Mengenali TB MDR di Lingkungan Sekitar

Indonesia menduduki peringkat ke tiga dalam daftar High Burden
Countries. Insidens TB diperkirakan (laporan WHO 2005) sekitar 623.000 kasus. prevalensi semua kasus diperkirakan sekitar 1.4 juta pasien dimana 282,000 kasus baru BTA positif
(Perkiraan insidensi 128/100.000). Tuberkulosis juga menduduki peringkat 3
daftar 10 penyebab kematian di Indonesia, yang menyebabkan 146,000
kematian setiap tahun (10% mortalitas total). Tuberkulosis sering mengenai
orang berpendapatan rendah. Data awal survei resistensi obat OAT lini pertama yang dilakukan di Jawa Tengah menunjukkan angka TB-MDR yang rendah pada kasus baru (1-2%), tetapi angka ini meningkat pada pasien yang pernah diobati sebelumnya (15%). Limited and unrepresentative hospital data (2006) menunjukkan kenyataan dari TB-MDR dan TB-XDR, sepertiga kasus TB-MDR resisten terhadap Ofloxacin dan ditemukan satu kasus TB-XDR (diantara 24 kasus TB-MDR). Tuberkulosis MDR di Indonesia belum mendapat akses pengobatan yang memadai karena tidak semua obat yang dibutuhkan oleh pasien TBMDR tersedia di Indonesia.

TB MDR merupakan penyakit yang di sebabkan oleh bakteri tuberkolosis yang sudah kebal terhadap obat-obatan terutama: Ripampisin ( R) dan Izoniasid ( INH). Di Banyak kasus, kadang ditambah dengan obat-obatan lainya, misal nya Etambhutol ( E), dan obat-obatan lainnya. Karena Penularan nya berlangsung lewat media Udara yang terpapar bakteri tuberkulosis dari Bersin, batuk dan bahkan berbicara penderita TB MDR, Penyakit ini sepertinya akan menjadi wabah yang paling menakutkan di Indonesia masa mendatang.

TB-MDR pada dasarnya adalah suatu fenomena buatan manusia (man-made
phenomenon), sebagai akibat pengobatan TB tidak adekuat .

Penyebab pengobatan TB yang tidak adekuat
· Penyedia pelayanan kesehatan:
· Buku paduan yang tidak sesuai
· Tidak mengikuti paduan yang tersedia
· Tidak memiliki paduan
· Pelatihan yang buruk
· Tidak terdapatnya pemantauan program pengobatan
· Pendanaan program penanggulangan TB yang lemah
Obat: Penyediaan atau kualitas obat tidak adekuat
· Kualitas obat yang buruk
· Persediaan obat yang terputus
· Kondisi tempat penyimpanan yang tidak terjamin
· Kombinasi obat yang salah atau dosis yang kurang
Pasien: Kepatuhan pasien yang kurang
· Kepatuhan yang kurang
· Kurangnya informasi
· Kekurangan dana (tidak tersedia pengobatan cuma-cuma)
· Masalah transportasi
· Masalah efek samping
· Masalah sosial
· Malabsorpsi
· Ketergantungan terhadap substansi tertentu

Pencegahan terhadap terjadinya resistensi OAT

Pencegahan terhadap terjadinya resistensi terhadap OAT ( TB MDR) dapat dilakukan dengan penguatan di Layanan pengobatan Tuberkolosis awal terutama di Pengobatan Kategori I dan II. Penguatan tersebut dapat dilakukan dengan cara-cara berikut:
· Pengelompokkan kasus pasien TB secara tepat
· Regimen obat yang adekuat untuk semua kategori pasien
· Identifikasi dini dan pengobatan yang adekuat untuk kasus TB resisten
· Intergrasi program DOTS dengan pengobatan resisten TB akan bekerja
sinergis untuk menghilangkan sumber potensial penularan
· Pengendalian infeksi, pengunaan masker, kamar terpisah, dan sistem sirkulasi udara dan Cahaya ( ventilasi ) di rumah pasien  sangat perlu ditekankan pada Keluarga dan Pasien TB MDR agar tidak menular ke orang-orang sekitar nya.

Cara Mengenali Saudara atau keluarga yang terinfeksi TB, termasuk TB MDR

1. Batuk tidak berhenti selama dua minggu atau lebih

2. Berkeringat saat malam hari

3.  Nafsu makan kurang

4. Berat Badan turun

5. Pernah di obati OAT kategori I dan atau II sebelum nya

6. Pemeriksaan Mikroskopis menunjukan BTA ( Basil Tahan Asam) Positif

7. Hasil kultur biakan menunjukan resistensi minimal dua obat Ripampisin dan INH

8. Dengan beberapa pertimbangan jika pemeriksaan resistensi lewat GeneXpert :Ripampisin resistensi, pasien sudah dapat di Obati dengan terapi MDR.

