran Tumor.
* Dibagian mana Tumor berada didalam anus.
* Apakah kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening.

Pengobatan tergantung dari pilihan berikut:

*TTahapan dari kanker.
* Dimana Tumor tersebut berada didalam anus.
* Apakah pasien telah menderita penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV).
* Apakah kanker tetap ada setelah perawatan atau kambuh.

Setelah kanker anus didiagnosa, tes yang dilakukan untuk mengetahui apakah sel kanker sudah menyebar didalam anus atau ke bagian tubuh yang lain.

Proses yang digunakan untuk mengetahui apakah kanker telah menyebar didalam anus atau ke bagian tubuh yang lain disebut staging. Informasi yang dikumpulkan dari proses pementasan menentukan tahap penyakit. Adalah penting untuk mengetahui tahap untuk rencana perawatan. Berikut tes dapat digunakan dalam proses pementasan:

* CT scan : Sebuah prosedur yang membuat serangkaian gambar detail dari bagian dalam tubuh, diambil dari berbagai sudut pandang. Gambar yang dibuat oleh komputer yang terhubung ke sebuah mesin x-ray. Dye mungkin disuntikkan ke dalam pembuluh darah atau ditelan untuk membantu organ atau tisu muncul lebih jelas. Prosedur ini juga disebut Computed Tomography, komputerisasi tomografi, atau komputerisasi tomografi aksial. Untuk kanker anus, yang di CT scan dari panggul dan perut dapat dilakukan.
* X-ray dada : Sebuah x-ray ke organ dan tulang di dalam dada. Sebuah x-ray adalah jenis energi sinar yang dapat tembus kedalam tubuh dan diabadikan kebentuk film, membuat gambar dari bagian dalam tubuh.
* Endo-anal atau endorectal ultrasound: Sebuah prosedur yang di mana menggunakan ultrasound transducer (penyelidikan) dimasukkan ke dalam anus atau dubur dan digunakan untuk memancarkan energi gelombang suara tinggi (ultrasound) pada organ internal dan membuat Gema. Gema yang berupa gambar tisu tubuh disebut sonogram.

Tahapan-tahapan yang digunakan untuk kanker anus:

Tahap 0 (kanker bisul di Situ)

Pada tahap 0, kanker hanya ditemukan di lapisan terjauh dari anus. Tahap 0 kanker juga disebut kanker bisul di situ.

Tahap I

Pada tahap I, Tumor adalah 2 sentimeter atau lebih kecil.

Tahap II

Pada tahap II, Tumor adalah lebih besar daripada 2 sentimeter.

Tahap IIIA

Pada tahap IIIA, Tumor dapat berukuran apapun dan telah menyebar ke salah satu:

* Kelenjar getah bening di dekat dubur; atau
* dekat organ, seperti vagina, saluran kencing, dan kandung kemih.

Tahap IIIB

Pada tahap IIIB, Tumor seukuran apapun dan telah tersebar:

* ke tempat-tempat organ dan untuk Kelenjar getah bening di dekat dubur; atau
* untuk Kelenjar getah bening di satu sisi panggul dan / atau kunci paha, dan mungkin telah menyebar ke organ di dekatnya; atau
* untuk Kelenjar getah bening di dekat dubur dan di kunci paha, dan / atau ke Kelenjar getah bening pada kedua sisi panggul dan / atau kunci paha, dan mungkin telah menyebar ke organ didekatnya.

Tahap IV

Pada tahap IV, yang mungkin Tumor seukuran apapun dan kanker mungkin telah menyebar ke Kelenjar getah bening atau organ dekat dan jauh telah menyebar ke bagian tubuh.

Kanker anus kambuhan

Kanker anus kambuhan adalah kanker yang telah recurred (kembali) setelah dirawat. Kanker dapat datang kembali didalam anus atau di bagian tubuh yang lain.

Sekilas tentang perawatan pilihan

Ada berbagai jenis pengobatan untuk pasien kanker anus.

Berbagai jenis perawatan yang tersedia untuk pasien kanker anus. Beberapa perawatan yang standar (yang saat ini digunakan), dan beberapa lagi yang sedang diteliti dalam uji klinis. Sebelum perawatan dimulai, pasien mungkin berpikir tentang mengambil bagian dalam percobaan klinis. Percobaan perawatan klinis adalah penelitian studi dimaksudkan untuk membantu meningkatkan perawatan saat ini atau memperoleh informasi tentang perawatan baru untuk pasien penderita kanker. Ketika uji klinis menunjukkan bahwa perawatan yang baru lebih baik dari perawatan standar, maka pengobatan baru tersebut dapat menjadi standar pengobatan.

Uji klinis ada di banyak negara bagian. Informasi tentang uji klinis tersedia di Situs NCI . Memilih perawatan kanker yang tepat idealnya melibatkan keputusan dari pasien, keluarga, dan tim kesehatan.

Tiga jenis perawatan standar yang digunakan:

Terapi radiasi

Terapi radiasi adalah perawatan kanker yang menggunakan energi tinggi sinar-x atau jenis lain radiasi untuk membunuh sel kanker. Ada dua jenis terapi radiasi. Eksternal terapi radiasi yang menggunakan mesin di luar tubuh untuk mengirim radiasi terhadap kanker. Internal terapi radiasi menggunakan zat radioaktif mati dalam jarum, bibit, kawat, atau catheters yang ditempatkan secara langsung ke dalam atau dekat dengan kanker. Cara terapi radiasi diberikan tergantung pada jenis dan tahap kanker yang sedang dirawat.

Kemoterapi

Kemoterapi adalah perawatan kanker yang menggunakan obat untuk menghentikan pertumbuhan sel kanker, baik dengan membunuh sel atau dengan menghentikan pembelahan sel. Bila kemoterapi diambil melalui mulut atau menyuntikkan ke dalam pembuluh darah atau otot, obat memasuki aliran darah dan dapat mencapai sel kanker di seluruh tubuh (sistemik kemoterapi). Bila kemoterapi ditempatkan langsung ke dalam tulang belakang, organ, atau rongga badan seperti bagian perut, obat terutama mempengaruhi sel kanker di tempat-tempat (daerah kemoterapi). Cara kemoterapi diberikan tergantung pada jenis dan tahap kanker yang sedang dirawat.

Bedah

* Lokal resection: Sebuah prosedur bedah Tumor yang diangkat dari anus bersama dengan beberapa jaringan yang sehat di sekelilingnya. Lokal resection dapat digunakan jika kanker adalah kecil dan belum tersebar. Prosedur ini mungkin dapat menyimpan otot sphincter sehingga pasien masih dapat mengontrol pergerakan usus. Tumor yang berkembang di bagian bawah anus sering bisa dihapus dengan resection lokal.
* Abdominoperineal resection: Sebuah prosedur bedah anus, pada rektum, dan bagian dari usus sigmoid dibuang melalui torehan yang dibuat di bagian perut. Dokter memotong ujung usus dan menyambungkannya dibagian samping perut, yang disebut stoma, dilakukan di permukaan tubuh bagian perut untuk memudahkan kotoran keluar dan ditampung dalam sebuah kantong di luar tubuh. Hal ini disebut Kolostomi. Kelenjar getah bening yang mengandung kanker juga dapat dihapus selama operasi ini.

Menderita Human Immunodeficiency Virus atau HIV dapat mempengaruhi pengobatan kanker anus.

Terapi kanker selanjutnya dapat merusak atau melemahkan sistem kekebalan tubuh pasien yang memiliki human immunodeficiency virus (HIV). Untuk alasan ini, pasien yang menderita kanker anus dan HIV biasanya dirawat dengan menurunkan dosis obat anticancer dan radiasi daripada pasien yang tidak terjangkit HIV.

Jenis perawatan lain sedang diuji dalam percobaan klinis, termasuk yang berikut:

Radiosensitizers

Radiosensitizers adalah obat yang membuat sel Tumor lebih sensitif terhadap terapi radiasi. Menggabungkan dengan terapi radiasi radiosensitizers dapat membunuh lebih banyak sel Tumor.

Ringkasan ini merujuk pada perawatan spesifik di bawah studi percobaan klinis, tetapi mungkin tidak menyebutkan setiap pegujian pengobatan baru. Informasi tentang uji klinis berlangsung tersedia di situs NCI.

Pilihan perawatan oleh tahap

Tahap 0 Kanker Anus (kanker bisul di Situ)

Perawatan dari tahap 0 anal anus biasanya adalah lokal resection.

Kanker anus tahap I
Perawatan kanker anus tahap I dapat termasuk :

* Resection lokal.
* Terapi radiasi sinar eksternal dengan atau tanpa kemoterapi. Jika kanker tetap ada setelah perawatan, tambahan kemoterapi dan terapi radiasi dapat diberikan untuk menghindari dilakukannya Kolostomi.
* Abdominoperineal resection, jika kanker tetap ada atau datang kembali setelah perawatan dengan terapi radiasi dan kemoterapi.
* Internal terapi radiasi untuk kanker yang tetap ada setelah perawatan eksternal dengan radiasi sinar-terapi.

Pasien yang telah melakukan perawatan dan berhasil menyisakan otot sphincter mungkin menerima kajian tindak lanjut setiap 3 bulan untuk 2 tahun pertama, termasuk memeriksa rektum dengan endoscopy dan biopsi, sesuai kebutuhan.

Kanker anus tahap II
Perawatan kanker anus tahap II dapat termasuk :

* Resection lokal.
* Terapi radiasi sinar eksternal dengan atau tanpa kemoterapi. Jika kanker tetap ada setelah perawatan, tambahan kemoterapi dan terapi radiasi dapat diberikan untuk menghindari dilakukannya Kolostomi.
* Terapi radiasi internal.
* Abdominoperineal resection, jika kanker tetap ada atau datang kembali setelah perawatan dengan terapi radiasi dan kemoterapi.
* Pengobatan baru uji coba klinis sebagai pilihan.

Pasien yang telah melakukan perawatan dan berhasil menyisakan otot sphincter mungkin menerima kajian tindak lanjut setiap 3 bulan untuk 2 tahun pertama, termasuk memeriksa rektum dengan endoscopy dan biopsi, sesuai kebutuhan.

Kanker anus tahap IIIA
Perawatan kanker anus tahap IIIA dapat termasuk:

* Terapi radiasi sinar eksternal dengan atau tanpa kemoterapi. Jika kanker tetap ada setelah perawatan, tambahan kemoterapi dan terapi radiasi dapat diberikan untuk menghindari dilakukannya Kolostomi.
* Radiasi sinar internal
* Abdominoperineal resection, jika kanker tetap ada atau datang kembali setelah perawatan dengan terapi radiasi dan kemoterapi.
* Pengobatan baru uji coba klinis sebagai pilihan.

Kanker anus tahap IIIB
Perawatan kanker anus tahap IIIB dapat termasuk:

* Terapi radiasi sinar eksternal dengan kemoterapi.
* Resection lokal atau abdominoperineal resection, jika kanker tetap ada atau datang kembali setelah perawatan dengan kemoterapi dan terapi radiasi. Kelenjar getah bening juga dapat dihapus.
* Pengobatan baru uji coba klinis sebagai pilihan.

Kanker anus tahap IV

Perawatan kanker anus tahap IV dapat termasuk:

* Bedah sebagai terapi palliative untuk meringankan gejala dan meningkatkan kualitas hidup.
* Terapi radiasi sebagai terapi palliative .
* Kemoterapi dengan terapi radiasi sebagai terapi palliative.
* Pengobatan baru uji coba klinis sebagai pilihan.

Pilihan perawatan untuk kanker anus kambuhan
Perawatan untuk kanker anus kambuhan dapat termasuk :

* Terapi radiasi dan kemoterapi, untuk kambuh setelah operasi.
* Bedah, untuk kambuh setelah terapi radiasi dan / atau kemoterapi.
* Sebuah uji coba klinis terapi radiasi dengan kemoterapi dan / atau radiosensitizers.

Ringkasan ini merujuk pada perawatan spesifik di bawah studi percobaan klinis, tetapi mungkin tidak menyebutkan setiap pegujian pengobatan baru. Informasi tentang uji klinis berlangsung tersedia di situs NCI.

* Ukuran Tumor.
* Dibagian mana Tumor berada didalam anus.
* Apakah kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening.

Pengobatan tergantung dari pilihan berikut:

* TTahapan dari kanker.
* Dimana Tumor tersebut berada didalam anus.
* Apakah pasien telah menderita penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV).
* Apakah kanker tetap ada setelah perawatan atau kambuh.

Tahapan kanker anus

Setelah kanker anus didiagnosa, tes yang dilakukan untuk mengetahui apakah sel kanker sudah menyebar didalam anus atau ke bagian tubuh yang lain.

Proses yang digunakan untuk mengetahui apakah kanker telah menyebar didalam anus atau ke bagian tubuh yang lain disebut staging. Informasi yang dikumpulkan dari proses pementasan menentukan tahap penyakit. Adalah penting untuk mengetahui tahap untuk rencana perawatan. Berikut tes dapat digunakan dalam proses pementasan:

* CT scan : Sebuah prosedur yang membuat serangkaian gambar detail dari bagian dalam tubuh, diambil dari berbagai sudut pandang. Gambar yang dibuat oleh komputer yang terhubung ke sebuah mesin x-ray. Dye mungkin disuntikkan ke dalam pembuluh darah atau ditelan untuk membantu organ atau tisu muncul lebih jelas. Prosedur ini juga disebut Computed Tomography, komputerisasi tomografi, atau komputerisasi tomografi aksial. Untuk kanker anus, yang di CT scan dari panggul dan perut dapat dilakukan.
* X-ray dada : Sebuah x-ray ke organ dan tulang di dalam dada. Sebuah x-ray adalah jenis energi sinar yang dapat tembus kedalam tubuh dan diabadikan kebentuk film, membuat gambar dari bagian dalam tubuh.
* Endo-anal atau endorectal ultrasound: Sebuah prosedur yang di mana menggunakan ultrasound transducer (penyelidikan) dimasukkan ke dalam anus atau dubur dan digunakan untuk memancarkan energi gelombang suara tinggi (ultrasound) pada organ internal dan membuat Gema. Gema yang berupa gambar tisu tubuh disebut sonogram.