Untuk saat ini pengobatan MDR telah terdapat di Kota Jakarta ( RSU Persahabatan), Surabaya ( RSU Dr Soetomo), Malang ( RSU Syaiful Anwar), Solo ( RSU Mulawardi), Makassar ( RSU Labuhan Bajo), Bandung ( RSU Hasan Sadikin), Medan ( RSU Pringadi) dan sedang di persiapkan untuk di Bali dan Daerah lainnnya.

Pengobatan TB MDR mengharuskan pasien untuk datang tiap hari ke Rumah sakit atau Puskesmas yang telah ditetapkan dan meminum obat dalam pengawasan langsung petugas rumah sakit.

Advertisements

Mengenal Kelompok Dukungan Sebaya

Dukungan sebaya adalah dukungan untuk dan oleh orang dalam situasi yang sama.

• Dukungan sebaya meliputi orang yang menghadapi tantangan yang sama seperti pasien dengan infeksi tertentu, komunitas tertentu, orang-orang dengan permasalahn yang sama misalnya: Dapat juga perempuan dengan  HIV dan atau TB MDR, pasangan Pasien, orang yang baru didiagnosa  HIV dan atau TB MDR dan lain-lain

• Dukungan sebaya bisa diantara seseorang yang menghadapi tantangan untuk pertama kalinya dengan seseorang yang telah mampu mengelolanya. Ini dapat berarti mengkaitkan seseorang yang baru memulai pengobatan dengan seseorang yang sudah mengelola pengobatan dan efek samping dengan baik.

Keuntungan Dukungan Sebaya

Mengurangi isolasi

Meningkatkan dukungan sosial

Mengurangi stigma

Mengurangi sumber intimidasi dari dukungan

Membantu berbagi pengalaman

Membantu orang untuk melihat bahwa hidup dengan HIV dan atau TB MDR dan efek samping adalah mungkin

Mengurangi ketergantungan pada petugas kesehatan

Mengurangi beban kerja petugas kesehatan

Meningkatkan kualitas hidup bagi Pasien HIV dan atau TB MDR

Meskipun pasien belajar banyak dari petugas kesehatan, ada beberapa hal lebih baik dipelajari dari orang yang mengalami permasalahan dan hambatan yang sama. Baik di RS, pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) , dukungan sebaya menjadi bagian penting dari penyediaan perawatan yang didapatkan pasien.

Memperkenalkan Dukungan Sebaya :

dengan membicarakan secara teratur tentang dukungan sebaya pada pasien dukung mereka untuk mengaksesnya.

Menegaskan keuntungan-keuntungan dari dukungan sebaya.

Memahami ketakutan-ketakutan mereka.

Mencari tahu apa saja sumber lokal yang tersedia dan mengetahui dengan rinci tentang kelompok-kelompok dalam wilayah itu.

Membangun KDS untuk:

Pasien Baru baru menerima Diagnosis HIV dan Atau TB MDR, pasien mulai terapi ARV, pasien Konversi, non konversi, pasangan Pasien, orang dalam pengobatan.

Membangun kelompok-kelompok pasca tes.

Menjalankan sesi-sesi kelompok edukasi.

Mengidentifikasi idividu yang disiapkan bertindak sebagai pendukung sebaya Memahami Mengapa orang berhenti menggunakan dukungan sebaya: Takut kerahasiaan terbongkar. Takut bertemu orang baru. Tidak mengetahui keberadaan dukungan sebaya. Terlalu sibuk untuk memperoleh dukungan sebaya. Tidak bisa mengikuti pertemuan dukungan sebaya. Tidak punya uang transportasi. Perlu menjaga anak. Tidak mendapat dukungan dari pasangan untuk hadir. Harus menjelaskan kemana mereka pergi kepada orang lain. Mempunyai komitmen lain.

Cara Menawarkan Dukungan Sebaya:

Dukungan sebaya Individual: Jika seseorang baru saja didiagnosa HIV dan ata TB MDR atau baru memulai pengobatan, akan sangat membantu mengkaitkan mereka kepada seseorang yang sudah menerima keadaannya dan dapat membagi pengalaman serta memberi dorongan.

Kelompok Edukasi : Seringkali Pasien TB MDR merasa sendiri dan diisolasi. Bertemu dengan pasien lain dapat mengurangi isolasi dan mendorong mereka untuk hidup lebih baik. Kelompok ini dapat bergaul atau berfokus pada aktifitas-aktifitas peningkatan penghasilan. Kelompok ini biasanya dijalankan untuk dan oleh PasienHIV dan atau  TB MDR dapat juga diadakan lebih dulu oleh petugas kesehatan

Kelompok Dukungan  : Orang yang akan memulai Pengobatan, baru memulai ART, non konversi, konversi, re konversi, dsb) akan merasa terbantu bertemu satu dengan yang lain untuk saling mendukung. Peran petugas kesehatan adalah membentuk terjadi dan memfasilitasi kelompok sampai mereka bisa menjalankannya sendiri

Contoh Cara untuk menawarkan dukungan sebaya:

Klub Pasca-Tes:

Kelompok ini diperuntukkan bagi semua orang yang telah menerima hasil Diagnosis TB MDR.. Mereka sering berfokus pada pemberian informasi dasar TB MDR, aspek kepatuhan dan bagaimana mengakses layanan jika terjadi masalah selama pengobatan . Petugas perlu mendiskusikan situasi yang kondusif bagi anggota untuk saling bertemu dan mendiskusikan semua isu-isu yang relevan. Kelompok edukasi (5 menit) Sesi kelompok edukasi dapat digambarkan sebagai pengembangan/lanjutan dari kunjungan ke pusat kesehatan dimana tidak hanya kebutuhan fisik dan medis ditemukan, tetapi perhatian pada edukasi, aspek sosial dan psikologis yang disepakati dalam pembentukan kelompok. Sesi kelompok edukasi dapat membantu anda untuk tidak menghabiskan waktu di pusat kesehatan.

Pergunakan pertemuan kelompok untuk :

• Mendidik pasien tentang kondisi mereka.

• Membangun dukungan sebaya dan keahlian.

• Memperkenalkan pengelolaan diri.

• Menjalankan tindak lanjut klinis.

• Memusatkan perhatian pada kesulitan-kesulitan.

Dalam membentuk dukungan sebaya di wilayah kita perlu :

• Temukan sumber lokal yang tersedia agar pelayanan tidak tumpang tindih. • Konsultasi dengan Pasien TB MDR dengan menggunakan system pelayanan kesehatan.

• Mengidentifikasi perbedaan strategi dalam dukungan sebaya: baik dukungan satu persatu, dukungan kelompok atau klub pasca test, dan tentukan strategi mana yang ingin anda kembangkan selanjutnya.

• Identifikasi orang yang tertarik mengembangkan sistem dukungan sebaya (baik petugas kesehatan maupun Pasien  HIV dan atau TB MDR).

• Adakan pertemuan dengan petugas kesehatan dan Pasien TB MDR sehingga anda dapat mendiskusikan rencana anda.

• Ketika membentuk KDS, sangatlah penting untuk pertimbangkan: 1 Acara dan waktu. 2 Biaya dan siapa yang membayar. 3 Untuk siapa kelompok dibentuk. 4 Siapa yang akan memimpin kelompok. 5 Bagaimana kerahasiaan akan dijaga. 6 Bagaimana petugas kesehatan akan mendukung para fasilitator. 7 Peran dari petugas kesehatan. 8 Bagaimana memperkenalkan kelompok pada masyarakat luas.

Dalam membentuk kelompok edukasi di pusat kesehatan :

• Konsultasi dengan Pokja HIV dan atau tim ahli klinis anda

• Konsultasi dengan Pasien  HIV dan atau TB MDR yang menggunakan system pelayanan kesehatan

• Identifikasi orang yang tertarik mengembangkan system dukungan sebaya (baik petugas kesehatan maupun )

• Undang mereka untuk mendiskusikan rencana

• Ketika membentuk sesi kelompok edukasi, sangatlah penting untuk pertimbangkan: o Acara dan waktu. o Biaya dan siapa yang membayar. o Untuk siapa sesi kelompok edukasi dibentuk. o Bagaimana memilih orang yang terlibat dalam kelompok o Kegiatan apa yang dilakukan dalam sesi-sesi. o Apa peran anggota kelompok. o Apa peran petugas kesehatan. o Bagaimana memperkenalkan kelompok edukasi pada masyarakat luas.

Contoh Kerangka sesi Kelompok Edukasi  :

Ucapan selamat datang dan Perkenalan Setiap peserta memperkenalkan diri 30 menit Sesi Kelompok Edukasi (hanya sesi pertama) Peserta meluangkan sedikit waktu untuk berbicara tentang:

• Kehidupan mereka, pekerjaan dan keluarganya.

• Harapan peserta dari sesi kelompok edukasi (mis; apa yang ingin mereka peroleh)

• Bagaimana mereka dapat memberi kontribusi pada sesi kelompok edukasi (setiap orang dapat mengkontribusikan sesuatu meskipun hanya pelajaran dari pengalaman pribadi)

• Petugas melanjutkan dengan Pertanyaan-pertanyaan dari kelompok.

• Tata cara kelompok edukasi (aturan-aturan sebagai panduan operasional kelompok). 30 menit Topik hari ini, misalnya: Pencegahan dalam konteks perawatan klinis Petugas kesehatan menyediakan informasi yang berkaitan, berinteraksi dengan peserta bila memungkinkan. Beberapa saran untuk membuat sesi interaktif, termasuk bertanya tentang:

• Apa yang anda ketahui tentang pencegahan infeksi di rumah?

• Bagaimana anda mulai mengenal standar pencegahan dalam hidup anda?

• Adakah seseorang disini yang pernah menemui masalah saat memakai masker di tengah masyarakat? Petugas kesehatan sebaiknya menyatukan informasi dengan apa yang telah diajarkan selama pelatihan dan gunakan Kertas plano Edukasi Pasien.

Bagaimanapun, sangat penting menggabungkan hal ini dengan pandangan dan nilai-nilai kelompok.