Tahapan-tahapan yang digunakan untuk kanker anus:

Tahap 0 (kanker bisul di Situ)
Pada tahap 0, kanker hanya ditemukan di lapisan terjauh dari anus. Tahap 0 kanker juga disebut kanker bisul di situ.

Tahap I
Pada tahap I, Tumor adalah 2 sentimeter atau lebih kecil.

Tahap II

Pada tahap II, Tumor adalah lebih besar daripada 2 sentimeter.

Tahap IIIA

Pada tahap IIIA, Tumor dapat berukuran apapun dan telah menyebar ke salah satu:
* Kelenjar getah bening di dekat dubur; atau
* dekat organ, seperti vagina, saluran kencing, dan kandung kemih.

Tahap IIIB
Pada tahap IIIB, Tumor seukuran apapun dan telah tersebar:
* ke tempat-tempat organ dan untuk Kelenjar getah bening di dekat dubur; atau
* untuk Kelenjar getah bening di satu sisi panggul dan / atau kunci paha, dan mungkin telah menyebar ke organ di dekatnya; atau
* untuk Kelenjar getah bening di dekat dubur dan di kunci paha, dan / atau ke Kelenjar getah bening pada kedua sisi panggul dan / atau kunci paha, dan mungkin telah menyebar ke organ didekatnya.

Tahap IV
Pada tahap IV, yang mungkin Tumor seukuran apapun dan kanker mungkin telah menyebar ke Kelenjar getah bening atau organ dekat dan jauh telah menyebar ke bagian tubuh.

Kanker anus kambuhan

Kanker anus kambuhan adalah kanker yang telah recurred (kembali) setelah dirawat. Kanker dapat datang kembali didalam anus atau di bagian tubuh yang lain.

Perawatan untuk kanker anus kambuhan dapat termasuk :

* online prescriptions Terapi radiasi dan kemoterapi, untuk kambuh setelah operasi.
* Bedah, untuk kambuh setelah terapi radiasi dan / atau kemoterapi.
* Sebuah uji coba klinis terapi radiasi dengan kemoterapi dan / atau radiosensitizers.

Ringkasan ini merujuk pada perawatan spesifik di bawah studi percobaan klinis, tetapi mungkin tidak menyebutkan setiap pegujian pengobatan baru. Informasi tentang uji klinis berlangsung tersedia di situs NCI.

disadur dari  http://www.ahliwasir.com

Longsari “Dukungan komprehensif membantu ku sembuh dari TB XDR”

 

Longsari, lelaki 50 tahunan asal Pasaman Sumatera Barat, terlihat bahagia di RSUP persahabatan. Hari ini ( 18 Januari 2012)  beliau diberitahu bahwa  akan  bebas  dari rutinitas minum obat. Setiap hari selama 20 bulan dia meminum Pirazinamide 1500, Levofloxaxin 1000, Etionamide 750, Cycloserin  750 passer 4 gram dan B6 150. Dia telah dinyatakan sembuh dari TB XDR  ( Tubercolosis extra drug resistance / infeksi tuberkolosis  yang kebal sangat banyak obat baik kategori satu maupun dua) oleh Tim Ahli Klinis di RSUP Persahabatan Jakarta Timur. “ Ini perjuangan yang luar biasa.”  ungkap nya. Perjuangan longsari menjadi semangat baru bagi semua pasien TB  XDR dan MDR  di RSUP Persahabatan atau mungkin di Indonesia. Longsari adalah pasien kedua TB XDR yang dinyatakan segera berhenti pengobatan dan sembuh di Indonesia. Bulan lalu seorang Perempuan Ny E, petugas di sebuah rumah sakit swasta terkemuka telah berhasil menjadi orang pertaman sembuh dari TB XDR di Indonesia.

Kisah Longsari dimulai ketika ia mengalami batuk-batuk  dan sesak nafas saat berkunjung ke rumah Putra nya di BSD Tangerang. Dokter yang merawat nya meminta untuk diperiksa MGIT ( pemeriksaan kultur( biakan) dari spesimen dahak) karena mempunyai riwayat pengobatan OAT sebelum nya.  Longsari didiagnosis TB MDR.  Setelah 2 bulan, akhir hasil  pemeriksaan keluar. Dia terbukti  bukan TB MDR, melainkan TB XDR.  Semua nya berubah sejak itu, rencana awal hanya liburan ke jakarta, menjadi berubah. Dia harus menetap di Kota ini minimal dua tahun untuk kebutuhan pengobatan.

“ Keputusan yang sulit sebenar nya, karena saya harus meninggalkan murid, rumah dan mengurus Izin ke sekolah tempat  mengajar.  Tapi demi kesehatan, saya mengambil keputusan untuk pindah  sementara untung  keluarga dan pihak sekolah sangat mendukung saya” jelas Longsari.

Sejak itu rutinitas minum obat tiap hari ke RSUP persahabatan dilakoni nya.  Tiap hari Longsari bolak-balik dari rumah Putra nya di BSD tangerang ke RSUP Persahabatan. Butuh dua jam perjalanan dari rumah ke rumah sakit , itu jika tidak ada kemacetan di jalanan Jakarta. Jika macet , bisa sampai 4 jam.  Perjalanan yang jauh di tambah dengan efek samping yang berat membuat perjalanan itu menjadi momok menakutkan bagi Longsari.

Hampir setiap pagi ketika akan berangkat berobat Longsari merasakan perut nya bergejolak karena mual. Sering muntah setiap mau makan atau minum.  Asam urat yang tinggi pernah membuat nya tidak mampu untuk membuka baju nya sendiri.  Satu kali terpaksa memotong kaos yang digunakan saat akan berganti pakaian. Asam urat membuat semua persendian nya menjadi kaku dan Gilu. Meminum Passer, adalah derita lain yang dialami nya selama 20 bulan pengobatan.

“ Meminum Passer seperti  meminum krikil, terasa sangat menganjal di tengorokan dan membuat perih di perut”  ujar nya

“. Dukungan yang komprehensif dari petugas dan keluarga telah berhasil membuat ku menang dalam bertarungan melawan TB XDR, terimaksih untuk petugas, teman-teman di kelompok pasien dan keluarga yang telah mendukung ku selama ini” Longsari menambahkan.

Longsari  termasuk pasien yang paling aktif berdiskusi dengan petugas konseling dan di kelompok dukungan  bagi pasien TB MDR/XDR di RSUP Persahabatan.

Mengenal Kelompok Dukungan Sebaya

Dukungan sebaya adalah dukungan untuk dan oleh orang dalam situasi yang sama.

• Dukungan sebaya meliputi orang yang menghadapi tantangan yang sama seperti pasien dengan infeksi tertentu, komunitas tertentu, orang-orang dengan permasalahn yang sama misalnya: Dapat juga perempuan dengan  HIV dan atau TB MDR, pasangan Pasien, orang yang baru didiagnosa  HIV dan atau TB MDR dan lain-lain

• Dukungan sebaya bisa diantara seseorang yang menghadapi tantangan untuk pertama kalinya dengan seseorang yang telah mampu mengelolanya. Ini dapat berarti mengkaitkan seseorang yang baru memulai pengobatan dengan seseorang yang sudah mengelola pengobatan dan efek samping dengan baik.