15 menit Tanya Jawab Petugas Kesehatan sebaiknya menanyakan kelompok jika ada pertanyaan tentang:

• Topik hari ini

• Kesehatan mereka secara umum, masalah mereka belakangan ini atau perjanian-perjanjian yang akan datang 15 menit Perencanaan dan Penutup Tanyakan jika kelompok ingin mendiskusikan sesuatu secara khusus pada sesi selanjutnya, jika tidak topik akan dikomunikasikan lewat agenda. Ucapkan terima kasih untuk kehadiran peserta.

INH sebagai Profilaksis TBC untuk Pasien HIV

Sebuah penelitian Yang dilakukan beberapa Ahli di Botswana mengungkapkan bahwa pemberian profikasis INH ( Izoniasid ) bagi pasien HIV yang belum terinfeksi kuman TB/TBC terbukti efektif  dalam upaya pencegahan. Pemberian Profilaksis INH selama lebih dari 6 bulan akan mampu melindungi ODHIV  dari infeksi TB walaupun tinggal di daerah pandemik TB. Ini akan lebih efektif jika dilakukan di CD4 lebih dari 200/ul.

Penelitian merupakan   hal yang sangat mengembirakan bagi Teman-teman yang hidup dengan HIV dan AIDS. Sebuah harapan baru untuk bisa bekerja dan hidup lebih sehat walau mungkin tinggal dan bekerja di daerah yang pandemik TB.

untuk informasi selengkap nya silahkan klik link berikut:

Samandari T, 6-month versus 36-month……Lancet 2011 e-pub ahead of print.pdf

Moga Esok Akan lebih Sehat

Menyebalkan …

Hanya satu kata itu yang terlintas di benakku ketika aku mengetahui kuman merugikan di tubuhku ternyata telah kebal terhadap obat biasa …

Kini aku harus beralih pada sebuah resiko dan berbagai pilihan ..

HIDUP ATAU MATI ??

MENUNDA MIMPI ATAU MENINGGALKAN MIMPI ??

MAJU ATAU MUNDUR ??

Dan berbagai macam pilihan lainnya ..

Aku memutuskan untuk hidup .

Aku ingin menunda mimpi agar kelak bisa meraihnya.

Aku juga ingin maju.

Mana mungkin aku menyerah begitu saja setelah aku harus berhenti kuliah …

Terlebih lagi aku harus meninggalkan teman-teman ku di kampus,meninggalkan sahabatku, teman satu organisasi ..

Ditambah harus meninggalkan kakak-kakak kelasku yang ganteng-ganteng ..

OH TIDAAAKK !!!

Penyakit seperti ini adalah penyakit yang ringan ….

Efek obat adalah masalah yang kecil..

Karena yang besar, paling besar, dan Maha Besar adalah TUHAN !!

Hhhhh …

Itu adalah kesan pertamaku ketika hendak memasuki program TB MDR ..

Dan hari ini merupakan hari pertama aku harus menyentuh obat …

Oh My God …

Baru mendengar efek sampingnya aja udah takut banget ..

Apalagi ampe minum obat itu ??

Tapi aku harus konsisten ..harus punya sikap ..

Di hari pertama minum obat, aku menganggap ini sebuah tantangan ..

Aku menghadapinya dengan santai ….

Ku minum semua hingga masuk ke dalam saluran pencernaanku ..

Saat itu aku masih belum merasakan apapun setelah minum obat dan setelah suntik ..

Tapi ternyata…..???

Efeknya berasa ENAM jam setelah aku minum obat …

Kepala pusing ..

Dan itu benar-benar berasa berat ..kepalaku seperti tertarik oleh magnet ..

Seolah-olah hendak lepas dari kerangka kepalaku..

Badan pegel-pegel..

Berasa habis ngangkat pulau Kalimantan yang merupakan pulau terbesar di Indonesia..

Demam pula ..

Badan berasa lemas tak berdaya dan berasa dingin meski cuma kena angin sepoi-sepoi sesekali..

Duh.. ga tahan banget ..

Tapi penderitaan pertama belum selesai sampai di situ ..

Hari kedua di soka bawah,, lagi lagi harus minum obat..

Dengan sejuta efek samping yaaaannnngggg ……..

KURANG BERSAHABAT…

Lagi-lagi hal yang sama seperti hari pertama pun datang lagi tanpa diundang dan pergi tanpa pamitan…

Namun perbedaan antara hari pertama dan kedua terletak pada rasa di kulit …

Yup yup yup…

Kulitku GATAL-GATAL ….. T_T

Namun belum seberapa …

Dibanding dengan hari ketujuh …

Di hari ketujuh itu kulitku benar-benar gatal-gatal daaannnnn….

BERJERAWAT …. o_O

Lanjut lagi hari berganti hari ….

Efek samping datang silih berganti …

Gatal-gatal mulai hilang beberapa hari kemudian ..

Namun,aku malah SUSAH TIDUR …

Jadi kayak lagi jaga pos kamling…

Mata merem ga bisa tidur ..

Apalagi dengan mata terbuka …

Ckck

Setelah menginjak tiga minggu ..