Keuntungan Dukungan Sebaya

Mengurangi isolasi

Meningkatkan dukungan sosial

Mengurangi stigma

Mengurangi sumber intimidasi dari dukungan

Membantu berbagi pengalaman

Membantu orang untuk melihat bahwa hidup dengan HIV dan atau TB MDR dan efek samping adalah mungkin

Mengurangi ketergantungan pada petugas kesehatan

Mengurangi beban kerja petugas kesehatan

Meningkatkan kualitas hidup bagi Pasien HIV dan atau TB MDR

Meskipun pasien belajar banyak dari petugas kesehatan, ada beberapa hal lebih baik dipelajari dari orang yang mengalami permasalahan dan hambatan yang sama. Baik di RS, pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) , dukungan sebaya menjadi bagian penting dari penyediaan perawatan yang didapatkan pasien.

Memperkenalkan Dukungan Sebaya :

dengan membicarakan secara teratur tentang dukungan sebaya pada pasien dukung mereka untuk mengaksesnya.

Menegaskan keuntungan-keuntungan dari dukungan sebaya.

Memahami ketakutan-ketakutan mereka.

Mencari tahu apa saja sumber lokal yang tersedia dan mengetahui dengan rinci tentang kelompok-kelompok dalam wilayah itu.

Membangun KDS untuk:

Pasien Baru baru menerima Diagnosis HIV dan Atau TB MDR, pasien mulai terapi ARV, pasien Konversi, non konversi, pasangan Pasien, orang dalam pengobatan.

Membangun kelompok-kelompok pasca tes.

Menjalankan sesi-sesi kelompok edukasi.

Mengidentifikasi idividu yang disiapkan bertindak sebagai pendukung sebaya Memahami Mengapa orang berhenti menggunakan dukungan sebaya: Takut kerahasiaan terbongkar. Takut bertemu orang baru. Tidak mengetahui keberadaan dukungan sebaya. Terlalu sibuk untuk memperoleh dukungan sebaya. Tidak bisa mengikuti pertemuan dukungan sebaya. Tidak punya uang transportasi. Perlu menjaga anak. Tidak mendapat dukungan dari pasangan untuk hadir. Harus menjelaskan kemana mereka pergi kepada orang lain. Mempunyai komitmen lain.

Cara Menawarkan Dukungan Sebaya:

Dukungan sebaya Individual: Jika seseorang baru saja didiagnosa HIV dan ata TB MDR atau baru memulai pengobatan, akan sangat membantu mengkaitkan mereka kepada seseorang yang sudah menerima keadaannya dan dapat membagi pengalaman serta memberi dorongan.

Kelompok Edukasi : Seringkali Pasien TB MDR merasa sendiri dan diisolasi. Bertemu dengan pasien lain dapat mengurangi isolasi dan mendorong mereka untuk hidup lebih baik. Kelompok ini dapat bergaul atau berfokus pada aktifitas-aktifitas peningkatan penghasilan. Kelompok ini biasanya dijalankan untuk dan oleh PasienHIV dan atau  TB MDR dapat juga diadakan lebih dulu oleh petugas kesehatan

Kelompok Dukungan  : Orang yang akan memulai Pengobatan, baru memulai ART, non konversi, konversi, re konversi, dsb) akan merasa terbantu bertemu satu dengan yang lain untuk saling mendukung. Peran petugas kesehatan adalah membentuk terjadi dan memfasilitasi kelompok sampai mereka bisa menjalankannya sendiri

Contoh Cara untuk menawarkan dukungan sebaya:

Klub Pasca-Tes:

Kelompok ini diperuntukkan bagi semua orang yang telah menerima hasil Diagnosis TB MDR.. Mereka sering berfokus pada pemberian informasi dasar TB MDR, aspek kepatuhan dan bagaimana mengakses layanan jika terjadi masalah selama pengobatan . Petugas perlu mendiskusikan situasi yang kondusif bagi anggota untuk saling bertemu dan mendiskusikan semua isu-isu yang relevan. Kelompok edukasi (5 menit) Sesi kelompok edukasi dapat digambarkan sebagai pengembangan/lanjutan dari kunjungan ke pusat kesehatan dimana tidak hanya kebutuhan fisik dan medis ditemukan, tetapi perhatian pada edukasi, aspek sosial dan psikologis yang disepakati dalam pembentukan kelompok. Sesi kelompok edukasi dapat membantu anda untuk tidak menghabiskan waktu di pusat kesehatan.

Pergunakan pertemuan kelompok untuk :

• Mendidik pasien tentang kondisi mereka.

• Membangun dukungan sebaya dan keahlian.

• Memperkenalkan pengelolaan diri.

• Menjalankan tindak lanjut klinis.

• Memusatkan perhatian pada kesulitan-kesulitan.

Dalam membentuk dukungan sebaya di wilayah kita perlu :

• Temukan sumber lokal yang tersedia agar pelayanan tidak tumpang tindih. • Konsultasi dengan Pasien TB MDR dengan menggunakan system pelayanan kesehatan.

• Mengidentifikasi perbedaan strategi dalam dukungan sebaya: baik dukungan satu persatu, dukungan kelompok atau klub pasca test, dan tentukan strategi mana yang ingin anda kembangkan selanjutnya.

• Identifikasi orang yang tertarik mengembangkan sistem dukungan sebaya (baik petugas kesehatan maupun Pasien  HIV dan atau TB MDR).

• Adakan pertemuan dengan petugas kesehatan dan Pasien TB MDR sehingga anda dapat mendiskusikan rencana anda.

• Ketika membentuk KDS, sangatlah penting untuk pertimbangkan: 1 Acara dan waktu. 2 Biaya dan siapa yang membayar. 3 Untuk siapa kelompok dibentuk. 4 Siapa yang akan memimpin kelompok. 5 Bagaimana kerahasiaan akan dijaga. 6 Bagaimana petugas kesehatan akan mendukung para fasilitator. 7 Peran dari petugas kesehatan. 8 Bagaimana memperkenalkan kelompok pada masyarakat luas.

Dalam membentuk kelompok edukasi di pusat kesehatan :

• Konsultasi dengan Pokja HIV dan atau tim ahli klinis anda

• Konsultasi dengan Pasien  HIV dan atau TB MDR yang menggunakan system pelayanan kesehatan

• Identifikasi orang yang tertarik mengembangkan system dukungan sebaya (baik petugas kesehatan maupun )

• Undang mereka untuk mendiskusikan rencana

• Ketika membentuk sesi kelompok edukasi, sangatlah penting untuk pertimbangkan: o Acara dan waktu. o Biaya dan siapa yang membayar. o Untuk siapa sesi kelompok edukasi dibentuk. o Bagaimana memilih orang yang terlibat dalam kelompok o Kegiatan apa yang dilakukan dalam sesi-sesi. o Apa peran anggota kelompok. o Apa peran petugas kesehatan. o Bagaimana memperkenalkan kelompok edukasi pada masyarakat luas.

Contoh Kerangka sesi Kelompok Edukasi  :

Ucapan selamat datang dan Perkenalan Setiap peserta memperkenalkan diri 30 menit Sesi Kelompok Edukasi (hanya sesi pertama) Peserta meluangkan sedikit waktu untuk berbicara tentang:

• Kehidupan mereka, pekerjaan dan keluarganya.

• Harapan peserta dari sesi kelompok edukasi (mis; apa yang ingin mereka peroleh)

• Bagaimana mereka dapat memberi kontribusi pada sesi kelompok edukasi (setiap orang dapat mengkontribusikan sesuatu meskipun hanya pelajaran dari pengalaman pribadi)

• Petugas melanjutkan dengan Pertanyaan-pertanyaan dari kelompok.

• Tata cara kelompok edukasi (aturan-aturan sebagai panduan operasional kelompok). 30 menit Topik hari ini, misalnya: Pencegahan dalam konteks perawatan klinis Petugas kesehatan menyediakan informasi yang berkaitan, berinteraksi dengan peserta bila memungkinkan. Beberapa saran untuk membuat sesi interaktif, termasuk bertanya tentang:

• Apa yang anda ketahui tentang pencegahan infeksi di rumah?

• Bagaimana anda mulai mengenal standar pencegahan dalam hidup anda?

• Adakah seseorang disini yang pernah menemui masalah saat memakai masker di tengah masyarakat? Petugas kesehatan sebaiknya menyatukan informasi dengan apa yang telah diajarkan selama pelatihan dan gunakan Kertas plano Edukasi Pasien.

Bagaimanapun, sangat penting menggabungkan hal ini dengan pandangan dan nilai-nilai kelompok.

15 menit Tanya Jawab Petugas Kesehatan sebaiknya menanyakan kelompok jika ada pertanyaan tentang:

• Topik hari ini

• Kesehatan mereka secara umum, masalah mereka belakangan ini atau perjanian-perjanjian yang akan datang 15 menit Perencanaan dan Penutup Tanyakan jika kelompok ingin mendiskusikan sesuatu secara khusus pada sesi selanjutnya, jika tidak topik akan dikomunikasikan lewat agenda. Ucapkan terima kasih untuk kehadiran peserta.

Terapi HIV Jangka Panjang Dapat Menimbulkan Masalah Oftalmologik

Studi yang dilakukan oleh Tim peneliti dari University of Texas, Southwestern Medical Centre, Dallas, Menunjukan bahwa ART ( Anti Retro Viral Therapy ) jangka panjang untuk HIV-1, dapat menyebabkan timbulnya Oftalmoplegia eksternal.

Dr, Dolores M. Peterson yang memimpin studi ini menyatakan bahwa bukti bukti menunjukan bahwa ptosis ( Mata belok) cenderung bersifat miogenik ( gangguan fungsi otot), dan bukan bersifat involusional.

Studi ini juga menunjukan bahwa ptosis didahului oleh lipodistrofi ( penumpukan lemak yang tidak beraturan ) berat dengan peribahan mitologi tubuh, termasuk lipodistrofi dan akumulasi lemak pada ke-5 pasien tersebut. baik ART nya terdiri dengan analog timidin atau penghambat protease.

Median usia saat gejala timbul adalah 50 tahun, dengan median waktu saat diagnosis HIV adalah 11,5 tahun, dan median ART adalah 7/8 tahun. Median waktu saat timbulnya lipodistrofi adalah 4,7 tahun, dan sejak timbulnya ptosis adalah 0,4 tahun. Median lamanya pemantauan untuk ptosis adalah 1,8 tahun.

Dua pasien menunjukan Oftalmoplagia eksternal di samping ptosis. Neuropati sensorik Ferifer ( gangguan syaraf tepi) juga mendahului ptosis pada 4 kasus, gangguan konduksi kardiak disertai ptosis pada 3 kasus dan 1 kasus dengan ensepalopati ( gangguan pada otak).

Para Peneliti menganjurkan bahwa dokter perlu waspada terhadap potensi efek samping akibat pengobatan HIV, dan siaga terhadap potensi komplikasi akibat ptosis miopatik lain, seperti kelemahan proksimal, disfagia ( susah menelan), tuli, neuropati ( Syaraf), dan gangguan kondisi kardiak ( Gangguan jantung).

Dikatakan dalam Studi ini tidak memungkinkan para peneliti memperkirakan berapa besar prevalensi kedua efek samping tersebut, atau sub kelompok pasien dengan HIV yang mendapat ART jangka panjang mana yang paling sering terkena.

( Clinical   Infectious Diseases, 47;845-852)

HIV RAPID TESTING DI INDONESIA

Rapid tes telah digunakan di Indonesia sejak tahun 2004. Saat ini HIV Rapid Tes di gunakan di berbagai layanan di Klinik, Puskesmas dan rumah sakit dalam bentuk layanan VCT, ANC dan PMTCT, PITC, mobile klinik serta untuk survey yang dilakukan misal nya oleh depatemen kesehatan ( IBBS) maupun universitas.

Saya sendiri telah menjalani VCT, dengan Rapid tes tahun 2005. Rapid tes membuat tes HIV hanya butuh waktu yang singkat , lebih murah dan efektif. Di dahului oleh konseling, kemudian pengambilan sampel darah sebanyak 2,5 cc lewat vena , menunggu selama 15 menit dilanjutkan dengan konseling akhir untuk mengetahui status HIV. Hanya membutuhkan satu jam hasil tes langsung di ketahui. Konselor memberitahu bahwa tes di lakukan dengan rapid tes.

Tes HIV dilakukan dengan serial tes. Jika hasil pengujian pertama negatif, maka tes di nyatakan selesai. Jika hasil awal Positif, maka pengujian akan di lanjutkan untuk komfirmasi. Hasil pengujian negatif atau positif, pengujian akan tetap dilanjutkan untuk komfirmasi ke dua. Jika tiga pengujian mempunyai hasil positif maka berarti tes HIV mempunyai kesimpulan positif. Jika dua positif dan satu negatif berarti kesimpulan adalah determinan. Kesimpulan determinan akan perlu pengujian kembali dalam 3 bulan ke depan.

Untuk menjamin bahwa pelayanan rapid tes memang tepat, ada badan pengawas yang memastikan bahwa prosedur testing telah dilakukan dengan benar. Badan pengawas terdapat untuk layanan di tempat misal nya puskesmas dan rumah sakit, juga tersedia untuk layanan rapid testing di klinik mobile. Departemen Kesehatan RI melakukan pengujian untuk semua tes HIV yang dilakukan di Indonesia termasuk rapid testing.

Selalu ada evaluasi yang terstandar baik sebelum digunakan, maupun setelah disetujui untuk digunakan. evaluasi dilakukan pada setiap jangka waktu tertentu. Biasanya sekali setahun. Untuk diagnosis positif dalam rapid testing di beberapa layanan rumah sakit dilakukan tes konfirmasi lewat EIA/ELISA based testing. Misalnya di RSCM Jakarta. Menurutku Konfirmasi ini tidak dibutuhkan karena Rapid Testing telah teruji. Dan pengalaman ku dan teman-teman di Positif Rainbow juga membuktikan tes konfirmasi ini hanya mengahabiskan waktu dan biaya. Semua teman-teman yang pernah melakukan tes konfirmasi dengan EIA based testing hasil nya sama tetapi mereka harus membayar lebih mahal untuk itu.