Efek samping yang ada hanya sulit tidur di kala malam …

(Untung bukan sulit nafas )…

Dan pusing yang sangat-sangat mengganggu di siang hari …

Aduuh ampyuunn deehh …

Mungkin saat ini aku pusing karena terlalu banyak diam…

Lain kali aku lari-larian aja kali ya biar ga pusing ??

Kini satu bulan tepat …

Eng…ing….enngg …

Efek kali ini rada rada …..

Puyeng ampe malem dan ga bisa tidur …

Yaaahhh …..

Jadi kayak kelelawar …

Mungkin bisa gantian jadwal kerja ama batman lain waktu…(??)

Mata kicep-kicep..

Mulut menguap terus-menerus …

Ketika ku coba untuk tidur ….

TAARRRAAAA>>>

Tetep ga bisaa tidur …

Hooaaahhhmmm…

Kini mulai beranjak ke bulan kedua …

YEEAAAHH..

Ga ada pusing sampe malem,,

Ga ada gatel-gatel..

Belum ada mual-muntah berkepanjangan..

Hanya mual dan muntah sesekali..

Dan sempat terjadi sebanyak tiga kali..

Tapi kemudian mual muntah itu berlalu begitu saja..

Tapi ga bisa tidur malem tetep lanjut …

(Teuteup)

Dan hal inilah yang benar-benar paling mengganggu mental..

Mulai membayangkan indahnya masa lalu..

Seolah lupa dengan masa kini..

Berharap aku tak pernah terlahir..

Berharap dapat kuputar waktu.. (mimpi bangeett)

Berharap ….

Pokoknya mengharap yang aneh-aneh yang jelas-jelas ga mungkin terjadi..

Hhhh…

Tapi,, beruntung aku punya hati yang saat itu menyadarkanku…

Hatiku berkata ….

’hadapi takdirmu …

Kau jauh lebih kuat dari apapun bila kau percaya pada dirimu bahwa kau mampu..

Kau akan menjadi lebih kuat bila kau berusaha untuk maju..

Kau pernah terjatuh ..

Setiap orang pernah terjatuh..

Malulah pada dirimu jika kau hanya bisa berharap yang mustahil..

Keajaiban tak akan datang tiba-tiba..

Semua musibah dan kesenangan yang didapat setiap orang bukan datang dengan tiba-tiba…

Mereka berusaha..

Mereka yang bahagia telah menempuh takdir mereka yang berat..

Kini giliranmu..’

Aku pun tersadar …

Kalau semangat muda sudah luntur, bagaimana nasib bangsa selanjutnya ??

Ckck

Sejak saat itu..

Aku selalu berpikir..

Bukan bagaimana caranya untuk lari..

Juga bukan untuk cepat mengakhiri..

Tetapi…

Bagaimana caranya untuk bisa bertahan hingga hari esok..

Bagaimana caranya untuk bisa tetap maju..

Dan bagaimana caranya untuk bisa menjadi lebih baik dari hari kemarin…

Waahhhh …

Akhirnya setelah berpikir di bulan kedua ..

Aku benar-benar mendapat kekuatan yang amat sangat…

Hingga kini hampir masuk gerbang bulan ketiga..

Di sini aku merasa sangat bosan…

Entah kenapa..

Padahal,,efek yang aku rasa masih hanya tidak bisa tidur..

Mungkin karena tak bisa tidur aku jadi berkhayal lagi…

Aku mulai merasa down lagi seperti di bulan kedua..

Tapi kali ini berbeda..

Aku bukan berharap untuk mundur..

Tapi aku berharap…

Lebih baik aku mati saja …

Yaaa …

Yang kupikirkan saat di bulan ketiga ini,, aku hanya menginginkan satu hal..

MATI..

Lagi dan lagi pemikiran itu terus makin kuat..

Hingga aku tersadar ..

Jika aku mati,

Bagaimana dengan orang-orang yang akan bersedih ???

Jika aku mati,

Sia-sia aku meninggalkan kuliahku,

Meninggalkan sahabatku,

Bahkan aku pasti mengecewakan sahabatku yang mengharap kesembuhanku…

Sungguh bodoh aku mengharapkan kematian..

Aku sudah memilih untuk mengikuti program ini,

Dan berjanji akan berusaha untuk sembuh..

Sungguh pengecut bila aku memilih STOP sedang aku sudah menjalaninya sejauh ini..

Lagi-lagi…

Hari pun berganti.

Masuk bulan keempat..

Mual mulai terasa..

Muntah pun sudah aku alami..

(Awal aku muntah,, terjadi hanya tiga kali di awal bulan kedua..)

Tapi kini,,,

Hampir tiap weekend setelah sampai rumah,pasti mau muntah terus..

Kadang masih bisa ditahan..

Tapi kadang juga keluar begitu saja tanpa ada peringatan apapun..

Wow…

Menegangkan..

Sungguh sulit dikendalikan sebab bisa keluar mendadak tanpa peduli tempatnya..

Kini masuk akhir bulan keempat…

Kira-kira sekitar dua minggu terakhir di bulan keempat ini,

Aku mulai merasa mual setiap hari..

Untung di minggu kedua terakhir ini masih bisa ku tahan gejolak di dalam perutku ..

Tapi, entah sampai kapan aku bisa bertahan…

Wew…

We’ll see…

Inilah satu minggu terakhir di bulan keempat..

Dua hari berturut-turut, aku mual setengah jam setelah minum oabat dan muntah setiap satu jam setelah minum obat..

Beruntung obat ga keluar..

Memang obat ga keluar…

Tapi kronologi bagaimana terjadinya muntah, itu sungguh menyiksa..

Sebelum semua isi perutku meloncat keluar,

Setengah jam setelah aku meminum obat,

Di dalam perutku terasa seperti ada goncangan yang dahsyat..

Seperti pergerakan lempeng bumi yang bertabrakan…

Lalu bergesekan dan menimbulkan sebuah gelombang tsunami yang dahsyat…

Aww..

Itu sungguh tak menyenangkan..

Perutku terasa sakit seperti diremas-remas…

Namun dua hari setelahnyaaaaa ….????

Setelah hari kedua itu aku mampu menahan tsunami yang hendak keluar dari mulutku dengan cara tidur telungkup….

Aku sungguh merasa hebat saat mampu mengendalikan gejolak tersebut..

Hahahaha…

Awalnya aku pesimis kalau aku bisa meng-handle mual ini..

Tapi kemudian aku berusaha meyakinkan diriku bahwa aku kuat..

Aku mampu..

Dan aku pasti bisa..

Syukurlah sugesti yang aku beri pada diriku sendiri mampu bekerja dengan baik ..

**Kita akan menjadi seperti apa yang kita pikirkan..

Saat kita berpikir tidak mampu,,

Maka selamanya tak akan mampu…

Pikiran positif akan memberikan dampak positif bagi diri kita..

Dan kini baru saja memasuki bulan kelima..

Karena sebelumnya sudah ku katakan aku mual dan muntah,

Dokter memberikan obat mual yang bisa dibilang memang cukup manjur..

Dan tak ada rasa mual lagi juga tidak muntah setelah minum obat…

Tapi sepertinya pengaruh susah tidur masih belum akan hilang …

Hmmm…

Entah apa yang akan terjadi setelah iniii….

Yang jelas apapun yang akan terjadi,

Kita selalu punya pilihan..

Pilihan untuk maju…

Mundur, atau bahkan hanya diam di tempat dan menjadi penonton…

Yang penting tetap semangat dan memandang lurus ke depan….

Berjuang untuk terus maju…

Sebab hidup harus menjadi lebih baik dari hari kemarin..

Bukan berharap kembali ke hari kemarin…

HADAPI TAKDIRMU … ^_^

tulisan ini di muat atas persetujuan penulis seorang perempuan yang sedang berjuang meraih kedewasaan dan kesembuhan dari TB MDR di RS Persahabatan)

Pasien Pertama TB MDR Yang Sembuh Di Indonesia

Aku mengenal Sosok lelaki 40 an, berperawakan kecil dengan kulit hitam manis. Muhammad Nur, di Poli MDR RS Persahabatan. Beliau terlihat kalem, tapi jika berbicara semangat hidup nya yang tinggi terlihat jelas. M. Nur, adalah pasien pertama yang dinyatakan sembuh dari TB MDR di Indonesia setelah menjalani pengobatan selama 19 bulan . Beliau mengikuti program PMDT ( Programmatic Manangement on Drug resistance Tubercolosis), yang dilaksanakan KNCV / Royal Nedherlands Tubercolosis Foundation bekerjasama dengan Depkes dengan dua site untuk pilot project yakni. RS persahabatan di Jakarta dan RSU Soetomo di Surabaya.

Muhammad Nur, memulai pengobatan Agustus 2009. setiap hari ia minum 14 butir obat sekali minum yang terdiri : Pirazinamide, Ethambuthol, Cicloserine, Levofloxacin, di tambah dengan suntikan Kapreomicin selama 6 enam bulan.

Sebagai pasien yang menjalani terapi MDR di awal program, M Nur, mempunyai pengalaman-pengalaman yang menarik, mulai dari efek samping obat yang membuat asam urat nya meningkat, rasa pusing dan mual yang sangat atau di suntik di bawah Pohon.

Kisah suntik dibawah Pohon adalah pengalaman unik dari beliau. pengalaman ini sering beliau utarakan di berbagai kesempatan. Sebagai pasien awal, fasilitas penunjang program sangat terbatas. saat beliau di pindahkan dari RS  persahabatan ke Puskesmas Kramat Jati beliau mendapat pengalaman luar biasa tersebut. Puskesmas Kramat jati  belum memiliki Poli  sendiri untuk TB MDR saat itu, ada ketakutan juga dari petugas akan tertular.  tapi semangat pak Nur dan semua petugas TB MDR di Puskesmas, pengobatan tetap dilakukan dengan segala keterbatasan. Akhirnya untuk suntik dan minum obat tiap hari Muhamamad Nur menjalani di bawah Pohon.