Di Indonesia , tes HIV termasuk Rapid tes selalu di dahului oleh konseling. Konseling bisa dilakukan oleh konselor yang terlatih dan bisa juga oleh dokter-dokter di rumah sakit dalam program PITC. Saat ini konselor yang terlatih telah tersedia di layanan tes HIV di seluruh Indonesia. Petugas-petugas untuk melakukan Rapid tes, mulai dari konselor, petugas laboratorium , dokter dan manager kasus telah dilatih sehubungan dengan rapid testing. Petugas-petugas ini menjadi ujung tombak untuk memberi informasi kepada klien saat mereka melakukan tes. Sehingga klien menjadi termotivasi untuk tes dan mempunyai keyakinan yang besar untuk hasilnya benar.

Petugas-petugas yang dilatih juga akan dimonitoring untuk memastikan kualitas pekerjaan mereka. Monitoring dilakukan oleh pemimpin di tempat layanan misalnya dokter diklinik, program manager di Komunitas, bahkan dinas kesehatan juga melakukan monitoring secara periodik, agar hasil rapid testing mempunyai standar kualitas yang baik. Semua tempat layanan ( sites) yang melakukan pencatatan untuk rapid testing yang dilakukan dan melaporkan hasil kerja mereka ke dinas kesehatan setempat. Dinas kesehatan mengumpulkan data, dan akan membuat laporan dalam skala wilayah dan Nasional sehubungan dengan capaian tes HIV di Indonesia. Hanya saja untuk pemantauan atau monitoring terhadap kualitas tes HIV dilayanan yang dilakukan oleh negara masih belum belum terstandar baik dari sisi waktu monitoring ataupun kualitas secara periodik. Ke depan perlu penguatan untuk fungsi pengawasan dan monitoring.

INH sebagai Profilaksis TBC untuk Pasien HIV

Sebuah penelitian Yang dilakukan beberapa Ahli di Botswana mengungkapkan bahwa pemberian profikasis INH ( Izoniasid ) bagi pasien HIV yang belum terinfeksi kuman TB/TBC terbukti efektif  dalam upaya pencegahan. Pemberian Profilaksis INH selama lebih dari 6 bulan akan mampu melindungi ODHIV  dari infeksi TB walaupun tinggal di daerah pandemik TB. Ini akan lebih efektif jika dilakukan di CD4 lebih dari 200/ul.

Penelitian merupakan   hal yang sangat mengembirakan bagi Teman-teman yang hidup dengan HIV dan AIDS. Sebuah harapan baru untuk bisa bekerja dan hidup lebih sehat walau mungkin tinggal dan bekerja di daerah yang pandemik TB.

untuk informasi selengkap nya silahkan klik link berikut:

Samandari T, 6-month versus 36-month……Lancet 2011 e-pub ahead of print.pdf

Moga Esok Akan lebih Sehat

Menyebalkan …

Hanya satu kata itu yang terlintas di benakku ketika aku mengetahui kuman merugikan di tubuhku ternyata telah kebal terhadap obat biasa …

Kini aku harus beralih pada sebuah resiko dan berbagai pilihan ..

HIDUP ATAU MATI ??

MENUNDA MIMPI ATAU MENINGGALKAN MIMPI ??

MAJU ATAU MUNDUR ??

Dan berbagai macam pilihan lainnya ..

Aku memutuskan untuk hidup .

Aku ingin menunda mimpi agar kelak bisa meraihnya.

Aku juga ingin maju.

Mana mungkin aku menyerah begitu saja setelah aku harus berhenti kuliah …

Terlebih lagi aku harus meninggalkan teman-teman ku di kampus,meninggalkan sahabatku, teman satu organisasi ..

Ditambah harus meninggalkan kakak-kakak kelasku yang ganteng-ganteng ..

OH TIDAAAKK !!!

Penyakit seperti ini adalah penyakit yang ringan ….

Efek obat adalah masalah yang kecil..

Karena yang besar, paling besar, dan Maha Besar adalah TUHAN !!

Hhhhh …

Itu adalah kesan pertamaku ketika hendak memasuki program TB MDR ..

Dan hari ini merupakan hari pertama aku harus menyentuh obat …

Oh My God …

Baru mendengar efek sampingnya aja udah takut banget ..

Apalagi ampe minum obat itu ??

Tapi aku harus konsisten ..harus punya sikap ..

Di hari pertama minum obat, aku menganggap ini sebuah tantangan ..

Aku menghadapinya dengan santai ….

Ku minum semua hingga masuk ke dalam saluran pencernaanku ..

Saat itu aku masih belum merasakan apapun setelah minum obat dan setelah suntik ..

Tapi ternyata…..???

Efeknya berasa ENAM jam setelah aku minum obat …

Kepala pusing ..

Dan itu benar-benar berasa berat ..kepalaku seperti tertarik oleh magnet ..

Seolah-olah hendak lepas dari kerangka kepalaku..

Badan pegel-pegel..

Berasa habis ngangkat pulau Kalimantan yang merupakan pulau terbesar di Indonesia..

Demam pula ..

Badan berasa lemas tak berdaya dan berasa dingin meski cuma kena angin sepoi-sepoi sesekali..

Duh.. ga tahan banget ..

Tapi penderitaan pertama belum selesai sampai di situ ..

Hari kedua di soka bawah,, lagi lagi harus minum obat..

Dengan sejuta efek samping yaaaannnngggg ……..

KURANG BERSAHABAT…

Lagi-lagi hal yang sama seperti hari pertama pun datang lagi tanpa diundang dan pergi tanpa pamitan…

Namun perbedaan antara hari pertama dan kedua terletak pada rasa di kulit …

Yup yup yup…

Kulitku GATAL-GATAL ….. T_T

Namun belum seberapa …

Dibanding dengan hari ketujuh …

Di hari ketujuh itu kulitku benar-benar gatal-gatal daaannnnn….

BERJERAWAT …. o_O

Lanjut lagi hari berganti hari ….

Efek samping datang silih berganti …

Gatal-gatal mulai hilang beberapa hari kemudian ..

Namun,aku malah SUSAH TIDUR …

Jadi kayak lagi jaga pos kamling…

Mata merem ga bisa tidur ..

Apalagi dengan mata terbuka …

Ckck

Setelah menginjak tiga minggu ..

Efek samping yang ada hanya sulit tidur di kala malam …

(Untung bukan sulit nafas )…

Dan pusing yang sangat-sangat mengganggu di siang hari …

Aduuh ampyuunn deehh …

Mungkin saat ini aku pusing karena terlalu banyak diam…

Lain kali aku lari-larian aja kali ya biar ga pusing ??

Kini satu bulan tepat …

Eng…ing….enngg …

Efek kali ini rada rada …..

Puyeng ampe malem dan ga bisa tidur …

Yaaahhh …..

Jadi kayak kelelawar …

Mungkin bisa gantian jadwal kerja ama batman lain waktu…(??)

Mata kicep-kicep..

Mulut menguap terus-menerus …

Ketika ku coba untuk tidur ….