” sedikit risih mas” katanya saat ditanya bagaimana perasaan beliau saat itu. risih karena pantat nya hampir tiap hari di lihat oleh pengunjung yang melintasi halaman puskesmas.

Luar biasa, Muhammad Nur, bertekad tidak  patah semangat. Beliau tetap  menjalani pengobatan di tengah semua hambatan dan keterbatasan: menjaga kepatuhan minum obat, menjalani pola hidup sehat dan selalu mendiskusikan semua permasalahan nya dengan petugas di layanan. Buah dari itu semua, beliau di nyatakan sembuh pebruari 2011.

Saat ini Muhammad Nur melanjutkan hidup  dengan lebih sehat dan bahagia. harapan nya usaha jasa pengetikan nya dapat berkembang lebih baik agar ekonomi keluarga  bisa lebih terdongkrak.

” aku seperti lahir kembali” komentar nya di akhir pembicaraan kami

CONGRATULATION  MUHAMMAD NUR…

TB MDR Di Indonesia


Tubercolosis Multi drug resistance, ( TB MDR) adalah bakteri tubercolosis yang mengkuatirkan saat ini. Kemunculan TB MDR di sebabkan kurang adekuat nya pengobatan TB, baik kategori satu atau pun dua . Sejak ditemukan kasus resistensi terhadap pengobatan OAT ( rifampisin) di awal tahun 1970 an, kuman TB resisten semakin berkembang setiap tahun nya. Mulai dari negara-negara di semenanjung Balkan ( Estonia, Lithuania), eropa, Amerika sampai sebahagian besar wilayah Asia. Indonesia saat ini tercatat sebagai negara dengan populasi penderita TB MDR ke lima terbanyak di dunia.
Terdapat 2 jenis kasus resistensi obat yaitu kasus baru (primer) dan kasus telah diobati sebelumnya ( Sekunder).
Secara umum resitensi terhadap obat anti tuberkulosis dibagi menjadi :

• Resistensi primer ialah apabila pasien sebelumnya tidak pernah mendapat pengobatan OAT atau telah mendapat pengobatan OAT kurang dari 1 bulan Resistensi ini ialah apabila kita tidak tahu pasti apakah pasien sudah ada riwayat pengobatan OAT sebelumnya atau belum pernah
• Resistensi sekunder ialah apabila pasien telah mempunyai riwayat pengobatan OAT
minimal 1 bulan

Kategori TB-MDR

Terdapat empat jenis kategori resistensi terhadap obat TB :

1. Mono-resistance: kekebalan terhadap salah satu OAT

2. Poly-resistance: kekebalan terhadap lebih dari satu OAT, selain kombinasi isoniazid dan Rifampisin

3. Multidrug-resistance (MDR) : kekebalan terhadap sekurang-kurangnya isoniazid dan Rifampicin

4. Extensive drug-resistance (XDR) : TB- MDR ditambah kekebalan terhadap salah salah satu obat golongan fluorokuinolon, dan sedikitnya salah satu dari OAT injeksi lini kedua (kapreomisin, kanamisin, dan amikasin)

Di Indonesia sendiri , pengobatan untuk TB MDR telah bisa di akses di dua kota yakni, Jakarta yang berpusat di Rumah Sakit Persahabatan dan Di Kota Surabaya yang berpusat di RSU Dr Soetomo. Dalam waktu dekat akan ada pengembangan layanan di Kota Malang, Solo dan Makasar. Pengobatan Pasien TB MDR, dilakukan lewat program yang jalankan oleh KNCV bekerja sama dengan Departemen kesehatan.

Dukungan Psikososial

Pengobatan untuk TB MDR memakan waktu yang lebih lama; sekitar dua puluh empat bulan, lebih mahal dan lebih banyak efek samping yang dialami pasien. Pasien TB MDR membutuhkan lebih banyak dukungan karena permasalahan tersebut. Dukungan karena kebosanan terhadap waktu pengobatan, dukungan pembiayaan yang lebih memadai agar kontinuitas pengobatan tetap berlangsung, dukungan dari semua pihak untuk membantu pasien melewati berbagai efek samping, mulai Mual, muntah, sakit di pergelangan tangan, gangguan pendengaran sampai pada tahap tuli, gangguan penglihatan bahkan sampai pada gangguan kejiwaan seperti shizoprenia.

Dukungan Psikososial Pada Pasien TB MDR setidak nya bisa dilakukan lewat:
• Konseling ( koseling kepatuhan, disclosure, penerimaan status, efek samping, dll)
• Edukasi
• Pengembangan kelompok diskusi
• Pengembangan kelompok dukungan sebaya
• Pengembangan lingkungan yang mendukung
• Pengembangan jejaring yang adekuat
• Pengembangan pola-pola income generating

Dukungan psikososial yang diberikan pada pasien melewati beberapa tahap kegiatan:

• Assestment
• Pelayanan kepada pasien TB MDR secara Individual
• Pengkoordinasian layanan dukungan
• Monitoring dan evaluasi
• Pendokumentasian

Kegiatan dukungan pada pasien TB MDR, dimulai dari saat pasien di nyatakan suspek TB MDR, selama menjalani pengobatan dan persiapan setelah di nyatakan sembuh.