TAARRRAAAA>>>

Tetep ga bisaa tidur …

Hooaaahhhmmm…

Kini mulai beranjak ke bulan kedua …

YEEAAAHH..

Ga ada pusing sampe malem,,

Ga ada gatel-gatel..

Belum ada mual-muntah berkepanjangan..

Hanya mual dan muntah sesekali..

Dan sempat terjadi sebanyak tiga kali..

Tapi kemudian mual muntah itu berlalu begitu saja..

Tapi ga bisa tidur malem tetep lanjut …

(Teuteup)

Dan hal inilah yang benar-benar paling mengganggu mental..

Mulai membayangkan indahnya masa lalu..

Seolah lupa dengan masa kini..

Berharap aku tak pernah terlahir..

Berharap dapat kuputar waktu.. (mimpi bangeett)

Berharap ….

Pokoknya mengharap yang aneh-aneh yang jelas-jelas ga mungkin terjadi..

Hhhh…

Tapi,, beruntung aku punya hati yang saat itu menyadarkanku…

Hatiku berkata ….

’hadapi takdirmu …

Kau jauh lebih kuat dari apapun bila kau percaya pada dirimu bahwa kau mampu..

Kau akan menjadi lebih kuat bila kau berusaha untuk maju..

Kau pernah terjatuh ..

Setiap orang pernah terjatuh..

Malulah pada dirimu jika kau hanya bisa berharap yang mustahil..

Keajaiban tak akan datang tiba-tiba..

Semua musibah dan kesenangan yang didapat setiap orang bukan datang dengan tiba-tiba…

Mereka berusaha..

Mereka yang bahagia telah menempuh takdir mereka yang berat..

Kini giliranmu..’

Aku pun tersadar …

Kalau semangat muda sudah luntur, bagaimana nasib bangsa selanjutnya ??

Ckck

Sejak saat itu..

Aku selalu berpikir..

Bukan bagaimana caranya untuk lari..

Juga bukan untuk cepat mengakhiri..

Tetapi…

Bagaimana caranya untuk bisa bertahan hingga hari esok..

Bagaimana caranya untuk bisa tetap maju..

Dan bagaimana caranya untuk bisa menjadi lebih baik dari hari kemarin…

Waahhhh …

Akhirnya setelah berpikir di bulan kedua ..

Aku benar-benar mendapat kekuatan yang amat sangat…

Hingga kini hampir masuk gerbang bulan ketiga..

Di sini aku merasa sangat bosan…

Entah kenapa..

Padahal,,efek yang aku rasa masih hanya tidak bisa tidur..

Mungkin karena tak bisa tidur aku jadi berkhayal lagi…

Aku mulai merasa down lagi seperti di bulan kedua..

Tapi kali ini berbeda..

Aku bukan berharap untuk mundur..

Tapi aku berharap…

Lebih baik aku mati saja …

Yaaa …

Yang kupikirkan saat di bulan ketiga ini,, aku hanya menginginkan satu hal..

MATI..

Lagi dan lagi pemikiran itu terus makin kuat..

Hingga aku tersadar ..

Jika aku mati,

Bagaimana dengan orang-orang yang akan bersedih ???

Jika aku mati,

Sia-sia aku meninggalkan kuliahku,

Meninggalkan sahabatku,

Bahkan aku pasti mengecewakan sahabatku yang mengharap kesembuhanku…

Sungguh bodoh aku mengharapkan kematian..

Aku sudah memilih untuk mengikuti program ini,

Dan berjanji akan berusaha untuk sembuh..

Sungguh pengecut bila aku memilih STOP sedang aku sudah menjalaninya sejauh ini..

Lagi-lagi…

Hari pun berganti.

Masuk bulan keempat..

Mual mulai terasa..

Muntah pun sudah aku alami..

(Awal aku muntah,, terjadi hanya tiga kali di awal bulan kedua..)

Tapi kini,,,

Hampir tiap weekend setelah sampai rumah,pasti mau muntah terus..

Kadang masih bisa ditahan..

Tapi kadang juga keluar begitu saja tanpa ada peringatan apapun..

Wow…

Menegangkan..

Sungguh sulit dikendalikan sebab bisa keluar mendadak tanpa peduli tempatnya..

Kini masuk akhir bulan keempat…

Kira-kira sekitar dua minggu terakhir di bulan keempat ini,

Aku mulai merasa mual setiap hari..

Untung di minggu kedua terakhir ini masih bisa ku tahan gejolak di dalam perutku ..

Tapi, entah sampai kapan aku bisa bertahan…

Wew…

We’ll see…

Inilah satu minggu terakhir di bulan keempat..

Dua hari berturut-turut, aku mual setengah jam setelah minum oabat dan muntah setiap satu jam setelah minum obat..

Beruntung obat ga keluar..

Memang obat ga keluar…

Tapi kronologi bagaimana terjadinya muntah, itu sungguh menyiksa..

Sebelum semua isi perutku meloncat keluar,

Setengah jam setelah aku meminum obat,

Di dalam perutku terasa seperti ada goncangan yang dahsyat..

Seperti pergerakan lempeng bumi yang bertabrakan…

Lalu bergesekan dan menimbulkan sebuah gelombang tsunami yang dahsyat…

Aww..

Itu sungguh tak menyenangkan..

Perutku terasa sakit seperti diremas-remas…

Namun dua hari setelahnyaaaaa ….????

Setelah hari kedua itu aku mampu menahan tsunami yang hendak keluar dari mulutku dengan cara tidur telungkup….

Aku sungguh merasa hebat saat mampu mengendalikan gejolak tersebut..

Hahahaha…

Awalnya aku pesimis kalau aku bisa meng-handle mual ini..

Tapi kemudian aku berusaha meyakinkan diriku bahwa aku kuat..

Aku mampu..

Dan aku pasti bisa..

Syukurlah sugesti yang aku beri pada diriku sendiri mampu bekerja dengan baik ..

**Kita akan menjadi seperti apa yang kita pikirkan..

Saat kita berpikir tidak mampu,,

Maka selamanya tak akan mampu…

Pikiran positif akan memberikan dampak positif bagi diri kita..

Dan kini baru saja memasuki bulan kelima..

Karena sebelumnya sudah ku katakan aku mual dan muntah,

Dokter memberikan obat mual yang bisa dibilang memang cukup manjur..

Dan tak ada rasa mual lagi juga tidak muntah setelah minum obat…

Tapi sepertinya pengaruh susah tidur masih belum akan hilang …

Hmmm…

Entah apa yang akan terjadi setelah iniii….

Yang jelas apapun yang akan terjadi,

Kita selalu punya pilihan..

Pilihan untuk maju…

Mundur, atau bahkan hanya diam di tempat dan menjadi penonton…

Yang penting tetap semangat dan memandang lurus ke depan….

Berjuang untuk terus maju…

Sebab hidup harus menjadi lebih baik dari hari kemarin..