Home Visit / Kunjungan Rumah Pada Pasien TB MDR

Home Visit pasien TB MDR di lakukan oleh Pekerja Sosial, Manajer kasus, Perawat, Wasor dan petugas lain nya dilakukan untuk mendapatkan data dan kesimpulan yang tepat sehubungan dengan kondisi ekonomi, pendidikan, pengetahuan, keluarga, lingkungan yang bisa berpengaruh terhadap pengobatan pasien dimasa datang. Dengan Home visit di harapkan semua data yang diperolah akan lebih shahih dan dapat digunakan untuk perencanaan, monitoring dan evaluasi serta pelacakan pasien TB MDR. Home Visit bersifat, konfirmasi data yang telah tercatat dilayanan dengan kenyataan sebenarnya. Pengalian informasi baru lebih dalam untuk dalam mengetahui faktor pendukung agar pasien mampu menjalani terapi ke depan.

Home Visit Pasien TB MDR

•       Home visit Verifikasi

•       Home visit mangkir

Apa Saja yang dilakukan saat Home VisiT  ?

•       Assetment ( ekonomi, dukungan psikososial, persepsi pasien dan keluarga )

•       Diskusi dan edukasi

•       Support

•       konseling

•       Dokumentasi

A. Assestmen:

-siapa yang paling deket dengan pasien

-Siapa yang memegang otoritas ( didengar) di keluarga

– Kontak terdekat pasien

– persepsi pasien dan keluarga tentang efek samping dan pengobatan

-adakah lingkungan yang mendukung atau berpotensi mendukung pengobatan pasien

B. Diskusi dan Edukasi

•       Gali pengetahuan pasien ttg TB MDR dan pegobatan, pembiayaan pengobatan

•       Lakukan edukasi dengan santai dan bersahabat

•       Lakukan tanya –jawab untuk memastikan pasien mengerti yang disampaikan

•       Diakhir diskusi adakah hal lain yang ingin diketahui pasien

•       Gunakan alat peraga atau alat bantu edukasi lainnya

Support

•       Berusaha menjadi pendengar yang aktif

•       Beri kata-kata semangat

•       Dekati anggota keluarga yang berpegaruh

•       Ketahui orang lain yang mampu mempengaruhi pasien

•       Bantu pasien dan keluarga mengambil keputusan

•        Jangan menghakimi

Konseling

  • Pengalian masalah secara rinci
  • Membangun kepercayaan
  • Komunikasi aktif
  • pertanyaan terbuka dan tertutup
  • Menjadi pendengar aktif
  • fokus pada masalah

Pendokumentasian

  • Kegiatan harus dicatat sehingga bisa dijadikan Bukti
  • Bisa digunakan sebagai bahan untuk merencanakan kegiatan lanjutan
  • Sebagai bahan untuk MONEV

Catt: Home Visit harus dilakukan dengan atau tanpa persetujuan klien jika pasien bagi yang telah menandatanggani Inform consent kunjungan rumah. petugas perlu memperhatikan pakaian yang tidak mencolok (mis: pakaian dinas) dan aspek pencegahan infeksi

Konseling Disclosure pada Pasien TB MDR


Latar Belakang

A, seorang wanita berusia 19 tahun terinfeksi TB MDR dan menjalani pengobatan di RSU Persahabatan DKI Jakarta. A telah menjalani pengobatan selama 7 bulan dan telah dinyatakan konversi dan kultur negatif . A merasa sedih karena selalu menghindar berbicara tentang pengobatan yang tengah dijalani dengan pasangan. Karena stigma yang sangat kuat yang dia rasakan selama ini. Perasaan ketakutan diputusin sang pacar, alasan cinta yang sangat dalam membuat nya binggung dan  sulit tidur. Support yang didapat dari orang tua menjadi tidak lengkap, karena hubungan nya dengan pacar yang kurang mulus membuat nya jadi malas berobat dan sedih.

Kegiatan

Social worker mengadakan konseling disclosure dengan A. Dimulai dengan konseling disclosure awal dengan melakukan serangkaian pilihan cara membuka status, serta apa reaksi yang mungkin dari pasangan nya.  A memutuskan pembukaan status,  akan didahului dengan pertemuan dan diskusi tentang TB MDR dengan pasangan nya baru dilanjutkan kemudian social worker berbicara tentang apa yang di alami A.

Hasil

A menjadi lebih lega dan lebih bersemangat melanjutkan pengobatan dengan dukungan penuh dari pasangan. A lebih bersemangat dan berharap bisa secepatnya menyelesaikan pengobatan, dan hubungan dengan pasangan menjadi lebih hangat.

Aspek pembelajaran

Dukungan dari orang-orang terdekat, keluarga, pacar, sahabat bagi seorang remaja akan mampu membuatnya semakin patuh dan bersemangat menjalani pengobatan.