Bukan berharap kembali ke hari kemarin…

HADAPI TAKDIRMU … ^_^

tulisan ini di muat atas persetujuan penulis seorang perempuan yang sedang berjuang meraih kedewasaan dan kesembuhan dari TB MDR di RS Persahabatan)

TB MDR Di Indonesia


Tubercolosis Multi drug resistance, ( TB MDR) adalah bakteri tubercolosis yang mengkuatirkan saat ini. Kemunculan TB MDR di sebabkan kurang adekuat nya pengobatan TB, baik kategori satu atau pun dua . Sejak ditemukan kasus resistensi terhadap pengobatan OAT ( rifampisin) di awal tahun 1970 an, kuman TB resisten semakin berkembang setiap tahun nya. Mulai dari negara-negara di semenanjung Balkan ( Estonia, Lithuania), eropa, Amerika sampai sebahagian besar wilayah Asia. Indonesia saat ini tercatat sebagai negara dengan populasi penderita TB MDR ke lima terbanyak di dunia.
Terdapat 2 jenis kasus resistensi obat yaitu kasus baru (primer) dan kasus telah diobati sebelumnya ( Sekunder).
Secara umum resitensi terhadap obat anti tuberkulosis dibagi menjadi :

• Resistensi primer ialah apabila pasien sebelumnya tidak pernah mendapat pengobatan OAT atau telah mendapat pengobatan OAT kurang dari 1 bulan Resistensi ini ialah apabila kita tidak tahu pasti apakah pasien sudah ada riwayat pengobatan OAT sebelumnya atau belum pernah
• Resistensi sekunder ialah apabila pasien telah mempunyai riwayat pengobatan OAT
minimal 1 bulan

Kategori TB-MDR

Terdapat empat jenis kategori resistensi terhadap obat TB :

1. Mono-resistance: kekebalan terhadap salah satu OAT

2. Poly-resistance: kekebalan terhadap lebih dari satu OAT, selain kombinasi isoniazid dan Rifampisin

3. Multidrug-resistance (MDR) : kekebalan terhadap sekurang-kurangnya isoniazid dan Rifampicin

4. Extensive drug-resistance (XDR) : TB- MDR ditambah kekebalan terhadap salah salah satu obat golongan fluorokuinolon, dan sedikitnya salah satu dari OAT injeksi lini kedua (kapreomisin, kanamisin, dan amikasin)

Di Indonesia sendiri , pengobatan untuk TB MDR telah bisa di akses di dua kota yakni, Jakarta yang berpusat di Rumah Sakit Persahabatan dan Di Kota Surabaya yang berpusat di RSU Dr Soetomo. Dalam waktu dekat akan ada pengembangan layanan di Kota Malang, Solo dan Makasar. Pengobatan Pasien TB MDR, dilakukan lewat program yang jalankan oleh KNCV bekerja sama dengan Departemen kesehatan.

Dukungan Psikososial

Pengobatan untuk TB MDR memakan waktu yang lebih lama; sekitar dua puluh empat bulan, lebih mahal dan lebih banyak efek samping yang dialami pasien. Pasien TB MDR membutuhkan lebih banyak dukungan karena permasalahan tersebut. Dukungan karena kebosanan terhadap waktu pengobatan, dukungan pembiayaan yang lebih memadai agar kontinuitas pengobatan tetap berlangsung, dukungan dari semua pihak untuk membantu pasien melewati berbagai efek samping, mulai Mual, muntah, sakit di pergelangan tangan, gangguan pendengaran sampai pada tahap tuli, gangguan penglihatan bahkan sampai pada gangguan kejiwaan seperti shizoprenia.

Dukungan Psikososial Pada Pasien TB MDR setidak nya bisa dilakukan lewat:
• Konseling ( koseling kepatuhan, disclosure, penerimaan status, efek samping, dll)
• Edukasi
• Pengembangan kelompok diskusi
• Pengembangan kelompok dukungan sebaya
• Pengembangan lingkungan yang mendukung
• Pengembangan jejaring yang adekuat
• Pengembangan pola-pola income generating

Dukungan psikososial yang diberikan pada pasien melewati beberapa tahap kegiatan:

• Assestment
• Pelayanan kepada pasien TB MDR secara Individual
• Pengkoordinasian layanan dukungan
• Monitoring dan evaluasi
• Pendokumentasian

Kegiatan dukungan pada pasien TB MDR, dimulai dari saat pasien di nyatakan suspek TB MDR, selama menjalani pengobatan dan persiapan setelah di nyatakan sembuh.

Home Visit / Kunjungan Rumah Pada Pasien TB MDR

Home Visit pasien TB MDR di lakukan oleh Pekerja Sosial, Manajer kasus, Perawat, Wasor dan petugas lain nya dilakukan untuk mendapatkan data dan kesimpulan yang tepat sehubungan dengan kondisi ekonomi, pendidikan, pengetahuan, keluarga, lingkungan yang bisa berpengaruh terhadap pengobatan pasien dimasa datang. Dengan Home visit di harapkan semua data yang diperolah akan lebih shahih dan dapat digunakan untuk perencanaan, monitoring dan evaluasi serta pelacakan pasien TB MDR. Home Visit bersifat, konfirmasi data yang telah tercatat dilayanan dengan kenyataan sebenarnya. Pengalian informasi baru lebih dalam untuk dalam mengetahui faktor pendukung agar pasien mampu menjalani terapi ke depan.

Home Visit Pasien TB MDR

•       Home visit Verifikasi

•       Home visit mangkir

Apa Saja yang dilakukan saat Home VisiT  ?

•       Assetment ( ekonomi, dukungan psikososial, persepsi pasien dan keluarga )

•       Diskusi dan edukasi

•       Support

•       konseling

•       Dokumentasi

A. Assestmen:

-siapa yang paling deket dengan pasien

-Siapa yang memegang otoritas ( didengar) di keluarga

– Kontak terdekat pasien

– persepsi pasien dan keluarga tentang efek samping dan pengobatan

-adakah lingkungan yang mendukung atau berpotensi mendukung pengobatan pasien

B. Diskusi dan Edukasi

•       Gali pengetahuan pasien ttg TB MDR dan pegobatan, pembiayaan pengobatan

•       Lakukan edukasi dengan santai dan bersahabat

•       Lakukan tanya –jawab untuk memastikan pasien mengerti yang disampaikan

•       Diakhir diskusi adakah hal lain yang ingin diketahui pasien

•       Gunakan alat peraga atau alat bantu edukasi lainnya

Support

•       Berusaha menjadi pendengar yang aktif

•       Beri kata-kata semangat

•       Dekati anggota keluarga yang berpegaruh

•       Ketahui orang lain yang mampu mempengaruhi pasien

•       Bantu pasien dan keluarga mengambil keputusan

•        Jangan menghakimi

Konseling

  • Pengalian masalah secara rinci
  • Membangun kepercayaan
  • Komunikasi aktif
  • pertanyaan terbuka dan tertutup
  • Menjadi pendengar aktif
  • fokus pada masalah

Pendokumentasian

  • Kegiatan harus dicatat sehingga bisa dijadikan Bukti
  • Bisa digunakan sebagai bahan untuk merencanakan kegiatan lanjutan
  • Sebagai bahan untuk MONEV

Catt: Home Visit harus dilakukan dengan atau tanpa persetujuan klien jika pasien bagi yang telah menandatanggani Inform consent kunjungan rumah. petugas perlu memperhatikan pakaian yang tidak mencolok (mis: pakaian dinas) dan aspek pencegahan infeksi